cover
Contact Name
Him'mawan Adi Nugroho
Contact Email
himmwannugroho@unesa.ac.id
Phone
+6281334244887
Journal Mail Official
evarahmawati@unesa.ac.id
Editorial Address
English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya Building T4, 2nd floor, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Retain: Journal of Research in English Language Teaching
ISSN : 23562617     EISSN : 30322839     DOI : https://doi.org/10.26740/rt.v13i02
Core Subject : Education,
RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics. RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics.
Articles 947 Documents
FEATURES OF TEACHER TALK TO LEAD STUDENT INVOLVEMENT IN CLASSROOM DISCUSSION IN AN EFL CLASS AT SMA NEGRI 1 GRESIK
RETAIN Vol 3 No 2 (2015): Volume 3, nomor 2, Mei-Agustus 2015
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Diskusi kelas menuntut siswa untuk terlibat aktif sehingga diskusi kelas tersebut dapat berjalan baik. Permasalahan yang sering dihadapi oleh para guru dalam melaksanakan diskusi kelas adalah bahwa siswa sering merasa enggan dan malu untuk memberikan kontribusi mereka selama diskusi kelas berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan (1) fitur penuturan guru apa sajakah yang dapat memicu keterlibatan siswa dan (2) keterlibatan apasajakah yang dilakukan siswa selama diskusi kelas sebagai respon terhadap penuturan guru yang digunakan. Penlitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Peneliti menganalisis data secara kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah seorang guru bahasa Inggris dengan pengalaman mengajar selama lebih dari 7 (tujuh) tahun dan para siswa kelas XI MIA 8 di SMA Negeri 1 Gresik. Data penelitian diperoleh melalui kegiatan pengamatan dan wawancara. Peneliti menggunakan field note, rekaman video, dan panduan wawancara untuk membantu peneliti dalam memperoleh data. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa guru menggunakan 9 (sembilan) fitur penuturan guru untuk memicu keterlibatan siswa. Fitur-fitur tersebut adalah direct repair, display question, referential question, extended teacher turn, extended student turn, seeking clarification, confirmation check, teacher echo, and teacher interruption. Fitur-fitur tersebut dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk terlibat langsung dalam diskusi kelas. Penelitian ini juga menemukan bahwa siswa melakukan beberapa keterlibatan selama diskusi kelas sebagai respon terhadap usaha guru dalam memicu keterlibatan siswa. Keterlibatan-keterlibatan tersebut adalah menanyakan pertanyaan, menjawab pertanyaan, serta mengutarakan pendapat. Kata Kunci:Interaksi kelas, penuturan guru, SETT, keterlibatan siswa, diskusi Abstract Classroom discussion requires students to get involved actively so that the classroom discussion can go well. The problem that is often faced by the teacher in conducting classroom discussion is the fact that students are often reluctant and shy to give their contributions during the classroom discussion. This study is aimed to (1) describe the features of teacher talk the teacher used to lead student involvement and (2) what involvement students did during the classroom discussion as the response toward the teacher talk. This study is a descriptive qualitative study. The researcher analyzed the data qualitatively. The subjects of the study are an English teacher with more-than-7-year-teaching-experience and eleventh graders at SMA Negeri 1 Gresik. The data were obtained through observation. The researcher used field note, video recording, and interview guide to help her obtain the data. Based on the result, it can be concluded that the teacher used 9 (nine) features of teacher talk to lead student involvement while conducting classroom discussions. Those features were direct repair, display question, referential question, extended teacher turn, extended student turn, seeking clarification, confirmation check, teacher echo, and teacher interruption. Those features were able to give chance to students to give their contributions in classroom discussion. This study also found that students did some contributions to respond the teacher’s attempt to lead their involvement. Those contributions were asking questions, answering questions, and sharing ideas. Keywords: Classroom interaction, teacher talk, SETT, student involvement, discussion
THE USE OF TOTAL COMMUNICATION TO TEACH ENGLISH VOCABULARY TO DEAF STUDENTS OF ELEVENTH GRADE IN SMALB NEGERI BLITAR  
RETAIN Vol 3 No 2 (2015): Volume 3, nomor 2, Mei-Agustus 2015
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bahasa Inggris adalah salah satu mata pelajaran pokok yang diajarkan kepada semua siswa di Indonesia, termasuk kepada siswa yang tuli. Komunikasi Total (Komtal) adalah sebuah model komunikasi yang menggunakan semua media komunikasi yang tersedia dan model ini digunakan oleh Guru Bahasa Inggris di SMALB Negeri Blitar untuk mengajar Bahasa Inggris kepada siswa yang tuli. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan bagaimana guru menggunakan Komtal untuk mengajar Bahasa Inggris kepada siswa kelas sebelas yang tuli di SMALB Negeri Blitar, (2) untuk memaparkan respon siswa terhadap pelaksanaan Komtal, dan (3) untuk menjelaskan kemampuan kosa kata siswa. Penelitian ini adalah penelitian metode campuran dengan desain paralel dimana data kualitatif dan kuantitatif dianalisa secara terpisah; hasil analisa dilaporkan dalam dua bagian tulisan yang berbeda namun tetap dalam lingkup laporan yang sama. Subjek penelitian ini adalah Guru Bahasa Inggris dan siswa kelas sebelas yang tuli di SMALB Negeri Blitar. Instrumen penelitian yang digunakan adalah catatan lapangan, petunjuk wawancara, pertanyaan dalam angket, dan tes untuk siswa. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa guru melaksanakan Komtal dengan baik; guru menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia dan ejaan jari; guru mendorong siswa untuk menggunakan kemampuan membaca-bibir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa merasa terbantu dengan pelaksanaan Komtal. Dapat disimpulkan pula bahwa rata-rata kelas sebesar 75 memenuhi nilai minimum; sedangkan untuk rata-rata individu, terdapat seorang siswa yang memenuhi nilai minimum dengan memperoleh nilai 100 dan terdapat tiga siswa yang tidak dapat memenuhi nilai minimum karena hanya memperoleh nilai sebesar 66.67. Kata kunci: Komunikasi Total, Siswa yang Tuli, Kelas Sebelas, Respon Siswa, Kosa Kata. Abstract English is one of compulsory subjects taught to Indonesian students, including the deaf students. Total Communication (TC) is a model communication which uses all available communication media and it was used by the English teacher of SMALB Negeri Blitar to teach English to deaf students. The objectives of this study are (1) to describe how the teacher implements TC to teach English to deaf students of eleventh grade in SMALB Negeri Blitar, (2) to interpret the students’ response toward the implementation of TC, and (3) to provide an explanation about students’ vocabulary mastery. This study is a mixed method research with parallel design in which qualitative and quantitative data were analyzed separately; the result of the analysis were reported in two distinguished parts within the same report. The research subjects are the English teacher and the deaf students of eleventh grade in SMALB Negeri Blitar. The research instruments used are field note, interview guidelines, the question list for questionnaire, and students’ test. Based on the results, it can be concluded that the teacher implemented TC properly; the teacher uses Indonesian Sign Language and finger-spelling; the teacher fosters the students to use speech-reading ability. The results show that the students felt helpful by the use of TC. It can be also concluded that the classroom’s mean score which is 75 meets the minimum standard; while for the individual mean score, there is only one student who fulfilled the standard by obtaining 100 and there are three students who could not meet the standard since they only scored 66.67. Key Terms: Total Communication, Deaf Students, Eleventh Grade, Students’ Response, Vocabulary.
THE IMPLEMENTATION OF THINK-TALK-WRITE STRATEGY TO TEACH WRITING DESCRIPTIVE TEXT TO THE SEVENTH GRADERS OF SMPN 7 SURABAYA
RETAIN Vol 3 No 2 (2015): Volume 3, nomor 2, Mei-Agustus 2015
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Menulis sangatlah penting untuk dikuasai dikarenakan banyak fungsinya yang didapat dalam kehidupan sehari-hari. Namun, menulis adalah pekerjaan yang sulit dan membosankan untuk pelajar terutama pemula. Faktanya, pemula seringkali kurang menguasai kosakata serta unsur kebahasaan akan suatu teks komposisi. Mereka sering membuat error dalam pendeskripsian obyek. Hal ini dikarenakan, mereka mempunyai pemahaman yang kurang tentang mengekspresikan ide mereka kedalam Bahasa Inggris. Maka dari itu, Think-Talk-Write (TTW) digunakan untuk mengatasi masalah diatas. Strategi TTW dipilih karena sejalan dengan proses menulis yang dikemukakan oleh pakar. Terlebih lagi, kegiatan dalam strategi TTW dapat membantu siswa dalam pembelajaran menulis teks deskripsi. Maka dari itu, peneliti ingin mengetahui implementasi dari strategi TTW dalam pembelajaran menulis teks deskripsi untuk murid kelas tujuh dan respons dari siswa mengnai pembelajaran menulis menggunakan strategi ini. Catatan lapangan dan kuesioner digunakan untuk mendeskripsikan implementasi strategi TTW serta untuk mendapatkan respon dari siswa terkait pengimplementasian strategi TTW. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa strategi TTW adalah strategi yang tepat dalam membantu siswa untuk mempraktekkan serta meningkatkan kemampuan mereka dalam menulis teks deskripsi setelah melakukan kegiatan kegiatan yang disungkan dlam implementasi dari strategi TTW. Strategi ini juga mendorong memotivasi siswa untuk mengembangkan, berbagi, membetulkan serta mengedit gagasan-gagasan siswa sebelum menuangkannya kedalam produk akhir dari teks komposisi deskripsi mereka. Kata kunci: Strategi Think-Talk-Write, Mengajar menulis, teks deskripsi Abstract Writing is important to be mastered since it brings a lot of benefit in daily life. However, writing is difficult and boring activity for learners especially beginners. It is a common fact that they often lack vocabulary and have a low mastery of composition text knowledge, i.e. descriptive text. They often made errors in describing an object because they still have misconception in translating their ideas