cover
Contact Name
Zulkipli Lessy
Contact Email
jkiipasca@gmail.com
Phone
+6288227810471
Journal Mail Official
jkiipasca@gmail.com
Editorial Address
Published by Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta Website: http://ejournal.uin-suka.ac.id/pasca/jkii Gedung Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner
ISSN : 25794930     EISSN : 27758281     DOI : https://doi.org/10.14421/jkii.v6i2.1195
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner welcomes original research for manuscripts with various theoretical perspectives and methodological approaches. It invites researchers and scholars of all backgrounds related to Islamic studies to contribute their research covering all aspects of Islam and the Islamic world in the areas of philosophy, history, religion, political science, international relations, psychology, sociology, anthropology, economics, environmental and development issues etc. related to scientific research. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner offers an open platform for exchanging knowledge and ideas (with various perspectives) to facilitate methodological reform in Islamic studies and promote critical academic methodologies that respond to the current issues in Islam and the Islamic world.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 1 (2024)" : 5 Documents clear
Naturalisasi Konstruksi Hubungan Seksual Pranikah Remaja Muslim Sekolah Menengah Atas di Yogyakarta Kuncari, Susila Sukma
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v9i1.1359

Abstract

Hubungan seksual pranikah yang dianggap sebagai bentuk penyimpangan norma sosial dan agama perlahan mengalami perubahan, terutama di kalangan remaja. Hal tersebut turut terjadi di lingkungan remaja muslim yang menempuh pendidikan di Sekolah Islam Yogyakarta. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui bentuk, dan alasan terjadinya naturalisasi konstruksi hubungan seksual pranikah yang dilakukan oleh remaja muslim di Sekolah Islam. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode penelitian lapangan (field research) berjenis kualitiatif. Sumber utama data penelitian adalah hasil wawancara yang terhadap sejumlah remaja alumni sekolah Islam di Yogyakarta. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga bentuk naturalisasi yaitu, (1) hubungan seksual sebagai kebutuhan biologis, (2) hubungan seksual sebagai bentuk ungkapan sayang, (3) hubungan seksual dilakukan tanpa ikatan pernikahan. Faktor penyebab hubungan seksual pranikah remaja terbagi menjadi tiga, (1) mengenal dan terpengaruh aktivitas berpacaran di lingkungan pertemanan, (2) mudahnya mengakses konten pornografi, (3) berpacaran menjadi proses pengenalan perilaku seksual. Penyebab terjadinya naturalisasi konstruksi seksualitas yaitu, (1) hubungan seksualitas merupakanan aktivitas yang disukai, (2) naturalisasi konstruksi seksualitas terjadi dalam proses penerimaan diri remaja, (3) hubungan seksual pranikah disadari sebagai kesenangan. [ The perception of premarital sexual relations as a deviation from social and religious norms is gradually changing, especially among adolescents. This phenomenon also occurs among Muslim adolescents attending Islamic schools in Yogyakarta. This study aims to identify the forms and reasons behind the naturalization of the construction of premarital sexual relations among Muslim adolescents in Islamic schools. The research method employed is qualitative field research. The primary data sources are interviews with several alumni of Islamic schools in Yogyakarta. The findings of this study reveal three forms of naturalization: (1) sexual relations as a biological need, (2) sexual relations as an expression of affection, and (3) sexual relations occurring without marital commitment. The factors contributing to adolescent premarital sexual relations are divided into three categories: (1) exposure to and influence from dating activities in peer environments, (2) ease of access to pornographic content, and (3) dating as a process of sexual behavior familiarization. The causes of the naturalization of sexual construction are: (1) sexual activity is perceived as enjoyable, (2) naturalization of sexual construction occurs during adolescents’ self-acceptance process, and (3) premarital sexual relations are acknowledged as a source of pleasure.]
Menguatkan Diri Dalam Keterpisahan: Konsep Penerimaan Diri Remaja dari Broken Home Hiqqal, Muhammad
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v9i1.1363

Abstract

Keharmonisan dalam rumah tangga akan berdampak kepada pertumbuhan perkembangan seorang anak. Anak yang hidup dari kalangan keluarga yang harmonis mampu tumbuh dan berkembang dengan baik, namun anak yang hidup dari kalangan keluarga yang tidak harmonis akan berdampak kepada perilaku kehidupannya. Perilaku yang ditimbulkan oleh anak yang hidup dari kalangan keluarga yang broken home ialah perilaku yang dapat berakibat buruk bagi kehidupan sosialnya. Pada dasarnya tidak semua remaja yang hidup dari kalangan keluarga yang broken home akan menimbulkan perilaku yang buruk tetapi ada juga yang melampiaskan ke hal-hal yang baik tergantung dari bagaimana penerimaan yang dilakukan oleh remaja tersebut. Oleh karena itu, tujuan penulisan ini adalah untuk membuktikan bahwa remaja yang hidup dari kalangan keluarga yang broken home tidak selalu melakukan tindakan-tindakan yang buruk tetapi ada juga yang melakukan hal-hal baik tergantung dari bagaimana penerimaan diri terhadap situasi yang sedang dialami. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan populasi remaja yang mengalami broken home dan mengambil 3 sampel untuk dijadikan responden dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara sedangkan analisis data dalam penelitian ini meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa dengan penerimaan diri yang baik akan membuat remaja yang mengalami broken home akan lebih berpikir positif serta mengembangkan potensi yang dimiliki sehingga terhindar dari perilaku-perilaku yang menyimpang. Berdasarkan temuan-temuan yang ada dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak semua remaja yang mengalami broken home akan melakukan perilaku-perilaku yang menyimpang, namun ada juga yang mengarah kepada hal-hal baik. [ Harmony in the household will have an impact on the growth and development of a child. Children who live in harmonious families are able to grow and develop well, but children who live in disharmonious families will have an impact on their behavior in life. The behavior caused by children who live in broken homes is behavior that can have a bad impact on their social life. Basically, not all teenagers who live in broken homes will develop bad behavior, but there are also those who take it out on good things depending on how accepted the teenager is. Therefore, the purpose of this writing is to prove that teenagers who live from broken homes do not always carry out bad actions but there are also those who do good things depending on how self-accepting they are about the situation they are experiencing. The method used in this research is descriptive qualitative with a population of teenagers who experienced broken homes and took 3 samples to be used as respondents in this research. The data collection techniques used in this research are observation and interviews, while data analysis in this research includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this research reveal that good self-acceptance will make teenagers who experience broken homes think more positively and develop their potential so as to avoid deviant behavior. Based on the existing findings, it can be concluded that not all teenagers who experience broken homes will carry out deviant behavior, but there are also those who lead to good things.]
Genealogi Kiai Jampes Kediri: Studi Sanad Keilmuan dan Nasab Kiai Pondok Pesantren Jampes Kediri Nawawi, Ruston
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v9i1.1365

Abstract

Penelitian ini membahas relevansi sanad keilmuan K.H. Dahlan - Jampes terhadap semangat dakwah Islam. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dan mengumpulkan data menggunakan observasi, wawancara, dan tinjauan literatur. Selain itu, untuk menganalisis data yang dikumpulkan penulis, digunakan teori “ashabiyah” dari Ibn Khaldun dan teori “DNA rahasia” dari Dr. Kazuo Murakami. Dari hasil analisis dan studi yang cermat dalam penelitian ini, penulis menyimpulkan bahwa; 1. Sanad keilmuan dan keturunan memiliki korelasi yang sangat kuat dalam membentuk visi, karakter, dan sikap dalam sebuah generasi. 2. Dalam mempelajari teori DNA, Kazuao Murakami menjelaskan secara mendalam bahwa DNA dapat dianggap sebagai materi genetik yang dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. DNA mampu menyalin dan mendistribusikan ciri, karakteristik, warisan, dan hal lain dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nasab adalah salah satu dasar yang kokoh dalam membangun kehidupan rumah tangga yang saling terikat berdasarkan kesatuan darah. Untuk menjaga nasab ini, pernikahan diwajibkan sebagai cara yang dianggap sah untuk menjaga dan memelihara kemurnian nasab. Demikian pula, pengetahuan ilmiah adalah fondasi penting dalam agama. [This research discusses the relevance of K.H.'s scientific genealogy. Dahlan - Jampes against the spirit of Islamic preaching. In this research, the author used a qualitative approach and collected data using observation, interviews and literature review. Apart from that, in order to analyze the data that the author collected, we used the theory of "ashabiyah" from Ibn Khaldun and the theory of "secret DNA" from Dr. Kazuo Murakami. From the results of careful analysis and study of this research, the author concludes that; 1. Scientific genealogy and lineage have a very strong correlation in forming a vision, character and attitude in a generation. 2. In studying DNA theory, Kazuao Murakami explains in depth that DNA can be considered as genetic material that can be passed down from one generation to another. next. DNA is capable of copying and distributing traits, characteristics, inheritance and other things from one generation to the next.]
Mentoring Sebaya Sebagai Strategi dan Inovasi Pemberdayaan: Analisis Program Peningkatan Soft Skill Santri Putri Pondok Pesantren di Yogyakarta Afiah, Khoniq Nur; Jamila Salsabila, Ayna
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v9i1.1371

