Andi Ade Wijaya Ramlan
Departemen Anestesiologi Dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

MANAJEMEN ANESTESIA PADA SINDROM HUNTER Aino Nindya Auerkari; Andi Ade Wijaya Ramlan
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 69 No 10 (2019): Journal of the Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia Volu
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jinma.v69i10.182

Abstract

Pendahuluan: Sindrom Hunter adalah kumpulan kelainan metabolik bawaan akibat defisiensi enzim lisosom. Pada kelainan ini, terjadi gangguan pemecahan glikosaminoglikans, suatu jenis mukopolisakarida. Karena tidak dipecah secara sempurna, terdapat penumpukan glikosaminoglikans di jaringan, yang mengganggu fungsi organ dan menimbulkan gejala. Penumpukan glikosaminoglikans progresif di jaringan menyebabkan pengidap sindrom Hunter akan dihadapkan pada operasi berkali-kali dalam hidupnya. Anestesiologis diharapkan dapat mempersiapkan pemeriksaan praoperasi, mengelola intraoperasi, dan merawat pascaoperasi pasien ini dengan baik. Deposit substrat, terutama di jalan napas, dapat menjadi penyulit anestesia. Kami menjabarkan pengalaman manajemen jalan napas sulit pada pasien Sindrom Hunter yang telah menjalani terapi sulih enzim. Kesulitan utama pada pasien adalah leher pendek dan keterbatasan gerak sendi. Selain jalan napas, tumpukan glikosaminoglikans di berbagai organ seperti sendi, tulang belakang, dan jantung juga menjadi perhatian khusus dalam manajemen anestesia. Metabolisme obat-obat anestesia juga dapat berbeda jika dibandingkan populasi normal. Karena merupakan penyakit jarang, penyandang sindrom Hunter sebaiknya menjalani pembiusan oleh anestesiologis yang sudah berpengalaman, di pusat kesehatan yang berpengalaman menangani sindrom Hunter.
Perbandingan Efektivitas Metamizol 15 Mg/KgBB IV dengan Asetaminofen 15 Mg/KgBB IV untuk Analgesia Pasca-Bedah di Bawah Umbilikus pada Pasien Pediatrik Andi Ade Wijaya Ramlan; Raden B Sukmono; Yasir Mustafa Banadji
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 2 (2020): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.1 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i2.180

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Penanganan nyeri yang tidak adekuat mencetus respon stress dan biokimia dan menyebabkan gangguan fungsi metabolisme, kardiovaskular, pulmoner, neuro-endokrin, gastrointestinal, dan imunologi. Asetaminofen merupakan obat analgetika yang paling sering digunakan untuk menangani nyeri derajat ringan-sedang. Metamizol juga telah banyak digunakan sebagai obat analgetika yang efektif untuk nyeri pasca-bedah. Namun, penggunaan metamizol tidak sepopuler asetaminofen di Indonesia. Di RSUPN dr.Cipto Mangunkusumo, penggunaan asetaminofen intravena sebagai analgetika pascabedah direstriksi berdasarkan formularium nasional. Metode: Penelitian uji klinik acak tersamar ganda dilakukan untuk menilai efektivitas metamizol 15 mg/KgBB IV dan asetaminofen 15 mg/KgBB IV untuk analgesia pascabedah di bawah umbilikus pada pasien pediatrik. Enam puluh empat subjek penelitian memenuhi kriteria inklusi dan bersedia mengikuti penelitian, dirandomisasi menjadi dua kelompok. Subjek mendapatkan regimen analgetika asetaminofen 15 mg/KgBB IV atau metamizol 15 mg/KgBB IV sesuai kelompok randomisasi di akhir pembedahan. Pemberian regimen analgetika diulang setiap 8 jam dalam 24 jam pertama pasca-bedah. Dilakukan penilaian skala FLACC saat istirahat dan bergerak pada saat pasien pulih sadar, jam ke-4, jam ke-6, jam ke-12, dan jam ke-24 pascabedah. Dilakukan pula pencatatan kebutuhan fentanil, saat pertama pasien membutuhkan fentanil, dan efek samping yang timbul selama 24 jam pertama pascabedah. Hasil: Skala FLACC pada saat istirahat maupun bergerak tidak berbeda bermakna antar kedua kelompok pada setiap pengukuran. Terdapat 4 dari 32 subjek yang membutuhkan fentanil rescue pada kelompok asetaminofen dengan saat pertama membutuhkan fentanil rescue berkisar antara 300 hingga 700 menit pascabedah. Simpulan: Metamizol 15 mg/kgBB IV tidak lebih efektif dibandingkan dengan asetaminofen 15 mg/kgBB IV untuk analgesia pascabedah di bawah umbilikus pada pasien pediatrik. Kata Kunci: Asetaminofen; analgesia multimodal; metamizol; nyeri; pascabedah di bawah umbilikus; pediatrik
Efektivitas Klonidin Dosis 2 Mcg/Kg di Awal Induksi Dalam Menurunkan Angka Kejadian Emergence Delirium Pada Pasien Anak yang Menjalani Operasi Mata Rahendra; Kadek Yogi Mahendra; Christopher Kapuangan; Raihanita Zahra; Andi Ade Wijaya Ramlan
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 3 (2021): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.678 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i3.237

Abstract

Latar belakang. Emergence delirium (ED) adalah suatu kondisi yang umum terjadi, pada pasien anak-anak yang menjalani pembedahan, dimana anak menjadi sangat agitasi, memberontak, dan sulit untuk diredakan serta berpotensi membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain dengan insidensi di RSCM sebesar 39,7%. Etiologi, faktor resiko, dan patofisiologi diperkirakan multifaktorial. Berbagai upaya dan strategi telah diusahakan untuk mencegah kejadian tidak menyenangkan ini. Metode. Penelitian uji klinik acak tersamar ganda pada anak usia 1-8 tahun yang menjalani operasi mata dengan anestesia umum di OK Kirana FKUI-RSCM pada bulan Januari-Maret 2020. Sebanyak 108 subjek didapatkan dengan metode konsekutif yang dirandomisasi menjadi dua kelompok. Kelompok klonidin (n = 54) mendapat klonidin 2 mcg/kgbb bolus IV lambat saat induksi anestesia, sedangkan kontrol (n = 54) mendapat NaCl 0,9%. Kejadian ED, waktu pulih, waktu pindah, derajat nyeri, dan efek samping hipotensi dan bradikardia selama dan pascaoperasi dicatat. ED dinilai dengan Pediatric Anesthesia Emergence Delirium (PAED). Hasil. Kejadian ED pada kelompok klonidin sebesar 29,6% sedangkan kontrol 31,5% (IK 95% 0,481-2,475; p=0,835). Waktu pulih kelompok klonidin memiliki nilai rerata 6 menit dibandingkan kelompok kontrol selama 5 menit (p=0,998). Nyeri sedang dirasakan pada 3,7% kelompok klonidin berbanding 0% paqda kelompok kontrol. Hipotensi dialami pada 1 pasien di kelompok klonidin dan 1 pasien di kelompok kontrol, sedangkan bradikardia ditemukan pada 2 pasien di kelompok klonidin dan 3 pasien di kelompok kontrol Simpulan. Pemberian klonidin 2 mcg/kgbb bolus IV lambat di awal induksi tidak lebih efektif dibanding plasebo dalam mencegah kejadian ED pada pasien anak yang menjalani operasi mata
MEMBANGUN SISTEM CODE STROKE PADA DUA RUMAH SAKIT PENDIDIKAN DI INDONESIA Rakhmad Hidayat; Hirari Fattah Yasfi; Dinda Diafiri; Reyhan Eddy Yunus; Andi Ade Wijaya Ramlan; Taufik Mesiano; Mohammad Kurniawan; Al Rasyid; Salim Harris
NEURONA Vol 37 No 3 (2020)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v37i3.165

Abstract

Code stroke system is rapid respond system for ischemic stroke patient’s care to have immediate therapy in order to increase effectiveness and achieve maximum outcome. Cipto Mangunkusumo Hospital and Universitas Indonesia Hospital are educational hospitals with different background, resources, facilities, and conditions in code stroke system implementation. This paper compares the code stroke system between both hospitals from some aspects, such as emergency unit health care providers, cost and facility, diagnostic imaging, initiator of code stroke system, observation room, availability of catherization lab, and communication within code stroke team. Code stroke system can be implemented in many hospitals correspondingly adjusting each of hospital conditions by maximizing advantages to cover the hospital’s shortcomings. Keywords: Code stroke, hospital, ischemic stroke, thrombectomy, thrombolysis
Blok Subarahnoid Dosis Rendah dan Epidural pada Pasien Hamil dengan Gagal Jantung dan Komorbid Lain yang Menjalani Seksio Sesarea: Sebuah Laporan Kasus Soenarto, Ratna Farida; Alexandra, Arky Kurniati; Ramlan, Andi Ade Wijaya; Alatas, Anas
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.716 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.238

Abstract

Latar Belakang: Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab signifikan pada mortalitas ibu di negara-negara berkembang. Komorbid yang mempengaruhi ini mencakupi obesitas, hipertensi dan kehamilan tua yang memperberat kinerja jantung sehingga dapat mengakibatkan gagal jantung. Ini menjadi tantangan untuk tatalaksana anestesi dengan tujuan utama mencegah luaran buruk kepada ibu dan neonatusnya. Ilustrasi Kasus: Pada kasus ini kami melaporkan wanita, 28 tahun, G4P3A1 hamil 28 minggu, ASA 3 dengan gagal jantung kongestif, superimposed pereklampsia, serta obesitas morbid. Pasien direncanakan untuk seksio sesarea dengan kombinasi anestesi menggunakan penggunaan blok subarahnoid dosis rendah dan epidural (Combined Spinal Epidural Anesthesia/CSE), serta pertimbangan tatalaksana anestesi pada ibu hamil dengan gagal jantung atau komorbid lainnya. Simpulan: Anestesi dengan blok subarakhnoid dosis rendah memiliki efek yang minimal terhadap hemodinamik, dan dapat digunakan pada selektif pasien yang mengalami gagal jantung dan komorbid lainnya.
Skor Kelelahan pada Peserta Didik Anestesiologi dan Terapi Intensif dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Heriwardito, Aldy; Sugiarto, Adhrie; Setiadi, Bakti; Dwiputra, Anggara Gilang; Hafidz, Noor; Ramlan, Andi Ade Wijaya
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.993 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.252

Abstract

Latar Belakang: Prevalensi kelelahan secara global bervariasi antara 2,36-75,7%. Kelelahan merupakan konsekuensi yang dapat dialami oleh peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitasi Indonesia (FKUI) selama menjalami proses pendidikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kelelahan pada PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI/RSCM setelah bertugas selama 24 jam di RSCM dengan menggunakan penilaian FAS, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode: Metode penelitian adalah studi potong lintang dan acak. Analisis dilakukan terhadap 36 subjek peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI tahap paripurna, mandiri dan magang selama periode penelitian. Subjek diberikan kuesioner berisi pertanyaan mengenai faktor yang dapat memengaruhi tingkat kelelahan. Kelelahan secara subjektif diukur dengan Fatigue Assessment Scale (FAS) setelah peserta PPDS bekerja di Rumah Sakit dr.Cipto Mangunkussumo (RSCM) selama ≥ 24 jam. Hasil: Sebanyak 55,6% peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif mengalami kelelahan seetelah bekerja di RSCM selama > 24 jam, dengan rerata skor kelelahan berdasarkan FAS adalah 23,6±4,2 yang berada diatas titik potong skor kelelahan dari FAS yaitu > 22. Kelelahan fisik memiliki rerata nilai yang lebih besar (15,19±2,7) dibandingkan dengan kelelahan mental (10,61±2,2) dengan perbedaaan yang bermakna (p<0.01). Kelelahan pada peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI tidak dipengaruhi oleh karakteristik, gaya hidup dan karakteristik pekerjaan. Kesimpulan: PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif mengalami kelelahan fisik pasca bekerja selama >24 jam di RSCM. Kelelahan tersebut tidak dipengaruhi oleh faktor gaya hidup dan pola kerja.
Bleeding Following Pediatric Liver Transplantation: A Brief Overview Gunawan, Ferriansyah; Ramlan, Andi Ade Wijaya
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.382

Abstract

End-stage liver disease (ESLD) occasionally needs liver transplantation (LT) as a life-saving treatment. In pediatric population, LT procedure is more complicated than adults, since they are mainly caused by extrahepatic cholestasis, has a variety of age groups, and has various infection susceptibilities. Furthermore, there is a complication related to LT, such as bleeding, which cannot be disregarded because it may aggravate patients’ conditions and necessitate reoperation. Moreover, in the case of hepatic artery thrombosis and portal vein thrombosis, which is caused by severe bleeding, patients and grafts’ survival may be significantly reduced. In this review, we are discussing bleeding following LT phenomena from the basic introduction, pathophysiology, prevention, monitoring, and treatment
Colorado Pediatric Airway Score (COPUR) as a Predictor of Intubation Difficulty in Children Aged 1-8 Years Kapuangan, Christopher; Perdana, Aries; Fadhila, Fulki; Ramlan, Andi Ade Wijaya; Zahra, Raihanita; Ferdiana, Komang Ayu; Rahendra, Rahendra
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 17, No 2 (2025): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia)
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v0i0.70707

Abstract

Background: Airway management is critical in pediatric anesthesia, as failure can lead to severe complications, including cardiac arrest. Anticipating and preparing for difficult intubation is essential, particularly in children with unique anatomical and physiological characteristics. The Colorado Pediatric Airway Score (COPUR) is a predictive tool for assessing intubation difficulty in pediatric patients.Objective: This study evaluates the validity of COPUR in predicting difficult intubation in children.Methods: A cross-sectional diagnostic study was conducted on 121 pediatric patients (aged 1–8 years) undergoing general anesthesia at Cipto Mangunkusumo Hospital. COPUR assesses jaw structure, mouth opening, prior intubation history, uvula visibility, neck movement, and additional modifying factors (macroglossia, obesity, mucopolysaccharidosis, and protruding teeth). A COPUR score >7 was used to predict difficult intubation, while intubation difficulty was defined by an Intubation Difficulty Score (IDS) >5.Results: A COPUR score ≥8 predicted difficult intubation in 15.7% of patients, whereas actual difficult intubation occurred in 9.92%. A COPUR threshold of ≥7 provided optimal sensitivity (83.3%) and specificity (61.47%), outperforming the original cutoff of 8 (50% sensitivity, 87% specificity). The score demonstrated good discriminative ability (AUC-ROC: 0.770, 95% CI: 0.685–0.842) and suitable calibration (Hosmer-Lemeshow test, p = 0.584).Conclusion: The COPUR score is a valid tool for predicting difficult intubation in pediatric patients aged 1–8 years, demonstrating fairly good discrimination and calibration values.
Manajemen Anestesia pada Sindrom Hunter Nindya Auerkari, Aino; Ramlan, Andi Ade Wijaya
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 69 No 10 (2019): Journal of The Indonesian Medical Association - Majalah Kedokteran Indonesia, V
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47830/jinma-vol.69.10-2020-182

Abstract

Background: Hunter’s syndrome is characterized by congenital metabolic defect due to lysosomal enzyme deficiency. In this syndrome, glycosaminoglycans, a type of mucopolysaccharide cannot be metabolized, and therefore its deposit accumulates in tissue. This substrate deposits progressively over time and eventually interfere with organ function and causes symptoms. Multiple surgeries would be needed to counter its effect throughout patients’ life. Anesthesiologists are expected to prepare the patient for anesthesia, manage intraoperative, and provide postoperative care. The substrate accumulation on airway presents a special challenge for airway management. We describe a case of difficult airway management in a patient with Hunter’s Syndrome who was under enzyme therapy. The main airway challenge are short neck and limited neck extention. Glycosaminoglycans in joints, spine, and heart also require anesthetist’s attention. Drug metabolism in Hunter Syndrome may be different from normal. As this is a rare disease, patients with Hunter’s syndrome is recommended to undergo anesthesia with experienced anesthesiologist in health care facilities with experience in provide care for Hunter’s syndrome.
Influencing factors of patient safety in anesthesia services in a low- and middle-income country Heriwardito, Aldy; Ramlan, Andi Ade Wijaya; Zahra, Raihanita; Martira, Amelia; Pramodana, Bintang; Bintartho, Agung; Sukmono, Raden Besthadi; Lasanudin, Joshua Eldad Frederich
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 14, No 4: December 2025
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijphs.v14i4.26631

Abstract

Patient safety in anesthesia remains a concern in low- and middle-income countries due to workforce shortages, limited equipment, and inconsistent protocols. In Jakarta, where demand for anesthesia is rising, baseline data on these parameters are lacking. This study aimed to identify gaps in human resources, equipment availability, and safety protocol adherence. A cross-sectional survey of all actively practicing anesthesiologists in Jakarta was conducted in January 2024, yielding 115 responses. The questionnaire, developed and face-validated through a focus group with senior anesthesiologists, covered three domains: human resources, facilities and equipment, and protocols. Internal reliability was assessed using Cronbach’s alpha. Participation was voluntary, responses were anonymous, and data were analyzed using descriptive statistics. Prolonged work hours were reported by a minority of respondents (6.1-7%), with 22.7% agreeing that anesthesiologists' workload is too high. Most rated human resource parameters positively (median 4/5), but access to basic monitoring devices for oxygenation, ventilation, circulation, and temperature was limited. Protocol adherence was generally high (median 4-5/5), though a small minority of institutions lacked incident reporting pathways, patient risk assessment, and post-surgical recovery rooms. Improving patient safety in Jakarta requires ensuring essential monitoring equipment, optimizing staffing to manage workload, and mandating full perioperative safety protocols across facilities.