Teknika
Jurnal Teknika merupakan jurnal ilmiah yang menyajikan artikel orisinal tentang pengetahuan dan informasi riset atau aplikasi riset dan pengembangan terkini dalam bidang teknologi. Ruang lingkup Jurnal Teknika meliputi Teknik Mesin, Teknik Elektro, Sistem Informasi, Teknik Industri dan Kimia Tekstil. Design Manufacture Konversi Energi Material Data analysis Artificial Intelligence Virtual Reality Information System Data mining Dessision Support System Instrumentation and Control Electrical (Power) Electronics Engineering Industrial Engineering Optimasi Sistem Produksi Perencanaan Produksi dan Pengendalian Persediaan Penjadwalan dan Manajemen Operasi/Proyek Computer-Integrated Manufacturing System Sustainable Product Design and Manufacturing Penelitian Operasional dan Decision-Making Model Manajemen Teknologi Pengukuran Kerja, Faktor-Faktor Manusia dan Ergonomi Rekayasa dan Pengendalian Kualitas Sistem Logistik dan Supply Chain Management Perancangan dan Pengembangan Produk Concurrent Engineering Analisis Ekonomi Teknik Pemodelan Sistem dan Analisis Simulasi Perancangan Layout Fasilitas Reliability and Maintenance Engineering Sistem dan Teknologi Informasi Rekayasa Pelayanan (Service Engineering) Technopreneurship dan Inovasi Aplikasi Model Stokastik dalam Teknik Industri Aplikasi Metode Metaheuristik dalam Teknik Industri Jurnal ini merupakan sarana publikasi dan ajang berbagi karya riset dan pengembangannya di bidang teknologi. Pemuatan artikel di jurnal ini dialamatkan ke kantor editor. Informasi lengkap untuk pemuatan artikel dan petunjuk penulisan artikel tersedia di dalam setiap terbitan. Artikel yang masuk akan melalui proses seleksi mitra bestari dan/atau editor. Jurnal ini terbit secara berkala sebanyak dua kali dalam setahun (April dan Oktober).
Articles
115 Documents
PENINGKATAN KUALITAS IMPERFECTION INDICATOR (IPI) BENANG P/C Ne1 45 PADA MESIN RING SPINNING TOYODA MODEL RY DENGAN SETTING VARIASI DIAMETER RING FLANGE DAN NOMOR TRAVELLER
Tulus Basuki Wijaya;
Sulistyadi Sulistyadi
Teknika Vol 6 No 3 (2020): March 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (357.623 KB)
Industri tekstil dan Produk tekstil berkembang cukup pesat sehingga persaingan juga semakin ketat, tidak terkecuali di industri pemintalan benang. Masalah mutu sering menjadi momok bagi perusahaan dalam memasarkan produknya yaitu berupa benang tenun atau benang rajut. Peningkatan kualitas merupakan suatu tindakan yang harus dilakukan untuk mengangkat nilai produk melalui peningkatan efektivitas dan efisiensi dengan tujuan untuk mengurangi variabilitas suatu proses dengan mengurangi produksi yang cacat . Mutu benang terdiri dari banyak aspek, salah satunya nilai IPI (Imperfection Indicator) yang meliputi Thin, Thick dan Neps. Jika IPI suatu benang nilainya rendah, maka semakin baik mutu benang tersebut dan sebaliknya. Salah satu cara agar memperoleh mutu benang yang baik bisa dilakukan dengan menvariasikan diameter Flange Ring dan nomor Traveler pada mesin Ring Spinning. Dari hasil eksperimen dengan cara memvariasikan flange ring dan traveler maka diketahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap IPI pada benang P/C Ne1 45 di mesin Ring Spinning Toyoda adalah diameter flange ring dan nomor traveller yang digunakan. Diameter Flange Ring yang lebar akan membuat jarak tempuh traveler yang berputar diatas flange ring menjadi lebih jauh atau panjang, hal ini menyebabkan perlakuan terhadap material yang diteruskan akan menjadi berlebihan. Disinilah akan didapatkan transisi penebalan dan penipisan penampang benang maupun neps. Demikian juga dengan pemilihan nomor traveller yang tepat berpengaruh terhadap kualitas benang yang dihasilkan. Pengurangan dan penambahan nomor traveller mengakibatkan tension benang berubah, tidak jarang juga menyebabkan terjadinya putus pada material yang diteruskan. Variasi setting antara flange ring dan traveller yang sesuai untuk proses benang P/C Ne1 45 yaitu diameter flange ring 42 mm dengan traveller nomor 5/0 type em udr. ABSTRACT The textile industry and textile products are growing quite rapidly so that competition is also getting tougher, including in the yarn spinning industry. Quality problems are often a scourge for companies in marketing their products in the form of weaving or knitting yarns. Quality improvement is an action that must be taken to increase product value through increasing effectiveness and efficiency with the aim of reducing the variability of a process by reducing defective production. Yarn quality consists of many aspects, one of which is the IPI (Imperfection Indicator) value which includes Thin, Thick and Neps. If the IPI of a yarn is low, the better the quality of the yarn and vice versa. One way to get good yarn quality can be done by varying the Ring Flange diameter and the Traveler number on the Ring Spinning machine. From the experimental results by varying the ring flange and traveler, it is known that the factors that affect the IPI on the P / C Ne1 45 yarn in the Toyoda Ring Spinning machine are the diameter of the flange ring and the number of the traveler used. The wide diameter of the Flange Ring will make the travel distance of the traveler who rotates on the flange ring to be further or longer, this causes the treatment of the material being carried on to be excessive. This is where the thickening and thinning transitions of the thread and neps sections will be obtained. Likewise, choosing the right traveler number affects the quality of the yarn produced. The reduction and increase in the number of the traveler causes the thread tension to change, often causing breaks in the material being carried. Variation in setting between flange ring and traveler suitable for P / C thread Ne1 45, namely ring flange diameter 42 mm with traveler number 5/0 type em udr.
DESAIN BENDING DETECTOR PADA MATERIAL KOMPOSIT DENGAN MENGGUNAKAN SENSOR SERAT OPTIK
Fatimah Nur Hidayah;
Totok Wartiono;
Kusnanto Mukti Wibowo;
Petrus Heru Sudargo
Teknika Vol 6 No 3 (2020): March 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (198.13 KB)
Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan pengembangan material baru untuk memperkuat struktur material yang sudah rusak telah meningkat dengan cepat. Banyak negara berkembang mengajukan permintaan untuk meningkatkan struktur material komposit yang ada. Pengembangan material smart concrete dalam hal infrastruktur sangat penting agar pembangunan negara tetap berjalan. Pada penelitian ini akan digunakan material komposit sebagai spesimen uji tegangan maksimum dan minimum. Tujuan dari penelitian ini adalah membangun sistem detektor lentur pada material komposit dengan menggunakan sensor serat optik. Dalam hal ini didapatkan karakteristik cahaya serat optik pada material komposit. Material komposit terdiri dari Aluminium (Al) dan Baja Karbon - SS 400. Ukuran benda uji adalah 290 mm x 72 mm x 12 mm. Perlakuan pada penelitian ini menggunakan pembengkokan makro dan pembebanan pembengkokan maksimal 5 x 105 N. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada saat nilai pembebanan mencapai 40 x 105 N nilai atenuasi sensor serat optik mendekati 2,5 dB. Namun bila beban tekukan melebihi nilai tersebut maka atenuasi serat optik semakin meningkat. Dapat dirincikan bahwa beban tekuk 39,91 x 105 N dan 40,14 x 105 N dengan atenuasi 2,95 dB dan 3,08 dB merupakan nilai sensitivitas. Dari hasil perhitungan nilai sensitivitas sensor adalah 0,54 dB / N. ABSTRACT In recent years, the demand for developing new materials to reinforce the structure of damaged materials has increased rapidly. Many developing countries have made requests to improve the existing composite material structures. The development of smart concrete materials in terms of infrastructure is very important so that the country's development continues. In this study, composite materials will be used as the maximum and minimum stress test specimens. The purpose of this research is to build a flexible detector system on a composite material using a fiber optic sensor. In this case, the fiber optic light characteristics are obtained in the composite material. Composite materials consist of Aluminum (Al) and Carbon Steel - SS 400. The size of the specimen is 290 mm x 72 mm x 12 mm. The treatment in this study used macro bending and a maximum bending loading of 5 x 105 N. The results showed that when the loading value reached 40 x 105 N the attenuation value of the optical fiber sensor was close to 2.5 dB. However, if the bending load exceeds this value, the optical fiber attenuation increases. It can be specified that the bending loads of 39.91 x 105 N and 40.14 x 105 N with an attenuation of 2.95 dB and 3.08 dB are the sensitivity values. From the calculation of the sensor sensitivity value is 0.54 dB / N.
KEMAMPUAN KERJA RELAI ARUS LEBIH TERHADAP BEBAN LEBIH PADA SISTEM KETENAGALISTRIKAN PADA GARDU INDUK KABUPTEN KARANGANYAR
Maju Binoto;
Pius Sriwinarno;
Fariyono Fariyono
Teknika Vol 6 No 3 (2020): March 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (216.644 KB)
Kualitas listrik yang jelek menjadi masalah yang sangat penting sekali di berbagai bidang antara lain :industri, perhoelaan, perkantoran dn lain-lain. Oleh karena listrik bisa dikatakan sebagai salah satu kebutuhan utama bagi penunjang dan pemenuhan kebutuhan hidup para pelangan listrik. Penyediaan energi yang handal dan berkualitas bagus tidak lepas dari adanya kualitas suatu sistem tenaga listrik. Adanya gangguan yang terjadi pada transformator dapat menghambat proses penyaluran energi listrik ke konsumen.Oleh karena itu, sistem proteksi yang handal sangat dibutuhkan untuk melindungi transformator dari gangguan. Relai arus lebih SPAJ 140C merupakan salah satu relai proteksi cadangan yang digunakan oleh pihak PLN untuk menjaga transformator 150/20 kV (30 MVA) yangada di gardu induk Palur Kabupaten Karanganyar dari gangguan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan kerja relai arus lebih SPAJ 140C sebagai relai cadangan dalam melindungi transformator.Penelitian ini memberikan hasil bahwa dengan besar gangguan beban lebih 41 MW dan arus lebih yang mengalir pada transformator sebesar 175.593 A, rely SPAJ 140C dapat bekerja dalam waktu 21,11 detik. Nilai arus gangguan yang mengalir pada transformator tersebut merupakan nilai yang sangat kecil, maka relay SPAJ 140C pun bekerja dalam waktu yang lama. ABSTRACT The poor quality of electricity is a very important problem in various fields, including: industry, hospitality, offices and others. Therefore, electricity can be said to be one of the main needs for supporting and fulfilling the needs of electricity customers. The supply of reliable and good quality energy cannot be separated from the quality of an electric power system. Any disturbance that occurs in the transformer can hinder the process of distributing electrical energy to consumers. Therefore, a reliable protection system is needed to protect the transformer from interference. The SPAJ 140C overcurrent relay is one of the backup protection relays used by PLN to protect the 150/20 kV (30 MVA) transformer at the Palur substation in Karanganyar Regency from interference. The purpose of this study was to determine the working ability of the SPAJ overcurrent relay. 140C as a backup relay in protecting the transformer. This research gives the result that with a large disturbance of 41 MW overload and 175,593 A overcurrent flowing in the transformer, Rely SPAJ 140C can work in 21.11 seconds. The value of the fault current flowing in the transformer is a very small value, so the SPAJ 140C relay also works for a long time.
ANALISA UJI TARIK LAS SMAW TERHADAP SAMBUNGAN SQUARE BUTT JOINT DENGAN VARIASI KETEBALAN PLAT ST 37
Edy Suryono;
Bambang Teguh Baroto;
Peter Setiawan
Teknika Vol 6 No 3 (2020): March 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (369.23 KB)
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa sambungan las square butt joint terhadap beberapa variasi ketebalan plat dengan uji tarik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dan dilaksanakan di laboratorium pengujian bahan Akademi Teknologi Warga Surakarta, menggunakan material St 37 dengan las SMAW dan elektroda yang digunakan AWS E6013 diameter elektroda 2,6 mm dan tegangan arus sebesar 85 Ampare. Hasil pengujian uji tarik yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa spesimen 3 mm yang di las menggunakan sambungan las square butt joint, patahan terjadi di daerah gage length karena hasil pengelasan tertutup penuh dan tegangan minimum yang diperoleh 396,82 N/mm2. Pada spesimen 5 mm yang di las menggunakan sambungan las square butt joint, tegangan maksimum yang diperoleh sebesar 594,40 N/mm2, sedangkan pada spesimen 7 mm tegangan mengalami penurunan sebesar 6,48 % dan dari hasil uji tarik oleh spesimen 5 mm dan 7 mm, patahan terjadi pada sambungan las. Pada sambungan las spesimen 7 mm terlihat dari hasil pengelasan ada rongga atau celah. Hal ini menunjukkan bahwa lasan tidak penuh. ABSTRACT This study was conducted to analyze the square butt joint of several variations in plate thickness with a tensile test. The method used in this research is an experimental method and is carried out in the laboratory for testing the materials of the Surakarta Citizens' Academy of Technology, using the St 37 material with SMAW welding and the electrode used is AWS E6013 electrode diameter of 2.6 mm and a current voltage of 85 Ampare. The results of the tensile test that have been carried out can be seen that the 3 mm specimen that was welded using a square butt joint, the fracture occurred in the gage length area because the welding results were fully closed and the minimum stress obtained was 396.82 N / mm2. In 5 mm specimens that were welded using a square butt joint, the maximum stress obtained was 594.40 N / mm2, while in 7 mm specimens the stress decreased by 6.48% and from the tensile test results by 5 mm and 7 specimens. mm, the fracture occurs at the weld joint. At the 7 mm specimen weld joint, it can be seen from the welding results that there is a cavity or gap. This indicates that the weld is not full.
STUDI PARAMETER PEMESINAN OPTIMUM PROSES BUBUT PADA BAHAN KUNINGAN
Bambang Margono;
Setyo Wardoyo
Teknika Vol 6 No 4 (2020): September 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (286.825 KB)
Dalam penelitian ini, penelitian tentang penggunaan metode Taguchi telah diterapkan untuk mengoptimalkan parameter pemesinan terhadap nilai kekasaran permukaan (Ra) kuningan kuning UNS C26800. Proses pemesinan yang digunakan pada penelitian ini adalah mesin bubut semi otomatis dan alat potong yang digunakan adalah HSS. Parameter pemesinan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kecepatan spindel, laju pengumpanan, kedalaman potong dan jenis pendingin. Kombinasi keempat parameter tersebut dilakukan dengan menggunakan susunan ortogonal L9, kemudian dilanjutkan dengan analisis varians (ANOVA) dan rasio signal-to-noise (S/N) untuk mendapatkan parameter yang optimal. Hasil analisis ANOVA menunjukkan bahwa kedalaman potong merupakan parameter pemesinan yang paling berpengaruh terhadap nilai kekasaran permukaan pada kuningan. Parameter proses mesin milling yang optimal untuk menghasilkan kekasaran permukaan yang baik diperoleh pada kecepatan spindel 415 rpm, feed rate 0,62 mm/rev, kedalaman potong 0,5 mm dan pendingin bromus.
WIRELESS POWER TRANSFER SYSTEM MENGGUNAKAN MAGNETIC RESONANT COUPLING
Roedy Kristiyono;
Bambang Supriyanto
Teknika Vol 6 No 3 (2020): March 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (397.897 KB)
Saat ini listrik adalah kebutuhan utama manusia, tetapi kemudian muncul masalah untuk memenuhi energi listrik dengan sejumlah kabel yang digunakan untuk mentransfer energi listrik dari sumber ke beban. Kelemahan lainnya adalah pemasangan kabel yang tidak rapi dan kehilangan daya listrik pada transmisinya. Transfer energi listrik secara nirkabel memiliki beberapa kelebihan yang dapat meminimalkan beberapa masalah dalam penggunaan kabel. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah mengirimkan energi listrik tanpa kabel dengan cara medan elektromagnetik resonansi induktif. Ada dua buah gulungan tembaga yang digunakan untuk menghasilkan resonansi induktif bersama. Transfer daya nirkabel terdiri dari dua sirkuit utama. Satu sebagai sirkuit pemancar dan yang lainnya sebagai sirkuit penerima. Sirkuit pemancar terdiri dari transformator stepdown, penyearah, amplifier dan koil pemancar. Sirkuit penerima terdiri dari dari koil penerima dan penyearah serta beban dc. Realisasi penelitian menyatakan bahwa tegangan dalam bentuk Vdc dan arus yang dikirm berada dalam kisaran mA dengan frekuensi yang beragam dengan menghasilkan jarak daya yang terkirim berbeda beda antara 0 cm – 30 cm.
PENGARUH FILTER UNTUK MEREDAM GANGGUAN SINYAL PADA REPEATER RADIO KOMUNIKASI JALUR VHF (Very High Frequency)
Suharjanto;
Aris Teguh Rahayu
Teknika Vol 6 No 4 (2020): September 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (293.555 KB)
Radio komunikasi handy talky (HT) yang biasa digunakan untuk berkomunikasi baik untuk masyarakat umum ataupun Lembaga tertentu untuk memantau keadaan atau bertukar informasi suatu daerah tertentu. Fungsi pesawat HT menjadi piranti komunikasi, karena dalam pemanfaatannya HT tidak memerlukan media internet atau menggunakan jasa provider seperti handphone. Dalam pemanfaatan radio komunikasi HT yang bersifat 2 arah memang sangat menguntungkan namun HT memiliki jangkauan yang cukup pendek yaitu kurang lebihnya sekitar 1,5 KM jarak maksimal yang bisa digunakan untuk berkomunikasi menggunakan HT dengan HT saja. Maka dari itu diperlukan alat tambahan yang mampu mengulang gelombang frekuensidan memancarkanya lagi yaitu repeater. repeater sangat mendukung dalam berkomunikasi menggunakan pesawat radio komunikasi agar informasi yang dikirim dalam bentuk gelombang frekuensitidak mengalami kecacatan dan dapat diterima sama dengan yang dikirim dan juga menambah jangkauan pancaran gelombang frekuensitersebut. Filter pasif dalam sebuah repeater yang berfungsi untuk menghindarkan interfensi sinyal – sinyal yang tidak di kehendaki ( gangguan dari sinyal ) yang menyebabkan sinyal tidak matching.
PENGARUH FEEDRATE TERHADAP PENGUJIAN UJI TARIK DAN STRUKTUR MIKRO SAMBUNGAN SEJENIS ALUMINIUM 7075 DENGAN METODE FRICTION STIR WELDING
Petrus Heru Sudargo;
Bambang Margono;
Edy Suryono;
Ivan Ardiyanto Arsita
Teknika Vol 7 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (439.922 KB)
|
DOI: 10.52561/teknika.v7i1.115
Pengelasan Friction stir welding adalah salah satu proses solid-state welding, dimana pada saat proses menimbulkan gaya gesek pada logam serta panas dari alat yaitu shoulder yang di letak ujungnya terdapat pin berputar bergerak di sepanjang permukaan. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan feed rate terhadap pengujian tarik dan struktur mikro dengan metode pengelasan friction stir welding menggunakan material sejenis aluminium 7075, dan variasi feed rate yang digunakan adalah 24 mm/menit, 42 mm/menit dan 55 mm/menit. Dari data yang didapat bahwa hasil pengujian tarik pengelasan Friction Stir Welding (FSW) pada material aluminium 7075 kekuatan tarik tertinggi dihasilkan variasi feed rate 55 mm/menit yaitu sebesar 219,32 Mpa dan nilai kekuatan tarik terendah dihasilkan feed rate 24 mm/menit yaitu sebesar 113,67 Mpa. Sedangkan pada uji struktur mikro semakin kecil feed rate yang digunakan maka struktur pada sambungannya semakin kecil dan rapat dan semakin besar feed rate yang digunakan maka struktur pada sambungannya akan membesar.
SETTING VARIASI DISTANCE CLIP DENGAN ROLLER GAUGE DRAFTING ROLL UNTUK PENINGKATAN KUALITAS ROVING NE11.08 PADA MESIN FLYER TOYODA FL 6
Sulistyadi Sulistyadi;
Sukisno Sukisno;
Subiyati Subiyati
Teknika Vol 7 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (379.905 KB)
|
DOI: 10.52561/teknika.v7i1.116
Salah satu mesin produksi benang adalah mesin Flyer dan menghasilkan produk disebut dengan roving dan roving ini selanjutnya akan diolah menjadi benang di mesin Ring Spinning. Dalam proses produksi roving carded ada beberapa faktor yang harus dievaluasi terkait dengan kwalitas roving , diantaranya ketidakrataan (u%). Nilai ketidakrataan (U%) yang rendah menunjukkan mutu roving yang baik dan sebaliknya. Salah satu upaya untuk menghasilkan mutu roving carded yang baik adalah setting variasi ketebalan distanclip dengan jarak titik jepit peregangan (Roller Gauge) pada mesin Flyer. Hasil eksperimen dengan memvariasikan ketebalan distanclip dan roller gauge merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap ketidakrataan (U%) roving carded Ne11.08 pada mesin Flyer . Ketebalan distance Clip akan mengatur jarak antar apron yang terdapat pada Cradel dan bottom roll. Jarak yang semakin sempit ini membuat serat berjalan dengan stabil diantar apron sebelum dilakukan proses drafting selanjutnya. Kestabilan dari jumlah serat yang diproses drafting dapat menjadikan variasi dari hasil roving menurun artinya nilai ketidakrataanya (U%) roving carded nilainya rendah Demikian juga setting jarak titik jepit peregangan 35 mm x 47.5 mm x 47.5 mm mengakibatkan terjadinya cracking fiber dan setting jarak titik jepit peregangan 39 mm x 47.5mm x 47.5 mm akan mengakibatkan floating fiber serta drafting wave yang lebih tinggi artinya nilai ketidakrataanya tinggi. Variasi setting antara distanclip dan roller gauge yang sesuai untuk proses roving carded Ne11.08 di mesin flyer adalah ketebalan distance clip 3.5 mm dan titik jepit peregangan 37.5 mm x 47.5 mm x 47.5 mm.
PENGARUH VARIASI DWELL TIME DAN CROSS ANGLE TERHADAP STOP PAKAN PADA PROSES PERTENUNAN DI MESIN TENUN AIR JET LOOM TOYOTA JAT 810 E-SHED
Totok Wartiono;
Lujeng Widodo;
David Candra
Teknika Vol 7 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (308.122 KB)
|
DOI: 10.52561/teknika.v7i1.119
Permasalahan yang sangat serius pada proses pembuatan kain tenun dengan Air Jet Loom atau sering disebut mesin tanpa teropong (Shuttlelless Loom) adalah banyak sedikitnya stop pakan, hal ini akan mempengaruhi kualitas kain dan banyak sedikitnya produksi berupa kain yang dihasilkan mesin tenun pada proses pertenunan sebagai bahan bakunya berupa benang TC 45’S. Kualitas produk akan memberikan dampak positif pada perdagangan, melalui dua cara yaitu dampak terhadap biaya produksi dan dampak terhadap pendapatan. Dampak terhadap biaya produksi terjadi melalui proses pembuatan produk yang memiliki derajat akurasi yang tinggi terhadap standart yang disepakati. Sehingga beban dari tingkat kerusakan atau cacat produk berkurang. Dampak terhadap peningkatan pendapatan terjadi melalui peningkatan penjualan atas produk yang berkualitas dan berharga tinggi [1]. Tujuan Penelitian Untuk mendapatkan variasi dari Dwell Time dan Cross Angle berpengaruh terhadap stop pakan, sehingga diperoleh nilai produksi atau peningkatan produksi pada proses pembuatan kain tenun dibandingkan dengan sebelum divariasikan / dikombinasikan. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen faktor a x b dipakai dalam merancang eksperimen. Alasan pemilihan metode ini adalah cukup efisien. Dengan kata lain, metode ini membutuhkan jumlah percobaan yang cukup dibandingkan sekalipun eksperimen yang klasik. Hal ini dimungkinkan oleh pemakaian eksperimen ini. dan bisa dilakukan apabila terjadi interaksi antara faktor yang satu dengan faktor yang lainnya.