into English form. Therefore, Think-Talk-Write (TTW) strategy used to overcome those problem above, seeing that it is in line with the process of writing. Moreover, the activities in TTW strategy could assist the students in creating composition text such as descriptive text. Thus, the researcher would like to know the implementation of TTW strategy to teach writing descriptive text to the seventh graders and their responses toward the implementation of TTW strategy. Field notes and questionnaire are used to describe the implementation of TTW strategy and to gain the students’ responses toward their learning of writing descriptive text assisted by TTW strategy. The result of this study was TTW strategy is appropriate strategy to assist the students in practicing and improving their writing ability by doing the activities suggested by the experts. It also encourages and motivates the students to develop, share, revise, and edit their ideas before they make the final product of writing Keywords: Think-Talk-Write Strategy, Teaching writing, Descriptive text
THE READING STRATEGIES USED BY FRESHMEN AT THE STATE UNIVERSITY OF SURABAYA IN COMPREHENDING TEXT
RETAIN Vol 3 No 2 (2015): Volume 3, nomor 2, Mei-Agustus 2015
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Membaca adalah satu dari kemampuan yang paling penting untuk di kuasai oleh siswa ESL/EFL. Bagaimanapun juga, siswa angkatan pertama dari Departemen Bahasa Inggris menghadapi banyak tantangan di dalam kelas. Ini berdasarkan fakta bahwa kebanyakan dari mereka lemah dalam kemampuan membaca teks akademik, terutama karena strategi membaca pada level Universitas berbeda dengan ketika berada di Sekolah Menengah Atas. Tetapi, kebanyakan dari mereka menerapkan strategi yang sama ketika masih di jenjang Sekolah Menengah Atas ketika membaca teks akademik. Hasilnya, mereka mendapatkan kesulitan untuk memahami teks yang mereka baca. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari tahu kemampuan mereka dalam memahami teks, untuk menginvestigasi strategi apa yang paling sering di gunakan oleh mereka dan untuk mencari tau alasan mereka menggunakan strategy itu. Oleh karena itu, strategi yang paling tepat untuk di gunakan dalam penelitian adalah strategi campuran. Strategi ini di terapkan mengingat peneltian ini berhubungan dengan dua data yang berbeda, yang berbentuk angka, sesuai dengan rumusan masalah 1 dan 2 dan yang berbentuk kata-kata, sesuai dengan rumusan masalah yang ketiga. Ini mengkombinasikan antara pendekatan kualitatif dan kuantitatif di satu atau banyak fase penelitian. Tes Pemahaman Membaca dan Penemuan Strategi untuk Pembelajaran bahasa di gunakan untuk mengumpulkan semua data. Peneliti juga melaksanakan interview untuk mengetahui alas an dari siswa dalam menggunakan berbagai strategi membaca. Terdapat 37 peserta dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas negeri Surabaya. Berdasarkan pada nilai tes Pemahaman Membaca mereka, hasilnya menunjukkan bahwa ada 3 level yang berbeda dari pembaca: Bagus, Sedang, and Lemah. Sementara itu, kebanyakan dari mereka menggunakan strategi metacognitive untuk memahami teks. Mereka menggunakan itu karena dengan merencanakan dan memfokuskan pembelajaran itu bisa memfasilitasi mereka untuk memahami teks dengan mudah. Bagaimanapun juga, terdapat beberapa siswa yang menggunkan lebih dari satu strategi membaca dalam waktu yang bersamaan. Mereka mengatakan bahwa dengan menggunkan strategi cognitive dan compensation, mereka dapat memahami apa yang mereka baca di waktu singkat tanpa harus membaca keseluruhan teks dan melihat arti kata sulit di dalam kamus. Sementara itu, di dalam kesadaran dalam menggunakan strategi membaca, pembaca yang bagus lebih mampu mengatur pemahaman mereka daripada pembaca ynag lemah dan mereka yang bagus dapat menggunkan strategi lebih fleksibel. Mereka menggunakan konteks dengan effisien dan mampu untuk menggabungkan informasi ke dalam pengetahuan mereka yang utama yang telah ada sebelumnya, sebaik dalam mengetahui ketidakpastian t eks dan menggunakan strategi untuk membuat ketidakpastian itu menjadi dapat di mengerti. Kata kunci: Strategi membaca, Siswa Angkatan Tahun Pertama Abstract Reading is one of the most important skills for ESL/EFL learners to master. However, freshmen of English Department face many challenges in the classroom. It is a fact that most first-year students lack academic reading skills, especially because University-level reading greatly differs from High School reading. Thus, most of them employ the same strategy that they use in senior high school to read academic text. As a result, they get difficulties to comprehend the text they read. The purpose of this study were to find out the freshmen ability in comprehending text, to investigate the most frequent reading strategies used by them and to find out their reasons in using those strategy. Therefore, the most appropriate research method to be employed was mixed method research. Mixed method research was employed since the research deals with two different types of data; they were in the form of numbers, related to the first and second research question, and words, related to the third research question. It was combined qualitative and quantitative approaches in a single or