cover
Contact Name
Sri Warsini
Contact Email
sri.warsini@ugm.ac.id
Phone
+62274-545674
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Gedung Ismangoen Jl. Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal)
ISSN : 2614445x     EISSN : 26144948     DOI : https://doi.org/10.22146/jkkk.57386
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) accepts novel research articles, case study, literature review, and psychometric testing articles in all field of clinical and community of nursing. This journal is published through peer-review process by nursing and health expert in academic and health care institution in Indonesia. The scope includes: 1) Surgical medical nursing 2) Emergency nursing 3) Basic nursing 4) Education in nursing 5) Management in nursing 6) Maternity nursing 7) Pediatric nursing 8) Mental health nursing 9) Community nursing
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2022)" : 6 Documents clear
Gambaran Kesejahteraan Spiritual Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Frilisa J. Hi. Syafi; Ike Wuri Winahyu Sari
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.293 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.49490

Abstract

Background: Spiritual is one of the significant aspects in the concept of comprehensive nursing care. The broad variation of spiritual well-being and the limited number of research on spiritual well-being of patients with chronic kidney failure undergoing hemodialysis become the background of this research.Objective: To identify the spiritual well-being of patients undergoing hemodialysis.Method: The study used descriptive-analytic design. The sample was using purposive sampling technique with 62 patients with chronic kidney failure undergoing hemodialysis at RSUD Panembahan Senopati Bantul. Data was compiled through the valid and reliable Spiritual Well-Being Scale (SWBS) questionnaire. Data analysis consisted of univariate and bivariate (One-way ANNOVA and Unpaired T-test).Result: The measured respondents’ spiritual well-being was reached score of 91,58+10,47 within the range of 20-120. Based on the respondents’ characteristics, there is no difference of spiritual well-being based on age (p=0,691), gender (p=0,355), marital status (p=0,107), employment status (p=0,141), level education (p=0,141) and length of time of hemodialysis (p=0,300).Conclusion: The spiritual well-being of patients with chronic kidney failure undergoing hemodialysis at RSUD Panembahan Senopati Bantul was at the moderate level. There was not any significant difference of spiritual well-being based on respondents’ characteristics. Efforts to help patients obtain spiritual well-being through therapeutic communication, empathy, and facilitating patients to express spirituality are necessary. ABSTRAKLatar belakang: Spiritual merupakan salah satu aspek penting dalam konsep pelayanan keperawatan yang komprehensif. Beragamnya kesejahteraan spiritual dan sedikitnya penelitian mengenai gambaran kesejahteraan spiritual pasien Gagal Ginjal Kronis (GGK) yang menjalani hemodialisis mendorong penelitian ini untuk dilakukan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesejahteraan spiritual pasien GGK yang menjalani hemodialisis.Metode: Desain penelitian yang digunakan yaitu deskriptif-analitik. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan besar sampel 62 pasien GGK yang menjalani hemodialisis di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Spiritual Well-Being Scale (SWBS) yang telah valid dan reliabel. Analisis data terdiri atas univariat dan bivariat (uji One-way ANNOVA dan uji t tidak berpasangan).Hasil: Kesejahteraan spiritual responden bernilai 91,58±10,47 dalam rentang skor 20-120. Berdasarkan karakteristik reponden, tidak ada perbedaan kesejahteraan spiritual berdasarkan usia (p=0,691), jenis kelamin (p=0,355), status pernikahan (p=0,107),  status pekerjaan (p=0,141), tingkat pendidikan  (p=0,549), dan lama hemodialisis (p=0,300).Simpulan: Kesejahteraan spiritual pasien GGK yang menjalani hemodialisis di RSUD Panembahan Senopati Bantul pada tingkat sedang. Tidak ada perbedaan bermakna kesejahteraaan spiritual berdasarkan karakteristik responden. Upaya untuk membantu pasien mencapai kesejahteraan spiritual yang tinggi melalui komunikasi terapeutik, empati, dan memfasilitasi pasien untuk mengekspresikan spiritual perlu dilakukan.
Metode William Fleksi pada Low Back Pain: Studi Literatur Ika Rahmawati; Devi Nurmalia; Sarah Ulliya; Bambang Edi Warsito
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.107 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.63222

