cover
Contact Name
Dede Pramayoza
Contact Email
dedepramayoza.riset@gmail.com
Phone
+6289674142100
Journal Mail Official
bercadik@gmail.com
Editorial Address
Program Pasca Sarjana ISI Padangpanjang Jalan Bahder Johan, Padangpanjang, Sumatera Barat, 27128
Location
Kota padang panjang,
Sumatera barat
INDONESIA
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
ISSN : 23555149     EISSN : 28073622     DOI : http://dx.doi.org/10.26887/bcdk
Core Subject : Humanities, Art,
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni adalah publikasi ilmiah akses terbuka multidisiplin, yang diterbitkan oleh Program Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia Padangpanjang, bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Pengabdian Pada Masyarakat dan Pengembangan Pendidikan (LPPMPP) ISI Padangpanjang. Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni, terbit 2 kali dalam setahun (pada bulan April dan Oktober) memuat artikel hasil penelitian, kajian, pemikiran, ataupun hasil penciptaan di bidang seni, baik seni rupa, seni pertunjukan, desain, kriya, maupun seni media rekam. Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni juga terbuka bagi artikel dari bidang lain yang relevan, antara lain dari bidang budaya, filsafat, pendidikan seni, sastra dan humanitas secara umum, sebagai bentuk komiten pada interdisiplinaritas. Topik-topik dari bidang antropologi, sosiologi, studi kebijakan, sejarah, serta studi tata kelola, yang berhubungan dengan bidang seni secara khusus maupun dengan budaya dan kebudayaan secara umum, juga menjadi topik yang diundang untuk dimuat pada jurnal ini. Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni, terbit secara daring mulai tahun 2021, setelah sebelumnya terbit dalam versi cetak pada rentang 2013-2017.
Articles 127 Documents
MAKNA DAN FUNGSI TARI KAIN DALAM UPACARA BEGAWAI DI INDERAGIRI HULU, RIAU Sri Raudah Basya; Erlinda Erlinda; Ediwar Ediwar
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 2, No 1 (2014): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.141 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v2i1.45

Abstract

ABSTRAKTari Kain merupakan tari tradisional yang terdapat pada masyarakat Talang Mamak di desa Talang Jerinjing Kabupaten Inderagiri Hulu Provinsi Riau, yang ditarikan oleh dua orang laki-laki. Tari ini merupakan tari yang dilakukan pada upacara Begawai masyarakat Talang Mamak Upacara Begawai adalah upacara perkawinan. Tari Kain berasal dari gerak yang berasal dari fenomena dan kejadian alam kemudian dibentuk menjadi sebuah gerak baku yang tidak boleh dirubah ataupun diganti di dalam upacara Begawai tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk tari Kain dalam upacara Begawai. Adapun metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Teori yang digunakan untuk membedah fenomena tari Kain ini adalah teori struktural dari Levi Strauss, teori semiotik Roland barthes.Hasil temuan dari penelitian ini adalah bahwa tari Kain merupakan tari untuk pengesahan perkawinan bagi masyarakat Talang Mamak, seandainya pada upacara perkawinan tidak dilaksanakan tari Kain maka perkawinan dianggap tidak sah secara adat. Dalam gerak-gerak tari Kain mengandung simbol-simbol dan makna-makna tertentu yang terkait dengan kepercayaan masyarakat Talang Mamak. Dengan demikian penelitian ini diberi judul Makna tari kain dalam upacara Begawai pada masyarakat Talang Jerinjing kecamatan Rengat Barat Kabupaten Inderagiri Hulu Provinsi Riau.Kata kunci: Tari Kain, Upacara Begawai, Makna, dan Inderagiri Hulu. ABSTRACTKain dance is a traditional dance that is present in the community in the village Talang Talang Mamak Jerinjing Inderagiri Hulu district of Riau province , which is danced by two men . This dance is a ritual dance performed in public Begawai Talang Mamak Begawai ceremony is the marriage ceremony . Cain dance derived from the motion derived from natural phenomena and events then formed into a raw motion should not be changed or replaced in the Begawai ceremony . The purpose of this study was to determine how the dance form fabrics in Begawai ceremony . The method used is qualitative method . The theory is used to dissect this phenomenon Kain dance is a structural theory of Levi Strauss , Roland Barthes' semiotic theory . The findings from this study is that Cain dance is a dance for the public endorsement for the Talang Mamak marriage , if the marriage ceremony was not held dance Cain then marriage is considered invalid by custom . In the dance movements of fabrics containing symbols and meanings associated with a particular public trust Talang Mamak . This study therefore entitled Meanings dance fabric Begawai ceremony at the sub-district community Jerinjing Gutter West Rengat Inderagiri Hulu Regency Riau Province . Keywords: Dance Fabrics, Begawai ceremony, Meaning, and Inderagiri Hulu.
DIALEKTIKA DALAM KOMPOSISI MUSIK LAMAK KATO LEGO BUNYI MUHAMMAD HARIO EFENUR; Ediwar Ediwar; Muhammad Halim
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 3, No 1 (2016): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.98 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v3i1.535

Abstract

ABSTRACT Lamak Kato-Lego Bunyi is a sentence found in Pasambahan, which in Indonesian means literally as beautiful word-clash of sound but the contextual meaning of this sentence is “the beauty of an agreement resulted from various opinions/inputs discussed previously”. The discussion refers to a democratic discussion, meaning everyone present has equal right to speak up his/her mind regardless what her/his age is. In this case, it carries the same idea with a Pasambahan.Pasambahan plays an important role in building Minangkabau people’s characters, a discussion room that has ethical, aesthetic, and educational values and teaches Minangkabau people how to convey polite/courteous words toward others. In the theory of conflict, discussion room has three elements or concepts in comprehending dialectics and several stages in completing the discussion. The elements found out in dialectics are thesis, antithesis and synthesis, and the stages in completing a discussion consist of the emergence of conflict, discussion, and agreement.The objective of this artwork is the Reinterpretation of Pasambahan. Several objects which become the inspiration and then are interpreted into this artwork consist of the room of democratic discussion, dialectics, and the positive value of Pasambahan which has good impacts on the supporting society. The embodiment of this artwork aims at being the medium of appreciation for artists and youths in noticing the importance of Pasambahan culture.
ESTETIKA TARI LILIN BEPINGGAN PADA MASYARAKAT KAYU AGUNG KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR PROPINSI SUMATERA SELATAN Neni Krisniawati; Erlinda Erlinda; Susas Rita Loravianti
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 3, No 2 (2016): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.767 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v3i2.553

Abstract

ABSTRACT Lilin Bepinggan dance is an illustration of happiness originated from Miyah Malaman tradition. This tradition is usually done by the youngsters in Ramadan month especially in Lailatul Qadar night. The boy comes to his lover’s house by bringing the equipments of malaman such as candles, firecrackers, and fireworks. Yusrizal, as an artist and humanist, transforms this tradition into performancing art presented through Lilin Bepinggan dance. This dance has complex and aesthetic elements of dance that are interested to be studied further.The objective of this study is to understand the form and aesthetics of Lilin Bepinggan dance in Kayu Agung City, Ogan Komering Ilir District. This study utilized qualitative method in order to reveal and understand the aesthetics of Lilin Bepinggan dance. The data were obtained from (1) observation, (2) interview, and (3) documentation. The data were then verified and analyzed with the theories of form and aesthetics.The aesthetics element of Tari Lilin Bepinggan can be seen from physical reaction, harmony, and sensitive aspect of comprehension portrayed from the performance of Lilin Bepinggan dance that has been influenced by religious, cultural and social values. Keywords: Lilin Bepinggan dance, Aesthetics, Value, Social, Culture 
KOMPOSISI, FUNGSI DAN NILAI DAMPIANG SURANTIAH Firda Riki Arta; Awerman Awerman; Zainal Warhat
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 4, No 2 (2017): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.168 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v4i2.570

Abstract

ABSTRACT This study aims at seeing the composition, function, and value of dampiang that exists in Surantiah people, Pesisir Selatan. Surantiah people use dampiang as the accompaniment in the event of maanta marapulai (= escorting bridegroom). The tradition that performs dampang is known as the name ‘badampiang,’ and it has been practiced hereditarily by people. Dampiang composition will be analyzed by using Kusumawati’s view, that the elements of music composition involve rhythm, melody, harmony, form, and color. Dampiang function will be analyzed by using Alan P. Merriam’s view. The analysis of dampiang value will be conducted by using value proposed by Max Scheler.            This study concludes that dampiang is the lyric in the form of pantun that contains messages for the bridegroom. Dampiang composition is formed by flat rhythm and melody built by dampiang harmony. Dampiang has the function as emotional expression, cultural preservation, and societal integration. Dampiang in Surantiah people does not have the function of enjoyment. Dampiang has a value that reflects something believed and considered of by Surantiah people. Value contained in dampiang involves            This study is expected to be able to widen the studies about dampiang and other traditional arts. It is also expected to become the part of preservation and development forms of traditional art-culture.
EKSPRESI MUSIKAL RATOK SIKAMBANG DALAM BABIOLA Darmansyah Darmansyah Darmansyah; Mahdi Bahar Mahdi; Nursyirwan Nursyirwan Nursyirwan
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 1, No 1 (2013): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.039 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v1i1.20

Abstract

ABSTRAK Tulisan ini merupakan hasil penelitian tentang pertunjukan biola yang oleh masyarakat Batang kapas dikenal dengan istilah  babiola. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis salah satu repertoar lagu dalam pertunjukan biola tersebut yang sangat dikenal oleh masyarakat setempat, yaitu Ratok Sikambang. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan semiotik sebagai simbol budaya. Hasil penelitian memperlihatkan, bahwa tradisi  babiola (pertunjukan biola) dengan Ratok Sikambang-nya merupakan simbol sosial masyarakat. Biola itu sendiri adalah sejenis alat musik tradisional yaitu sejenis instrumen gesek mirip biola (viol),  dengan materi utamanya adalah penyampaian teks kaba (cerita). Salah satu repertoar lagunya yang terkenal adalah Ratok Sikambang. Ratok Sikambang diyakini sebagai lagu tradisional tertua dan memiliki karakteristik melodi dan teks. Isi teks lagu berupa imitasi bentuk isak tangis ratapan yang dipandang masyarakat pendukungnya sebagai representasi suasana sedih. Hal ini  dialami tokoh legendaris Sikambang yang selalu dirundung penderitaan hidup. Penyajian tradisi Babiola dalam membawakan karakter lagu Ratok Sikambang disajikan secara ekspresif oleh tukang biola (pemain biola) sebagai puncak ekspresi musikal. Kata Kunci: Ekspresi Mussikal, Ratok Sikambang, Babiola, Masyarakat Batang Kapas.  
TARI OLANG-OLANG DALAM RITUAL PENGOBATAN SUKU SAKAI DI KECAMATAN MINAS, KABUPATEN SIAK Khairul Layali; Rosta Minawati; Yusfil Yusfil
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 2, No 1 (2014): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.612 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v2i1.40

Abstract

ABSTRAK  Tari Olang-olang merupakan cerminan identitas masyarakat pedalaman suku Sakai yang terdapat di Kecamatan Minas, Kabupaten Siak. Tari Olang-olang adalah sebuah tari pengobatan bagi suku Sakai. Suku Sakai masih percaya bahwa penyakit manusia ditimbulkan oleh gangguan roh halus. Sistem pengobatannya dengan melakukan upacara yang di dalam proses pengobatan terdapat tari Olang-olang. Bentuk tari Olang-olang dalam kehidupan suku Sakai dapat dilihat dari bentuk gerak, musik pengiring dan properti serta busana yang dapat dilihat dari wujud mencakup seluruh aspek yang dapat ditangkap oleh panca indra.           Makna yang terkandung pada tari Olang-olang dalam ritual pengobatan Suku Sakai di Kecamatan Minas adalah makna ritual, makna estetika, makna representasi budaya, dan makna pelestarian budaya. Tari Olang-olang menggambarkan roh dari Soli, yang merupakan roh nenek moyang suku Sakai yang semasa hidupnya juga seorang Bomo. Olang-olang mempunyai makna burung terbang. Gerakan dari Tari Olang-olang menggambarkan simbolisasi komunikasi antara Bomo dengan roh Soli dalam penyembuhan orang yang sakit.  Kata Kunci: Tari Olang-Olang, Ritual, Suku Sakai, Kecamatan MinasABSTRACT Dance - Olang Olang is a reflection of the identity of rural communities Sakai tribe contained in District Minas , Siak . Olang - Olang dance is a dance for the treatment of Sakai tribe . Sakai people still believe that the human disease caused by interference spirits. Treatment system to perform the ceremony in the treatment process are dance - Olang Olang . Olang - Olang dance forms in Sakai tribal life can be seen from the form of movement , musical accompaniment and property as well as clothing that can be seen from the form covers all aspects that can be captured by the five senses . Meaning contained in Olang - Olang dance in ritual treatment Sakai people in District Minas is a ritual significance , aesthetic meaning , the meaning of cultural representation and preservation of cultural significance . Dance - Olang Olang describe the spirit of Soli , which is the ancestral spirits Sakai tribe who during his lifetime was also a Bomo . Olang - Olang has meaning flying birds . Movement of Dance - Olang Olang describe symbolize communication between Bomo with Soli spirit in healing the sick.Keywords: Dance - Olang Olang, Ritual, Sakai tribe, District of Minas          
RONGGENG MELAYU DALAM PENCIPTAAN TARI RESAM SEMENANJUNG Syafrizaldi Syafrizaldi; Ediwar Ediwar; Martion Martion
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 2, No 2 (2014): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bcdk.v2i2.56

Abstract

ABSTRAK                                       Fenomena kesenian tradisional Melau di Sumatera Utara menjadi salah satu objek yang dicermati pengkarya untuk menghadirkan karya tari Resam Semenanjung. Fenomena tersebut terdapat pada kesenian ronggeng Melayu. Kesenian ronggeng di Indonesia, khususnya di Suamtera Utara merupakan kesenian yang berkembang dan dipengaruhi budaya luar. Secara budaya, etnik budaya Melayu selalu merespon dan mengadopsi pengaruh kesenian luar, sehingga terciptalah akulturasi budaya. Islam menjadi asas uatama dalam proses akulturasi tersebut, sehingga perubahan kesenian Melayu akan selalu diimbangi oleh kontinuitasnya. Ronggeng Melayu Sumatera Utara dapat dikatakan sebagai kesenian yang berkaitan dengan nilai kehidupan masyarakat tersebut, hal ini dikarenakan ronggeng memiliki konsep tari dalam budaya Melayu. Seni tari dalam kebudayaan Melayu mengikuti norma-norma yang digariskan oleh adat Melayu. Berbagai gerak mencerminkan halusnya budi orang-orang Melayu, yang menjadi integral dari pada diri sendiri maupun alam sekitar, seperti yang tercermin dalam ungkapan Melayu “Kembali ke alam semula jadi”. Selain konsep tari ronggeng juga memiliki sifat-sifat dan adat resam. Aat resam yang dipakai dalam perwujudan kesenian ronggeng Melayu mengacu ada adat yang sebenar adat, adat yang diadatkan, adat yang teradat dan adat istiadat.Karya ini lebih menitik beratkan pada fenomena yang terkandung pada ronggeng tersebut, yaitu konsep-konsep tari, sifat dan adat resam. Digarap sesuai perkembangan zaman tanpa menghilangkan konsep, sifat dan adat resam Melayu. Karya ini dibagi dalam tiga bagian di mana masing-masing bagian memiliki kaitan cerita satu sama lain. Metode yang dipakai untuk menciptakan tari Resam Semenanjung melalui tahapan eksplorasi, tahap pembentukan karya dan evaluasi.Resam adalah karakter atau nilai-nilai tertentu yang dipergunakan atau yang melekat pada suatu upacara dan adat. Sedangkan semenanjung adalah satu kesatuan wilayah yang dihuni oleh komunitas masyarakat Melayu dalam mengembangkan kebudayaanya. Sajian karya ini berbentuk dramatari dan menggunakan tipe dramatik.  Kata kunci: Ronggeng, Melayu, Penciptaan, Tari dan Resam Semenanjung    ABSTRACT The phenomen on of Malay traditional artisisn North Sumatera became one of the objects observed pengkarya to present dance work Resam Semenanjung. This phenomenon found in Malay ronggeng art. Ronggeng arts in Indonesia, especially Nort Sumatera is growing art and culture influence art can constitute acculturation. Islam is the mai principle in the acculturation process, so changes Malay art can be said to berelated to the value of people’s lives it is because ronggeng have dance concepts in Malay culture. The art of dance in Malay culture follow the normslaid down by Malay custom. Varios motion reflects the environment, as reflectedin the Malay phrase “Back to original nature so”. In addition to the in digenous custom, custom diadatkan, teradat and mores.            This workis focusedon the phenomen on that is containedin the ronggeng dance concepts, properties and custom resam. Work edaccording to the times with out losing the concept, nature and indigenous Malay resam. This work is divide into three sections where each section has as torylink to each other. The method used to create the dance Resam Semenanjung through the exploration stage, the stage of formation and evaluation work.            Resam is a character or specific value susedor attached to a ceremony and customs. While the peninsula is a territorial unitin habited by the Malay community in dveloping culture. This work dramatari shaped dishanduse the type of dramatic.
BAYANG DI BALIK TIANG: REINTERPRETASI ATAS NOVEL SITI NURBAYA KARYA MARAH ROESLI Rusel Akbar Fauzi; Sahrul Sahrul; Nurhaida Nuri
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 3, No 2 (2016): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.469 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v3i2.546

Abstract

ABSTRACT             Theater of Bayang di Balik Tiang (Shadow behind the Pole) is a reinterpretation of novel Siti Nurbaya by Marah Roesli. This novel tells a miserable romance between Siti Nurbaya and Samsul Bahri. This story was started with these lovers’ relationship that’s ultimately blocked by the proposal of a panghulu kaum (headman) in Minangkabau named Datuk Maringgih. Siti Nurbaya, who never wishes to be Datuk Maringgih’s wife, eventually had to accept the proposal due to the debts her father owed to Datuk Maringgih. Siti Nurbaya accepted Datuk Maringgih’s Proposal because she was the only who could save her family’s economy, which underwent a bankruptcy.The creation of Bayang di Balik Tiang theater was started with the play arrangement. The fundamental difference between Siti Nurbaya and this play was the presence of mamak (mother’s brothers) character in this work, who could be deemed guilty of Siti Nurbaya’s miserable fate. The creator of this work also provided objective nationhood senses by reinterpreting characters in the roman like Datuk Maringgih, Samsul Bahri, Siti Nurbaya, and the emergence of new characters besides Mamak Angku Palo, namely Hanafi as Samsul Bahri’s friend. Those characters functioned as “dialectical space” in understanding the meaning of love, either love between opposite sexes or love towards one another or love towards the homeland. This play was arranged in montage way namely a narrative storyline using fast-and-mobile-ordered scenes. The space and the time wee created in a random and leaping order. The plot arranged was not linear. Keywords: Theater, Siti Nurbaya Novel, Mamak, Montage
KOREOGRAFI MARAJUIK ASA: INTERPRETASI ATAS TARI PIRING DEBUS ANDALEH, TANAH DATAR Yeni Eliza; Rasmida Rasmida; Susas Rita Loravianti
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 4, No 2 (2017): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.006 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v4i2.565

Abstract

ABSTRACT Women have an important role in rumah gadang. Meanwhile, men generally live in surau to learn Qur’an and study traditional arts. The tradition shifts because of the influence of current development that results on traditional arts are no longer inherited to the young generation. In this writing, it is described the method of work creation started from the stages of contemplation, observation, data collection, interview, elaboration, synthesis, realization, until completion in the form of artwork performance. Therefore, the objective of this work creation is achieved namely traditional art particularly Piring Debus dance becomes popular and people feel that traditional art belongs to them. Keywords: Revitalization, Art, Tradition
RITUAL ASYEIK SEBUAH FENOMENA BUDAYA MENJADI ESTETIK PENCIPTAAN FILM DOKUMENTER Syafriandi Syafriadi; Rosta Minawati; Gerzon Ajawaila
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 2, No 1 (2014): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.304 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v2i1.35

Abstract

ABSTRAK Film dokumenter “Ritus Jiwa” memiliki makna tentang pertemuan antara jiwa yang hidup dengan jiwa yang mati, yang merupakan hakikat dari peristiwa Ritual Asyeik. Pertemuan jiwa yang hidup dengan jiwa yang mati merupakan pertemuan Roh Nenek Moyang  dengan anak cucu  mereka, peristiwa ini disebut oleh masyarakat Dusun Empih sebagai peristiwa dan ajang silaturrahmi dengan Roh Nenek Moyang. Roh Nenek Moyang muncul ke dalam jiwa yang hidup ketika penari mengalami kerasukan. Pemanggilan Roh Nenek Moyang dilakukan melaui mantra atau syair-syair Ritual Asyeik. Ritual Asyeik adalah upacara sakral, yakni upacara pemanggilan Roh Nenek Moyang. Upacara sakral ini dilakukan dengan melibatkan orang-orang tertentu, seperti orang-orang yang memiliki kekuatan magis yang disebut dengan dukun (pengasouh). Dukun berperan sebagai perantara antara jiwa yang hidup dan jiwa yang sudah mati.Dalam proses mewujudkan realita ke dalam bentuk film dokumenter membutuhkan kepekaan Imajinasi dan ide-ide kreatif. Penciptaan karya film ini berangkat dari ide dan gagasan yang terangkum dalam fenomena dan realita Ritual Asyeik. Ide dan gagasan ini diuraikan menjadi tema dalam penciptaan karya film dokumenter dengan menggunakan gaya interaktif. Gaya interaktif lebih memokuskan pada penuturan proses pembuatan shooting film, dan gaya Interaktif lebih menampilkan keberadaan subjek dan karakter dalam film. Dalam penciptaan karya film ini akan mengabungkan dua gaya tersebut. Karya film dokumenter ini akan diciptakan dalam pendekatan bentuk disebut juga film eksperimental. Dalam bentuk film ini pengkarya/sutradara akan melakukan eksprimentasi dan eksplorasi tergadap pengambilan gambar, kemudian disusun dengan tujuan memberikan efek dramatik, menggugah emosi penonton. Kata Kunci: Ritus Jiwa, Ritual Asyeik, Film dokumenter   ABSTRACT The documentary film "Rites of Life" has the meaning of the encounter between the living soul with the soul of the dead, which is the essence of the ritual event Asyeik. Meeting a living soul with the soul of a dead ancestor spirits meetings with their children and grandchildren, this event is called by the people of Dusun Empih as events and event silaturrahmi with Spirit Ancestors. Ancestor Spirit emerge into a living soul when experienced dancers possessed. Summons Spirit Ancestors done through a spell or ritual Asyeik poems. Asyeik ritual is a sacred ceremony, the ceremony calling of the Spirit Ancestors. This sacred ceremony is performed involving certain people, such as people who have magical powers called shaman (pengasouh). Shamans act as intermediaries between the living soul and the souls of the dead. In the process of realizing reality in the form of a documentary film requires sensitivity Imagination and creative ideas. The creation of this film work departs from the idea and the ideas embodied in the phenomenon and the reality of ritual Asyeik. New ideas and is described to be a theme in the creation of a documentary film work using an interactive style. More interactive style of the narrative were focused on the process of shooting the film, and a more interactive style show where the subject and the characters in the film. In the creation of works of the film will combine the two styles. The work of this documentary will be created in the form of approach is also called experimental film. In this film form pengkarya / director will conduct exploration tergadap eksprimentasi and shooting, then compiled with the aim of providing a dramatic effect, the emotions the audience. Key words: Rites of Life, Ritual Asyeik, documentary

Page 6 of 13 | Total Record : 127