cover
Contact Name
Media Pustakawan
Contact Email
media.pustakawan@gmail.com
Phone
+6287876564261
Journal Mail Official
media.pustakawan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Salemba Raya No.28 A, Pusat Pembinaan Pustakawan
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Pustakawan
Published by Perpustakaan Nasional
ISSN : 08529248     EISSN : 26853396     DOI : https://doi.org/10.37014/medpus
Core Subject : Science,
Jurnal Media Pustakawan merupakan terbitan Perpustakaan Nasional, Pusat Pembinaa Pustakawan(Pusat Pembinaan Pustakawan) yang berfokus pada bidang ilmu perpustakaan dan informasi khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kepustakawanan . Artikel Jurnal yang diterbitkan merupakan hasil kajian atau penelitian yang dapat bersumber dari studi literatur, studi lapangan, eksperimen, dan implementasi dari konsep, teori & model di bidang kepustakawanan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 23, No 1 (2016): Maret" : 9 Documents clear
Dari Bibliometrika Hingga Informetrika Sulistyo Basuki
Media Pustakawan Vol 23, No 1 (2016): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5201.211 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v23i1.836

Abstract

Istilah bibliometrika (bibliometrics) diciptakan oleh Alan Pritchard guna menghindari kerancuan istilah statistical bibliography dan bibliography of statistics. Maka disebutkan bahwa bibliometrika artinya aplikasi metode statistika dan matematika terhadap buku serta media komunikasi lainnya. Dalam definisi tersebut, metode matematika dan statistika dapat diterapkan dalam segala bentuk media komunikasi yang telah direkam dalam arti luas, baik grafis maupun elektronik. Bibliometrika bertujuan menjelaskan proses komunikasi tertulis dan sifat serta arah pengembangan sarana deskriptif penghitungan dan analisis berbagai faset komunikasi. Bibliometrika dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu bibliometrika deskriptif dan bibliometrika perilaku. Pembagian lainnya ialah bibliometrika deskriptif dan bibliometrika evaluatif. Walaupun bibliometrika mengkaji ketiga jenis literatur, dalam kenyataannya yang menjadi objek utama barulah majalah. Hal ini tidak lain karena bibliometrika menganggap majalah sebagai media paling penting dalam komunikasi ilmiah, merupakan pengetahuan publik serta arsip umum yang dapat dibaca oleh siapa saja setiap saat. Artikel ini membahas tentang bibliometrika, cakupan, tujuan dan perkembangannya menjadi  Informetrics dan Scientometrics.
Mediatisasi Perpustakaan dalam Konteks Perubahan Layanan Bercerita Melalui Budaya Visual Endang Fatmawati
Media Pustakawan Vol 23, No 1 (2016): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6139.71 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v23i1.841

Abstract

Budaya visual merupakan budaya yang bertumpu pada unsur-unsur visual sebagai unsur pembentuknya. Mediatisasi di perpustakaan dimaksudkan untuk memahami pentingnya media dalam budaya terkait dengan hubungan media dan perubahan sosio-kultural di perpustakaan. Cerita digital menjadi metode baru bagi pustakawan saat memberikan layanan bercerita. Perubahan yang nampak adanya penggabungan seni bercerita dengan berbagai digital multimedia, seperti gambar, audio, dan video. Hadirnya cerita digital akan mempengaruhi interaksi sosial karena sudah termediasi oleh teknologi. Begitu juga ada perubahan bentuk media yang digunakan oleh pustakawan dalam tugasnya sebagai storyteller di bagian layanan bercerita.
Prospek Sarjana Ilmu Perpustakaan dalam Menghadapi MEA Supriyanto Supriyanto
Media Pustakawan Vol 23, No 1 (2016): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7525.068 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v23i1.837

Abstract

Tujuan Perpustakaan sebagaimana dikehendaki dalam UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, yaitu memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan bangsa. Sungguh pustakawan memiliki kesempatan berbuat sesuatu bagi kecerdasan bangsa melalui ketersediaan bahan bacaan (informasi) yang diperlukan pemustaka. Peran pustakawan sebagai mediator (fasilitator) bagi ketersediaan informasi keperluan pemustaka, terdistribusi dengan baik, lancar dan berkelanjutan. Itulah profesionalisme dengan prospek masa depan bagi yang memiliki keahlian dan keterampilan tertentu dalam bidangnya, yaitu kepustakawanan didukung kesadaran, cita-cita, ilmu pengetahuan dan tekad.
Analisis Isi Pemberitaan tentang Perpustakaan pada Surat Kabar Kamaluddin Kamaluddin
Media Pustakawan Vol 23, No 1 (2016): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8107.281 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v23i1.842

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbandingan, kategori tema pemberitaan tentang perpustakaan, dan bagaimana isi pemberitaan pada surat kabar Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Republika dan Tribun Jabar, terbitan tahun 2013 sampai dengan tahun 2015 bulan Februari. Penelitian menggunakan metode deskriptif, dan mengaplikasikan teknik analisis isi untuk memperoleh gambaran tentang isi pesan pemberitaan secara sistematis. Dari hasil penelitian dapat diketahui perbandingan pemberitaan perpustakaan pada surat kabar harian: Kompas sebanyak 10 kali pemberitaan (21,28%), Koran Tempo sebanyak 3 kali pemberitaan (6,38%), Media Indonesia sebanyak 3 kali pemberitaan (6,38%), Pikiran Rakyat sebanyak 17 kali pemberitaan (36,18%), Republika sebanyak 11 kali pemberitaan (23,40%) dan Tribun Jabar sebanyak 3 kali pemberitaan (6,38%). Kategori tema pemberitaan diketahui kategori fungsi, nilai, utilitas, penciptaan, pengembangan perpustakaan sebesar 9 (19,15%); kategori situs perpustakaan, bangunan, halaman gedung, peralatan sebesar 4 (8,51%); kategori administrasi perpustakaan, staf, personil sebesar 4 (8,51%); kategori hubungan dengan publik. Peraturan untuk digunakan perpustakaan sebesar 2 (4,26%); kategori Departemen administrasi perpustakaan tidak ada yang memberitakan atau sebesar 0 (0%); kategori Perpustakaan Khusus 4 (8,51%); kategori Perpustakaan Umum sebesar 15 (31,91%) dan kategori membaca sebesar 9 (19,15%). Sedangkan hasil analisis mengenai isi pemberitaan diketahui banyak pemberitaan yang harus menjadi perhatian pemangku kepentingan perpustakaan untuk memperbaiki perpustakaan, disamping banyak pemberitaan yang positif tentang perpustakaan.
Kompetensi dan Budaya Kerja Pustakawan Menghadapi Pasar Bebas (Global Market) Irva Yunita
Media Pustakawan Vol 23, No 1 (2016): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5918.724 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v23i1.838

Abstract

Abad ke-21 merupakan era globalisasi, perkembangan teknologi akan semakin menghilangkan batasan tempat antara satu orang dan yang lainnya. Baik secara lokal, nasional, bahkan internasional. Dengan adanya globalisasi tersebut, salah satu pengaruh yang dimunculkan yaitu adanya pasar bebas yang menjadi peluang sekaligus ancaman bagi berbagai profesi, termasuk juga pustakawan. Dengan demikian pustakawan harus memiliki kompetensi dan budaya kerja yang dipersiapkan untuk menghadapi pasar bebas. Kompetensi dasar saja tidak cukup, perlu berbagai kompetensi pendukung lainnya, misalnya kemampuan menguasai bahasa Internasional. Pustakawan juga perlu memiliki budaya kerja yang ulet, pekerja keras, disiplin, produktif, tanggung jawab, motivasi, manfaat, kreatif, dinamik, konsekuen, konsisten, responsive, mandiri, menjadi lebih baik, serta selalu siap melayani kebutuhan informasi pemustaka. Hal tersebut merupakan upaya pustakawan mempersiapkan diri menghadapi pasar bebas.
Nilai Tambah Koleksi Digital Literatur Sekunder Eni Kustanti
Media Pustakawan Vol 23, No 1 (2016): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5334.887 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v23i1.843

Abstract

Seiring perkembangan teknologi informasi, pemustaka membutuhkan akses informasi secara cepat dan tepat. Proses digitalisasi suatu koleksi maupun pengadaan koleksi digital yang membutuhkan pendanaan cukup besar bisa disiasati dengan memberikan informasi digital berupa literatur sekunder, sehingga informasi bisa secara cepat diterima melalui koleksi digital literatur sekunder. Jenis-jenis koleksi literatur sekunder yang bisa dibuat dalam bentuk digital antara lain bibliografi, katalog, indeks, abstrak, resensi dan anotasi. Beberapa keuntungan adanya koleksi digital literatur sekunder, yaitu: 1) Memudahkan pemustaka dalam mencari koleksi yang dibutuhkan; 2) Sebagai sarana promosi koleksi perpustakaan; 3) Membantu pustakawan dalam memperoleh angka kredit. Pengembangan koleksi digital literatur sekunder harus didukung oleh beberapa faktor yaitu: 1) Kebijakan instansi; 2) Kompetensi pustakawan; dan 3) Otomasi perpustakaan
Layanan Referensi Digital Perpustakaan Lembaga Penelitian: Strategi yang dibangun Pustakawan Hariyah Hariyah
Media Pustakawan Vol 23, No 1 (2016): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v23i1.839

Abstract

Tulisan ini memaparkan bagaimana layanan referensi pada sebuah perpustakaan lembaga penelitian. Pengguna dengan beragam karakter dari unsur peneliti memiliki cara tersendiri dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Apakah kebutuhan informasi mereka terpenuhi oleh perpustakaan atau tidak? Perpustakaan perlu melakukan suatu strategi layanan referensi dalam mengenalkan jasa-jasa yang diberikan dan hal ini wajib digali lagi oleh pustakawan. Layanan referensi diharapkan mampu menghadirkan jasa-jasa yang menunjang keberhasilan penelitian-penelitan yang dilakukan penggunanya. Tulisan ini adalah sebuah studi kepustakaan mengenai bagaimana pustakawan layanan referensi digital bersinergi dengan perkembangan teknologi yang ada untuk menghasilkan layanan yang terbaik bagi penggunanya, bahkan mampu menjangkau populasi penggunanya secara global. Pustakawan layanan referensi pada akhirnya menjadi ujung tombak keberhasilan layanan ini.
Penguatan Bidang Perpustakaan dalam Sistem Pemerintahan Daerah Adin Bondar
Media Pustakawan Vol 23, No 1 (2016): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v23i1.844

Abstract

Lahirnya UU No. 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah membawa pengaruh signifikan kepada penguatan kelembagaan dan percepatan pembangunan di bidang perpustakaan. Langkah strategis yang perlu disiapkan adalah penguatan pada: (1) aspek kelembagaan. Didasari pada evaluasi menyeluruh pada dimensi kompleksitas, formalitas, dan sentralisasi yang mengacu pada peraturan perundang-undangan bahwa urusan perpustakaan adalah urusan wajib dan hak masyarakat; (2) aspek perencanaan. Urusan perpustakaan merupakan satu kesatuan sistem perencanaan pembangunan nasional, yaitu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan secara terstruktur dan terarah antara rencana pembangunan daerah kabupaten/kota, provinsi dan Perpustakaan Nasional yang diperkuat dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri melalui penetapan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) bidang perpustakaan; dan (3) aspek penganggaran. Penganggaran berbasis kinerja (Performance base on budgeting) yang berorientasi pada prinsip money follow function, mengharuskan adanya intervensi pemerintah dalam penganggaran urusan perpustakaan di daerah yang minim APBD. Alokasi dana dekonsentrasi dan dana alokasi khusus menjadi kebijakan agresif bidang penganggaran sehingga kesinambungan dan percepatan program dan kegiatan perpustakaan antara wilayah dan daerah menjadi seimbang.
Kajian Penggunaan Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional Studi Kasus di Bidang Pengolahan Bahan Pustaka Mariana Ginting; R. Deffi Kurniawati; Triani Rachmawati
Media Pustakawan Vol 23, No 1 (2016): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v23i1.840

Abstract

Informasi koleksi perpustakaan yang ada di sebuah perpustakaan dapat dicari melalui katalog pengarang, subjek, atau judul. Penggunaan tajuk subjek pada katalog sangat penting untuk membantu pencarian suatu topik atau disiplin ilmu tertentu yang dimiliki perpustakaan. Salah satu daftar tajuk subjek yang digunakan dalam menentukan subjek suatu koleksi perpustakaan adalah Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional. Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional terdiri dari dua bentuk, yang bernotasi, yaitu Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional edisi revisi yang terbit pada tahun 2002, dan yang tanpa notasi, yaitu Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional yang terbit tahun 2011 yang merupakan akumulasi dari daftar tajuk subjek sebelumnya beserta suplemennya. Terbitnya  Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional yang tanpa notasi menimbulkan tanggapan yang beraneka ragam, salah satunya adalah permintaan untuk kembali mencantumkan notasi pada daftar tajuk subjek, karena dapat memudahkan dalam menentukan nomor klas. Hal tersebut yang melatarbelakangi dibuatnya kajian “Penggunaan Pedoman Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional” untuk mengetahui seberapa banyak pustakawan yang menginginkan daftar tajuk subjek yang bernotasi dan seberapa banyak pustakawan yang menginginkan daftar tajuk subjek tanpa notasi. Hasil kajian ini diharapkan bermanfaat dalam (1) pengambilan kebijakan untuk merevisi daftar tajuk subjek dan (2) mengkaji kembali penerbitan daftar tajuk subjek. Sampel dalam kajian ini adalah pustakawan di Bidang Pengolahan Bahan Pustaka dan metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode angket. Berdasarkan hasil kajian diperoleh bahwa sebagian besar responden (57.14%) sangat sering menggunakan Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional bernotasi dan  (39.8%) sering menggunakan Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional. Saran pengguna untuk kedepannya Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional dilengkapi dengan notasi (42.86 %) dan juga sebanyak (39.28 %) responden menyarankan bahwa Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional dengan suplemen dan bernotasi.

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol. 32 No. 2 (2025): Agustus Vol. 32 No. 1 (2025): April Vol. 31 No. 3 (2024): Desember Vol. 31 No. 2 (2024): Agustus Vol. 31 No. 1 (2024): April Vol. 30 No. 3 (2023): Desember Vol. 30 No. 2 (2023): Agustus Vol. 30 No. 1 (2023): April Vol. 29 No. 3 (2022): Desember Vol 29, No 2 (2022): Agustus Vol. 29 No. 2 (2022): Agustus Vol 29, No 1 (2022): April Vol. 29 No. 1 (2022): April Vol 28, No 3 (2021): Desember Vol 28, No 2 (2021): Agustus Vol 28, No 1 (2021): April Vol 27, No 3 (2020): Desember Vol 27, No 2 (2020): Agustus Vol 27, No 1 (2020): April Vol 26, No 4 (2019): Desember Vol 26, No 3 (2019): September Vol 26, No 2 (2019): Juni Vol 26, No 1 (2019): Maret Vol 25, No 5 (2018): Desember -- edisi khusus Vol 25, No 4 (2018): Desember Vol 25, No 3 (2018): September Vol 25, No 2 (2018): Juni Vol 25, No 1 (2018): Maret Vol 24, No 4 (2017): Desember Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Juni Vol 24, No 1 (2017): Maret Vol 23, No 2 (2016): Juni Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 4 (2015): Desember Vol 22, No 3 (2015): September Vol 22, No 2 (2015): Juni Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER Vol 21, No 2 (2014): JUNI Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): September Vol 20, No 2 (2013): Juni Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 4 (2012): Desember Vol 19, No 3 (2012): September Vol 19, No 2 (2012): Maret Vol 18, No 4 (2011): Desember Vol 18, No 3 (2011): September Vol 18, No 2 (2011): Juni Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni Vol 16, No 3&4 (2009): September Vol 16, No 1&2 (2009): Maret Vol 15, No 1&2 (2008): Juni Vol 15, No 3 (2008): September Vol 14, No 3&4 (2007): Desember Vol 14, No 2 (2007): Juni Vol 14, No 1 (2007): Maret More Issue