Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora was founded in 2001 with the aim of seeking a new scientific ethos in the humanities with an interdisciplinary, political, and textual spirit. It was, and still remains, the aspiration of Retorik to foster humanities research with a scientific ethos capable of responding to the needs of the Indonesian society that continues to strive to become more democratic, just, and pluralistic in the aftermath of long authoritarian rule, under social, economic, and political conditions still characterized by inequality. In its interdisciplinary spirit, Retorik has drawn insights from an array of disciplines, most notably, political economy, language (including semiotics), and psychoanalysis, to that end. As various managerial requirements stifle the passion for academic and intellectual life, while simultaneously in the broader Indonesian society, the ideals of Reformation are frustrated by political and economic oligarchy that continues to exist with impunity, Retorik affirms the need to defend a scientific ethos at present, for the future. In light of its aims, Retorik promotes original research that makes advances in the following areas: 1. Historically-informed studies that engage with the conditions, contexts, and relations of power within which the humanities were born, and with which the humanities are entwined. 2. Dialogues with various disciplines in the humanities and social sciences, including history, sociology, psychology, and anthropology. 3. Interdisciplinary research pertaining to critical pedagogy, religious and cultural studies, art studies, and new social movements. 4. Experimentation with new forms of knowledge that foster the formation of a more democratic, just, and plural society. 5. Studies that are sensitive to the vital role of both technology and art in contemporary society and seek to understand the ways in which art, technology, and economy together contribute to the formation of contemporary cultures and societies.
Articles
7 Documents
Search results for
, issue
"Vol 4, No 1 (2016)"
:
7 Documents
clear
Praktik Disiplin dalam Pendidikan di Seminari Menengah
P. Benny Setyawan
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (486.327 KB)
|
DOI: 10.24071/ret.v4i1.172
Tulisan ini menguraikan tentang pendidikan Seminari Menengah yang merupakan pendidikan dasar bagi calon-calon imam Katolik. Pendidikan di Seminari dijalankan melalui bidang akademik, pengalaman pastoral, dan pembinaan yang khas di bidang rohani. Penulis lebih jauh memandang bahwa pendidikan di Seminari dilakukan dengan mendisiplinkan tubuh untuk membentuk mental yang taat. Hal itu dilakukan dengan memberi prasyarat para siswanya untuk tinggal di asrama. Di dalam asrama itu, mereka didisiplinkan dengan jadwal aktivitas yang ketat,membuat catatan mengenai diri dan segala aktivitasnya secara detail serta terus menerus diawasi dengan menerapkan silih bagi pelanggarnya. Melalui pendidikan dan latihan pendisiplinan tubuh, para seminaris diharapkan bisa menjadi pribadi yang bermental tangguh, mandiri dan mampu beradaptasi di dalam relasi sosial dan komunitas.
Imagi Seorang Intelektual Represif: Membaca Gagasan Drijarkara mengenai Pendidikan
Batlayeri Willem
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (518.908 KB)
|
DOI: 10.24071/ret.v4i1.173
Artikel ini menguraikan mengenai pemikiran Drijarkara tentang pendidikan dengan mengujinya dari teori Jaqcues Lacan. Pemikiran Drijarkara merupakan reaksi kritis terhadap sistem pendidikan yang berlangsung pada jamannya. Menurut Drijarkara, pendidikan di Indonesia berada dalam ancaman statosentrisme di mana negara menjadi dewa agung dan penguasa tunggal. Ada persoalan yang diabaikan juga menyangkut tanggung jawab tenaga pendidik (guru) sebagai agen perubahan. Dalam mememikir ulang sistem pendidikan Indonesia, Drijarkara menggagas pendidikan sebagai proses pemanusian manusia muda. Titik kekritisan Drijarkara adalah melawan kekuasaan negara yang menekan otonomi dan independensi dalam pengelolaan pendidikan.
Pedagogi Kritis & Pendidikan Tinggi
Agustinus Supratiknya
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1042.618 KB)
|
DOI: 10.24071/ret.v4i1.174
Tulisan ini membahas mengenai aspek pedagogi kritis dan perguruan tinggi. Penulis menyoroti reformasi pendidikan berangkat dari gagasan lembagalembaga yang berkompeten berikut produk hukumnya. Menurut penulis, terdapat benang merah antara aktivitas dan produk hukum tersebut dengan konteks perkembangan ekonomi-politik yang lebih luas di tingkat global. Hal itu terlihat dari peran yang dimainkan oleh lembaga keuangan World Bank dan IMF dalam program yang terkait dengan pendidikan. Di samping itu diuraikan juga problemproblem yang berpotensi muncul dalam pendidikan tinggi di tengah perkembangan neoliberalisme. Kemudian juga disodorkan pemikiran mengatasi atau mengurangi dampak buruk dari perkembangan tersebut.
Trauma atas Konflik dan Kekerasan: Tinjauan Akademik
Gregorius Budi Subanar
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (704.615 KB)
|
DOI: 10.24071/ret.v4i1.175
Abstrak. Artikel ini mengajak kita merekapitulasi kajian tentang trauma, konflik dan kekerasan di Indonesia yang pernah diselenggarakan di Program Pasca Sarjana Universitas Sanata Dharma. Tema tersebut cukup penting sebagai bahan kajian maupun materi pembelajaran karena meningkatnya eskalasi konflik dan kekerasan kolektif yang terjadi di berbagai negara dan berbagai daerah di Indonesia. Di samping mempelajari munculnya fenomena kekerasan tersebut juga dipelajari efek-efek traumatis, ingatan serta dicari jalan keluar usaha rekonsiliasi maupun perdamaian. Ada tiga mata kuliah yang ditawarkan di program pendidikan, di antaranyaTeologi Rekonsiliasi Sosial, memori dan Politik Ingatan, dan Estetika dari Wilayah Konflik. Lebih dari itu, beberapa penerbitan juga dilakukan sebagai hasil kajian dan evaluasi atas proses akademik yang sudah dilakukan.
Respon Guru Sejarah Sekolah Menengah Atas Yogyakarta Terhadap Wacana Alternatif Tragedi Kemanusiaan 1965
Kartika Pratiwi
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1680.985 KB)
|
DOI: 10.24071/ret.v4i1.171
Sebelum Reformasi 1998, wacana tentang Tragedi Kemanusiaan 1965 mengikuti versi yang dibuat oleh rezim Orde Baru. Jatuhnya rezim Orde Baru menyulut sebagian dari masyarakat untuk menyelidiki lebih lanjut tentang kebenaran peristiwa Tragedi Kemanusiaan 1965. Beberapa dari mereka membuat film dokumenter dan buku yang menyediakan sisi lain dari wacana sejarah yang telah ada. Media dan bahan diskusi baru yang bermunculan ini menantang untuk sekolah dan guru sejarah agar lebih terbuka akan penerjemahan sejarah dari sisi lain. Namun, wacana tentang sejarah alternatif tidak selamanya mempunyai dampak. Beberapa dari guru sejarah masih memakai buku sejarah lama yang dibuat di jaman Orde Baru karena dihantui oleh rasa ketakutan pada rezim sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa tanggapan dari guru sejarah terhadap wacana sejarah alternatif dengan topik Tragedi Kemanusiaan 1965. Penelitian dilakukan dengan memakai metode pemutaran film dokumenter sejarah yang mempunyai sudut pandang yang berbeda dengan versi dari rezim Orde Baru. Studi ini juga dipakai untuk melihat sampai sejauh mana guru sejarah mau untuk mempertimbangkan memakai narasi sejarah alternatif dalam metode pengajaran mereka. Penelitian ini diharapkan membantu perkembangan kurikulum sejarah demi pendidikan yang manusiawi dan demokratis di samping menyajikan bentuk metode pendidikan yang baru dengan menggunakan audio visual sebagai media dalam pembelajaran sejarah.