cover
Contact Name
Ali Mustofa
Contact Email
alimustofa@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alimustofa@unesa.ac.id
Editorial Address
The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya T4 Building, 2nd floor Lidah Wetan Campus Surabaya 60213
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Litera Kultura
ISSN : -     EISSN : 23562714     DOI : -
Litera Kultura : Journal of Literary and Cultural Studies accepts articles within the scope of Literature and Cultural Studies. The journal is published three times in a year: April, August, and December.
Articles 362 Documents
Woman Objectification and Its Social Abjection in Arthur Golden’s Memoirs of a Geisha
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 4 (2017): Vol 5 Nomor 4 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i4.21517

Abstract

Abstrak Memoirs of a Geisha karya Arthur Golden adalah salah satu novel biografi yang mengangkat kehidupan para geisha sebagai seorang penghibur. Dalam novel ini ditunjukkan bagaimana kehidupan para geisha yang rentan mengalami praktik objektifikasi terhadap perempuan. Di sisi lain, hidup sebagai geisha menimbulkan adanya kesenjangan antara gesha dengan masyarakat lainnya dalam bentuk abjeksi sosial. Untuk itulah tujuan penelitian ini adalah untuk memahami proses objektifikasi dan abjeksi sosial terhadap geisha dengan tiga rumusan masalah meliputi (1) untuk mengetahui alasan terjadinya objektifikasi perempuan terhadap geisha, (2) untuk menunjukkan abjeksi yang dialami Sayuri selama menjadi geisha (3) untuk mengetahui abjeksi masyarakat Gion terhadap geisha kelas rendah. Teori yang digunakan adalah teori objektifikasi oleh Fredrickson dan Robert, dan dilengkapi dengan teori milik Nussbaum, untuk menganalisis rumusan masalah pertama tentang objektifikasi. Sedangkan untuk rumusan masalah kedua dan ketiga akan menggunakan teori sosiologi literature tentang teori abjeksi sosial milik Imogen Tyler. Berdasarkan temuan yang ada, objektifikasi seksual yang terjadi pada geisha dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan pekerjaan mereka. Dituntut untuk selalu tampil sedemikian rupa, membuat mereka mengalami objektifikasi diri sehingga objektifikasi seksual tidak dapat dihilangkan dari kehidupan Geisha. Dari lingkungan hidup mereka memunculkan adanya abjeksi sosial berupa penolakan dari masyarakat, baik itu kebencian spasial maupun moral. Kata Kunci: objektifikasi, objektifikasi perempuan, objektifikasi diri, abjeksi, abjeksi sosial. Abstract Arthur Golden’s Memoirs of a Geisha is a biography novel which raises the topic of geisha’s life as an entertainer or artist. This novel also shows how geisha’s life is closer to objectification. Living as a geisha creates the existence of a gap between geisha herself and the society around her in a form of social abjection. This study aims to understand the process of objectification and social abjection toward geisha in three main objectives; (1) to reveal the reason behind women objectification towards geisha, (2) to show the abjection that is experienced by Sayuri during her life as a geisha, and (3) to emphasize the abjection of lower class geisha by Gion society. Objectification theory by Fredrickson and Robert is being used, with additional material from Nussbaum’s theory in order to analyze the first research question. While for the second and third questions are using theory from the sociology of literature about social abjection by Imogen Tyler. Based on the findings, sexual objectification towards geisha is influenced by their surroundings such as their environment and their work. Demanded to be always presentable, their self-objectification is taking control their life so that sexual objectification cannot be denied from their life as a Geisha. Through this kind of surrounding, it leads into a social abjection in a form of a disgust feeling, whether it is spatial disgust or moral disgust. Keywords: objectification, women objectification, self-objectification, abjection, social abjection.
Sherlock’s Narcissism in Arthur Conan Doyle’s The Adventure of Shelock Holmes
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 4 (2017): Vol 5 Nomor 4 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i4.21518

Abstract

Neo-Mythologism and The Individuation Process of The Contemporary Character of Apollo in Rick Riordan’s The Trials of Apollo: The Hidden Oracle
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 4 (2017): Vol 5 Nomor 4 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i4.21585

