cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Profil Rigiditas Arteri Sentral [AIx] Putra-Putri Penderita Penyakit Jantung Koroner Sebelum Usia 60 Tahun Raymond Suwita
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 7 (2016): Kulit
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i7.77

Abstract

Tujuan: Penelitian deskriptif eksploratif cross-sectional ini bertujuan untuk memaparkan tingkat rigiditas arterial (AIx) berdasarkan pemeriksaan SphygmoCor™ pada putra-putri dari penderita penyakit jantung koroner sebelum usia 60 tahun. Metode: Subjek berusia antara 18 dan 30 tahun adalah putra-putri dari penderita penyakit jantung koroner sebelum usia 60 tahun, pada saat penelitian belum diketahui menderita penyakit kardioserebrovaskuler, dan tidak sedang mengonsumsi obat atau zat yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Subjek diperiksa berat badan, tinggi badan, tekanan darah, dan rigiditas arterinya (AIx) memakai alat SphygmoCor™. Hasil pemeriksaan diolah dan disajikan secara tekstular dan tabular. Perbandingan nilai AIx antara kelompok pria dan wanita menggunakan uji Wilcoxon rank-sum test, dengan batas signifikan α 0,05. Hasil: Subjek yang memenuhi kriteria inklusi 31 orang, terdiri atas 12 orang pria dan 19 orang wanita berusia antara 18-30 tahun. Usia rata-rata subjek wanita adalah 21,89±2,49 tahun, rata-rata usia subjek pria 24,58±3,60 tahun. BMI (Body Mass Index) kelompok pria rata-rata 27,43±4,68, dan BMI kelompok wanita rata-rata 25,15±6,47. Arterial rigidity (AIx) diukur dengan SphygmoCor™. Sejumlah 16 dari 31 subjek (51,61%) terdiri dari 5 dari 12 subjek pria (41,67%), dan 11 dari 19 wanita (57,89%) memiliki nilai AIx mencapai atau melebihi batas atas rujukan normal. Artinya memiliki tingkat kekakuan arterial melebihi rentang normal untuk usia dan gender-nya. Nilai rigiditas arteri (AIx) subjek wanita rata-rata 18,68±6,22%, sedangkan pada subjek pria adalah 8,083±10,76%, berbeda sangat signifikan (P<0,01). Simpulan: Rigiditas arteri (AIx) cukup banyak dijumpai (51,61%) pada putra-putri dari pasien penyakit jantung koroner sebelum usia 60 tahun. Terdapat perbedaan signifikan (p<0,01) nilai AIx subjek putra dibandingkan subjek putri.
Wound Myasis pada Anak Satyadharma Michael Winata; Natharina Yolanda
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i8.1116

Abstract

Myasis merupakan infestasi parasit pada jaringan hidup makhluk bertulang belakang (manusia dan atau hewan) disebabkan oleh lalat ordo Diptera (belatung). Infestasi larva pada kulit dan luka adalah bentuk yang paling sering. Dilaporkan kasus seorang anak perempuan 10 tahun dengan keluhan luka disertai belatung pada kulit kepala. Pada pemeriksaan fisik ditemukan sebuah luka terbuka bentuk bulat, diameter 1,5 cm, kedalaman 1 cm, bergaung, berbau busuk, dengan tepi eritema disertai pus. Pada probing luka ditemukan 10 larvae berbentuk silinder, bersegmen, putih – kecokelatan dengan panjang 1,5 – 2 cm. Gambaran di atas mengarah pada diagnosis wound myasis dengan infeksi bakterial sekunder. Pasien diterapi dengan ekstraksi larva secara mekanik diikuti debridemen dan irigasi saline, petroleum jelly untuk merangsang granulasi pada kondisi lembap, antibiotik untuk infeksi sekunder. Luka sembuh dan menutup sempurna.Myasis is an infestation of dipterous larvae in live vertebrates (humans and or animals). Larvae infestation in skin and wound are the most common form. This is a report of a 10-year-old girl with chief complaint of an open wound with larvae in her scalp. Physical examination revealed a round open lesion, 1.5 cm in diameter, 1 cm in depth, cavernous, malodorous, with florid and purulent margin. Probing into the lesion revealed 10 larvae which are cylindrical, segmented, white-brownish, and 1.5 – 2 cm in length. Those findings confirmed the diagnosis of wound myasis with secondary bacterial infection. Patient was treated with mechanical larva extraction followed by debridement and saline irrigation, petroleum jelly to stimulate granulation in humid condition, and antibiotics for secondary infection. The lesion was healed and closed perfectly.
Benefit of Platinum-based Chemotherapy in Metastatic Triple Negative Breast Cancer Ency Eveline; Andhika Rachman
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 11 (2015): Kanker
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i11.951

