cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Terapi Berbasis Sel: Perkembangan Terkini Cipta Mahendra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 3 (2022): Saraf
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i3.1769

Abstract

Terapi berbasis sel mulai mendapat perhatian ketika James P. Allison dan Tasuku Honjo mendapat hadiah Nobel bidang fisiologi/kedokteran pada tahun 2018 atas penemuan mekanisme inhibisi regulasi sel T dalam sistem imun, yang sangat berguna untuk memajukan modalitas imunoterapi. Terapi berbasis sel sejauh ini menggunakan dua jenis sel, yaitu sel imun dan sel punca. Terapi berbasis sel potensial sebagai terapi medis di masa depan, meskipun kini masih dalam tahap penelitian. Artikel ini bertujuan memberikan pengantar seputar terapi berbasis sel dan perkembangan terkininya.
Tatalaksana nutrisi pada pasien luka bakar mayor Marcel Aldion Rahardja
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 12 (2014): Endokrin
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i12.1066

Abstract

Luka bakar derajat berat masih menjadi masalah utama di seluruh dunia. Luka bakar mayor, yang mengenai lebih dari 20% TBSA (total burn surface area), dengan atau tanpa gangguan pernapasan, merupakan kondisi spesifik di unit intensive care. Terapi nutrisi merupakan bagian dari terapi luka bakar, dimulai sejak dini dari permulaan resusitasi. Pemberian nutrisi yang spesifik dengan perhitungan kalori yang adekuat sangat diperlukan sebagai bagian tatalaksana luka bakar untuk memperbaiki outcome klinis dari pasien luka bakar mayor.Major burn that accounts for more than 20% TBSA, with or without respiratory problem, is a specific condition in intensive care. Nutrition therapy is an important component of burn management since early phase, and adequate calorie and nutrition supply is essential in improving clinical outcome. 
Native Indonesian Herbs: Challenges in The Future for Anti-Cancer Drugs Dias Rima Sutiono; Malvel Mario Gabriel Reinald Salim; Nadya -; Oniko Liani; Sulvania Susanto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v44i11.708

Abstract

Indonesia has undoubtedly enormous biodiversitywith great potential for drug discovery; however, its utilization is still very limited. Current available cancer treatments are still not really effective since they are rather invasive, has side effects, expensive, and not really specific. Researches start to focus on the natural-based anticancer drugs and lots of native Indonesian herbs have been scientifically identified to have anticancer properties. White turmeric, clove, ant plant, and rodent tuber plant are some of native Indonesian herbs that have been proven to have anticancer properties. This review is to demonstrate the anticancer properties of these potential native Indonesian herbs to be the future natural anticancer drugs and also to inspire the utilization of rich Indonesian biodiversity.Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat melimpah dan berpotensi sangat besar untuk penemuan obat baru, namun pemanfaatannya masih sangat terbatas. Pengobatan kanker saat ini tidak terlalu efektif karena bersifat invasif, memiliki efek samping, mahal, dantidak terlalu spesifik. Penelitian mulai berfokus kepada obat anti-kanker alami sehingga pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia menjadi sangat sesuai karena banyaknya tanaman herbal asli Indonesia yang telah teridentifikasi secara ilmiah memiliki kandungan anti-kanker. Kunyit putih, cengkeh, sarang semut, dan keladi tikus adalah beberapa tumbuhan herbal asli Indonesia yang telah terbukti memiliki kandungan anti-kanker. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk mendemonstrasikan potensi kandungan anti-kanker tumbuh-tumbuhan tersebut di masa depan dan juga untuk menginspirasi pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia.
Penyakit Wilson – Diagnosis dan Tatalaksana Fery -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 7 (2016): Kulit
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i7.78

Abstract

Penyakit Wilson disebabkan oleh kelainan genetik berupa mutasi gen ATP7B pada kromosom 13 yang menyebabkan akumulasi tembaga berlebih di hati dan/atau otak. Artikel ini membahas gejala, diagnosis, dan terapi penyakit Wilson.
Potensi Curcumin untuk Mencegah Aterosklerosis Tomy Nurtamin
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i8.1117

Abstract

Aterosklerosis merupakan penyakit inflamasi kronik yang ditandai terbentuknya plak di arteri besar. Aterosklerosis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Beberapa literatur telah menunjukkan bahwa stres oksidatif dapat menyebabkan disfungsi endotel dan berperan utama pada perkembangan awal aterosklerosis. Stres oksidatif dapat diatasi dengan pemberian antioksidan. Curcumin merupakan senyawa utama di dalam kunyit dan sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa curcumin memiliki potensi menguntungkan karena memiliki sifat antioksidan, antiinflamasi dan anti hiperlipidemia. Berdasarkan hal tersebut curcumin dapat dimanfaatkan untuk pencegahan aterosklerosisAtherosclerosis is a chronic inflammatory disease characterized by plaque formation in large arteries. Atherosclerosis is a major cause of morbidity and mortality in the world. Several literature has shown that oxidative stress can cause endothelial dysfunction and play important role in early development of atherosclerosis. Oxidative stress can be treated with administration of antioxidants. Curcumin is a compound in turmeric and commonly found in our daily diet. Several studies have shown the potential beneficial effects of curcumin because of its antioxidant, anti-inflammatory and anti-hyperlipidemia properties. Curcumin can be used for prevention of atherosclerosis.
Tatalaksana Terapi Sel Punca Mesenkimal Otologus untuk Cedera Tulang Rawan Sendi Lutut Maurin Merlina; Angela C. Ardhianie; Yuyus Kusnadi; Andri M.T. Lubis
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 11 (2015): Kanker
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i11.952

Abstract

Cedera tulang rawan merupakan masalah klinis umum akibat kerusakan matriks tulang rawan. Jika diabaikan, degenerasi tulang rawan yang progresif dapat berkembang menjadi osteoarthritis (OA) dan mengganggu mobilitas penderita. Telah diketahui bahwa lesi tulang rawan tidak dapat kembali normal karena kemampuan menyembuhkan diri tulang rawan sendi sangat terbatas. Ketiadaan pasokan darah ke tulang rawan dan rendahnya aktivitas metabolisme kondrosit menghalangi proses penyembuhan alamiah yang melibatkan sintesis tulang rawan hialin baru dan mobilisasi sel punca dari sumsum tulang ke daerah lesi. Saat ini, penggantian sendi lutut total menjadi satu-satunya pilihan tindakan pada kerusakan tulang rawan atau OA tingkat akhir, namun prodesur tersebut harus diulangi dalam 10-15 tahun. Transplantasi sel punca mesenkimal dapat menjadi pilihan terapi untuk memperbaharui tulang rawan yang rusak. Metode ini cocok diterapkan pada tingkat kerusakan sedang hingga lanjut dengan tujuan untuk menunda perluasan cedera dan penggantian sendi lutut.Cartilage injury is a common clinical problem that mainly occurs due to cartilage matrix disruption, partial thickness defect, or full thickness defect as a result of traumatic accident. If left untreated, progressive cartilage degeneration could lead to osteoarthritis (OA) and impede mobility. Cartilage lesions are irreversible because of limitation of self-healing capability of articular cartilage. Lack of blood supply in cartilage and low chondrocytes metabolism activity impair natural healing that suppose to fill the defect by increasing hyaline cartilage synthesis or mobilizing stem cell from bone marrow to the site of injury. Knee joint replacement is currently the only treatment option for the end stage of cartilage damage and OA, yet the procedure should be repeated in 10-15 years. Transplantation of mesenchymal stem cells to regenerate the injured cartilage can be an option. This method is suitable for intermediate to advance stage of cartilage damage to delay the process of injury and joint replacement procedure. 
Pharmacogenomics and Personalized Medicine in Type 2 Diabetes Ratih Dewi Yudhani
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 6 (2015): Malaria
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i6.997

Abstract

Type 2 diabetes has reached epidemic proportions worldwide and poses a considerable concern for public health. Although a variety of pharmacological treatments is available, response, doses and tolerability to drugs are highly variable and monotherapy often failed. A large interindividual variability in drug response has been noticed and contributing factors include age, sex, disease, drug and food interactions, comorbidity, as well as genetic factors. Poor therapeutic outcomes may be caused by variability of individual characteristics.Personalized medicine is an emerging concept for treating diseases, which involves determining specific information of a particular patient and then prescribing specific treatment. Pharmacogenetics holds the promise of bringing personalized medicine to drug dosing decisions, to reduce morbidity and mortality, and to improve life quality for T2DM patients.Diabetes Mellitus tipe 2 telah merupakan epidemi di seluruh dunia dan menjadi perhatian besar di bidang kesehatan. Meskipun berbagai terapi farmakologis telah tersedia, namun respon, dosis dan tolerabilitas penderita sangat bervariasi dan monoterapi sering gagal. Terdapat variabilitas besar terkait respon terapi diantara individu dan beberapa faktor yang berperandiantaranya usia, jenis kelamin, penyakit, interaksi obat dengan makanan, komorbiditas, serta faktor genetik. Variabilitas besar terkait respon terapi obat hipoglikemik sering dijumpai di klinik. Respon terapi tidak optimal mungkin karena pemilihan terapi tanpa memperhatikan karakteristik individual. Personalized medicine merupakan konsep terkini pemberian terapi. Pada konsep ini, pemilihan jenis terapi mempertimbangkan profil genetik maupun karakteristik individual. Farmakogenetik menjadi kunci mewujudkan personalized medicine sehingga diharapkan dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas penyakit, serta meningkatkan kualitas hidup penderita Diabetes Mellitus Tipe 2.
Modalitas MRI sebagai Pemeriksaan Penunjang pada Kanker Prostat Barnabas I Wayan Tirta
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 1 (2018): Suplemen
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i1.161

Abstract

Kasus kanker prostat merupakan kasus kanker yang sering didiagnosis pada pria. Pemeriksaan skrining saat ini menggunakan Digital Rectal Examination dan kadar PSA belum dapat menentukan lokasi kanker. Modalitas MRI dapat membantu menentukan lesi sekaligus menentukan lokasi kanker, agar jenis terapi dapat ditentukan.
Teknik Operasi Labiopalatoskizis Hendry Irawan; Kartika -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i4.1150

Abstract

Labiopalatoskizis merupakan malformasi wajah yang terjadi pada 1 dari 700 kelahiran di dunia yang dapat berkaitan dengan sindrom tertentu atau pun tidak. Anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendiagnosis dan menentukan klasifikasi labiopalatoskizis. Proses terapi ini memerlukan kerja sama tim dengan berbagai keahlian. Berbagai teknik operasi telah dikembangkan untuk mengatasi kelainan ini.Labiopalatoschizis is a facial malformation that occurs about 1 of 700 births in the world, which can be associated with particular syndrome or not. History taking and physical examination were performed to diagnose and determine classification of labiopalatoschizis. The treatment process requires teamwork of various expertises. Various surgical techniques have been developed to overcome this abnormality.
Tuberkulosis Payudara Primer sebagai Diagnosis Banding Massa Payudara Nata Pratama Hardjo Lugito; Edy Gunawan; Margaret Chandra; Andree Kurniawan; Darti Isbandiarti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 1 (2016): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i1.10

Abstract

Dilaporkan kasus seorang pasien perempuan berusia 40 tahun dengan TB payudara primer, suatu bentuk TB ekstra-paru yang jarang dijumpai. Keluhan berupa benjolan payudara kanan sejak 2 minggu dan pembesaran kelenjar getah bening aksila kanan. Ultrasonografi menemukan abses dan pembesaran kelenjar getah bening. Biopsi abses menemukan gambaran infeksi Mycobacterium tuberculosis. Setelah pengobatan anti-TB selama 6 bulan, abses membaik. Gambaran klinis TB payudara bervariasi dan memiliki kemiripan dengan beberapa penyakit lainnya. TB payudara merupakan salah satu diagnosis alternatif massa payudara di daerah dengan insidens TB tinggi.

Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue