cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Efek Kafein terhadap Kesehatan Manusia Ryan Fernandi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i1.539

Abstract

Kafein merupakan bahan alami yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia, dapat ditemukan dalam berbagai produk makanan, minuman, serta obat-obatan. Saat ini minum kopi sudah menjadi tren dan kebiasaan bagi warga masyarakat khususnya di kota-kota besar, sehingga mendorong peningkatan konsumsi kopi yang kandungan utamanya adalah kafein. Kafein memiliki berbagai efek menguntungkan ataupun merugikan pada tubuh manusia. Efek jangka panjangnya masih kontroversial, pengaruhnya berbeda-beda tergantung pada metabolisme individu. Peningkatan kadar serum kolesterol, LDL, konsentrasi homosistein, dan tekanan darah merupakan beberapa efek merugikan, sedangkan penurunan risiko diabetes melitus tipe 2 dan berbagai kanker merupakan efek menguntungkan. Caffeine is the most consumed natural ingredient in the world, found in a wide variety of food products, beverages, and medicines. Drinking coffee has become a trend and habit, especially in cities, thus encouraging increased consumption of coffee and caffeine as its main content. Caffeine is known to have both beneficial and adverse effects on the human body; may vary, depending on the individual metabolism. Increased serum cholesterol levels, LDL, homocysteine concentrations, and blood pressure are several adverse effects, while decreasing the risk of type 2 diabetes mellitus and various cancers is a beneficial effect.
Human Papillomavirus Infection as the Risk Factor to Retinoblastoma Albert Tito; Sri Yuliani Elida
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i1.540

Abstract

Retinoblastoma (Rb) is the most common malignant tumor of the retina in children. Two main types of retinoblastoma are heritable and non-heritable retinoblastoma. Retinoblastoma can emerge because of loss or inactivation of Rb protein (pRb), RB1 gene product in chromosome 13. HPV infection may play a role as risk factor to non-heritable retinoblastoma. Retinoblastoma (Rb) merupakan tumor ganas retina yang paling umum terjadi pada anak-anak. Dua tipe retinoblastoma adalah yang diturunkan dan yang tidak diturunkan. Retinoblastoma dapat terjadi akibat inaktivasi protein Rb (pRb) yang merupakan produk gen RB1 pada kromosom 13. Infeksi HPV mungkin berperan sebagai salah satu faktor risiko retinoblastoma.
Tata Laksana Gagal Jantung Pediatrik Eric Ferdinand; Ni Made Candra Widyantari
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i3.655

Abstract

Gagal jantung pediatrik merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas anak-anak. Terdapat hubungan antara gagal jantung pediatrik, penyakit jantung bawaan, dan kardiomiopati. Tujuan pengobatan gagal jantung pediatrik untuk mencegah perburukan dan agar perkembangan anak optimal. Tata laksana gagal jantung pada anak-anak diekstrapolasi dari pendekatan tata laksana dewasa. Pediatric heart failure is a leading cause of mortality and morbidity in children. There is an association between pediatric heart failure, congenital heart disease, and cardiomyopathy. The treatment goal for heart failure in children is to prevent worsening and to provide optimal development. Management of heart failure in children is extrapolated from management in adults.
Defek Septum Ventrikel: Diagnosis dan Tata Laksana Jason Theola; Nurul Mutmainna Yakub; Valentino Ryu Yudianto; Bunga Cecilia Sinaga
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i3.656

Abstract

Defek septum ventrikel (VSD) adalah kelainan jantung kongenital yang ditandai dengan adanya hubungan abnormal antara ventrikel kiri dan kanan jantung, sehingga menimbulkan gangguan hemodinamik. VSD merupakan kelainan jantung bawaan yang paling sering ditemui pada anak-anak, serta merupakan kelainan kedua paling sering ditemui pada orang dewasa setelah katup aorta bikuspid. Sebagian besar VSD menutup spontan, namun VSD yang gagal menutup dapat menimbulkan komplikasi seperti hipertensi arteri pulmoner, disfungsi ventrikel, dan risiko aritmia. Diagnosis VSD komprehensif melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang untuk menentukan tata laksana dan prognosisnya. Ventricular septal defect is a congenital heart disorder characterized by an abnormal connection between the left and the right ventricle of the heart, causing hemodynamic disturbances. VSD is the most common congenital heart defect in children, and is the second most common abnormality in adults after the bicuspid aortic valve. Most VSDs close spontaneously, but failure to close can lead to complications such as pulmonary arterial hypertension, ventricular dysfunction, and the risk of arrhythmias. Diagnosis needs to be comprehensive through history, physical examination, and other supporting examinations for treatment planning and prognosis.
Manajemen Asma dalam Kehamilan: Apa yang Harus Dipahami oleh Dokter Umum Muhammad Habiburrahman; Muhammad Ilham D Rakasiwi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i3.657

Abstract

Eksaserbasi asma dalam kehamilan dapat mempersulit proses persalinan dan berisiko bayi lahir dengan berat badan lahir rendah dan ibu berisiko mengalami persalinan preterm, preeklampsia, dan sectio caessaria. Penyebab eksaserbasi asma dalam kehamilan dapat akibat terapi kurang optimal selama kehamilan akibat kekhawatiran personal pasien dan dokter yang kurang didukung bukti terkait keamanan agen farmakologis asma dalam kehamilan, dan rendahnya kepatuhan pasien untuk kontrol rutin, terutama selama masa pandemi COVID-19. Hingga kini, manajemen asma antenatal menjadi tugas besar dokter umum di layanan primer, dan dokter spesialis obstetrik dan ginekologi, serta dokter spesialis paru di layanan sekunder, sedangkan panduan khusus komprehensif asma dalam kehamilan di Indonesia masih terbatas. Telaah literatur ini bertujuan untuk memberikan pemahaman esensial perubahan klinis dan mekanisme yang berkontribusi terhadap tidak terkontrolnya asma selama kehamilan, pendekatan diagnosis komprehensif asma dalam kehamilan, dan menyediakan informasi obat-obatan yang aman untuk manajemen asma dalam kehamilan. Asthma exacerbations in pregnancy can complicate the delivery process and risk low birth weight in the baby, as well as preterm labor, preeclampsia, and a cesarean section in mothers. Asthma exacerbations during pregnancy can be caused by ineffective treatment due to patient and physician concerns about the safety of asthma medications during pregnancy that are not supported by reliable data, as well as poor patient compliance for routine control, particularly during the COVID-19 pandemic. Asthma management during antenatal care falls primarily on general practitioners in primary care, and obstetricians and gynecologists, and pulmonologists in secondary-level services. While specific guidelines in Indonesia are still limited, this review aims to present a fundamental understanding of clinical changes and mechanisms that contribute to the uncontrolled status of asthma during pregnancy, a comprehensive diagnostic approach to asthma in pregnancy, and provide a safety drug profile during pregnancy
Manajemen Psoriasis Pustulosa Yefta; Dwi Retno Adi Winarni; Yohanes Widodo Wirohadidjojo
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i3.658

Abstract

Psoriasis merupakan penyakit radang kulit kronis dengan dasar genetik yang kuat. Berdasarkan tipenya, psoriasis dibagi menjadi psoriasis plak (psoriasis vulgaris), psoriasis gutata, psoriasis pustulosa generalisata/lokalisata, psoriasis inversa, dan eritroderma psoriatika. Manajemen psoriasis pustulosa mempertimbangkan tingkat keparahan penyakit. Acitretin, cyclosporine, methotrexate, dan infliximab merupakan terapi lini pertama untuk psoriasis pustular generalisata. Adalimumab, etanercept, dan psoralen plus ultraviolet A (PUVA) adalah modalitas lini kedua. Berbagai modalitas terapi lain yang sedang dikembangkan adalah agen biologis dan terapi berdasar sel punca. Manajemen psoriasis pustulosa dapat menggunakan berbagai modalitas dengan memperhatikan kondisi pasien dan keterjangkauan terapi Psoriasis is a chronic skin inflammation with a strong genetic basis. Based on its type, psoriasis is divided into plaque psoriasis (psoriasis vulgaris), guttate psoriasis, generalized/localized pustular psoriasis, inverse psoriasis, and psoriatic erythroderma. The management of pustular psoriasis depends on the disease severity. Acitretin, cyclosporine, methotrexate, and infliximab are first-line therapies for generalized pustular psoriasis. Adalimumab, etanercept, and psoralen plus ultraviolet A (PUVA) are second-line modalities. Other therapeutic modalities being developed are biologic agents and stem cell-based therapies. Management of pustular psoriasis can use various modalities, depending on the patient’s condition and its affordability
Non-ST Elevation Acute Coronary Syndrome (NSTEACS) as Hypertension-Mediated Organ Damage (HMOD) in Hypertensive Emergencies Karina Puspaseruni; Edmond Da Rizka; Wisnu Sakulat
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i3.659

Abstract

Hypertensive emergencies are characterized by severe increases in blood pressure with evidence of hypertension-mediated organ damage (HMOD) and are associated with an increased risk of cardiovascular events, i.e. coronary heart disease (CHD) and mortality. Case: A 75-year-old man with typical chest pain with nausea and vomiting 1 hour before admission. Blood pressure was 200/100 mmHg, ECG showed T inversion in leads II, III, AVF, V1-V6 and prolonged QT interval, cardiomegaly on chest x-ray, and leukocytosis, hyperglycemia, and hypokalemia. The diagnoses were non-ST elevation acute coronary syndrome (NSTE-ACS), hypertensive emergency, and T2DM. Treatment in the ICCU consists of intravenous antihypertensive, antiplatelet, anticoagulant, statin, nitrate, insulin, and potassium chloride for electrolyte correction. The patient was admitted to the ICCU for further observation and management. Hipertensi emergensi ditandai dengan kenaikan tekanan darah yang sangat disertai bukti kerusakan organ yang progresif (hypertension-mediated organ damage - HMOD). Keadaan ini berkaitan dengan peningkatan risiko kejadian penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner bahkan kematian. Kasus: Seorang laki-laki usia 75 tahun dengan nyeri dada tipikal sejak 1 jam sebelum datang ke rumah sakit disertai mual dan muntah. Tekanan darah 200/100 mmHg, pada EKG didapatkan inversi T pada lead II, III, AVF, V1-V6, dan pemanjangan interval QT. Pada pemeriksaan X-ray dada didapatkan kardiomegali, hasil laboratorium menunjukkan leukositosis, hiperglikemi, dan hipokalemi. Pasien didiagnosis non-ST elevation acute coronary syndrome (NSTE-ACS), hipertensi emergensi, dan diabetes melitus tipe 2. Tata laksana di ICCU menggunakan anti-hipertensi intravena, anti-platelet, anti-koagulan, statin, nitrat, insulin, dan kalium klorida untuk koreksi elektrolit. Pasien dirawat di ICCU untuk observasi dan tata laksana lebih lanjut.
Carvedilol untuk Tata Laksana Clinically Significant Portal Hypertension pada Sirosis Kompensata Achmad Faiz Sulaiman
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i3.660

Abstract

Hipertensi portal merupakan konsekuensi klinis dari sirosis hati. Angka kematian karena hipertensi portal masih tinggi di Indonesia. Pada kondisi sirosis kompensata munculnya hipertensi portal yang signifikan secara klinis (clinically significant portal hypertension/CSPH) dapat memprediksi kejadian dekompensasi dan merupakan penanda prognosis penyakit yang lebih buruk. Diagnosis CSPH dapat dengan cara invasif ataupun non-invasif. Tata laksana CSPH pada kondisi sirosis kompensata diutamakan untuk mencegah timbulnya dekompensasi sirosis. Pemberian penghambat beta non-selektif (non-selective beta blocker/NSBB) pada kondisi sirosis kompensata efektif menurunkan hipertensi portal dan mampu mencegah dekompensasi. Portal hypertension is a major consequences of liver cirrhosis. Mortality rate from portal hypertension is quite high in Indonesia. In patients with liver cirrhosis, the development of clinically significant portal hypertension (CSPH) is predictive for decompensation and worse prognosis. Diagnosis of CSPH can be carried out by either invasive or non-invasive methods. The aim of CSPH management in compensated cirrhosis is to prevent the incidence of decompensation. Management of compensated cirrhosis with non-selective beta blocker (NSBB) has been shown to reduce portal hypertension and the incidence of first decompensation.
Terapi Tissue Plasminogen Activator untuk Stroke Iskemik Akut Allen
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i3.661

Abstract

Prevalensi stroke terus meningkat setiap tahun. Penanganan kasus stroke harus dilakukan sesegera mungkin untuk memaksimalkan pemulihan serta mencegah berulang. Pada kasus stroke iskemik akut, pengobatan fibrinolitik tPA terbukti efektif. Beberapa kriteria pemberian harus dipenuhi. Pasien yang mendapat tPA harus mendapat observasi tekanan darah ketat dan memastikan tidak terjadi efek samping perdarahan. Hingga saat ini, hanya alteplase yang disetujui untuk pengobatan fibrinolitik pada pasien stroke iskemik akut. Telaah ilmiah berbasis bukti menunjukkan manfaat tPA lain. yaitu tenecteplase. The prevalence of stroke continues to increase. To minimize brain injury, prompt management is necessary to maximize patient recovery and prevent recurrent strokes. Fibrinolytic tPA has been proven to be effective for acute ischemic stroke. Several criteria must be met before tPA administration. Patients should receive close monitoring of blood pressure and for bleeding risk. Until recently, only tPA alteplase has been approved for fibrinolytic treatment in acute ischemic stroke. Several evidence-based studies have shown the benefits of tenecteplase - another tPA - in acute ischemic stroke management.
Perikardiosentesis Ekokardiografi pada Tamponade Jantung dan Suspek Hipertensi Pulmonal: Langkah-Langkah Prosedur dan Komplikasinya Gabrielle Alexander Kartawan; Achmad Yusri Rachmani Diartoputro
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i3.663

Abstract

Tamponade jantung merupakan kondisi emergensi yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intraperikardium karena akumulasi cairan pericardium, sehingga terjadi kompresi ruang-ruang jantung, mengakibatkan curah jantung menurun. Terapi definitif tamponade jantung adalah perikardiosentesis, dapat dilakukan dengan bantuan ekokardiografi. Keberhasilan perikardiosentesis ekokardiografi mencapai >95%, namun juga memiliki risiko tinggi hingga beberapa komplikasi. Kasus seorang perempuan 17 tahun dengan SLE dan tamponade jantung datang dengan instabilitas hemodinamik. Perikardiosentesis ekokardiografi berhasil dilakukan. Laporan ini disertai langkah-langkah prosedur perikardiosentesis ekokardiografi dan pembahasan komorbiditas hipertensi pulmonal dan komplikasinya. Cardiac tamponade is an emergency condition caused by intrapericardial pressure increase due to pericardial fluid accumulationresulting in compressed cardiac chambers and reduced cardiac output. Definitive therapy is pericardiocentesis, which could be done with the guidance of echocardiography. Echocardiography-guided pericardiocentesis procedure has a>95% success rate, but it carries some potential high risks and several complications. The case is a 17-year-old SLE female patient presenting with cardiac tamponade and hemodynamic instability. Echocardiography-guided pericardiocentesis was successfully done. This case report is supplemented by a step-by-step procedure and discussion on possible pulmonary hypertension comorbidities and their complications.

Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue