cover
Contact Name
Donna Sampaleng
Contact Email
donna@gmail.com
Phone
+628129929141
Journal Mail Official
donna@gmail.com
Editorial Address
Jl. Rempoa Permai No. 2 Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, 12330
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen
ISSN : 25022156     EISSN : 27160556     DOI : 10.52220
Core Subject : Religion, Education,
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan isu-isu Teologi dan Kepemimpinan Kristen, yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta. Focus dan Scope penelitian MAGNUM OPUS adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Praktika Kepemimpinan Kristen MAGNUM OPUS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi dari segala institusi teologi, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1: Desember 2020" : 5 Documents clear
Ibadah yang Benar menurut Amos 5:4-6 dan Relevansinya bagi Tugas dan Panggilan Gereja di Masa Kini Utomo, Bimo Setyo
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 2, No 1: Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.71 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v2i1.73

Abstract

The church as God's people in its presence in this world is inseparable from society, where the church, as the organizer of worship, is also called to carry out its task or prophetic role in society. This happened also in the context of the prophet Amos when served in North Israel, where the worship at that time seemed to be going well and lively, but contrary to it; their attitude to life has deteriorated considerably. So in this research, the meaning of worship according to Amos 5: 4-6 will be examined with the aim of developing it to get relevance to the duties and vocation of the church today. The method used in this research is qualitative, by applying the descriptive analysis method to the text of Amos 5: 4-6, so that the meaning of worship seeking the true God is found. The result of this research is that worship should be interpreted as a relationship between people's love for God which reflects good deeds in daily life. The church must also reflect on the meaning of worship in its duties and vocation by living out the meaning of worship in daily life, being more involved and engaging in community life, and also as a church calling to repent and become better. AbstrakGereja sebagai umat Allah dalam kehadirannya di dunia ini tidak terpisah dari masyarakat, dimana gereja selaku penyelenggara ibadah, dipanggil juga untuk mengamalkan tugas atau peran kenabiannya dalam masyarakat. Hal ini terjadi juga dalam konteks nabi Amos melayani di Israel Utara, dimana ibadah kala itu nampak berjalan baik dan semarak, tetapi bertolak belakang dengan itu; sikap hidup mereka sangat merosot. Maka pada penelitian ini akan diteliti makna ibadah yang benar menurut Amos 5:4-6 dengan tujuan untuk mengembangkannya untuk mendapatkan relevansi bagi tugas dan panggilan gereja di masa kini. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan menerapkan metode deskriptif analisis pada teks Amos 5:4-6, sehingga didapati makna tentang ibadah mencari Tuhan yang benar. Hasil dari penelitian ini adalah ibadah harus dimaknai sebagai hubungan kasih umat kepada Tuhan yang mencerminkan perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari. Gereja juga harus merefleksikan makna ibadah ini dalam tugas dan panggilannya dengan menghidupi makna ibadah dalam kehidupan sehari-hari, lebih berperan dan terlibat dalam kehidupan bermasyarakat dan juga sebagai panggilan gereja untuk bertobat dan menjadi lebih baik lagi.
Paradigma Pentingnya Pengajaran Doktrin Sebagai Bagian dari Total Quality Management dan Adaptasi Gereja Purba, Eduward
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 2, No 1: Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.446 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v2i1.70

Abstract

The church has not implemented many quality management (TQM) in its institutions because it is considered that this is only for companies that aim to profit. Whereas profit is not TQM orientation but customer satisfaction. The importance of TQM is due to the rapidly changing world and the presence of competitors from both similar and different institutions. One of the products offered by the church is teaching-based, especially the basic doctrines of the Christian faith. This is rarely done by the church, it can be seen from the absence of writings that discuss the doctrine of doctrine as part of church quality management and as an adaptation of the church in dealing with competitors. The approach used in this paper is a qualitative grounded research method; the reason is, that there has not been found a paper that presents the teaching of the basic doctrines of the Christian faith as part of the implementation of TQM in the Church. The results found that teaching the basic doctrines of the Christian faith has made the Church in general able to survive for thousands of years in the midst of various teaching attacks from both internal and external to the Church. The conclusion is that the teaching of the doctrine of the Christian faith is the main product of the Church in satisfying the congregation to ensure that the congregation remains part of the holy community, namely the Church, as well as being an important part of showing the quality of the Church.AbstrakGereja belum banyak yang menerapkan majemen mutu (TQM) di dalam lembaganya karena dianggap hal tersebut hanya untuk perusahaan yang bertujuan profit. Padahal profit bukan orien-tasi TQM tetapi kepuasaan pelanggan. Pentingnya TQM dikarenakan dunia yang cepat berubah dan hadirnya kompetitor baik dari lembaga sejenis maupun yang berbeda. Salah satu produk yang ditawarkan gereja adalah berbasis pengajaran, khususnya doktrin dasar iman Kristen. Hal ini jarang dilakukan gereja, terlihat dari belum adanya tulisan yang mengangkat bahasan peng-ajaran doktrin merupakan bagian dari manajemen mutu gereja serta sebagai adaptasi gereja dalam menghadapi kompetitor. Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah kualitatif dengan metode grounded research; alasannya, karena belum ditemukan sebuah tulisan yang menyajikan pengajaran doktrin dasar iman Kristen merupakan bagian dari implementasi TQM di dalam Gereja. Hasil yang ditemukan bahwa, pengajaran doktrin dasar iman Kristen telah membuat Gereja secara umum dapat bertahan selama ribuan tahun di tengah berbagai serangan pengajaran baik dari internal dan eksternal Gereja. Kesimpulan yang diperoleh adalah, pengajaran doktrin iman Kristen merupakan produk yang utama dari Gereja dalam memuaskan jemaat untuk menjamin jemaat tetap menjadi bagian dari persekutuan kudus yaitu Gereja, selain juga merupakan bagian penting untuk menujukkan kualitas Gereja itu.
Implikasi Nilai Manusia dalam Praksis Kepemimpinan Menurut Kejadian 1:26-27 Perangin Angin, Yakub Hendrawan; Yeniretnowati, Tri Astuti; Arifianto, Yonatan Alex
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 2, No 1: Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.179 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v2i1.72

Abstract

The implementation of human values in leadership praxis based on the Book of Genesis 1: 26-27 is raised because of various phenomena that have occurred in which many people are treated inhumanely. The analysis was carried out by means of a literature review, by analyzing the leadership practices that occur both in general and Christian circles. The main sources of analysis are several relevant sources, including research results contained in journals and books. All of these sources were analyzed by looking at the relationship and compatibility with the title of this paper. So it can be concluded that his leadership can describe how the leader's view of humans, "whole" or partial. In another sense, whether leaders treat humans only as limited as "resources" or not, of course, will appear in the way leaders treat "anyone" around the scope of their leadership. Whether to behave and act exploitatively or not, of course, depends on the way the leadership treats "anyone" around the sphere of leadership. In the sphere of the church, the pastor as a leader in leading the church organizationally and at the same time as an organism, the people who are in the leadership line develop their understanding of it does not necessarily lie in the way they perceive humans. Our Lord Jesus, the Great Leader, has provided an extraordinary example where He who is the Lord and Savior of mankind is willing to sacrifice his life, give His life and wash the feet of His followers. This is perfect leadership, thank God that humans have a Leader profile who becomes a role model.AbstrakImplementasi nilai manusia dalam praksis kepemimpinan berdasarkan Kejadian 1:26-27 diangkat karena berbagai fenomena yang telah terjadi dimana manuasia banyak diperlakukan dengan tidak manusiawi. Analisis dilakukan dengan tinjauan pustaka, dengan menganalisis terkait prakis kepemimpinan yang terjadi baik di lingkungan umum maupun kekristenan. Adapun sumber utama dari analisis adalah beberapa sumber yang relevan, meliputi hasil penelitian yang terdapat pada jurnal dan buku. Semua sumber ini dianalisis dengan cara mencermati hubungan dan kecocokan dengan judul penulisan ini. Sehingga didapatkan kesimpulan bahwa kepemimpinannya dapat menggambarkan bagaimana  pandangan pemimpin terhadap manusia, ”utuh” atau parsial. Dengan pengertian lain, apakah pemimpin memperlakukan manusia hanya sebatas ”resources” atau tidak, tentu akan nampak dalam cara pemimpin memperlakukan ”siapa saja” disekitar lingkup kepemimpinanya. Apakah akan bersikap dan bertindak eksploitatif atau tidak, sama tentunya bergantung pada cara pemimpinan memperlakukan ”siapa saja” disekitar lingkup kepemimpinannya. Di lingkup gereja, gembala sebagai pemimpin dalam memimpin gereja secara organisatoris dan sekaligus sebagai organisme, orang-orang yang ada di lini kepemimpinan berkembang pemahamannya ataukah tidak tentunya terletak pada cara pandangnya terhadap manusia. Tuhan Yesus Sang Pemimpin Agung kita sudah memberikan keteladanan yang luar biasa dimana Ia yang adalah Tuhan dan Juru Selamat umat manusia rela untuk mengorbankan nyawanya, memberi hidup-Nya dan membasuh kaki pengikut-Nya inilah kepemimpinan yang sempurna, syukur bahwa manusia memiliki profil Pemimpin yang menjadi panutan.
Konsistensi Konsep Keselamatan adalah Anugerah dalam Masa Intertestamental Putri, Agustin Soewitomo
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 2, No 1: Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.801 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v2i1.69

