cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Peranan Gut Mikrobiota dalam Patogenesis Inflammatory Bowel Disease dan Pendekatan Terapi Probiotik Sigit Triyus Priyantoro; Syifa Mustika
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 6 (2015): Malaria
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i6.1003

Abstract

Mikrobiota merupakan sekumpulan mikroorganisme (bakteri, archae, eukaryote dan virus) yang hidup pada host atau tempat khusus host seperti saluran cerna manusia. Terdapat kurang lebih 500-1000 spesies mikrobiota di dalam saluran pencernaan, didominasi oleh bakteri anaerobik. Mikroorganisme atau mikrobiota sangat penting untuk melindungi permukaan mukosa hewan dan manusia terutama saluran cerna. Penyakit yang dikaitkan dengan kondisi dysbiosis mikrobiota saluran cerna antara lain Inflammatory Bowel Disease (IBD), dan penyakit alergi atau atopi. Konsep ini yang mendasari penggunaan probiotik dalam penatalaksanaan penyakit.Microbiota are microorganisms (bacteria, archae, viruses, eukaryote) living in host or special location such as in human gastrointestinal tract. Microbiota microorganism is very important in animal and human to protect mucosal surfaces, especially digestive tract. There are approximately 500-1000 microbiota species in the gastrointestinal tract, dominated by anaerobic bacteria. Various diseases associated with gastrointestinal microbiota dysbiosis conditions are Inflammatory Bowel Disease (IBD) and allergic or atopic disease. This concept underlies the use of probiotics in management of diseases like in inflammatory bowel disease.
Paralisis Periodik Hipokalemik diduga Familial yang Dipicu Vomitus Agus Nur Salim Winarno; Christofel Korah Tooy
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 2 (2018): Urologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i2.174

Abstract

Paralisis periodik hipokalemia (PPH) merupakan sekelompok kelainan otot yang ditandai dengan adanya serangan paralisis flaksid episodik dengan intensitas dan durasi bervariasi. Gejala PPH adalah kelemahan yang mendadak dari anggota badan dengan pemicu seperti stres, kelelahan, dan gangguan emosi. Pengenalan dan penanganan dini PPH sangat penting karena risiko aritmia kardiak dan gagal napas yang fatal. Sebuah kasus pada wanita berusia 23 tahun dengan episode kelima dari kelemahan ekstremitas yang mendadak dan progresif tanpa defisit sensori yang didahului oleh muntah yang sering. Terdapat penurunan kekuatan otot dan refleks tendon pada semua ekstremitas. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil hipokalemia berat dengan fungsi tiroid normal. Tatalaksana dilakukan dengan injeksi antimuntah, preparat oral KCl, dan drip KCl intravena. Setelah 6 hari perawatan terdapat perbaikan secara klinis dan hasil laboratorium.
Peranan CT Scan Kepala dalam Diagnosis Nyeri Kepala Kronis Albert Susanto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i3.1156

Abstract

Nyeri kepala kronis mengenai 5% populasi umum dan berpotensi menyebabkan disabilitas. Dokter dan pasien cenderung mencemaskan penyebab serius seperti tumor otak. Peranan pencitraan radiologis dalam mendiagnosis kelainan nyeri kepala kronis masih rendah namun bermanfaat dalam mengeksklusi penyebab sekunder. Pemeriksaan neurologis normal menurunkan kemungkinan ditemukannya abnormalitas pada pencitraan sebesar 30%.Chronic headache affects up to 5% of the population and can lead to significant disability. Both physician and patient are usually cautious on possibility of serious cause, such as brain tumor, and make referral to radiological investigation. The diagnostic yield of neuroimaging in chronic headache is low, but can be used to exclude secondary causes of chronic headache. Normal neurologic examination reduce the probability of finding intracranial abnormality to 30%.
Perbandingan Efek Hipoglikemik Infusa Daun Kembang Bulan (Tithonia diversifolia (Hamsley) A. Gray) dan Metformin pada Tikus yang Diinduksi Aloksan. Agung Prasetyo; Tiara Grhanesia Denashurya; Widiayu Sekar Putri; Muhammad In'am Ilmiawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i2.16

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit kronik yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah akibat adanya faktor penghambat kerja insulin atau menurunnya produksi insulin oleh sel ß-pankreas. Secara umum DM dapat diatasi dengan obat hipoglikemik oral seperti metformin. Tanaman kembang bulan (Tithonia diversifolia (Hamsley) A. Gray) lazim didapatkan di daerah Kalimantan Barat dan memiliki beberapa zat aktif yang berpotensi menurunkan kadar gula darah. Tujuan: Membandingkan efek hipoglikemik infusa daun kembang bulan dan metformin. Metodologi: Sebanyak 30 ekor tikus putih jantan galur Wistar dibagi secara acak ke dalam 5 kelompok perlakuan, yaitu kontrol negatif (CMC 0,5%), kontrol positif (metformin 63 mg/kgBB), dosis 1 (250 mg/kgBB), dosis 2 (500 mg/kgBB), dan dosis 3 (750 mg/kgBB). Seluruh kelompok perlakuan diinduksi dengan aloksan sampai kadar glukosanya mencapai >126 mg/dL. Perlakuan diberikan selama 7 hari. Data dianalisis menggunakan uji One-Way Anova yang dilanjutkan dengan uji Post-Hoc LSD. Hasil: Terdapat penurunan bermakna rerata kadar glukosa darah kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, kelompok dosis 1, 2, dan 3 (p<0,05). Penurunan kadar glukosa darah tertinggi terdapat pada kelompok kontrol positif. Simpulan: Efektivitas infusa daun kembang bulan dalam menurunkan kadar glukosa darah lebih rendah dibandingkan metformin 63 mg/kgBB.
Perbandingan Efektivitas Lama Pemakaian Drain Pasif untuk Mencegah Seroma Pasca-Modified Radical Mastectomy Azamris -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 2 (2015): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i2.1036

Abstract

Pembedahan merupakan tindakan utama pada penderita karsinoma payudara, dengan pilihan utama modified radical mastectomy. Seroma merupakan masalah yang paling sering terjadi setelah tindakan mastektomi, dan paling sulit dicegah dibandingkan komplikasi lain. Penumpukan cairan ini akan memperlama masa rawat dan menambah biaya rawat. Untuk mengurangi terbentuknya seroma, dapat dipasang drain. Drainase dapat berupa suction drain atau drain pasif. Dilakukan penelitian prospektif terhadap 32 orang penderita karsinoma payudara yang menjalani modified radical mastectomy dari bulan Februari sampai Juli 2010. Penderita dibagi 2 kelompok, satu kelompok 16 penderita dengan drainase yang dilepas sesudah 4 hari, dan kelompok kedua drainase dilepas sesudah 8 hari. Jumlah seroma terakhir saat drainase dibuka rata-rata 15 mL pada yang dilepas cepat dan 4,06 mL pada yang dilepas lambat (t= 4,973; p=0,000). Semua seroma pasca-pelepasan drainase rata-rata kurang dari 50 mL. Disimpulkan bahwa efektifitas drainase pasif yang dilepas cepat dibandingkan dengan yang dilepas lambat tidak berbeda bermakna, sehingga lama rawat pasien dapat berkurang jika drainase dilepas cepat.Modified Radical Mastectomy is the treatment of choice for operable breast cancer. Seroma is the most frequent problem after mastectomy and difficult to prevent. This accumulation of liquid will prolong hospitalization and need extra cost. This problem is usually solved by drainage, either with suction drain or passive drain. A prospective trial has been conducted on 32 breast carcinoma patients who underwent a modified radical mastectomy from February until July 2010. The patients are divided into two groups, the first group consists of 16 patients whose drain was extracted after 4 days, the second group had their drains extracted after 8 days. Mean total seroma collected in the first group was 15 mL, and in the second group was 4,06 mL. (t= 4,973; p= 0,000). Seroma after drain extraction were less than 50 mL. No significant difference on the effectivity of extraction of drain after 4 days or after 8 days, and the length of stay could be shortened.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Kepatuhan Minum Obat Penderita Kusta di Puskesmas Pasir Panjang dan Puskesmas Alak di Kota Kupang, Indonesia Marvin Giantoro
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 5 (2019): Pediatri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i5.480

Abstract

Kota Kupang merupakan daerah endemis kusta. Oleh sebab itu, faktor – faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan minum obat di puskesmas Kota Kupang perlu diteliti guna meningkatkan kepatuhan minum obat dalam pemberantasan penyakit kusta. Penelitian ini bersifat observasi analitik dengan desain potong lintang; dilakukan di Puskesmas Pasir Panjang dan Puskesmas Alak di Kota Kupang dengan pengumpulan data menggunakan kuesioner. Didapatkan dua variabel bebas yang paling berhubungan dengan tingkat kepatuhan minum obat yaitu pengetahuan (nilai p = 0,000) dan persepsi (nilai p = 0,001). Variabel bebas yang tidak berhubungan dengan tingkat kepatuhan minum obat responden adalah jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, jarak akses, biaya akses, cara akses, dan dukungan keluarga (nilai p > 0,005).Kupang City is an endemic area of leprosy. Factors that influence the medication compliance at the Health Center in Kupang City needs to be studied to help implement the leprosy eradication. This cross sectional research is analytic observational, conducted at Pasir Panjang Health Center and Alak Health Center in Kupang City by data collecting using questionnaires. The two independent variables most related to compliance were knowledge (p value = 0,000) and perception (p value = 0,001). The independent variables not related to compliance are gender, age, education, occupation, income, access distance, access costs, access methods, and family support (p value> 0.005). 
Penggunaan Asam Valproat pada Pasien Epilepsi di Poliklinik Saraf Rumah Sakit Tingkat III Brawijaya Surabaya Periode Maret-Agustus 2021 Sri Agustina; Johanes Singoreto Widjaja; Riska Puspasari
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 3 (2022): Saraf
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i3.1766

Abstract

Latar Belakang. Asam valproat (VPA) telah digunakan sebagai obat antikonvulsan selama 40 tahun. Tujuan. Mengetahui pola terapi asam valproat pada pasien epilepsi di poliklinik saraf Rumah Sakit Tingkat III Brawijaya Surabaya. Metode. Penelitian cross-sectional deskriptif noneksperimental. Data dari rekam medis pasien epilepsi dengan terapi asam valproat periode Maret – Agustus tahun 2021 di Rumah Sakit Tingkat III Brawijaya Surabaya. Hasil. Didapatkan 27 pasien, 16 pasien laki-laki (59,2%), 21 pasien dengan rentang usia 19-65 tahun (77,7%), 23 pasien (85,1%) dengan kategori kejang umum. Politerapi asam valproat pada 14 pasien (51,8%), 9 pasien dengan kombinasi fenitoin. Dosis obat tepat pada 100% pasien, 70,3% pasien memiliki respons klinis terkontrol. Sebagian besar pasien (70,3%) tidak melaporkan efek samping. Simpulan. Penderita epilepsi terutama laki-laki usia 19-65 tahun dengan jenis kejang umum. Jenis terapi terbanyak adalah politerapi kombinasi asam valproat dengan fenitoin. Dosis sudah tepat, sebagian besar tanpa efek samping obat dan respons klinis terkontrol baik.
Kelainan Bentuk Kuku Audrey Melanie; Maria Clarissa Wiraputranto; Lorettha Wijaya
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 12 (2014): Endokrin
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i12.1063

Abstract

Pada praktik kedokteran sehari-hari pemeriksaan kuku sering terlewatkan, padahal cukup banyak penyakit yang dapat dilihat melalui kuku. Pemeriksaan kuku dapat dijadikan sebagai salah satu modalitas deteksi dini dan skrining penyakit selain kelainan lokal struktur kuku sendiri. Kemampuan mendeteksi kelainan kuku dan memberi penanganan yang sesuai selain berdampak medis, juga dapat mengurangi dampak psikologis akibat kelainan kuku, yang dapat mengurangi percaya diri dan kemampuan bersosialisasi. Tulisan ini bertujuan memberikan gambaran umum beberapa kelainan bentuk kuku yang sering ditemui sehari-hari.The examination of nails is often overlooked and poorly understood in daily clinical practice; in fact, several illnesses can be detected by the appearance of nails. Examination of nails can be used for early detection and screening of internal illnesses, in addition to detect local nail abnormalities. Appropriate management results in medical and psychological improvement on patients. This review aims to provide a general overview of nail shape abnormalities often found in daily life.
Pengaruh Anti-VEGF pada Diabetic Retinopathy Dicky Adrian
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v44i11.705

Abstract

Diabetic retinopathy adalah gangguan mata berupa perdarahan retina akibat komplikasi mikrovaskular diabetes, yang sifatnya kronis dan progresif. Diabetic retinopathy disebabkan peningkatan jumlah Advanced Glycation Endproducts (AGEs), aktivasi jalur polyol, aktivasi jalur stres oksidatif, peningkatan Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF), dan peningkatan protein kinase-C. VEGF merupakan faktor kunci penyebab neovaskularisasi retina, dan terjadinya perdarahan retina. Anti VEGF dianggap dapat menurunkan progresifitas diabetic retinopathy. Anti VEGF dapat berupa antibodi terhadap reseptor VEGF atau VEGF itu sendiri, VEGF Trap Eye, dan aptamer VEGF.Diabetic retinopathy is a chronic and progressive retinal bleeding as a microvascular complication of diabetes. Diabetic retinopathy is caused by increased of Advanced Glycation Endproducts (AGEs), activation of polyol pathway, activation of oxidative stress pathway, increased of Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF), and increased of protein kinase-C. VEGF is the key factor in retinal neovascularization and retinal hemorrhage. Anti-VEGF can reduce neovascularization, it can be an antibody to either VEGF or VEGF receptor, VEGF Trap-Eye, and VEGF aptamer.
Pemilihan Modalitas Pemeriksaan Radiologi untuk Diagnosis Benign Prostatic Hyperplasia Biddulth -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 6 (2016): Metabolik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i6.75

Abstract

Insidens pembesaran kelenjar prostat dapat mencapai 50% pada pria berusia 50 tahun ke atas. Berbagai modalitas pemeriksaan radiologi seperti sinar x, CT scan, dan MRI hingga kedokteran nuklir memiliki sensitivitas berbeda dalam mengestimasi volume kelenjar prostat. Pengetahuan atas keunggulan antara modalitas pencitraan kelenjar prostat dapat membantu proses diagnosis benign prostatic hyperplasia.

Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue