cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
yudihendrilia@gmail.com
Phone
+628112900177
Journal Mail Official
yudihendrilia@gmail.com
Editorial Address
Ungaran, Semarang - Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
ISSN : 26859718     EISSN : 26859726     DOI : -
Core Subject : Education,
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2021)" : 12 Documents clear
Dampak Pandemi Covid-19 yang Membawa Pengaruh Individualistik dan Implikasinya Bagi Orang Percaya Masa Kini Baskoro, Paulus Kunto
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.505 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i2.119

Abstract

The Covid-19 pandemic has brought about extraordinary changes. No one in this world thought that the Covid-19 pandemic would occur. The occurrence of Covid-19 has brought about an essential and fundamental change in human life. Dratic changes occurred in the health sector, then had a strong impact on education, business economics and even families. The general impact cannot be denied to be negative. And the biggest effect of Covid-19 is the individualistic behavior of people during the Covid-19 pandemic.People tend to focus on themselves because Covid-19 has made the distance even further in terms, especially social relationships. Even the biggest reason for living individually is so as not to catch the Covid-19 virus. This is completely irrelevant to the most essential human needs, namely to socialize and humans were created by God as social beings. And from the point of view of the truth God’s Word is very inaccurate. This writing uses the method of descriptive literature. The goal is that through writing, First, to clarify the impact of Covid-19 which has an individualistic influence on everyone; Second, to find put the individualistic influence on everyone during the Covid-19 pandemic from the results of the writing; Third, providing theological implications of the attitude of believers to always live as a blessing during the Covid 19 pandemic.AbstrakPandemi Covid-19 membawa perubahan yang luar biasa. Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang menyangka pandemi Covid-19 terjadi. Terjadinya Covid-19 membawa dampak perubahan secara esensi serta mendasar dalam kehidupan umat manusia. Perubahan dratis terjadi dalam bidang kesehatan, kemudian berimbas kuat di bidang pendidikan, bidang ekonomi bisnis bahkan keluarga. Dampak secara umum tidak bisa dipungkiri terjadi secara negatif. Dan efek terbesar dari Covid-19 adalah perilaku individualistik orang di masa pandemi Covid-19. Orang cenderung fokus kepada diri sendiri karena Covid-19 membuat jarak makin jauh dalam secara sisi, khususnya hubungan sosial. Bahkan alasan terbesar untuk hidup secara individualistik adalah supaya tidak tertular virus Covid-19. Hal ini sangat tidak relevan dengan kebutuhan manusia yang paling esensi, yaitu bersosialisasi dan manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial. Dan dipandang dari sisi kebenaran Firman Tuhan sangat tidak tepat. Penulisan ini menggunakan metode deskritif literatur. Tujuannya supaya lewat penulisan yaitu Pertama, untuk mengklarifikasi dampak Covid-19 yang membawa pengaruh individualistis kepada setiap orang; Kedua, untuk mengetahui pengaruh individualistis pada setiap orang di masa pandemi Covid-19 dari hasil penulisan; Ketiga, memberikan implikasi teologis sikap orang percaya untuk selalu hidup menjadi berkat dalam masa pandemic Covid 19.
Melayani Tuhan di Tempat Kerja Sugiyarto, Iskak
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.123 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i2.112

