cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Diagnosis dan Manajemen Sindrom Sjogren Danny Jaya Jacobus
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i5.1136

Abstract

Sindrom Sjogren (SS) merupakan penyakit autoimun yang menyerang kelenjar eksokrin (kelenjar lakrimal dan saliva), dengan manifestasi klinis berupa keratokonjungtivitis sika (mata kering), xerostomia (mulut kering), dan gejala ekstraglandular (artritis, vaskulitis, disfagia, dan lainnya). Etiologi SS sampai saat ini masih belum diketahui. Sering terjadi missed diagnosis karena keluhan tidak spesifik. Pemaparan komprehensif mengenai sejarah, epidemiologi, etiologi, imunopatologi, patofisiologi, manifestasi klinis, manifestasi laboratorium, kriteria diagnosis, terapi, dan prognosis penting untuk praktisi medis.Sjogren's syndrome (SS) is an autoimmune disease that attacts the exocrine glands (lacrimal and salivary glands), clinically manifests as keratoconjunctivitis sicca (dry eye), xerostomia (dry mouth), and extraglandular symptoms (arthritis, vasculitis, dysphagia, etc.). The etiology is still unknown. Missed diagnosis often occurs because of non-specific complaints. Comprehensive presentation of history, epidemiology, etiology, immunopathology, pathophysiology, clinical manifestations, laboratory manifestations, diagnostic criteria, treatment, and prognosis is important for medical practitioners.
Sistem Penilaian Trauma Carolina Salim
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 9 (2015): Pediatri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i9.973

Abstract

Trauma adalah penyebab ketiga terbesar kematian dan kecacatan di seluruh dunia, terutama di usia dekade keempat di negara berkembang. Trauma adalah kondisi sensitif-waktu, dan penanganan trauma dikenal sebagai salah satu tantangan utama pada pelayanan kesehatan saat ini. Sistem penilaian trauma mencoba menerjemahkan keparahan cedera menjadi angka, membantu menilai secara kuantitatif berat ringannya cedera, memperkirakan hasil akhir trauma, bahkan berguna dalam audit dan penelitian klinis. Pemantauan pasien trauma dengan penilaian berulang dan sistematis dapat sebagai identifikasi awal perbaikan atau perburukan. Beberapa sistem penilaian bertujuan untuk memperkirakan probabilitas keberlangsungan hidup. Terdapat tiga tipe sistem penilaian trauma, yaitu berdasarkan anatomi, fisiologi, dan kombinasi.Trauma is the third largest cause of death and disability worldwide, especially in the first four decades of life in developing countries. Trauma is a time-sensitive condition and one of the main challenges in modern health care. Trauma scoring system attempts to translate the severity of injury into a score, thereby allows quantification of severity of injury, to predict outcome, and useful for clinical audit and research. Monitoring with repeated scoring encourages systematic reassessment and may allow early identification of improvement or deterioration. Some scoring systems can estimate the probability of survival. Three types of scoring system are based on anatomy, physiology, and combination.
Dehidrasi dan Syok Ery Leksana
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i5.1016

Abstract

Dehidrasi didefinisikan sebagai suatu kondisi kehilangan cairan dan elektrolit tubuh. Kondisi dehidrasi berat dapat berdampak pada kejadian syok. Syok merupakan suatu kegagalan sirkulasi dan perfusi jaringan, umumnya disebabkan oleh kehilangan volume cairan intravaskuler, yang ditandai gejala klinis seperti takikardi dan hipotensi. Tujuan penanganan syok tahap awal adalah mengembalikan perfusi dan oksigenasi jaringan dengan mengembalikan volume sirkulasi intravaskuler. Terapi cairan merupakan terapi yang paling penting pada syok distributif dan syok hipovolemik. Penanganan syok dini dapat berdampak sangat bermakna pada perbaikan outcome klinis. Keberhasilan resusitasi syok dapat dinilai berdasarkan perbaikan hemodinamik, seperti MAP, CVP, urine output, mixed venous oxygen saturation , dan status mental.Dehydration is defined as a condition of losing of body fluid and electrolyte. Severe dehydration could lead into shock. Shock is a condition caused by failure of circulatory and tissue oxygenation system due to excessive loss of intravascular fluid which is often marked by tachycardia and hypotension. The early goal of shock therapy is to recover adequate tissue perfusion and oxygenation by recovering intravascular circulatory volume. Fluid therapy is the most crucial step in distributive and hypovolemic shock. The early goal-directed therapy has been shown to significantly improve clinical outcomes. Adequacy of resuscitation is monitored by the improvement of hemodynamic stability, such as MAP, CVP, urine output, mixed venous oxygen saturation, and mental status.
Kejadian Mual Muntah Pasca-Laparatomi (PONV) setelah Pemberian Granisetron Dibandingkan setelah Pemberian Kombinasi Ondansetron - Deksametason Mulyo Hadi Sudjito; Mulyata -; Titik Setyawati
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i3.185

