Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
2,961 Documents
Aldehyde-Low Endothelial Progenitor Cells in Ischemic Wound Repair, Regulated by SDF1/CXCR4
Dias Rima Sutiono;
Candra Louis
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45 No 12 (2018): Interna
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i12.689
The incidence rate of both ischemic heart disease and ischemic stroke over the past decade has become a concern in the respect of global mortality rate. Ischemia is a condition of oxygen deprivation in the specific tissue which leads to loss of organ function. Regenerative medicine by using the endothelial progenitor cells (EPCs) show a great potential, especially the Alde-Low EPCs. The Alde-Low EPCs are regulated mainly by the chemo-attractant proteins of SDF1/CXCR4 which responsible for the cell migration and is regulated by the HIF2α. Further investigation and research on the correlation of SDF1/CXCR4 and the Alde-Low EPCs are needed. Peningkatan kejadian dan kematian akibat penyakit jantung iskemik dan stroke iskemik secara global pada beberapa dasawarsa telah menjadi perhatian. Upaya regenerasi menggunakan sel progenitor endothelial (EPCs) memperlihatkan potensi sangat tinggi, khususnya Alde-rendah EPCs. Alde-rendah EPCs diregulasi oleh protein kemoatraktan dari SDF1/CXCR4 yang bertanggung jawab untuk migrasi sel dan diregulasikan oleh HIF2α. Hubungan SDF1/CXCR4 dan Alde-rendah EPCs masih perlu diteliti lebih lanjut.
Peran Radiologi untuk Mendiagnosis Lipoblastomatosis
Biddulth
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45 No 12 (2018): Interna
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i12.690
Lipoblastomatosis merupakan kasus jarang, berupa tumor jinak jaringan lunak mengandung komponen embrionik lemak putih, terdiri atas selsel adiposit dan lipoblas (adiposa immatur) yang menginvasi jaringan sekitarnya. Predileksi tersering pada anak-anak, di subkutis atau jaringan lunak lebih dalam di regio ekstremitas atas atau bawah. Pemeriksaan radiologi konvensional berfungsi membedakan massa jaringan lunak dari keterlibatan tulang atau tumor primer tulang. Modalitas radiologi lain adalah CT scan ataupun MRI, yang membantu mengevaluasi massa, juga menilai ekstensi massa ke jaringan sekitarnya. Pemeriksaan histopatologi diperlukan sebagai standar baku emas untuk diagnosis. Lipoblastomatosis is a benign rare soft tissue mass containing embryonic white fat of adipocytes and lipoblasts that invade adjacent structures. It mostly occurs in children with predilection in subcutanous or deeper structure of upper or lower extrimities. Conventional radiographs serves to distinguish soft tissue mass with bone involvement or bone primary tumors. Other radiological modalities, such as CT scan or MRI, assess mass extension into the surrounding tissue. Histopathological examination is required as diagnosis gold standard
Potensi Antibakterial Nilam Aceh (Pogostemon cablin Benth.)
Yaumil Reiza
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.691
Nilam aceh (Pogostemon cablin Benth.) menghasilkan minyak atsiri yang dinamai minyak nilam. Kon stituen utama minyak nilam yang berperan sebagai antibakterial adalah alkohol nilam dan pogostone. Penelitian telah menunjukkan efektivitas nilam aceh dalam menghambat berbagai spesies bakteri Gram-positif dan Gram-negatif. Target kerjanya adalah menghambat penicillin-binding proteins (PBP), dihidrofolat sintetase (DHPS), dihidrofolat reduktase (DHFR), DNA girase, dan RNA polimerase yang diperlukan dalam biosintesis berbagai struktur bakteri. Patchouli (Pogostemon cablin Benth.) produces an essential oil called patchouli oil. Main constituents of patchouli oil that acts as antibacterial are patchouli alcohol and pogostone. Studies have demonstrated the effectiveness of patchouli against various species of Gram-positive and Gram-negative bacteria. Its mechanism of action is targeting penicillin-binding proteins (PBP), dihydrofolate synthetase (DHPS), dihydrofolate reductase (DHFR), DNA gyrase, and RNA polymerase that are required in biosynthesis of various bacterial structures.
Respons Sistem Imun pada Epilepsi
Komang Juwita Endrawati
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.692
Epilepsi merupakan kondisi kronis dengan penyebab multifaktorial. Jumlah pasien resisten obat sekitar 20-40% diduga akibat keterlibatan peran imun dalam epileptogenesis. Beberapa komponen imunitas neuron berperan pada patogenesis epilepsi dan penggunaan obat anti epilepsi berpengaruh pada sistem imun. Obat anti epilepsi bersifat imunosupresan; imunitas innate dan adaptif berubah bermakna saat dan setelah kejang. Epilepsy is a chronic condition with multifactorial causes. Aproximately 20-40% patients are drug resistant thought to be due to role of immunity in epileptogenesis. Some components of immunity in neurons play a role in the pathogenesis of epilepsy. Anti-epilepsy drugs are immunosuppressive; innate; adaptive immunity changes significantly during and after seizures.
Hidrosefalus dan Tatalaksana Bedah Sarafnya
Khrisna Rangga Permana
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.693
Hidrosefalus merupakan kondisi penumpukan carian serebrospinal (CSS) mengakibatkan peningkatan tekanan intrakranial (TIK) dan juga penekanan jaringan normal sekitar. Hidrosefalus dapat diakibatkan gangguan produksi, aliran atau penyerapan CSS. Prevalensi hidrosefalus sekitar 3 tiap 1000 kelahiran. Penanganan dengan shunt atau pengaliran ke tempat lain melalui teknik ETV (endoscopic third ventriculostomy). Hydrocephalus is a condition when cerebrospinal fluid (CSF) build-up results in increased intracranial pressure (ICP) and suppression to normal surrounding tissue. Hydrocephalus may occur due to interference with the production, flow or absorption of CSF. The prevalence is about 3 per 1000 births. CSF excess is managed by shunt or drainage through ETV (endoscopic third ventriculostomy).
Sindrom Balint
Hanna Karmila;
Leonirma Tengguna
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.694
Sindrom Balint disebabkan lesi bilateral pada perbatasan lobus parieto-oksipital dengan trias gejala utama simultanagnosia, ataksia optik, dan apraksia okular. Berbagai faktor penyebab adalah stroke, trauma kepala, tumor otak. Sindrom Balint terkadang salah didiagnosis sebagai kelainan visus; diperlukan pendekatan teliti agar penatalaksanaan tepat. Balint syndrome is a disorder of simultanagnosia, optic ataxia, and ocular apraxia that typically results from bilateral parieto-occipital lesions. Many causal factors are stroke, traumatic brain injury, tumor, etc. Balint syndrome sometimes is misdiagnosed as disorder of visual acuity; detailed approach is necessary to identify the etiology and provide the best treatment
Therapeutic Effect of Avocatin B in Avocados Toward Acute Myeloid Leukemia
Dias Rima Sutiono;
Anthony Ryan Pantoni
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.695
Acute myeloid leukemia is the abnormal division of immature myeloid precursor cells in the bone marrow affecting mostly older people. Till date, there are no potent treatments due to the fact that it cannot target leukemic stem cells which are responsible for relapse and initiation of leukemia. Current treatments can also pose side effects that might to be too harsh for older people. Avocatin B is a lipid derived from avocado that can be a novel potent drug to replace or go along with the current therapies. Avocatin B is able to induce leukemic cell death and their stem cells while leaving normal cells unharmed. Their mechanisms of actions include inhibiting fatty acid oxidation which causes reactive oxygen species mediated apoptosis and lipotoxicity. Their selectivity towards leukemic cells over normal cells are due to the fact that they are able to target leukemic mitochondria which are different from the normal cells’ mitochondria in terms of their metabolic pathways. Leukemia myeloid akut merupakan sel precursor myeloid dalam sumsum tulang dewasa yang abnormal. Hingga saat ini, belum ada terapi yang tepat untuk leukemia myeloid akut. Avocatin B adalah lipid yang berasal dari alpukat, dapat menjadi obat baru atau digabungkan dengan terapi saat ini. Avocatin B mampu menginduksi kematian sel leukemia dan sel induknya. Mekanisme Avocation B meliputi penghambatan oksidasi asam lemak yang menyebabkan oksigen reaktif memediasi apoptosis dan lipotoksisitas. Selektivitas avocatin B terhadap sel-sel leukemia karena dapat menarget mitokondria penderita leukemia yang berbeda jalur metabolisme dari mitokondria sel-sel normal.
