cover
Contact Name
Carla Olyvia Doaly
Contact Email
carlaol@ft.untar.ac.id
Phone
+6282187771382
Journal Mail Official
serina@untar.ac.id
Editorial Address
Jln. Letjen S Parman No 1 Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung M Lt 5
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Prosiding Seri Seminar Nasional
ISSN : 2809509x     EISSN : -     DOI : 10.24912/pserina
Prosiding SERINA merupakan wadah publikasi hasil penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan oleh Dosen, Mahasiswa, maupun Praktisi dan telah didesiminasikan Pada Seri Seminar Nasional (SERINA) yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Tarumanagara
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 469 Documents
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PARA PELAKU EKONOMI KREATIF MASYARAKAT HUKUM ADAT BADUY Yuwono Prianto; Marian Marian; Stella Stella
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.019 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.16148

Abstract

One of the famous indigenous peoples who participate in national development is the Baduy Tribe. The commercial appeal of the Baduy tribe lies in the cultural values and local wisdom that they continue to maintain. However, there are challenges for creative economy actors from the Baduy customary law community, especially in harmonizing applicable customary law and other laws that regulate the industry. The establishment of regulations related to this is deemed very necessary and important, one of which is to provide legal protection for creative business actors who have created original works known as intellectual property. This research examines the form of legal protection for creative economy business actors of the Baduy Customary Law Community and what factors are the obstacles in efforts to protect the law against creative economy business actors of the Baduy Customary Law Community. This research is descriptive and normative legal research using a qualitative approach. The government's form of legal protection is by imposing IPR, Creative Economy Law 24/2019, Law 28/2014 concerning Copyright, and Law 20/2016 concerning Marks and Geographical Indications. The legal protection sought by the law against the creative actors of the Baduy Indigenous Law Community is preventive in nature, namely through the registration process by applying information technology, while the lives of the Baduy people tend to severely limit the use of modern technology. The pattern of the Baduy community which is religiously magical and cosmic is the main obstacle where people live with an ascetic value system that is at odds with the values adopted by modern society.Salah satu masyarakat hukum adat yang tersohor dan turut serta dalam pembangunan nasional adalah Suku Baduy. Daya tarik komersial Suku Baduy terletak pada nilai budaya dan kearifan lokal yang terus dipertahankan oleh mereka. Namun ada tantangan tersendiri bagi pelaku ekonomi kreatif dari kalangan masyarakat hukum adat Baduy, terutama dalam menyelaraskan hukum adat yang berlaku dan hukum lainnya yang mengatur industri tersebut. Pembentukan aturan terkait hal itu dirasa sangat perlu dan penting, salah satunya untuk memberi perlindungan hukum terhadap pelaku usaha kreatif yang telah menciptakan karya orisinil yang dikenal sebagai kekayaaan intelektual. Penelitian mengkaji tentang wujud perlindungan hukum terhadap pelaku usaha ekonomi kreatif Masyarakat Hukum Adat Baduy dan faktor-faktor apa saja yang menjadi kendala dalam upaya perlindungan hukum terhadap pelaku usaha ekonomi kreatif Masyarakat Hukum Adat Baduy. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Wujud perlindungan hukum pemerintah yaitu dengan memberlakukan HKI, UU Ekraf 24/2019, UU 28/2014 tentang Hak Cipta dan UU 20/2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Perlindungan hukum yang diupayakan oleh undang-undang terhadap para pelaku ekraf Masyarakat Hukum Adat Baduy bersifat preventif yaitu melalui proses pendaftaran yang dengan menerapkan teknologi informasi, sementara kehidupan orang Baduy cenderung sangat membatasi pemanfaatan teknologi modern. Corak masyarakat Baduy yang religio magis cosmic adalah kendala utama dimana masyarakat hidup dengan sistem nilai asketis yang berseberangan dengan nilai yang dianut oleh masyarakat modern.
KAJIAN ANALISIS KUALITAS UDARA DI KAWASAN MIGAS : STUDI KASUS (TUBAN DAN GRESIK) JAWA TIMUR A S Patimah; S H Murti; A Prasetya
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (861.848 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.16149

Abstract

Activities generated from the Central Processing Area (CPA) in Tuban and Gresik, East Java, produce exhaust gases that have the potential to have an impact on the surrounding environment. The objectives of the study (1) are to determine the ambient air produced by the oil and gas industry production unit (2) to determine the odor intensity produced by the oil and gas industry production unit (3) to determine the noise intensity generated by the oil and gas industry production unit. This research was conducted in semester II 2018. Data analysis methods and air sampling were carried out using a Gas Sampler and measurement of TSP (Total Suspended Solid) parameters with HVS (High Volume Sampler), the air sample obtained was then tested according to the method that refers to applicable regulations in accordance with environmental permits. The results of the laboratory analysis are then compared with the applicable quality standards. The parameters studied are: ambient air SO2, NOx, CO, O3, TSP, odors of NH3, CH2SH, H2S, (CH2)2S, C6H5CHCH2 and noise levels conducted in semester II (quarters 3 and 4) in 2018. Parameter analysis results ambient air in the 3rd and 4th quarters, the highest SO2 at Mudi PAD B 3.8 g/Nm3, NOx and NH3 in the 3rd and 4th quarters were constant, the highest CO was at the Mudi PAD A location 377.9 g/Nm3 in the 3rd quarter and increased in 4th quarter 389.4 g/Nm3. Odor parameters in the third and fourth quarters, namely NH3 from all locations tended to be constant <0.01 ppm, H2S fluctuated in the third quarter and decreased in the fourth quarter <0.01 ppm, C6H5CHCH2 <0.05, still below the quality standard of 0.1 ppm. Noise parameters in the 3rd and 4th quarters in Suci Village are 44.7 dB, GKB Housing 46 dB, Klangonan Village 49 dB, Mudi PAD C 48 dB, Mudi PAD A 54.2 dB, Mudi PAD B 53.8 dB in the third quarter. below the quality standard of 58 dB and 73.0 dB. Based on the results of the comparative analysis of air, odor and noise around Tuban and Gresik in accordance with the quality standards required by the East Java Governor Regulation No. 10 of 2009. The quality of noise and odors is in accordance with the quality standards required by the Decree of the Minister of the Environment No. 46 and no 50 of 1996. However, there are several standard parameters that are still fluctuating, namely H2SKegiatan yang dihasilkan dari Central Processing Area (CPA) di Tuban dan Gresik Jawa Timur, menghasilkan gas buang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan sekitar. Tujuan dari penelitian (1) mengetahui udara ambien yang dihasilkan  unit produksi Industri migas (2) mengetahui intensitas kebauan yang dihasilkan  unit produksi Industri migas (3) mengetahui intensitas kebisingan yang dihasilkan  unit produksi Industri migas. Penelitian ini dilakukan pada smester II tahun 2018. Metode analisis data dan pengambilan sampel udara dilakukan dengan menggunakan Gas Sampler dan pengukuran  parameter TSP (Total Suspended Solid) dengan HVS (High Volume Sampler), sampel udara yang diperoleh kemudian dilakukan pengujian sesuai metode yang mengacu pada peraturan yang berlaku sesuai izin lingkungan. Data hasil analisis labolatorium selanjutnya dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku. Parameter yang dikaji yaitu : udara ambien SO2, NOx, CO, O3, TSP, kebauan NH3, CH2SH, H2S, (CH2)2S, C6H5CHCH2 dan tingkat kebisingan yang dilakukan pada smester II (quartal 3 dan 4) tahun 2018. Hasil analisis parameter udara ambien di quartal 3 dan 4 yaitu  SO2  tertinggi di Mudi PAD B 3,8 ?g/Nm3, NOx dan NH3 di quartal 3 dan 4 konstan, CO tertinggi di lokasi Mudi PAD A 377,9 ?g/Nm3 quartal 3 dan mengalami kenaikan di quartal 4 389,4 ?g/Nm3. Parameter kebauan  quartal 3 dan 4 yaitu NH3  dari semua lokasi cenderung konstan <0,01 ppm, H2S  fluktuatif di quartal 3 dan mengalami penuruna di quartal 4 < 0,01 ppm, C6H5CHCH2 <0,05 masih dibawah baku mutu 0,1 ppm. Parameter kebisingan di quartal 3 dan 4 di desa Suci 44,7 dB, Perumahan GKB 46 dB, Desa Klangonan 49 dB, Mudi PAD C 48 dB, Mudi PAD A 54,2 dB, Mudi PAD B 53,8 dB pada quartal 3 masih dibawah baku mutu 58 dB dan 73,0 dB. Berdasarkan hasil perbandingan analisis udara, kebauan dan kebisingan di sekitar Tuban dan Gresik sesuai dengan baku mutu yang dipersyaratkan dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 10 tahun 2009. Kualitas kebisingan dan kebauan telah sesuai dengan baku mutu yang dipersyaratkan dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 46 dan no 50 tahun 1996. Namun ada beberapa standar parameter yang masih fluktuatif yaitu H2S
ANALISIS KEAUSAN MATA PAHAT DAN WAKTU PEMOTONGAN PADA PROSES DRILLING BAJA S 45 C Sobron Y Lubis; Reynaldi Reynaldi; Alifya Putri Askolani; Silvi Ariyanti
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.493 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.16150

Abstract

In the drilling process, to determine the cutting time and cutting tool wear that occurs, it is necessary to know the type of work and the cutting tools used in the work of each component. The difference in cutting parameters is one of the factors that can affect the machining time and the rate of wear and tear of the cutting tool. The higher the cutting speed, the shorter the machining time and the faster wear occurs. This study aims to analyze the cutting time and wear and tear that occurs when the drilling process is carried out. The research was carried out experimentally using a CNC milling machine, the workpiece being cut was S 45 C steel using two types of cutting tools, namely HSS and carbide. The cutting process is carried out so that the cutting tool wears out, observations and measurements of cutting tool wear are carried out using a microscope. HSS tools 114.17 minutes, 103.36 minutes. The results of the research conducted by the carbide cutting tool type have a longer cutting time than the HSS type cutting tool, the cutting time can be seen that the carbide cutting tool type has a cutting time for each combination of cutting parameters 21.27 minutes, 14.10 minutes, and 9.8 minutes and on the HSS cutting tool 14.5 minutes, 8.62 minutes, and 5.07.Pada proses drilling, untuk mengetahui waktu pemotongan dan keausan mata pahat yang terjadi, maka harus mengetahui jenis pengerjaan dan mata pahat yang digunakan dalam pengerjaan setiap komponen. Perbedaan parameter potong merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi waktu pemesinan serta tingkat kecepatan keausan mata pahat. Semakin meningkatnya kecepatan pemotongan, maka waktu pemesinan akan menjadi lebih singkat dan keausan juga lebih cepat terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalis waktu pemotongan dan keausan yang terjadi ketika proses drilling dilakukan. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan mesin milling CNC, benda kerja yang dipotong adalah jenis baja S 45 C menggunakan dua jenis mata pahat yaitu HSS dan karbida. Proses pemotongan dilakukan sehingga mata pahat mengalami keausan, pengamatan dan pengukuran keausan mata pahat dilakukan dengan menggunakan mikroskop. Dari hasil penelitian yang dilakukan jenis pahat karbida memiliki waktu pemotongan yang lebih lama dibandingkan dengan jenis pahat HSS, waktu pemotongan dapat dilihat bahwa pada jenis pahat karbida memiliki waktu pemotongan untuk masing-masing kombinasi parameter pemotongan 21.27 menit, 14,10 menit, dan 9,8 menit dan pada jenis pahat HSS 14.5menit, 8.62 menit, dan 5.07.
LONELINESS DAN SELF-COMPASSION PADA SANTRI YANG TINGGAL DI PESANTREN SELAMA PANDEMI COVID-19 Bunga Samsu Purwandita; Monika Monika
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.63 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.16151

Abstract

Boarding schools are educational institutions that emphasize the religious side and independence of their students. This factor is an attraction for parents to place their children in Islamic boarding schools. The boarding school determines the regulations in the dormitory, including prohibiting students from bringing communication tools so that students cannot communicate with the outside environment. This creates a feeling of loneliness in students. Loneliness often appears among teenagers, especially students who live in dormitories to study for a certain period. Santri cannot meet their parents and family, mainly due to the COVID-19 pandemic, closed access to the dormitory. All students will often feel lonely and cause feelings of affection for themselves or called self-compassion. This is what makes self-compassion one of the factors that can prevent loneliness. Self-compassion is a form of awakening and healing oneself from suffering that is also felt by others. Researchers distributed questionnaires to 231 students at SMA Pondok Pesantren X. The measuring instrument used in this study was the UCLA Loneliness Scale developed by Daniel W. Russel to measure loneliness. Sugianto has translated the self-Compassion Scale by K. Neff into the Skala Welas Diri (SWD). The results of this study indicate a significant and negatively correlated relationship between self-compassion and loneliness which suggests that the higher the student's level of self-compassion, the lower the level of loneliness.Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan di yang menekankan sisi keagamaan dan kemandirian anak didiknya. Faktor ini menjadi daya tarik bagi orangtua untuk menempatkan anaknya di pondok pesantren. Pihak pondok pesantren menentukan peraturan di asrama termasuk melarang santri membawa alat komunikasi sehingga santri tidak bisa berkomunikasi dengan lingkungan luar. Hal ini menciptakan perasaan kesepian atau loneliness pada santri. Loneliness sering muncul dikalangan remaja, terlebih pada santri yang menetap di asrama untuk menuntut ilmu dalam kurun waktu tertentu. Santri tidak dapat bertemu orangtua dan keluarga, terlebih karena adanya kondisi pandemi COVID-19 yang menutup akses ke asrama. Perasaan loneliness akan sering dirasakan oleh semua santri dan menyebabkan timbulnya rasa kasih sayang terhadap dirinya sendiri atau disebut dengan welas asih diri (self-compassion). Inilah yang menjadikan self-compassion sebagai salah satu faktor yang dapat mencegah loneliness. Self-compassion merupakan suatu bentuk dari proses bangkit dan penyembuhan diri atas penderitaan yang juga dirasakan orang lain. Penelitian ini memakai metode kuantitatif korelasi non-eksperimental. Teknik pendataan menggunakan teknik criterion sampling dengan jenis pengambilan sampelnya menggunakan purposive sampling. Kuesioner disebarkan kepada 231 santri yang duduk dibangku SMA Pondok Pesantren X. Penelitian ini menggunakan alat ukur UCLA Loneliness Scale yang dikembangkan oleh Daniel W. Russel untuk mengukur tingkat loneliness dan Self-Compassion Scale karya K. Neff yang sudah diterjemahkan oleh Sugianto menjadi Skala Welas Diri (SWD). Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan dan berkorelasi secara negatif antara self-compassion dan loneliness yang menunjukkan semakin tinggi tingkat self-compassion santri, semakin rendah tingkat lonelinessnya.
PERANCANGAN SISTEM FEEDER MESIN CORRUGATED CARDBOARD SLITTER MENGGUNAKAN METODE VDI 2221 Bryan Septiano Christly; Agus Halim; Agustinus Purna Irawan
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1184.651 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.16152

Abstract

Packaging is an integral part of a product. From all of the different variaties of packaging, cardboard packaging is the most used in different supply chains around the world. As of now, the production process in cardboard packaging industries is still heavily reliant on manual labour. To keep up with technological developments and maintain prevalence in the ever-severe market competition, automatization is the key to revolutionize the production process in cardboard packaging industries. The design of an automatic feeder for cardboard slitting process is intended as an attempt to answer those needs. To obtain an optimal result, the design process follows the method iterated in the VDI 2221 guide. The expected end-result of this design process is a finished design of the feeding system complete with detailed component specifications. The feeder design must be capable of accommodating 40 sheets of cardboard in one feeding cycle, with each sheet being 8 mm thick and weighing at most 1 kg/sheet. The obtained result of this research is a feeder design with a puller feeding system powered by a pneumatic cylinder; an adjustable platform powered by a stepper motor and a set of ballscrews. The result of this research indicates that the design has achieved its intended purpose, yet leaves room for further improvements.Kemasan merupakan bagian yang bersifat integral dari sebuah produk. Dari berbagai jenis kemasan, karton merupakan kemasan yang paling umum digunakan dalam berbagai rantai pasokan di dunia. Saat ini, proses produksi pada industri percetakan karton sangat bergantung dengan pekerjaan manual. Demi mengikuti perkembangan zaman dan mempertahankan prevalensi dalam persaingan pasar yang semakin ketat, otomatisasi merupakan kunci untuk merevolusi proses produksi pada insdutri percetakan karton. Perancangan sistem pengumpan otomatis untuk proses slitting lembaran karton merupakan suatu upaya dalam menjawab kebutuhan tersebut. Untuk mendapatkan hasil rancangan yang optimal, perancangan dilakukan dengan mengikuti panduan metode VDI 2221. Hasil akhir dari perancangan ini berupa rancangan rampung dari pengumpan dengan spesifikasi komponen yang terperinci. Rancangan harus mampu mengakomodasi 40 lembar karton dalam satu siklus pengumpanan, dengan masing-masing lembaran memiliki ketebalan sebesar 8 mm dan berat paling besar 1 kg/lembar. Hasil yang diperoleh adalah rancangan pengumpan dengan sistem pengumpanan jenis puller yang ditenagai silinder pneumatik; adjustable platform yang ditenagai motor stepper dan sepasang ballscrew. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa rancangan yang dibuat telah memenuhi tujuan yang telah ditentukan, namun masih dapat dioptimasi lebih lanjut.
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN ATAS KEJAHATAN KEKERASAN SEKSUAL BEGAL PAYUDARA Priskilla Velicia Ong
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.701 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.16153

Abstract

In an increasingly advanced era, the forms of crime are increasingly diverse. Of the many crime cases, women are often victims because they are considered weaker in terms of physical and power than male. One form of crime that is rife in the national news is sexual violence, bandit of woman breasts. It is called thug sex, because included in the category of deprivation of one's self-esteem, namely touching sensitive parts of one's body. In fact, even in public places there are people who take advantage of opportunities to commit sexual crimes. The problem formulated in the first study is why women often become victims of sexual violence and the second is how to protect the law against crimes of sexual violence. This writing aims to find out the legal protection provided by the state to women as victims of sexual violence. The study of sexual violence is not a new study but it is always interesting to discuss, because sexual violence always records a high number of legal issues. The type of research used by the author is a normative juridical approach with descriptive analytical research specifications. Protection of victims of violence/harassment in the criminal justice process cannot be avoided from provisions in accordance with positive law. Therefore, the state must follow up against sexual violence based on what is stated in Article 290 paragraph (1) of the Criminal Code, and guarantees and protects women's rights as regulated in Enactment No. 39 of 1999 on Human Rights.Di era zaman semakin maju, bentuk kejahatan pun semakin beraneka ragam. Dari banyaknya kasus kejahatan, perempuan sering menjadi korban karena dianggap lebih lemah dari segi fisik maupun kekuasaan ketimbang laki-laki. Salah satu bentuk kejahatan yang marak di pemberitaan nasional adalah kekerasan seksual pembegalan payudara wanita. Disebut begal seks, karena masuk dalam kategori perampasan terhadap harga diri seseorang, yakni meraba bagian sensitif dari tubuh seseorang. Kenyataannya, bahkan di tempat umum saja masih ada orang yang memanfaatkan kesempatan untuk melakukan kejahatan seksual. Adapun masalah yang dirumuskan dalam penelitian pertama adalah mengapa perempuan sering menjadi korban kekerasan seksual dan yang kedua adalah bagaimana perlindungan hukum terhadap perempuan atas kejahatan kekerasan seksual begal payudara. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui perlindungan hukum yang diberikan negara kepada perempuan sebagai korban kekerasan seksual begal payudara. Kajian terhadap kekerasan seksual bukan kajian yang baru namun selalu menarik dibahas, karena kekerasan seksual selalu mencatat angka yang tinggi dalam permasalahan hukum. Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah metode pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Perlindungan pada korban kekerasan/pelecehan seksual dalam proses peradilan pidana tidak terhindar dari ketentuan-ketentuan peraturan sesuai hukum positif. Oleh karena itu, negara menindaklanjuti pelaku kejahatan kekerasan seksual begal payudara sesuai yang tertera dalam Pasal 290 ayat (1) KUHPidana, serta menjamin dan melindungi hak-hak perempuan yang diatur dalam UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
ANALISA STATIC STRESS TURBIN AIR ALIRAN PIPA DENGAN METODE CFD Daniel Joachim; Fathurrahman Fathurrahman; Silvester Lam; M. Sobron Yamin Lubis
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (958.535 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.16154

Abstract

Turbine is a rotating machine that takes energy from a fluid flow. A water turbine is a machine that converts the potential energy of air into mechanical energy. Indonesia has many water areas such as rivers, streams, seas, and so on. Unfortunately, the development of new and renewable energy in Indonesia has not been maximized. Based on this, the team designed a turbine in a pipe called Tulipa. An innovation to exploit the potential of new and renewable energy. Tulipa utilizes the wastewater flow in the factory that is not used and then converts it back into electrical energy. The energy produced by Tulipa is 5,593 kW. The calculations in this study become the calculation of the strength of the rods and simulations. Tulipa was tested using mechanical analysis of each component. The analysis was performed using Fusion 360 software for mechanical simulation and ANSYS for CFD or Computational Fluid Dynamic simulation. Simulations were carried out to determine the value of static stress, reaction force, turbulence, velocity, pressure, and density. The compressive force used is 30N in each section with the load being evenly distributed and the fluid velocity used in the CFD is 4m/s.Turbin adalah mesin berputar yang mengambil energi dari aliran fluida. Turbin air adalah mesin yang mengubah energi potrensial air menjadi energi mekanik. Indonesia memiliki banyak sekali wilayah perairan seperti sungai, kali, laut, dan lain sebagainya. Sayangnya pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia belum maksimal. Berdasarkan hal tersebut, tim merancang sebuah turbin di dalam media berupa pipa yang bernama Tulipa. Sebuah inovasi untuk memanfaatkan potensi dari energi baru terbarukan. Tulipa memanfaatkan aliran pembuangan limbah cair pada pabrik yang tidak terpakai kemudian mengubahnya kembali menjadi energi listrik. Energi yang dihasilkan Tulipa sebesar 5.593 kW. Perhitungan pada penelitian ini dibagi menjadi perhitungan kekuatan rangka batang dan simulasi. Tulipa diuji dengan menggunakan analisa mekanikal dari masing-masing komponen. Analisa dilakukan menggunakan Software Fusion 360 untuk simulasi mekanikal dan ANSYS untuk simulasi CFD atau Computational Fluid Dynamic. Simulasi dilakukan untuk mengetahui nilai static stress, reaction force, turbulency, velocity, pressure, dan density. Gaya tekan yang digunakan adalah 30N pada tiap bagian dengan beban terdistribusi secara merata dan kecepatan fluida yang digunakan pada CFD adalah 4m/s.
PERAN PBB DALAM MENGATASI KONFLIK ANTARA SUDAN SELATAN DAN SUDAN UTARA Talita Taskiyah; Elvlyn Elvlyn; Felicia Meigen
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.59 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.16155

Abstract

The conflict between South Sudan and North Sudan is an internal conflict that has resulted in violations of humanitarian norms and has killed millions of people. The conflict between South Sudan and North Sudan must be a concern of the international community, especially the world peace organization, namely the United Nations. Considering that the United Nations has an indispensable role in overcoming international problems related to the disruption of international peace and security, in order to protect the international community from the disaster of war. Therefore, the author conducted a study that aims to determine the role of the United Nations in overcoming the conflict between South Sudan and North Sudan. In this study, the research method used is a literature study research method with a qualitative descriptive approach that analyzes data descriptively and inductively, and is based on existing theories. The results of the study prove that the United Nations as a world peace organization has a very important role for countries in conflict. Especially in the conflict between South Sudan and North Sudan, the United Nations has played a role by establishing 3 peace mission programs, namely: UNISFA (United Nations Interim Security for Abyei); UNMIS (United Nations Mission in Sudan); and UNMISS (United Nations Mission in South Sudan). This effort is an implementation of the role of the United Nations in preserving international peace and security. Thus, the three peacekeeping missions had succeeded in helping the conflict that occurred at that time, namely by securing civilians from all physical threats such as sexual violence, violence against children that made children forcibly become soldiers, and so on.Konflik yang terjadi antara Sudan Selatan dan Sudan Utara adalah konflik internal yang mengakibatkan adanya pelanggaran norma kemanusiaan dan telah menewaskan jutaan jiwa. Konflik antara Sudan Selatan dan Sudan Utara harus menjadi perhatian dunia internasional, terutama organisasi perdamaian dunia yaitu PBB. Mengingat PBB memiliki peran yang sangat diperlukan untuk mengatasi permasalahan internasional terkait dengan terganggunya perdamaian dan keamanan internasional, guna dapat melindungi masyarakat internasional dari bencana perang tersebut. Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui peran PBB dalam mengatasi konflik yang terjadi antara Sudan Selatan dan Sudan Utara. Dalam penelitian ini, metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang sifatnya menganalisis data secara deskriptif dan induktif, serta berdasar pada teori-teori yang ada. Hasil penelitian membuktikan bahwa PBB sebagai organisasi perdamaian dunia memiliki peran yang sangat penting bagi negara-negara yang sedang berkonflik. Khususnya pada konflik antara Sudan Selatan dan Sudan Utara, PBB telah berperan dengan membentuk 3 program misi perdamaian yaitu: UNISFA (United Nations Interim Security for Abyei); UNMIS (United Nations Mission in Sudan); dan UNMISS (United Nation Mission in South Sudan). Upaya tersebut merupakan suatu pengimplementasian peran PBB dalam melestarikan perdamaian dan keamanan internasional. Dengan demikian, ketiga misi perdamaian tersebut telah berhasil membantu konflik yang terjadi pada saat itu, yakni dengan mengamankan warga sipil dari segala ancaman fisik seperti kekerasan seksual, kekerasan pada anak yang menjadikan anak-anak secara paksa menjadi tentara, dan sebagainya.
PENGARUH KOMPENSASI DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KOMITMEN ORGANISASI MELALUI KEPUASAN KERJA Oey Hannes Widjaya; Herlina Budiono; Ananda Elang Putra Bayu
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.812 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.16156

Abstract

Organizational commitment is a factor that encourages an employee to stay in a company. Organizational commitment itself can be influenced by various factors, one of which is job satisfaction. Employees with high levels of job satisfaction tend to stay in the organization where they work. Job satisfaction itself can be influenced by compensation and work environment. Providing fair compensation and according to employee expectations will increase job satisfaction which will have an impact on increasing organizational commitment as well as the work environment. A comfortable work environment that can support employees' work can make employees feel satisfied which ultimately makes employees want to stay in the organization. The purpose of this study was to determine the effect of compensation and work environment on organizational commitment through job satisfaction. Researchers distributed questionnaires to 96 respondents. The sampling method is non-probability sampling with the type of snowball sampling. The data analysis method in this research is quantitative method and Structural Equation Modeling (SEM) with Partial Least Squares (PLS) approach. The results of this study state that compensation and work environment have an effect on job satisfaction while compensation and work environment have no effect on organizational commitment and job satisfaction has an effect on organizational commitment to employees of PT "OS"Komitmen organisasi adalah faktor yang mendorong seorang karyawan untuk menetap pada suatu perusahaan. Komitmen organisasi sendiri dapat dipengaruhi berbagai faktor salah satunya adalah kepuasan kerja. Karyawan dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi cenderung ingin terus bertahan pada organisasi tempat mereka bekerja. Kepuasan kerja itu sendiri dapat dipengaruhi oleh kompensasi dan lingkungan kerja. Pemberian kompensasi yang adil dan sesuai harapan karyawan akan meningkatkan kepuasan kerja yang akan berdampak pada meningkatnya komitmen organisasi begitu juga dengan lingkungan kerja. Lingkungan kerja yang nyaman dan dapat mendukung pekerjaan karyawan dapat membuat karyawan merasakan kepuasan yang pada akhirnya membuat karyawan ingin bertahan pada organisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari  kompensasi dan lingkungan kerja terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja. Peneliti menyebarkan kuesioner kepada 96 responden. Metode pengambilan sampel adalah  non-probability sampling dengan jenis snowball sampling. Metode analisis data dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dan Structural Equation Modelling (SEM) dengan pendekatan Partial Least Squares (PLS). Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa kompensasi dan lingkungan kerja berpengaruh terhadap kepuasan kerja sementara kompensasi dan lingkungan kerja tidak berpengaruh terhadap komitmen organisasi dan kepuasan kerja berpengaruh terhadap komitmen organisasi pada karyawan PT “OS”
URGENSI PEMBENTUKAN UNDANG-UNDANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT HUKUM ADAT SEBAGAI JAMINAN KONSTITUSIONAL KEBERADAAN MASYARAKAT HUKUM ADAT Tundjung Herning Sitabuana; Dixon Sanjaya
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.909 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.16157

Abstract

Article 18B paragraph (2) of 1945 Constitution of the Republic of Indonesia has constitutionally regulated the recognition of the existence of Adat Law Community. The recognition in the constitution has in fact not shown the coherence between das sollen and das sein. This is evidenced by conflicts or disputes with Adat Law Community related to recognition, respect, and protection of Adat Law Community and the traditional rights. A study was conducted to determine the regulation and recognition of the existence of Adat Law Community in Indonesian positive law, and to find out whether the regulation and recognition provided protection for the existence of Adat Law Community. This research is a normative legal research based on literature study to obtain secondary data. The data were processed and analyzed qualitatively. Based on research it is known that Adat Law Communities has been regulated, recognized, and guaranteed by the constitution, and in sectoral laws with normative arrangements in the form of phrases of recognition, protection, control, utilization, participation, involvement, and participation. The problem is closely related to 2 (two) factors, namely its existence and implementation. Sporadic and sectoral arrangements have created inconsistencies and unclear legal arrangements that have resulted in weakening or eliminating the rights of Adat Law Community. Efforts to ensure the consistency of the protection of Adat Law Communities is to implement the principles and legal provisions that exist in a pure and consistent manner. Necessary to harmonization and organization the regulations, including through the formation of special laws, and the formation of the regional regulations regarding the recognition and protection of Adat Law Community.Pasal 18B ayat (2) UUD NRI Tahun 1945 telah mengatur secara konstitusional pengakuan terhadap keberadaan masyarakat hukum adat (MHA). Pengakuan dalam konsitusi tersebut pada nyatanya belum menunjukkan koherensi antara yang seharusnya dan yang senyatanya (das sein). Itu dibuktikan dengan konflik atau sengketa MHA mengenai pengakuan, penghormatan, perlindungan MHA dan hak tradisionalnya. Atas dasar hal tersebut dilakukan kajian untuk mengetahui pengaturan dan pengakuan terhadap keberadaan MHA dalam hukum positif Indonesia, serta untuk mengetahui apakah pengaturan dan pengakuan tersebut telah memberikan perlindungan terhadap keberadaan MHA. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normative berdasarkan studi kepustakaan untuk memperoleh data sekunder. Data hasil penelitian diolah dan dianalisis secara kualitatif. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa eksistensi MHA diatur, diakui, dan dijamin keberadaan dan perlindungan hukum oleh konstitusi untuk melindungi dan mewujudkan kesejahteraan, dan berbagai peraturan perundang-undangan khususnya yang berhubugan dengan sumber daya alam dapat terihat dari pengaturan secara normatif berupa frasa pengakuan, perlindungan, penguasaan, pemanfaatan, partisipasi, keterlibatan, dan peran serta MHA. Masalah perlindungan MHA berkaitan erat dengan 2 (dua) faktor, yaitu eksistensi dan pelaksanaannya. Perlindungan hukum bagi MHA secara eksplisit dan implisit telah tercermin dalam peraturan yang ada. Namun, pengaturan yang bersifat sporadis dan sektoral menimbulkan inkonsistensi dan ketidakjelasan pengaturan hukum yang melahirkan pelemahan atau penyingkiran hak-hak masyarakat adat. Upaya menjamin konsistensi perlindungan MHA adalah melaksanakan asas-asas dan ketentuan-ketentuan hukum yang ada secara murni dan konsekuen. Perlu dilakukan harmonisasi dan penataan regulasi termasuk melalui pembentukan undang-undang tersendiri, dan pembentukan peraturan daerah tentang pengakuan dan perlindungan terhadap MHA.

Page 2 of 47 | Total Record : 469