cover
Contact Name
Luqman Agung Wicaksono
Contact Email
luqmanagungw@gmail.com
Phone
+6287870205238
Journal Mail Official
jtp@upnjatim.ac.id
Editorial Address
Jalan Raya Rungkut Madya, Gunung Anyar Surabaya, 60294
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknologi Pangan
ISSN : 19784163     EISSN : 26545292     DOI : https://doi.org/10.33005/jtp
Jurnal Teknologi Pangan is one of Food Technology Journal in Indonesia managed by Department of Food Technology at Universitas Pembangunan Nasional "Veteran", East Java, Indonesia. This journal has been published since 2007 and registered with ISSN 1978-4163 and E-ISSN 2654-5292 (Online). Jurnal Teknologi Pangan is published twice a year in June and December. This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Food Microbiology,Food Processing and Food Chemistry.
Articles 351 Documents
APLIKASI STARTER YOGHURT YANG RESISTEN TERHADAP RESIDU ANTIBIOTIKA PENICILLIN
Jurnal Teknologi Pangan Vol 7, No 1: Juni 2013
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v7i1.484

Abstract

Abstract The presence of antibiotic residues in milk addition dangerous to humans, also cause a failure in the process of making yogurt. Through modifications to the standard procedure of making yogurt successful fermentation and eliminate residual content of antibiotics in milk but according Yulistiani and Raharjo (2006), the total content of lactic acid bacteria was still low at 104-105 CFU / ml. The research aims to: 1). Produce the yogurt starter was resistant to penicillin antibiotic residue levels in milk; 2). Assessing the use of starter concentration (which was resistant to the antibiotic penicillin residual content) and determine the concentration of the best starter for applications in the manufacture of yoghurt from milk beresidu antibiotics penicillin and 3). Produce yogurt from milk penicillin antibiotics in accordance with the quality standards of the Food Drug Administration (FDA), total lactic acid bacteria when consumed yogurt must contain a minimum of 107 CFU / ml. The study was conducted in 2 phases of the study: 1) Phase I is an adaptation to the dairy yogurt starter beresidu penicillin 6.0 IU / ml, 8.0 IU / ml and 10.0 IU / ml, respectively performed 2 times and 2) Phase II was an application for the manufacture of yoghurt starter yogurt from milk beresidu penicillin. The experimental design used was a completely randomized design (CRD), a pattern with 2 factors and 2 replications. The first factor is the concentration of starter (5.0%, 7.5%, 10.0%, 12.5% v/v) and the second factor was the residue levels of penicillin (6.0 IU / ml and 10.0 IU / ml ). The results showed that the production of yogurt starter was resistant to penicillin antibiotics in milk can be done by means of the adaptation process at several levels of starter yogurt gradually penicillin antibiotic. Application concentration of starter yogurt (which wais resistant to the antibiotic penicillin) by 5.0% -12.5% penicillin antibiotics in milk beresidu 6.0 IU / ml and 10.0 IU / ml can produce yogurt with total lactic acid bacteria (9.371 log CFU / ml - 9.528 log CFU / ml). Concentration starter yogurt (which is resistant to the antibiotic penicillin) significantly affect the total lactic acid bacteria, total acid, pH and soluble protein content. Penicillin Residues 10.0 IU / ml and a concentration of 5.0% starter was the best treatment for application in the manufacture of yoghurt from milk beresidu penicillin antibiotic. Keywords: Yogurt Starter, residues Antibiotics, Penicillin, Milk Cow   Abstrak   Residu antibiotika pada susu selain berbahaya bagi manusia, juga menyebabkan kegagalan pada proses pembuatan yoghurt. Melalui modifikasi terhadap prosedur standard pembuatan yoghurt berhasil dilakukan fermentasi dan menghilangkan kandungan residu antibiotika pada susu tetapi menurut Yulistiani dan Raharjo (2006), kandungan total bakteri asam laktat masih rendah yaitu 104 – 105 CFU/ml. Penelitian bertujuan untuk : 1). Menghasilkan starter yoghurt yang resisten terhadap kadar residu antibiotika Penicillin pada susu ; 2). Mengkaji penggunaan konsentrasi starter (yang resisten terhadap kandungan residu antibiotika Penicillin) dan menentukan konsentrasi starter terbaik untuk aplikasi pada pembuatan yoghurt dari susu beresidu antibiotika Penicillin dan 3). Menghasilkan yoghurt dari susu beresidu antibiotika Penicillin dengan kualitas sesuai standard Food Drug Administration (FDA), total bakteri asam laktat yoghurt saat dikonsumsi minimal harus mengandung 107 CFU/ml. Penelitian dilakukan dalam 2 tahapan penelitian : 1) Tahap I adalah adaptasi starter yoghurt pada susu beresidu Penicillin 6,0 IU/ml, 8,0 IU/ml dan 10,0 IU/ml masing-masing dilakukan 2 kali dan 2) Tahap II adalah aplikasi starter yoghurt untuk pembuatan yoghurt dari susu beresidu Penicillin. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), pola faktorial dengan 2 faktor dan 2 kali ulangan. Faktor I adalah konsentrasi starter (5,0%, 7,5%, 10,0%, 12,5% v/v) dan Faktor II adalah kadar residu Penicillin ( 6,0 IU/ml dan 10,0 IU/ml). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Produksi starter yoghurt yang resisten terhadap antibiotika Penicillin pada susu dapat dilakukan dengan cara proses adaptasi starter yoghurt pada beberapa kadar antibiotika Penicillin secara bertahap. Aplikasi konsentrasi starter yoghurt (yang resisten terhadap antibiotika Penicillin) sebesar 5,0%-12,5% pada susu beresidu antibiotika Penicillin 6,0 IU/ml dan 10,0 IU/ml dapat menghasilkan yoghurt dengan total bakteri asam laktat (9,371 Log CFU/ml – 9,528 Log CFU/ml). Konsentrasi starter yoghurt (yang resisten terhadap antibiotika Penicillin) berpengaruh nyata terhadap total bakteri asam laktat, total asam, pH dan kadar protein terlarut. Residu Penicillin 10,0 IU/ml dan konsentrasi starter 5,0% merupakan perlakuan terbaik untuk aplikasi pada pembuatan yoghurt dari susu beresidu antibiotika Penicillin.   Kata Kunci : Starter Yoghurt, Residu Antibiotika, Penicillin, Susu Sapi
STUDI PERBEDAAN PENGRAJIN TEMPE DAN JENIS MINYAK TERHADAP SIFAT KIMIA DAN FISIK MINYAK GORENG PASCA PENGGORENGAN TEMPE
Jurnal Teknologi Pangan Vol 13, No 2: Desember 2019
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v13i2.1703