Abstract

Pendahuluan:  Mual  muntah  pasca-operasi  (PONV)  adalah  pengalaman  tidak  menyenangkan  yang  sering  dialami  pasien  setelah  menjalani operasi  dengan  anestesi  umum  seperti  laparatomi. Metode:  Penelitian  desain  eksperimental  tersamar  tunggal;  58  subjek  yang  menjalani laparatomi dengan anestesi umum dibagi menjadi 2 kelompok secara acak. Kelompok I diberi granisetron 1 mg, 30 sampai 60 menit sebelum operasi selesai, kelompok II diberi deksametason 8 mg sebelum induksi dan ondansetron 4 mg, 30 sampai 60 menit sebelum operasi selesai. Kejadian PONV semua pasien diamati selama 24 jam. Hasil: Pada kelompok I mampu dicegah 72,4% kejadian PONV, pada kelompok II mampu dicegah 79,3% kejadian PONV. Simpulan: Tidak ada perbedaan bermakna manfaat ondansetron 4 mg dan deksametason 8 mg dibanding granisetron 1 mg dalam mencegah mual muntah pasca-laparatomi.
Beberapa Kondisi Fisik dan Penyakit yang Merupakan Faktor Risiko Gangguan Fungsi Kognitif Budi Riyanto Wreksoatmodjo
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 1 (2014): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i1.1168

Abstract

Meningkatnya jumlah lanjut usia di dunia membawa beberapa masalah kesehatan masyarakat, antara lain yang dikaitkan dengan kemunduran fungsi kognitif. Kemunduran fungsi kognitif tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, baik yang tidak bisa dihindari, seperti usia dan gender, juga beberapa kondisi fisik atau penyakit yang dapat dikendalikan. Pemahaman atas faktor-faktor risiko tersebut dapat membantu mengurangi risiko kemunduran fungsi kognitif.The increase of old age population brings additional burden to community, particularly problems due to cognitive decline. Cognitive decline is influenced by many risk factors; some risk factors are inherent such as aging and gender, but many conditions and diseases can be controlled. The understanding about these risk factors can help reduces the risk of cognitive decline.
Sindrom Nyeri Myofascial Andika Surya Atmadja
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i3.29

Abstract

Sindrom nyeri myofascial adalah sebuah kondisi nyeri baik akut maupun kronik dari otot ataupun fascia yang akan mempengaruhi sensorik, motorik, ataupun otonom; nyeri myofascial bisa bersifat aktif atau laten. Myofascial trigger points adalah suatu titik/tempat hiperiritabel berlokasi di struktur otot atau fascia yang menegang, jika ditekan dapat menyebabkan nyeri lokal atau menjalar. Prevalensinya sama antara laki-laki dan perempuan, terutama pada usia 30-60 tahun. Penyebab umum nyeri myofascial dapat berasal dari trauma langsung ataupun tidak langsung, kondisi patologis tulang belakang, paparan terhadap tegangan yang berulang dan kumulatif, atau posisi/postur tubuh yang tidak sesuai. Kriteria diagnosis sindrom nyeri myofascial yang paling sering digunakan adalah kriteria Simons, et al, (1999). Terapi farmakologi adalah OAINS, pelemas otot, anti-depresan, dan obat anestesi. Terapi non-farmakologi dapat dibedakan menjadi invasif dan non-invasif.
Sindrom Hepatorenal Hamzah Pratama
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 1 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i1.1050

Abstract

Sindrom hepatorenal (HRS) merupakan gagal ginjal yang timbul pada pasien penyakit hati kronik. Tanda khas sindrom hepatorenal adalah vasokonstriksi ginjal dengan mekanisme yang masih belum jelas. Beberapa faktor pencetus dianggap dapat mempengaruhi timbulnya HRS. Rekomendasi terapi HRS hingga saat ini adalah transplantasi hati. Terapi medikamentosa sebelum transplantasi hati dapat menggunakan regimen yang tercantum pada beberapa rekomendasi terapi.Hepatorenal syndrome (HRS) is a renal failure in patients with chronic liver disease. Typical sign of hepatorenal syndrome is renal vasoconstriction caused by still unclear mechanisms. Some trigger factors can influence the onset of HRS. The recommended therapy for HRS is liver transplantation. Medical therapy prior to liver transplantation can use a choice of recommended multiple regimens.
Pemeriksaan Radiologi untuk Deteksi Kanker Ovarium Ni Made Putri Suastari
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i4.669

Abstract

Kanker ovarium merupakan kanker ginekologi terbanyak kedua di dunia. Terdapat beberapa faktor risiko kanker ovarium, namun penyebab pastinya belum diketahui. Kombinasi berbagai modalitas pemeriksaan radiologi seperti USG, CT-scan, PET-scan, dan MRI dapat digunakan untuk deteksi dini yang akan meningkatkan harapan hidup penderita.Ovarian cancer is the second most frequent gynecology cancer in the world. Several risk factors are associated with ovarian cancer, but the exact cause is still unknown. Combination of various medical imaging modalities such as USG, CT-scan, PET-scan, and MRI can be utilized for early detection that can improve survival.
Tatalaksana Tuberkulosis Resistensi Ganda (MDR-TB) pada Anak. Wiendo Syah Putra Yahya; Heidy Agustin; Faisal Yunus; Darmawan B Setyanto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 5 (2016): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i5.54

Abstract

Prevalensi MDR-TB pada anak meningkat cepat dibandingkan dengan dekade sebelumnya. Regimen pengobatan MDR-TB pada anak menggunakan OAT lini kedua yang kurang efektif, lebih banyak efek samping, rasio toksisitas dengan terapeutik yang lebih sempit dan waktu pengobatan yang lebih lama. Pemantauan pasien MDR-TB anak dilakukan secara ketat terhadap gejala klinis, foto toraks, biakan M.tb, sputum BTA dan pemeriksaan darah secara teratur.
Irritable Bowel Syndrome (IBS) – Diagnosis dan Penatalaksanaan Danny Jaya Jacobus
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 10 (2014): Hematologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i10.1094

Abstract

Irritable Bowel Syndrome (IBS) adalah gangguan sistem gastrointestinal yang ditandai dengan kembung dan perubahan pola defekasi (diare atau konstipasi). Perjalanan penyakit ini dipengaruhi faktor psikologis. Sering terjadi missed diagnosis karena keluhan bersifat non spesifik. Pemeriksaan penunjang diperlukan untuk mengeksklusi gangguan organik berat. Penatalaksanaan komprehensif secara farmakologis dan non-farmakologis dibutuhkan untuk mencapai tujuan terapi yaitu meningkatkan kualitas hidup pasien.Irritable Bowel Syndrome (IBS) is a gastrointestinal disease with clinical symptoms of bloating sensation and change of bowel habit (diarrhea or constipation). The pathophysiology is affected by psychologic factor. Missed diagnosis occurs because of non specific complaints. Laboratory examination is needed to exclude severe organic disorder. Comprehensive pharmacologic and non-pharmacologic management are needed to reach goal of treatment and to improve patient’s quality of life.

Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue