cover
Contact Name
Ali Mustofa
Contact Email
alimustofa@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alimustofa@unesa.ac.id
Editorial Address
The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya T4 Building, 2nd floor Lidah Wetan Campus Surabaya 60213
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Litera Kultura
ISSN : -     EISSN : 23562714     DOI : -
Litera Kultura : Journal of Literary and Cultural Studies accepts articles within the scope of Literature and Cultural Studies. The journal is published three times in a year: April, August, and December.
Articles 362 Documents
REVEALING ALIF’S NEED OF ACHIEVEMENT IN AHMAD FUADI’S THE LAND OF FIVE TOWERS
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i2.19266

Abstract

ABSTRACT The Need of the achievement is one of the goals of which can be done by anyone in the scope of the social life of the community. This research focused on the need of achievements Alif against the Land of Five Towers, a foreigner that has the purpose of studying in Madani Pesantren Gontor Ponorogo. This describes how Alif pursues to fulfill his desire in the Land of Five Towers. The purpose of this research is to know the steps that will be in completed by Alif to reach achievements which he wants in the land of Five Towers and know what factors that support the idea. This research uses Achievement thery (need of achievement), as well as the use of n-Ach approach. In addition the study use qualitative methods to analyze the problem, so that they can know the high desire of a main figure which is induced by several factors such as doubt because of limited knowledge of religion, impose discipline habit time, learning to build a family with each other, adapt to the new conditions, independent learning and etc. Therefore, the need of achievements of the author contributing effect on the illustration that has occurred in Madani Pesantren Gontor Ponorogo. Keyword: Need, Achievement, Madani Pesantren ABSTRAK Pencapaian prestasi adalah salah satu tujuan yang bisa dilakukan oleh siapa saja dalam lingkup kehidupan sosial di masyarakat. Penelitian ini difokuskan pada pencapaian prestasi Alif terhadap novel Negeri 5 Menara, seorang pendatang yang mempunyai tujuan menuntut ilmu di Madani Pesantren Gontor Ponorogo. Hal ini mendeskripsikan bagaimana usaha Alif untuk memenuhi keinginannya di dalam novel Negeri 5 Menara. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui langkah-langkah yang akan di lakukan Alif untuk mencapai prestasi yang dia inginkan di dalam Negeri 5 Menara serta mengetahui faktor apa saja yang mendukung gagasan tersebut. Penelitian ini menggunakan konsep Achievement (Pencapaian prestasi), serta menggunakan pendekatan n-Ach. Selain itu penulis juga menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis masalah, sehingga dapat di ketahui keinginan seorang tokoh utama yang sangat kuat di sebabkan oleh beberapa faktor seperti keraguan karena keterbatasan ilmu agama, memaksakan kebiasaan disiplin waktu, belajar membangun kekeluargaan dengan sesama, beradaptasi dengan kondisi yang baru, belajar mandiri dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, pencapaian prestasi pengarang menyebabkan pengaruh terhadap gambaran yang telah terjadi di pondok madani Gontor Ponorogo. Kata Kunci: Kebutuhan, Prestasi, Madani Pesantren
Jay Gatsby’s Hedonism in F. Scott Fitzgerald’s The Great Gatsby
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i2.19371