Abstract

  Secara umum penelitian ini ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas minyak goreng pasca penggorengan tempe. Secara khusus penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh tempe dari pengrajin berbeda dan jenis minyak terhadap sifat kimia dan fisik minyak goreng pasca penggorengan tempe. Penelitian dilakukan dengan eksperimen. Tempe dari pengrajin berbeda (3 pengrajin) digoreng dengan 2 jenis minyak (minyak curah dan minyak kemasan). Pasca penggorengan minyak diuji meliputi sifat kimia (kadar air dan asam lemak bebas) serta sifat fisik (berat empuritis/kotoran, berat jenis dan warna). Data yang diperoleh diuji secara statistik dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar air, berat jenis dan berat empuritis minyak goreng pasca penggorengan tempe tidak dipengaruhi oleh perbedaan tempe dan jenis minyak. Tempe dari pengrajin berbeda dan jenis minyak berpengaruh terhadap kadar asam lemak bebas dan warna minyak goreng pasca penggorengan tempe. Berdasar sifat kimia kadar air dan asam lemak bebas dari minyak kemasan serta sifat fisik berat jenis dan warna dari minyak kemasan, minyak goreng pasca penggorengan tempe masih memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) minyak goreng. Namun berdasar kadar asam lemak bebas dari penggorengan minyak curah, berat empuritis serta warna pada minyak curah tidak memenuhi SNI. Kata kunci: tempe, minyak, pasca penggorengan, empuritis DOI : https://doi.org/10.33005/jtp.v13i2.1703
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG CANGKANG TELUR TERHADAP DAYA TERIMA DAN TITIK LELEH ES KRIM YOGHURT
Jurnal Teknologi Pangan Vol 15, No 1 : Juni 2021
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v15i1.2725

Abstract

Nutrisi yang terkandung dalam yoghurt antara lain energi, protein, karbohidrat, kalsium, dan potasium yang lebih tinggi daripada susu segar. Selain memiliki gizi yang cukup tinggi, bermanfaat juga bagi penderita lactose intolerance. Penambahan tepung cangkang telur ke dalam es krim berguna untuk membantu meningkatkan asupan kalsium. Inovasi yang beragam pada produk es krim dapat mengoptimalkan khasiat yoghurt dan tepung cangkang telur. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahan tepung cangkang telur terhadap tingkat kesukaan panelis dan titik leleh es krim. Penelitian eksperimen dengan desain penelitian RAL (Rancangan Acak Lengkap) ini dilakukan dengan 3 perlakuan yaitu yoghurt 32% pada setiap perlakuan dan tepung cangkang telur (0%, 2%, 4%). Pengaruh penambahan tepung cangkang telur dianalisis menggunakan uji statistik dengan α 0,05 untuk daya terima menggunakan uji friedman rank, serta α 0,01 untuk uji titik leleh menggunkan uji One Way ANOVA. Persentase daya terima panelis terhadap parameter warna, panelis lebih menyukai P1 (yoghurt 32% : tepung cangkang telur 2%), aroma yang paling disukai P2 (yoghurt 32% : tepung cangkang telur 4%), rasa yang paling disukai P1 (yoghurt 32% : tepung cangkang telur 2%), dan tekstur yang paling disukai P0 yoghurt 32% : tepung cangkang telur 0%), sedangkan untuk pengujian titik leleh, waktu leleh tertinggi terdapat pada P2 (36 menit 43 detik). Disarankan untuk memperhatikan proporsi penambahan yoghurt dan tepung cangkang telur agar didapatkan daya terima yang baik dan titik leleh sesuai dengan standart yang ditetapkan. Kata kunci: : Yoghurt, es krim, tepung cangkang telur, daya terima, titik leleh DOI : https://doi.org/10.33005/jtp.v15i1.2725
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SERBUK MENGKUDU (Morinda citrifolia L) DENGAN BAHAN PENGISI MALTODEKSTRIN KIMPUL (Xanthosoma sagittifolium)
Jurnal Teknologi Pangan Vol 14, No 2 : Desember 2020
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v14i2.2459

Abstract

Pangan fungsional mengandung bahan yang dapat meningkatkan status Kesehatan. Minuman fungsional dapat berupa minuman  berbentuk serbuk, mudah larut dalam air, dan praktis. Pemanfaatan buah mengkudu karena kandungan senyawa fitokimia seperti terpen, zat-zat antrakuinon, asam askorbat, asam kaprilat, zat-zat scopoletin, dan alkaloid. Penggunaan teknik enkapsulasi  digunakan untuk mengamankan koponen bioaktif tersebut dengan menggunakan kombinasi maltodekstrin umbi kimpul dan rumput laut E.cottonii. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak mengkudu dan penambahan maltodekstrin kimpul dan rumput laut terhadap aktivitas antioksidan dan kualitas minuman serbuk mengkudu yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap pola factorial dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah komposisi ekstrak buah mengkudu dan air (1:1, 1:2 dan 1:3). Faktor kedua adalah komposisi bahan pengisi maltodekstrin kimpul dan rumput laut E.cottonii (1:1, 2:0 dan 2:1). Data dianalisis menggunakan ANOVA dengan selang kepercayaan 95% dan uji Duncan (DMRT) 5%. Hasil penelitian didapatkan pada perlakuan komposisi ekstrak mengkudu dan air (1:1) dengan penambahan maltodekstrin umbi kimpul dan rumput laut E.cottonii (1:1) mempunyai hasil yang optimal pada aktivitas antioksidan 84.06 %, vitamin C 73.92 mg/100 gr, total fenol 11.89 mgTAE/gr, kadar abu 3.36%, kadar air 4.59%, Nilai L* 72.70,  a* 12.10, b* 16.33, dengan derajat kecerahan 65.96%, kelarutan 90,57% dan uji organoleptik meliputi rasa 2.60 (netral), aroma 2.57 (netral) dan kekentalan 3.60 (suka). DOI : https://doi.org/10.33005/jtp.v14i2.2459
SIFAT FISIK, KIMIA DAN ORGANOLEPTIK DENDENG GILING DARI DAGING SAPI – MANGGA MUDA
Jurnal Teknologi Pangan Vol 13, No 2: Desember 2019
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v13i2.1701

Abstract

  Dendeng sapi adalah produk makanan berbentuk lempengan yang terbuat dari irisan atau gilingan daging sapi segar yang telah diberi bumbu dan dikeringkan. Produk dendeng merupakan produk sumber protein hewani.Produk dendeng di pasaran tidak memiliki variasi rasa sehingga dilakukan inovasi untuk mengembangkan produk dendeng.Usaha diversifikasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan memanfaatkan buah mangga muda.Selain menambah cita rasa, penggunaan mangga Manalagi muda juga dapat menambah nilai serat dari produk dendeng itu sendiri.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh proporsi daging sapi dan buah mangga Manalagi muda terhadap sifat fisikokimia dan organoleptik dendeng giling. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan satu faktor, yaitu konsentrasi buah mangga Manalagi muda yang terdiri dari tujuh taraf: 0%; 7,5%; 15%; 22,5%; 30% ; 37,5% dan 45%. Ulangan dilakukan sebanyak empat kali.pH adonan, kadar air, aktivitas air, dan kesukaan terhadap warna semakin menurun seiring peningkatan konsentrasi buah mangga Manalagi muda. Kesukaan terhadap tekstur dan rasa meningkat dari konsentrasi buah mangga Manalagi muda 0% hingga 22,5% dan turun mulai konsentrasi 30% hingga 45%. Kesukaan terhadap kemudahan ditelan meningkat dimulai dari konsentrasi buah mangga Manalagi muda 0% hingga 15% dan menurun dimulai dari konsentrasi 22,5% hingga 45%.Dendeng giling dengan pengunaan 22,5% buah mangga Manalagi muda merupakan perlakuan terbaik dengan rata-rata pH adonan 5,17; kadar air 16,76%; dan aktivitas air 0,627. Sedangkan nilai kesukaan terhadap warna 4,67; tekstur 5,15; rasa 5,17 dan kemudahan ditelan 4,76. Kata Kunci : dendeng giling, daging sapi, mangga Manalagi muda DOI : https://doi.org/10.33005/jtp.v13i2.1701
Pemanfaatan Tepung Pisang Kepok dan Buah Nangka Kering dalam Pembuatan Snack Bar .,, Desiliani; Harun, Noviar; Fitriani, Shanti
Jurnal Teknologi Pangan Vol 13, No 1: JUNI 2019
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v13i1.1503

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perlakuan terbaik dari kombinasi tepung pisang kepok danbuah nangka kering dalam snack bar. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) denganlima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah TN1 (tepung pisang kepok 80% danbuah nangka kering 20%), TN2 (tepung pisang kepok 70% dan buah nangka kering 30%), TN3 (tepung pisang kepok 60% dan buah nangka kering 40%), TN4 (tepung pisang kepok 50% dan buah nangkakering 50%), dan TN5 (tepung pisang kepok 40% dan buah nangka kering 60%). Hasil penelitianmenunjukkan perlakuan terbaik adalah snack bar tepung pisang kepok 40% dan buah nangka kering 60%yang memiliki kadar air 24,69%, abu 2,36%, lemak 12,54%, protein 5,07%, serat kasar 1,48%, karbohidrat55,34%, warna coklat kekuningan (3,37), beraroma buah nangka (2,17), berasa buah nangka (2,13),tekstur agak padat (2,53), dan kesukaan keseluruhan disukai panelis (3,85). Kata kunci: tepung pisang kepok, buah nangka kering, snack bar. DOI : https://doi.org/10.33005/jtp.v13i1.1503
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MINUMAN SERBUK KOMBUCHA DARI DAUN ASHITABA (Angelica keiskei), KERSEN (Muntingia calabura), DAN KELOR (Moringa oleifera)
Jurnal Teknologi Pangan Vol 15, No 1 : Juni 2021
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v15i1.2726

Abstract

Minuman serbuk merupakan jenis produk pangan yang mudah untuk disajikan atau dikonsumsi dalam waktu yang relatif singkat. Kombucha adalah produk minuman tradisional hasil fermentasi larutan teh dan gula dengan menggunakan starter kultur kombucha (Acetobacter xylinum dan Saccharomyces cereviseae serta beberapa jenis khamir lainnya) dan difermentasi selama 7-14 hari. Selama proses fermentasi, kombucha menghasilkan asam-asam organik seperti asam glukoronat, asetat, laktat, amino dan enzim lainnya. Kombucha memiliki manfaat sebagai antioksidan, antibakteri, dapat mendetoksifikasi dan memperbaiki liver karena mengandung asam glukoronat. Penggunaan daun ashitaba (Angelica keiskei), daun kersen (Muntingia calabura), dan daun kelor (Moringa oleifera), dapat menjadi diversifikasi produk kombucha karena mengandung antioksidan dan komponen bioaktif lainnya. Minuman kombucha akan lebih praktis jika dibuat menjadi bentuk serbuk dengan menggunakan maltodekstrin dan gum arab sebagai bahan pengisi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis bahan baku daun kaya antioksidan serta proporsi maltodekstrin dan gum arab sehingga dihasilkan produk minuman serbuk dengan kualitas yang baik dan  dapat diterima oleh konsumen. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan dua faktor. Faktor I adalah jenis bahan baku daun ashitaba, kersen dan kelor. Faktor II adalah proporsi bahan pengisi maltodekstrin dan gum arab (90:10), (75:25), (60:40). Data dianalisis menggunakan ANOVA taraf 5% dan Uji Duncan (DMRT) 5%. Berdasarkan hasil penelitian, perlakuan terbaik dari aktivitas antioksidannya adalah perlakuan menggunakan daun kersen dengan proporsi maltodekstrin dan gum arab (60:40). Perlakuan terbaik ini mempunyai kadar air 3,72%, kadar abu 0,33%, vitamin C 123,16 mg/100g, pH 4,02, total fenol 6,21 mgTAE/g, aktivitas antioksidan 44,13%, total asam 0,41%, total gula 12,57%, Total mikroba  4,35x105 cfu/ml, kelarutan 93,81% . Hasil uji organoleptik hedonik didapatkan nilai rasa 4,12 (suka), aroma 4,16 (suka), tekstur 3,4 (agak suka). Kata kunci : Kultur kombucha, daun ashitaba, daun kersen, daun kelor, antioksidan DOI : https://doi.org/10.33005/jtp.v15i1.2726
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA BUBUK SPRAY DRIED SARI BUAH Citrus maxima KULTIVAR NAMBANGAN
Jurnal Teknologi Pangan Vol 14, No 2 : Desember 2020
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v14i2.2471

Abstract

Bubuk buah lebih praktis dan lebih stabil untuk ditawarkan ke konsumen. Namun, proses yang digunakan untuk mendapatkan bubuk harus memperhatikan kandungan bioaktif pada buah dan menghasilkan karakteristik fisikokimia yang baik. Bubuk sari buah pamelo (C.maxima) kultivar Nambangan diperoleh dari pengeringan semprot dengan penambahan bahan penyalut (maltodekstrin/MD DE12 dan gum arab/GA) dari empat perlakuan (10:0, 9:1, 8:2, dan 7:3 MD/GA) sebesar 15% w/v bahan penyalut/sari buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bubuk 10:0 MD/GA menghasilkan rendemen tertinggi. Bubuk 7:3 MD/GA memiliki tingkat kelarutan tertinggi, aw dan sudut repose terkecil. Penampakan morfologi dari hasil uji SEM menunjukkan bahwa keempat perlakuan mampu mengenkapsulasi komponen bioaktif. Berdasarkan standar FDA untuk produk pangan, bubuk yang dihasilkan dari keempat perlakuan berukuran nanometer.  DOI : https://doi.org/10.33005/jtp.v14i2.2471
IDENTIFIKASI PORANG GLUKOMANAN HASIL OPTIMASI EKSTRAKSI MENGGUNAKAN FTIR, SEM DAN NMR
Jurnal Teknologi Pangan Vol 8, No 2: Desember 2014
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v8i2.458

Abstract

ABSTRACT The purpose of this study was to identify porang glucomannan result of optimization of extraction used FTIR, SEM, 1H-NMR and 13C-NMR to determine the microstructure, functional groups, and molecular structure of tubers porang glucomannan. Glucomannan extraction optimization using response surface method with ethanol. The identification results showed that the functional groups of glucose-mannose has extracted spectrum wave numbers, ie from 810.05 to 894.91 cm-1. While asetilnya functional groups, namely the 1730.03 cm-1 wave numbers, type vibration field C = O. In type vibration COC field has wave numbers, ie 1249.79 cm-1 mannose glucose spectrum of functional groups will be more sharply with the high levels of glucomannan. Micro granule structure extraction results had higher levels of hygiene or components fewer and fewer impurities. 1H-NMR spectra clearly that had glucose-mannose groups with chemical shifts ranged from d 3.29 to 4.45, while the 13C NMR showed the presence of several groups of glucose and mannose. Acetyl group chemical shift 181.4 ppm and 23.1 ppm on the C-6 glucose or mannose residues. Identification of flour porang with NMR strengthen the results of FTIR identification Keywords : porang glucomannan, identification, FTIR, SEM, NMR ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi porang glukomanan hasil optimasi ekstraksi menggunakan FTIR, SEM, spektrum 1H-NMR dan 13C-NMR untuk mengetahui mikrostruktur, gugus fungsi, dan struktur molekul glukomanan dari umbi porang. Optimasi ekstraksi glukomanan menggunakan metode respon permukaan dengan pelarut etanol. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa gugus fungsi glukosa-manosa hasil ekstraksi mempunyai spektrum bilangan gelombang, yaitu 810,05 – 894,91 cm-1. Sedangkan gugus fungsi asetilnya, yaitu pada bilangan gelombang 1730,03 cm-1 tipe getaran bidang C=O. Pada tipe getaran bidang C-O-C  mempunyai bilangan gelombang, yaitu 1249,79 cm-1 Spektrum gugus fungsi glukosa manosa akan semakin tajam dengan semakin tingginya kadar glukomanan. Mikro stuktur granula hasil ekstraksi memiliki tingkat kebersihan yang semakin tinggi atau komponen pengotor semakin sedikit. Spektrum 1H-NMR  jelas yaitu memiliki gugus glukosa-manosa dengan pergeseran kimia berkisar  d 3,29 – 4,45, sedangkan 13C NMR  menunjukkan adanya beberapa gugus glukosa dan manosa. Gugus asetil  pergeseran kimia 181,4 ppm dan 23,1 ppm pada C-6  residu glukosa atau manosa. Identifikasi tepung porang dengan NMR memperkuat hasil dari identifikasi FTIR. Kata kunci : porang glukomanan, identifikasi, FTIR, SEM, NMR
MUTU FISIK DAN VIABILITAS PRODUK JAPRO (JAMU PROBIOTIK) MINUMAN SEHAT KAYA ANTIOKSIDAN
Jurnal Teknologi Pangan Vol 13, No 2: Desember 2019
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v13i2.1709

Abstract

Temulawak telah terbukti memiliki kandungan senyawa aktif fenolik dan air cucian beras (leri) memiliki kandungan nutrisi yang berpotensi untuk dijadikan minuman kesehatan kaya antioksidan. Sari temulawak dan air leri yang terfermentasi oleh bakteri asam laktat dibuat dalam bentuk sediaan inovatif berupa minuman kesehatan yaitu JaPro (Jamu Probiotik). Produk ini merupakan produk terobosan baru minuman yang kaya antioksidan dan memiliki kandungan probiotik yang bermanfaat bagi kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji mutu fisik dan viabilitas bakteri asam laktat JaPro sebagai langkah awal penentuan landasan formulasi yang akan dikembangkan. Penelitian ini terdiri atas pembuatan produk JaPro dengan menggunakan sari temulawak dan air leri sebanyak 1:1 dengan menggunakan stater Lactobacillus casei shirota strain. Parameter uji mutu fisik meliputi nilai bobot jenis (BJ), derajat keasaman (pH), total asam tertitrasi, nilai viskositas dan total bakteri asam laktat (BAL). Hasil pengujian menunjukkan berat jenis 1,0489 g/ml; derajat keasaman (pH) 4,53; total asam tertitrasi 0,2070%; viskositas 1,0647 cp; total BAL 2,4×108 CFU/mL. Kesimpulan Japro memiliki mutu fisik yang baik dan viabilitas bakteri asam laktat yang memenuhi persyaratan minuman probiotik Kata kunci: antioksidan, temulawak, viabilitas, probiotik DOI : https://doi.org/10.33005/jtp.v13i2.1709