Pemeriksaan Fungsi Membran Peritoneum pada Prosedur Dialisis Peritoneal
Tika Adilistya;
Ina Susianti Timan
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.696
Dialisis peritoneal (DP) adalah suatu proses dialisis menggunakan rongga perut sebagai penampung cairan dialisat dan peritoneum sebagai membran dialisis semipermeabel. Melalui membran ini, produk buangan akan berdifusi ke cairan dialisat dan cairan tubuh berlebih akan dikeluarkan secara osmosis akibat adanya agen osmotik pada cairan dialisat. Kesuksesan terapi DP tergantung pada integritas membran peritoneum baik secara morfologi maupun fungsional. DP jangka panjang juga dapat menyebabkan perubahan anatomi jaringan peritoneum sehingga diperlukan suatu uji fungsi membran peritoneum. Peritoneal equlibration test (PET) adalah uji estimasi laju transpor zat dan kapasitas ultrafiltrasi membran peritoneum. Pada makalah ini akan dipaparkan PET dan interpretasinya, serta contoh kasus terkait. Peritoneal dialysis is a dialysis using peritoneal cavity as a container for dialysis fluid and peritoneal membrane as an endogenous semipermeable dialyzing membrane. Across this membrane, waste products diffuse to the dialysate; excess body fluid is removed by osmosis induced by the osmotic agent in the dialysis fluid. Success of peritoneal dialysis therapy depends on peritoneal membrane integrity, both morphological and functional. Long-term dialysis peritoneal not only decreases peritoneal membrane function, but also changes the peritoneal tissue anatomy; the permeability of peritoneal membrane also affected. It is important to have a test to estimate peritoneal membrane function. Peritoneal equilibration test (PET) yields approximate estimation of peritoneal transport rate of small solutes and ultrafiltration capacity of peritoneal membrane. This paper describe PET, how to interprete the results, and a case example.
Efek Penambahan Laktulosa pada Susu Formula Bayi: Tinjauan Sistematik
Moretta Damayanti;
Damayanti Rusli Sjarif
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.697
Pendahuluan: Salah satu komponen terbesar dalam air susu ibu (ASI) adalah oligosakarida. Oligosakarida berperan penting pada saluran cerna bayi melalui efek prebiotiknya. Laktulosa sebagai salah satu oligosakarida sintetis, telah dikategorikan sebagai prebiotik dan memiliki efek menyerupai ASI dalam hal mengubah komposisi mikrobiota usus. Metode: Tinjauan sistematis efek penambahan laktulosa ke dalam susu formula bayi. Hasil: Laktulosa bisa memperbaiki konsistensi dan frekuensi tinja, hingga menyerupai tinja bayi yang mendapat ASI. Efek samping campuran prebiotik yang sering ditemui adalah diare, kembung dan muntah. Simpulan: Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk merekomendasikan penambahan laktulosa secara rutin pada susu formula bayi. Introduction. One of the largest components of breast milk is human milk oligosaccharides (HMO). These components play an important role in the infant gastrointestinal tract based on their prebiotic effect. Lactulose is one of synthetic oligosaccharides, categorized as prebiotic; its effect resembles breastmilk in altering intestinal microbiota composition. Method. A systematic review on the effects of lactulose addition to infant formula. Results. Our search indicates that lactulose can improve the consistency and frequency of feces to resemble the stools of breast-fed infants. Adverse effects of mixed prebiotics are diarrhea, bloating and vomiting. Conclusion. Further research is still needed. Routine addition of lactulose in infant formula is not yet recommended.
Intoleransi Makanan pada Neonatus Kurang Bulan
Nurul Handayani Ardy;
Pertin Sianturi
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.698
Intoleransi makanan adalah masalah pencernaan yang paling umum pada bayi prematur saat menyusui. Intoleransi makanan akan menyebabkan kurangnya nutrisi neonatus sehingga mempengaruhi proses pertumbuhan. Mekanisme intoleransi makanan tidak jelas tetapi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor fisiologis seperti pematangan motilitas saluran pencernaan, penundaan pengosongan lambung, dan malabsorpsi. Intoleransi makanan juga berhubungan dengan morbiditas seperti sepsis neonatal dan Necrotizing Enterocolitis (NEC). Food intolerance is the most common digestive problems in preterm infants during breastfeeding. Infant with food intolerance will get less nutrients thus affecting growth. The exact mechanism of food intolerance may be affected by several physiological factors such as maturation of the gastrointestinal tract motility, delayed gastric emptying, and malabsorption. Food intolerance is also associated with morbidity such as neonatal sepsis and necrotizing enterocolitis (NEC)