Abstract

Abstrak The Trials of Apollo: The Hidden Oracle karya Rick Riordan adalah sebuah novel genre komedi-modern dengan karakter dan latar belakang mitologi Yunani yang menyoroti kisah tentang dewa agung, Apollo, yang menguasai Seni, Matahari, Obat-obatan, dan Ramalan. Dihukum dengan menjadi manusia membuatnya belajar dan menyadari segala kesalahan yang pernah diperbuatnya semasa menjadi seorang dewa. Penelitian ini ditujukan untuk memahami dan mengikuti proses individuasi (perkembangan diri) Apollo melalui; 1) hubungan antara modernitas dan mitologi yang membuat novel ini mudah untuk dipahami, dan 2) proses perkembangan karakter Apollo dalam memenuhi misinya sebagai manusia. Konsep neo-mitologi yang digunakan oleh Rick Riordan membuat karya-karyanya seakan hidup dan berada disekitar kita. Konsep ini juga mendiskusikan tentang banyaknya karya-karya lama, yang sebagian besarnya berasal dari mitologi, yang diceritakan ulang dengan cara yang lebih modern dan kekinian sehingga mampu menarik minat jiwa-jiwa muda. Disamping itu, untuk proses perkembangan karakter Apollo sendiri menggunakan teori mito-psikologi yang mana banyak mendiskusikan tentang bagaimana sebuah karakter atau peristiwa yang terjadi dalam mitologi menggambarkan sifat-sifat dan perilaku manusia dan teori kepribadian dari Carl Gustav Jung juga dijadikan pendukung dalam proses penelitian ini. Kata Kunci: modernitas, neo-mitologi, perkembangan diri, mitologi, mitologi Yunani, psikologi Abstract Rick Riordan’s The Trials of Apollo: The Hidden Oracle is a comedy modern-mythology novel which raises the story of the Mighty God of the Art, Sun, Medicine and Prophecy, Apollo. Being punished to be a mortal making him learn and realize his failures as a god that once only knew the happiness and freedom to do what he wants to mortals and the process he is going through in improving himself. This study aims to understand and follow Apollo’s individuation process through; 1) understanding the relation between modernity and mythology that made the novel easier to understand and, 2) knowing the process of the character, Apollo, improving through every obstacle and quest in the story. The concept of neo-mythology which mostly used in Rick Riordan’s novels, live up all the mythology characters which are supposed to be ancient and boring. This concept discuss about how many of the old stories, most are from mythology, retold in more modern way which can attract the youth to put more interest in it. While the individuation process of the character will be using the theory of myth-psychology, discussing about how every character and event in mythology represent how people act, and the theory of personality using Carl Gustav Jung’s. Keywords: modernity, neo-mythology, individuation process, mythology, Greek mythology, psychology
Woman Oppression in Maxine Hong Kingston’s The Woman Warrior: Memoirs of a Girlhood Among Ghosts
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 4 (2017): Vol 5 Nomor 4 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i4.21586

Abstract

Abstrak Penelitianinimendiskusikanmengenai novel Maxine Hong Kingston yang berjudulThe Woman Warrior: Memoirs of a Girlhood Among Ghosts.Analisisiniberkaitandenganpenindasanwanitaterhadappemeranwanita di novel tersebut.Selainitu, penelitianinijugamendiskusikanmengenaitipeataubentukpenindasanwanitadanpengaruhpenindasanterhadapkehidupanpemeranwanita di novel tersebut.Tujuandaripenelitianiniadalahuntukmendeskripsikantipedaripenindasanwanita di novel The Woman Warrior: Memoirs of a Girlhood Among Ghosts danuntukmendeskripsikanpengaruhdaripenindasanterhadapkehidupanpemeranwanita di novel tersebut. Metode yang digunakandalamanalisisiniadalahpenelitiansastradenganpendekatanfeminis.Untukmenjawabmasalah yang ada, penelitianinimenggunakanbeberapateoridankonsepdariGayatriSpivak di tulisannya yang berjudulCan Subaltern Speakdandidukungolehahliterifeminislainnyaseperti Iris Young yang dieditulangolehHeldke and O’Connor. Denganmenggunakanpendekatanfeminis, data diambildari novel yang berjudulThe Woman Warrior: Memoirs of A Girlhood Among Ghosts oleh Maxine Hong Kingston (1976). Novel in merupakansalahsatu novel yang menceritakanbagaimanaperempuan China yang berimigrasikeAmerikadandiamenjadiwanita yang selaludiamsebagaisalahsatupengaruhdaripenindasanwanita.Penelitianinimenunjukkanbeberapabagiandaribukti yang mengidentifikasitipedaripenindasandanpengaruhdaripenindasanterhadapkehidupanpemeranwanita di novel tersebut. Kata Kunci: The Woman Warrior, Penindasanwanita, tipedaripenindasanwanita, pengaruhpenindasanwanita, feminis, Maxine Hong Kingston Abstract This study discusses Maxine Hong Kingston’s novel The Woman Warrior: Memoirs of a Girlhood Among Ghosts. This analysis is related to the woman oppression toward the female character in the novel. Besides that, this study also discusses the type or form of woman oppression and the impacts of oppression toward the female character’s life in the novel. The purpose of this study is to describe the type of woman oppression in The Woman Warrior: Memoirs of a Girlhood Among Ghosts and to describe the impacts of oppression toward the female character’s life in the novel. The method used in this study is using literary study with feminism approach. To analyze the existing topic, this study uses several theories and concepts by GayatriSpivak in her essay Can Subaltern Speak and supported by the other thinkers of feminism theory likes Iris Young which edited by Heldke and O’Connor. By using feminist approach, data were taken from the novel entitled The Woman Warrior: Memoirs of A Girlhood Among Ghosts by Maxine Hong Kingston (1976). This novel is one of the novels that tells how the Chinese woman who immigrates to America and she became silencing woman as one of the impacts of women oppression. This study shows several pieces of evidence which indicate the type of oppression and the impacts of oppression toward the female character’s life in the novel. Keywords: The Woman Warrior, woman oppression, type of woman oppression, the impacts of woman oppression, feminism, Maxine Hong Kingston.
MIMETIC DESIRE IN CHRISTOPHER PRIEST THE PRESTIGE
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 4 (2017): Vol 5 Nomor 4 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i4.21587

Abstract

ABSTRACT The problem of desire is actually on how it uses an object to distract its purest condition; mimetic what the other desire. This “mimetic desire” situates the rivalry as it clearly appears in Christopher Priest’s The Prestige which narrates two characters (Angier and Borden) who want to succeed as magician by failing each other. Based on it, the formulated problems are; (1) how are Borden’s and Angier’s mimetic desire portrayed in Christopher Priest’ The Prestige? And (2) what are the impacts of their mimetic desire toward the conflicts between Borden and Angier in Christopher Priest’ The Prestige? To support the answer, the used theory is Girard’s Mimetic Desire. In the method, the approach is objective, the data collection is documentation (quoting), and the analysis is critical interpretation. It can be seen clearly that Borden wants to see Angier fails behind his desire to be success. On the other side, Angier wants to see Borden fails behind his desire to be success. In the beginning, Borden and Angier are magician, for Borden, Angier is the mediator to lead him to success, so is Angier. But, the situation changes, the mediator turns to be the obstacle for subject to reach the object and it makes the subject thinks that the mediator is the rivalry. Here, both Borden and Angier always blame each other and look for each failure. From those all, it concludes that Borden and Angier fail each other to be success although in the beginning, they appreciate each other. It means that desire changes from imitating to rivalry Keyword: Mimetic, Desire, rivalry, Angier, and Borden. ABSTRACT Masalah pada hasrat sebenarnya adalah bagaimana menggunakan objek untuk menganggu kondisi termurni subjek, meniru apa yang orang lain hasrati. Hasrat meniru ini menempatkan persaingan yang terlihat jelas muncul dalam novel The Prestige karya Christopher Priest yang mana dalam novel ini menceritakan dua karakter (Angier and Borden) yang ingin sukses menjadi seorang pesulap dengan menjatuhkan satu sama lain. Berdasarkan hal tersebut , rumusan masalahnya adalah; (1) Bagaimana Hasrat meniru Borden dan Angier digambarkan dalam novel The Prestige karya Christipher Priest? (2). Apa dampak hasrat meniru mereka terhadap konflik antara Borden dan Angier dalam novel The Prestige karya Christopher Priest? Untuk mendukung jawaban dari rumusan masalah tersebut, teori yang digunakan adalah Teori Hasrat Meniru Girard. Dalam motode penelitannya mengunakan pendekatan objektif, pengumpulan data dengan dokumentasi (mengutip) dan analisis dengan interpretasi kritis. Hal ini bisa terlihat jelas bahwa Borden ingin melihat Angier gagal di balik hasratnya ntuk menjadi sukses. Pada mulanya, Borden dan Angier adalah pesulap, bagi Borden, Angier adalah mediator untuk menuntunnya meraih kesuksesan, begitu juga Angier. Tetapi situasi berubah, mediator berubah menjadi penghambat bagi subjek untuk mendapatkan objek dan hal tersebut membuat subjek berfikir bahwa mediator adalah persaingan. Disini, Borden dan Angier selalu menyalahkan satu sama lain dan mencari kegagala masing-masing. Dari semua hal itu, dapat disimpulkan bahwa Borden dan Angier menjatuhkan satu sama lain untuk menjadi sukses, meskipun pada awalnya , mereka mengharga satu sama lain. Hal ini berarti hasrat berubah dari meniru menjadi rivalitas. Kata kunci: Mimesis, Hasrat, Rivalitas, Angier, and Borden.
Conspicuous Consumption in Lauren Weisberger’s The Devil Wears Prada
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 4 (2017): Vol 5 Nomor 4 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i4.21588

Abstract

Abstrak Penelitian ini berjudul konsumsi barang mewah oleh Miranda Priestly di novel karya Lauren Weisberger The Devil Wears Prada. Penelitian ini menganalisis tentang konsumsi barang mewah dari pemeran utama karena posisinya sebagai pemimpin perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perilaku Miranda Priestly dalam mengkonsumsi barang mewah dan menganalisis dampak apa saja yang terjadi pada orang di sekitar Miranda Priestly. Teori yan digunakan penelitian ini adalah teori kelas mewah dari Thorstein Veblen . Karakter utama yaitu Miranda Priestly yang menunjukan perilaku dalam mengkonsumsi barang-barang mewah. Hal ini adalah cara Miranda untuk menunjukkan kedudukan kelas nya di masyarakat. Cara itu adalah konsep Thorstein veblen yang di tunjukkan di konsumsi barang mewah yang merupakan bagian dari kelas bewah. Data ini diambil dari narasi dan dialog yang berhubungan dengan konsumsi barang mewah terhadap Miranda. Data utama dianalisis sesuai dengan data pendukung yang diambil dari buku, esai, artikel, dan tulisan yang lainnya yang berhubungan dengan topic dalam penelitian ini. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Dengan menganalisis The Devil Wears Prada dapat dilihat bahwa kehidupan Miranda Priestly sebagai seorang manager dari majalah fashio terkemuka sangatlah glamour . Dia mengonkumsi barang-barang mewah, mempunyai lifestyle yang tinggi untuk memperlihatkan dan mempertahankan kelasnya sebagai kaum kaya. Dia mempunyai dua asisten yang selalu memenuhi segala keperluan nya . Gaya hidup Miranda yang bak tuan putri memberikan dampak terdahap orang disekitarnya termasuk asisten baru pribadinya, Andrea. Dia adalah seorang perempuan lulus terbaru dari univeritas Brown. Andrea medapatkan efek dari kehidupan Miranda yang glamor. Kehidupannya berubah setelah menjadi asisten dari seorang menejer majalah papan atas . Kata Kunci: Miranda Priestly, Konsumsi Barang Mewah, dan Kelas tinggi Abstract This thesis is entitled “Conspicuous Consumption of Miranda Priestly in Lauren Weisberger’s The Devil Wears Prada”. This thesis analyzes the main character’s conspicuous consumption because of Miranda’s position as employer in her company. The purposes of this thesis are to identify Miranda’s conspicuous consumption and to effect of Miranda’s conspicuous consumpiton to others character in Lauren Weisberger The Devil Wears Prada. This thesis uses theoretical framework of leisure class by Thorstein Veblen.The main character, Miranda Priestly , tries to show her habit of consuming wealhy goods.. The main data in the forum of narration and dialog related to The Conspicuous Consumption of Miranda Priestly. The data is analyzed by applying the theoretical framework of Leisure Class in Concpicuous Consumption.By analyzing the novel The Devil Wears Prada, it is found out that the lifestyle of Miranda Priestly as a manager of fashion magazine is glamour. She comsumes luxurious things, has high lifestyle to showing and defending her position as a leisure class. She has two assitants who always escort her to fulfill her needs. The lifestyle of Miranda is like a queen which gives an effect to others. Andrea, Miranda’s assistant is a fresh graduate from Brown University. She gets an effect of Miranda’s lifestyle. Her life is totally changed after being an Miranda’s assistant. Key words: Miranda Priestly, Conspicuous Consumption, Leisure Class.
GUILT AND REDEMPTION OF ELLEN GRAHAM IN EMILY GIFFIN’S LOVE THE ONE YOU’RE WITH
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 4 (2017): Vol 5 Nomor 4 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i4.21589

Abstract

Abstrak Penelitian ini berfokus mengenai penggambaran yang digunakan oleh Emily Giffin tentang rasa bersalah yang dialami oleh pemeran utama dalam Love The One You’re With, Ellen Graham yang keliru dalam penuturan maupun pilihan sehingga membuatnya dihantui oleh rasa bersalah. selain itu, penelitian ini juga berfokus mengenai penjelasan Emily Giffin tentang penebusan rasa bersalah yang dialami oleh pemeran utama karena ingin membuang rasa bersalahnya yang selalu menghantuinya. Rasa bersalah dan penebusan dosa adalah dua kata yang saling melengkapi dan saling membantu dalam membangun karakter seseorang. Setiap orang pasti memiliki kebiasaan dan sikap yang tidak sama, bisa saja kebiasaan dan sikap mereka buruk yang bisa mengakibatkan seseorang merasa tidak nyaman dan bisa juga tersakiti karena ulah mereka. mereka harus menebus kesalahan mereka dengan melakukan berbagai cara agar mendapatkan maaf dari orang yang telah tersakiti. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskritif kualitatif dan menggunakan beberapa kosep untuk mengungkapkan rasa bersalah dan penebusan kesalahan yaitu dari Baumeister dan Hawkins. Analisa data yang didapatkan dalam penelitian ini menunjukan bahwa rasa bersalah yang dialami oleh pemeran utama sangat bisa ditebak melalui perbedaan emosi,prilaku, kesadaran, dan sifat berubah setelah merasa bersalah. Hal yang sama juga berlaku untuk penebusan kesalahan yang dilakukan oleh pemeran utama dengan meminta maaf yang disertai oleh emosi,prilaku, kesadaran, dan sifat yang lebih dikontrol. Alhasil, rasa bersalah tidak akan terjadi ketika seseorang bisa mengontrol hati dan pikirannya ketika melakukan sesuatu dan berbicara sesuatu. Sejurus itu, meminta maaf adalah salah satu jalan untuk menebus kesalahan supaya tidak akan terjadi kesalahan dimasa akan datang lagi dan tidak akan merasa terpuruk untuk berintekasi kepada masyarakat. Kata Kunci: Rasa bersalah, Penebusan, Karakter Utama, Emosi, Sikap Abstract This study focused to Emily Giffin depicted Ellen Graham’s guilt feeling in Love The One You’re With which was wrong to speech or to choose the right choice in her life. Besides, in this study, Emily Giffin wanted to explain about the redemption in Ellen Graham guilty feeling that always haunted her every time. In fact, guilt and redemption were the two words that match with each other and help to build human personality. Several people should have different behaviors, it could be happen when someone had bad behavior and attitude then they make other people would be feel uncomfortable or they would be hurt because of the bad behavior and attitude. The bad behavior and attitude person should make redeem by doing a variety ways to get an apology from people who have been hurt. The method used in this study was descriptive qualitative and used several concepts to describe the guilt feeling and reveal the redemption by using Baumeister and Hawkins concepts. This study found out that the guilty in the main character was easy captured through the difference of emotion, behavior, consciousness, and attitude which was changed after getting the guilty feeling. The same thing happened to Ellen’s redemption that should make apologize to people she hurt which was accompanied by more controlled emotion, behavior, consciousness, and attitude. As a result, guilty feeling would not happen when the main character could handle her emotion and attitude during interact with society. Then, apologize was the another way to fix redemption till the same things would not be happen again and would not be slumped person when interacted with the society. Keywords: Guilt, Redemption, Main Character, Emotion, Attitude
DEATH INSTINCT AND AGGRESSION IN SYLVIA PLATH’S SELECTED POEMS
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 4 (2017): Vol 5 Nomor 4 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i4.21611

Abstract

Abstrak Kematian merupakan kenyataan yang menakutkan bagi makhluk hidup sebagai akhir dari kehidupan di muka bumi. Setiap makhluk hidup memiliki ketetapan usia masing-masing namun dalam keadaan tertentu kematian bisa datang lebih cepat dari yang seharusnya. Insting kematian muncul dalam pemikiran manusia sebagai akibat dari alam bawah sadar manusia yang memegang peranan penting dalam kelangsungan hidup manusia. Insting kematian adalah teori yang dikenalkan oleh Sigmund Freud untuk menjelaskan keinginan manusia yang mendambakan kematian dalam hidupnya (Beyond The Pleasure Principle 1920). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan indikasi-indikasi yang mengarah pada insting kematian dalam beberapa puisi Sylvia Plath dan mencoba untuk menemukan bentuk-bentuk aggression (suatu keinginan untuk bertindak kekerasan pada diri sendiri atau orang lain) dalam puisi-puisi tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini diambil “The Collected Poems-Sylvia Plath edited by ted Hughes (1817)”. Ada tiga puisi yang diambil dalam penelitian ini, Edge, Cut dan I am vertical (Sylvia Plath). Dari puisi-puisi ini konsep dari Insting kematian dalam puisi-puisi Sylvia Plath terlihat jelas dari pemilihan kata yang digunakan oleh penulis. Bentuk-bentuk aggression yang didapat dalam puisi-puisi Sylvia Plath mengarah pada aggression seperti depresi, kehancuran, bunuh diri dan putus asa yang mengarah pada self-aggresion(aggression yang mengarah pada diri sendiri). Keywords: Alam Bawah Sadar, Insting Kematian, Aggression, Sylvia Plath. Abstract Death is a horrifying precision that every living creature will face as the end of life in this world. Every creature has its own lifetime but in certain conditions, death can come faster than it should be. The desire for death arises in the human mind because the effects of unconsciousness part that hold the most important role in the human behaviors. Death instinct is the concept that Sigmund Freud used to explain the wishes for death in human mind (Beyond The Pleasure Principle 1920). Moreover, the purposes of the study are to find the indication of the death instinct and the form of aggression in Sylvia Plath’s selected poems. Likewise, the data is taken from “The Collected Poems-Sylvia Plath edited by Ted Hughes (1817)”. There will be three poems that use to analyze in this study; Edge, Cut and I am vertical. The researcher found the indication of the death instinct concept in Sylvia Plath’s poems through the highlight in the dictions. The form of aggression that reveals from Sylvia Plath poems directs to death instinct like depression, despair, suicidal and hopeless which see as self-aggression. Keywords: Unconsciousness, Death Instinct, Aggression, Sylvia Plath.
Josephine’s Effort to be a Woman Writer in Louisa May alcott’s Little Women:Liberal Feminist Perspective
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 6 No 1 (2018): Vol 6 Nomor 1 (2018)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v6i1.22502

Abstract

Abstract This study aims at revealing the traditional women values reflected in Victorian era and how Josephine resist the traditional values of women to be a woman writer in Louisa May Alcott’s Little Women.This literary study employs the concept of liberal feminist theory which dedicate to Josephine character and being an opposite figure as an ideal woman in her society. The main data of this study were taken from Little Women novel in the form of quotation that represents the problems of the study. Based on the analysis, this study reveals that in order to pursue her dream Josephine demonstrated her resistance towards the traditional women’s values such as piety, purity, submissiveness and domesticity. Her resistance also showed her different characteristics as a real lady as a stereotype in her society. Her being different in personality also influenced herself to be a woman writer. Keywords: Feminism, Liberal Feminism, Patriarchal, Victorian Era, and Woman Writer. Abstrak Tujuan ditulisnya studi ini adalah untuk mengungkapkan nilai-nilai tradisional perempuan yang tercermin dalam era Victoria dan bagaimana Josephine menolak nilai-nilai tradisional perempuan agar dapat diterima sebagai seorang penulis wanita di Little Women yang ditulis oleh Louisa May Alcott. Studi ini menggunakan konsep teori feminisme liberal yang mendedikasikan karakter Josephine dan menjadi sosok yang berlawanan sebagai wanita ideal dalam masyarakat itu. Data utama penelitian ini diambil dari novel Little Women dalam bentuk kutipan yang mewakili permasalahan penelitian. Berdasarkan hasil analisis, penelitian ini menunjukkan bahwa: Untuk mengejar mimpinya, Josephine menunjukkan perlawanannya terhadap nilai-nilai tradisional wanita seperti kesalehan, kemurnian, ketaatan dan kerumahtanggaan. Perlawanannya juga menunjukkan karakteristiknya yang berbeda sebagai wanita ideal yang dimerupakaan stereotype di masyarakatnya. Perbedaan kepribadiannya juga mempengaruhi dirinya untuk menjadi seorang penulis wanita. Kata kunci: Feminisme, Feminisme Liberal, Patriarkal, Era Victoria, Penulis Wanita.
WHITE PEOPLE’S RACIAL DISCRIMINATION IN KATHRYN STOCKETT’S THE HELP
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 6 No 1 (2018): Vol 6 Nomor 1 (2018)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v6i1.22503

Abstract

Abstract Racial discrimination occurs almost every day in the world. Generally, it can cause conflict and destroy the reconciliation of human beings. Racial discrimination can be defined as a different treatment given to certain individual or group. This action tends to differentiate human beings based on their races. Discrimination always has negative connotative issues in African America life and history. The discrimination towards African Americans happens when white people resist against black people. Moreover, the discrimination of the African Americans happens in many aspects of life.The purpose this study is to analyze how racial discrimination happened in the African American society; the racial discrimination upon black people by white people and how black people resist the racial discrimination in Kathryn Stockett’sThe Help.The racial discrimination which had been done by white people is the main topic for this research. It is based on the phenomenon of discrimination which happened in the society. The racial discrimination in the story shows how white people underestimate black people in terms of housework chores, education, and issues on racism or skin colors. Keywords : Racial Discrimination, African American Abstrak Diskriminasirasialhampirterjadisetiaphari di dunia. Padaumumnya, hal itu dapat menyebabkan konflik dan permusuhan antar manusia. Diskriminasi rasial dapat diartikan sebagai perlakuan menyimpang yang diberikan suatu individu atau kelompok kepada suatu kaum tertentu. Perlakuan ini ditujukan kepada suku atau ras tertentu. Diskriminasi selalu memiliki citra buruk dalam sejarah kehidupan bangsa Afrika Amerika.Diskriminasi rasial selalu terjadi ketikabangsa kulit putih menindas bangsa kulit hitam.Hal itu sendiri terjadi dalam beberapa aspek kehidupan.Tujuan dari skripsi ini adalah untuk mengalaisa bagaimana fenomena diskriminasi rasial terjadi dalam kehidupan bangsa Afrika Amerika :Diskriminasi rasial yang dilakuhkan oleh bangsa kulit putih kepada kulit hitam dalam novel The Helpkarya Kathryn Stockett.Diskriminasirasialmerupakantopikutamadalamperbahasan. Analisis yang dilakuhkanberdasarkanfenomenadiskriminasi yang terjadi di masyarakat.Diskriminasirasial yang dilakuhkan di masyarakatadalahsepertidalambidangkehidupandirumah, pendidikansertaisu negative tentangsukuataurastertentu. Kata Kunci :DiskriminasiRasial, AfrikaAmerika