multiphase study. The Reading Comprehension test and the Strategy Inventory for Language Learning (SILL) were used to collect the data. The researcher also conducted an interview in order to know freshmen reasons in using reading strategies. The participants were 37 freshmen students of English Education program at the State University of Surabaya. Based on the reading comprehension test scores, the results showed that there were 3 different levels of readers: good, average and poor readers. Meanwhile, most freshmen readers in English education program at the State University of Surabaya used metacognitive as their strategy in comprehending the text. They used it because by planning and centering their learning it facilitates them to understand the text easily. However, there were some freshmen using more than one reading strategy to comprehend reading text; cognitive strategy and compensation strategy at the same time. They said that by using cognitive and compensation strategies, they can understand more about what they read in limited time without reading the whole passages and checking the meaning in dictionary. While in terms of their awareness on the use of reading strategies, good readers are more able to monitor their comprehension than poor readers and they use those strategies more flexibly. They use context more efficiently and are able to relate new information to prior information already stated, as well as to notice inconsistencies in the text and employ strategies to make these inconsistencies understandable. Key words: Reading Strategies, Freshmen
A STUDY OF DIFFERENCES BETWEEN FEEDBACK GIVEN BY NOVICE AND EXPERT ENGLISH TEACHERS
RETAIN Vol 3 No 2 (2015): Volume 3, nomor 2, Mei-Agustus 2015
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Interaksi di dalam kelas merupakan suatu keharusan dalam komunikasi untuk membangun ikatan yang kuat antara guru dan siswa yang terjadi dalam tiga aksi, pertama ajakan dalam bentuk pertanyaan dari guru, menanggapi dalam bentuk jawaban dari siswa, dan bereaksi dalam bentuk umpan balik dari guru. Umpan balik merupakan salah satu unsur penting dalam pendidikan. Ini membantu siswa untuk memahami subjek yang diteliti dan memberi mereka panduan yang jelas tentang bagaimana untuk meningkatkan pembelajaran mereka (Bellon, Bellon, & Blank, 1992) tetapi pengalaman guru yang berbeda dalam mengajar dapat menyebabkan cara yang berbeda dalam memberikan umpan balik. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan dalam memberikan umpan balik antara guru pemula dan guru ahli, terutama dalam hal kelangsungan dan pilihan kata, serta daftar jenis umpan balik yang guru bahasa Inggris pemula dan guru ahli gunakan sebagian besar dalam kelas dan dikhususkan pada umpan balik lisan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain deskripsi dan dilakukan dengan cara kualitatif. Objek penelitian ini adalah salah satu guru bahasa Inggris pemula dan satu guru bahasa Inggris ahli. Penelitian ini dilakukan di salah satu SMP di Gresik. Guru pemula dan ahli dibedakan dengan karakteristik bukan dengan berapa lama mereka mengajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru bahasa Inggris pemula cenderung menggunakan umpan balik langsung, di sisi lain, guru bahasa Inggris ahli cenderung menggunakan umpan balik tidak langsung jika dalam masalah keterusterangan. Sedangkan dari sudut pandang pilihan kata, dua guru menggunakan umpan balik positif dan netral. Menariknya, guru pemula juga menggunakan umpan balik negatif dalam mengontrol kelas. Kata kunci: umpan balik, guru bahasa Inggris pemula, guru bahasa Iggris berpengalaman Abstract Interaction in the classroom is a necessity in communication matter to build powerful bond between teacher and students which occurred in three actions, first soliciting in the form of question from the teacher, responding in the form of answer from the student, and reacting in the form of feedback from the teacher. Feedback is one of important elements in education. It helps students to understand the subject being studied and gives them clear guidance on how to improve their learning (Bellon, Bellon, & Blank, 1992) but teachers’ different experience in teaching may result different ways in giving feedback. Therefore, this research is conducted to find out the differences in giving feedback between novice and expert teacher, especially in term of directness and choice of word, then list the kinds of feedback that novice and expert English teacher mostly use in class and the concern in spoken feedback. The research was conducted using description design and done in qualitative way. The object of this study was one novice English teacher and one expert English teacher. The setting was in one of Junior High School in Gresik. Novice and expert teacher was differentiate by the characteristic not by how long they teach The result showed novice English teacher tend to use direct feedback, in the other hand, expert English teacher tend to use indirect feedback if it in directness term. While from the choice of word point of view, two teachers use positive and neutral feedback. Interestingly, novice teacher also use negative feedback in controlling class. Keywords: Feedback, novice English teacher, expert English teacher.