Abstract

Pesantren sebagai lembaga pendidikan juga memiliki aktivitas yang selanjutnya dipandang sebagai kegiatan pemberdayaan. Fenomena pesantren yang berdiri di perkotaan juga hadir dengan wajah baru yang didesain sesuai dengan kondisi para santri perkotaan. Penelitian ini berfokus mengkaji mengenai metode mentoring sebaya sebagai strategi dan inovasi pemberdayaan masyarakat di pesantren putri perkotaan Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengambilan data wawancara dan observasi. Pisau analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep community base organization. Penelitian ini merumuskan hasilnya menjadi empat poin, pertama, kondisi pesantren yang berdiri di perkotaan memberikan pengaruh atas terbentuknya santri yang memiliki daya progresif. Hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi kota yang deras akan informasi dan mudahnya akses terhadap pengetahuan. Kedua, keahlian yang kompleks juga lahir dari pendidikan yang sedang ditempuh di perguruan tinggi, dan hal tersebut menjadi potensi untuk melakukan pemberdayaan terhadap teman di pesantren. Ketiga, mentoring sebaya sebagai strategi pemberdayaan di lingkungan pesantren perkotaan menjadi suatu inovasi dalam pemberdayaan dan dibuktikan dengan beberapa bentuk pemberdayaan terhadap santri seperti pelaksanaan forum diskusi santri millennial, pelatihan desain grafis, pelatihan fotografi, dan pendampingan dan optimalisasi sumber daya dari kelas baca kitab. Dengan tiga temuan tersebut secara tidak langsung memberikan penjelasan bahwa mentoring sebaya menjadi salah satu bentuk inovasi yang mendorong adanya pemberdayaan di lingkungan pesantren. [ Pesantren as an educational institution also has activities which are then seen as empowerment activities. The phenomenon of boarding schools that exist in urban areas also comes with a new face that is designed according to the conditions of urban santri. This study focuses on examining peer mentoring methods as strategies and innovations for community empowerment in urban female Islamic boarding schools in Yogyakarta. This study uses qualitative methods with interview and observation data collection techniques. The analytical knife used in this research is the concept of a community base organization. This study formulates the results into four points, first, the condition of Islamic boarding schools that exist in urban areas has an influence on the formation of students who have progressive power. This is influenced by the condition of the city which is full of information and easy access to knowledge. Second, complex skills are also born from the education that is being pursued in tertiary institutions, and this becomes the potential to empower friends in pesantren. Third, peer mentoring as an empowerment strategy in urban boarding schools has become an innovation in empowerment and is evidenced by several forms of empowerment for santri such as the implementation of millennial santri discussion forums, graphic design training, photography training, and mentoring and optimizing resources from reading classes. and this becomes the potential to empower friends in the pesantren. Third, peer mentoring as an empowerment strategy in urban boarding schools has become an innovation in empowerment and is evidenced by several forms of empowerment for santri such as the implementation of millennial santri discussion forums, graphic design training, photography training, and mentoring and optimizing resources from reading classes. and this becomes the potential to empower friends in the pesantren. Third, peer mentoring as an empowerment strategy in urban boarding schools has become an innovation in empowerment and is evidenced by several forms of empowerment for santri such as the implementation of millennial santri discussion forums, graphic design training, photography training, and mentoring and optimizing resources from reading classes.]
Konotasi Makna Libas dalam Pernikahan: Analisis Semiotika Roland Barthes Dalam Q.S al-Baqarah [2]:187 Hakim, Moh. Arif Rakman
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v9i1.1372

Abstract

Di Indonesia sering dijumpai bahasa-bahasa kiasan, seperti kata libās dalam Q.S al-Baqarah [2]:187 yang sering digunakan oleh para pendakwah ketika menyampaikan mauizahnya pada acara pernikahan. Tujuan tulisan ini adalah untuk menjelaskan makna libas dalam Q.S al-Baqarah [2]: 187, yang mana kandungan dalam surah tersebut sering digunakan para pendakwah ketika acara resepsi pernikahan sebagai basis argumen mereka ketika menyampaikan mauizahnya. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif-analisis dengan menggunakan teori semiotika yang ditawarkan oleh Roland Barthes mengenai konsep mitologinya. Hasilnya, bahwa kata libās yang terdapat pada Q.S Al-Baqarah ayat 187 secara denotasi memiliki makna pakaian yang berfungsi untuk melindungi dan menutupi anggota badan layaknya sebuah pakaian. Kemudian, makna konotasi atau mitologinya kata tersebut mengandung pesan yang ditujukan kepada suami istri untuk memiliki sikap kesalingan kepada pasangannya. Ketersalingan untuk saling menasihati, memberikan ketenangan dan saling menghiasi dalam kehidupan rumah tangga. Hal yang demikian merupakan salah satu aspek untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang harmonis. [ In Indonesia, figurative language is often found, such as the word libās in Q.S al-Baqarah [2]:187 which is often used by preachers when delivering mauizah at weddings. The purpose of this paper is to explain the meaning of libās in Q.S al-Baqarah [2]: 187, which is often used by preachers during wedding receptions as the basis of their arguments when delivering their mauizah. This paper uses a descriptive-analytical method using the semiotic theory offered by Roland Barthes regarding the concept of mythology. The result is that the word libas found in Q.S Al-Baqarah verse 187 denotatively has the meaning of clothing that serves to protect and cover the limbs like a garment. Then, the connotation or mythological meaning of the word contains a message addressed to husbands and wives to have an attitude of submission to their partners. Submission to advise each other, provide peace and adorn each other in domestic life. This is one aspect of realising a harmonious home life.]

Page 1 of 1 | Total Record : 5