Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

(RETRACTION ) Sunda Wiwitan Baduy: Agama Penjaga Alam Lindung di Desa Kenekes Banten Masykur Wahid
Hikmah: Journal of Islamic Studies Vol 11, No 1 (2011): Islam dan Kearifan Lokal
Publisher : STAI ALHIKMAH Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.656 KB) | DOI: 10.47466/hikmah.v11i1.144

Abstract

RETRACTION TO: WAHID, Masykur. Sunda Wiwitan Baduy: Agama Penjaga Alam Lindung di Desa Kenekes Banten. Hikmah: Journal of Islamic Studies, [S.l.], v. 11, n. 1, p. 33-54, may 2020. ISSN 2581-0146. This article has been retracted by Publisher based on the following reason: The Editor of HIKMAH Journal found the double publication in the article publishing due to article's content similarity published in EL HARAKAH Vol 13, No. 2 (2011) URL: http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub/article/view/1888. Titled” SUNDA WIWITAN BADUY: Agama Penjaga Alam Lindung di Desa Kanekes Banten” with the same author who is Masykur Wahid. Based on clarification, Author of the article have admitted that she has published the same article published in EL HARAKAH Vol 13, No. 2 (2011).
Resolusi Konflik dan Islam Nusantara: Memromosikan Dialog antar Budaya dan Rekognisi Sosial Masykur Wahid
Refleksi Vol 15, No 2 (2016): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.512 KB) | DOI: 10.15408/ref.v15i2.10164

Abstract

This paper is a philosophical study about conflicts resolution and Islam Nusantara among multicultural societies. This article discusses the relationships between individuals who produce social conflicts of ethnic and religious nuance. Referring to the theory of multiculturalism from Bhikhu Parekh, literature study method, phenomenology of religious life method, and critical reflection method, it is concluded that the social conflicts (a) emerged from an individual behavior that interprets moral and cultural in different view; and (b) happened in countries that provide political uniformity. These social conflicts should be cultivated by an individual through cultural dialogues and the actions of intercultural dialogue and social recognition. The dialogue is expected to rediscover harmony in social life.
AGAMA, ETNISITAS DAN RADIKALISME Masykur Wahid
Al Qalam Vol 25 No 3 (2008): September - December 2008
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1335.966 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v25i3.1692

Abstract

Tradisi radikalisme lahir dari gejolak pemberontakan yang ditujukan kepada penguasa (politik) atau kelompok berkuasa (ekonomi) untuk cita-cita atau harapan terciptanya keadilan. Atas dasar ideologi gerakan, radikalisasi sosial "Wong Sala" setidaknya terbagi menjadi dua, yaitu pertama, kelompok kiri yang digerakkan oleh masyarakat buruh atau kelompok yang menginginkan adanya keadilan ekonomi. Kedua, kelompok kanan yang dilandasi dengan semangat agama (Islam) melawan hegemoni negara. Kelompok kedua ini muncul akibat kebijakan pemerintah yang diskriminatif terhadap kelompok-kelompok Islam.Masyarakat Kota Sala adalah prototipe masyarakat Indonesia yang plural baik etnis, agama maupun budaya. Beberapa tradisi berkembang di kota ini dengan latar belakang agama: Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghuchu. Dua komunitas yang dominan,yaitu Islam dan Kristen. Etnisitas Kota Sala terdiri dari Jawa (Sala dan pendatang), Tionghoa (China), Minang, Sunda, dan lain-lain. Sala dikenal sebagai salah satu 'ibu kota' kebudayaan Jawa, pusat berkembangnya tradisi Jawa. Meskipun demikian, sebagai kota penting sejak periode Jawa kuno, Kota Sala menyedot banyak pedagang untuk mengembangkan bisnis dan investasi, di antanya komunitas etnis Tionghoa yang mendominasi perdagangan di Kota Sala. Etnis ini menjadi sasaran kerusuhan Mei 1998.Radikalisasi sosial muncul akibat ketimpangan sosial dambaan masyarakat lapis bawah atas munculnya 'ratu adil' menciptakan kelompok sosial yang kritis dan cenderung melawan kekuasaan. Mereka pada awalnya membentuk kekuatan melawan hegemoni kelompok feodal yang berkolaborasi dengan pemerintah kolonial, tidak didasari dengan elemen nasionalisme tetapi ketidakpuasan atas berbagai kebijakan yang menyudutkan posisi masyarakat. Karena itu, pluralitas masyarakat Kota Sala perlu dilihat sebagai bagian dari proses natural yang harus dijaga keseimbangannya. Eksistensi penguasaha Cina, Muslim dan masyarakat berbeda agama dan keyakinan baik Muslim, Kristen, abangan menunjukkan fenomena masyarakat yang terbentuk selama ratusan tahun. Kondisi ini menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia ke depan, misalnya bagaimana pendidikan Islam mulai memperkenalkan kehidupan yang toleran.
Islam dan Dominasi Maskulin Global: Menimbang Kampus Aman Bagi dan Anak di Banten Masykur Wahid
Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7 No 02 (2020): Juli-Desember 2020
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.493 KB) | DOI: 10.32678/jsga.v7i02.184