THE STUDY OF DEIXIS USED IN DESCRIPTIVE WRITING MADE BY SEVENTH GRADERS IN SMP NEGERI 3 GRESIK
RETAIN Vol 3 No 2 (2015): Volume 3, nomor 2, Mei-Agustus 2015
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Menulis adalah salah satu alat komunikasi dalam menggunakan bahasa dalam bentuk tulis. Melalui tulisan, siswa dapat mengkomunikasikan ide, pemikiran dan perasaan mereka kepada pembaca. Kemudian, Meyer (2014: 8) mengatakan bahwa makna adalah inti dari komunikasi. Jadi, siswa dapat menyalurkan idenya untuk membangun komunikasi ketika makna disampaikan sesuai konteks dan secara tepat. Deixis adalah salah satu cabang dari ilmu pragmatic dan salah satu komponen menulis yang harus diperhatikan oleh siswa untuk mengkomunikasikan makna dalam tulisannya. Deixis adalah sebuah kata yang mempunyai fungsi untuk mengarahkan dan menunjuk kata sesuai konteksnya agar mempunyai makna. Ada lima jenis dalam deixis, yaitu person deixis, spatial deixis, temporal deixis, social deixis and discourse deixis. Bagaimana penggunaan deixis dengan tepat harus diperkenalkan di tingkat pertama siswa belajar bahasa Inggris di pendidikan formal. Jadi, skripsi ini memilih menganalisa penggunaan deixis di tulisan descriptive yang ditulis oleh siswa kelas tujuh yang merupakan pemula dalam belajar bahasa Inggris di pendidikan formal (Bestiana, 2014: 3) di SMP Negeri 3 Gresik Data penelitian diambil melalui menganalisa dokumen yang merupakantulisan deskriptif yang dibuat oleh siswa kelas tujuh dan tabel. Berdasarkan hasil penelitian, itu dapat terlihat bahwa siswa kelas tujuh telah menggunakan deixis dengan tepat dalam menulis deskriptif teks. Itu didukung oleh persentase dari penggunaan deixis secara tepat sebesar 91% dan penggunaan deixis secara kurang tepat sebesar 9%. Kata kunci : Menulis, Makna, Teks Deskriptif, Deixis Abstract Writing is a communication tool of language in written form. Through the final product of writing, students can communicate their ideas, thoughts, and feelings to the reader. Then, Meyer (2009: 8) says that meaning is the core of human communication. Therefore, students can transfer their ideas to create communication when meaning is delivered contextually and efficiently. Deixis is one of the branches in pragmatics and one of the writing components that has to be noticed by the students to communicate the meaning in writing. Deixis is a word that functions to refer and to point word contextually in order to have meaning. There are five types of deixis; those are person deixis, spatial deixis, temporal deixis, social deixis and discourse deixis. The appropriate use of deixis must be introduced in the first stage of learning English in formal education. Thus, the researcher chose to analyze the use of deixis in descriptive writing made by seventh graders who are beginner in learning English in formal education (Bestiana, 2014: 3) in SMP Negeri 3 Gresik. Data of the study was collected by analyzing students‟ descriptive writing. Based on the result, it showed that seventh graders had been been able to use deixis appropriately in composing descriptive writing. It was supported by the percentage of the data collection which was 91% deixis word used correctly and 9% deixis word used incorrectly. Keywords: Writing Skill, Meaning, Descriptive Text, Deixis THE STUDY OF DEIXIS USED IN DESCRIPTIVE WRITING MADE BY SEVENTH GRADER
THE ANALYSIS OF ENGLISH SPEAKING ACTIVITY IN STUDENTS’ TEXTBOOK ENTITLED WHEN ENGLISH RINGS A BELL USED BY SEVENTH GRADERS IN 2013 CURRICULUM
RETAIN Vol 3 No 3 (2015)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract One of the the goals of the educational system in indonesia is producing students who have good competence to face the global era. In this era, students not only should master the materials that given in class but also should be able to show what they know to others fluently and accurately. In this case, having good communication skills is needed espesially speaking skill. Therefore the speaking activity given should belong to the communicative activity in order to help them improve their speaking ability. This reasearch focus on speaking activity in stduents’ textbook entitled When English Rings a Bells which used by students in seventh graders in 2013 curriculum. There are two research questions those are; what kinds of speaking activities that presented in students textbook and do the speaking activities belong to the communicative activity. This reasearch use descriptive qualitative in order to get information about the contents of the textbook. The data sources that used is textbook entitled When English Rings a Bell used by seventh graders. Then, the instrument that used is observation by using field note in order to collect data from data sources. Next, when the data has been gotten, it will analyze by using the theory from Harmer (2007) about kinds of classroom speaking activities and theory from Littlewood (2004) which about the stages of activity from focus on form to focus on meaning. The result of this reasearch shows that there are seven kinds of speaking activities those are conversation practice, monolog, prepared talk, discussion, questionnaires, roleplay, and communication games. Then, based on the analysis, all the activities in the textbook belong to the communicative activity becuase there is no activity which totally focus on language form. Keywords: analysis, speaking, speaking activity, communicative activity. Abstract Salah satu tujuan dari sistem pendidikan di Indonesia adalah meghasilkan siswa siswi yang mampu menghadapi era global. Di era ini, siswa siswi tidak hanya dituntut untuk dapat menguasai materi yang diberikan dikelas tetapi juga harus mampu menunjukkan apa yang mereka ketahui kepada orang lain secara lancar dan tepat. Dalam hal ini, mempunyai kemampuan komunikasi yang baik sangatlah dibutuhkan khususnya kemampuan berbicara. Oleh karena itu, aktivitas berbicara yang diberikan kepada siswa haruslah termasuk dalam aktifitas komunikatif untuk membantu mereka meningkatkan kemampuan berbicara. Penelitian ini terfokus pada aktifitas berbicara yang disajikan dalam buku berjudul When English Rings a Bell yang digunakan oleh kelas 7 dalam pengajaran di kurikulum 2013. Terdapat dua rumusan masalah yaitu; apa saja aktifitas berbicara yang ada dalam buku When English Rings a Bell dan apakah aktivitas berbicara tersebut termasuk dalam aktifitas yang komunikatif. Model penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif untuk mendapatkan informasi mengenai isi dari buku tersebut. Sumber data yang digunakan adalah textbook berjudul When English Rings a Bell yang digunakan oleh kelas 7 dalam pengajaran di kurikulum 2013. Kemudian, instrumen yang digunakan adalah observasi dalam bentuk field note untuk mengumpulkan data dari sumber data. Selanjutnya, ketika data sudah didapat, data tersebut akan dianalysis dengan memggunakan teori dari Harmer (2007) mengenai macam-macam aktifitas berbicara dikelas dan teori dari Littlewood (2004) mengenai tingkatan aktifitas dari mulai aktifitas yang terfokus pada sususan bahasa sampai aktifitas yang terfokus pada makna dari bahasa yang dihasikan. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat tujuh macam aktifitas berbicara yaitu conversation practice, monolog, prepared talk, discussion, questionnaires, roleplay, and communication games. Kemudian, berdasarkan analisis, semua aktifitas berbicara yang ada di buku teks termasuk dalam aktifitas yang komunikatif karena tidak ada aktifitas berbicara dalam buku teks yang yang secara total terfokus pada susunan bahasa. Keywords: analisis, berbicaraaktifitas berbicara, aktifitas yang komunikatif.
DEVELOPING DESCRIPTIVE WRITING SKILL BY USING SMALL GROUP DISCUSSION FOR TENTH GRADERS
RETAIN Vol 3 No 3 (2015)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Peneliti menekankan pada deskripsi pelaksanaan diskusi kelompok kecil untuk mengajar menulis teks deskriptif untuk kelas X SMAN 1 Menganti Gresik. Peneliti mengumpulkan tanggapan-tanggapan siswa terhadap pelaksanaan diskusi kelompok kecil dan dianalisis siswa siswa komposisi terhadap pelaksanaan diskusi kelompok kecil di samping menilai efektivitas teknik pengajaran ini. Peneliti menerapkan desain penelitian deskriptif kualitatif. Data yang dikumpulkan dari catatan lapangan mengungkapkan bahwa guru menerapkan diskusi kelompok kecil. Instrumen yang yang digunakan berupa angket dan komposisi siswa, yang mana digunakan untuk mengumpulkan tanggapan tanggapan siswa terhadap diskusi kelompok kecil untuk mengajar menulis deskriptif teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa menganggap bahwa diskusi kelompok kecil sebagai teknik pengajaran yang berguna. Kuesioner membuktikan bahwa diskusi kelompok kecil membantu dan menyenangkan untuk keterampilan menulis. Selain itu, analisis komposisi siswa mengungkapkan bahwa siswa menulis lebih baik setelah pemberian diskusi kelompok kecil. Kesimpulannya yang didapat, diskusi kelompok kecil mampu memotivasi siswa untuk menulis lebih baik. Kata kunci: diskusi kelompok kecil, teks deskriptif. Abstract This researcher emphasized on the description of the implementation of small group discussion to teach writing of descriptive text to the tenth graders of SMAN 1 Menganti Gresik. The researcher gathered students’ responses towards to the implementation of small group discussion and analyzed students’ composition towards the implementation small group discussion in addition to assessing the effectiveness of this teaching technique. The researcher applied descriptive qualitative research design. The data gathered from the field notes revealed that the teacher implemented small group discussion. The instruments used are questionnaire and students’ compositions, which they were used to gather the students’ responses towards of small group discussion to teach writing descriptive. The result showed that students viewed small group discussion as a useful teaching technique. The questionnaire revealed that small group discussion helped and enjoyable for writing skills. Moreover, the analysis of students’ compositions revealed that the students wrote better after the provision of small group discussion. In conclusion, small group discussion was able to motivate students to write better. Keywords: small group discussion, descriptive text.
THE USE OF GRAPHIC THINKING ORGANIZER TO TEACH READING OF A REPORT TEXT IN SMAN 1 TANAH GROGOT
RETAIN Vol 1 No 1 (2016): jan-april
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Membacaadalahsalahsatuketerampilanbahasa yang penting. Melaluimembaca, seseorangdapatmeningkatkanpengalaman, mengembangkankonsepbaru, danmemecahkanmasalah-masalahnya. Membacaketerampilan yang diperlukanuntukmemastikanperkembanganpertumbuhanpribadidanuntukmengadopsiperubahan di dunia, namunpentingnyamembacabelumdisadariolehsebagianbesarwarganegara Indonesia. Kebiasaan guru membacabahan ajar yang hanyaberfokuspadapengucapandankosa kata yang tidakmembantusiswauntukmemahamiteksdenganbaik. . Guru harusmembimbingsiswadalam proses membacadalamrangkauntukmembuatmerekalebihmudahuntukmemahamiteks. Salah satucarauntukmembimbingsiswadalam proses membacajugamemotivasimerekadalambelajarbahasaInggrisadalahdenganmenggunakanGraphic Thinking Organizerdalammengajarmembaca, terutamamengajarlaporanmembaca. Graphic Thinking Organizeradalahtampilan visual yang digunakanuntukmengaturinformasi yang diperolehdariteks yang dapatmembantusiswauntukbelajardanmemahamiinformasidenganmudah. Penelitianinimerupakanpenelitiandeskriptifkualitatif. Subyekpenelitianiniadalahsiswakelas XI SMAN 1 Tanah Grogot. Instrumen yang digunakanuntukmendapatkan data yang catatanlapangan, transkrip audio atau video, wawancaragarispanduandanhasiltugasmembacasiswa.Adatigapoin yang bisadilihatdalamhasilpenelitianini. Pertama, pelaksanaanGraphic Thinking Organizersebagaistrategiuntukmengajarmembacalaporanteksberjalandenganbaik. Kedua, siswahasiltugasmembacamenunjukkanbahwasiswakemampuanmembacacukupbaik. Ketiga, siswamenunjukkanresponpositifterhadappelaksanaanGraphic Thinking Organizer. Kesimpulannya, Graphic Thinking Organizerdapatdigunakanuntukmengajarkanmembacalaporanteksuntuksiswakelassebelas. Hal inibergunauntukmembantusiswadalammembacalaporanteks. Keywords: Graphic Thinking Organizer, Membaca,Teks Report, Responsiswa Abstract Reading is one of the important language skills. Through reading, one can enhance his experience, develop new concept, and solve his problems. Reading skill is needed to ensure the development of personal growth and to adopt the change in the world, yet the importance of reading has not been realized by most of Indonesian citizen.The teacher’s habit of teaching reading which only focuses