cover
Contact Name
Joseph Christ Santo
Contact Email
jx.santo@gmail.com
Phone
+6287836107190
Journal Mail Official
jurnalteokristi@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup Jl. Raya Solo Purwodadi km 7, Selorejo, Wonorejo, Gondangrejo, Kab. Karanganyar
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 27971651     DOI : -
Teokristi adalah akronim dari Teologi dan Pelayanan Kristiani. Penggunaan nama Teokristi sebagai nama jurnal merujuk kepada focus dan scope jurnal ini. Teokristi adalah jurnal ilmiah teologi dengan warna Injili, merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan pelayanan Kristiani, yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup. Focus dan Scope penelitian Teokristi adalah Teologi Kontekstual, Teologi Pastoral, Misiologi, Pelayanan Kristiani. Teokristi menerima artikel dari dosen dan para teolog yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya dalam proses peer-review sebelum diterbitkan. Teokristi terbit dua kali setiap tahun, Mei dan November.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 2 (2024): November 2024" : 7 Documents clear
Pengaruh Pembinaan Iman dan Pendampingan Pastoral Terhadap Pengharapan Hidup Jemaat Lanjut Usia Herawati, Liem Evi; Sugiharto, Ayub
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 4 No 2 (2024): November 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtk.v4i2.874

Abstract

The background to this research considers the importance of faith formation for the elderly through pastoral care at the Good God Church, the Imamat Rajani Restoration Congregation, Surabaya and the Good God Mahanaim Church, Sidoarjo. The results of the findings in this research, show that the variable influence of faith formation (X1) on the life expectancy of the elderly congregants at the Good God's Church, the Imamat Rajani Restoration Congregation, Surabaya and the Good God Mahanaim Church, Sidoarjo, is 0.355 or 35 .5% which is less than 64.5%. is in the Low category. Second, using simple linear regression analysis, showing the variable Influence of Pastoral Assistance (X2) on the Life Expectancy of Elderly Congregants in the Church Allah is Good Congregation for the Restoration of the Royal Imamate of Surabaya and Allah is Good Mahanaim Church of Sidoarjo (Y). is 0, 406 or 40.6% which is less than 59.4%. The resulting figure for the influence between variables shows a Medium influence.Third, shows the influence of Faith Formation and Pastoral Assistance (X1X2) in the Church of Allah is Good, the Congregation for the Restoration of the Royal Imamate of Surabaya and the Church of Allah is The God Good Church Mahanaim Sidoarjo (Y) is 0.645 or 64.5% which is less than 35.5%. Adjusted R Square is 0.399 or 39.9%, meaning there is still 60.1.5% influence from other factors, the results of the influence between variables show a low influence.Penelitian ini dilatar belakangi mengingat pentingnya pembinaan iman pada lansia melalui pelayanan pastoral di Gereja Allah Baik Jemaat Pemulihan Imamat Rajani Surabaya dan Gereja Allah Baik Mahanaim Sidoarjo. Hasil temuan dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa ada pengaruh variabel pembinaan iman (X1) terhadap harapan hidup jemaat lanjut usia di Gereja Allah Baik Jemaat Pemulihan Imamat Rajani Surabaya dan Gereja Allah Baik Mahanaim Sidoarjo sebesar 0,355 atau 35,5% kurang dari 64,5%. termasuk dalam kategori Rendah. Kedua, dengan menggunakan analisis regresi linier sederhana menunjukkan variabel Pengaruh Pendampingan Pastoral (X2) Terhadap Harapan Hidup Jemaat Lansia di Gereja Allah Baik, Jemaat Pemulihan Imamat Rajani Surabaya dan Gereja Allah Baik Mahanaim Sidoarjo (Y). adalah 0,406 atau 40,6% yang kurang dari 59,4%. Angka pengaruh antar variabel yang dihasilkan menunjukkan pengaruh Sedang. Ketiga, menunjukkan pengaruh Pembinaan Iman dan Pendampingan Pastoral  (X1X2) pada Gereja Allah Baik Jemaat Pemulihan Imamat Rajani Surabaya dan Gereja Allah Baik Mahanaim Sidoarjo (Y) sebesar 0,645 atau 64,5% kurang dari 35,5%. Adjusted R Square sebesar 0,399 atau 39,9% artinya masih terdapat pengaruh dari faktor lain sebesar 60,1%, hasil pengaruh antar variabel menunjukkan pengaruh yang rendah. 
Teologi Keselamatan Berdasarkan Yesaya 1:1-20 La’ia, Dewi; Ani Saputro, Sigit Ani
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 4 No 2 (2024): November 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtk.v4i2.880

Abstract

This study explores the concept of salvation through the lens of Isaiah 1:1-20. Using textual analysis, this study explores the historical context and theological implications of Isaiah’s prophetic message to the nation of Judah. Through an exploration of the themes of sin, judgment, and redemption, this study aims to contribute to a deeper understanding of soteriology. Isaiah paints a picture of a nation of Judah mired in idolatry and social injustice. His message emphasizes the gravity of the nation’s sin and God’s impending judgment. Yet, amidst the condemnation, Isaiah also offers hope and restoration. The concept of God’s initiative in salvation is central to Isaiah’s message. Despite human unworthiness, God nevertheless offers forgiveness and renewal. This study argues that Isaiah 1:1-20 presents a nuanced view of salvation, emphasizing both God’s grace and human responsibility. The prophet’s call to repentance and promise of restoration highlight the interactive nature of salvation. Ultimately, this study contributes to the ongoing debate over the nature of salvation and the role of the Old Testament in shaping Christian theology. Penelitian ini mendalami konsep keselamatan melalui lensa kitab Yesaya 1:1-20. Dengan menggunakan analisis teks, penelitian ini menggali konteks historis dan implikasi teologis dari pesan nubuat Yesaya kepada bangsa Yehuda. Melalui eksplorasi tema dosa, penghakiman, dan penebusan, penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang soteriologi. Yesaya menggambar sebuah bangsa Yehuda yang tenggelam dalam penyembahan berhala dan ketidakadilan sosial. Pesannya menekankan beratnya dosa bangsa dan penghakiman Allah yang akan datang. Namun, di tengah-tengah kutukan, Yesaya juga menawarkan harapan dan pemulihan. Konsep inisiatif Allah dalam keselamatan menjadi inti dari pesan Yesaya. Meskipun manusia tidak layak, Allah tetap menawarkan pengampunan dan pembaruan. Penelitian ini berargumen bahwa Yesaya 1:1-20 menyajikan pandangan yang nuansa tentang keselamatan, menekankan baik rahmat Allah maupun tanggung jawab manusia. Seruan nabi untuk bertobat dan janji pemulihan menyoroti sifat interaktif dari keselamatan. Pada akhirnya, penelitian ini berkontribusi pada perdebatan yang terus berlangsung mengenai sifat keselamatan dan peran Perjanjian Lama dalam membentuk teologi Kristen.
Peranan Pendidikan Agama Kristen dalam Keluarga guna Membendung Degradasi Moral Remaja Generasi Z di Era Disrupsi Teknologi Sitanggang, Elisabet Vritze
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 4 No 2 (2024): November 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtk.v4i2.883

Abstract

The era of technological disruption has had a significant impact on the lives of teenagers, especially those belonging to generation Z. This research aims to explain the importance of the role of Christian religious education in the family in order to stem the occurrence of moral degradation among generation Z teenagers. The era of technological disruption has resulted in generation Z teenagers , experienced various problems of moral decline. Without realizing it, generation Z teenagers who basically master technology, on the other hand, are also affected by the negative things it causes. Some teenagers bully via social media because information is easily spread without a clear filter as to whether the information is true or false. Other teenagers commit impolite and indecent actions, after watching meaningless content such as pranks and pornographic content on YouTube. This research uses a qualitative descriptive method, namely by collecting data related to titles through reference books and journals. Then describe it to find important points that result in moral degradation. The results of the analysis of the role of Christian Religious Education are formulated into concepts and explained. The results of the research show that Christian religious education in the family by teaching moral values based on the Bible, is able to stem the moral degradation of generation Z teenagers due to technological disruption.Era disrupsi teknologi memberi dampak yang signifikan kepada kehidupan para remaja khususnya mereka yang termasuk generasi Z. Penulisan ini bertujuan untuk menjelaskan pentingnya peranan Pendidikan Agama Kristen dalam keluarga guna membendung terjadinya degradasi moral diantara remaja generasi Z. Era disrupsi teknologi telah mengakibatkan kelompok remaja generasi Z, mengalami berbagai masalah penurunan moral. Tanpa disadari, remaja generasi Z yang pada dasarnya menguasai teknologi, disisi lain ikut terpengaruh dengan hal-hal negatif yang diakibatkannya. Beberapa remaja membullying melalui media sosial sehingga informasi yang belum jelas kebenarannya menjadi tersebar. Remaja lainnya melakukan aksi yang tidak sopan dan tidak senonoh, setelah menonton sebuah konten yang tidak berbobot seperti konten berbau asusila di Youtube. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yakni dengan mengumpulkan data-data sehubungan dengan judul melalui buku-buku referensi, dan jurnal. Kemudian mendeskripsikannya untuk menemukan pokok penting yang mengakibatkan degradasi moral. Hasil analisis terhadap peran Pendidikan Agama Kristen dirumuskan menjadi konsep dan memaparkannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Teologi Kontekstual untuk Perdamaian: Merespons Konflik Sosial dan Agama dalam Masyarakat Multikultural di Era Kemajuan Teknologi Digital Arifianto, Yonatan Alex
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 4 No 2 (2024): November 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtk.v4i2.884

