cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 38 No 2 (2020): Juni" : 7 Documents clear
Perbandingan Efektivitas Metamizol 15 Mg/KgBB IV dengan Asetaminofen 15 Mg/KgBB IV untuk Analgesia Pasca-Bedah di Bawah Umbilikus pada Pasien Pediatrik Andi Ade Wijaya Ramlan; Raden B Sukmono; Yasir Mustafa Banadji
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 2 (2020): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.1 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i2.180

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Penanganan nyeri yang tidak adekuat mencetus respon stress dan biokimia dan menyebabkan gangguan fungsi metabolisme, kardiovaskular, pulmoner, neuro-endokrin, gastrointestinal, dan imunologi. Asetaminofen merupakan obat analgetika yang paling sering digunakan untuk menangani nyeri derajat ringan-sedang. Metamizol juga telah banyak digunakan sebagai obat analgetika yang efektif untuk nyeri pasca-bedah. Namun, penggunaan metamizol tidak sepopuler asetaminofen di Indonesia. Di RSUPN dr.Cipto Mangunkusumo, penggunaan asetaminofen intravena sebagai analgetika pascabedah direstriksi berdasarkan formularium nasional. Metode: Penelitian uji klinik acak tersamar ganda dilakukan untuk menilai efektivitas metamizol 15 mg/KgBB IV dan asetaminofen 15 mg/KgBB IV untuk analgesia pascabedah di bawah umbilikus pada pasien pediatrik. Enam puluh empat subjek penelitian memenuhi kriteria inklusi dan bersedia mengikuti penelitian, dirandomisasi menjadi dua kelompok. Subjek mendapatkan regimen analgetika asetaminofen 15 mg/KgBB IV atau metamizol 15 mg/KgBB IV sesuai kelompok randomisasi di akhir pembedahan. Pemberian regimen analgetika diulang setiap 8 jam dalam 24 jam pertama pasca-bedah. Dilakukan penilaian skala FLACC saat istirahat dan bergerak pada saat pasien pulih sadar, jam ke-4, jam ke-6, jam ke-12, dan jam ke-24 pascabedah. Dilakukan pula pencatatan kebutuhan fentanil, saat pertama pasien membutuhkan fentanil, dan efek samping yang timbul selama 24 jam pertama pascabedah. Hasil: Skala FLACC pada saat istirahat maupun bergerak tidak berbeda bermakna antar kedua kelompok pada setiap pengukuran. Terdapat 4 dari 32 subjek yang membutuhkan fentanil rescue pada kelompok asetaminofen dengan saat pertama membutuhkan fentanil rescue berkisar antara 300 hingga 700 menit pascabedah. Simpulan: Metamizol 15 mg/kgBB IV tidak lebih efektif dibandingkan dengan asetaminofen 15 mg/kgBB IV untuk analgesia pascabedah di bawah umbilikus pada pasien pediatrik. Kata Kunci: Asetaminofen; analgesia multimodal; metamizol; nyeri; pascabedah di bawah umbilikus; pediatrik
Blok Fascial Pecto-intercostal Bilateral sebagai Analgesia untuk Median Sternotomi pada Anak A A Gde Putra Semara Jaya; Raden Besthadi Sukmono; Aries Perdana
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 2 (2020): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.825 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i2.189

Abstract

Median sternotomi pada anak mengakibatkan nyeri akut pascabedah dengan derajat sedang hingga berat, yang berhubungan dengan berbagai efek samping pascabedah. Blok fascia pecto-intercostal yang dipandu ultrasonografi memiliki potensi analgesia untuk median sternotomi sehingga dapat bermanfaat pada populasi anak. Kami melaporkan satu kasus anak laki-laki berusia tiga setengah tahun dengan tumor mediastinum anterior, yang akan menjalani median sternotomi dan eksisi tumor. Pasien dengan status fisik American Society of Anesthesiologists (ASA) 2, fibrosis segmen 2 dan 3 paru kanan dengan riwayat tuberkulosis paru. Eksisi tumor mediastinum anterior melalui median sternotomi berhasil dilakukan dengan fasilitasi kombinasi anestesi umum dan blok fascia pecto-intercostal bilateral. Pemulihan pascabedah juga berjalan dengan lancar. Penggunaan blok fascia pecto-intercostal bersama modalitas lainnya dapat memberikan analgesia yang memadai untuk median sternotomi. Kata Kunci: blok fascia pecto-intercostal; sternotomi; manajemen nyeri
Refleks Nasokardiak yang Disebabkan oleh Pemasangan Selang Nasogastrik: Laporan Kasus Sidharta Kusuma Manggala; Luther Napitupulu; Septianto Halim
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 2 (2020): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.699 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i2.190

Abstract

Refleks nasokardiak merupakan bagian dari refleks trigeminokardiak. Refleks nasokardiak dapat menyebabkan bradikardia dan hipotensi karena adanya manipulasi terhadap cabang nervus trigeminus yang berada pada rongga hidung. Pemasangan selang nasogastrik adalah prosedur medis yang umum dilakukan dan dapat menyebabkan iritasi pada rongga hidung, Laporan kasus ini menggambarkan adanya kejadian bradikardia, hipotensi, dan penurunan kesadaran yang terjadi segera setelah pemasangan selang nasogastrik pada seorang pasien laki-laki berusia 46 tahun dengan diagnosis pneumonia, tuberkulosis paru, sepsis, hipoksemia, dan hiperkapnia. Refleks nasokardiak harus dicurigai sebagai etiologi terjadinya refleks vagal pada pasien setelah pemasangan selang nasogastrik dan kejadian ini harus diantisipasi dengan baik terutama pada pasien dengan kondisi kritis. Dengan adanya keterbatasan referensi pada topik ini, penelitian lanjutan untuk kejadian ini perlu dilakukan. Kata Kunci: refleks nasokardiak; refleks vagal; selang nasogastrik
Trakeostomi Dini pada Pasien Kritis Coronavirus Disease (COVID-19) Dis Bima Purwaamidjaja; Mayang Indah Lestari
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 2 (2020): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.318 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i2.191

Abstract

Alasan utama pasien kritis coronavirus disease (COVID-19) dirawat di unit perawatan intensif ialah gagal napas sehingga memerlukan bantuan ventilasi mekanis invasif. Durasi pemakaian ventilasi mekanis cenderung lama sehingga berisiko menimbulkan komplikasi seperti meningkatnya mortalitas, kesulitan penyapihan, ventilator associated pneumonia (VAP), kebutuhan sedasi, dan stenosis trakea. Kondisi COVID–19 juga diperparah dengan produksi sekret kental yang banyak dan berpotensi menyumbat endotracheal tube (ETT) sehingga terjadi gangguan oksigenasi dan ventilasi. Trakeostomi dapat menjadi manajemen jalan napas alternatif pada pasien kritis COVID–19. Teknik ini memberikan manfaat antara lain mengurangi ruang rugi dan resistensi jalan napas, work of breathing, kebutuhan obat sedasi, serta lesi orofaring dan laring. Selain itu, teknik ini aman, mempermudah perawatan dan drainase sekret, meningkatkan nutrisi oral, memberikan kenyamanan pasien, serta komunikasi menjadi lebih baik. Meskipun demikian, indikasi dan waktu yang tepat untuk trakeostomi pasien COVID–19 masih menjadi kontroversi. Pasien yang akan dilakukan trakeostomi sebaiknya memiliki prognosis baik sehingga mendapatkan manfaat yang lebih banyak dari tindakan ini mengingat trakeostomi juga termasuk prosedur yang berisiko menimbulkan aerosol dan dapat menyebabkan transmisi ke tenaga kesehatan. Telaah pustaka ini akan membahas hal-hal berkaitan dengan implikasi COVID-19, pilihan trakeostomi dan manfaat trakeostomi dini pada pasien kritis.
Heat and Moisture Exchanging Filter pada Pasien COVID-19 yang Menjalani Sectio Caesarea Fitri Hapsari Dewi; Purwoko; Gita Nur Siwi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 2 (2020): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.096 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i2.192

Abstract

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) menjadi topik hangat di dunia termasuk Indonesia sejak muncul kasus di Wuhan, Hubei, Cina pada Desember 2019. Dalam lingkup anestesi obstetri, Sectio Caesaria (SC) pasien COVID-19 merupakan problem yang membutuhkan perhatian. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) merekomendasikan anestesi intraspinal pada operasi SC pada pasien terkonfirmasi atau dengan suspek COVID-19. General anestesi (GA diketahui dapat meningkatkan resiko aerosolisasi yang dapat membahayakan petugas medis. Anesthesia Patient Safety Foundation (APSF) merekomendasikan penggunaan Heat and Moisture Exchanging Filter (HMEF) pada breathing circuit anestesi tindakan GA pasien COVID-19 dimana HMEF bekerja sebagai filter yang dapat memfiltrasi bakteri dan virus. Penggunaan HMEF dipercaya dapat menurunkan resiko kontaminasi silang.
Uji Kesesuaian Hasil Penilaian Status Volume Intravaskular Antara Diameter Vena Cava Inferior (IVC) dengan Vascular Pedicle Width (VPW) Rudyanto Sedono; Amir S. Majdid; Farahniar Hamidiana
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 2 (2020): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.937 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i2.195

Abstract

Latar Belakang: Kondisi hipovolemia atau hipervolemia dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas. Baku emas penilaian status volume intravaskular adalah pemeriksaan immunoassay yang bersifat invasif, sulit, dan lama sehingga klinisi mencari teknik yang tidak invasif, mudah, dan singkat. Pemeriksaan diameter inferior vena cava (IVC) dengan ultrasonografi (USG) dan vascular pedicle width (VPW) dengan radiografi dada merupakan teknik noninvasif yang mulai digunakan untuk menilai status volume intravaskular. Pemeriksaan VPW dapat dilakukan di instansi yang tidak memiliki ultrasonografi (USG). Uji kesesuaian IVC dan VPW dalam menilai status volume intravaskular hanya pernah dilakukan pada pasien dengan ventilasi mekanik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian hasil penilaian status volume intravaskular antara teknik USG diameter IVC dengan teknik radiografi dada VPW pada pasien bernapas spontan. Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis observasional analitik potong lintang untuk mengetahui kesesuaian hasil penilaian status volume intravaskular dengan metode IVC dan VPW pada pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Penelitian dilakukan setelah mendapatkan persetujuan etik dan tanda tangan subjek pada lembar informed consent. Sebanyak 39 subjek dilibatkan dalam penelitian ini. Pengukuran VPW dari hasil radiografi dada di IGD dilanjutkan dengan pengukuran diameter serta collapsibility index IVC dengan USG. Data yang terkumpul dianalisis lebih lanjut dengan secara statistik dengan menghitung Koefisien Kappa. Hasil: Nilai median diameter IVC 1,1 cm (0,46–3 cm). Nilai median collapsibility index IVC 33% (10,2–100%). Nilai median VPW 5,7 cm (3,5–10,8 cm). Tidak ada kesesuaian antara diameter rerata IVC dengan VPW (koefisien Kappa -0,085). Tidak ada kesesuaian antara diameter maksimal IVC dengan VPW (koefisien Kappa -0,123). Kesesuaian juga tidak didapatkan dari collapsibility index dengan VPW (koefisien Kappa 0,069). Simpulan: Tidak didapatkan kesesuaian antara penilaian status volume intravaskular dengan metode pengukuran diameter IVC dan metode pengukuran VPW. Kata Kunci: Status volume intravaskular; inferior vena cava; vascular pedicle width
Analgesia pada Pasien Pediatri Aida Rosita Tantri
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 2 (2020): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.271 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i2.202

Abstract

Anak bukanlah miniatur orang dewasa. Kalimat ini menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara pasien dewasa dan anak. Anak-anak, terutama bayi yang baru berusia beberapa bulan, sangat berbeda dari orang dewasa. Perbedaan anatomi, fisiologi, dan psikologi antara dewasa dan anak-anak perlu dipahami dengan baik agar dapat memberikan pelayanan medis yang baik terutama untuk pasien pediatri. Anak-anak yang belum bisa berkomunikasi dengan baik membuat dokter terkadang hanya bisa menebak yang dirasakan dan dialami oleh pasien. Mitos yang menyatakan bahwa bayi dan anak tidak merasakan nyeri atau merasakan nyeri yang mebih ringan dibandingkan pasien dewasa. Pemahaman ini membuat deteksi dan penanganan nyeri pada pasien pediatri menjadi tidak adekuat. Penanganan nyeri yang efektif dan adekuat dapat meminimalisir respon stress akut dan sensitasi sistem saraf pusat yang dapat menyebabkan peningkatan persepsi nyeri, dan gangguan tingkah laku di kemudian hari. Faktanya, bayi yang dirawat di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) rata-rata menjalani 75 tindakan yang menimbulkan rasa nyeri selama dirawat di NICU dengan rerata 10 tindakan per hari, dimana 79,2% tindakan dilakukan tanpa menggunakan analgetik. Fakta ini membuktikan bahwa masih banyak kesalahan pemahaman konsep nyeri pada pasien pediatri. Tatalaksana nyeri dapat berupa tatalaksana farmakologi dan non-farmakologi. Tatalaksana nyeri pada pediatrik memerlukan kerjasama tim dari berbagai disiplin ilmu untuk melakukan asesmen rutin dan mendiskusikan program tatalaksana nyeri yang terbaik untuk pasien.

Page 1 of 1 | Total Record : 7