cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Telomerase Inhibitor: Promising Target Therapy for Cancer Diana Kusuma; Izza Aliya; Andre Putra; Mediana Sutopo
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i4.670

Abstract

The key to selectively targeting cancer cells is to exploit some basic differences with their normal precursors. One such difference is the activity of the enzyme telomerase. Some studies targeted telomerase and telomeres in order to block limitless replicative potential of cancer cells, providing a fascinating strategy for a broad-spectrum cancer therapy. Telomerase based therapies could be well tolerated and perhaps with minimal side effect on telomerase-competent stem cells.Kunci pengobatan selektif sel kanker adalah dengan memanfaatkan beberapa perbedaan mendasar antara prekursor sel kanker dengan sel normal tubuh. Salah satu perbedaannya adalah aktivitas enzim telomerase. Beberapa penelitian sudah menargetkan telomerase dan telomer sebagai target terapeutik untuk memblokir potensi replikasi sel kanker yang tak terbatas, sebagai strategi terapi kanker spektrum luas. Terapi berbasis telomerase ini dapat ditoleransi dengan baik dan memiliki efek samping minimal pada telomerase sel normal tubuh lainnya.
Diagnosis dan Tatalaksana Pleuritis Tuberkulosis. Made Agustya Darma Putra Wesnawa
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 5 (2016): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i5.55

Abstract

Pleuritis tuberkulosis adalah infeksi Mycobacterium tuberculosis pada pleura yang sering bermanisfestasi sebagai efusi pleura. Pemeriksaan radiologi diperlukan untuk menentukan adanya lesi intrapulmonal. Diagnosis pleuritis tuberkulosis dapat dengan mudah ditegakkan melalui pemeriksaan kadar adenosine deaminase (ADA) cairan pleura. Penatalaksanaan  awal dengan obat antituberkulosis dan torakosentesis untuk mencegah perkembangan penyakit dan mengurangi keluhan pasien.
Gejala Otonom Tidak Spesifik pada Penderita Rabies di RSUP Sanglah, Denpasar Putra Martin Widanta IGN; Susilawathi NM; Raka Sudewi AA
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 10 (2014): Hematologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i10.1095

Abstract

Latar belakang: Manifestasi klinis rabies sangat bervariasi. Gejala otonom tidak spesifik ditemukan pada 2/3 kasus terutama pada stadium prodromal menyebabkan misdiagnosis yang memperlambat penanganan rabies. Tujuan: Mengetahui manifestasi gejala sistem saraf otonom tidak spesifik pada penderita rabies di RSUP Sanglah. Metodologi: Penelitian retrospektif dari bulan Januari 2009 – Desember 2010 di RSUP Sanglah Denpasar. Data diperoleh dari catatan medis penderita rabies. Hasil: Ditemukan 13 kasus rabies dengan manifestasi gejala otonom tidak spesifik, terdiri dari 8 kasus tipe galak (61,5%) dan 5 kasus tipe paralitik (38,5%). Pada stadium prodromal gejalanya adalah mual-muntah (38,5%), gangguan miksi (30,8 %), perut kembung (30,8%), nyeri uluhati/perut (15,4%), nyeri dada (15,4%), sesak nafas (53,8) dan diare (7,7%). Gejala sistem otonom pada stadium neurologi akut berupa gangguan miksi (inkontinensia dan retensio urine) (38,5%) dan distensi abdomen (30,8%). Pasien dirawat oleh bagian Ilmu Penyakit Dalam (69,2%), Ilmu Penyakit Anak (15,4%), Ilmu Penyakit Jantung (15,4%) antara 24 jam sampai 48 jam sebelum dikonsulkan ke bagian Ilmu Penyakit Saraf. Simpulan: Manifestasi gejala sistem otonom tidak spesifik sangat bervariasi, dapat ditemukan pada stadium prodromal dan neurologis akut.Background: Clinical manifestations of rabies may be preceded by nonspecific prodromal symptoms in 2/3 cases. This often leads to misdiagnosis resulting in delays in the management of rabies. Objective: To determine the non-specific autonomic nervous system symptoms in rabies patients in Sanglah Hospital. Method: This is descriptive retrospective study from January 2009 - December 2010 in Sanglah Hospital, Denpasar. Data obtained from medical records of rabies patients. Results: During the period, there were 13 cases of rabies with non-specific autonomic nervous system symptoms, 8 cases were furious type (61.5%) and 5 cases paralytic rabies (38.5%). Symptoms at prodromal stage are nausea/vomiting (38.5%), urinary symptoms (30.8%), abdominal distention (30.8%), abdominal/epigastric pain (15.4%), chest pain (15.4 %), shortness of breath (53.8%) and diarrhea (7.7%). The autonomic symptoms at acute neurologic stage were urinary disorders (urinary incontinence and retention) (38.5%) and abdominal distension (30.8%). All patients were treated by other departments between 24 to 48 hours prior to neurological consultation. Those departments were Internal Medicine (69.2%), Pediatrics (15.4%), Cardiology (15.4%). Summary: non-specific autonomic nervous system symptoms of rabies are diverse and complicate the diagnosis. It can occur in a prodromal and acute neurological stage.
Aspirin Dosis Rendah untuk Pencegahan Preeklampsia dan Komplikasinya Ferdy Iskandar; Suryadi Limardi; Astrid Fransisca Padang
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v44i5.802

Abstract

Preeklampsia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu hamil (bumil), persalinan prematur, kematian perinatal, dan pertumbuhan janin terhambat (PJT). Aspirin dosis rendah dapat mengurangi risiko tersebut, terutama pada kehamilan risiko tinggi. Terapi ini menghambat vasokonstriksi yang diperantarai tromboksan dan mencegah kegagalan transformasi fisiologis arteri spiralis. Penggunaannya tidak berhubungan dengan komplikasi yang signifikan.Preeclampsia is the major cause of morbidity and mortality of pregnant women, premature delivery, perinatal mortality, and intrauterine growth retardation (IUGR). Low-dose aspirin can reduce the risk, especially in high-risk pregnancies. This therapy inhibits thromboxane-mediated vasoconstriction and prevents the failure of a physiological transformation of spiral arteries. Its use is not associated with significant complications.
Hubungan Fungsi Sel β Pankreas dengan Profil Lipid Individu dengan Toleransi Glukosa Normal Farik Zarmal; Santi Syafril; Dharma Lindarto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 8 (2016): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i8.89

Abstract

Latar Belakang: Beberapa studi mendapatkan bahwa disfungsi sel β pankreas akibat dislipidemia merupakan faktor risiko independen timbulnya DM tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara fungsi sel β pankreas (HOMA-B) dan profil lipid (kolesterol total, LDL, HDL, trigliserida) pada individu dengan toleransi glukosa normal. Metode: Studi potong lintang terhadap 32 individu bukan penderita DM tipe 2 dengan toleransi glukosa normal. Uji Spearman digunakan untuk menilai korelasi antara HOMA-B dan profil lipid. Hasil: Dari 32 sampel, diperoleh hasil bahwa fungsi sel β pankreas memiliki hubungan signifikan dengan kolesterol total (r= -0,601; p=0,0001) dan LDL (r= -0,555;p=0,001), di mana peningkatan kadar kolesterol total dan LDL diikuti penurunan fungsi sel β pankreas. Tidak terdapat hubungan signifikan antara fungsi sel β pankreas dengan HDL dan trigliserida pada studi ini. Simpulan: Terdapat hubungan signifikan antara HOMA-B dengan kolesterol total dan LDL. Tidak terdapat hubungan signifikan antara HOMA-B dengan HDL dan TG. Kadar kolesterol total dan LDL dapat menjadi prediktor awal disfungsi fungsi sel-β pankreas.
Trombositopenia dan Berbagai Penyebabnya Nicholas Benedictus Sianipar
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 6 (2014): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i6.1128

Abstract

Jumlah trombosit darah normal dalam populasi umum adalah 150.000-450.000/μL; 5% populasi normal akan memiliki hitung trombosit di luar rentang nilai normal. Anamnesis dan pemeriksaan fisik, hasil pemeriksaan darah rutin/lengkap, dan penilaian ulang apusan darah tepi merupakan komponen penting dalam evaluasi awal pasien trombositopenia. Tinjauan pustaka ini membahas beberapa diagnosis diferensial penyebab trombositopenia. Pemberian transfusi trombosit pada trombositopenia harus dipertimbangkan dengan matang.Normal platelet count in general population is 150.000-450.000/μL; 5% of normal population will have a platelet count outside the normal range. Anamnesis and physical examination, complete blood count, and reassessment of peripheral blood smear are important components in the initial evaluation of thrombocytopenia. Differential diagnoses of thrombocytopenia are discussed. Platelet transfusion in thrombocytopenia should be considered carefully.
Penggunaan Obat Pelumpuh Otot di ICU Esther Kristiningrum
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 10 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i10.962

Abstract

Obat pelumpuh otot melumpuhkan/merelaksasi otot rangka dengan menghambat transmisi impuls saraf pada sambungan otot-saraf. Obat pelumpuh otot dibagi menjadi obat depolarisasi dan non-depolarisasi. Obat ini dapat bermanfaat di unit perawatan intensif (ICU) untuk berbagai kondisi klinik. Dokter sebaiknya memilih suatu obat pelumpuh otot berdasarkan farmakologi obat dan karakteristik individu. Monitoring klinis dan train-of-four (TOF) direkomendasikan untuk menurunkan risiko komplikasi terkait dengan obat pelumpuh otot.Neuromuscular blocking agents (NMBAs) paralyze skeletal muscles by blocking nerve impulses at myoneural junction. It is categorized into depolarizing or nondepolarizing agents based upon their mechanism of action. These drugs may be useful in the intensive care unit (ICU) for a variety of clinical conditions. The clinician should choose an NMBA on the basis of drug pharmacology and individual characteristics. Both clinical and train-of-four (TOF) monitoring was recommended to reduce risk of complication associated with NMBA.
Hubungan Obesitas dengan Kejadian Hipertensi di Kecamatan Sintang, Kalimantan Barat Diana Natalia; Petrus Hasibuan; Hendro -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i5.1008

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi dan komplikasinya merupakan penyebab kematian nomor satu secara global. Obesitas merupakan salah satu faktor risiko hipertensi. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji hubungan antara obesitas dan kejadian hipertensi di Kecamatan Sintang. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik dengan pendekatan cross-sectional. Cara pengambilan sampel adalah dengan teknik non-probability sampling (consecutive sampling) dengan jumlah sampel sebanyak 146 subjek. Pengukuran meliputi tekanan darah sistolik dan diastolik, berat badan, dan tinggi badan. Indeks massa tubuh (IMT) ditentukan berdasarkan berat badan dan tinggi badan, dikelompokkan dalam 2 kategori, yakni normal (IMT 18,5 – 22,9 kg/m2) dan obesitas (IMT ≥ 25 kg/m2). Berdasarkan nilai tekanan darah, subjek dikelompokkan dalam 2 kategori, yakni non-hipertensi (normal dan prahipertensi) dan hipertensi (hipertensi derajat 1 dan 2). Data dianalisis menggunakan program Statistical Package for the Social Sciences (SPSS ) 17.0. Hasil: Terdapat hubungan bermakna secara statistik antara obesitas dan kejadian hipertensi (P < 0,000). Rasio prevalensi terjadinya hipertensi pada penderita obesitas adalah PR 2,16; 95% IK 1,32 – 2,24. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara obesitas dan kejadian hipertensi. Penderita obesitas mempunyai risiko mengalami hipertensi 2,2 kali lebih besar dibandingkan dengan subjek yang mempunyai IMT normal.Background: Hypertension and its’ complications was an important cause of death worldwide. Obesity was one of the risk factors of hypertension. Objective: To examine the relationship between obesity and hypertension in Sintang Subdistrict. Method: This research was analytic study with cross-sectional approach. One hundred and fourty six participants were recruited using a non-probability sampling (consecutive sampling) technique. Measurement was taken on systolic and dyastolic blood pressure, height, and weight. Body mass index (BMI) was calculated using height (m2) and weight (kg), and classified as normal (BMI 18,5 – 22,9 kg/m2) and obesity (BMI more than 25 kg/m2). Based on blood pressure, all participants were divided into two groups : non-hypertensives (normal and prehypertension) and hypertensives (hypertension grade 1 and 2). Data were analyzed with Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) 17.0. Result: The relationship between obesity and hypertension was statistically significant (P < 0,000). The relative risk of hypertension in obese patient is PR 2,16; CI 1,32 – 2,24. Conclusion: There was significant relationship between obesity and hypertension. The risk for developing hypertension among obese subjects was 2,2 fold compared with normal weight subjects.
Penyakit Blount – Diagnosis dan Tatalaksana I Gede Mahardika Putra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 2 (2018): Urologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i2.171

Abstract

Penyakit Blount  merupakan  penyakit  epifisis  proksimal  tibia  patologis  yang  menyebabkan  tibia  melengkung  pada  anak–anak.  Keparahan  penyakit ini dinilai menggunakan sistem klasifikasi Langenskiöld 6 tahap berdasarkan progresivitas degenerasi kompartemen sendi medial. Pilihan terapinya meliputi non-bedah dan pembedahan, dengan perawatan khusus berdasarkan umur dan stadium menurut Langenskiöld. Kerusakan sendi permanen dan deformitas dapat berkelanjutan jika tidak diobati.
Nutrisi pada Anak dengan Penyakit Ginjal Kronik Hendri Tanu Jaya; Sudung O. Pardede
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 2 (2014): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i2.1160

Abstract

Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah kerusakan ginjal yang ditandai dengan kelainan patologi anatomi ginjal maupun kelainan fungsi ginjal yang berlangsung selama tiga bulan atau lebih. Anak dengan PGK berisiko mengalami malnutrisi, keterlambatan pertumbuhan, dan gangguan nutrisi. Keadaan ini meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas. Terapi nutrisi pada anak dengan PGK bertujuan mempertahankan status nutrisi optimal; tercukupinya mikronutrien dan makronutrien; menghindari toksisitas uremik, metabolisme abnormal, dan malnutrisi; serta menurunkan risiko morbiditas kronik dan mortalitas pada usia dewasa. Parameter penilaian status nutrisi dan pertumbuhan pada anak dengan PGK meliputi asupan makanan, persentil tinggi/panjang badan terhadap umur, persentil kecepatan pertambahan tinggi/panjang badan terhadap umur, perkiraan berat badan dan persentil berat badan menurut umur, indeks massa tubuh, dan lingkar kepala. Restriksi asupan natrium disarankan pada anak PGK yang menderita prehipertensi atau hipertensi. Restriksi fosfat bermanfaat untuk mencegah dan menangani hiperparatiroidisme dan aman untuk pertumbuhan, nutrisi, dan mineralisasi tulang. Rekomendasi pemberian kalsium adalah 100%-200% kebutuhan sehari sesuai umur. Pasien PGK dengan kekurangan vitamin D disarankan diberi vitamin D dengan monitor kadar vitamin D3 serum. Chronic kidney disease (CKD) is defined as kidney damage characterized by structural, histological and/or functional kidney abnormalities at least for three months. Children with CKD have increased risk for malnutrition, growth retardation, and nutritional disorder, increasing risk of morbidity and mortality. Nutritional therapy for children with CKD is to maintain optimal nutritional status, to achieve adequate micro- and macronutrient intake, to avoid uremic toxicity, abnormal metabolism and malnutrition and also to lower chronic morbidity and mortality risk in adult age. The parameter of nutritional status and growth evaluation in children with CKD are dietary intake, percentile of body height/length for age, percentile of growth for age, estimation of body weight and body weight to age percentile, body mass index, and head circumference. Sodium restriction is suggested for children with CKD with pre-hypertension or hypertension. Phosphate restriction provides the advantages in preventing and managing hyperparathyroidism and is safe for bone growth, nutrition, and mineralization. Calcium intake is recommended at 100%-200% of age-adjusted daily need. Vitamin D supplementation with vitamin D3 serum monitoring is recommended for vitamin D deficient CKD patient. Hendri Tanu Jaya, Sudung

Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue