cover
Contact Name
Hamid Mukhlis
Contact Email
me@hamidmukhlis.id
Phone
-
Journal Mail Official
admin@ukinstitute.org
Editorial Address
Utan Kayu Institute Lucky Arya Residence 2 No. 18 Fajar Agung Barat Jalan HOS. Cokroaminoto Kab. Pringsewu Lampung - Indonesia, Postal code 35373
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Nusantara Journal of Behavioral and Social Science
Published by Utan Kayu Institute
ISSN : 28281039     EISSN : 28280733     DOI : http://doi.org/10.47679/20225
Nusantara Journal of Behavioral and Social Science (NJBSS) targets all the current and future prospective of research in the behavioral and social sciences. The journal accepts all types of articles such as research articles, case reports, reviews, commentary and short communications etc., behavioral sciences include psychology, psychobiology, criminology and cognitive science. > Psychology > Political science > Public health > Accounting > Applied anthropology > Social networks > Cognitive science > Sociology > Organizational behavior > Anthropology > Social neuroscience > Operations research > Management science > Behavioral economics
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 3 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2026)" : 3 Documents clear
Psychological Violence in the Workplace and the Emergence of Reactive Disorders Hassan, Njifon Nsangou; Margarette, Chounna; Fouadjo, Martial Nguegno; Messanga, Gustave Adolphe
Nusantara Journal of Behavioral and Social Science Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/njbss.202614651

Abstract

Research on psychological violence in the workplace generally focuses on the emergence of specific disorders, and less often on a broader nosographic framework. This study, which investigates experiences of psychological violence at work, examines reactive disorders associated with such violence, the psychosocial risk factors involved, and the underlying psychological processes. Using a qualitative multiple-case study design with embedded clinical diagnostic assessment, data were collected through the french versions of the Leymann Inventory of Psychological Terror (LIPT), the Mini International Neuropsychiatric Interview (MINI), and a semi-structured interview guide. The findings suggest an association between workplace psychological violence and reactive anxiety disorders, mood disorders, and peritraumatic stress symptoms. These disorders were linked to experiences of separation, inter-individual professional conflicts, work-related stress issues, and verbal threats. The psychological processes involved include vulnerabilities related to negative perceptions of the work environment, anxiety-laden autobiographical memories, and intrusive re-experiencing of workplace violence. This study contributes to the literature by situating workplace psychological violence within a broader nosographic framework of reactive disorders rather than focusing on isolated diagnoses. However, the small sample size and case-study design limit the generalizability of the findings. The results underscore the need to establish independent and confidential listening and psychological support units to assist workers.   Abstrak: Penelitian mengenai kekerasan psikologis di tempat kerja umumnya berfokus pada munculnya gangguan-gangguan tertentu, dan lebih jarang menempatkannya dalam kerangka nosografis yang lebih luas. Studi ini, yang menelaah pengalaman kekerasan psikologis di tempat kerja, mengkaji gangguan reaktif yang terkait dengan kekerasan tersebut, faktor-faktor risiko psikososial yang terlibat, serta proses psikologis yang mendasarinya. Dengan menggunakan desain penelitian kualitatif studi multi-kasus yang dilengkapi dengan asesmen diagnostik klinis, data dikumpulkan melalui versi bahasa Prancis dari Leymann Inventory of Psychological Terror (LIPT), Mini International Neuropsychiatric Interview (MINI), serta panduan wawancara semi-terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kekerasan psikologis di tempat kerja dengan gangguan kecemasan reaktif, gangguan suasana hati, dan gejala stres peritraumatik. Gangguan-gangguan ini berkaitan dengan pengalaman perpisahan, konflik profesional antarindividu, masalah stres terkait pekerjaan, serta ancaman verbal. Proses psikologis yang terlibat meliputi kerentanan yang berkaitan dengan persepsi negatif terhadap lingkungan kerja, ingatan autobiografis yang sarat kecemasan, serta pengalaman ulang intrusif terhadap kekerasan di tempat kerja. Studi ini memberikan kontribusi terhadap literatur dengan menempatkan kekerasan psikologis di tempat kerja dalam kerangka nosografis gangguan reaktif yang lebih luas, alih-alih berfokus pada diagnosis yang terisolasi. Namun, ukuran sampel yang kecil dan desain studi kasus membatasi generalisasi temuan. Hasil penelitian ini menegaskan perlunya pembentukan unit pendengaran dan dukungan psikologis yang independen dan bersifat rahasia untuk membantu para pekerja
Adolescent Perceptions of Climate Change on the Outskirts of the Nusantara Capital City Julianto, Very; Kiling, Indra Yohanes; Lukitasari, Meygi Pramana; Priyono, Hanum Hanindita; Aqila, Nabila Hukma; Syaddad, Muhammad Abidzar; Fitrina, Ida; Azharani, Lubna Riyu
Nusantara Journal of Behavioral and Social Science Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/njbss.202614951

Abstract

Climate change is a global issue that has a widespread impact on human life.  This impact is felt in almost all countries, including Indonesia, which has vulnerable geographical and geological conditions. Among the younger generation affected by climate change, adolescents occupy an important position as a vulnerable group with great potential in facing changing environmental dynamics. Based on this, this study aims to determine how adolescents on the outskirts of the Nusantara Capital City (IKN) perceive climate change. This study uses a qualitative research design. Data were collected using the photovoice technique, in which photographs and adolescents’ explanations were analyzed in an integrated manner using thematic analysis. The results of this study indicate that adolescents on the outskirts of the Nusantara Capital City (IKN) have reflective perceptions of climate change, which are formed through direct experience and supported by their cognitive development. Their environmental awareness not only encourages adaptive behavioral changes at the personal level, but also provides space for adolescents to express their opinions and propose solutions to environmental problems around them.   ABSTRAK Perubahan iklim merupakan masalah global yang memiliki dampak luas terhadap kehidupan manusia.  Dampak ini dirasakan di hampir semua negara, termasuk Indonesia yang memiliki kondisi geografis dan geologis yang rentan. Di antara generasi muda yang terdampak perubahan iklim, remaja menempati posisi penting sebagai kelompok yang rentan namun memiliki potensi besar dalam menghadapi dinamika lingkungan yang berubah. Berdasarkan hal tersebut, studi ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi remaja di pinggiran Ibu Kota Nusantara (IKN) tentang perubahan iklim. Studi ini menggunakan methods approach dengan desain kualitatif. Data dikumpulkan menggunakan teknik photovoice, di mana foto dan penjelasan remaja dianalisis secara terintegrasi menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa remaja di pinggiran Kota Ibu Kota Nusantara (IKN) memiliki persepsi yang reflektif terhadap perubahan iklim, yang terbentuk melalui pengalaman langsung dan didukung oleh perkembangan kognitif mereka. Kesadaran lingkungan mereka tidak hanya mendorong perubahan perilaku adaptif pada tingkat pribadi, tetapi juga memberikan ruang bagi remaja untuk mengemukakan pendapat dan mengusulkan solusi terhadap masalah lingkungan di sekitar mereka.
Beyond Family Ties: Intergenerational Trauma as a Predictor of Mental Well-being Among Indonesian Youth Mayangsari, Anggi; Rustyawati, Reny; Kusumawardhani, Sri Juwita; Ariantika, Vivi
Nusantara Journal of Behavioral and Social Science Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/njbss.202615051

Abstract

Intergenerational trauma has been recognized as a significant psychological factor affecting mental health outcomes across generations. This study examined the influence of intergenerational trauma and family relationship on the mental well-being of young adults in Indonesia. A total of 103 participants were recruited through convenience sampling and completed the Indonesian-adapted versions of the Historical Intergenerational Trauma Transmission Questionnaire (HITT-Q), the General Functioning of Family scale, and the Warwick-Edinburgh Mental Well-being Scale (WEMWBS). Results from multiple linear regression analysis indicated that the overall regression model was statistically significant , F(2, 100) = 29.36, p < .001. However, only intergenerational trauma had a significant independent effect (B = –0.18, p < .001), suggesting that higher levels of inherited trauma were associated with lower mental wellbeing. Family functioning did not show a significant independent effect (B = 0.05, p = .739). Descriptive analysis also revealed that 77.7% of participants were classified as having low levels of mental well-being . These findings underscore the importance of addressing intergenerational trauma in efforts to improve mental health outcomes, especially mental wellbeing among young adults in Indonesia.   Abstrak: Trauma antar generasi telah diakui sebagai faktor psikologis signifikan yang memengaruhi hasil kesehatan mental lintas generasi. Studi ini meneliti pengaruh trauma antar generasi dan hubungan keluarga terhadap kesejahteraan mental kaum muda di Indonesia. Sebanyak 103 partisipan direkrut melalui pengambilan sampel acak dan menyelesaikan versi adaptasi bahasa Indonesia dari Historical Intergenerational Trauma Transmission Questionnaire (HITT-Q), the General Functioning of Family scale, and the Warwick-Edinburgh Mental Well-being Scale (WEMWBS). Hasil dari analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa model regresi secara keseluruhan signifikan secara statistik , F(2, 100) = 29,36, p < 0,001. Namun, hanya trauma antar generasi yang memiliki efek independen signifikan (B = –0,18, p < 0,001), menunjukkan bahwa tingkat trauma yang diwariskan lebih tinggi dikaitkan dengan kesejahteraan mental yang lebih rendah. Fungsi keluarga tidak menunjukkan efek independen yang signifikan (B = 0,05, p = 0,739). Analisis deskriptif juga mengungkapkan bahwa 77,7% peserta dikategorikan memiliki tingkat kesejahteraan mental yang rendah . Temuan ini menggarisbawahi pentingnya mengatasi trauma antar generasi dalam upaya meningkatkan hasil kesehatan mental, terutama kesejahteraan mental di kalangan dewasa muda di Indonesia.

Page 1 of 1 | Total Record : 3