on the pronunciation and the vocabulary does not help students to comprehend the text well. . The teacher should guide the students in the process of reading in order to make them easier to comprehend the text. One of the ways to guide the students in the process of reading also motivate them in learning English is by using graphic thinking organizer in teaching reading, especially teaching reading report. Graphic Thinking Organizer is a visual display used to arrange information gained from a text which can help the students to learn and understands the information effortlessly. This research is a descriptive qualitative research. The subjects of this research are the eleventh graders of SMAN 1 Tanah Grogot. The instruments used to gain the data are field note, audio or video transcript, interview guide lines and students’ reading task result.There are three points that can be seen in the result of this research. First, the implementation of graphic thinking organizer as a strategy to teach reading report text run well. Second, the students’ reading task result showed that the students’ reading ability was good enough. Third, the students showed a positive response toward the implementation of graphic thinking organizer. In conclusion, graphic thinking organizer can be used to teach reading report text for the eleventh graders. It is useful to help the students in reading report text. Keywords: Graphic Thinking Organizer, reading, report text, students’ response
THE USE OF TEENS REACT VIDEO TO IMPROVE STUDENTS’ SPEAKING ABILITY
RETAIN Vol 1 No 1 (2016): jan-april
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Skripsi ini membahas tentang perbedaan antara kemampuan berbicara murid yang diajar dengan menggunakan “teens react” video dengan yang tidak. Skripsi ini ditulis untuk menjawab pertanyaan: Apakah ada perbedaan yang signifikan antara kemampuan berbicara murid yang diajar dengan menggunakan “teens react” video dengan yang tidak? Bahasa Inggris adalah bahasa yang sangat penting di dunia. Ada tiga kegunaan bahasa inggris, yaitu Bahasa Inggris sebagai bahasa asli, Bahsa Inggris sebagai bahasa kedua, dan Bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Di Indonesia sendiri, para guru masih mendominasi kelas berbicara Bahasa Inggris. Ini menjadikan murid tidak punya kesempatan untuk mengembangkan ide dan pemikiran mereka dalam bebrbicara maupun menulis. Berdasarkan fakta itu, video adalah salah satu media yang penting digunakan dalam proses belajar mengajar. Salah satunya adalah “teens react” video yang dapat digunakan untuk belajar karena didalamnya terdapat topik-topik yang menarik sesuai usia murid. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan kuantitatif. Peneliti menggunakan kelompok populasi acak. Ada empat data yang diperlukan; pre-test, post-test, standar deviasi, dan skor berbicara siswa. Untuk menganalisa validasi, peneliti membandingkan antara jenis tes dangan rencana pelaksanaan pembelajaran. Untuk menganalisa reliabilitas, peneliti membandingkannya dari dua penguji. Dari analisa yang diperoleh, hasilnya menunjukkan bahwa di akhir post-test; (1) mempunyai validasi yang tinggi karena diambil berdasarkan RPP, (2) mempunyai kelayakan reliabilitas karena terdapat perbedaan yang signifikan, (3) mempunyai tingkat kesulitan yang rendah karena digunakan untuk murid SMP dan peneliti menggunakan topik yang sesuai untuk murid SMP. Kata Kunci: kemampuan berbicara, mengajar berbicara, video, teens react video Abstract This thesis discusses about the significant difference of students’ ability in speaking that taught using teens react video and who have not. This thesis is conducted to answer the following research questions: Is there any significant difference in speaking ability between the students who have been taught speaking using “teens react” video and those who have not? English is one of the most important languages in the world. There are three uses of English, English as a native, as a second, and as a foreign language. In indonesia, the teachers still dominate the classroom. It makes the students unable to explore their ideas both in speaking and writing. In fact, video is a media that can be utilized in teaching and learning process. Teens react video is one of appropriate video because it has an interesting topic to discuss. This research under the quantitative approach and the sample of which was taken using cluster random sampling. There were four data needed; pre-test, post-test, standard deviation, and students’ scores in speaking. To analyze the content validity, the researcher compared the test items with the curriculum content. The researcher tried to compare the scores from two raters to analyze the reliability. The result showed that the post-test; (1) has high content validity because the test covers from the teacher’s curriculum content, (2) has moderate reliability because it has significant difference, (3) has low level for index of difficulty. Keyword: speaking ability, teaching speaking, video, teens react video