Abstract

The period between the Old Testament and the New Testament is often referred to as the intertestamental period which is approximately 400 years apart, during which time no prophet appears to be the successor of God's voice. Ended by the prophet Malachi and the book of Chronicles the Bible does not give any record. This certainly raises so many questions as to what happened in that dark age, whether God really did not do anything among God's people, especially the Israelites, while at that time the Israelites had repeatedly experienced good colonization from Persian, Greek or Roman. By using descriptive methods and historical analysis, this discussion will provide an insight into God's faithfulness to His covenant to the people, and how the concept of salvation has not changed even though in the 400 years that God did not speak to His people. Understanding the consistency of the concept of salvation is a gift in intertestamental times will open a new understanding of the power of God in keeping the covenants and His Word.AbstractMasa antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru seringkali disebut dengan masa intertesta-men yang berjarak lebih kurang 400 tahun, di mana sepanjang masa tersebut tidak ada nabi yang muncul menjadi penerus suara dari Tuhan. Diakhiri oleh Nabi Maleakhi dan kitab Tawarikh maka Alkitab tidak memberikan catatan apa pun. Hal tersebut tentu memunculkan begitu banyak pertanyaan dengan apa yang terjadi dalam masa kegelapan tersebut, apakah memang Allah betul-betul tidak berbuat sesuatu apapun di tengah-tengah umat Tuhan, khususnya bangsa Israel, sementara pada masa tersebut bangsa Israel berkali-kali mengalami penjajahan baik dari Persia, Yunani ataupun Romawi. Dengan menggunakan metode deskriptif dan analisis historis, pemba-hasan ini akan memberikan pandangan tentang kesetiaan Allah dengan perjanjianNya kepada umat, serta bagaimana konsep keselamatan itu tidak mengalami pergeseran sekalipun dalam keadaan 400 tahun Tuhan tidak berbicara kepada umatNya. Memahami konsistensi konsep keselamatan adalah anugerah dalam masa intertestamental akan membukakan pemahaman baru tentang kekuatan Allah dalam memelihara perjanjian dan FirmanNya.
Kajian Historis Teologis Oneness Pentecostalism: Studi Kasus Setiawan, Hanny; Santo, Joseph Christ
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 2, No 1: Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52220/magnum.v2i1.68

Abstract

Oneness Pentecostalism's theological position in the orthodoxy faith is arguable. Even though the general position has put the stream of pentecostal movement into heretical teaching, but their presence among mainstream denominations are common. Meaning, the oneness of people is mixed into the other denominations, and among local churches, they have treated just like the other denomination traditions. This article argues that Oneness is indeed a heretical sect. To support this thesis, the historical background for both the origin of the movement and the review of the current case of Joshua B. Tewuh and Bethel Church of Indonesia will be provided. This article's findings in the possible misinterpretation of  W.H. Offiler position in Oneness will be described as important evidence between GBI and Bethel Temple traditions.  The theological position of the Oneness, in addition, will be surveyed in detail to provide a framework of thought of its core doctrines. The survey will be focused on Christology position includes the similarity with other heretic teachings of modalism and Sebelius. In conclusion, this article will present the influence of historical and theological understanding of Oneness in pentecostal-affiliated Indonesian Churches.AbstrakPosisi teologis Oneness Pentecostalism dalam iman ortodoks menjadi perdebatan. Meskipun posisi umum ada yang menyatakan bahwa salah satu aliran pergerakan Pentakosta ini termasuk heretik (bidat), tapi kehadiran mereka di antara denominasi-denominasi arus utama tidak asing. Artinya, pengikut Oneness bercampur dengan denominasi lain, dan di antara gereja-gereja lokal mereka diperlakukan sebagai tradisi denominasi yang lain, seperti tidak ada bedanya. Artikel ini berargumen bahwa Oneness adalah sekte heretik. Untuk mendukung tesis ini, latar belakang sejarah dari asal pergerakan, dan kajian dari kasus terkini Joshua B. Tewuh dan Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI) mengenai isu ini akan dibicarakan. Penemuan-penemuan tentang ke-mungkinan misinterpretasi dari posisi W. H. Offiler akan ditunjukkan sebagai bukti-bukti yang menghubung-kan tradisi-tradisi antara GBI dan Bethel Temple. Posisi teologis dari Oneness akan diselidiki secara menyeluruh untuk memperlihatkan kerangka pemikiran dari doktrin-doktrin inti yang dipercaya. Penelitian juga melingkupi kesamaan Oneness dengan pemikiran heretik yang lain: modalisme dan sabelianisme. Sebagai kesimpulan, artikel ini menunjukkan pengaruh dari sejarah dan pengertian teologis tentang Oneness kepada gereja-gereja di Indonesia yang ber-afiliasi dengan aliran Pentakosta.

Page 1 of 1 | Total Record : 5