Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
2,961 Documents
Diagnosis Klinis, Tatalaksana, dan Pencegahan Chlamydial Conjunctivitis
Adriani Sakina
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i7.459
Konjungtivitis merupakan salah satu penyakit mata yang umum. Penyebab konjungtivitis antara lain alergi, zat kimiawi, reaksi imun, dan infeksi. Salah satu agen infeksi penyebab konjungtivitis adalah Chlamydia. Infeksi Chlamydia mata dibagi menurut klasifikasi Jones, meliputi Blinding trachoma, Non-blinding trachoma, dan Paratrachoma. Diagnosis Chlamydial Conjunctivitis ditegakkan berdasarkan klinis. Berbagai pemeriksaan laboratorium dilakukan saat survei epidemiologis atau penelitian.. Conjunctivitis is a common eye disease. The etiology can be allergy, chemical reaction, immunology reaction, and infection. One of the infection agent is Chlamydia. Chlamydial eye infection is classified according to Jones Classification into 3 group : Blinding trachoma, Non-blinding trachoma, and Paratrachoma. Dagnosis of chlamydial conjunctivitis is based on the clinical condition. Laboratory tests are only used in epidemiology survey or research.
Keratosis Pilaris
Ratih Purnamasari Nukana
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i7.460
Keratosis pilaris sering dialami saat kanak-kanak dan akan membaik seiring bertambahnya usia. Beberapa faktor risiko antara lain keturunan, riwayat penyakit kulit lain, jenis kelamin, usia, jenis kulit kering, cuaca. Pilihan pengobatan termasuk emolien, keratolitik, steroid topikal, dan terapi laser. Hasilnya bervariasi antara individu. Keratosis pilaris is a common skin disorder of childhood that often improves with advancing age. Some risk factors include heredity, history of other skin diseases, gender, age, dry skin type, weather. Treatment options include emollients, keratolytics, topical steroids and laser therapy. The results varies among individuals.
Tinjauan atas Stevens-Johnson Syndrome dan Toxic Epidermal Necrolysis
Cinthia Christina Dewi
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i7.461
Stevens-Johnson Syndrome dan toxic epidermal necrolysis (SJS/TEN) merupakan kasus jarang dengan kejadian 1-10 kasus per 1 juta kasus per tahun tetapi potensial mengancam nyawa. Etiologi tersering adalah reaksi hipersensitivitas terhadap obat. Patogenesis SJS/TEN belum sepenuhnya dimengerti. Gejala prodromal flu like symptom diikuti timbulnya bula dan epidermolisis. Komplikasi tersering adalah hipo- dan hiperpigementasi kulit serta pada mata. Tatalaksana terbaik adalah menghentikan obat yang disangka pencetus, terapi suportif berupa penggantian cairan dan elektrolit, terapi sistemik dan topikal, serta terapi untuk komplikasi pada mata. Stevens-Johnson syndrome and toxic epidermal necrolysis ( SJS / TEN) is rare with an incidence of 1-10 cases per 1 million cases per year; but potentially life-threatening. The most common etiology is hypersensitivity reaction to drug. The symptoms begin with prodromal flu-like symptoms followed by the appearance of reddish lesions followed by bullae formation and epidermolysis. The most common complications are skin hypo- and hyperpigmentation and eye complications. The best management is to stop the presumptive drug, fluid and electrolye therapy and therapy for eye complications
Diagnosis Sindrom Piriformis
Daniel Mahendrakrisna
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i7.462
Sindrom piriformis adalah neuropati perifer kompresi muskulus piriformis pada nervus iskiadikus. Kelainan ini banyak ditemukan pada wanita dan cenderung luput dari diagnosis karena banyaknya penyakit dengan gejala sama. Aktivitas berlebihan dan duduk lama merupakan pencetus. Gejala dan pemeriksaan fisik sederhana seperti Pace sign, Freiberg sign, pyriformis sign, dan Beatty sign dapat membantu diagnosis. Tatalaksana mencakup farmakologi obat anti inflamasi non steroid, fisioterapi, psikoterapi, serta pembedahan. Piriformis syndrome (PS) is a neuropathy due to compression to sciatic nerve lying on piriformis muscle. PS are more commonly found in women. Excessive activities and sitting could be precipitating factors. PS is often misdiagnosed because of many diseases with similar symptoms. Physical signs, such as Pace sign, Freiberg sign, piriformis sign, and Beatty sign, could aid to diagnosis. Non-steroidal anti inflammatory agent, physioterapy, psychotherapy, and surgery could reduce the symptoms.
Tatalaksana Farmakologi Hipertensi pada Hiperaldosteronisme Primer
I Gede Yasa Asmara
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i7.463
Hipertensi secara umum menurut etiologinya dibagi menjadi primer dan sekunder. Hiperaldosteronisme primer merupakan salah satu penyebab hipertensi sekunder yang memiliki terapi spesifik dan sangat mungkin disembuhkan. Hiperaldosteronisme primer memiliki efek multiorgan antara lain penurunan sensitivitas insulin pada otot dan jaringan lemak, gangguan fungsi sistolik dan hipertrofi otot jantung, inflamasi ginjal dan aterosklerosis. Diagnosis melalui tiga tahapan yaitu skrining, tes konfirmasi dan analisis subtipe. Tatalaksana meliputi non-farmakologi, medikamentosa dan pembedahan. Obat golongan antagonis mineralokortikoid seperti spirolonakton dan eplerenon merupakan pilihan utama untuk hiperaldosteronisme primer. Based on its etiology, hypertension can be subdivided into primary and secondary. Primary hyperaldosteronism is secondary hypertension with specific treatment and may be curable. The disease is associated with renal, metabolic, brain and cardiovascular complications. Primary hyperaldosteronism affects multi organs such as reduced insulin sensitivity on muscle and adipose tissue, systolic dysfunction, myocardial hypertrophy, inflammation in the kidney and atherosclerosis. Diagnosis of primary hyperaldosteronism consists of three steps i.e. case-finding, a confirmatory test, and subtype evaluation. The management comprises non-pharmacology, medication, and surgery. Mineralocorticoid antagonists such as spironolactone and eplerenone are the drug of choice for primary hyperaldosteronism.
Hubungan antara Tingkat Kecemasan dan Dispepsia Pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit Universitas Tanjungpura Pontianak, Indonesia
Margareta Silvia;
Wilson;
Ita Armyanti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v50i2.517
Latar Belakang: Dispepsia merupakan sindrom nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium, kembung, mual, muntah, sendawa, rasa cepat kenyang, dan perut terasa penuh. Salah satu faktor yang memicu keluhan dispepsia adalah kecemasan. Tujuan: Mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dan dispepsia pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Universitas Tanjungpura Pontianak. Metode: Penelitian analitik korelasi dengan desain cross-sectional. Variabel bebas penelitian ini adalah tingkat kecemasan; sedangkan variabel terikat adalah dispepsia. Total sampel sebanyak 39 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Data dianalisis dengan uji Spearman (SPSS 23). Hasil: Hasil analisis variabel menunjukkan adanya hubungan bermakna (p = 0,001) antara tingkat kecemasan dan dispepsia pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Universitas Tanjungpura Pontianak dengan korelasi positif berkekuatan sedang (r = 0,493). Simpulan: Terdapat hubungan antara tingkat kecemasan dan dispepsia pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Universitas Tanjungpura Pontianak. Background: Dyspepsia is a syndrome consisting of pain or discomfort in the epigastrium, bloating, nausea, vomiting, belching, early satiety, and fullness. Anxiety can trigger dyspepsia. Aim: To determine the relationship between anxiety level and dyspepsia in outpatients at Tanjungpura University Hospital Pontianak. Method: A correlation analytic study with cross-sectional design; the independent variable was anxiety level and the dependent variable was dyspepsia. A total of 39 samples were collected with simple random sampling method. Data were analyzed by the Spearman test (SPSS 23). Result: There is a significant positive correlation between anxiety level and dyspepsia in outpatients at Tanjungpura University Hospital Pontianak (p = 0.001) with moderate strength (r = 0.493). Conclusion: There is a relationship between anxiety level and dyspepsia in outpatients at Tanjungpura University Hospital Pontianak.
Infeksi Dengue Sekunder: Patofisiologi, Diagnosis, dan Implikasi Klinis
Denni Marvianto;
Oktaviani Dewi Ratih;
Katarina Frenka Nadya Wijaya
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v50i2.518
Infeksi dengue sekunder merupakan infeksi dengue yang terjadi kali kedua. Infeksi kedua dengan serotipe berbeda dapat menyebabkanpenyakit dengue yang lebih berat. Penelitian menunjukkan bahwa 98% kasus dengue hemorrhagic fever/dengue shock syndrome (DHF/DSS) merupakan infeksi dengue sekunder. Patofisiologi yang menjadikan infeksi dengue sekunder lebih berat belum sepenuhnya dipahami, diduga berkaitan dengan mekanisme antibody dependent enhancement (ADE). Membedakan infeksi dengue primer dan sekunder penting agar dokter dan tenaga kesehatan mampu memprediksi prognosis dan keluaran klinis pasien. Dengue secondary infection is the second dengue infection. A second infection with different serotype tend to be more severe. Data shown that 98% cases of dengue hemorrhagic fever/ dengue shock syndrome (DHF/DSS) are dengue secondary infection. The pathophysiology of more severe cases is not fully understood; it is suspected to be related to antibody dependent enhancement (ADE) mechanism. Differentiating primary and secondary dengue infection is important to predict patient’s prognosis and clinical outcome
Tinjauan atas Monkeypox
Aditya Yudha Pratama;
Riany Jade Sabrina Toisuta;
Jovy Yudha Tamba
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v50i2.519
Infeksi virus monkeypox (virus MPX) atau dikenal sebagai penyakit cacar monyet merupakan infeksi zoonosis endemik. Virus MPX termasuk dalam genus Orthopoxvirus, DNA beruntai ganda yang diidentifikasi pertama kali pada tahun 1970, dan menjadi penyakit endemik di Afrika Tengah dan Barat. Transmisi virus dapat melalui kontak langsung dan tidak langsung. Pada awal tahun 2022, virus MPX telah tersebar keluar dari negara-negara Afrika. Tanda dan gejala menyerupai penyakit smallpox. Belum ada tata laksana khusus untuk infeksi MPX, antivirus dapat bermanfaat bagi pasien dengan gejala klinis berat dan kondisi khusus. Vaksinasi smallpox terbukti memberikan perlindungan sebesar 85%, namun vaksinasi sudah berhenti pada tahun 1980 karena telah tercapai eradikasi. Peran berbagai sektor sangat dibutuhkan untuk mencegah pergeseran status infeksi MPX dari endemik menjadi epidemik. Monkeypox virus infection (MPX virus) is a zoonotic and endemic disease. MPX virus which belongs to Orthopoxvirus genus, a double-stranded DNA virus was first identified in 1970, and is endemic in Central and West Africa. The viruses can be transmitted through direct and indirect contact. By the early 2022, the MPX virus had spread beyond African countries. The signs and symptoms are similar to smallpox disease. There is no specific treatment for MPX virus infection. However, antiviral drugs may be beneficial for patients with severe clinical symptoms and specific conditions. Smallpox vaccination is proven to provide 85% protection, but the vaccination has been stopped after smallpox eradication by the year 1980. The role of various sectors is urgently needed to prevent a shift in MPX infection status from endemic to epidemic.
Penatalaksanaan Hipertensi Emergensi
Martinova Sari Panggabean
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v50i2.520
Hipertensi emergensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik >180 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik >120 mmHg disertai bukti kerusakan organ target (target organ damage). Target penurunan tekanan darah pada hipertensi emergensi adalah segera dalam hitungan menit hingga 1-2 jam, sehingga diperlukan obat antihipertensi intravena dengan onset kerja cepat dan durasi kerja pendek (short acting). Prinsip pemilihan obat antihipertensi injeksi adalah berdasarkan presentasi klinis, obat pilihan pertama atau kedua, faktor komorbid, kontraindikasi, dan ketersediaan obat. Labetalol dan nicardipine adalah dua obat antihipertensi yang paling banyak direkomendasikan dalam berbagai guideline sebagai terapi lini pertama berbagai bentuk klinis hipertensi emergensi. Tujuan pengobatan hipertensi emergensi adalah mencegah atau membatasi kerusakan organ target lebih lanjut. Penurunan tekanan darah dilakukan secara gradual untuk mengembalikan autoregulasi organ, sehingga perfusi organ yang normal dapat dipertahankan. Hypertensive emergency is defined as systolic blood pressure >180 mmHg and/or diastolic blood pressure >120 mmHg with evidence of target organ damage. The target of lowering blood pressure in hypertensive emergency is immediately within minutes to 1-2 hours, so intravenous antihypertensive drugs with a rapid onset of action and short acting duration are needed. The principle of drug selection is based on the clinical presentation with consideration of the target organ damage, the first or second drug of choice, comorbid factors, contraindications, and availability. Labetalol and nicardipine are the two most widely recommended antihypertensive drugs in various guidelines as first-line therapy in various forms of clinical presentation of hypertensive emergency. The goal of treatment is to prevent or limit further target organ damage. Blood pressure reduction is conducted gradually to restore organ autoregulation, to maintain normal organ perfusion
Tata Laksana Keracunan Ethylene Glycol dan Diethylene Glycol
Johan Indra Lukito
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v50i2.526
Ethylene glycol (EG) dan diethylene glycol (DEG) adalah senyawa alkohol toksik berbentuk cairan dengan rasa manis; senyawa ini dapat ditemukan di beberapa alat rumah tangga, zat antibeku, dan pelarut automotif dan industri. Keracunan akibat konsumsi bisa fatal. Keracunan EG dan DEG merupakan keadaan darurat medis yang membutuhkan diagnosis segera dan pengobatan agresif meliputi terapi suportif, antidot fomepizole atau ethanol, dan hemodialisis. Ethylene glycol (EG) and diethylene glycol (DEG) are toxic alcohol compounds in the form of liquids with a sweet taste found in some household appliances, antifreeze agents, and solvents for automotive and industrial purposes. Poisoning from ingestion can be fatal. EG and DEG poisoning are medical emergencies requiring prompt diagnosis and aggressive treatment, including supportive therapy, antidotes fomepizole or ethanol, and hemodialysis.