cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Marjolin’s Ulcer: Diagnosis dan Penatalaksanaan Nyoman Siska Ananda
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 1 (2018): Suplemen
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i1.162

Abstract

Marjolin’s ulcer  adalah kondisi keganasan pada kulit yang sebelumnya terluka dan mengalami inflamasi kronis. Diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan biopsi yang merupakan pemeriksaan baku emas. Penatalaksanaan adalah operasi eksisi lokal dan skin graft.
Ganggguan Kognitif akibat Polusi Udara Ancaman bagi Generasi Mendatang Irwan Supriyanto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i4.1151

Abstract

Polusi udara merupakan masalah lingkungan yang sangat mungkin mempunyai dampak biologis. Paparan polusi udara dilaporkan mengganggu perkembangan dan plastisitas sistem saraf pusat, terutama pada anak-anak. Polutan dapat merusak sistem saraf pusat melalui berbagai jalur inflamasi dan stres oksidatif, yang mengaktifkan mikroglia, sekresi berbagai faktor proinflamasi, mengakibatkan gangguan neurodegeneratif. Pajanan polutan kronik juga bisa merusak swar darah otak dan mengganggu homeostasis otak, selain dilaporkan mengganggu berbagai fungsi sistem saraf pusat dan menimbulkan gejala gangguan mental, terutama pada anak-anak yang sistem saraf pusatnya masih dalam masa perkembangan.Air pollution is an environmental problem with a possible biological consequence. It has been reported to disrupt central nervous system development and plasticity, particularly in children. Pollutant can damage central nervous system through inflammation and oxidative stress, which would activate microglia and induce the secretion of pro-inflammatory factors, resulting in neurodegenerative disorders. Chronic pollutant exposure might also disrupt the blood brain barrier and impair brain homeostasis; was also reported to disrupt numerous central nervous system functions and cause mental symptoms, especially in children with developing brain.
JNC 8: Evidence-based Guideline Penanganan Pasien Hipertensi Dewasa Muhadi .
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 1 (2016): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i1.11

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang paling umum ditemukan dalam kedokteran primer. Komplikasi hipertensi dapat mengenai berbagai organ target, seperti jantung, otak, ginjal, mata, dan arteri perifer. Kerusakan organ-organ tersebut bergantung pada seberapa tinggi tekanan darah dan seberapa lama tekanan darah tinggi tersebut tidak terkontrol dan tidak diobati. Studi menunjukkan bahwa penurunan rerata tekanan darah sistolik dapat menurunkan risiko mortalitas akibat penyakit jantung iskemik atau stroke. Oleh karena itu, tercapainya target penurunan tekanan darah pasien hipertensi sangat penting. Salah satu guideline terbaru yang dapat dijadikan acuan di Indonesia adalah guideline Joint National Committee (JNC) 8 tahun 2014. Rekomendasi JNC 8 dibuat berdasarkan bukti-bukti dari berbagai studi acak terkontrol. Dua poin baru yang penting dalam guideline JNC 8 ini adalah perubahan target tekanan darah sistolik pada pasien berusia 60 tahun ke atas menjadi <150 mmHg dan target tekanan darah pada pasien dewasadengan diabetes atau penyakit ginjal kronik berubah menjadi <140/90 mmHg. Modifikasi gaya hidup, meskipun tidak dijelaskan secara detail juga tetap masuk dalam algoritma JNC 8 ini.
Metilasi Promoter Gen BRCA1 dan Pengaruhnya terhadap Karakteristik Kanker Payudara Premenopausal Sporadik Etnis Minang Wirsma Arif Harahap; Daan Khambri; Dessy Arisanty; Yanwirasti -; Sofia Mubarika
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 3 (2015): Nyeri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i3.1031

Abstract

Karsinoma payudara sporadik merupakan kanker yang paling sering pada wanita premenopause etnis Minang. Terdapat perbedaan faktor risiko dan karakteristik tumor jika dibandingkan dengan pasien Kaukasian. Diduga faktor metilasi pada promoter BRCA1 berperan dalam kejadian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kejadian metilasi promoter gen BRCA1 pada pasien kanker payudara premenopause sporadik etnis Minang. Penelitian menggunakan metoda deskriptif analitik pemeriksaan metilasi dengan teknik Bisulfit PCR pada promoter gen BRCA1 pada 43 jaringan kanker payudara sporadik usia premenopause etnis Minang yang diobati di RS M Jamil Padang. Faktor prognosis yang diperiksa adalah stadium, gradasi tumor, indeks mitosis, dan pemeriksaan imunohistokimia (Er,Pr,HER2,Ki67). Didapatkan 35 pasien kanker payudara yang memenuhi syarat, dengan perincian: 17,2% stadium II, 71,4% stadium III, dan 11,4% stadium IV. Subtipe adalah Luminal A 16 orang (17,1%), Luminal B 9 orang (25,7 %), HER2 3 orang (8,6%) dan TNBC 17 orang (48,6%). Metilasi pada jaringan kanker didapatkan pada 21 pasien (60 %). Metilasi berhubungan dengan derajat proliferasi tinggi (Ki67 >14%), stadium lanjut, dan subtipe jenis TNBC. Kanker payudara dengan metilasi pada promoter gen BRCA1 memiliki prognosis lebih buruk. Perlu penelitian lebih lanjut untuk melihat dampak klinis obat anti-metilasi pada penderita KPD dengan metilasi pada promoter BRCA1. Sporadic breast carcinoma is the most common cancer among premenopausal Minang ethnic women. There are differences of risk factors and tumor characteristics compared with Caucasian patients. It was assumed that promoter methylation in BRCA1 plays a role in this differences. This descriptive analytic study aimed to describe the incidence of promoter methylation in the BRCA1 gene in sporadic premenopausal ethnic Minang breast cancer patients. This research used methylation with bisulfate PCR technique method in the BRCA1 promoter in 43 sporadic premenopausal ethnic Minang breast cancer patients at M Djamil Hospital Padang. Stage, tumor grading, mitotic index, and immunohistochemical examination (Er, Pr, HER2, Ki67) are examined prognostic factor. Among eligible 35 breast cancer patients, 17.2% are stage II, 71.4% are stage III and 11.4% are stage IV. Cancer subtypes were Luminal A in 16 patients (17.1%), Luminal B in 9 patients (25.7%), HER2 in 3 patients (8.6%), and TNBCin 17 patients (48.6%). Methylation in cancer tissue was found in 21 patients (60%). Methylation associated with a high degree of proliferation (Ki67>14%), advanced stage and type of TNBC subtypes. Breast cancer with promoter methylation in the BRCA1 gene have a worse prognosis. Further research is needed to study the clinical impact of antimethylation in breast cancer patients with BRCA1 promoter methylation.
Uji Validitas dan Reliabilitas Cognitive Assessment Interview versi Indonesia Wikan Ardiningrum; Carla Raymondalexas Marchira; Cecep Sugeng Kristanto; Silas Henry Ismanto; Seviana Primawati
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 5 (2019): Pediatri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i5.475

Abstract

Introduksi. Defisit kognitif merupakan prediktor konsisten disabilitas pasien skizofrenia. Salah satu instrumen penilaian fungsi kognitif pasien skizofrenia adalah Cognitive Assessment Interview.Tujuan penelitian ini untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen Cognitive Assessment Interview versi Bahasa Indonesia (CAI-Ina). Metode. Uji validitas dan reliabilitas meliputi uji validitas isi, uji validitas konstruk, uji reliabilitas inter rater, dan uji reliabilitas konsistensi internal. Pengambilan data dilakukan satu kali pada 112 pasien skizofrenia dan informan di klinik rawat jalan psikiatri RS Jiwa Grhasia DIY. Analisis data menggunakan SPSS 16. Hasil. Hasil kajian ulang, penerjemahan dan terjemahan balik CAI-Ina oleh pakar telah disetujui oleh Ventura sebagai penyusun instrumen asli. Semua item dalam instrumen CAI-Ina memiliki mempunyai korelasi sedang-kuat dengan skor total CAI-Ina (r=0,568-0,720, p<0,001). Terdapat korelasi sangat kuat antara skor total penilai, pasien, dan informan (r=0,903-0,944, p<0,001). Analisis faktor mendapatkan dua komponen utama yaitu komponen terkait memori dan tidak terkait memori yang keduanya dapat menjelaskan 58,6% keseluruhan konstruk instrumen CAI-Ina. Nilai Cronbach’s alpha pasien 0,789; informan 0,835; dan penilai 0,850. Hasil uji interrater koefisien Kappa seluruh item dan skor total 0,722-0,939 dan koefisen konkordansi Kendall W 0,834-0,985. Skor CAI-Ina memiliki korelasi kuat dengan skor GAF (r=-0,722-(-)0,808; p<0,001) maupun kemampuan fungsi sosial (r=-0,684-(-)0,750; p<0,001). Simpulan. CAI-Ina memiliki validitas isi dan konstruk yang baik serta reliabilitas yang tinggi.Introduction. Cognitive deficit is a consistent predictor for disabilities in patient with schizophrenia. One instrument that can be used to assess cognitive deficit in schizophrenia is Cognitive Assessment Interview. This study will evaluate the validity and reliability of CAI instrument in Indonesia languange version (CAI-Ina). Method. The validity and reliability evaluation includes content validity, construct validity, inter rater reliabity, and internal consistency reliabity. Data was collected from 112 patients and informants in the outpatient clinic in Grhasia Mental Hospital DIY. Data analysis was performed using SPSS 16. Result. Reassessment result, translation and back translation by an expert have been approved by Ventura as the original author. All items in the CAI have medium-strong correlation with the total score of CAI-Ina (r=0.568-0.720; p<0.001). There was a very strong correlation among the total score of the raters, patients, and informants (r=0.903-0.944; p<0.001). The two major components : memory related components and non-memory related components can explain 58.6% total instrument construct in the CAI-Ina. Cronbach’s alpha of patients was 0.789; of informants was 0.835; and of rater was 0.850. Kappa coefficients of all items and the total scores were 0.722- 0.939. The Kendall W concordance coefficients were 0.834 – 0.985. Score of CAI-Ina have a strong correlation with GAF score (r=-0.722-(-)0.808; p<0.001) and social functioning (r=-0.684-(-)0.750; p<0.001). Conclusion. CAI-Ina has a good content and construct validity, also has a high reliability.
Profil Penderita Morbus Hansen di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Bali Mandara Januari 2018-Desember 2020 Felicia Aviana; I Made Birawan; Ni Nyoman Ayu Sutrini
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 2 (2022): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i2.1739

Abstract

Morbus Hansen (MH) merupakan salah satu penyakit terabaikan dan masih sering dijumpai di negara tropis dan subtropis, termasuk di Indonesia yang menduduki peringkat ketiga di dunia. Penelitian deskriptif retrospektif dilakukan untuk mengetahui profil penderita MH di PoliklinikKulit dan Kelamin RSUD Bali Mandara periode Januari 2018-Desember 2020. Didapatkan 55 penderita MH dengan 492 (1,6%) kunjungan dari 30587 total kunjungan; terdiri dari 39 (71%) laki-laki dan 16 (29%) perempuan, terbanyak dari kelompok usia 25-44 tahun (45,5%). Berdasarkantipe MH, didapatkan tipe multibasiler (MB) sebesar 92,7%. Berdasarkan reaksi MH, didapatkan 14,5% pasien dengan reaksi erythema nodosum leprosum (ENL), tidak didapatkan pasien reaksi reversal. Mayoritas penderita MH di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Bali Mandara periode Januari2018-Desember 2020 adalah laki-laki, kelompok usia 25-44 tahun, tipe multibasiler dengan reaksi erythema nodosum leprosum (ENL). Morbus Hansen (MH) still becomes one of the neglected tropical diseases, including in Indonesia where the prevalence ranks third in the world. This retrospective descriptive study was conducted to describe the profile of MH patients at the Dernatovenerology Clinic, Bali Mandara General Hospital. There were 55 MH patients with 492 (1,6%) visits from 30587 total visits during January 2018-December 2020. This 55 MH patients consisted of 39 (71%) males dan 16 (29%) females, the dominant age group was 25-44 year-old (45,5%). Based on the type of MH,92,7% were Multibacillary (MB) type reaction and 14,5% were erythema nodosum leprosum (ENL) reaction. The majority of MH patients at the Dermatovenerology Clinic, Bali Mandara General Hospital, were male, 25-44 year-old, multibacillary type with erythema nodosum leprosum(ENL) reaction.
Hipertensi Renovaskuler pada Remaja: Pendekatan dan Tatalaksana di Rumah Sakit Tipe C di Indonesia. Winson Jos
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 4 (2016): Adiksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i4.46

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi renovaskuler merupakan salah satu jenis hipertensi yang paling sering dilaporkan pada usia remaja. Hipertensi renovaskuler yang didiagnosis dengan tepat dan cepat diintervensi, memiliki prognosis baik. Oleh karena itu, penting untuk mengenal tanda dan gejala hipertensi renovaskuler, terutama pada remaja. Kasus: Seorang wanita 18 tahun dengan keluhan nyeri ulu hati, buang air besar cair, dan mual muntah satu hari sebelum masuk rumah sakit. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darah 200/100 mmHg. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan anemia, peningkatan kreatinin dan urea serum, serta proteinuria. Pemeriksaan USG menunjukkan pielonefritis kronik bilateral dan pada USG Doppler terdapat peningkatan resistive index arteri renalis bilateral yang menandakan kecurigaan kuat terjadinya stenosis arteri renalis bilateral. Pasien mendapat terapi obat antihipertensi valsartan, diltiazem, dan nifedipin. Kondisi pasien membaik setelah perawatan dan dipulangkan dengan tekanan darah 140/100 mmHg. Pasien dirujuk untuk menjalani terapi revaskulerisasi. Diskusi: Onset hipertensi pada usia muda, gangguan fungsi ginjal pada pemeriksaan laboratorium, dan perburukan fungsi ginjal setelah terapi antihipertensi golongan Angiotensin Receptor Blocker merupakan petunjuk adanya hipertensi renovaskuler. Pemeriksaan USG abdomen dan USG Doppler memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang baik untuk diagnosis stenosis arteri renalis dan dapat dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas terbatas. Terapi definitif untuk stenosis arteri renalis bilateral adalah revaskulerisasi. Simpulan: Kecurigaan hipertensi renovaskuler perlu terutama pada onset hipertensi usia muda. Anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan fungsi ginjal, dan USG dapat menegakkan diagnosis hipertensi renovaskuler.
Evidence for Graft versus Tumour Effect after Allogeneic Stem Cell Transplantation for Leukaemia and Lymphoma Meutia Ayuputeri Kumaheri
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v44i11.700

Abstract

Haematopoietic Stem Cell Transplantation (HSCT) has been commonly used in the treatment of haematopoietic malignancy as a rescue regiment to prevent bone marrow toxicity subsequent to high dose chemotherapy.The harmful effects are leading to Graft versus Host Disease (GVHD). However, studies have shown that GVHD, T-Cell dependent mechanisms, and NK cells in allogeneic stem cell transplantation contributed to a lower risk of disease relapse by a mechanism known as Graft versus Tumour (GVT) effect. Evidence of Graft Versus Tumour (GVT) effect has allowed development of cancer therapy with less toxic chemotherapy to allow tumour eradication. This essay aims to discuss evidences of GVT effect after allogeneic stem cell transplantation in both leukaemia and lymphoma and examine future prospects of maximizing GVT effect in the treatment of both diseasesTransplantasi dengan sel punca hematopoietis umumnya digunakan untuk pengobatan keganasan darah sebagai pencegahan toksisitas kemoterapi dosis tinggi terhadap sumsum tulang. Efek negatif dikenal sebagai graft rejection dan Graft versus Host Disease (GVHD). Meskipun demikian, para ilmuwan menemukan efek Graft versus Tumour (GVT) yang dapat menurunkan risiko relaps melalui efek GVHD, mekanisme dependen sel T dan sel NK. Efek GVT ini memungkinkan pengembangan terapi kanker yang lebih aman. Tulisan ini membahas bukti efek GVT setelah tranplantasi sel punca alogenis pada leukemia dan limfoma serta propek masa depan untuk memaksimalkan efek GVT pada terapi leukemia dan limfoma.
Diagnosis Alopesia Areata Pada Anak: Kasus Serial Haken Tennizar Toena; Retno Danarti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i4.1824

Abstract

Alopesia areata (AA) merupakan penyakit autoimun yang ditandai dengan alopesia non-sikatrisial. Kondisi ini merupakan dermatosis yang umum ditemui pada anak. Gambaran klinisnya berupa alopesia non-sikatrisial fokal, perlu dibedakan dari kondisi dapatan serupa lainnya, terutama yang sering terjadi pada anak. Kami melaporkan 5 kasus AA pada anak berusia di bawah 18 tahun. Diagnosis berdasarkan pemeriksaan klinis dan penunjang. Pemahaman karakteristik AA perlu diketahui untuk diagnosis, terutama pada pasien anak.Alopecia areata (AA) is a chronic autoimmune disease characterized by non-scarring alopecia. It is one of the most commonly found dermatosis in pediatric population. The clinical manifestations of focal non-scarring alopecia must be differentiated from other acquired focal non-scarring alopecia, especially those in children. This paper report 5 AA cases in children. Diagnosis was based on clinical and supporting examinations. Understanding the characteristics of AA, particularly in children, is important to make correct diagnosis.
Diagnosis dan Penanganan Terkini Bronkiolitis pada Anak Irwan Junawanto; Ivon Lestari Goutama; Sylvani -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 6 (2016): Metabolik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i6.70

Abstract

Bronkiolitis adalah infeksi saluran napas bawah pada bayi yang umumnya disebabkan oleh infeksi Respiratory Syncytial Virus (RSV), ditandai dengan gejala peradangan akut, edema, dan nekrosis dinding sel epitel saluran napas kecil disertai peningkatan produksi mukus. Rendahnya kadar vitamin D turut berperan dalam perkembangan penyakit ini. Gejala dan tanda umumnya dimulai dari batuk dan pilek, dapat berlanjut ke takipneu, mengi, ronki, penggunaan otot bantu napas, dan/atau napas cuping hidung. Tatalaksana suportif meliputi oksigenasi dan hidrasi; penggunaan nebulisasi, antivirus, antibiotik, dan fisioterapi masih kontroversial.

Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue