cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Penyakit Mata Kering Elvira -; Victor Nugroho Wijaya
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i3.189

Abstract

Penyakit mata kering (PMK) adalah penyakit multifaktorial air mata dan permukaan mata dengan gejala tidak nyaman, gangguan penglihatan dan ketidakstabilan tear film yang berpotensi merusak permukaan mata. Sekitar 5%-34% penduduk di dunia menderita mata kering, angka kejadiannya meningkat seiring usia. Penyakit mata kering diklasifikasikan berdasarkan etiopatologinya, yaitu mata kering defisiensi aqueous (MKDA) dan mata kering evaporasi (MKE). Gejala mata kering dapat mempengaruhi aktivitas dan menurunkan kualitas hidup, meningkatkan gejala depresi, dan gangguan mood. Terapi terbatas mengurangi gejala.
Audit Kualitatif Pemberian Antibiotik untuk Pasien Gangren Diabetik Disertai Insufisiensi Adrenal Sekunder: Laporan Kasus Hadiki Habib
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 1 (2014): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i1.1174

Abstract

Dilaporkan kasus gangren diabetes disertai dengan insufisensi adrenal sekunder. Fokus laporan kasus ini adalah pemilihan antibiotik selama perawatan. Evaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif dilakukan dengan menggunakan alur Gyssen. Terdapat tiga evaluasi antibiotik yang digunakan yaitu ampicillin-sulbactam dengan skor Gyssen 1, cefotaxim dan klindamisin dengan skor Gyssen IVA, dan levofloxacin dengan skor Gyssen 1.A case of diabetic gangrene concurrent with secondary adrenal insufficiency was reported. This case report will focus on antibiotic management. The use of antibiotic will be evaluated qualitatively by Gyssen scheme. Three evaluations of antibiotic use was done, ampicillin-sulbactam with Gyssen score 1, cefotaxim and clyndamicin with Gyssen score IVA, and levofloxacin with Gyssen score 1. Hadiki Habib. Audit Kualitatif
Torsio Appendiks Testis Taufan Tenggara
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i3.33

Abstract

Nyeri skrotum akut dapat disebabkan oleh torsio appendiks testis, suatu keadaan di mana appendiks testis terpuntir yang dapat menyerupai keadaan torsio testis, suatu kedaruratan urologi yang memerlukan pembedahan segera. Torsio appendiks testis memberikan gejala berupa nyeri di kutub atas testis dan tanda ‘blue-dot sign’ serta refleks kremaster positif. Pemeriksaan gray scale dan color doppler sonography dapat membantu diagnosis, yaitu ukuran appendiks testis lebih dari 5 mm, berbentuk bulat, dan adanya peningkatan aliran darah di sekitar appendiks testis. Penatalaksanaan torsio appendiks testis bersifat suportif. Intervensi bedah diperlukan hanya bila terdapat keraguan adanya torsio testis.
Steroid Dementia Syndrome sebagai Salah Satu Komplikasi Cushing Syndrome Dony Prihartanto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 1 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i1.1055

Abstract

Cushing Syndrome adalah kumpulan gejala dan tanda akibat pajanan berkepanjangan hormon glucocorticoid dalam kadar tinggi, yang dapat terjadi endogen atau eksogen. Salah satu komplikasi Cushing Syndrome adalah menurunnya beberapa aspek kemampuan kognitif, seperti daya ingat, atensi, dan kemampuan verbal, karena proses perubahan struktural otak akibat pajanan glucocorticoid. Tulisan ini akan membahas komplikasi Cushing Syndrome terhadap proses kognitif atau dikenal sebagai steroid dementia syndrome.Cushing Syndrome is a group of symptoms and signs caused by prolonged exposure to elevated level glucocorticoid hormone, from endogenous or exogenous sources. One of the possible Cushing Syndrome complication is cognitive decline, especially memory, attention, and verbal performance, due to structural changes in the brain after glucocorticoid exposure. This review will discuss Cushing Syndrome effects to cognitive process or known as steroid dementia syndrome.
Perbandingan Pengaruh Terapi Albumin Teknologi Nano dengan Albumin Kapsul terhadap Peningkatan Kadar Albumin dan Lama Perawatan Purwoko -; Diah Kurniawati
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v44i11.698

Abstract

Latar Belakang: Pada hipoalbuminemia akan terjadi gangguan fisiologi tubuh, sehingga menghambat penyembuhan dan pemulihan. Beberapa cara untuk meningkatkan kadar albumin darah yaitu parenteral dan peroral. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas albumin teknologi nano dibandingkan kapsul albumin dalam meningkatkan kadar albumin penderita dan mengurangi lama perawatan. Metode: Randomized Controlled Trial di ICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta sejak Juni hingga Agustus 2014 atas 30 sampel, terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diberi albumin teknologi nano selama 3 hari dengan dosis 2 x 1 (a 5 g) sachet, kelompok kedua diberi kapsul albumin selama 3 hari dengan dosis 4 x 5 (a 500 mg) kapsul. Data dianalisis dengan uji Mann-Whitney U. Hasil: Kadar albumin kelompok albumin teknologi nano naik rata-rata 1,26+0,30 mg/dL, sedangkan yang mendapat kapsul albumin naik rata-rata 0,86+0,52 mg/dL (p<0,05). Lama rawat di ICU kelompok albumin teknologi nano (3,60+1,06 hari) dibandingkan kelompok kapsul albumin (4,13+1,19 hari) lebih singkat tetapi tidak bermakna (p>0,05).Simpulan: Albumin teknologi nano lebih efektif dibandingkan kapsul albumin untuk meningkatkan kadar albumin darah, namun tidak mempengaruhi lama perawatan pasien hipoalbuminemia di ICU.Background: Hypoalbuminemia is associated with increased complication risk, wound healing time, and hospitalization. Several methods to increase albumin levels are parenteral and oral albumin supplementation. Objectives: To compare the effectiveness of albumin nanotechnology to albumin capsules in increasing the albumin levels and in reducing length of hospital stay. Methods: Randomized Controlled Trial trial in ICU dr. Moewardi Hospital, Surakarta, during June until August 2014. The 30 study samples were divided into two groups. The first group were given nanotechnology albumin sachets for 3 days with a dose 2x1 (a 5g) sachet, second group was given albumin capsules for 3 days with a dose 4 x 5 (a 500 mg) capsules. Data was analyzed with Mann-Whitney U test. Results: Albumin levels in nanotechnology group has an average increase of 1.26+0.30 mg/dL, while an average increase in the other group was 0.86+0.52 mg/dL (p<0.05). The length of stay in the ICU was shorter in the nanotechnology group (3.60+1.06 days) compared to albumin capsule group (4.13+1.19 days), with no significant difference (p>0.05). Conclusion: Albumin nanotechnology was more effective than albumin capsules in increasing blood albumin levels, but does not affect the length of stay in the ICU in hypoalbuminemia patients.
Penatalaksanaan Hemangioma Bob Sumadi Lubis
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 5 (2016): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i5.58

Abstract

Hemangioma yang biasa dikenal sebagai tanda lahir merupakan tumor pembuluh darah yang muncul pada bayi tahun pertama kelahiran dengan ciri pertumbuhan post-natal yang cepat kemudian mengalami regresi selama masa kanak-kanak. Hemangioma bisa berlokasi di setiap organ tubuh. Penegakan diagnosis secara akurat dan observasi secara cermat sangat diperlukan, sehingga penatalaksanaan hemangioma sesuai dengan kondisi tiap pasien.
Diagnosis Banding dan Penatalaksanaan Anemia Neonatus Risalina Myrtha
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 10 (2014): Hematologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i10.1098

Abstract

Anemia adalah suatu keadaan kadar hematokrit atau konsentrasi hemoglobin >2 SD (standar deviasi) di bawah rerata kadarnya sesuai usia. Penyebabnya dibagi menjadi tiga golongan besar yaitu, kehilangan darah, peningkatan destruksi eritrosit, atau penurunan produksi eritrosit. Anemia biasanya bukan merupakan diagnosis akhir, tetapi merupakan gejala penyakit yang mendasarinya. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi detail untuk mencari penyebab. Evaluasi awal anamnesis lengkap, pemeriksaan fisik, dilanjutkan dengan pemeriksaan penunjang. Penatalaksanaan meliputi transfusi darah, transfusi tukar, dan suplementasi zat gizi, di samping terapi untuk mengatasi penyakit yang mendasarinya.Neonatal anemia is defined by a hemoglobin or hematocrit concentration of greater than two standard deviations below the mean for postnatal age. The etiologies is subdivided into three major categories: blood loss, increased erythrocyte destruction, and decreased erythrocyte production. Accurate diagnosis is essential to direct appropriate therapeutic interventions. Thorough history taking and physical examination are the primary steps in identifying the condition and establishing an etiology, but further laboratory investigations are often required to differentiate many possible causes. Treatment may involve simple replacement transfusion, exchange transfusion, nutritional supplementation, and treatment of the underlying primary 
Peran Mucosal-associated Invariant T-Cells dalam Imunitas terhadap Salmonella typhi Safari Wahyu Jatmiko
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i12.931

Abstract

Demam tifoid masih menjadi masalah di negara-negara berpenghasilan rendah. Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang penularannya terjadi secara fekal oral. Bakteri yang berhasil melewati asam lambung akan menempel kepada sel M dan epitel usus. Invasi ini direspon oleh berbagai sel seperti sel neutrofil, sel makrofag, sel T dan sel B. Sel MAIT sebagai bagian dari sel T yang terletak di mukosa usus mempunyai peran penting dalam usaha eliminasi Salmonella typhi. Sel MAIT mempunyai TCR Vα7.2 yang bisa mengenali produk antara sintesa riboflavin Salmonella typhi yang terikat oleh MR1. Sel MAIT diaktifkan dengan adanya ikatan antara TCR dengan ligannya, ikatan antara molekul asesori CD80 atau CD86 dengan CD28, dan ikatan antara IL-12 dan 18 dengan IL-12R dan IL-18R. Sel MAIT yang aktif mengeliminasi bakteri dengan cara mengeluarkan sitokin, perforin, dan granzim.Typhoid fever is still a problem in low-income countries. Typhoid fever is caused by fecal oral transmission of Salmonella typhi bacteria. Bacteria survived from gastric acid will be attached to M cells and intestinal epithelial cell. This invasion was responded by various cells such as neutrophils cells, macrophages, T cells and B cells. MAIT cell as part of the T cells located in the intestinal mucosa have an important role in the elimination of Salmonella typhi. MAIT cells have Vα7.2 TCR that recognize MR1-bound intermediate product of riboflavin synthesis of Salmonella typhi. MAIT cell is activated by bond between the TCR and ligand, bond between accessory molecule CD28 and CD80 or CD86, and bond between IL-12 and IL-18 with IL-12R and IL-18R. Active MAIT cells eliminate bacteria by secreting cytokines, perforin, and granzyme. 
Tinjauan Klinis Hypoxic-Ischemic Encephalopathy Alfonso Anggriawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 8 (2016): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i8.92

Abstract

Hypoxic-ischemic encephalopathy (HIE) merupakan salah satu penyebab utama disabilitas dan kematian bayi baru lahir di seluruh dunia. Dengan etiologi asfiksia pada periode intrauterin ataupun postnatal, HIE memiliki manifestasi klinis antara lain nilai APGAR rendah saat persalinan, asidosis metabolik darah umbilikal, kejang, serta menyebabkan defisit neurologis jangka panjang yang buruk. Prinsip manajemen bayi baru lahir dengan HIE adalah identifikasi awal, perawatan suportif intensif, dan intervensi untuk menghentikan proses cedera otak. Intervensi terapi neuroprotektif berupa terapi farkamologi dan non-farmakologi. Pilihan utama intervensi non-farmakologi saat ini berupa terapi hipotermia. Terapi sel punca dan intervensi farmakologi lain merupakan penunjang dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Prognosis HIE berkisar antara kesembuhan total hingga kematian; berkorelasi dengan saat cedera, derajat keparahan cedera, dan manajemen terapi.
Nodul Pita Suara (Singer’s Nodes) Natalia Yuwono; Stevani Novita
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 6 (2014): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i6.1131

Abstract

Nodul pita suara yang sering disebut dengan “Singer’s Nodes”, “Screamer’s Nodes”, atau “Teacher’s Nodes“ adalah pembengkakan pita suara bilateral dengan ukuran bervariasi yang ditemukan di bagian tengah membran pita suara. Nodul ini memiliki karakteristik berupa penebalan epitel dengan berbagai tingkat reaksi inflamasi pada lapisan superfisial lamina propia. Penyalahgunaan suara (vocal abuse) menjadi penyebab tersering nodul pita suara. Strategi penanganan secara konservatif; terapi wicara merupakan terapi paling utama.Vocal cord nodule also called singer’s nodes, screamer’s nodes or teacher’s nodes is bilateral swelling of the mid-portion of the membranous vocal folds. They are of variable size and are characterised histologically by thickening of the epithelium with a variable degree of inflammation in the underlying superficial lamina propria. Vocal abuse is commonly the etiology of vocal cord nodules. Treatment strategies should be conservative; speech therapy is the primary treatment. The patient is taught to use the voice appropriately, to promote regression of the vocal cord nodules.

Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue