cover
Contact Name
Gatot Suparmanto
Contact Email
info.lppm@ukh.ac.id
Phone
+62271-857724
Journal Mail Official
jurnal@ukh.ac.id
Editorial Address
masgat@yahoo.co.id
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada
ISSN : 20875002     EISSN : 2549371x     DOI : https://doi.org/10.34035/jk.v13i2
Core Subject : Health,
jurnal ini masih berfokus pada ilmu kesehatan kedokteran,keperawatan,biologi,kebidanan dan bidang kesehatan lainnya
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol. 11 No. 2, Juli 2020" : 15 Documents clear
KETIADAAN ANAK LAKI-LAKI: AKANKAH MENJADI FAKTOR PENGHALANG PEMAKAIAN KONTRASEPSI? Dwi Trisnani
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.51 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.430

Abstract

Tingkat penggunaan alat kontrasepsi (CPR) dan fertilitas (TFR) yang berbeda antar provinsi menimbulkan pertanyaan apakah ada pengaruh budaya terhadap pemakaian alat kontrasepsi modern yang merupakan program pemerintah melalui BKKBN. Perbedaaan TFR dan CPR antara Provinsi Sumatera Utara yang memperlihatkan masih tingginya TFR dan rendahnya CPR dibandingkan dengan Jawa Tengah menimbulkan dugaan bahwa hal ini terjadi karena adanya budaya yaitu sistem kekerabatan patrilineal pada Suku Batak yang merupakan suku yang dominan di Sumatera Utara. Budaya patrilineal yang memberi nilai lebih anak laki-laki menyebabkan berkurangnya keikutsertaan wanita dalam menggunakan alat kontrasepsi karena adanya keinginan untuk memiliki anak laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi jenis kelamin anak masih hidup yang dimiliki wanita terhadap penggunaan alat KB modern di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Tengah. Data yang digunakan adalah data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI). Dalam studi ini, data yang digunakan adalah data cross-sectional untuk survei tahun 2017 di wilayah Sumatera Utara dan Jawa Tengah. Hasil analisis menunjukkan bahwa di Sumatera Utara wanita yang mempunyai anak laki-laki saja berpeluang lebih besar untuk memakai alat kotrasepsi modern daripada wanita yang tidak mempunyai anak laki-laki yang menunjukkan masih adanya son preference, sedangkan di Jawa Tengah komposisi jenis kelamin mempengaruhi penggunaan alat kontrasepsi. Differences in levels of contraceptive use (CPR) and fertility (TFR) between provinces raise the question of whether there is a cultural influence on the use of modern contraception which is a government program through the BKKBN. The difference of TFR and CPR between North Sumatra Province which shows high TFR and low CPR compared to Central Java raises suspicion this is caused by patrilineal kinship culture in the Batak tribe which is the dominant tribe in North Sumatra. A patrilineal culture that gives more value to boy/s leads to reduced participation of women in using contraception because of the desire to have a son. This study aims to determine the effect of children sex composition on the use of modern family planning in North Sumatra and Central Java Province. The data used are data from the Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS). In this study, the data used were cross-sectional data for the 2017 survey in North Sumatra and Central Java. In North Sumatra, the analysis showed that women who only had boys had a greater chance of using modern contraception than women who did not have boys who showed preference for boys, whereas in Central Java the sex composition does not affect contraceptive use.
KORELASI KELUHAN KESEHATAN IBU DAN ANGKATAN KERJA PEREMPUAN TERHADAP PEROKOK ANAK Shaela Mayasari
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.352 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.431

Abstract

Persentase jumlah perokok anak (?18 tahun) terus mengalami kenaikan tiap tahunnya. Merokok di usia sangat muda tentu berpengaruh pada kesehatan anak. Tidak hanya sekarang, tapi di masa depan. Untuk itu, diharapkan peran orang tua bisa membuat anak menjauhi aktifitas merokok. Maka penting untuk mengetahui kualitas kesehatan ibu dan ketersediaan waktu luangnya dalam mendidik anak. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengaruh keluhan kesehatan yang dialami ibu dan pengaruh ibu bekerja yang masuk sebagai angkatan kerja perempuan terhadap perokok anak. Jenis penelitian ini kuantitatif. Dengan metode analisis uji korelasi sederhana dan statistik deskriptif. Adapun sumber datanya ialah data sekunder BPS tahun 2016-2018. Hasil dari penelitian ini menyatakan hubungan antara keluhan kesehatan yang dialami ibu berkorelasi kuat dengan perokok anak, dimana nilai R2 =0.9663. Hubungan antara perokok anak dengan jumlah angkatan kerja perempuan, juga menunjukkan korelasi positif yang kuat dimana nilai R2 nya 0.9289. Karena keterbatasan data dan waktu, penelitian ini hanya bisa menggambarkan perkembangan pekerja anak, perkembangan keluhan kesehatan ibu, dan perkembangan angkatan kerja perempuan. Selanjutnya diperlukan penelitian lebih komperehensif lagi terhadap hubungan ketiganya. The percentage of child smokers (?18 years) continues to increase every year. Smoking at a very young age certainly affects the health of children. Not only now, but in the future. For this reason, it is hoped that the role of parents can make children stay away from smoking. So it is important to know the quality of maternal health and the availability of free time in educating children. This study aims to describe the effect of health complaints experienced by mothers and the influence of working mothers who enter the female workforce on child smokers. This type of research is quantitative. With the simple correlation test analysis method and descriptive statistics. The source of the data is BPS secondary data for 2016-2018. The results of this study stated the relationship between health complaints experienced by mothers strongly correlated with child smokers, where the value of R2 = 0.9663. The relationship between child smokers and the number of female workforce, also shows a strong positive correlation where the R2 value is 0.9289. Because of limited data and time, this study can only describe the development of child labor, the development of maternal health complaints, and the development of the female workforce. Furthermore, more comprehensive research is needed on the relationship of the three.
PENGARUH PENDIDIKAN TEMAN SEBAYA (PEER EDUCATION) KESEHATAN MENSTRUASI TERHADAP KESIAPAN SISWI SD MENGHADAPI MENSTRUASI AWAL Istinengtiyas Tirta Suminar; Diah Nur Anisa
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.328 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.433

Abstract

Remaja yang akan mengalami menstruasi pertama membutuhkan kesiapan mental yang baik dan harus diberikan pengetahuan tentang proses menstruasi dan juga informasi tentang menarche agar siap secara mental untuk menghadapinya. Salah satu media anak dalam memperoleh informasi adalah dari teman sebayanya. Pendidikan melaui teman sebaya (peer education) merupakan salah satu metode yang paling sering digunakan untuk pelaksanaan intervensi promosi kesehatan pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pendidikan teman sebaya (peer education) kesehatan menstruasi terhadap kesiapan menghadapi menarche siswi SD 2 Jambidan Banguntapan Bantul Yogyakarta. Metode penelitian adalah pre experimental dengan desain one group pretest - posttest. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2019 di SD 2 Jambidan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta dengan jumlah responden 39 orang. Uji statistik Paired t test digunakan untuk melihat pengaruh pendidikan teman sebaya (peer education) kesehatan menstruasi terhadap kesiapan menghadapi menarche. Kesiapan responden dalam menghadapi menarche sebelum intervensi peer education berada pada kategori baik dan cukup masing-masing sebanyak 16 (41%) responden. Kesiapan responden dalam menghadapi menarche sesudah intervensi peer education berada pada kategori baik sebanyak 27 (69,2%) responden. Hasil uji paired t test menunjukkan nilai signifikansi 0,03 (p<0.05). Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara kesiapan responden sebelum dan sesudah intervensi peer education. Metode peer education dapat digunakan sekolah dalam upaya meningkatkan kesiapan siswi dalam menghadapi menstruasi awal. Adolescents who are about to experience their first menstruation require good mental readiness and must be given knowledge about the menstrual process and also information about menarche to be mentally ready to face it. One of the children's media in obtaining information is from their peers. Peer education is one of the most frequently used methods for implementing health promotion interventions for adolescents. This study aims to determine the influence of peer education on menstruation toward readiness of menarche. This study uses a pre experimental research method with one group pretest - posttest design. This study has conducted in August 2019 at SD 2 Jambidan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta with 39 respondents. Paired t test statistical test was used to assess the effect of peer education on menstrual health on readiness to face menarche. The readiness of respondents in facing menarche before the peer education intervention was in the good category and quite as much as each of 16 (41%) respondents. The readiness of respondents in facing menarche after peer education intervention was in a good category of 27 (69.2%) respondents. Paired T test results obtained a significance value of 0.003 (p <0.05). Based on the results of this study, it can be concluded that there are differences between the readiness of students before and after menstrual health peer education interventions. The peer education method can be used to increase student’s readiness in confront early menstruation.
TINGKAT SELF CARE KLIEN RAWAT JALAN DIABETES MELLITUS DI RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL Rosiana Nur Imallah; Agustina Rahmawati
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.726 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.434

Abstract

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang dapat mempengaruhi kondisi fisik, psikologis, sosial bahkan spiritual penderitanya. Salah satu upaya untuk dapat meminimalkan komplikasi DM adalah dengan melakukan self care DM. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat kepatuhan self care pada pasien DM yang menjalani rawat jalan di RS PKU Muhamamdiyah Bantul. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah 54 responden pasien rawat jalan di poliklinik penyakit dalam di RS PKU Muhammadiyah Bantul pada bulan Agustus 2019. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner SDSCA (Summary Diabetes Self Care Activities). Sebagian besar responden memiliki nilai tinggi dalam perilaku self care (51,9%). Perlunya upaya untuk meningkatkan kepatuhan self care pada pasien DM dan perawat dapat berperan penting didalamnya. Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease that can affect the physical, psychological, social and even spiritual condition of the sufferer. One effort to minimize DM complications is by doing DM self care. This study aims to describe the level of self care adherence in DM patients undergoing outpatient care at PKU Muhammadiyah Hospital Bantul. This research is a quantitative research using a cross sectional approach. A sample of 54 respondents who were outpatients in the internal medicine clinic at PKU Muhammadiyah Hospital Bantul in August 2019. The measuring instrument used was the SDSCA (Summary Diabetes Self Care Activities) questionnaire. Self-care behavior in the majority of respondents in the high category (51.9%). The need for efforts to improve self-care compliance in DM patients and nurses can play an important role in it. The results of this study indicate that the majority of DM patient have high self-care behavior.
IMPLEMENTASI DISKUSI REFLEKSI KASUS (DRK) MENINGKATKAN KEPATUHAN PERAWAT DALAM MENERAPKAN SOP MANAJEMEN NYERI Yuni Kurniasih; A Ardani; W Widiastuti
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.023 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.435

Abstract

Keberhasilan pelayanan kesehatan sangat tergantung pada partisipasi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas. Banyaknya tugas yang hars dilakukan perawat membuat perawat kurang maksimal dalam menjalankan tugasnya sebagai pemberi asuhan keperawatan. Salah satu kegiatan untuk memecahkan masalah yang muncul dalam pelayanan kesehatan salah satunya dengan refleksi kasus yang di Indonesia diperkenalkan melalui kegiatan Diskusi Refleksi Kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Diskusi Refleksi Kasus (DRK) dapat meningkatkan kepatuhan perawat dalam melaksanakan SPO manajemen nyeri di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksperiment dengan dilakukan pada responden yang berjumlah 35 responden. Analisa data untuk menguji pre dan post menggunakan Uji PairedT-test atauUji T berpasangan. Hasil penelitian ini menunjukan adanya pengaruh yang signifikan kepatuhan penerapan sop manajemen nyeri didapatkan t hitung 13.126 dan signifikansi 0,00. The success of health services is highly dependent on the participation of nurses to provide quality nursing care. The number of tasks that must be done by nurses makes nurses less optimal in carrying out their duties as providers of nursing care. One of the activities to solve problems that arise in the health service is one of them by reflecting cases which introduced in Indonesia through the Case Reflection Discussion. This study aims to determine whether the Case Reflection Disscussion (CRD) can increase nurses' compliance in implementing SOP pain management at PKU Muhammadiyah Hospital in Yogyakarta. Data analysis pre and post test used the Paired T-test or Paired T Test. The results of this study indicate that there is a significant effect of compliance with the application of standart operating procedure (SOP) pain management obtained t count 13,126 and a significance of 0.00.
PERBANDINGAN APLIKASI TERAPI AKUPUNKTUR DENGAN SUSU FERMENTASI KEFIR UNTUK MENGHAMBAT PROSES PENUAAN DINI DI KOTA SURAKARTA Sri Yatmihatun; E Estuningsih
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.172 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.438

Abstract

Penuaan atau aging merupakan perubahan manusia yang diakibatkan oleh faktor usia, psikologi, dan sosial. Penuaan juga dipengaruhi oleh faktor reactitive oxygen species (ROS) yang dihasilkan dalam sel. Tindakan akupunktur pada titik Zusanli (ST36) untuk anti aging mempunyai efek dalam melawan penuaan dengan meningkatnya aktivitas serum SOD dan penurunan serum Malondialdehyde (MDA). Kefir merupakan minuman susu fermentasi oleh mikroba atau bakteri asam laktat (Lactobacillus acidophilus, L. kefir, L. kerfigranum, L. parakefir) sehingga dikenal sebagai minuman probiotik karena mengandung mikroba yang baik untuk sistem pencernaan sehingga diketahui dapat berperan sebagai mencegah penuaan (aging). Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan antara antara aplikasi terapi akupunktur dengan susu fermentasi kefir untuk menghambat proses penuaan dini di Kota Surakarta. Metode penelitian adalah Quasy eksperimental dengan pendekatan Randomized Controlled Trial. Hasil penelitian menunjukkan skor anti oksidan pada kelompok sebelum terapi akupunktur sebesar 22.823,53 dan kelompok pemberian susu fermentasi kefir sebesar 20.352,94, dan gabungan kelompok pemberian terapi akupunktur dan pemberian susu fermentasi kefir sebesar 23.411,76. Skor anti oksidan pada kelompok setelah terapi akupunktur 18.176,47 kelompok pemberian susu fermentasi kefir, 17.764,70, dan gabungan kelompok pemberian terapi akupunktur dan pemeberian susu fermentasi kefir 19.294,12. Kesimpulan tidak ada perbedaan antara ketiga perlakuan yaitu pemberian terapi akupuntur; susu fermentasi kefir maupun kombinasi pemberian terapi akupuntur dan susu fermentasi kefir untuk menghambat proses penuaan dini di Kota Surakarta namun perpaduan akupunktur dan pemberian kefir mempunyai hasil yang lebih bagus. Manfaat dari penelitian yaitu aplikasi akupunktur dan kefir minuman fermentasi dapat dijadikan referensi untuk inovasi sebagai terapi alternatif pada kasus penuaan dini. Aging is a human change caused by age, psychology, and social factors. Aging is also influenced by the Reactitive Oxygen Species (ROS) factors produced in cells. The acupuncture action at the Zusanli point (36) for anti-aging results has an effect against aging with increasing serum SOD activity and decreasing serum Malondialdehyde (MDA). Kefir is a fermented milk drink by microbes or lactic acid bacteria (Lactobacillus acidophilus, L. kefir, L. kerfigranum, L. parakefir) so it is known as a probiotic drink because it contains microbes that are good for the digestive system so that it is known to play a role as preventing aging (aging). The purpose of this study was to determine the difference between the application of acupuncture therapy with kefir fermented milk to inhibit the process of premature aging in the city of Surakarta. The research method is an experimental Quasy with a Randomized Controlled Trial approach. The results showed the anti-oxidant score in the group before acupuncture therapy was 22,823.53 and the group giving kefir fermentation milk was 20,352.94, and the combined group giving acupuncture therapy and giving kefir fermentation milk was 23,411.76. Anti-oxidant score in the group after acupuncture therapy 18,176.47 group giving kefir fermentation milk, 17,764.70, and combined group giving acupuncture therapy and giving kefir fermentation milk 19,294.12. Conclusion there is no difference between the three treatments, namely the provision of acupuncture therapy; Kefir fermented milk and a combination of acupuncture therapy and kefir fermented milk to inhibit the process of premature aging in the city of Surakarta. The benefits of the research are the application of acupuncture and fermented beverage kefir can be used as a reference for innovation as an alternative therapy in cases of premature aging.
BEBAN KERJA MENTAL, FISIK DAN WAKTU PERAWAT DI POLI RSUD dr. SLAMET GARUT Indra Maulana; Ati Surya Mediawati; Egis Permana
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.529 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.441

Abstract

Beban kerja mental merupakan suatu perbedaan antara kapasitas dan kemampuan dalam melakukan pekerjaan atau tugas-tugasnya. Beban kerja yang tinggi bisa menyebabkan beban kerja mental, fisik, dan waktu sedangkan beban kerja yang rendah bisa menyebabkan kebosanan dan kejenuhan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran beban kerja mental, fisik, dan waktu perawat di ruangan poli RSU dr, Slamet Garut. Metode Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif, Populasi penelitian ini adalah seluruh perawat di ruangan poli RSU dr Slamet Garut. Teknik pengambilan sampel total sampling, dengan besar sampel yaitu 62 orang perawat. Pengukuran beban kerja mental menggunakan NASA TLX yang dinilai oleh peneliti dari lembar kuesioner. Analisis data menggunakan analisis deskritif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan beban kerja mental kategori tinggi sebanyak 58 responden (100,0%), beban kerja fisik kategori tinggi sebanyak 57 responden (98,3%), dan beban kerja waktu kategori tinggi sebanyak 57 responden (98,3%). Kesimpulan penelitian ini menggambarkan bahwa beban kerja perawat di ruangan poli RSU dr Slamet Garut kategori tinggi baik beban kerja mental, fisik, dan waktu. Perlunya perbaikan manajemen keperawatan perawat perlu menjaga kondisi fisik dan mental dalam memberikan pelayanan keperawatan karena beban kerja yang tinggi. Mental workload is a difference between capacity and ability to do work or tasks. High workload can cause mental workload, physical, time and low workload can cause boredom and burnout. This study is to find out how the mental, physical and nurse workload depictions in the poly room of dr. Slamet Garut Hospital. The research method used quantitative descriptive design. The population of the study was all nurses in the poly room of dr. Slamet Garut Hospital. The sampling technique was total sampling, with 62 nurses. The measurement of mental workload using NASA TLX which was assessed by researchers from the questionnaire sheet. The data analysis used quantitative descriptive analysis. The results showed that mental workload in the high category was 58 respondents (100.0%), physical workload in the high category was 57 respondents (98.3%), and the time workload in the high category was 57 respondents (98.3%). The conclusion was the workload of nurses in the poly room of dr. Slamet Garut Hospital in a high category both mental, physical, and time workloads. There needs to be an improvement in nursing management and nurses need to maintain physical and mental conditions in providing nursing services because of high workloads.
FAKTOR YANG MENINGKATKAN KINERJA PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP: SYSTEMATIC REVIEW Dwi Retnaningsih; Luky Dwiantoro
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.626 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.442