Abstract

Background. Management of triple-negative breast cancer (TNBC) is challenging because of a lack of targeted therapy, its aggressive behavior and relatively poor prognosis. Various studies showed that these tumors are highly chemosensitive and in some cases are represented by complete pathological response (pCR), but the results remains unsatisfactory1. Recent experimental data strongly suggest that platinum-based chemotherapy (PBC) could improve the outcome of TNBC, but clinical data is still lacking4. Objective. To evaluate the benefit of addition of platinum agents to metastatic TNBC therapy. Method. Several databases were searched. Comparative studies were identified using the following keywords: triple negative breast cancer, advanced, metastatic, metastases, platinum agents, cisplatin, and carboplatin. The search was not limited to controlled or randomized trials. The limitation used in searching the articles are human, english, and max.5 years publication. Articles were reviewed by two authors and selected if they described advanced triple negative breast cancer, use of platinum agents, and outcome. Results. Seven studies were included. Median survival of metastatic TNBC patients treated with PBC was 10.4 to 32.8 months. There was a significant survival benefit compared to non-PBC treated patients with overall survival 7.5 to 21.5 months. However PBC did not showed significant different benefit between TNBC and non TNBC patients. Conclusion. PBC demonstrated not only higher response rate but also remarkable improvement in PFS and OS. It is still premature to draw a conclusion on survival advantage merely from phase II trials, but for this subtype, platinum agents had extra clinical benefit compared to other agents.Pendahuluan. Topik Manajemen triple-negative breast cancer (TNBC) masih merupakan sebuah tantangan karena ketidaktersediaan target terapi hormonal, sifatnya yang agresif, dan prognosis yang lebih buruk. Beberapa studi menyimpulkan bahwa tumor ini sangat kemosensitif sehingga pada beberapa kasus menghasilkan complete pathological response (pCR), tetapi makna klinisnya kurang berarti1. Meskipun data eksperimental secara kuat mendukung platinum-based chemotherapy (PBC) sebagai kemoterapi yang dapat memperbaiki outcome TNBC, belum ada data studi klinis. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengevaluasi manfaat penambahan agen platinum sebagai terapi pasien TNBC stadium lanjut. Metode. Beberapa database ditelusuri, Kata kunci yang digunakan: triple negative breast cancer, advanced, metastatic, metastases, platinum agents, cisplatin, dan carboplatin. Pencarian tidak dibatasi hanya controlled atau randomized trials untuk meminimalkan hilangnya studi yang bermakna. Pencarian artikel dibatasi pada human subject, english, dan max.5 years publication. Artikel dianalisis oleh dua penulis dan diseleksi sesuai dengan TNBC stadium lanjut, penggunaan agen platinum, dan hasil terapi. Hasil. Median survival empat studi yang ditemukan berada dalam rentang 10.4 hingga 32.8 bulan. Terdapat manfaat cukup signifikan dari penambahan agen kemoterapi platinum sebagai terapi pasien TNBC stadium lanjut, dibandingkan regimen tanpa platinum yang berada dalam rentang 8 hingga 21.5 bulan. Akan tetapi tidak ada perbedaan klinis penggunaan PBC antara pasien TNBC dan non-TNBC. Simpulan. PBC menghasilkan bukan hanya tingkat respon lebih tinggi tetapi juga perbaikan PFS dan OS. Meskipun belum adekuat untuk menyimpulkan adanya perbaikan survival pasien TNBC, platinum lebih memberikan perbaikan klinis daripada agen kemoterapi lain.
Tuberkulosis Paru pada Penderita Diabetes Melitus Indra Wijaya
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 6 (2015): Malaria
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i6.996

Abstract

Tuberkulosis (TB) paru dan Diabetes Melitus (DM) merupakan dua masalah kesehatan yang cukup besar secara epidemiologi dan berdampak besar secara global karena keduanya merupakan penyakit kronik dan saling berkaitan. Tuberkulosis paru tidak akan sembuh baik pada diabetes yang tidak terkontrol. TB paru pada penderita DM mempunyai karakteristik berbeda sehingga sering tidak terdiagnosis dan terapinya sulit mengingat interaksi obat TB dan obat antidiabetik oral. Studi TB paru pada penderita DM telah banyak dilakukan namun tetap ada kendala diagnosis, terapi, maupun prognosisnya.Pulmonary Tuberculosis (TB) and Diabetes Mellitus (DM) are chronic diseases and closely related, both are major epidemiological problems with significant impact in global burden of disease. Pulmonary tuberculosis will be difficult to treat in uncontrolled diabetes. Pulmonary TB in diabetic patient has different characteristics, sometimes misdiagnosed; and antituberculosis drugs may interact with oral antidiabetics. Many studies on pulmonary TB in diabetic patients have been done but there will always be a problem in diagnosis, treatment, and its prognosis. 
KL-6/MUC-1 sebagai Penanda Penyakit Paru Interstisial Juliani Dewi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i1.158

Abstract

Penyakit paru interstisial ditandai dengan inflamasi dan fibrosis interstitium paru, yang merupakan kerusakan dan/atau regenerasi pneumosit tipe II. Diagnosisnya membutuhkan HRCT (high resolution computed tomography), bronkoskopi, dan/atau biopsi paru yang cukup invasif. Krebs Von De Lungen-6 (KL-6), glikoprotein musinous dengan berat molekul 200 kD, yang disekresi oleh pneumosit tipe II dan sel-sel epitel bronkiolar sangat menjanjikan untuk dijadikan marker yang potensial dan kurang invasif bagi kelainan paru interstitial ini.
Makroglobulinemia Waldenstrom – Laporan Kasus Eva Roswati
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i4.1149

Abstract

Makroglobulinemia Waldenstrom (Waldenstrom macroglobulinemia, WM) adalah varian plasmacytoid lymphocytic lymphoma yang memproduksi Ig M monoklonal dalam jumlah besar, menimbulkan makroglobulinemia yang mengakibatkan hiperviskositas dan volume plasma meningkat. WM merupakan kasus jarang, biasanya ditemukan pada pria umur pertengahan dan lebih tua. Diagnosis ditegakkan bila dijumpai gejala klinik, Ig M serum >1,5 g/dL, sumsum tulang: infiltrasi limfosit, sel plasma dan limfosit plasmasitoid, laju endap darah meningkat, histologi kelenjar getah bening gambaran sel limfoplasmasitoid. Dilaporkan kasus, laki-laki, 43 tahun dengan keluhan muka pucat, mata kabur, nyeri kepala disertai riwayat epistaksis, gusi berdarah dan melena berulang. Pemeriksaan fisik anemis. Pemeriksaan laboratorium didapati pansitopenia, morfologi darah tepi normokrom normositer, LED 115 mm/jam, Ig M serum 9,6 gr/dL. SPE menunjukkan M-spike. Dari BMP dijumpai hiposeluler, limfosit 61,25%, sel plasma (sel limfoplasmasitoid) 6,5% kesan WM. Hasil gastroskopi kesan ulkus akut di korpus dan gastritis erosif di antrum. Pasien didiagnosis WM dan diberi terapi suportif yang menghasilkan perbaikan klinis. Pasien direncanakan mendapat kemoterapi CHOP (siklofosfamid, doksorubisin, vinkristin, prednison).Waldenstrom Macroglobulinemia (WM) is a variant of plasmacytoid lymphocytic lymphoma producing monoclonal Ig M in large quantity, causing macroglobulinemia resulted in hyperviscosity and increased plasma volume. WM is rare, usually found in middle aged men and older. Diagnosis is confirmed with appropriate clinical symptoms, serum Ig M >1.5 g/dL, bone marrow lymphocytes infiltration, plasma cells and plasmacytoid lymphocytes, increased erythrocyte sedimentation rate, lymphoplasmacytoid cells in lymph node. This is a report of a 43 year-old male with complaints of pallor, blurred eyes, headaches accompanied by a history of epistaxis, gum bleeding and recurrent melena. Physical examination reveals anemia. Laboratory tests found pancytopenia, normochromic normocyte, ESR 115 mm/h, serum IgM 9.6 g/dL. SPE showed M-spike. BMP encountered hypocellularity, 61.25% lymphocytes, plasma cells (cells lymphoplasmasitoid) 6.5%. Gastroscopy suggests acute ulcer in the corpus and erosive gastritis in the antrum. Patients diagnosed as WM and given supportive therapy resulting clinical improvement. Patients were scheduled to receive CHOP chemotherapy (cyclophosphamide, doxorubicin, vincristine, prednisone).
Perilaku Bullying (Perundungan) pada Anak dan Remaja Surilena -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 1 (2016): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i1.9

Abstract

Salah satu aksi kekerasan yang sering dijumpai pada anak dan remaja adalah perilaku bullying. Prevalensinya meningkat dari tahun ke tahun, namun di Indonesia belum ada data pasti. Dampak perilaku bullying sering tidak disadari baik oleh korban, pelaku, guru, maupun orang tua karena lebih bersifat psikis dan emosional, efeknya tidak dapat langsung terlihat, prosesnya berlangsung lama dan perlahan. Perlu deteksi dini agar dapat segera dicegah, dievaluasi lebih lanjut dampaknya, serta dapat diintervensi sedini mungkin.
Nilai Normal Kecepatan Hantar Saraf di RSUP Sanglah Denpasar Sukarini P; Widyadharma PE; Purna Putra IGN; Purwa Samatra DPG
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 3 (2015): Nyeri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i3.1029

Abstract

Latar Belakang: Pemeriksaan Kecepatan Hantar Saraf (KHS) adalah bagian dari prosedur elektrodiagnostik untuk menegakkan diagnosis penyakit sistem saraf perifer. Pengukuran KHS dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor fisiologis dan non-fisiologis, sehingga acuan nilai normal di tiap tempat dapat berbeda; oleh karena itu, sebaiknya setiap tempat pemeriksaan memiliki nilai normalnya sendiri. Saat ini di RSUP Sanglah belum memiliki acuan nilai normal KHS. Tujuan: Mengetahui nilai rata-rata normal KHS di RSUP Sanglah Denpasar. Metode: Penelitian potong lintang consecutive sampling selama bulan Juli 2013. Setiap orang dewasa normal berusia 20-30 tahun yang memenuhi kriteria diperiksa di lengan dan tungkai kanan, untuk menilai latensi, amplitudo, dan KHS. Data diolah menggunakan SPSS 16. Hasil: Dari 30 sampel pemeriksaan Compound Muscle Action Potential (CMAP), rerata hasil secara berurutan latensi, amplitudo, KHS nervus medianus 2,95±0,34 mdet; 4,33±1,54 mV; 67,16±6,73 m/det; nervus ulnaris 2,41±0,29 mdet; 3,46±0,89 mV; 66,65±7,36 m/det; nervus radialis 3,48±0,86 mdet; 1,00±0,33 mV; 59,34±10,01 m/det; nervus tibialis 4,47±1,15 mdet; 6,59±1,85 mV; 53,95±6,65 m/det; nervus peroneus 3,29±1,15 mdet; 2,25±0,84 mV; 54,67±8,25 m/det. Rerata hasil pemeriksaan Sensory Nerve Action Potential (SNAP) secara berurutan latensi, amplitudo, KHS nervus medianus 2,62±0,31 mdet; 12,15±5,24 µV; 65,16±10,29 m/det; nervus ulnaris 2,49±0,3 0 mdet; 13,88±7,21 µV; 63,44±9,79 mdet; nervus radialis 2,38±0,61 mdet; 11,37±5,58 µV; 70,40±10,33 m/det; nervus suralis 4,17±0,67 mdet; 6,73±2,98 µV; 59,06±9,12 m/det. Simpulan: Didapatkan nilai rata-rata normal KHS motorik dan sensorik di RSUP Sanglah Denpasar yang dapat digunakan sebagai nilai acuan.Background: Nerve conduction study is electrodiagnostic procedures important in the diagnosis of peripheral nervous system disease. Nerve conduction velocity (NCV) measurements can be affected by various physiological and non-physiological factors, so the reference normal values can be different in each place; therefore, each center is encouraged to have their own normal reference value. Currently in Sanglah General Hospital not have a reference normal values of NCV. Objective: To obtain normal mean value of nerve conduction velocity (NCV) in Sanglah General Hospital, Denpasar. Method: A cross-sectional study with consecutive sampling technique was done during July 2013. A sample of 30 eligible normal adult, 20-30 year-old, were examined in the right arm and right leg, assessed for latency, amplitude, and NCV. The data is analyzed with SPSS 16.Result: The mean of Compound Muscle Action Potential for latency, amplitude, NCV of median nerve is 2,95±0,34 msec; 4,33±1,54 mV; 67,16±6,73 m/sec; ulnar nerve 2,41±0,29 msec; 3,46±0,89 mV; 66,65±7,36 m/sec; radial nerve 3,48±0,86 msec; 1,00±0,33 mV; 59,34±10,01 m/sec; tibial nerve 4,47±1,15 msec; 6,59±1,85 mV; 53,95±6,65 m/sec; peroneal nerve 3,29±1,15 msec; 2,25±0,84 mV; 54,67±8,25 m/sec. The mean of Sensory Nerve Action Potential for latency, amplitude, NCV of median nerve is 2,62±0,31 msec; 12,15±5,24 µV; 65,16±10,29 m/sec; ulnar nerve 2,49±0,30 msec; 13,88±7,21 µV; 63,44±9,79 m/sec; radial nerve 2,38±0,61 msec; 11,37±5,58 µV; 70,40±10,33 m/sec; sural nerve 4,17±0,67 msec; 6,73±2,98 µV; 59,06±9,12 m/sec. Conclusion: Normal average value of motor and sensory NCV in Sanglah General Hospital Denpasar were obtained, and can be used as a reference.
Perbandingan Tingkat Pencapaian Target Tekanan Darah oleh Lisinopril dan Valsartan pada Pasien Stroke Iskemik dengan Faktor Risiko Hipertensi Susi Susanti; Rizaldy Taslim Pinzon
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i4.199

Abstract

Hipertensi  merupakan  salah  satu  faktor  risiko  terpenting  pada  stroke iskemik.  Terapi  antihipertensi  bertujuan  mencegah  kekambuhan  stroke. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan tingkat pencapaian tekanan darah antara lisinopril dan valsartan pada pasien stroke  iskemik dengan faktor risiko hipertensi di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Jenis penelitian adalah penelitian observasional analitik kohort retrospektif. Data dianalisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-square atau uji Fisher. Data 108 pasien hipertensi pasca-stroke  iskemik terdiri  dari  kelompok  yang  diberi  valsartan  81  pasien  dan  lisinopril  27  pasien.  Target  tekanan  darah  yang  tercapai  pada  kelompok  valsartan  adalah 40 orang (49,4%) dan lisinopril 15 orang (50,9%), tidak berbeda bermakna (p value >0,05). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan dalam mencapai target tekanan darah antara lisinopril dan valsartan pada pasien stroke iskemik dengan faktor risiko hipertensi di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.
Hipotiroid Kongenital dan Hypertrophic Pyloric Stenosis: Pemantauan Selama 3 Bulan Lanny Christine Gultom; Valensia Vivian The
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 2 (2022): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i2.1730

Abstract

Angka kejadian hipotiroid kongenital (HK) berkisar 1 : 2000-4000 bayi. Deteksi dan tata laksana dini diperlukan agar fungsi neurologi dan perkembangan pasien optimal. Salah satu penyebab muntah berulang pada bayi adalah hypertrophic pyloric stenosis (HPS). Deteksi dan tatalaksana HPS penting karena HPS dapat menyebabkan gagal tumbuh hingga gizi buruk yang berdampak pada IQ. Kasus: Bayi usia 2 bulan tanpa skrining hipotiroid kongenital, masuk ke rumah sakit dengan gejala khas hipotiroid kongenital, yaitu ubun-ubun terbuka, wajah tampak kasar,makroglosia, kulit kering dan dingin, gagal tumbuh, dan hernia umbilikalis. Selain gejala HK, bayi juga memiliki keluhan muntah berulang yang kemudian didiagnosis HPS. Terapi medikamentosa yang tepat dengan levothyroxine, tindakan pembedahan, dan nutrisi yang adekuat harusdiberikan agar tumbuh kembang optimal.

Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue