cover
Contact Name
Anwar Hafidzi
Contact Email
prodi.htn@uin-antasari.ac.id
Phone
+6285251295964
Journal Mail Official
anwar.hafidzi@uin-antasari.ac.id
Editorial Address
Jalan Ahmad Yani Km. 4.5 Banjarmasin
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Journal of Islamic and Law Studies (JILS)
ISSN : 26568683     EISSN : 26568683     DOI : 10.18592/jils.v5i1.4577
The Journal of Islamic and Law Studies is a multi-disciplinary publication dedicated to the scholarly study of all aspects of science and of the Islamic in Indonesia. Particular attention is paid to works dealing with history geography political science economics anthropology sociology law literature religion philosophy international relations environmental and developmental issues as well as ethical questions related to scientific research. The Journal seeks to place Islam and the Islamic tradition as its central focus of academic inquiry and to encourage comprehensive consideration of its many facets; to provide a forum for the study of Islam and Muslim societies in their global context; to encourage interdisciplinary studies of the Islamic world that are crossnational and comparative; to promote the diffusion exchange and discussion of research findings; and to encourage interaction among academics from various traditions of learning.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2019)" : 7 Documents clear
Kondisi Geografis, Sosial Politik Dan Hukum Di Makkah Dan Madinah Pada Masa Awal Islam Abdul Hafiz Sairazi
JOURNAL OF ISLAMIC AND LAW STUDIES Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Syariah UIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.291 KB) | DOI: 10.18592/jils.v1i1.2658

Abstract

AbstractThis paper wants to examine the geographical, social political and legal conditions in Makkah and Madinah in the early days of Islam. The initial period of Islam referred to here is the time the Prophet Muhammad was still alive and appointed as an Apostle. This period is the period of emergence and growth of Islamic law. This study is considered important to know how the law appears and applies when the things that influence it exist. The method used is library research. The geographical conditions of Makkah are arid regions, while the geographical conditions of Medina are fertile areas. The weather in both regions is hot and dry. In terms of socio-political conditions, the traditions of the people who often fought between tribes to prolonged, turned into unity in the faith with the appointment of the Prophet Muhammad as leader. The legal condition is divided into two phases, namely the Makkah phase and the Medina phase. The Makkah phase is characterized by faith as a legal foundation, the phase of Medina is characterized by a complete law and is gradually derived. The legal structure in Makkah and Madinah is held by the Prophet Muhammad. The legal substance is in the form of Qur'an and Hadith, both of which come from the revelations of Allah Almighty. Legal culture shows that the people of Makkah and Madinah obey the law. This compliance is influenced by strong faith.Keywoords: the condition of Makkah and Madinah, the beginning of Islam, the enforcement of the lawAbstrakTulisan ini ingin mengkaji kondisi geografis, sosial politik dan hukum di Makkah dan Madinah pada masa awal Islam. Masa awal Islam yang dimaksud di sini adalah masa Nabi Muhammad saw masih hidup dan diangkat menjadi Rasul. Masa ini adalah masa kemunculan dan pertumbuhan hukum Islam. Kajian ini dinilai penting untuk mengetahui cara hukum muncul dan diberlakukan saat hal-hal yang memengaruhinya ada. Metode yang digunakan adalah library research.Kondisi geografis Makkah adalah daerah yang gersang, sedangkan kondisi geografis Madinah adalah daerah yang subur. Cuaca kedua wilayah ini panas dan kering. Dari segi kondisi sosial politik, tradisi masyarakat yang sering berperang antar suku hingga berkepanjangan, berubah menjadi persatuan dalam akidah dengan diangkatnya Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin.Kondisi hukum terbagi pada dua fase, yaitu fase Makkah dan fase Madinah. Fase Makkah bercirikan akidah sebagai pondasi hukum, fase Madinah bercirikan hukum yang lengkap dan diturunkan secara bertahap.Struktur hukum di Makkah dan Madinah dipegang oleh Nabi Muhammad saw. Substansi hukumnya berupa Alquran dan Hadis, yang keduanya bersumber dari wahyu Allah swt. Budaya hukum menunjukkan bahwa masyarakat Makkah dan Madinah patuh terhadap hukum. Kepatuhan ini dipengaruhi akidah yang kuat.Kata kunci: kondisi Makkah dan Madinah, awal Islam, pemberlakuan hukum
KESEHATAN MENTAL MASA KINI DAN PENANGANAN GANGGUANNYA SECARA ISLAMI Widiya A Radiani
JOURNAL OF ISLAMIC AND LAW STUDIES Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Syariah UIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.106 KB) | DOI: 10.18592/jils.v1i1.2659

Abstract

Abstract Mental disorders if not handled properly, will get worse, and in the end can burden families, communities, and the government. The method used in this paper is to use descriptive exploratory analysis, through literature review and secondary data studies. The results of the study show that the study of the 2018 Riskesdas data revealed that the prevalence of severe mental disorders in the Indonesian population is 7% (per mile of the total population) and most were in Bali, Yogyakarta, NTB and Aceh. The mental emotional disorders with symptoms of depression and anxiety amounted to 9.8% and most were in Central Sulawesi, Gorontalo, NTT and Maluku. The mental health movement must prioritize prevention and the role of the community to help optimize the mental functions of individuals. Mental health is not only related to medical or psychological problems, but also has a socio-cultural dimension to the spiritual and religious dimensions. For this reason, not only medical treatment but also religious handling, such as being patient, getting used to implementing and disciplining commendable habits, doing positive activities, increasing confidence in certain values (truth, beauty, virtue, faith and others), reading prayers, read Al-Quran, remembrance of remembrance and hadith of the Prophet, performing evening prayers, associating with people who are good or pious, fasting, follow Islamic studies, follow recitations of recitation and jurisprudence, follow the Assembly of Remembrance and learning Da'wah and science Islam.  Keywords: Mental Health, Islamic Intervention  Abstrak Gangguan mental jika tidak ditangani dengan tepat, akan bertambah parah, dan pada akhirnya dapat membebani keluarga, masyarakat, serta pemerintah. Metode yang digunakan pada tulisan ini adalah  menggunakan analisis deskriptif eksploratif, melalui tinjauan literatur dan kajian data sekunder. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kajian data Riskesdas 2018 diketahui prevalensi gangguan mental berat pada penduduk Indonesia 7% (per mil dari jumlah penduduk) dan terbanyak terdapat di Bali, Yogyakarta, NTB dan Aceh. Adapun gangguan mental emosional dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan sebesar 9,8% dan terbanyak terdapat di Sulawesi tengah, Gorontalo, NTT dan Maluku. Gerakan kesehatan mental harus lebih mengedepankan pada aspek pencegahan dan peran komunitas untuk membantu optimalisasi fungsi mental individu. Kesehatan jiwa tidak hanya terkait masalah medis atau psikologis semata, tetapi juga mempunyai dimensi sosial budaya sampai dimensi spiritual dan religius. Untuk itu diberikan tidak hanya penanganan secara medis tetapi juga perlu penanganan secara keagamaan seperti bersikap sabar, membiasakan diri dalam melaksanakan dan mendisiplinkan kebiasaan terpuji, melakukan kegiatan positif, meningkatkan keyakinan atas nilai-nilai tertentu (kebenaran, keindahan, kebajikan, keimanan dan lainnya), membaca doa-doa, ayat-ayat Alquran, zikir-zikir dan hadis nabi, melakukan shalat malam, bergaul dengan orang yang baik atau salih, puasa, mengikuti pengajian pengobatan islami, mengikuti pengajian Tajwid dan Fiqih, mengikuti Majelis Zikir serta belajar Dakwah dan ilmu keislaman. Kata Kunci: Kesehatan mental, Penangan gangguan kesehatan mental.
DAMPAK REPATRIASI BAGI PARA EKSPATRIAT NEGARA Rimayanti Rimayanti
JOURNAL OF ISLAMIC AND LAW STUDIES Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Syariah UIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.56 KB) | DOI: 10.18592/jils.v1i1.2717

Abstract

AbstractAlong with the development of business by multinational companies, the role of expatriates is increasing rapidly. But these expatriates face problems that are not easy when the assignment period ends and they return to their home countries. The various problems found were motivated by work-related factors, as well as social factors. Based on the explanation of this problem, several strategies that must be carried out by the company in overcoming the impact of repatriation, for example, provide 6 months of training before returning or provide assistance to overcome cultural shock after the assignment period is over and expatriates return to their respective countries. Keywords: Repatriation, Expatriate, Strategy, Multinationals. AbstrakSeiring dengan perkembangan bisnis oleh perusahaan multinasional, peran para ekspatriat meningkat dengan pesat. Namun para ekspatriat ini menghadapi masalah yang tidak mudah saat masa penugasan berakhir dan mereka pulang kembali ke negara asal. Beragam masalah yang dijumpai ternyata dilatarbelakangi oleh faktor- faktor yang berhubungan dengan pekerjaan, dan juga faktor- faktor sosial. Berdasarkan pemaparan dari permasalahan ini, beberapa strategi yang harus dilakukan oleh pihak perusahaan dalam mengatasi dampak repatriasi ini misalnya memberikan training 6 bulan sebelum kepulangan ataupun menyediakan pendampingan guna mengatasi gegar budaya setelah masa penugasan usai dan para ekspatriat kembali ke negaranya masing- masing. Kata Kunci: Repatriasi, Ekspatriat, Strategi, Multinasional. 
PENDIDIKAN BERMUSYAWARAH DALAM KEHIDUPAN BERNEGARA (TELAAH TERHADAP HADITS-HADITS HUKUM TATANEGARA) Anwar Hafidzi; Dwi Aprilia Wahani; Nur Halisa
JOURNAL OF ISLAMIC AND LAW STUDIES Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Syariah UIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.259 KB) | DOI: 10.18592/jils.v1i1.2648

Abstract

AbstrakMusyawarah adalah cara merumuskan atau memutuskan sesuatu berdasarkan kehendak banyak orang, meminta persetujuan dari banyak orang sehingga kebulatan dicapai, keputusan tidak harus didasarkan pada suara terbanyak, akan sesuai dengan keputusan yang dibuat berdasarkan kesepakatan dan mufakat. Keputusan adalah hasil dari penyelesaian masalah yang harus hadapi dengan tegas. Ini berkaitan dengan pertanyaan tentang "apa yang harus dilakukan" dan sebagainya tentang suatu perencanaan.  Penelitian ini menggunakan metode library research terhadap beberapa hadits tentang bagaimana bermusyararah yang sesuai dengan fikih Siyasah. Pengambilan Keputusan ada beberapa macam yaitu, Berdasarkan Intuisi, Pengambilan Keputusan Rasional, Pengambilan Keputusan Berdasarkan Pengalaman,Pengambilan Keputusan Berdasarkan Fakta, Pengambilan Keputusan Berdasarkan Wewenang.Kata kunci: Pendidikan, Musyawarah, Hukum Tatanegara.AbstractDeliberation is a way of formulating or deciding something based on the will of many people, asking for the approval of many people so that unanimity is reached, the decision does not have to be based on the majority vote, will be in accordance with decisions made based on agreement and consensus. Decisions are the result of resolving problems that must be dealt with firmly. It deals with questions about "what to do" and so on about a plan. This study uses the library research method for several hadiths about how to engage in jurisprudence in accordance with the fiqh of Siyasah. Decision Making has several types, Based on Intuition, Rational Decision Making, Experience Based Decision Making, Fact Based Decision Making, Decision Making Based on Authority. Keywords: Education, Deliberation, State Law. 
POLA AKAD PERSONAL SHOPPER DALAM JUAL BELI ONLINE DI KOTA BANJARMASIN KALIMANTAN SELATAN Sa'adah Sa'adah; Hanafiah Hanafiah; Emelia Rizki Maulida
JOURNAL OF ISLAMIC AND LAW STUDIES Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Syariah UIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.607 KB) | DOI: 10.18592/jils.v1i1.2655

Abstract

Abstract"Personal Shopper" is a buy-in service or better known as an online deposit service, a system offered by individuals to "buy" something which is then added to the cost of compensation or service, which is usually called a jastip fee. explained Personal Shopper which is a job in and out of shops, malls or large marchants with several well-known brands in accordance with the wishes of customers who believe in their services. The items sought are not only at the local level, it is not uncommon for requests for goods from abroad. This research is based on the background of many contract variations used by the shopper personal so that the contract that is supposed to be seen according to the muqalah fiqh perspective must therefore be known how the entrusted services and perceptions of practitioners on online entrusted services. The formulation of the problem in this study is How Online Shop Practitioners' Perception of Service Contracts Received Online is then analyzed according to the Muamalah Fiqh Perspective as for the purpose of the study is to find out the perceptions of online shop practitioners on the contract of online deposit services. The analysis technique is qualitative descriptive, to collect data needed by the author using observing techniques followed by interview techniques with shopper personal and online shop practitioners. After the collected data is processed with editing and categorization techniques. To obtain conclusions, an analysis of the data obtained is carried out. In the analysis there are 3 different case variations, so that there are 3 different laws of each shopper personal variation, variation 1 (cases III, IV and V) of this practice is not justified in Islam because of the element of combining two contracts in one transaction, in variation 2 ( case II) this practice is permissible because it is in accordance with the greeting and ijarah agreement, and in variation 3 (case I) the practice of personal shopper is invalid because of the element of dishonesty and gharar. Abstrak“Personal Shopper” adalah Jasa titip beli atau yang lebih dikenal jasa titip online merupakan sistem yang ditawarkan oleh perorangan untuk “membelikan” sesuatu yang kemudian ditambahkan biaya imbalan atau uang jasanya yang biasa disebut ongkos jastip. jelasnya Personal Shopper yaitu sebuah pekerjaan keluar masuk toko, mall atau marchant besar dengan beberapa merek terkenal sesuai dengan keinginan para pelanggan yang percaya pada jasa mereka. Barang yang dicari tidak hanya ditingkat lokal, tidak jarang adanya permintaan untuk barang-barang dari luar negeri. Penelitian ini dilatar belakangi menggenai banyak nya variasi akad yang digunakan oleh personal shopper shingga teraibaikan akad yang seharusnya dilihat menurut perspektif fiqih muamalah oleh karena itu harusnya diketahui bagaimana jasa titip dan persepsi praktisi pada jasa titip online. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana Persepsi Praktisi Online Shop Terhadap Akad Jasa Titip Online kemudian dianalisis menurut Perspektif Fiqih Muamalah adapun tujuan penelitian adalah untuk mengetahui persepsi praktisi online shop terhadap akad jasa titip online. Teknik analisis adalah deskripti kualitatif, untuk mengumpulkan data yang diperlukan penulis menggunakan teknik mengamati di lanjutkan dengan teknik wawancara dengan para personal shopper dan praktisi online shop. Setelah data terkumpul diolah dengan teknik editing dan kategorisasi. Untuk memperoleh kesimpulan, dilakukan analisis terhadap data yang didapat. Pada analisis terdapat 3 variasi kasus yang berbeda, sehingga terdapat 3 hukum yang berbeda dari setiap variasi personal shopper, variasi 1 (kasus III,IV dan V) praktik ini tidak dibenarkan dalam islam karena unsur penggabungan dua akad dalam satu transaksi, pada variasi 2 (kasus II) praktik ini dibolehkan karena sesuai dengan akad salam maupun ijarah, dan pada variasi 3 (kasus I) praktik yang dilakukan personal shopper tidak sah karena adanya unsur ketidak jujuran dan gharar.Kata kunci : Persepsi, Praktisi, Akad.         
Indahnya Kemitraan Laki-Laki Dan Perempuan Dalam Hukum Islam Masyithah Umar
JOURNAL OF ISLAMIC AND LAW STUDIES Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Syariah UIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.082 KB) | DOI: 10.18592/jils.v3i1.3086

Abstract

Abstrak                Hukum Islam senantiasa mengedepankan konsep/rasa keadilan, kemitraan, persamaan,  untuk memberi peluang pemberdayaan bagi laki-laki dan perempuan secara seimbang/setara.   Pemahaman keagamaan dalam tulisan ini bermuara pada aturan yang dimuat dalam hukum Islam mengenai kedudukan dan peran laki-laki dan perempuan, dan pemahaman itu seringkali menjadi titik pangkal dari wacana yang dikembangkan dan bahkan menjadi dasar berpijak dalam tindakan dan prilaku keseharian. Kemudian berikutnya menjadi pangkal tolak dalam melaksanakan peran-peran dan tanggung jawabnya dalam kehidupan, sehingga pada gilirannya akan meentukan posisi laki-laki dan perempuan dalam dunia domestik dan publik. Harmoni hubungan kemitraan  laki-laki dan perempuan serta praktek yang berkaitan dengan peran laki-laki dan perempuan telah dikonstruksi secara turun temurun dari waktu kewaktu berdasarkan budaya setempat. Konstrusinya bisa berubah sesuai dengan perubahan struktur sosial, politik, ekonomi, dan pemahaman keagamaan lapisan masyarakat (gender). Oleh karena itu, diperlukan pemahaman hukum Islam yang dapat menuntun sehingga relasi laki-laki dan perempuan berjalan dengan harmoni,  baik dan indah. Kata Kunci: Persamaan, Perbedaan, Keadilan, Kesetaraan, Kemitraan.
KEMAMPUAN DOSEN MENERAPKAN KETERAMPILAN BERTANYA PADA MATA KULIAH BIOLOGI DASAR DI UIN ANTASARI Sari Indriyani
JOURNAL OF ISLAMIC AND LAW STUDIES Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Syariah UIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.276 KB) | DOI: 10.18592/jils.v1i1.2656

Abstract

AbstrakPenelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk menjabarkan atau mendeskripsikan kemampuan dosen dalam menerapkan keterampilan bertanya baik itu keterampilan bertanya dasar ataupun keterampilan bertanya lanjutan pada mata kuliah biologi dasar di Uin Antasari Banjarmasin. Adapun teknik dalam pengumpulan data meggunakan teknik observasi dan wawancara peneliti terhadap dosen yang bersangkutan. Objek pada penelitian ini adalah dosen biologi yng mengajar biologi dasar. Sedangkan analisis data akan direduksi, disajikan data dan diambil keputusan serta diverifikasi. Sedangkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dosen biologi dalam menerapkan keterampilan bertanya sudah menunjukkan kategori baik, cukup baik dalam kategori bertanya lanjutan karena sebagian besar sudah tersampaikan dan beberapa masih ada yang belum dilakukan dikarenakan dosen masih belum menguasai komponen keterampilan bertanya lanjutan secara optimal, juga mahasiswa kurang aktif dalam menggapi pertanyaan yang diajukan oleh dosen dan keterbatasan waktu dalam proses pembelajaran.Kata Kunci: Keterampilan bertanya dosen pada mata kuliah biologi dasar AbstractThis research is a quantitative research that aims to report or describe the ability of the lecturers in terms of skills to ask about the skills proposed to participants at Uin Antasari Banjarmasin. While the technique in collecting data uses observation techniques and interview researchers to the lecturers they have. The object of this study is a biology lecturer who teaches basic biology. While the data analysis will be reduced, data will be presented and decisions will also be taken. While the results of this study indicate the fact that the research conducted has questioned the good category, quite well in the advanced questioning category most have already been conveyed and some still have not been done related to the instructor still not mastering the components that ask for optimal methods, also students are less active questions submitted by the lecturer and limited time in the learning process.Keywords: Skills to ask lecturers in basic biology courses

Page 1 of 1 | Total Record : 7