Abstract

The adaptation of new habits due to the corona virus pandemic applies to the world community and Indonesia. Adaptation affects the relationship between individuals, so that the pattern of interaction in society requires adjustment. This is no exception for churches and Christian institutions in service to the congregation and to society. Service models with the old approach - especially before the corona virus pandemic - need to be evaluated to find patterns that fit the community in this new normal. Therefore, this study wants to find out how churches and Christian institutions should serve in adapting new habits during this corona virus pandemic? How does the church involve a congregation of mostly lay and secular workers serving in the world of work? By using a study of literature or literature, it is expected to find a pattern of church service (eklesia) that is in accordance with the conditions of today's society. From literature studies and previous research, it was found that a growing church is a church that does not only rely on "the robed people", but involves all lay people, namely "secular workers" to serve routine activities within the church, as well as services outside the church ( workplace).AbstraksiAdaptasi kebiasaan baru akibat pandemi virus korona berlaku bagi masyarakat dunia dan Indonesia.  Adaptasi itu mempengaruhi hubungan antar individu,  sehingga pola interaksi di masyarakat yang perlu adanya penyesuaian.  Hal ini tidak ada pengecualian bagi gereja dan lembaga-lembaga Kristen dalam pelayanan kepada jemaat serta kepada masyarakat.  Model-model pelayanan dengan pendekatan lama - secara khusus sebelum pandemi virus korona - perlu dievaluasi untuk menemukan pola yang sesuai dengan masyarakat di new normal ini.  Oleh sebab itu, penelitian ini ingin mencari tahu bagaimana gereja dan lembaga-lembaga Kristen seharusnya melayani pada adaptasi kebiasaan baru saat pandemi virus korona ini?  Bagaimana gereja melibatkan jemaat yang umumnya kaum awam dan pekerja sekuler melayani di dunia kerja? Dengan menggunakan studi literatur atau kepustakaan diharapkan menemukan pola pelayanan gereja (eklesia) yang sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini.  Dari studi literatur dan penelitian sebelumnya ditemukan bahwa gereja yang bertumbuh adalah gereja yang tidak hanya mengandalkan “kaum berjubah”, melainkan melibatkan semua kaum awam, yaitu para “pekerja sekuler” untuk melayani kegiatan-kegiatan rutin di dalam gereja, serta pelayanan di luar gereja (tempat kerja). 
Metode Jigsaw dan Penerapannya di Dalam Kelas Suprihati, Wahyu
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.022 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i2.120

Abstract

The jigsaw method is one of the methods in cooperative learning. The jigsaw method was developed by Elliot Aronson and his colleagues from the University of Texas, then adapted by Robert Slavin and colleagues. The application of the jigsaw method in the classroom is to train students to learn to be responsible and work together, meaning that students do not only focus on themselves, but on one another. On the other hand, students learn to understand the material, on the other hand, students learn to socialize by teaching their friends who do not understand. Using descriptive qualitative methods with a literature study approach, it can be concluded that: Teachers have a big role and responsibility in carrying out learning activities with this method. The success and failure of learning activities, depending on the readiness and hard work of teachers in controlling and guiding the implementation of learning. If everything is packaged and presented properly, then the results are good.Abstrak Metode jigsaw merupakan salah satu metode dalam pembelajaran kooperatif. Metode jigsaw dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawan dari Universitas Texas, kemudian diadaptasi oleh Robert Slavin dan kawan-kawan Penerapan Metode jigsaw di dalam kelas adalah untuk melatih siswa belajar bertanggung jawab dan bekerja sama artinya bahwa siswa tidak hanya fokus pada dirinya sendiri, disatu sisi siswa belajar memahami materi disisi lain siswa belajar bersosialisasi dengan cara mengajarkan temannya yang belum mengerti.mengunkan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkan bahwa:  Guru mempunyai peran dan tanggung jawab yang besar dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan metode ini. Keberhasilan dan kegagalan kegiatan pembelajaran, tergantung pada kesiapan dan kerja keras pengajar dalam mengendalikan serta membimbing pelaksanaan pembelajaran. Jika semua dikemas dan disajikan dengan baik, maka hasilnya pun baik.
Konsep Melawan Dosa Menurut Nikodemus Dari Gunung Kudus dan Impikasinya Bagi Orang Percaya Masa Kini Gulo, Reni; Hendi, Hendi
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.718 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i2.113

Abstract

The concept of Fighting Sin According to Nicodemus of the Holy Mountain. This article discusses how to fight sin in 3 ways, namely guarding the sense, guarding the mind and guarding the heart. This article uses analytical methods and applications as well as literature review based on the views of Nicodemus in his book “Nicodemus of the Holy Mountain A Handbook Of Spiritual Counsel” and is supported by the opinions of leading figures and interacting with the fathers of the Church and the Bible so as to guide at perfection. There are three ways to fight sin, first, taking care of the sense give one the ability to keep one’s body from being polluted by temptations or worldly things that result in sinful acts which result in sinful acts that enter through the five sense.  Second, through guarding one’s mind one can control oneself from evil thoughts that generate lust by constantly directing one’s mind to spiritual and benevolent matters. Third, by taking care of one’s heart one can eep his heart from being polluted with evil deeds and sins. These three methods to help everyone to fight against the desires of the flesh or lust which can produce sin and lead to death. AbstrakKonsep Melawan Dosa Menurut Nikodemus Dari Gunung Kudus. Artikel ini membahas tentang cara melawan dosa melalui 3 cara yakni menjaga indra, menjaga pikiran dan menjaga hati. Artikel ini menggunakan metode analistis dan aplikasi serta kajian kepustakaan berdasarkan pandangan Nikodemus dalam bukunyaa “Nicodemos of the Holy Mountain A Handbook Of Spiritual Counsel” dan didukung dengan pendapat-pendapat dari para tokoh-tokoh serta berinteraksi dengan para bapa-bapa Gereja dan Alkitab sehingga menuntun pada kesempurnaan. Tiga cara untuk melawan dosa yaitu pertama, menjaga indra memberikan kemampuan kepada seseorang dapat menjaga tubuhnya tidak tercemar oleh godaan-godaan atau hal-hal duniawi yang menghasilkan perbuatan dosa yang masuk melalui lima indra. Kedua, melalui menjaga pikiran seseorang dapat mengendalikan dirinya dari pikiran jahat yang menghasilkan nafsu dengan terus mengarahkan pikiran pada hal-hal spiritual dan kebajikan. Ketiga, dengan menjaga hati seseorang dapat menjaga hatinya agar tidak tercemar dengan perbuatan jahat dan dosa. Ketiga cara ini bertujuan untuk membantu setiap orang untuk melawan keinginan daging atau hawa nafsu yang bisa menghasilkan dosa dan membawa pada kematian.
Studi Deskritif Keselamatan Universalisme dan Apologetika dalam Teologi Paulus Tambunan, Jujung Rilman
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.65 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i2.123

Abstract

The many notions that deviate from the truth of the Bible throughout the history of Christianity must be responded well to straighten it out, such as apologetics in Paul's theology brings courage to convey the truth that has been interpreted by people who deviate from the Bible. using descriptive qualitative method with literature study approach, it can be concluded that the power of the gospel that was delivered to the Jews and non-Jews in Rome, was very powerful and had tremendous power to save sinners. And he was not bothered by the problems that occurred at that time under the influence of the heretical notion of the salvation of universalism. And from the misunderstanding in the Roman church, Paul believed his Gospel writings could solve the problem and could justify the teachings that existed at that time. So that the gospel, which is God's saving power, was delivered by Paul with no shame to the people of Rome, despite their differing views.AbstrakBanyaknya paham yang menyimpang dari kebenaran Alkitab sepanjang sejarah kekristenan wajib direspon dengan baik untuk meluruskan, seperti apologetika dalam teologi Paulus membawa keberanian untuk menyampaikan kebenaran yang yang telah ditafsir oleh oknum yang menyimpang dari Alkitab. menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka dapat disimpulkan bahwa Kekuatan Injil yang disampaikan bagi orang-orang Yahudi dan non Yahudi di Roma, sangatlah hebat dan memiliki kekuatan dasyat untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Dan ia tidak terganggu oleh masalah-masalah yang terjadi saat itu atas pengaruh paham sesat dari keselamatan universalisme tersebut. Dan dari kesalah-pahaman dalam jemaat Roma itu, Paulus menyakini tulisan Injilnya dapat menyelesaikan masalahnya dan dapat membenarkan ajaran yang ada saat itu. Sehingga Injil yang menjadi kekuatan Allah yang dapat menyelamatkan, disampaikan oleh Paulus dengan tidak ada rasa malu bagi orang-orang di Roma, sekalipun ada perbedaan pandangannya. 
Peran Pendidikan Agama Kristen dalam Perdebatan Rhema dan Logos Suhadi, Suhadi; Damanik, Hilderia
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.692 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i2.114

Abstract

The terms Rhema and Logos are still a hot topic of discussion today. The existence of a gap in terms of understanding is one of the main attractions for trying to explore more deeply about these two terms. Misunderstanding the meaning of the word became the starting point for the emergence of the above differences of opinion. Rhema is a word or speech that often also has a synonym with the word logos which also means word, speech. The methodology used in this paper is a descriptive qualitative method, namely providing descriptions, descriptions, descriptions in detail so as to be able to explain the phenomena that are currently happening in society. The presence of Christian Religious Education is expected to be able to answer existing debates through its role in content, process, methodology and norms.AbstrakIstilah Rhema dan Logos masih menjadi perbincangan yang marak sampai saat ini. Adanya kesenjangan dalam hal pengertian menjadi salah satu daya tarik tersendiri untuk mencoba mengupas lebih dalam tentang kedua istilah ini. Salah paham terhadap makna kata menjadi titik awal munculnya perbedaan pendapat diatas. Rhema adalah kata atau ucapan yang sering juga memiliki sinonim dengan kata logos yang juga berarti kata, perkataan. Adapun metodologi yang yang dipakai dalam penulisan ini adalah metode kualitatif deskriptif yaitu memberikan deskripsi, uraian, gambaran secara detail sehingga mampu menjelaskan fenomena-fenomena yang saat ini terjadi dalam masyarakat. Hadirnya Pendidikan Agama Kristen diharapkan mampu menjawab perdebatan-perdebatan yang ada melalui perannya baik dalam content, proses, metodologi maupun norma.
Pendidikan Anak Dalam Keluarga Kristen di Tengah Transformasi dan Era Globalisasi Tanikule, Yisai
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.58 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i2.111

Abstract

Each era has its own civilization as a result of change and it cannot be repeated unless it is written down and told. Everyone, including Christian families, must anticipate and face every change. Education is one way to prepare someone to support his future. The educational process occurs in three environments, namely; school, family and community environment. This paper aims to explain the importance of Christian education in the family, namely by correct and consistent teachings. The research method is literature study, namely by collecting information and data through various reference materials in the library in the form of reference books and similar previous research, articles, notes, and various journals related to the problem to be studied. This paper shows that children as a generation for the nation, church and family are a very vulnerable group in a change. For this reason, efforts are needed to instill the values of spiritual life, so that children are able to answer the challenges of change in their environment starting from the family. For this reason, every family must have a formula in living spiritual spirituality together, consistently, with a commitment, one of which is through the family altar.AbstrakSetiap zaman memiliki peradaban tersendiri sebagai akibat dari perubahan dan itu tidak dapat diulang kembali kecuali dituliskan dan diceritakan. Setiap perubahan harus diantisipasi sekaligus dihadapi oleh setiap orang, termasuk keluarga-keluarga Kristen. Pendidikan adalah salah satu cara untuk mempersiapkan seseorang untuk menyonsong masa depannya. Proses pendidikan terjadi dalam tiga lingkungan yaitu; sekolah, keluarga dan lingkungan masyarakat.   Tulisan ini bertujuan memaparkan pentingnya Pendidikan Kristen dalam keluarga yaitu dengan pengajaran-pengajaran yang benar dan konsisten. Metode penelitian dengan studi Pustaka, yaitu dengan cara mengumpulkan informasi dan data melalui berbagai referensi material yang ada di perpustakaan berupa buku referensi dan penelitian sebelumnya yang sejenis, artikel, catatan, serta berbagai jurnal yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti. Melalui tulisan ini menunjukan bahwa anak-anak sebagai generasi bagi bangsa, gereja dan keluarga menjadi kelompok yang sangat rentan dalam sebuah perubahan. Untuk itu diperlukan upaya untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan rohani, agar anak-anak mampu menjawab tantangan perubahan dilingkungannya yang dimulai dari keluarga.  Untuk itu setiap keluarga harus memiliki formula dalam menghidupakan spririt rohani secara bersama-sama, konsisten, komitmen yang salah satunya adalah melalui mezbah keluarga. 
Deskripsi Teologis Kejadian 1 sebagai Dasar dan Strategi Penginjilan di Era Pluralisme Prakoso, Christian Bayu; Kristiyono, Paul; Suseno, Aji
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.084 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i2.124

Abstract

The existence of a pluralistic and pluralistic society makes most people look for ways to be appreciated and recognized. Religious pluralism emerged as the answer to this problem. However, the wrong approach and interpretation of the Bible makes it a threat to Christianity. The truth about everything was created to be the basis for answering the challenge of religious pluralism. By using a qualitative method with a literature study approach, several evangelistic strategies were produced in the Pluralism era based on the concept of creation in Genesis Article 1. Those strategies include the existence of a person who creates everything, a call from darkness to light, and salvation is present on God's own initiative.AbstrakKeberadaan masyarakat yang mejemuk dan plural membuat sebagian besar orang mencari cara untuk dihargai dan diakui. Pluralisme agama muncul sebagai jawaban akan masalah ini. Namun, pendekatan dan penafsiran yang salah terhadap Alkitab membuat hal ini menjadi sebuah ancaman bagi Kekristenan. Kebenaran tentang segala sesuatu diciptakan menjadi landasan untuk menjawab tantangan pluralisme agama. Dengan menggunakan metode kualitatif pendekatan studi literatur maka dihasilkan beberapa strategi penginjilan di era Pluralisme berdasarkan konsep penciptaan dalam Kejadian Pasal 1. Startegi itu diantaranya adalah adanya pribadi yang menciptakan segala sesautu, panggilan dari gelap menuju terang, dan keselamatan hadir atas inisiatif Allah sendiri. 
Peran Penting Pembinaan Kerohanian dalam Kesetiaan bagi Pemuda di Kelompok Sel di Gereja JKI Maranatha Nuban, Habel Ajen; Mardiarto, Mardiarto
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.822 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i2.115

Abstract

Many young people lately have left the ministry and God, in the youth community. Moreover, there are many problems in youth that need attention so that they are loyal to the local church. So the researchers describe the purpose of this writing so that they can prepare young leaders, it becomes a priority because the success of a service or activity is one of them determined by the availability of human resources, namely people who have been equipped from an early age to continue a service or job. Through descriptive qualitative methods with various approaches, it can be concluded that through a cell group strategy that is successful in educating youth in increasing loyalty to serve in the church, it can be done by committing to build a relationship with God, giving each member the opportunity to serve others according to their potential and continue to be humble And put yourself in listening, humble, teachable, serving together. The success of cell groups in educating youth is largely determined by the strategy used, namely exploring potential and providing opportunities to serve together either in cell groups or in public worship in the church.AbstrakBanyaknya pemuda remaja yang akhir ini banyak meninggalkan pelayanan maupun Tuhan, dalam komunitas anak muda. Terlebih banyaknya persoalan dalam pemuda yang perlu mendapatkan perhatian supaya ada dalam kesetiaan di gereja lokal. Maka peneliti mendeskripsikan tujian penulisan ini supaya dapat Mempersiapkan pemimpin-pemimpin muda, menjadi prioritas sebab keberhasilan sebuah pelayanan atau kegiatan itu salah satunya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia yaitu orang-orang yang telah dibekali sejak dini untuk melanjutkan sebuah pelayanan  atau pekerjaan. Melalui metode kualitatif deskritif  dengan berbagai pendekatan dapat disimpulkan bahwa melalui strategi kelompok sel yang berhasil dalam mendidik pemuda dalam meningkatkan kesetiaan melayani di gereja dapat dilakukan dengan berkomitmen dalam membangun hubungan dengan Tuhan, memberi kesempatan kepada setiap anggota untuk melayani sesamanya sesuai potensinya dan terus rendah hati.  Dan menempatkan diri menjadi pendengar, rendah hati, dapat diajari, melayani bersama. Keberhasilan kelompok sel dalam mendidik pemuda, sangat ditentukan oleh strategi yang digunakan yaitu menggali potensi dan memberi kesempatan untuk melayani bersama baik di kelompok sel atau ibadah umum di gereja.
Kajian Teologis Hubungan Suami Istri Yang Kokoh Berdasarkan Efesus 5:22-33 Perangin Angin, Yakub Hendrawan; Yeniretnowati, Tri Astuti
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.919 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i2.127

Abstract

In every marriage and family as an institution established by Allah, Allah has established rules, roles, and responsibilities for each person in the household. The goal of a Christian marriage or family will not be achieved if the underlying relationship between husband and wife is not based on the truth that God has ordained. The path that humans take, including believers in building harmonious relationships in their marriage, is often not smooth, sometimes even unsuccessful and meets this destruction because it does not apply the pattern that has been declared by God as written in Ephesians 5; 22-33 as a pattern specifically and the standards of Christian husband and wife relationships that run according to God's provisions.AbstrakDalam setiap pernikahan dan keluarga sebagai sebuah lembaga yang ditetapkan Allah, maka Allah sudah menetapkan aturan, peran, tanggung jawab untuk setiap pribadi dalam rumah tangga itu. Tujuan pernikahan atau keluarga Kristen tidak akan tercapai kalau hubungan yang mendasari suami dan istri tidak berdasarkan kebenaran yang Allah sudah tetapkan. Jalan yang manusia tempuh termasuk orang percaya dalam membangun relasi yang harmonis di dalam pernikahnnya sering kali tidak mulus bahkan tidak jarang yang tidak berhasil dan menemui kehancuran hal ini karena tidak menerapkan pola yang sudah dinyatakan oleh Allah sebagaimana tertulis dalam Efesus 5;22-33 sebagai pola khusus dan standar hubungan suami istri Kristen yang berjalan sesuai ketetapan Allah. 

Page 1 of 2 | Total Record : 12