Abstract

Paper ini merupakan refleksi kritis atas riset mengenai perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan di Banten. Dilatarbelakangi oleh realitas kekerasan terhadap perempuan dan anak yang lewati batas kemanusiaan pada era global ini. Perempuan dan anak sebagai sumber reproduksi dan produktivitas manusia dinistakan dan dialienasikan. Di Indonesia, ada 35 perempuan korban kekerasan seksual tiap hari. Di Banten, jumlah perempuan dan anak korban kekerasan meningkat pada tahun 2013-2015 (822-1753 jiwa). Ada dua pertanyaan riset. Mengapa manusia tega melakukan kekerasan terhadap perempuan dan anak? Apa yang mendasari seseorang tega melakukan kekerasan? Di dalam Islam, kekerasan dan segala bentuk praktik kejahatan yang real antikemanusiaan wajib dihapuskan. Negara pun menjamin dan melindungi hak berkeluarga dan berketurunan setiap warganya. Dengan perspektif gender dan kekerasan simbolik Bourdieu, ditemukan bahwa dominasi maskulin global mengonstruksi manusia tega melakukan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dominasi maskulin global ini didasari oleh budaya patriarki masyarakat Banten. Untuk itu, “kampus aman” merupakan konsep sebagai bentuk tanggung jawab sosial keagamaan dipertimbangkan untuk melindungi perempuan dan anak secara periodik, sustainble, dan intensif.
Pendampingan Masyarakat Kota Serang Dalam Pendampingan Pro dan Kontra Terhadap Vaksinasi Covid-19 Nining Zahrotul Uyun; Nining Farida; Nulfa Dwi Maulidia; Nunung Nurohmah; Nelis Yulandari Fadilah; Masykur Masykur
Dedikasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 14 No 2 (2021): Juli-Desember
Publisher : Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.366 KB) | DOI: 10.32678/dedikasi.v14i2.5464

Abstract

Abstract: The Indonesian government's policy to vaccinate Covid-19 to its citizens during the pandemic generates pro and contra views. In community assistance, this community service will express the views of the pro and contra in the community of Serang City of Banten Province. There are two questions that are the focus of community service. First, how is the understanding of the people of Serang city regarding Covid-19 vaccination? Second, what is the public's view of Covid-19 vaccination? These two focuses are aimed at explaining people's understanding of Covid-19 vaccination and explaining the views of the people of Serang City towards Covid-19 vaccination. For that, used methods of description, literature studies and case studies. It found that there were 14 people with pro views and 11 people with counter-views towards Covid-19 vaccination. However, through the assistance of Covid-19 health procedures education, the public becomes more understanding of Covid-19 vaccination. As a result, 4 out of 11 people who countered became convinced of the Covid-19 vaccination for herd immunity. Kebijakan pemerintah Indonesia untuk melakukan vaksinasi Covid-19 kepada warga negaranya pada masa pandemi menghasilkan pandangan pro dan kontra. Dalam pendampingan masyarakat, pengabdian kepada masyarakat ini akan mengungkapkan pandangan pro dan kontra di dalam masyarakat Kota Serang Provinsi Banten. Ada dua pertanyaan yang menjadi fokus pengabdian kepada masyarakat. Pertama, bagaimana pemahaman masyarakat Kota Serang mengenai vaksinasi Covid-19? Kedua, bagaimana pandangan masyarakat terhadap vaksinasi Covid-19? Dua fokus ini ditujukan untuk menjelaskan pemahaman masyarakat mengenai vaksinasi Covid-19 dan penjelasan pandangan masyarakat Kota Serang terhadap vaksinasi Covid-19. Untuk itu, digunakan metode deskripsi, studi pustaka dan studi kasus. Ditemukan bahwa ada 14 orang berpandangan pro dan 11 orang berpandangan kontra terhadap vaksinasi Covid-19. Namun, melalui pendampingan edukasi prokes Covid-19, masyarakat menjadi lebih memahami vaksinasi Covid-19. Hasilnya, 4 dari 11 orang yang kontra menjadi yakin terhadap vaksinasi Covid-19 untuk herd immunity. Vaksinasi Covid-19, Pandangan Pro dan Kontra, Herd Immunity
MEMBACA KEMBALI PEMBERONTAKAN PETANI BANTEN 1888 DALAM STRUKTURASI GIDDENS Masykur Wahid
Dedikasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 1 No 2 (2010): Vol. 1 No. 2 (Januari - Juni) 2010
Publisher : Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.361 KB)

