cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Air Kelapa Muda - Pengaruhnya terhadap Tekanan Darah -, Farapti; Sayogo, Savitri
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 12 (2014): Endokrin
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.964 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v41i12.1060

Abstract

Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskuler (PKV), yang merupakan penyebab utama kematian di seluruh dunia. Sekitar 26% penduduk usia dewasa di dunia pada tahun 2000 mengidap hipertensi, diperkirakan mencapai 60% pada tahun 2025. Salah satu faktor risiko hipertensi adalah rendahnya asupan kalium. Konsumsi bahan makanan dengan kandungan kalium tinggi dan natrium rendah penting untuk mempertahankan tekanan darah dalam batas normal. Mekanisme kerja kalium dalam menurunkan tekanan darah diperkirakan terjadi melalui natriuresis, penurunan aktivitas renin angiotensin aldosteron (RAA) dan peningkatan neuronal Na pump yang mengakibatkan aktivitas saraf simpatis menurun. Air kelapa muda merupakan minuman khas daerah tropis yang tinggi kalium. Beberapa penelitian pada hewan coba memperlihatkan hasil konsisten, yaitu air kelapa muda terbukti dapat menurunkan tekanan darah, namun penelitian khususnya pada manusia masih sangat terbatas. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan pengaruh air kelapa muda terhadap tekanan darah pada manusia.Hypertension is the major risk factor for cardiovascular disease, which is responsible for most deaths worldwide. It affects approximately 26% of the adult population worldwide in 2000, and is predicted to increase by 60% by 2025. One of the risk factors of hypertension is low potassium intake. Consumption of foods with a high potassium content and low sodium are important to maintain blood pressure within normal limits. Young coconut water is a typical tropical drinks high in potassium. Mechanism of action of potassium in lowering blood pressure are natriuresis, decreasing activity of the renin angiotensin aldosterone (RAA) and increasing neuronal Na pump resulting in decreased sympathetic nerve activity. Several studies in animal trial have been showed consistent results, coconut water is proven to lower blood pressure, but research in humans is still very limited. Further research is needed to prove the effect of young coconut water on blood pressure in humans.
Pengelolaan Penyakit Graves pada Kehamilan A. Pramono, Laurentius; Soebijanto, Nanang
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 6 (2016): Metabolik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (996.609 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v43i6.72

Abstract

Hipertiroid pada kehamilan memiliki konsekuensi buruk bagi ibu dan janin. Hipertiroid yang tidak diobati akan meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia, gagal jantung, krisis tiroid, hingga kematian ibu. Salah satu penyebab tersering hipertiroidisme pada kehamilan adalah penyakit Graves. Pemantauan klinis dan laboratorium yang cermat menjadi tuntutan pada pengelolaan penyakit Graves pada kehamilan. Kerjasama yang baik antara internis dan obstetri-ginekologis diharapkan meminimalisasi komplikasi kehamilan dan persalinan. Berikut ini dipaparkan kasus penyakit Graves pada kehamilan.
Hubungan Kategori Level Xpert MTB/RIF dengan Waktu Konversi Kultur Sputum Pasien TB Resisten Obat (TB RO) -, Samuel; Apridasari, Jatu; -, Reviono; Sutanto, Yusup Subagio; -, Harsini
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 11 (2020): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.822 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i11.1194

Abstract

Penanganan TB yang tidak tepat dan tidak sesuai standar dapat menimbulkan masalah TB resisten obat (TB RO). Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kategori level hasil Xpert MTB/RIF dengan waktu konversi kultur sputum pasien TB RO. Data berasal dari rekam medik mulai bulan September 2012 sampai dengan bulan Oktober 2015; didapatkan 198 pasien TB RO, 112 laki-laki (56,6%) dan 86 perempuan (43,4%).Usia rerata 38,87 ± 12,41 tahun. Seluruh pasien TB RO merupakan pasien TB paru dengan memiliki riwayat pengobatan OAT kategori 1. Hasil pemeriksaan Xpert MTB/RIF menunjukkan sebagian besar pasien TB RO berada pada kategori low (43,9%). Konversi kultur terbanyak pada minggu ke empat sampai ke delapan pengobatan sebesar 59,1%. Tidak ada perbedaan bermakna antara kategori Xpert MTB/RIF dengan waktu konversi kultur sputum pasien TB RO (CI 95%, p = 0,572). Tidak ada korelasi bermakna antara kategori level gene X-pert dengan waktu konversi kultur sputum pasien TB RO (CI 95%, r = 0,061, p = 0,392).Inadequate TB management can cause the emergence of drug resistant tuberculosis. This study is to determine the correlation between Xpert MTB/RIF levels category with sputum culture conversion time in drug resistant tuberculosis patients. This retrospective cohort study was conducted in PMDT clinic at Dr. Moewardi General Public Hospital, Surakarta from September 2012 until October 2015. The respondents were 198 drug resistant tuberculosis patients; 112 males (56.6%) and 86 females (43.4%), mean age 38.87 ± 12.41 years old. All were pulmonary TB patients with category 1 anti-TB treatment. The Xpert MTB/RIF levels were mostly low category (43.9%).Culture conversion showed that 59.1% had conversion between the fourth and eighth week of drug resistant tuberculosis treatment. No statistically significant difference between Xpert MTB/FIR level category and sputum culture conversion time (CI 95%, p = 0.572). No statistically significant correlation between Xpert MTB/RIF level category and sputum culture conversion time (CI 95%, r = 0.061, p = 0.392).
Cryosurgery untuk Terapi Warts Setiawan, Ricky
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 4 (2020): Arthritis
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.4 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i4.390

