Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
2,961 Documents
Sepsis Neonatorum Awitan Dini
Anastasia -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i11.703
Sepsis awitan dini tetap menjadi salah satu penyebab paling umum morbiditas dan mortalitas neonatal pada populasi prematur. Identifikasi neonatus berisiko untuk sepsis awitan dini sering didasarkan pada gabungan faktor risiko perinatal yang tidak sensitif maupun spesifik. Pengobatan optimal bayi dengan dugaan awal sepsis adalah agen antimikroba spektrum luas (ampisilin dan aminoglikosida). Setelah patogen diidentifikasi, terapi antimikroba harus disesuaikan. Laporan kasus bayi lahir preterm dgn usia gestasi 25-26 minggu. BBL 1310 gram.Bayi menunjukkan gejala sepsis awitan dini dengan gangguan koagulasi intravaskular diseminata dan trombositopeni. Pemberian antibiotik dimulai dengan antibiotik empiris dan dilanjutkan sesuai hasil kultur. Bayi mengalami perbaikan dan pada kontrol menunjukkan perkembangan yang baik.Early-onset sepsis remains one of the most common causes of neonatal morbidity and mortality among preterm population. The identification of neonates at risk for early-onset sepsis is frequently based on a constellation of perinatal risk factors that are neither sensitive nor specific; and diagnostic tests for neonatal sepsis have a poor positive predictive accuracy. The optimal treatment of infants with suspected early-onset sepsis is broad-spectrum antimicrobial agents (ampicillin and an aminoglycoside). Once a pathogen is identified, antimicrobial therapy should be specified. Antimicrobial therapy should be discontinued after 48 hours if the probability of sepsis is low. This is a case report of preterm infant, gestational age of 25-26 weeks with body weight 1310 grams. The baby showed symptoms of early onset sepsis wih DIC (Disseminated Intravascular Coagulation). Therapy started with empirical antibiotic and continued according to culture results. The baby improved and follow up showed good growth.
Vaksinasi COVID-19 dan Kesehatan Mata
Mohammad Alif Azizi;
Jodii Arlan Kurnia
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v49i4.1827
Vaksinasi COVID-19 secara massal berisiko efek samping, di antaranya efek samping pada mata. Data VAERS hingga tanggal 13 Februari 2021, melaporkan 46 laporan kasus efek samping pada okular dan adneksa. Manifestasi pada mata setelah pemberian vaksin COVID-19 relatif ringan dan sementara. Sampai saat ini, tidak ada bukti yang mendukung bahwa individu harus menghindari vaksinasi COVID-19 untuk alasan kesehatan mata.The global use of COVID-19 vaccine carries risks of side effects, including side effects on the eyes. Until 13 February 2021, VAERS reported 46 cases of side effects on the ocular and adnexa. The eye side effects of COVID-19 vaccine are relatively mild and transient. There is no statistical evidence to suggest that COVID-19 vaccination should be avoided for reasons related to eye health.
Perdarahan Subdural terkait Defisiensi Kompleks Protrombin Didapat
Anastasia -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 6 (2016): Metabolik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i6.73
Defisiensi kompleks protrombin dapat disebabkan kekurangan vitamin K dan penyakit hati. Faktor risiko VKDB (Vitamin K Deficiency Bleeding) antara lain obat yang dikonsumsi ibu (antikonvulsan, antibiotik, antituberkulosis), rendahnya bakteri usus yang memproduksi vitamin K, asupan vitamin K rendah, gangguan hati, dan sindrom malabsorbsi. Untuk mencegah VKDB, 1 mg vitamin K1 profilaksis diberikan intramuskuler pada semua bayi baru lahir. Vitamin K1 dan fresh frozen plasma (FFP) dapat diindikasikan untuk terapi VKDB. Kasus bayi lelaki usia 45 hari dengan penurunan kesadaran, muntah, dan tampak pucat. Proses kelahiran dibantu oleh dukun beranak, dan setelah lahir tidak diberi vitamin K. Temuan laboratorium menunjukkan anemia dan PT dan APTT memanjang. CT scan menunjukkan perdarahan subdural ringan. Pasien dirawat secara konservatif dengan FFP dan vitamin K. Kondisi klinis membaik, tidak ada kelainan yang ditemukan saat pemeriksaan 1 bulan kemudian.