Abstract

Background: Low back pain (LBP) is a clinical syndrome in which the main symptom is painful or uncomfortable feeling in lower back area. Work factor is one of many factors that can caused LBP, which may be triggered by carelessness and unergonomic work posture. There is a physical therapy that can be applied to reduce the pain of LBP sufferer namely William’s Flexion Exercise.Objective: To know the effect of William’s Flexion Exercise in reducing the pain of LBP sufferer.Method: This research was a literature review. Literatures were gathered from Google Scholar and PubMed database with low back pain and William’s flexion exercise as the keyword. Data was analysed using PRISMA flow diagram with inclusion criteria such as full text format, published between 2015-2020; written in Bahasa Indonesia and nationally published; written in English and internationally published in Scopus Q1-Q3 indexed journal. While exclusion criteria were literatures which published before 2015 and with double publication.Result: There were seven literatures identified according to the criteria above. From these literatures, it was found that William’s Flexion Exercise was proven in reducing scale of pain of low back pain sufferers and improving joint motion. There were several methods of William’s Flexion Exercise such as pelvic tilting, single knee to chest, double knee to chest, partial sit up, hamstring stretches, bicycling, banding from a chair and squat factor.Conclusion: William’s Flexion Exercise can be an alternative physical therapy to reduce the scale of pain of LBP sufferer. ABSTRAKLatar belakang: Low back pain (LBP) adalah sindrom klinis dengan gejala utama nyeri atau ketidaknyamanan di daerah punggung bawah. Banyak faktor yang dapat menyebabkan LBP, salah satunya adalah faktor pekerjaan. Keluhan nyeri punggung bawah dapat timbul karena kurang berhati-hati dan sikap yang tidak ergonomis selama beraktivitas dalam bekerja. Salah satu terapi fisik yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri pada penderita LBP adalah dengan latihan William Fleksi.Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi latihan William Fleksi untuk mengurangi nyeri pada penderita LBP. Metode: Penelitian ini merupakan studi literatur. Literatur dikumpulkan dari database Google Scholar dan PubMed dengan nyeri punggung bawah dan latihan fleksi William sebagai kata kuncinya. Data dianalisis menggunakan diagram alir PRISMA dengan kriteria inklusi seperti format teks lengkap, diterbitkan antara tahun 2015-2020; ditulis dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan secara nasional; ditulis dalam bahasa Inggris dan diterbitkan secara internasional dalam jurnal terindeks Scopus Q1-Q3. Sementara kriteria eksklusi adalah literatur yang diterbitkan sebelum tahun 2015 dan dengan publikasi ganda. Hasil: Ada tujuh literatur yang diidentifikasi sesuai dengan kriteria di atas. Dari literatur-literatur tersebut ditemukan bahwa William's Flexion Exercise terbukti dapat menurunkan skala nyeri pada penderita low back pain dan meningkatkan gerakan sendi. Terdapat beberapa metode William Fleksi, antara lain pelvic telting, single knee to chest, double knee to chest, partial sit up, hamstring stretches, bicycling, banding from a chair dan squat factor.Simpulan: Latihan William Fleksi dapat menjadi alternatif terapi fisik untuk mengurangi skala nyeri pada penderita LBP.
Perbedaan Skor Risiko Kecanduan Video Game Berdasarkan Strategi Koping pada Remaja SMA Luklu Latifah; Ronny Tri Wirasto; Intansari Nurjannah
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11929.6 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.67509

Abstract

Background: Coping is an important mediator for teenagers in response to stressors, and video games are widely used by teenagers to reduce the perceived stressors. Senior high school students are the group that commonly play and have a high risk of being addicted to video games.Objective: To determine differences in the risk of video games addiction based on coping strategies in Muhammadiyah 1 Yogyakarta school teenagers.Methods: This research was a quantitative comparative descriptive study with a cross-sectional design conducted on 156 teenagers in Muhammadiyah 1 Yogyakarta school in February 2020. Data were collected using the COPE Inventory and IGDS9-SF. Data analyzed using univariate analysis and bivariate using Kruskal Wallis and a post Hoc test using Mann-Whitney.Results: Most respondents were male (51,3%), aged 16 years old (47,4%), who began playing video games at the age >8 years old (6,4%), have played video games for £4 hours in a day (87,8%), and frequency 1-3 days a week (61,5%). There were no respondents with a risk of video game addiction (0%). Most respondents were classified into uncategorized coping strategies (89,1%). The religious coping component was mostly preferred (mean = 13,55), while substance using ranked the least (mean = 4,49). The results showed a significant difference between the types of coping strategies with video games addiction risk scores (p <0,05).Conclusion: Video games addiction risk scores in SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta teenagers differed significantly based on their coping strategies. ABSTRAKLatar belakang: Koping merupakan mediator penting bagi remaja dalam menanggapi stresor dan video game banyak digunakan oleh remaja untuk mengurangi stresor yang dirasakan. Remaja SMA merupakan kelompok yang kerap bermain dan berisiko tinggi mengalami kecanduan video game.Tujuan: Mengetahui perbedaan risiko kecanduan video game berdasarkan jenis strategi koping pada remaja di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif komparatif dengan desain cross-sectional yang dilakukan pada 156 remaja di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta pada bulan Februari 2020. Data dikumpulkan menggunakan COPE Inventory dan IGDS9-SF. Analisis data berupa analisis univariat dan bivariat dengan Kruskal Wallis dan uji post hoc menggunakan uji Mann Whitney.Hasil: Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (51,3%), berusia 16 tahun (47,4%), pertama kali bermain video game pada usia >8 tahun (65,4%), bermain video game dengan durasi £4 jam dalam sehari (87,8%), dan frekuensi 1-3 hari dalam seminggu (61,5%). Tidak ada responden yang memiliki risiko kecanduan video game (0%). Koping tidak terkategori paling banyak digunakan (89,1%). Komponen koping ‘kembali kepada agama’ paling banyak digunakan (mean = 13,55), sementara ‘penggunaan zat’ paling sedikit digunakan (mean = 4,49). Hasil uji beda terdapat perbedaan signifikan antara jenis strategi koping dengan skor risiko kecanduan video game (p<0,05).  Simpulan: Skor risiko kecanduan video game pada remaja SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta berbeda secara signifikan berdasarkan strategi koping yang dimiliki.
Hubungan Persepsi Orang Tua terkait Dukungan Keluarga dengan Masalah Psikososial pada Anak dengan Leukemia Evita Dwi Nastiti; Itsna Luthfi Kholisa; Fitri Haryanti
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.416 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.67684

Abstract

Background: Leukemia is the most common childhood cancer. Leukemia and its treatment have side effects on the physical and psychosocial health of the sufferer, which are still rarely studied. Psychosocial problems in children with leukemia can affect care and treatment process. One of the factors that can influence psychosocial problems in children with leukemia is family support.Objective: This study aimed to determine the relationship between parents' perceptions of family support and psychosocial problems of children with leukemia in RSUD Dr. Moewardi Surakarta.Method: This was a descriptive-analytic research with a cross-sectional approach. Subjects were 43 children with leukemia aged 5-18 years and their parents who were selected using the purposive sampling technique. The inclusion criteria in this study were children with leukemia who were treated at RSUD Dr Moewardi, parents who in the past week treated children with leukemia, could speak Indonesian, and filled out informed consent. Parents' perceptions of family support were measured by the family support instrument and psychosocial problems were measured by the Pediatric Symptom Checklist (PSC)-17. The analysis was carried out by Spearman Rank.Result: Parents' perceptions of family support were 55,8% in the moderate category. The majority of leukemia children did not experience psychosocial problems (97,7%) however, 6 children experienced psychosocial problems in the internalization domain. There was no significant relationship between parents' perceptions of family support and psychosocial problems in children with leukemia as it showed p-value of 0,576 (p>0,05).Conclusion: Parents' perceptions of family support is not corelated with psychosocial problems in children with leukemia in RSUD Dr. Moewardi Surakarta. ABSTRAKLatar belakang: Leukemia merupakan kanker yang paling banyak terjadi pada anak. Leukemia dan pengobatannya memberi efek samping bagi kesehatan fisik dan psikososial pasien anak yang saat ini masih jarang diteliti. Masalah psikososial pada anak leukemia dapat memengaruhi proses perawatan dan pengobatannya. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi masalah psikososial pada anak leukemia adalah pemberian dukungan keluarga.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi orang tua terkait dukungan keluarga dengan masalah psikososial anak leukemia di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian yaitu 43 anak leukemia berusia 5-18 tahun dan orang tuanya yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria inklusi dalam penelitian ini antara lain, anak leukemia yang sedang menjalani perawatan di RSUD Dr Moewardi, orang tua yang dalam satu minggu terakhir merawat anak dengan leukemia, dapat berbahasa Indonesia dan mengisi informed consent. Persepsi orang tua terkait dukungan keluarga diukur dengan instrumen dukungan keluarga dan masalah psikososial diukur dengan Pediatric Symptom Checklist (PSC)-17. Analisis dilakukan dengan Spearman Rank.Hasil: Persepsi orang tua terkait dukungan keluarga sebanyak 55,8% dalam kategori sedang. Mayoritas anak leukemia tidak mengalami masalah psikososial (97,7%). Namun, terdapat 6 anak yang mengalami masalah psikososial pada domain internalisasi. Hasil uji hubungan antara persepsi orang tua terkait dukungan keluarga dengan masalah psikososial anak leukemia menunjukkan hasil p-value 0,576 (p>0,05) yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan.Simpulan: Persepsi orang tua terkait dukungan keluarga tidak berhubungan dengan masalah psikososial anak leukemia di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.
Electronic Patient Reported Outcomes (ePROs) dalam Pengukuran dan Pemantauan Gejala pada Anak dengan Kanker: Studi Literatur El Nino Tunjungsari; Allenidekania Allenidekania
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.667 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.71367

Abstract

Background: The incidence of cancer in children is estimated to increase in the future, on the other hand, health care providers rarely detect the burden of the symptoms felt by children with cancer. Effectively reported and measured subjective symptoms could increase the quality of interventions that affected children’s health-related quality of life (HRQoL). Recently, Electronic Patient-Reported Outcomes (ePROs) have been widely applied in the assessment, monitoring, and evaluation of interventions on symptoms that mostly experienced by adult cancer patients, while the application of ePROs in pediatric patients is still not widely developed.Objective: To describe the application of ePROs in children with cancer in the last decade.Method: This was literature review research. Articles searched through online databases, i.e. Proquest, Science Direct, Research Gate, and Google Scholar that were published in the last 10 years (2012 to 2021), with keywords electronic patient-reported outcomes and pediatric cancer.Result: There were nine articles found. It was found that ePROs were more developed by High-Income Countries (HIC). Furthermore, the measuring tools used in ePROs determined the user's age and measured symptoms. Moreover, ePROs was easy to use and provided more benefits for users and health care providers. Meanwhile, there were technical and organizational barriers in their development.Conclusion: Symptom measurement tools that are synchronized to the user's age will make ePROs an effective symptom measurement tool in children with cancer. The use of ePROs in pediatric patients with cancer is positively affecting patients. ABSTRAKLatar belakang: Angka kejadian kanker pada anak diperkirakan meningkat dari tahun ke tahun. Namun, di sisi lain, penderitaan yang dirasakan oleh anak dengan kanker sering tidak terdeteksi oleh tenaga kesehatan. Gejala-gejala subjektif yang dialami oleh pasien anak dengan kanker jika dilaporkan dan didokumentasikan dengan baik, telah terbukti meningkatkan intervensi sesuai dengan prioritas gejala yang paling mengganggu kualitas hidup anak. Belakangan ini, Electronic Patient Reported Outcomes (ePROs) telah banyak dimanfaatkan dalam pengkajian, pemantauan, hingga evaluasi terhadap intervensi pada gejala yang dialami oleh pasien kanker dewasa. Namun, penggunaan ePROs pada pasien anak masih belum banyak dikembangkan.Tujuan: Untuk menggambarkan penggunaan ePROs pada anak dengan kanker dalam satu dekade terakhir.Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur. Artikel dicari melalui database daring yakni Proquest, Science Direct, Research Gate, dan Google Scholar yang diterbitkan dalam 10 tahun terakhir (2012-2021) dengan kata kunci electronic patient reported outcomes dan anak dengan kanker.Hasil: Diperoleh 9 artikel yang sesuai dengan kriteria. Ditemukan bahwa ePROs lebih banyak dikembangkan oleh negara-negara berpenghasilan tinggi. Kemudian, alat ukur yang digunakan dalam ePROs akan berpengaruh terhadap usia pengguna dan gejala yang diukur. Lebih jauh lagi, pengguna merasa bahwa ePROs mudah digunakan dan lebih banyak memberikan keuntungan dan manfaat, baik bagi pengguna maupun penyedia layanan kesehatan. Akan tetapi dalam pengembangan ePROs terdapat beberapa hambatan teknis dan organisasi.Simpulan: Alat ukur gejala yang disesuaikan dengan usia pengguna akan membuat ePROs menjadi alat ukur gejala yang efektif pada anak dengan kanker. Penggunaan ePROs pada pasien anak dengan kanker juga terbukti mempunyai dampak positif terhadap pasien.
Self-Directed Learning Mahasiswa Keperawatan pada Implementasi E-Learning di Pembelajaran Praktik Profesi Ners Kharisma Eka Suryani; Made Satya Nugraha Gautama; Eri Yanuar Budi Akhmad Sunaryo; Totok Harjanto
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.554 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.71675

Abstract

Background: E-learning method could develop student’s self-directed learning abilities, as its advantage. Self-directed learning (SDL) becomes essential in education since it encourages student to learning, skill development, and professional practice. Educators need to combine current learning process with information technology and e-learning to promote student readiness for SDL abilities.Objective: To describe self-directed learning readiness (SDLR) for nursing students during e-learning implementation in clinical rotation nurse professional program.Method: This was a descriptive-quantitative study with a cross-sectional design conducted at PSIK FK-KMK UGM. Total sampling was applied and included 102 respondents. They were nurse professional program students who were taking basic nursing practice and nursing management courses from August to December 2018. Self-Directed Learning Readiness Scale (SDLRS) was used as data collection instrument which consisted of 40 items. Data was analysed using univariate approach.Result: There were 60,8% of Nurse Professional Program students who took e-learning courses had high SDLR scores (Mean=152,75; SD=13,362; Min=121; Max=195). The average SDLR scores in each subscale were reaching 3,61 on self-management, 3,98 on the desire to learn, and 3,86 on self-control.Conclusion: The SDLR level of nurse professional program students who took basic nursing practice and nursing management courses showed high results in the implementation of e-learning. ABSTRAKLatar belakang: E-learning memiliki keunggulan dalam mengembangkan kemampuan belajar mandiri siswa (self-directed learning). Self-directed learning (SDL) penting dalam pendidikan karena memotivasi mahasiswa untuk belajar, mengembangkan keahlian, serta melatih profesionalitas. Pendidik perlu menggabungkan proses pembelajaran dengan teknologi informasi dan e-learning guna memfasilitasi kesiapan mahasiswa terhadap kemampuan SDL (self-directed learning readiness).Tujuan: Untuk mengetahui gambaran SDLR mahasiswa profesi ners.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian descriptive-quantitative dengan rancangan cross sectional yang dilakukan di PSIK FK-KMK UGM. Pengambilan responden secara total sampling, responden sebanyak 102 mahasiswa profesi ners stase praktik keperawatan dasar dan manajemen keperawatan pada periode Agustus-Desember 2018. Instrumen yang digunakan adalah Self-Directed Learning Readiness Scale (SDLRS) yang terdiri atas 40 pertanyaan. Data penelitian dianalisis menggunakan analisis univariat.Hasil: Sebanyak 60,8% mahasiswa profesi ners pada pembelajaran e-learning ini memiliki nilai SDLR yang cenderung tinggi (Mean=152,75; SD=13,362; Min=121; Max=195). Rata-rata skala SDLR pada tiap sub-skala adalah 3,61 pada manajemen diri, 3,98 pada keinginan untuk belajar, dan 3,86 untuk kontrol diri.Simpulan: Tingkat SDL mahasiswa profesi ners menunjukkan kecenderungan tinggi pada pembelajaran e-learning.

Page 1 of 1 | Total Record : 6