Abstract

Membaca kembali sejarah berarti merepresentasikan makna yang tersembunyi. Membaca kembali pemberontakan petani Banten 1888 adalah merepresntasikan identitas kaum petani Banten di tengah-tengah penindasan kaum bangsawan dan kolonialisme Belanda. Pada era kesultanan kaum petani dikategorikan sebagai kaum mardika dan abdi yang dijadikan budak dan wajib bayar upeti 10% kepada sultan. Diperparah lagi pada era kolonialisme Belanda, kaum petani selain diperbudak, bayar upeti 20% sampai 33.3% kepada kolonial dan juga dipaksa kerja rodi. Dalam artikel ini fenomena penindasan kaum petani Banten itu kembali dianalisis dengan teori strukturasi Giddens untuk memaknai pemberontakan itu sebagai praktik sosial. Dapat dijelaskan bahwa agensi atau aktor pemberontakan adalah kaum petani. Seperti dikatakan Giddens, yang kompeten bertindak sebagai agensi adalah kaum petani sendiri yang memiliki rencana, program dan mengetahui konsekuensinya. Spiritualitas nilai-nilai tradisional dalam institusi agama hanya sebagai medium untuk melakukan pemberontakan. Sedangkan, kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda yang dominatif dan institusi peradilan yang layu legalitasnya sebagai pemicu kekacauan kondisi sosial dan budaya kaum petani. Karena itu, tidak bisa tidak kaum petani wajib memberontak untuk merebut kembali hak-hak dan identitasnya yang ditindas oleh kolonialisme Belanda (dan kaum bangsawan yang kolonial). Kata kunci: Pemberontakan petani Banten, teori strukturasi Giddens, agensi, strukturasi, dualitas, identitas petani.
The Yahukimo Conflict within the Ideal Narratives of Pancasila and Multiculturalism Masykur Masykur
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 29, No 2 (2021)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.29.2.10388

Abstract

The ideology of Pancasila is agreed upon to reconcile ethnic, religious, racial and intergroup diversity. However, tribal fanatism clashes in understanding inevitably lead to social conflicts, such as the tribal conflict in Yahukimo Papua. Based on this background, there are research questions, first, why do tribal social conflicts still exist in the Pancasila ideology state? How is Pancasila ideology able to be main foundation of the resolution of tribal social conflict? Methodo­logically, this paper is the result of literature study research. To explain the research questions, Bhikhu Parekh's theory of multi­culturalism is used. In addition, the literature study method is used for data collection and the sociological approach for data analysis. The results of this study can be concluded that first, social conflicts with tribal nuances in the Pancasila ideological state will continue to have the potential to emerge when national identity is not maintained with a commitment to nationalism. Second, for this reason, the ideology of Pancasila in must continue to be carried out structurally and culturally for the resolution of tribal social conflicts. In the future, it is hoped that the Pancasila will ideally be embedded to strengthen national identity and unity.
Sunda Wiwitan Baduy: Agama Penjaga Alam Lindung di Desa Kanekes Banten Masykur Wahid
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.452 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.1888

Abstract

Baduy-style Islamic is pronounced with syahadat and practiced with tapa to maintain and preserve the natural heritage, karuhun. Tapa of Baduy is working in the fields to plant rice as a form to practice Islamic teachings, by mating the goddess of rice to the earth. Baduy’s action was guided by the pikukuh, custom, following the buyut, taboo. Religious teachings, tapa, pikukuh and buyut have shaped simple personalities Baduy people in maintaining the Kanekes natural conservation. Thus, welfare and peace can be felt by mankind. This paper describes the system of religion and religious rituals Sunda Wiwitan. In the perspective of religion phenomenology issue, the phenomena are studied using direct observation method and in-depth interviews. One of the finding illustrated that the Baduy people’s faith and obedience to God appears in their actions in taking care of forests, rivers and mountain to life in harmony. Their faith is not in the form of memorizing or interpreting old religious scripture. Furthermore, worship rituals are practiced by working in the fields under custom rules guidance and abiding the taboo to have successful harvest and prosperous people. Worship is not intended to become a respected man or benefactor. This is the Sunda Wiwitan people with life perspective of maintaining the Kanekes natural conservation.Islam ala Baduy diucapkan dengan syahadat dan diamalkan dengan tapa untuk menjaga dan melestarikan alam warisan karuhun, nenek moyang. Tapa Baduy adalah bekerja di ladang dengan menanam padi sebagai amalan ajaran agama, mengawinkan dewi padi dengan bumi. Tindakan masyarakat Baduy itu berpedoman kepada pikukuh, aturan adat, dengan mematuhi buyut, tabu. Ajaran agama, tapa, pikukuh dan buyut telah mengkonstruksi pribadi-pribadi Baduy yang sederhana dalam menjaga alam lindung Kanekes. Sehingga, kesejahteraan dan kedamaian dapat dirasakan oleh umat manusia. Tulisan ini memaparkan sistem religi dan ritual keagamaan Sunda Wiwitan. Dalam perspektif fenomenologi agama permasalahan itu dikaji dengan metode observasi terlibat langsung dan wawancara mendalam. Ditemukan jawaban bahwa keimanan dan ketaatan umat Baduy kepada Allah tampak dalam tindakan mereka menjaga hutan, sungai dan gunung hidup harmoni. Keimanannya bukan dalam hafalan ataupun penafsiran kitab suci. Sedangkan, 2 ibadah ritualnya dipraktikkan lewat bekerja di ladang dengan aturan adat dan patuh pada tabu supaya panen berhasil dan umat sejahtera. Ibadahnya bukan ingin menjadi manusia yang dihormati ataupun dermawan. Inilah umat Sunda Wiwitan dengan pandangan hidup menjaga alam lindung Kanekes
Perspektif H.O.S Tjokroaminoto Tentang Pendidikan, Islam, dan Nasionalisme Farijal Farijal; Iffan Ahmad Gufron; Masykur Masykur
Permata : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 4 No 2 (2023): Permata : Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The journey of human life will not be separated from various things that require the use of reason to be able to determine the outcome of every problem faced. The paradigm of thinking is influenced by the concentration of education pursued, so the important role of education will be comparable to the output of processing reason on a problem that uses thinking as its basic tool. However, there is something more important than education, namely Religion, because religion is a foundation of life. Which cannot be accepted only by reason, but by faith. Tjokroaminoto as one of the revolutionary educational figures in Indonesia who is determined to carry out every movement on a religious basis, resulting in extraordinary student products such as Soekarno, Kartosuwiryo and Semau'n. This research will examine Islam as a revolutionary education from the perspective of H.O.S Tjokroaminoto.Keyword: Islam; Education; Tjokroaminoto.
Inclusive Philanthropy and Poverty Alleviation in Indonesia: A Study of the Philosophy of Deliberative Justice Masykur, Masykur; Kurniawan, Ade Fakih; Sumintak, Sumintak; Ade Jaya, Suryani; M. Nanda, Fauzan
Aqlania Vol. 15 No. 2 (2024): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study discusses the role of inclusive philanthropy in reducing poverty in Indonesia, especially among multicultural societies. Through the approach of deliberative justice philosophy developed by Habermas, inclusive philanthropy is understood as a fundamental need for a country with diversity like Indonesia. This study explores how this concept is applied in Cilegon City, an area with a Muslim majority population, but remains open to ethnic and religious plurality. Using qualitative methods based on literature studies and in-depth interviews, this study finds that inclusive philanthropy can be an effective tool in poverty alleviation regardless of ethnicity, religion, or race. These findings underline the importance of deliberative justice in ensuring a fair distribution of welfare in society. This study also provides recommendations for improving the practice of inclusive philanthropy through more structured government policies and support from social organizations.