Analisis Komponen Aktivitas dan Jaringan Sosial yang Berpengaruh terhadap Fungsi Kognitif Lanjut Usia
Budi Riyanto Wreksoatmodjo
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v41i8.1112
Pertambahan jumlah penduduk usia lanjut memunculkan berbagai masalah yang antara lain disebabkan oleh kemunduran fungsi kognitif; sedangkan fungsi kognitif para lanjut usia dapat dipengaruhi oleh jaringan sosial dan aktivitas sosial mereka. Penelitian atas 286 responden lanjut usia di Jakarta menunjukkan bahwa lanjut usia yang aktivitas di masyarakatnya buruk dan yang tidak menjadi anggota kelompok masyarakat lain lebih berisiko untuk mempunyai fungsi kognitif buruk dibandingkan dengan mereka yang aktivitas di masyarakatnya baik dan menjadi anggota kelompok masyarakat lain. Kegiatan ke luar rumah dan berbelanja, dan kerja sukarela/amal merupakan komponen yang lebih berperan kendati tidak bermakna dan tidak linear.The increasing world population of elderlies brings additional health burden caused by decreasing cognitive function; and preservation of cognitive function can be influenced by social network and social activities. Research on 286 respondents in Jakarta showed that elderlies with low activities in community and not involved in community organizations have greater risk of low cognitive function compared with more active elderlies. Outings and shopping for daily needs, and voluntary community work are more important components, but not linear nor significant.
Faktor Risiko Kanker Kolorektal
Yuansun Khosama
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 11 (2015): Kanker
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v42i11.945
Insiden kanker kolorektal (KKR) meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Kasus KKR pada populasi Asia sulit dideteksi dini karena bentuk lesi non-polipoid dan sering tidak didahului adenoma. KKR dipicu oleh berbagai faktor risiko baik yang dapat dimodifikasi dan tidak dapat dimodifikasi. Gaya hidup dan pola diet termasuk faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Pemahaman yang tepat mengenai faktor risiko dapat membantu tenaga medis memberi edukasi kepada masyarakat agar dapat mengurangi insiden KKR.The incidence of colorectal cancer is increasing in the last several decades. Colorectal cancer in Asian population is difficult to be detected due to non-polypoid lesion as opposed to adenoma. There are several risk factors for colorectal cancer, both modifiable and non-modifiable. Diet and lifestyle are two modifiable risk factors. Accurate understanding of risk factors can help healthcare workers to reduce colorectal cancer incidence through public education.
Peranan Sel Punca dalam Penanganan Luka Kronis
Isabella Rosellini
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v42i7.990
Luka kronis terus menjadi tantangan besar yang sering membutuhkan tindakan bedah plastik. Selain morbiditas yang besar, luka ini dapat menjadi masalah besar yang membutuhkan banyak sumber daya kesehatan, terkadang membutuhkan lebih banyak biaya daripada penyakit yang mendasarinya. Di antara banyak metode baru, peranan sel punca dalam manajemen luka kronis perlu diteliti lebih lanjut. Artikel ini membahas penelitian-penelitian mengenai peranan sel punca dalam manajemen luka kronis, dan akan dijelaskan peranan sel punca dalam penyembuhan yang optimal.Chronic wounds is a major challenge in wound management that frequently need plastic reconstructive surgery. Besides the obvious morbidity, these problem can be a major drain on the already scarce hospital resources, more than the underlying disease itself. Many newer therapeutic methods are available, and the role of stem cells is an exciting area to be explored. A review of literature on the role of stem cells in the management of chronic wounds was done. The pathology of wounds and the possible role of stem cells for optimal healing would also be discussed.
Video Assisted Thoracoscopy Surgery (VATS) as Minimal Invasive Approach for Thymoma with Myasthenia Gravis in Gatot Soebroto Central Army Hospital: A Case Report
Febyan -;
Joni Indah Sari;
Sri Handawati Wijaya;
Andreas Andri Lensoen
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i1.154
Timoma adalah jenis tumor mediastinum yang langka, banyak ditemukan di mediastinum anterior. Timoma berkembang lambat dan bersifat jinak, namun dapat menjadi ganas. Pembedahan merupakan penatalaksanaan utama, prosedur timektomi atau sternotomi parsial masih banyak digunakan. Bedah toraks dibantu video/video assisted thoracoscopy (VATS) telah menunjukkan hasil sangat baik untuk tumor mediastinum dan tumor paru. Keunggulan teknik VATS dibandingkan dengan teknik sternotomi, dari segi kosmetik lebih baik, nyeri pasca-operasi lebih sedikit, masa perawatan lebih singkat, lebih cepat kembali ke aktivitas sehari-hari, pendarahan dan komplikasi lainnya minimal
Disfungsi Sawar Epidermis dan Strategi Penanganan Dermatitis Atopik
Desak Nyoman Trisepti Utami
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v41i4.1145
Dermatitis atopik (DA) merupakan penyakit kompleks yang mengenai sampai 20% anak-anak dan berpengaruh besar pada kualitas hidup pasien dan keluarganya. Pengetahuan baru tentang patofisiologi DA menekankan pada peranan penting kerusakan struktur epidermis dan disregulasi imun. Filaggrin (FLG) mempunyai peranan penting pada sawar epidermis dan mutasi FLG menyebabkan gangguan fungsi epidermis. Gangguan sawar membuat kulit lebih permeabel terhadap iritan, alergen dan mikroorganisme. Terapi DA bertujuan untuk mengontrol rasa gatal, menekan inflamasi, dan mengembalikan sawar kulit.Atopic dermatitis (AD) is a complex disease that affects up to 20% of children and impacts the quality of patients and families in a significant man¬ner. New insights into the pathophysiology of AD point to an important role of structural abnormalities in the epidermis combined with immune dys¬regulation. Filaggrin (FLG) plays a critical role in the epidermal barrier, and FLG mutations cause abnormal epidermal function. Barrier abnormalities render the skin more permeable to irritants, allergens, and microorganisms. Treatment of atopic dermatitis must be directed to control the itching, suppress the inflammation, and restore the skin barrier.
Antikolinesterase untuk Gigitan Ular dengan Bisa Neurotoksik
Felisitas Farica Sutantoyo;
Erik Jaya Gunawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 1 (2016): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i1.39
Kasus gigitan ular merupakan salah satu penyakit yang termasuk dalam daftar neglected tropical disease WHO. Jenis ular yang patut diwaspadai di Indonesia adalah Famili Elapidae dan Viperidae. Neurotoksisitas adalah fitur kunci beberapa kasus gigitan ular famili Elapidae. Kelemahan neuromuskuler akut dengan keterlibatan otot pernapasan adalah efek klinis bisa neurotoksik yang paling penting. Gejala, pola kelemahan, keterlibatan pernapasan, dan respons terhadap antibisa ular dan antikolinesterase, bervariasi tergantung spesies ular, neurotoksisitas, dan geografi. Artikel ini membahas patofisiologi neurotoksisitas bisa ular pada neuromuscular junction dan tatalaksana kasus gigitan ular terutama peran antikolinesterase pada gigitan ular dengan manifestasi neurotoksik.
Peranan Allicin dari Ekstrak Bawang Putih sebagai Pengobatan Komplemen Alternatif Hipertensi Stadium I
Febyan -;
Sri Handawati Wijaya;
Jovian Adinata;
Johannes Hudyono
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 4 (2015): Alergi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v42i4.1025
Bawang putih (Allium sativum) telah dikenal sejak lama dalam pengobatan tradisional. Dewasa ini Allium sativum banyak digunakan sebagai pengobatan alternatif untuk penyakit kardiovaskuler, seperti hipertensi. Kandungan allicin dalam Allium sativum bekerja melalui penghambatan angiotensin converting enzyme (ACE) dan efek polisulfida organik pada ion Ca2+ di kanal K - ATP yang berakibat penurunan konsentrasi ion Ca2+ sel, menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah dan penurunan tekanan darah. Konsumsi Allium sativum 600-900 mg dalam bentuk ekstrak atau 4 g bentuk segar atau 8 mg bentuk minyak per hari dapat menurunkan tekanan darah secara bermakna (p<0.005).Garlic (Allium sativum) has long been known in traditional medicine. Allium sativum is still being used as an alternative medicine for cardiovascular disease, such as hypertension. Allicin in Allium sativum works through inhibiting angiotensin converting enzyme (ACE) and polysulfide organic effect on Ca2+ in K-ATP channel, lowering intracellular Ca2+, causes vasodilatation thus lowering the blood pressure. Study shows that consuming 600-900 mg daily of Allium sativum extract or 4 g of fresh Allium sativum or 8 g of Allium sativum oil daily could lower first grade hypertension significantly (p<0.005).