Abstract

Perawat adalah tenaga kesehatan Sumber Daya Manusia yang berhubungan langsung dengan pasien dan memiliki tanggungjawab terhadap perawatan pasien. Salah satu faktor penentu keberhasilan dalam berorganisasi di rumah sakit adalah kepemimpinan yang mampu menggerakkan perawat melakukan tindakan keperawatan. Tujuan systematic review meninjau penelitian empiris yang dipublikasikan tentang gaya kepemimpinan berkaitan dengan kinerja perawat dan jenis kepemimpinan yang bisa meningkatkan kinerja perawat di ruang rawat inap. Metode dengan melakukan tinjauan sistematis melalui review jurnal tentang gaya kepemimpinan dan kinerja perawat di ruang rawat inap. Strategi pencarian data dengan google scholar, ProQuest dan Sinta, kelayakan studi penelitian dengan melakukan penelitian empiris yang merujuk pada gaya kepemimpinan dan kinerja perawat di rawat inap. Kualitas studi dengan membaca topik, desain dan instrumen penelitian. Prosedur ekstraksi data dilakukan dari hasil penelusuran artikel dengan kata kunci gaya kepemimpinan, kinerja perawat di ruang rawat inap. Literatur 10 tahun terakhir, topik sesuai, dan artikel lengkap. Berdasarkan 12 artikel yang dianalisa, 5 penelitian dengan gaya kepemimpinan demokrasi mampu memberikan hasil kinerja perawat yang baik. 1 penelitian dengan gaya kepemimpinan otoriter, 4 penelitian dengan gaya kepemimpinan kompilasi, dan 2 penelitian dengan gaya kepemimpinan konsultasi memberikan hasil kinerja perawat cukup dan baik. Kecenderungan gaya kepemimpinan otoriter dan demokratik mampu memberikan kinerja yang baik dan cukup. Jadi, tidak ada gaya kepemimpinan yang tidak baik atau buruk. Gaya kepemimpinan yang tepat diperlukan untuk menghindari pemborosan, kebingungan, dan kesalahan. Nurses are health workers who is human resources who deal directly with patients and have responsibility for patient care. One of the critical success factors in organizing at a hospital was leadership that was able to move nurses into performing nurses' actions. The purpose of the systematic review was to review published empirical research on leadership styles related to nurse performance and the types of leadership that can improve nurses' performance in the inpatient room. The method was to conduct a systematic review through a journal review of the leadership style and performance of nurses in the inpatient room. Data search strategies with Google Scholar, ProQuest and Sinta, the feasibility of a research study by conducting empirical research that refers to the leadership style and performance of nurses in hospitalization. Quality of study by reading topics, designs and research instruments. Data extraction procedure was carried out from the results of searching the article with keywords leadership style, nurse performance in the inpatient room. Literature of the past 10 years, relevant topics, and full articles. Based on 12 articles analyzed, 5 studies with a democratic leadership style were able to provide good nurse performance results. 1 research with authoritarian leadership style, 4 research with compilation leadership style, and 2 research with consultative leadership style gives nurses good and good performance results. The tendency of an authoritarian and democratic leadership style was able to provide good and sufficient performance. So, there was no leadership style that was not good or bad. Appropriate leadership style to avoid waste, confusion, and mistakes.
PENGHAMBATAN PERTUMBUHAN Klebsiella pneumoniae DENGAN EKSTRAK ETANOL DARI LIMBAH KULIT PISANG KEPOK (Musa paradisiaca L.) Vector Stephen Dewangga; Muhammad Taufiq Qurrohman
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.904 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.443

Abstract

Pisang kepok (Musa paradisiaca L.) adalah buah yang mudah ditemukan, akan tetapi kulit buahnya selama ini jarang dimanfaatkan. Pada kulit buah M. paradisiaca L. terkandung flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan terpenoid yang berperan sebagai senyawa antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak etanol limbah kulit M. paradisiaca L. mampu menghambat pertumbuhan Klebsiella pneumoniae. Metode penelitian yang digunakan adalah analitik eksperimental, sampel kulit M. paradisiaca L. diperoleh dari pedagang keripik pisang kepok di Kabupaten Karanganyar. Ekstrak etanol 96% kulit M. paradisiaca L. dibuat dengan menggunakan metode perkolasi, sedangkan uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode Kirby-Bauer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% limbah kulit M. paradisiaca L. mampu menghambat pertumbuhan bakteri K. pneumoniae, pada konsentrasi 20%; 40%; 60%; 80% dan 100%, dengan rata-rata zona hambat berturut-turut 6,10 mm; 6,35 mm; 6,95 mm; 7,35 mm; dan 7,80 mm. Ekstrak etanol 96% kulit M. paradisiaca L. mampu membentuk zona hambat radikal pada semua konsentrasi terhadap pertumbuhan K. pneumoniae, namun tidak mampu menghasilkan zona hambat radikal setara dengan kriteria sensitif antibiotik ciprofloxacin 5 µg berdasarkan CLSI 2018 terhadap pertumbuhan K. pneumoniae. Banana kepok (Musa paradisiaca L.) is a fruit that is easily found, but the peel of the fruit has rarely been used. The peel of M. paradisiaca L. contains flavonoids, alkaloids, tannins, saponins, and terpenoids which act as antibacterial compounds. This study aims to determine whether the ethanol extract of M. paradisiaca L. peel can inhibit the growth of Klebsiella pneumoniae. The research method used was an experimental analytic, M. paradisiaca L. peel samples were obtained from banana chips traders in Karanganyar. Ethanol extract 96% of the skin of M. paradisiaca L. was prepared using the percolation method, whereas the antibacterial activity test was carried out by the Kirby-Bauer method. The results showed that the 96% ethanolic extract of M. paradisiaca L.peel was able to inhibit the growth of K. pneumoniae in 20%; 40%; 60%; 80% and 100% concentrations, with mean inhibitory zones in order 7,46 mm; 7,52 mm; 7,60 mm; 8,52 mm; dan 8,98 mm. 96% of ethanolic extract M. paradisiaca L. skin was able to form radical inhibitory zones at all concentrations of K. pneumoniae growth, but was unable to produce radical inhibitory zones equivalent to the 5µg ciprofloxacin antibiotic sensitive criteria based on CLSI 2018 on the growth of K. pneumoniae.
EDUKASI DENGAN MEDIA AUDIOVISUAL TERHADAP PERILAKU CUCI TANGAN PADA KELUARGA PASIEN RAWAT INAP Wahyuningsih Safitri; Nining Wihastutik; Anis Nurhidayati; Heni Nur Kusumawati
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.675 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.446

Abstract

Penyakit infeksi merupakan penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Upaya untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial adalah dengan menjalankan universal precautian yang salah satunya dengan mencuci tangan pada setiap penanganan pasien di rumah sakit. Edukasi dengan media audio visual lebih menarik dan lebih mudah dipahami dan diharapkan keluarga pasien mempunyai perilaku cuci tangan yang benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi dengan media audiovisual terhadap perilaku cuci tangan pada keluarga pasien. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif, menggunakan rancangan penelitian quasi eksperiment dengan Non-equivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah semua keluarga pasien sebanyak 98 orang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan stratified proportionate random sampling. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh edukasi media audiovisual terhadap perilaku cuci tangan pada keluarga pasien rawat inap dengan p value 0,011. Hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam meningkatkan perilaku kesehatan melalui media audiovisual. Infectious diseases are the main cause of high morbidity and mortality rates in the world. Efforts to prevent the occurrence of nosocomial infections is to carry out universal precautian, one of which is by washing hands in every handling of patients in the hospital. Education with audio visual media is more interesting and easier to understand and it is expected that the patient's family has the correct hand washing behavior. This study aims to determine the effect of education with with audio visual media on hand washing behavior in patients' families.This type of research is quantitative research, using a quasi-experimental research design with Non-equivalent control group design. The population in this study were all patients' families as many as 98 people. Sampling in this study used a stratified proportionate random sampling. Analysis of the data in this study using the Mann-Whitney test. The results showed there was an influence of audio visual media on hand washing behavior in the families of inpatients with a p value of 0.011. The results of this study can be a reference in improving health behavior through audiovisual media.

Page 1 of 2 | Total Record : 15