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menujukkan gambaran hedonisme pada karakter Jay Gatsby dan menunjukkan gambaran kegagalan pada impian orang Amerika. Analisa didasarkan pada hasil penelitian perpustakaan dan pendekatan deskriptif bersamaan dengan data dalam bentuk kata-kata, dialog, ucapan, dan ekspresi yang ada dalam novel. Masalah yang pertamakali diungkap adalah gambaran hedonisme pada Jay Gatsby berdasarkan pada konsep hedonisme Epicureanisme yang dibagi menjadi beberapa tipe hedonism termasuk hedonisme etik, hedonisme psikologis, hedonisme egois, dan hedonisme altruistis. Perumusan masalah disusun karena Jay Gatsby sebagai protagonis utama dalam novel, yang mana menjadi pusat konflik dan komplikasi yang terjadi dalam cerita. Berkembang dibawah bawah masyarakat, Gatsby memimpikan impian orang Amerika, mimpi yang mana dia berpmimpi untuk menjadi oranag yang sukses dan hidup bahagia. Untuk mencapai mimpinya Gatsby bekerja keras, namun saat bertemu dengan Daisy, anak dari kelas sosial atas, konspesi mimpi orang Amerika dia berubah. Gatsby tidak lagi mau bekerja keras sebab Daisy menjadi jalan pintas untuk mencapai impiannya. Gatsby dengan cerobohnya mengikuti hasratnya untuk mendapatkan Daisy dan meninggalkan nilai-nilai moral sebab dia hanya menghargai kepemilikan barang dan uang. Hedonisme membawa pada gaya hidup konsumerisme yang menggambarkan kegagalan pada impian orang Amerika yang akan diungkap pada pembahasan permasalahan kedua dalam penelitian menggunakan susunan deskriptif dari sikap Jay Gatsbyterhadap impian orang Amerika miliknya. Kata Kunci : Hedonisme, Epicureanisme, kenikmatan, Impian orang Amerika Abstract This study proposes the depiction of hedonism through the character of Jay Gatsby and show the depiction of The Failure of American Dream. The analyzing of these ideas is based on the library research and descriptive approach, along with the taken data in the form of words, dialogues, phrases and expression showed in the novel. The first problem revealed is the portrayal of Jay Gatsby’s hedonism according to Epicureanism’ concept of hedonism that further divided into several types of hedonism that includes ethical hedonism, psychological hedonism, egoist hedonism, and altruistic hedonism. Such formulation is compiled because Jay Gatsby is the main protagonist within the novel, who is centered by all the conflict and complication of happenings in the story. Develops under the influence of the society, Gatsby dreams the dream of American dream, and that dream is to become a successful person and live happily. To achieve his dream Gatsby has to work hard. But since his meeting with Daisy, the daughter of high class society, his conception of American dream changes. Gatsby is no longer willing to work hard since Daisy has become his shortcut to gain his dream. Gatsby recklessly follow his desire to get Daisy and abandon the moral value since he only values the material possession and money. The hedonism that leads into consumerism lifestyle has reflected the failure of the American Dream in which will be revealed as the second problem of the study by using the descriptive framework of Gatsby’s attitude toward his American Dream. Key Words: Hedonism, Epicureanism, Pleasure, American Dream
The Symbols of Belief in Dan Brown’s Angels and Demons
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 3 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i3.20587

Abstract

Abstract The study aims to reveal what kind symbols of belief that were depicted by Dan Brown in the novel through the characters perspective. Therefore, this research uses a structuralism theory proposed by Joseph Campbell, The Hero’s Journey concept that had been elaborated by Christopher Vogler, which is to reveal Brown’s ideas through structuralist perspective. This research showed that there are ten symbols of belief, five of them (The Holy Bible, The Cross, Vatican City, The Pope, and Christmas) belong to Roman Catholic Church and the last five (Ambigram, Lucifer, Pyramid, Lingua Pura, and the four elements of science: Earth, Air, Fire and Water) belong to Illuminati brotherhood. Through those symbols of beliefs, it can be concluded that Roman Catholic Church (Religion) and Illuminati brotherhood (Science) are allies even they seek God in different ways. Keywords: Belief, symbol, Catholic Church, Illuminati, Science, Religion. . Abstrak Studi ini bertujuan untuk mengungkap simbol-simbol kepercayaan apa saja yang di gambarkan oleh Dan Brown di dalam novel ini melalui pandangan setiap karakter-karakter yang ada. Oleh karena itu, studi ini menggunakan a theory structural yang di temukan oleh Joseph Campbell, dengan konsep The Hero’s Journey yang mana telah di uraikan oleh Christopher Vogler, bertujuan untuk menguraikan ide-ide Brown melalui cara pandang strukturalis. Penelitian ini menunjukkan bahwa ada sepuluh symbol kepercayaan, lima di antaranya adalah (Kitab Bible, Salib, Vatikan, Paus, and Natal) yang mengarah pada Gereja Katolik Roma dan lima sisanya adalah (Ambigram, Lucifer, Piramid, Lingua Pura, dan empat elemen ilmu pengetahuan: Tanah, Udara, Api, dan Air) yang mengarah para Persaudaraan Illuminati. Melalui symbol-simbol kepercayaan tersebut, dapat di simpulkan bahwa Gereja Katolik Roma dan Illuminati adalah kawan meskipun mereka mencari tuhan dengan cara yang berbeda. Kata Kunci: Kepercayaan, Simbol, Gereja Katolik, Illuminati, Ilmu Pengetahuan, Agama.
Metrosexual Masculinity Performance in Jordan Belfort’s The Wolf of Wall Street ANINDYA KUSUMA WARDANI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 3 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i3.20589

Abstract

Abstrak Berdiskusi mengenai gender akan selalu menemukan topik menarik, baik mengenai pria maupun wanita. Topik yang tak terbatas ini dikarenakan isu mengenai gender selalu berkembang dari waktu ke waktu. Seperti yang didiskusikan pada penelitian dengan judul Metrosexual Masculinity Performance in Jordan Belfort’s The Wolf of Wall Street, maskuliniti pria juga berkembang dari waktu ke waktu. Dari awal bab pada penelitian ini, topik yang diangkat ialah mengenai maskuliniti pria pada abad ke-20 yang disebut metroseksualiti. Tipe maskuliniti yang ditemukan merupakan hasil dari perkembangan maskuliniti. Isu lainnya yang ditemukan dan dibahas pada novel ini ialah perilaku maskulinitas dari pria metroseks. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bagaimana pria metroseksual menunjukkan perilaku metroseksual dan maskuliniti mereka. Mengambil teori dari studi gender dan dekonstruksi, penelitian ini memilih menggunakan teori metroseksualiti dan maskuliniti. Sebagai hasil dari penggunaan kedua teori diatas, penelitian ini menemukan hasil jika pria pada abad ke-20 atau pada tahun 90-an berperilaku selayaknya pria metroseksual. Hal ini dipraktikkan melalui sikap sehari-hari pada diri sendiri maupun orang lain, seperti memperhatikan penampilan, mengetahui dunia fashion dengan baik, dan memiliki sisi feminim. Selain itu, ia juga menikmati kebersamaannya dengan pria dan memiliki kekuatan sebagai bentuk dari sisi maskulinitasnya. Kata Kunci: metroseksualiti, maskuliniti, studi gender. Abstract Discussing about gender will lead finding interesting topics, whether it is about man or women. The never ending topics about gender are mainly because of the gender’s issues always developed from time to time. Similar to what is discussed in this study entitled Metrosexual Masculinity Performance in Jordan Belfort’s The Wolf of Wall Street, man’s masculinity also develops from time to time. From the very beginning of the chapter, this study is bringing the issue about man’s masculinity in the 20th century is called Metrosexuality. This type is the product of masculinity development. While discussing about metrosexuality, there is another issue which is found and discussed in this study, that is the Metrosexual man’s masculinity performance. The purpose of this study is mainly to reveal how metrosexual man performs his metrosexuality and masculinity. Taking the product of gender studies and deconstruction, this study takes metrosexuality and masculinity theory as its theory. As the result, through combining these two methods and theories, this study found that the 20th century or 90s men perform the newest type of masculinity through his daily behavior towards himself and others, such as paying attention to his appearance, knowing fashion better, and having feminine sense, that is called metrosexual masculinity. Besides that, the character also enjoying man company and having power as his action to show his masculinity. Keywords: metrosexuality, masculinity, gender studies.
Soaphead Church’s hypocrisy in Toni Morrison’s The Bluest Eye IMROATUL MUFIDAH
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 3 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i3.20590

Abstract

Abstrak Karya sastra seperti novel adalah cerminan dari masalah sosial. Salah satu permasalahan sosial yang terdapat dalam novel adalah tentang kemunafikan. Melalui karakter Soaphead Church, Toni Morrison menampilkan kemunafikan dalam novelnya berjudul The Bluest Eye. Penelitian ini memfokuskan analisisnya pada karakter Soaphead Church serta penyebab mengapa ia menjadi seorang munafik yang akan dihubungkan dengan factor factor sosial. Sumber data dari penelitian ini adalah novel karya Toni Morrison yang berjudul The Bluest Eye. Data dari penelitian ini adalah kutipan yang diambil dari novel yakni berupa dialog, monolog, dan narasi yang berhubungan dengan topic diskusi. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi untuk menemukan hubungan antara aspek sosial dan kemunafikan Soaphead Church. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan jika Soaphead Church menjadi seorang munafik sejak dia dijuluki sebagai seorang pendeta oleh masyarakat. Soaphead Church mengalami beberapa jenis kemunafikan yakni kemunafikan dalam penampilan, Kemunafikan dalam konsistensi. Dia juga bisa disebut sebagai seorang munafik yang tidak jujur secara internal, dan munafik yang tidak jujur secara eksternal. Julukan yang diberikan oleh masyarakat kepada Soaphead Church memberikan dia tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga harapan masyarakat kepadanya. Dia tidak diharapkan untuk melakukan kesalahan kesalahan karena itu akan menghancurkan reputasinya di masyarakat. Kata Kunci: Soaphead Church, Kemunafikan, Masyarakat, The Bluest Eye, Toni Morrison Abstract Literary works such as novel is a reflection of social problems. One of the social problems in the novel is hypocrisy. Through the Soaphead Church’s character, Toni Morrison put the hypocrisy in her novel entitled The Bluest Eye. This study is focused on the Soaphead Chuch’s character and the cause that leads him to be hypocrite related to sociological factors. The data source is Toni Morrison is novel entitled The Bluest Eye. The data are quotations taken from the novel which are in the form of dialogue, monologue, and narration that related with the topic. This study is using sociological approach to find the relation between social aspect and the hypocrisy of Soaphead Church. From this study, it is found that Soaphead Church has become hypocrite since he was considered as a clergyman by society. Soaphead Church is experienced some kinds of Hypocrisy such as hypocrisy of Pretense, Hypocrisy of Inconsistency. He also may call as Dishonest Internal Hypocrites and Dishonest External Hypocrites. The society consideration towards him leads him to be hypocrites because the consideration as a Soaphead Church gives him bigger responsibility to hold people’s expectation towards him. He may not allow to does any mistakes because it will ruin his reputation in society. Keywords: Soaphead Church, Hypocrisy, Society, The Bluest Eye, Toni Morrison
The Psychopathic Character of Carl in Joyce Carol Oates’ Tone Clusters LIDIYA RACHMAWATI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 3 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i3.20591

Abstract

Abstrak Psikopat adalah salah satu dari banyak penyakit mental yang selalu menarik untuk diikuti oleh masyarakat. Isu tentang pembunuhan sadis yang menunjukkan tanda-tanda karakter psikopat di awal tahun 2016 dipilih sebagai topik untuk diulas dalam penelitian ini. Salah satu karya sastra asal Amerika yang menggambarkan isu ini adalah drama berjudul Tone Clusters yang ditulis oleh Joyce Carol Oates. Karakter psikopat yang digambarkan dalam drama ini bernama Carl, yang berperan sebagai narapidana tertuduh dalam pembunuhan sadis seorang gadis berusia empat belas tahun. Penelitian ini difokuskan pada penggambaran sifat kepsikopatan Carl dan penyebap dari penyakit psikopat itu sendiri. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori psikopat yang dikemukakan oleh Hervey Cleckley. Melalui pendekatan psikoanalisis, data diambil dari transkrip drama Tone Clusters yang ada dalam buku berjudul Introduction to Literature: Prose, Poetry, Drama yang ditulis oleh Barnet. Data dipilah berdasarkan konsep yang ditulis Cleckley mengenai 16 ciri-ciri dari psikopat. Kemudian data dianalisa demi mendapatkan pemahaman lebih dalam tentang karakter Carl. Penelitian ini menemukan bahwa Carl memiliki tiga belas dari enam belas ciri-ciri psikopat. Kepsikopatan Carl disebabkan oleh adanya kombinasi dari faktor genetik dan pengalaman buruknya di masa lalu sehingga memicu sifat agresif yang membahayakan. Karena penyebab-penyebab inilah, Carl menjadi pembunuh sadis yang dianggap memiliki gangguan mental berupa psikopati. Kata Kunci: Psikopat, Psikopati, Tone Clusters, Gangguan Mental, Joyce Carol Oates Abstract Psychopath is the one of the mental disorder that always be interesting to be follow in society. The issue about the sadistic homicide that showing the symptoms of psychopathic character in the early 2016 is chosen for the topic to be reviewed in this study. One of the American literary work that depicting this issue is Tone Clusters written by Joyce Carol Oates. The psychopathic character in this drama is depicted by Carl as a convict charged in savage slaying of fourteen years old girl. This study is focused on the depiction of Carl psychopathic and the causes of his psychopaty. The theory that used in this study is the theory of psychopath by Hervey Cleckley. By using the psychoanalysis approach data were taken from the transcript of the drama Tone Clusters in a book entitled Introduction to Literature: Prose, Poetry, Drama written by Barnet. The data were classified based on the Cleckley’s concept about 16 traits of psychopath. Then the data were analyzed to get deeper understanding about Carl’s character. This study found that Carl has thirteen of sixteen characters of psychopath. Carl’s psychopathic is caused by the combination of genetic factors and his bad experiences in the past that trigging his dangerous aggressiveness. Because of these causes, Carl became the sadistic killer that reputed has mental disorder as a psychopath. Keywords: Psychopath, Psychopathy, Tone Clusters, Mental Disorder, Joyce Carol Oates
Confrontation of the Animals against Totalitarianism in George Orwell’s Animal Farm RAVENSCA ADI NINGGAR
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 3 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i3.20592

Abstract

Abstrak Totalitarianisme adalah salah satu masalah politik sosial yang terdapat dalam karya sastra seperti novel. Napoleon sebagai pemimpin dalam Animal Farm karya George Orwell adalah tokoh yang merefleksikan masalah politik sosial yaitu totalitarianisme. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan totalitarianisme dan konfrontasi terhadapnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi politik. Data diperoleh dari novel Animal Farm yang ditulis oleh George Orwell (1945). Data yang diperoleh diklasifikasi, dianalisis, dan ditafsirkan untuk mendapatkan pemahaman yang dalam tentang hewan-hewan yang berkonfrontasi terhadap totalitarianisme yang dipimpin oleh Napoleon. Untuk meneliti deskripsi totalitarianisme dalam Animal Farm, penelitian ini menggunakan teori totalitarianisme oleh Carl J. Friedrich dan Zbigniew Brzezinski. Penelitian ini juga menggunakan konsep konfrontasi oleh Einav Dinur untuk mengungkap bagaimana hewan-hewan berkonfrontasi terhadap totalitarianisme. Dari penelitian ini, ditemukan bahwa Napoleon menggunakan sistem totalitarian dalam kepemimpinannya dan memberikan beberapa peraturan untuk mengatur hewan-hewan lain sebagai masyarakat. Karena keserakahannya, ia membuat hewan-hewan menjadi lebih sengsara dari sebelumnya. Karena itu, untuk menghadapi konflik, hewan-hewan mengkonfrontasi sistemnya dalam tiga cara yaitu, melawan, berlari, dan bertahan. Kata Kunci: totalitarianisme, konfrontasi, studi politik. Abstract Totalitarianism is one of the social political problem that is consists in the literary works such as novel. Napoleon as the leader in George Orrwell’s Animal Farm is the character that reflects social political problem, totalitarianism. This study is aimed to describe totalitarianism and the confrontation against it. This study is using the descriptive qualitative method with political sociology approach. The data were taken from the novel Animal Farm written by George Orwell (1945). The taken data were classified, analyzed and interpreted to get the deeper understanding about the animals’ confrontation against totalitarianism led by Napoleon. To investigate the description of totalitarianism in Animal Farm, this study using the theory of totalitarianism by Carl. J. Friedrich and Zbigniew Brzezinski. This study is also using the concept of confrontation by Einav Dinur to reveal how the animals confront against totalitarianism. From this study, it is found that Napoleon using totalitarian system in his leadership and give some rulesfor managing other animals as the society. Because of his greedy, he makes the animals become more miserable than before. Because of that, to face the conflict, the animals confront his system in three ways, they are hit, run, and stand. Keywords:totalitarianism, confrontation, political studies.
Grenouille’s Obsessions in Patrick Suskind’s Perfume: the Story of a Murderer RETNO WAHYU P
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 3 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i3.20593

Abstract

Thompson’s Self-Efficacy in Katherine Anne Porter’s Noon Wine NIA KURNIA SARI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 3 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i3.20594

Abstract

Abstract Every person has different state of psyche especially the state of self-efficacy. Self-efficacy is a person’s belief that he has capability to do a particular task. In Noon Wine, Thompson, as the main character, plays a significant role because when interacts with the environment, his self-eficacy leads to his guilt. The aims of this study are to portray Thompson’s self-efficacy in Katherine Anne Porter’s Noon Wine and to reveal the way Thompson’s “L-UR” leads to his guilt. This study is literary study which applies the concept of self-efficacy by Albert Bandura and the concept of guilt by Gershon M. Breslavs. Those concepts are well applied to answer the statement of the problems. Based on four sources of self efficacy by Bandura, Thompson is indicated as low self-efficacy. Thompson who has low self-efficacy, unfortunately, has to interact in unresponsive environment so that based on six factors which influence the subject matter and the duration of guilt by Breslav, Thompson suffers a long-term or chronic guilt caused by his low self-efficacy. Keywords: self-efficacy, guilt, Noon Wine Abstrak Setiap orang memiliki kondisi kejiwaan yang berbeda khususnya kondisi self-efficacy. Self-efficacy adalah kepercayaan seseorang bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Dalam Noon Wine, Thompson, sebagai tokoh utama, memainkan peran penting karena ketika berinteraksi dengan lingkungan, Self-efficacy-nya menyebabkan rasa bersalah baginya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan self-efficacy Thompson dalam novela Noon Wine karya Katherine Anne Porter dan untuk mengungkap bagaimana “L-UR” Thompson menyebabkan rasa bersalah baginya. Penelitian ini adalah penelitian kesusasteraan yang menerapkan konsep self-efficacy dari Albert Bandura dan konsep rasa bersalah dari Gershon M. Breslavs. Konsep-konsep tersebut diterapkan dengan baik untuk menjawab rumusan masalah. Berdasarkan empat sumber self-efficacy dari Bandura, Thompson diindikasikan memiliki self-efficacy rendah. Thompson, yang memiliki self-efficacy rendah, malangnya, harus berinteraksi dalam lingkungan yang apatis sehingga berdasarkan enam faktor yang mempengaruhi pokok permasalahan dan durasi rasa bersalah dari Breslav, Thompson mengalami rasa bersalah jangka panjang atau rasa bersalah kronis yang disebabkan oleh self-efficacy-nya yang rendah. Kata Kunci: self-efficacy, rasa bersalah, Noon Wine
Troy Maxson’s Extroversion In August Wilson’s Fences PRITA DYAH NINDITA
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 3 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i3.20595

Abstract