cover
Contact Name
Akbar Tanjung
Contact Email
ijitp@radenintan.ac.id
Phone
+6282176178991
Journal Mail Official
ijitp@radenintan.ac.id
Editorial Address
Jl. Letkol H. Endro Suratmin, Sukarame, Bandar Lampung, Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy
ISSN : 26568748     EISSN : 26864304     DOI : 10.24042
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy is primarily intended for the publication of scholarly works in the field of Islamic Theology and Islamic Philosophy, school of Islamic Theological thought, Islamic Theology Figure, Modern and Contemporary Islamic Theology, Classical Islamic Philosophy, History of Islamic Philosophy, Ontology, Epistemology, Axiology, Ethics and others. IJITP accepts articles in both English and Indonesia, as well as maintains a double-blind peer-review process. The Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy (IJITP) invites participation and contributions from researchers and academics in accordance with the field of science.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 1 (2024)" : 5 Documents clear
Kerukunan Agama di Indonesia: Sebuah Kajian Teologis Praktis Sujarwo, Agus; Hidayat, Rahmat; Sugianto, Sugianto
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v6i1.15897

Abstract

Abstract;Religious differences are part of sunatullah. Indonesia itself consists of various religions, which of course causes social problems and conflicts. This research provides an insight into the condition of inter-religious harmony in Indonesia from an Islamic religious perspective. The research process was carried out using qualitative methods based on literature data with content analysis and using the theory of Agreeing in Disagreement offered by Abdul Mukti Ali to achieve religious harmony, especially in Indonesia. Based on the results of research in Indonesian society, the reality is that not all regions and individuals use Agree in Agreement, namely, on the other hand, there are those who do not agree with this due to several factors, both internal and external, such as economic and political causes. Some areas that do not apply the theory of harmony occur in the areas of Ambon, North Maluku-Maluku, Poso, Sampit and Sambas, as well as several other areas, so this could trigger problems of harmony between religious communities in Indonesia.Keywords:Difference; Religious Harmony. Abstrak;Perbedaan agama merupakan bagian dari sunatullah. Di Indonesia sendiri terdiri dari berbagai macam agama yang tentunya hal ini menyebabkan masalah dan konflik sosial. Penelitian ini memberikan pandangan mengenai kondisi kerukunan antar umat beragama di Indonesia melalui perspektif agama islam. Proses penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif yang berdasarkan pada data kepustakaan dengan analisis isi (content analysis) dan menggunakan teori Agree in disagreement (setuju dalam ketidaksetujuan) yang ditawarkan oleh Abdul Mukti Ali untuk mencapai kerukunan umat beragama khususnya di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian dalam masyarakat Indonesia realitanya tidak semua wilayah dan individu yang menggunakan Agree in disagreement yaitu pada sisi lain ada yang tidak setuju dengan hal tersebut karena beberapa faktor baik internal maupun eksternal seperti disebabkan oleh ekonomi dan politik. Beberapa daerah yang tidak menerapkan teori kerukunan tersebut terjadi pada wilayah Ambon, Maluku-maluku Utara, Poso, Sampit dan Sambas, serta beberapa daerah lainnya maka hal ini bisa menjadi pemicu terjadinya problem kerukunan antar umat beragama di Indonesia.Kata Kunci:   Kerukunan Beragama; Perbedaan.
Konsep Kerakyatan Dalam Filsafat Politik Ibnu Rusyd (Studi Kasus Di Desa Kadibolo Klaten) emy, dwy
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v6i1.17700

Abstract

Abstract;This research will discuss issues regarding democracy in the view of Ibn Rushd's political philosophy. He is one of the figures who discusses democracy. In this context, Ibnu Rushd puts forward democracy as a concept of independence and freedom. However, according to him, independence and liberty are not without regulatory actions, but freedom and freedom according to religious principles. Ibnu Rushd promoted the concept of democracy, a system which according to him was more in line with the basic laws of human nature. As a realization of the popular ideas he promoted, Ibnu Rushd offered the concept of sovereignty (as-Siyadah) which contained three basic popular principles, namely freedom or independence (al-Huriyyah), equality (al-Musawah), and diversity (pluralism). This research uses quantitative methods with data collection techniques and interviews with several people in Kadibolo village who apply the populist concept based on Ibnu Rushd's thoughts. The research findings are that in Kadibolo village itself, in running its government, it uses popular principles which give its people independence in expressing opinions and also in carrying out activities. However, this does not mean that independence frees them to act as they please, there are still applicable regulations that must be obeyed so that Kadbiolo village remains well organized.Keywords:Democracy; Freedom; Ibn Rushd; Politics. Abstrak;Penelitian ini akan membahas permasalahan mengenai kerakyatan dalam pandangan filsafat politik Ibnu Rusyd. Ia merupakan salah satu tokoh yang membahas tentang kerakyatan. Dalam konteks ini Ibnu Rusyd lebih mengemukkan kerakyatan sebagai konsep kemerdekaan dan kebebasan. Namun kemerdekaan dan kebebasan menurutnya bukanlah tanpa adanya perbuatan yang mengatur, akan tetapi merdeka dan bebas sesuai prinsip agama. Ibnu Rusyd mengusung konsep kerakyatan, sebuah sistem yang menurutnya lebih sesuai dengan hukum-hukum dasar fitriyah manusia. Sebagai realisasi ide kerakyatan yang diusungnya, Ibnu Rusyd menawarkan konsep kedaulatan (as-Siyadah) yang di dalamnya terkandung tiga prinsip dasar kerakyatan, yakni kebebasan atau kemerdekaan (al-Huriyyah), persamaan (al-Musawah), dan keberagaman (pluralisme). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data dan wawancara beberapa orang di desa Kadibolo yang menerapkan konsep kerakyatan atas pemikiran Ibnu Rusyd. Temuan penelitian bahwa di desa Kadibolo sendiri dalam menjalankan pemerintahannya menggunakan prinsip kerakyatan yang memberikan kemerdekaan masyarakatnya dalam menyampaikan pendapat dan juga dalam berkegiatan. Akan tetapi bukan berarti kemerdekaan tersebut membebaskan mereka untuk bertindak semaunya, tetap ada peraturan yang berlaku untuk ditaati agar desa Kadbiolo tetap tertata dengan baik.Kata Kunci:   Ibnu Rusyd; Kerakyatan; Kebebasan; Politik.
Muhammad Iqbal's Philosophy of Khudi (A Critical Analysis of Modern Science) Hidayat, Alfan; Alamsah, Johan
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v6i1.20742

Abstract

Abstract;Science is one of the most significant factors in approaching and identifying objects. It requires the foundation of actual self-awareness, such as understanding Khudi. The path of modernity and the increasing spirit of the Western Renaissance forced modern science to behave fragmentarily. As a result, the physical dimension is distinct from the metaphysical dimension, which is defined by values and morals. Therefore, this research aims to examine specific characteristics and perspectives of modern science, which will then be critiqued through the perspective of Muhammad Iqbal's Khudi philosophy. The study is library research with a philosophical approach, assessing the data critically. According to the findings of this study, Muhammad Iqbal's Khudi has a comprehensive-integral effect on a person by reviewing his consciousness. Thus, this philosophy provides universality, wise judgment, and a positive life connection from a philosophical standpoint, particularly for our era of scientific developments that serve as a reference for modern living.Keywords:Khudi; Modern; Renaissance; Science; Universal. Abstrak;Sains merupakan salah satu hal yang penting dalam upaya mendekati, dan mengenal objek-objek yang ada, maka perlu dasar kesadaran diri yang benar sepeti pemahaman khudi. Sebab, arah kemodernan dengan semangat Renaisans Barat yang berkembang menjadikan Sains Modern berprilaku fregmentatif.  Sehingga dimensi fisik terlepas dari dimensi metafisik yang syarat akan nilai, serta moral. Maka, penelitian ini berusaha menganalisa aspek dan sisi tertentu pada sains modern, untuk kemudian dikritisi dengan perspektif dari khudi Muhammad Iqbal Penelitian merupakan library research dengan menggunakan pendekatan filosofis secara analisis-kritis, atas data-data. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Khudi Muhammad Iqbal memiliki pengaruh yang komperhensif-Integral pada diri seseorang dengan tinjauan kesadarannya. Sehingga, itu membawa keuniversalan, pertimbangan bijak, dan keterkaitan hidup yang baik dari basis filosofis, terutama bagi tren sains era ini yang dipakai sebagai rujukan hidup yang modern.Kata Kunci:   Khudi; Modern; Renaisans; Sains; Universal.
Tauhid Sebagai Dasar Prinsip Pengetahuan Dalam Pandangan Ismail R. al-Faruqi Habibi, M. Dani
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v6i1.22023

Abstract

Abstract;This study explores the concept of Tawhid in the thoughts of Ismail R. al-Faruqi as a basic principle of knowledge in his view. Tauhid, a core concept in Islam which emphasizes the unity and oneness of Allah, is a deep foundation in understanding the universe and human life according to al-Faruqi. In his perspective, the concept of Tawhid is not only theological, but also has significant epistemological implications. This research highlights how al-Faruqi links Tawhid with Islamic epistemology, reinforcing the idea that the unity of knowledge and existence is a reflection of the unity of Allah. The research method used is qualitative (literature review). By expanding the scope of Islamic epistemology through the concept of Tawhid, al-Faruqi offers a solid foundation for understanding the relationship between knowledge, religion and human life in a holistic framework. Through a text and contextual analysis approach, this study outlines al-Faruqi's contribution in bringing a new understanding of the role of Tawhid in building sustainable and comprehensive knowledge principles in contemporary society.Keywords:Ismail R. al-Faruqi; Knowledge; Tauhid. AbstrakKajian ini mengeksplorasi konsep Tauhid dalam pemikiran Ismail R. al-Faruqi sebagai dasar prinsip pengetahuan dalam pandangannya. Tauhid, konsep inti dalam Islam yang menekankan kesatuan dan keesaan Allah, merupakan fondasi yang mendalam dalam memahami alam semesta dan kehidupan manusia menurut al-Faruqi. Dalam perspektifnya, konsep Tauhid tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga memiliki implikasi epistemologis yang signifikan. Penelitian ini menyoroti bagaimana al-Faruqi menghubungkan Tauhid dengan epistemologi Islam, memperkuat gagasan bahwa kesatuan ilmu dan keberadaan adalah refleksi dari kesatuan Allah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif (Kajian Pustaka). Dengan memperluas cakupan epistemologi Islam melalui konsep Tauhid, al-Faruqi menawarkan landasan yang kokoh untuk memahami relasi antara pengetahuan, agama, dan kehidupan manusia dalam kerangka yang holistik. Melalui pendekatan analisis teks dan kontekstual, kajian ini menguraikan kontribusi al-Faruqi dalam membawa pemahaman baru tentang peran Tauhid dalam membangun prinsip-prinsip pengetahuan yang berkelanjutan dan menyeluruh dalam masyarakat kontemporer.Kata Kunci:   Tauhid, Knowledge, Ismail R. al-Faruqi.
Etika Islam: Telaah buku “Antara Al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etika Islam” Abbas, Faiz Musthofa
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v6i1.22100

Abstract

Abstract;This article is a critical review of a book entitled "Between Al-Ghazali and Kant: The Philosophy of Islamic Ethics" written by M. Amin Abdullah and published by Mizan in 2002. Humans have become more creative and imaginative thanks to science. It is this power of thinking that allows man to discover new disciplines: people depend not only on the success of their predecessors. However, as humans become more creative and their intelligence advances, they sometimes fall into the valley of arrogance. At this time, traditional moral values and standards are increasingly lost. This research method uses qualitative descriptive with M. Amin Abdullah's work Antara Al-Ghazali and Kant: Etka Islam Philosophy as the main source. The results showed that the foundations of the thought systems of two prominent intellectual figures who had a significant influence, namely about ethics. And the similarities between the ethical concepts of al-Ghazali and Immanuel Kant.Keywords:Al-Ghazali; Ethics; Kant. Abstrak;Artikel ini merupakan telaah kritis dari sebuah buku yang berjudul “Antara Al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etika Islam” yang ditulis oleh M. Amin Abdullah dan diterbitkan oleh Mizan pada tahun 2002. Manusia telah menjadi lebih kreatif dan imajinatif berkat ilmu pengetahuan. Daya berpikir inilah yang memungkinkan manusia untuk menemukan disiplin ilmu baru: orang tidak hanya bergantung pada kesuksesan para pendahulunya. Namun, ketika manusia menjadi lebih kreatif dan kecerdasannya semakin maju, mereka kadang-kadang jatuh ke lembah kesombongan. Pada saat ini, nilai-nilai moral dan standar tradisional semakin hilang.Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan karya M. Amin Abdullah yaitu Antara Al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etka Islam sebagai sumber utamanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dasar-dasar sistem pemikiran dua tokoh intelektual terkemuka yang memiliki pengaruh yang signifikan, yaitu tentang etika. Dan persamaan antara konsep etika al-Ghazali dan Immanuel Kant adalah keduanya menolak metafisika spekulatif dogmatik, sedangkan etika al-Ghazali bersifat wahyu—berdasarkan al-Quran dan Sunnah—sementara etika Immanuel Kant bersifat rasial—yakni sesuai dengan kehendak manusia.Kata Kunci:   Al-Ghazali; Etika; Kant.

Page 1 of 1 | Total Record : 5