cover
Contact Name
M. Iman Wahyudi
Contact Email
iman.wahyudi@uinbanten.ac.id
Phone
+6285939501925
Journal Mail Official
jsga@uinbanten.ac.id
Editorial Address
UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Jl. Jendral Sudirman Ciceri Serang Banten
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Studi Gender dan Anak
ISSN : 26852926     EISSN : 23554037     DOI : http://dx.doi.org/10.32678/jsga
Core Subject : Humanities, Social,
JSGA: Jurnal Studi Gender dan Anak focuses on topics related to gender and child issues. We aim to disseminate research and current developments on these issues. We invite manuscripts on gender and child topics in any perspectives, such as religion, economics, culture, history, education, law, art, communication, politics, and theology, etc. We look forward to having contributions from scholars and researchers of various disciplines.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 7 No 02 (2020): Juli-Desember 2020" : 7 Documents clear
Konvergensi antara Tradisi dan modernitas pada Majlis Taklim Perempuan di Jakarta Umdatul Hasanah
Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7 No 02 (2020): Juli-Desember 2020
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.813 KB) | DOI: 10.32678/jsga.v7i02.183

Abstract

Tulisan ini akan menjelaskan konvergensi antara tradisi dan modernitas pada majlis taklim permepuan di Jakarta. Tradisi dan modernitas menyatu (convergence) di dalam kehidupan majlis taklim, karena kelekatannya dengan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun masih tetap terjaga. Fenomena konvergensi ini menarik untuk dianalisis secara kritis. Ditemukan bahwa konvergensinya terletak pada tradisi pembacaan shalawat Nabi, rawi dan barzanji, yang menjadi ciri khas majlis taklim, bukan hanya di Jakarta namun di wilayah lainnya. Untuk itu, sebagai upaya membentengi dan menangkal kekuatan budaya global, komunitas majlis taklim tetap berpegang teguh pada ajaran agama dan budaya bangsa, serta tradisi nenek moyang.
Islam dan Dominasi Maskulin Global: Menimbang Kampus Aman Bagi dan Anak di Banten Masykur Wahid
Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7 No 02 (2020): Juli-Desember 2020
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.493 KB) | DOI: 10.32678/jsga.v7i02.184

Abstract

Paper ini merupakan refleksi kritis atas riset mengenai perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan di Banten. Dilatarbelakangi oleh realitas kekerasan terhadap perempuan dan anak yang lewati batas kemanusiaan pada era global ini. Perempuan dan anak sebagai sumber reproduksi dan produktivitas manusia dinistakan dan dialienasikan. Di Indonesia, ada 35 perempuan korban kekerasan seksual tiap hari. Di Banten, jumlah perempuan dan anak korban kekerasan meningkat pada tahun 2013-2015 (822-1753 jiwa). Ada dua pertanyaan riset. Mengapa manusia tega melakukan kekerasan terhadap perempuan dan anak? Apa yang mendasari seseorang tega melakukan kekerasan? Di dalam Islam, kekerasan dan segala bentuk praktik kejahatan yang real antikemanusiaan wajib dihapuskan. Negara pun menjamin dan melindungi hak berkeluarga dan berketurunan setiap warganya. Dengan perspektif gender dan kekerasan simbolik Bourdieu, ditemukan bahwa dominasi maskulin global mengonstruksi manusia tega melakukan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dominasi maskulin global ini didasari oleh budaya patriarki masyarakat Banten. Untuk itu, “kampus aman” merupakan konsep sebagai bentuk tanggung jawab sosial keagamaan dipertimbangkan untuk melindungi perempuan dan anak secara periodik, sustainble, dan intensif.
Nyi HJ. Madichah: Ulama Perempuan Cilegon dan Tradisi Maulid Fatimah Nihayatul Maskuroh
Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7 No 02 (2020): Juli-Desember 2020
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.022 KB) | DOI: 10.32678/jsga.v7i02.185

Abstract

Tulisan ini merupakan penelurusan historis tokoh terhadap ulama perempuan di Cibeber, Cilegon. Ulama perempuan Cilegon yang berpengaruh di Banten, yaitu Nyi Hj. Madichah dari Pesantren Putri Bani Latief dan Pesantren Putri Al-Jauharotunnaqiyah Cibeber, Cilegon. Dilataribelakangi penjajahan Pemerintahan Hindia Belanda, keberadaan dan kedudukan Nyi Hj. Madichah menarik untuk digali dan dianalisis secara historis. Lalu, bagaimana keberadaan dan kedudukan kiprah Nyi Hj. Madichah di sebagai ulama perempuan di Cilegon? Dengan metode dokumentasi dan metode wawancara, dapat dijelaskan bahwa keberadaan dan kedudukan beliau melalui “kiprah di dalam” dan “kiprah ke keluar”. Karena itu, dapat dijelaskan bahwa beliau adalah ulama perempuan Cilegon yang nasionalis lewat Muslimat NU dan pelestari tradisi Maulid Fatimah sebagai khazanah Islam Nusantara.
Khitan, Perempuan dan Kekerasan Seksual Hery Purwosusanto
Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7 No 02 (2020): Juli-Desember 2020
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.762 KB) | DOI: 10.32678/jsga.v7i02.180

Abstract

Khitan sebagai suatu syariat dalam Islam berbeda dengan praktik khitan sebelumnya. Kekerasan seksual terhadap perempuan dalam praktik khitan banyak terjadi di berbagai negara. Studi ini membahas khitan dan praktiknya, kekerasan seksual yang terjadi terhadap perempuan yang dikhitan, dan manfaat khitan secara kesehatan. Dalam kajian ulama terdahulu tentang khitan, disebutkan bahwa sunnah muakkadah bagi laki-laki dan “dianjurkan” bagi perempuan. Banyak penyelewengan praktik khitan yang dipengaruhi oleh adat setempat. Perlu ada perhatian dari pemegang kebijakan di daerah yang mana khitan terhadap perempuan sangat dianjurkan bahkan terkesan diwajibkan. Hal ini untuk menghindari kekerasan seksual terhadap perempuan.
Dra. Nyi Hj. Hayati Nufus: Pendiri 'Aisyiyah dan Gedung Dakwah Muhammadiyah Banten Denna Ritonga
Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7 No 02 (2020): Juli-Desember 2020
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.833 KB) | DOI: 10.32678/jsga.v7i02.186

Abstract

Tulisan ini akan menjelaskan perjuangan wanita yang gigih dan pantang menyerah, yaitu Dra. Nyi Hj. Hayati Nufus. Lingkungan tradisi pesantren dan kondisi sosial yatim piatunya, melatarbelakangi perjuangan beliau untuk terus belajar dan gapai cita-citanya untuk kemajuan wanita Banten. Menurut beliau, “wanita bukan hanya jumlahnya yang lebih besar dari laki-laki, tetapi juga menduduki posisi dan peran yang sangat penting dan strategis di dalam membangun bangsa”. Apa yang sesungguhnya yang diperjuangkan oleh Dra. Nyi Hj. Hayati Nufus di Banten untuk kemajuan wanita? Dengan metode wawancara dan metode deskripsi, dijelaskan bahwa sesungguhnya perjuangan beliau adalah mendirikan organisasi pergerakan wanita ‘Aisyiyah, AKBID ‘Aisyiyah, dan Gedung Dakwah Muhammadiyah. Tak hanya itu, beliau juga pelopor majelis taklim wanita di beberapa tempat di wilayah Banten. Itulah perjuangannya untuk kemajuan wanita.
Rendahnya Partisipasi Wanita di Bidang Politik Ade Muslimat
Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7 No 02 (2020): Juli-Desember 2020
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.555 KB) | DOI: 10.32678/jsga.v7i02.181

Abstract

Keterlibatan wanita dalam proses politik di Indonesia masih sangat minim. Minimnya keterwakilan wanita di dalam politik disebabkan oleh kondisi struktural dan kultural bangsa Indonesia. Tingginya budaya patriarki yang melekat dalam budaya Indonesia menjadi penghalang keterwakilan wanita dalam legislatif. Budaya ini memandang bahwa wanita itu lemah dan lebih memposisikan wanita sebagai ibu rumah tangga. Selain itu, adanya subordinasi gender menjadi penghalang bagi keterwakilan wanita untuk berpartisipasi dalam politik. Menghadapi hal demikian, pemerintah sebagai pemegang kebijakan telah menetapkan sejumlah undang-undang untuk mendorong keterwakilan wanita dalam legislatif. UU Nomor 2 Tahun 2008 dan UU Nomor 10 Tahun 2008, merupakan UU yang ditetapkan pemerintah untuk mendorong keterwakilan wanita dalam legislatif. Dalam dua undang-undang tersebut, wanita memiliki kuota sebesar 30% untuk turut serta di dalam legislatif. Sedangkan, parpol berperan untuk mengakomodir keterwakilan wanita dalam legislatif. Melalui ketetapan tersebut, wanita dapat turut berpartisipasi dalam legislatif, sejajar dengan laki-laki.
Kekerasan: Mispresentasi Perempuan dalam Ruang Publik (Suatu Agenda Penelitian) Irwan Abdullah
Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7 No 02 (2020): Juli-Desember 2020
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.448 KB) | DOI: 10.32678/jsga.v7i02.182

Abstract

Tulisan ini akan menjelaskan kekerasan sebagai misrepresentasi perempuan di dalam ruang publik. penjelasannya merupakan suatu agenda penelitian. Dilatarbelakangi oleh kompleksitas persoalan perempuan, ketika terjadinya kekerasan, harus direspons dengan melibatkan berbagai metode penelitian, baik kualitatif maupun kuantitatif. Permasalahannya, kekerasan yang terjadi dalam berbagai bentuk, sudah menjadi suatu budaya bersama dan telah menjadi praktik kolektif, sehingga kekerasan bukan lagi sesuatu yang bersifat brutal tetapi sebagai (satu-satunya) jalan yang efektif untuk mencapai tujuan-tujuan individu dan bahkan kelompok. Dengan pendekatan yang didasari oleh asumsi bahwa kaum perempuan merupakan kelompok yang sadar dan memahami posisi kultural dan strukturalnya dalam masyarakat, tulisan ini akan menjawab dua pertanyaan. Pertama, apakah masih ada kecenderungan oposisi biner (laki-laki dan perempuan sebagaimana nature terhadap culture) di dalam penelitian gender yang bias pada pemaknaan tunggal dan bersifat satu arah (dari laki-laki ke perempuan)? Kedua, apakah relasi sosial masih bersifat top-down menyangkut hubungan-hubungan yang sinergis dan kemitraan antara laki-laki dan perempuan? Disimpulkan bahwa dengan pendekatan post-feminisme, pembongkaran (dekonstruksi) atas dominasi laki-laki yang menempatkan perempuan sebagai objek, sebagai suatu pemikiran ulang terhadap makna “relasi gender” yang dibangun oleh berbagai proses sosial ekonomi dan politik.

Page 1 of 1 | Total Record : 7