Abstract

Social and religious conflicts are increasingly complex in a multicultural society in the era of digital technology advancement. Viral cases related to religious harmony today on social media are trending and the subject of heated debate. Moreover, differences in identity, beliefs and values often trigger tensions, while digital space accelerates the spread of information that can exacerbate polarisation. In this context, contextual theology emerges as a relevant approach to respond to these dynamics. Contextual theology not only focuses on understanding religion from a local perspective, but also adapts religious teachings to the social and cultural challenges faced by society. This research aims to explore how contextual theology can contribute to peace efforts in multicultural societies fragmented by social and religious conflicts, and how digital technology influences these dynamics. Using a descriptive qualitative method, it can be concluded that contextual theology can be an important instrument in easing social and religious tensions, by providing an understanding of the importance of peace in society, thus shaping the role of contextual theology in responding to social and religious conflicts, which is related to the dynamics of multicultural society and the challenges of social conflict in the digital era. So this basis for Christianity can be stated as part of actualising the value of Christianity and Building Peace Through Interfaith Dialogue and Digital Technology. So that it creates a safe and peaceful space for diversity in a multicultural societyKonflik sosial dan agama semakin kompleks dalam masyarakat multikultural di era kemajuan teknologi digital. Seperti adanya kasus viral terkait kerukunan beragama dewasa ini yang terjadi dimedia sosial menjadi tranding dan menjadi bahan perdebatan sengit. Apalagi adanya perbedaan identitas, keyakinan, dan nilai sering kali memicu ketegangan, sementara ruang digital mempercepat penyebaran informasi yang dapat memperburuk polarisasi. Dalam konteks ini, teologi kontekstual muncul sebagai pendekatan yang relevan untuk merespons dinamika tersebut. Teologi kontekstual tidak hanya berfokus pada pemahaman agama dari perspektif lokal, tetapi juga menyesuaikan ajaran agama dengan tantangan sosial dan budaya yang dihadapi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana teologi kontekstual dapat berkontribusi pada upaya perdamaian dalam masyarakat multikultural yang terfragmentasi oleh konflik sosial dan agama, serta bagaimana teknologi digital turut memengaruhi dinamika ini. Mengunakan metode kualitatif deskritif maka dapat disimpulkan  bahwa  teologi kontekstual dapat menjadi instrumen penting dalam meredakan ketegangan sosial dan agama, dengan  memberikan pemahaman terkait pentingnya perdamaian dalam Masyarakat, sehingga membentuk peran Teologi Kontekstual dalam Merespons Konflik Sosial dan Agama, yang mana hal ini terkait adanya dinamika Masyarakat Multikultural dan Tantangan Konflik Sosial di Era Digital. Maka dasar ini bagi kekristenan dapat dinyatakan sebagai bagian untuk mengaktualisasikan nilai kekristenan dan Membangun Perdamaian Melalui Dialog Antar-Agama dan Teknologi Digital. Sehingga hal tersebut menciptakan ruang yang aman dan damai bagi keragaman dalam masyarakat multikultural.
Merajut Kerukunan di Era Digital: Peran Gembala dalam Mengelola Pluralisme Agama di Society 4.0 Terok, Djonny. N.; Suseno, Aji
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 4 No 2 (2024): November 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtk.v4i2.885

Abstract

In the era of Society 4.0, advances in digital technology bring changes in human culture including the way humans interact, in the context of religious life. The growing religious pluralism demands a more adaptive role of pastors in knitting inter and interfaith harmony. Although digital advances facilitate interfaith dialogue, challenges remain in maintaining the values of spirituality and harmony in the midst of increasingly complex diversity. This research aims to build the role of pastors in managing religious pluralism in the digital era, and can build and strengthen interfaith harmony. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the role of pastors in facing the challenges of religious pluralism in the era of Society 4.0 is an important need in socialising. And pastors have an important role in guiding people to maintain harmony in religious diversity. Even the existence of digital technology can be used as a means to strengthen interfaith dialogue, but requires caution in approach and communication. So the role of pastors in the digital era is needed to create a deep understanding and reduce the potential for conflict between religious communities.  Di era Society 4.0, kemajuan teknologi digital membawa perubahan dalam budaya manusia termasuk cara manusia berinteraksi, dalam konteks kehidupan beragama. Pluralisme agama yang semakin berkembang menuntut peran gembala yang lebih adaptif dalam merajut kerukunan inter dan antar umat beragama. Meskipun kemajuan digital memfasilitasi dialog lintas agama, tantangan tetap ada dalam menjaga nilai-nilai spiritualitas dan kerukunan di tengah keberagaman yang semakin kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk membangun peran gembala dalam mengelola pluralisme agama di era digital, serta dapat membangun dan memperkuat kerukunan antar umat beragama. Menggunakan metode yang kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka maka dapat disimpulkan bahwa peran gembala dalam menghadapi tantangan pluralisme agama di era Society 4.0 manjadi kebutuhan penting dalam bersosial. Dan gembala memiliki peran penting dalam membimbing umat untuk menjaga kerukunan dalam keberagaman agama. Bahkan adanya teknologi digital dapat digunakan sebagai sarana untuk memperkuat dialog antar agama, namun memerlukan kehati-hatian dalam pendekatan dan komunikasi.  Sehingga peran gembala dalam era digital sangat dibutuhkan untuk menciptakan pemahaman yang mendalam dan mengurangi potensi konflik antar umat beragama.
Iman Yang Militan dan Tahan Uji dalam 1 Petrus 1:1-21 Samiasih, Catur
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 4 No 2 (2024): November 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtk.v4i2.890

Abstract

One of the challenges of Christianity today is that the congregation has abandoned its faith. The causal factors include Christianity as a mere religion, Christian descent without a true understanding of faith, and church teachings that do not emphasize understanding of faith in the congregation. The purpose of the study is to explain the understanding of faith that is militant and resistant to testing. If this faith is possessed by Christians, they are able to maintain their faith even though they face many challenges. This study uses a descriptive analysis method from the book of 1 Peter 1:1-21 supported by literature sources related to the verses. From the analysis of the material, it is concluded that militant and resistant faith is faith that is based on love, even though they do not see but believe and love. This level of faith will make Christians survive every challenge.Tantangan Kekristenan masa kini salah satunya adalah jemaat meninggalkan imannya. Faktor penyebabnya antara lain Kristen sekedar agama, Kristen keturunan tanpa pemahaman iman yang benar, dan pengajaran gereja yang tidak menekankan pemahaman iman dalam jemaat. Tujuan penelitian adalah memaparkan pemahaman iman yang militan dan tahan uji. Jika iman ini dimiliki orang Kristen, mereka mampu mempertahankan imannya walaupun menghadapi banyak tantangan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif analisis dari kitab 1 Petrus 1:1-22 didukung dengan sumber literatur yang berkaitan dengan nats tersebut. Dari Analisa bahan disimpulkan iman yang militan dan tahan uji adalah iman yang didasarkan kasih, sekalipun tidak melihat namun percaya dan mengasihi. Tingkat iman seperti ini akan menjadikan orang Kristen bertahan dalam setiap tantangan.
Metode Pemberitaan Injil Rasul Paulus Di Atena Berdasarkan Kisah Para Rasul 17:16-32 Dan Implementasinya Pada Masa Kini Sari, Intan Betesda; Sumiwi, Asih Rachmani Endang
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 4 No 2 (2024): November 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtk.v4i2.892

Abstract

Every believer must be a witness as confirmed in Acts 1:8 and of course must be accompanied by the leadership of the Holy Spirit. The Apostle Paul always preached the gospel at every opportunity he had, he realized that his life must be a witness to God. Athens was one of the cities visited by the Apostle Paul and Paul was sad when he saw that this city believed in idolatry. The strategy used by the Apostle Paul in preaching the Gospel in Athens can be seen in the book of Acts 17:16-34. This research uses a descriptive-analytic method, with an exegetical approach to the text of Acts 17:16-34, which focuses on "the method of preaching the gospel used by the Apostle Paul in the text of Acts 17:16-34. The main objective of this research is to examine and present the methods used by the Apostle Paul in his ministry in Athens, then be able to use them in the midst of contemporary community ministry to achieve the full realization of the Great Commission.Setiap orang percaya harus menjadi saksi seperti yang sudah ditegaskan dalam Kisah Para Rasul 1:8 dan tentunya harus disertai dengan pimpinan Roh Kudus. Rasul Paulus selalu memberitakan Injil di setiap kesempatan yang ada, ia menyadari bahwa hidupnya harus menjadi saksi Allah. Atena menjadi salah satu kota yang dikunjungi oleh Rasul Paulus dan Paulus sedih ketika melihat kota ini percaya akan penyembahan berhala. Strategi yang digunakan oleh Rasul Paulus dalam memberitakan Injil di Atena dapat dilihat dalam kitab Kisah Para Rasul 17:16-34. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitik, dengan pendekatan eksegesis pada teks Kisah Para Rasul 17:16-34, yang berfokus pada “metode pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Rasul Paulus dalam teks Kisah Para Rasul 17:16-34. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan menyajikan metode yang digunakan Rasul Paulus dalam pelayanannya di Atena, kemudian dapat menggunakannya di tengah pelayanan masyarakat masa kini untuk mencapai realisasi penuh Amanat Agung.

Page 1 of 1 | Total Record : 7