Abstract

Human papilloma humanus virus atau HPV adalah virus yang menyebabkan gangguan kulit warts. Kelainan ini banyak ditemui di seluruh dunia, diperkirakan hingga 30 persen anak dan dewasa muda dapat terinfeksi. Tampilan warts yang umum adalah papul kecil berwarna putih hingga merah muda. Lesi dapat tunggal atau berkelompok dengan permukaan kasar seperti duri. Hingga saat ini tidak terdapat antiviral spesifik untuk terapi HPV, terapi bersifat menghancurkan jaringan terinfeksi dan mengurangi replikasi virus. Cryosurgery atau bedah beku adalah salah satu alternatif terapi.Warts, a skin disorder caused by human papilloma humanus virus or HPV, is a common skin disorder throughout the world; up to 30 percent of children and young adults can be infected. The most common appearance of warts is small white to pink papules. Lesion can be single or in groups with rough surface because of hyperkeratosis. There are no specific antiviral therapy, the available therapy are to destroy infected tissue and halts virus replication. Cryosurgery is an alternative therapy.
Suplemen untuk Rambut Sehat Kristiningrum, Esther
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1440.347 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v45i6.661

Abstract

Usia, perubahan hormonal, defisiensi zat gizi, stres, penataan rambut yang berlebihan, dan faktor-faktor lainnya dapat menyebabkan rambut rusak atau kerontokan rambut. Mengingat risiko efek samping obat-obatan untuk kerontokan rambut, banyak orang tertarik pada pengobatan alternatif. Suplemen dapat membantu mempertahankan lingkungan sebaik mungkin untuk pertumbuhan rambut yang sehat dan mengurangi kerusakan dan kerontokan rambut.Age, hormonal changes, nutrient deficiency, stress, over-styling, and other factors can cause damaged hair or hair loss. Due to risk of drugs for hair loss, many people look into alternative treatments. Supplements can help maintain the best possible environment for healthy hair growth, and reduces hair damage and hair loss.
Proses Menua, Stres Oksidatif, dan Peran Anti Oksidan Zalukhu, Marta Lisnawati; Phyma, Agustinus Rudolf; Pinzon, Rizaldy Taslim
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.321 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v43i10.870

Abstract

Penuaan ditandai dengan penurunan integritas fisiologis yang memicu gangguan fungsi, disebabkan oleh radikal bebas sebagai hasil stres oksidatif ditambah modifikasi genetik dan lingkungan. Membatasi atau menghambat reaksi radikal bebas untuk menurunkan laju perubahan akibat penuaan diharapkan dapat menurunkan tingkat penuaan dan patogenesis penyakit. Antioksidan merupakan molekul yang mampu menstabilkan atau menonaktifkan radikal bebas sebelum menyerang sel, juga dapat menghambat ataupun menunda oksidasi. Antioksidan memiliki fungsi preventif dan protektif terhadap penyakit terkait usia seperti penyakit kardiovaskular, kanker, kelainan neurodegeneratif, dan berbagai kondisi kronik lainnya.Aging is characterized by progressive loss of physiological integrity caused by free radical as result of oxidative stress, leading to impaired function, modifiable by genetic and enviromental factors. Interventions aimed at limiting or inhibiting the process should reduce the rate of changes with consequent reduction of aging rate and disease. Antioxidant refers to any molecule capable to stabilize or deactivate free radicals before they attack cells, also inhibit or delay the oxidation of a substrate. Antioxidant prevents and protects against age-related disease : cardiovascular disease, cancer, neurodegenerative disorders, and other chronic condition.
Manajemen Syok Kardiogenik pada Diseksi Aorta Kurnia Putra, Bagus Fitriadi; Aminuddin, Muhammad
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i10.1086

Abstract

Pendahuluan: Diseksi aorta merupakan kegawat daruratan akibat robekan tunika intima aorta yang menyebabkan perdarahan ke dalam tunika media. Komplikasi syok terjadi pada lebih dari 20% kasus dan akan meningkatkan mortalitas. Kasus: Wanita 72 tahun dirujuk ke IGD dengan keluhan nyeri dada dan rasa tidak nyaman di perut dan punggung, disertai lemas, gelisah, dan klinis syok. Pada foto toraks didapatkan kesan aneurisma aorta. CT scan menunjukkan diseksi aorta asenden, arkus aorta, aorta desenden, aorta abdominalis, berlanjut sampai ke arteri iliaka eksterna, dan trombus di arkus aorta. Pasien dan keluarga menolak tindakan operasi; pasien diterapi secara konservatif.Introduction: Aortic dissection is the result of aortic intima tear that leads to bleeding within the tunica media. Shock occurs in up to 20% patients and is associated with increased mortality. Case: A 72-year-old woman was referred to ED with chest pain and discomfort in the stomach and back, accompanied by weakness, anxiety, and clinical presentation of shock. Chest X-ray examination gave an impression of aortic aneurysm. CT scan showed dissection of the aorta ascendens, arcus aorta, aorta descendens, abdominal aorta, continues until the external iliac artery, and thrombus in the aortic arch. Patient and families reject surgical management; the patient was treated conservatively. 
Peran Probiotik dalam Manajemen Luka Bakar Saputra, Dedyanto Henky
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 8 (2016): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.881 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v43i8.96

Abstract

Luka bakar memiliki efek yang luas, di antaranya adalah terjadinya translokasi bakteri dengan port de entree saluran pencernaan yang dapat mencetuskan septikemia. Data klinis menunjukkan bahwa probiotik berdampak positif pada manajemen diare bakterial karena efek kompetitifnya dengan patogen dinding usus. Peran probiotik dalam manajemen luka bakar mungkin dengan mencegah translokasi bakteri pada saluran pencernaan, mensupresi faktor proinflamasi dan efek imunomodulasi, mempercepat penyembuhan luka, sintesis albumin dan peningkatan berat badan, serta mengatasi komplikasi infeksi kulit.
Upaya Menurunkan Angka Kematian Ibu akibat Perdarahan Pasca Persalinan di Indonesia melalui Inovasi Sistem Pelayanan Kesehatan Remifta Putra, Muhammad Alifian; Christopher Yo, Edward; Phowira, Jason; Dewi Anggraeni, Tricia
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.98 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i12.1250

Abstract

Perdarahan pasca-persalinan (PPP) adalah komplikasi persalinan yang menyebabkan 35% seluruh kematian ibu di dunia. Meskipun PPP mulai jarang ditemui di negara maju, kondisi ini masih merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu di negara berkembang seperti Indonesia. Hal ini antara lain akibat infastruktur kesehatan yang kurang optimal, sehingga terlambat mengidentifikasi faktor risiko PPP, merujuk, serta memberikan intervensi tepat waktu. Kajian pustaka ini mengamati adanya hubungan signifikan antara penurunan kematian ibu akibat PPP dan implementasi sistem peringatan dini obstetri, manajemen efektif, dan optimalisasi alur rujukan. Namun, karena tiap wilayah memiliki aspek sosioekonomis dan geografis yang berbeda, studi lanjutan diperlukan untuk menentukan pendekatan yang tepat bagi masing-masing wilayah di Indonesia.Postpartum hemorrhage (PPH) is a life-threatening condition that contributes to 35% of all maternal deaths worldwide. Although the risk of PPH has greatly declined in developed countries, it remains a leading cause of maternal mortality in developing countries like Indonesia. This issue could mainly be attributed to poor healthcare system and infrastructure leading to delay in identifying risk factors, referring mothers-at-risk to health centers, and appropriate intervention. We observed a notable relationship between decrease in maternal deaths due to PPH and the implementation of early warning system, effective PPH management, and optimization of referral system. These healthcare innovations showed promising potential in reducing the burden of PPH. However, since there is no single health policy that can be universally implemented, further research is needed to decide the best approach for each area depending on individual, socio-economic and geographic aspects.
Red Cell Distribution Width sebagai Prediktor Penyakit Kardiovaskular Kurnia Putra, Bagus Fitriadi; Bintoro, Ugroseno Yudho
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.792 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i11.413

Abstract

Baru-baru ini, sejumlah besar penelitian telah menemukan hubungan independen di luar faktor risiko tradisional antara peningkatan RDW (anisocytosis) dan penyakit kardiovaskular. Red cell Distribution Width (RDW) adalah ukuran variasi ukuran dan indeks heterogenitas eritrosit. RDW juga dikaitkan dengan mortalitas penyakit kardiovaskular dan mortalitas umum pada populasi yang berbeda. Masih harus diteliti lebih lanjut, apakah RDW hanya suatu biomarker atau juga mediator patogen untuk penyakit kardiovaskular tertentu.Recently, a large number of studies have found an independent association beyond traditional risk factors between increased RDW (anisocytosis) and Cardiovascular Diseases (CVDs). Increased RDW has been associated with different CVDs such as coronary heart disease, stroke, heart failure, atrial fibrillation, peripheral artery disease, pulmonary arterial hypertension, and venous thromboembolism, also with overall and cardiovascular mortality in different populations. It remains to be determined whether RDW is only a biomarker or also a pathogenic mediator for certain CVDs.

Page 74 of 297 | Total Record : 2961


Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue