cover
Contact Name
Ika Kusumaningtyas
Contact Email
tyas.kusuma@ugm.ac.id
Phone
+628988833412
Journal Mail Official
bkm.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Bersama Jurnal, Lt. 2 Atas Kantin IKM, FK-KMK UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berita Kedokteran Masyarakat
ISSN : 02151936     EISSN : 26148412     DOI : https://doi.org/10.22146/bkm.v37i2.2320
Core Subject : Health,
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles 115 Documents
Search results for , issue "Vol 34, No 5 (2018)" : 115 Documents clear
Pengembangan konsep comprehensive life style intervention pada tatanan sekolah melalui program: gerakan jajan sehat (GJS) di SD Negeri 01 Baruga Kota Kendari Nurhijrianti Akib
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.405 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37664

Abstract

Jajan merupakan perilaku yang seringkali dikakukan oleh siswa sekolah dasar, yang dapat menimbulkan masalah apabila tidak memperhatikan mutu gizi, kebersihan, dan keamanan bahan pangan. Berdasarkan sampling dan uji laboratorium terhadap 10.429 sampel jajanan yang diambil dari 144 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah di 31 provinsi di seluruh Indonesia yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada tahun 2014 tercatat bahwa 2.484 (23,8%) dari sampel jajanan tersebut tidak memenuhi syarat, disebabkan  karena kandungan bahan tambahan yang berbahaya. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengembangkan program : Gerakan Jajan Sehat (GJS) di SD Negeri 01 Baruga Kota Kendari yang diadopsi dari Konsep Comprehensive Life Style Intervention dari Ottawa Charter. Adapun program intervensi yang dikembangkan berdasarkan 5 dimensi Comprehensive Life Style Intervention pada tatanan sekolah yaitu : 1) Penerapan kebijakan kesehatan dengan aturan pelarang penjualan makanan tidak sehat dan menjual makanan yang sehat di sekolah, 2) Reorientasi pelayanan kesehatan yaitu dengan melakukan pengukuran BMI (Body Mass Index) dan pemeriksaan kesehatan, 3) Membangun lingkungan yang dapat mendukung kesehatan yaitu dengan pendidikan kesehatan pada staff sekolah, guru, dan orang tua serta penyediaan makanan yang sehat, 4) Penguatan aksi di komunitas, yaitu dengan mengintegrasikan perilaku sehat di rumah dan di sekolah, serta mengadakan kompetisi jajan sehat pada level individu di dalam kelas, 5) Mengembangkan keterampilan personal yaitu dengan pendidikan kesehatan melalui berbagai metode permainan tentang gerakan jajan sehat.
Challenges of implementing nutrition policy in Papua New Guinea Helen Palik
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.271 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37665

Abstract

Purpose: The national nutrition policy 1995 was reviewed to address the chronic nutrition problems that existed for decades. The problems revealed from National Nutrition Survey 2005-2006, showed that about 44% of the children from ages 6 -59 months in Papua New Guinea (PNG) are physically stunted, 5 % are wasted and 18% are underweight. It also showed that 48 % are anaemic, of which 28% have iron deficiency. The proportion of children with vitamin A deficiency accounted for 25.6% of the study population. Method: The multi-sectoral approach was applied to review Nutrition Policy 2016 in order improve nutrition for all Papua New Guineans through evidence-based, coordinated nutrition approaches that optimises resources and aligns actions and to improve nutrition for all Papua New Guineans through evidence-based, coordinated nutrition approaches that optimises resources and aligns actions enabling smart, fair, wise, healthy and happy nation through improved nutrition and health outcomes for all citizens of PNG. Results: Proportion of health workers to the population at lower level is inadequately distributed at the primary health care level and many times one staff is doing many things at the same time and there is often less focus to concentrate on one specific job to produce better expected results. Many managers are working in difficult working conditions with changing environment and poor infrastructure, Managers face challenges in the areas of personal, technical performance, environment changes and survival and growth (Shortell & Kaluncy 2000), many of the managers do not know what exactly they are supposed to do. “Many challenges await. There are no panaceas for fixing our healthcare system”(Shalala D1). In PNG, there are many reasons why very good policies that have clear goals and visions are not implemented successfully as expected at all levels especially at the lower level where many of the outcomes are measured. Many blame the poor health system as a result of political influences while others have different opinions about various contributing factors including the WHO six building blocks which may have affected the policy implementation resulting in favourable or bad outcomes. Conclusion: Strengthen M & E system by the use of latest IT Technology (telemedicine) to asses outcomes and also monitors progress of policy implementation ,capturing important indicators and or interventions measured against the policies indicators, thus user friendly.
Analisis mutu pelayanan gizi ditinjau dari proses asuhan gizi terstandart (PAGT) di rawat inap RSUD Gambiran kota Kediri Reny Nugraheni; Rima Dwi Listyani
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.273 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37684

Abstract

Tujuan: Penelitian ini menganalisis mutu layanan gizi di Rawat Inap RSUD Gambiran Kota Kediri menggunakan proses asuhan gizi terstandart. Metode: Survei dengan sampel 94. Hasil: Standar penilaian assesmen gizi 99% diberikan tepat waktu, asuhan gizi 97% tercatat dalam lembar CPPT, asuhan gizi 95% direvisi sesuai respon pasien, monitoring asuhan gizi 89% telah dilakukan, asuhan gizi 100% diberikan oleh dietisien, intervensi pasien 100% sesuai kondisi pasien dan rata-rata capaian mutu pelayanan gizi ditinjau dari PAGT di rawat inap RSUD Gambiran Kota Kediri menunjukan angka 97%. Simpulan: Mutu pelayanan gizi ditinjau dari PAGT di rawat inap RSUD Gambiran Kota Kediri dikatakan masih belum sesuai standar Kemenkes RI Tahun 2013. Perlu penambahan petugas terutama tenaga gizi untuk pemenuhan kebutuhan jumlah tenaga gizi yang disesuaikan oleh Kemenkes RI dan Kepala Instalasi Gizi melakukan audit untuk memeriksa kelengkapan dokumen asuhan gizi pasien rawat inap.
Bagaimana motivasi berhenti merokok mahasiswa di kampus kesehatan Yogyakarta? Heni Trisnowati; Eka Santi Sabariah; Yelli Yani Rusyani
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.117 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37686

Abstract

Masalah rokok sudah menjadi masalah nasional bahkan menjadi masalah internasional. Lebih dari 60 juta penduduk Indonesia mengalami ketidakberdayaan akibat dari adiksi nikotin rokok, dan kematian akibat mengkonsumsi rokok tercatat lebih dari 400 ribu orang per-tahun. Sebagai salah satu upaya membantu perokok untuk berhenti merokok diperlukan informasi mengenai gambaran motivasi berhenti merokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi perokok pada responden penelitian dan untuk mengetahui motivasi berhenti merokok pada mahasiswa di kampus kesehatan Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah Populasi penelitian 274 orang sementara sampel diambil dengan menggunakan accidental sampling sebanyak 163 orang. Data tentang karakteristik dan gambaran motivasi berhenti merokok mahasiswa diperoleh dari kuesioner kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan sistem komputer. Jumlah mahasiswa yang merokok sebanyak 20 orang (12.3%) sementara proporsi perokok laki-laki 4 kali lebih besar dibanding perokok wanita dan semua perokok mempunyai keinginan berhenti merokok. Pada kelompok laki-laki, terdapat 15 orang (32.6%) yang merokok sementara pada kelompok perempuan ada 5 orang (4.3%) yang merokok. Gambaran motivasi berhenti merokok sebagai berikut: mahasiswa yang sangat tertarik untuk berhenti merokok sebanyak 12 orang (60%); Jumlah mahasiswa yang akan berhenti merokok 7 orang (35%) sementara ada 9 orang (45%) kemungkinan akan menjadi non perokok. Sebagian besar (65%) perokok mempunyai motivasi sedang untuk berhenti merokok. Kesimpulan penelitian ini adalah semua responden yang merokok memiliki motivasi untuk berhenti merokok. Hal ini memberi peluang bagi promotor kesehatan dan penggiat tobacco control untuk membantu perokok berhenti merokok dalam bentuk edukasi atau layanan berhenti merokok.
Pengaruh pelatihan orientasi keluarga sehat untuk mendukung program Indonesia sehat di kabupaten Lumajang tahun 2018 Serius Miliyani Dwi Putri
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.766 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37687

Abstract

Program Indonesia Sehat merupakan program utama pembangunan kesehatan dengan tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Untuk mensukseskan program Indonesia Sehat melalui pendekatan keluarga, maka puskesmas memiliki tanggung jawab untuk melakukan pendekatan keluarga di wilayah kerjanya melalui kunjungan rumah. Dalam pelaksanaaan Program Indonesia Sehat telah disepakati adanya dua belas indikator utama sebagai penanda status kesehatan sebuah keluarga. Oleh sebab itu, menjadi penting bagi petugas puskesmas untuk mengetahui prinsip-prinsip dalam program Keluarga Sehat agar data yang diperoleh untuk kebutuhan program tidak bias. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pelatihan Orientasi Keluarga Sehat di Kabupaten Lumajang pada tahun 2018. Responden dalam penelitian ini adalah administrator, surveyor dan supervisor program Keluarga Sehat di 25 puskesmas. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 76 orang. Tipe penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan one group pre-test post-test design menggunakan satu kelompok sampel yang diberi perlakuan atau intervensi. Teknik pengumpulan data dengan mengunakan kuesioner pre-test dan post-test. Pelatihan dilakukan selama 3 hari dari 21 hingga 23 Februari 2018. Data hasil penelitian kemudian dianalisis menggunakan uji t (t-test) paired simple test untuk melihat ada tidaknya perbedaan antara pre-test dan post-test. Hasil uji normalitas data menggunakan kolmogorov smirnov, diperoleh hasil ρ (0.091) > α (0.05), dengan kata lain data dalam penelitian ini terdistribusi normal. Berdasarkan hasil penelitian, adanya pelatihan memberikan pengaruh positif dalam meningkatkan pengetahuan responden dibuktikan dengan nilai rata-rata pre-test 65.6250 sedangkan nilai rata-rata post-test 76.6776. Hasil analisis paired t-test adalah nilai Sig. (0.000) < α (0.05) sehingga disimpulkan terdapat pengaruh signifikan dalam pemberian pelatihan Orientasi Keluarga Sehat di Kabupaten Lumajang tahun 2018.
Kenapa putus berobat? Bagaimana efektifitas monitoring dalam upaya meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien TB : studi kasus di Provinsi Jawa Tengah Riana Dian Anggraini; Wa Ode Siti Orianti; Eka Putri Rahayu
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.949 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37688

Abstract

Succes Rate Provinsi Jawa Tengah empat tahun terakhir ini mengalami trend penurunan dari tahun 2013 sebesar 89,04% dan ditahun 2016 menjadi 68,69%. Intervensi perlu dilakukan untuk mencegah meningkatnya kegagalan pengobatan, epidemi penularan TB dan TB Resisten Obat. Penyebab terbesar dari kegagalan pengobatan adalah putus berobat (DO). Faktor utama penyebab DO yaitu komunikasi antara petugas dengan pasien. System monitoring berfungsi memastikan layanan kesehatan berjalan sesuai prosedur termasuk pengawasan terhadap kepatuhan pengobatan pasien TB. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui faktor penyebab putus berobat pasien TB dari segi petugas kesehatan serta mengetahui efektifitas fungsi monitoring dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan TB.  Kepuasaan pasien terhadap layanan TB yang diterima adalah kunci keberhasilan pengobatan. Kekurangan tenaga dan peningkatan beban kerja dilayanan TB menyebabkan standart kualitas pelayanan belum optimal. Komunikasi antara dokter dan pasien gagal tercipta sehingga tidak ada motivasi penting bagi pasien dalam mematuhi pengobatan. Manager kasus dalam unit klinis berperan penting dalam mengatasi kesenjangan komunikasi dan persepsi antara pasien dengan pemberi layanan. Sepertiga dari pasien DO memutuskan memilih melanjutkan pengobatan non DOTS berisiko berkembang menjadi TB MDR. Buruknya sistem transfer pasien antar faskes menyebabkan pasien TB sulit terlacak pengobatannya. Monitoring dari rekaman medis dan formulir TB untuk memastikan terisi dengan benar dan tepat waktu tidak dilakukan rutin dan berkala. Tidak dilakukan evaluasi monitoring dari pelaksanaan tindak lanjut hasil temuan. Teknologi informasi terbatas pada pelaporan TB ke tingkat pusat sedangkan teknologi reminder belum menjadi pilihan inovasi.  Pemberi layanan TB belum meberikan pelayanan yang bermutu. Monitoring belum berjalan dengan baik karena terbatas sumberdaya. Penggunaan teknologi tinggi untuk monitoring belum menjadi inovasi Pemerintah Jateng dalam mengatasi kepatuhan pengobatan TB. Intervensi yang dilakukan harus komprehensif dan multitarget, antara lain peningkatan konseling dan komunikasi antara dokter dengan pasien, pendidikan dan pelatihan manager kasus, desentralisasi pengobatan, dan monitoring rutin dan berkala terstandart.
Hubungan gaya hidup dengan anemia pada siswa-siswi kelas VIII SMPN 01 Wates Kulon Progo Yunita Apriliani; Dedy Arisjulyanto; Siti Istiyati
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.749 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37689

Abstract

Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang secara global banyak ditemukan di berbagai negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Prevalensi anemia gizi besi pada remaja putri tahun 2012 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) umur 12-19 tahun yaitu 36,00%. Gambaran grafis memperlihatkan bahwa di kabupaten Sleman (18,4%), Gunung Kidul (18,4%), Kota Yogyakarta (35,2%), Bantul (54,8%), Kulonprogo (73,8%). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara gaya hidup dengan kejadian anemia pada siswa-siswi Kelas VIII di SMP Negeri 01 Wates Kulon Progo tahun 2018. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik observasional dengan rancangan Cross Sectional. Alat pengumpul data pada penelitian ini menggunakan kuisioner. Selain itu dilakukan pemeriksaan hemoglobin menggunakan hemoglobin digital, dan data pada penelitian ini di analisis statistik menggunakan uji Chi Square. Hasil dari analisis statistic di dapatkan nilai p-value 0,000 dan lebih kecil dari α = 0,05. Berdasarkan hasil analisis statistik menggunakan Chi Square menunjukan hasil yang signifikan dan dapat kita simpulkan ada hubungan antara gaya hidup dengan kejadian anemia pada siswa-siswi kelas VIII di SMP Negeri 01 Wates Kulon Progo. Rekomendasi yang dapat diberikan adalah pemberian konseling dan promosi kesehatan tentang gaya hidup yang sehat sehingga siswa dapat menerapkan dan memodifikasi gaya hidup yang tidak sehat menjadi lebih sehat.
Peran ergonomi partisipatif dalam mencegah keluhan muskuloskeletal Desrifana Yunus
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.835 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37692

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk menjelaskan berbagai pendekatan yang telah dilakukan pada penerapan ergonomi partisipatif di berbagai industri dan mengambil pembelajaran dari implementasi ergonomi partisipatif tersebut.Keluhan Muskuloskeletal sering terjadi pada pekerja terutama dengan beban pekerjaan yang tinggi dan bekerja dengan postur yang jangal seperti perawat, pekerja di jasa konstruksi hingga manufaktur. Ergonomi partisipatif yang bertujuan mengurangi keluhan Muskuloskeletal melalui identifikasi berbagai faktor risiko pekerjaan dan merumuskan solusi untuk mengurangi risiko dengan melibatkan pekerja secara langsung. Efektivitas penyelenggaran ergonomi partisipatif bervariasi di berbagai tempat kerja. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti karakteristik pekerja, metode ergonomi yang digunakan, hingga dukungan dari organisasi atau perusahaan.Ergonomi partisipatif berpengaruh pada perbaikan posisi kerja, postur janggal dan kekakuan pada leher dikalangan perawat. Implementasi dibidang manufaktur juga mampu meningkatkan produktivitas hingga 46% dengan adanya pengurangan beban kerja yang tidak perlu, waktu tunggu transportasi barang, dan pengurangan waktu atau lama produksi. Hasil evaluasi partisipatif ergonomi pada 12 penelitian membuktikan bahwa ergonomi partisipatif memberikan dampak positif pada keluhan muskuloskeletal, pengurangan kecelakaan pada pekerja, klaim kompensasi terhadap kecelakaan kerja, serta mengurangi ketidakhadiran pekerja karena sakit. Jumlah fasilitator dan potensi adanya hambatan dapat menentukan kesuksesan program. Organisasi yang biasanya berhasil mendapatkan manfaat dari program ini adalah organisasi yang antar pekerjanya memiliki hubungan yang baik, komunikasi yang baik, adanya kebiasaan berkonsultasi dan adanya koordinasi dalam berbagai proses pekerjaan.Ergonomi partisipatif berhasil memberikan perubahan pada lingkungan kerja, terutama dalam mengurangi faktor risiko lingkungan kerja fisik yang berdampak pada gangguan muskuloskeletal. Implementasi ergonomi partisipatif membutuhkan komitmen manajemen pada semua unit di tempat kerja atau perusahaan. Pelatihan ergonomi, kerjasama tim dan solusi penyelesaian masalah adalah aspek yang dibutuhkan dalam pelaksanaan ergonomi partisipatif
Relationship between Management Commitment; OSH Behavior; Work Shift with Occupational Accident at RSUD Kanjuruhan Kepanjen Malang Regency Hesti Diana Rosia Puspitasari; Yayi Suryo Prabandari; Santosa Budiharjo
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.391 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37693

Abstract

As a community service, hospitals are a means to deal with health, recovery and health care issues. Potential hazards in the hospital may be caused by biological factors, chemical factors, ergonomics factors, physical factors and psychosocial factors. The dangers of the above factors can lead to workplace accidents or PAK which can cause a decrease in physical or mental ability, disability, or even death. To determine the relationship between management commitment and the incidence of work accidents at the Risk Unit in RSUD Kanjuruhan Malang Regency. Quantitative research, with cross sectional study and needed 55 hospital worker from 6 risk units. The result of Pearson correlation analysis of management commitment, OSH behavior and work shift have the significant correlation with work accident. Both of management commitment and OSH behavior have the negative correlation which mean that higher management and behavior can decrease the accidents. The result of multivariate test was obtained by F value of 9.93 with p=0,000 which means that management commitment, OSH behavior and work shift simultaneously have significant effect to work accident. There is a significant correlation between management commitment, OSH behavior and work shift with occupational accident.
Gambaran faktor risiko kejadian Carpal Tunnel Syndrome (CTS) pada karyawan bagian redaksi di kantor berita X Jakarta Tahun 2018 Najmatun Nisa; Meilani M Anwar
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2097.015 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37696

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktor risiko kejadian CTS pada karyawan bagian redaksi di Kantor Berita Nasional Antara Jakarta Tahun 2018. Faktor risiko CTS terdiri dari faktor personal (jenis kelamin, usia, dan jaringan lemak di tangan) dan faktor pekerjaan (masa kerja, lama kerja, dan posisi kerja). Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode penelitian kuantitatif dan menggunakan desain studi cross sectional. Instrumen yang digunakan adalah lembar kuesioner, lembar observasi dari Assessment of Repetitive Tasks (ART) tool, body composition monitor, microtoise, stopwatch, dan phalen’s test. Waktu pengambilan data dilakukan pada bulan Januari tahun 2018. Sebanyak 42,4% responden yang diteliti terdiagnosis positif CTS. Responden yang terdiagnosis positif CTS terdiri dari 52,9% responden perempuan, 45,5% responden yang berusia > 37,5 tahun, 51,9% responden yang memiliki persentase jaringan lemak terbesar di bagian tangan, 47,1% responden yang memiliki masa kerja > 12 tahun, 41,9% responden yang memiliki lama kerja > 8 jam/hari, dan 43,6% responden dikategorikan dalam level sedang untuk eksposur posisi kerjanya. Penilaian level eksposur posisi kerja tersebut dilihat dari 12 faktor dimana dalam penelitian ini ada tiga faktor yang sangat berpengaruh dalam kejadian CTS yaitu: 1) frekuensi gerakan lengan kanan, dimana semuanya memiliki kategori reasonable dan 42,4%  terdiagnosis positif CTS; 2) gerakan berulang pada tangan kiri dan kanan, dimana sebagian besar responden yang positif CTS  memiliki kategori good karena sebagian besar memiliki masa kerja > 12 jam dan lama kerja > 8 jam; dan 3)  postur pergelangan tangan, dimana semuanya memiliki kategori reasonable dan poor dan 63,6% terdiagnosis positif CTS. Faktor risiko yang memiliki trend tertinggi dalam kejadian CTS adalah faktor persentase jaringan lemak terbesar dibagian tangan, level eksposur posisi kerja, dan jenis kelamin perempuan.

Page 9 of 12 | Total Record : 115


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 02 (2026) Vol 42 No 01 (2026) Vol 41 No 12 (2025) Vol 41 No 11 (2025) Vol 41 No 10 (2025) Vol 41 No 09 (2025) Vol 41 No 08 (2025) Vol 41 No 07 (2025) Vol 41 No 06 (2025) Vol 41 No 05 (2025) Vol 41 No 04 (2025) Vol 41 No 03 (2025) Vol 41 No 02 (2025) Vol 41 No 01 (2025) Vol 40 No 12 (2024) Vol 40 No 11 (2024) Vol 40 No 10 (2024) Vol 40 No 09 (2024) Vol 40 No 08 (2024) Vol 40 No 07 (2024) Vol 40 No 06 (2024) Vol 40 No 05 (2024) Vol 40 No 04 (2024) Vol 40 No 03 (2024) Vol 40 No 02 (2024) Vol 40 No 01 (2024) The 12th UGM Public Health Symposium Vol 39 No 12 (2023) Vol 39 No 11 (2023) Vol 39 No 10 (2023) Vol 39 No 09 (2023) Vol 39 No 08 (2023) Vol 39 No 07 (2023) Vol 39 No 06 (2023) Vol 39 No 05 (2023) Vol 39 No 04 (2023) Vol 39 No 03 (2023) Vol 39 No 02 (2023) Vol 39 No 01 (2023) Vol 38 No 12 (2022) Vol 38 No 11 (2022) Vol 38 No 10 (2022) Vol 38 No 09 (2022) Vol 38 No 08 (2022) Vol 38 No 07 (2022) Vol 38 No 06 (2022) Vol 38 No 05 (2022) Vol 38 No 04 (2022) Vol 38 No 03 (2022) Vol 38 No 02 (2022) Vol 38 No 01 (2022) Vol 37 No 12 (2021) Vol 37 No 11 (2021) Vol 37 No 10 (2021) Vol 37 No 09 (2021) Vol 37 No 08 (2021) Vol 37 No 07 (2021) Vol 37 No 06 (2021) Vol 37 No 05 (2021) Vol 37 No 04 (2021) Vol 37 No 03 (2021) Vol 37 No 02 (2021) Vol 37, No 1 (2021) PHS8 Accepted Abstracts PHS7 Accepted Abstracts Vol 36, No 12 (2020) Vol 36, No 11 (2020) Vol 36, No 10 (2020) Vol 36, No 9 (2020) Vol 36, No 8 (2020) Vol 36, No 7 (2020) Vol 36, No 6 (2020) Vol 36, No 5 (2020) Vol 36, No 4 (2020) Vol 36, No 3 (2020) Vol 36, No 2 (2020) Vol 36, No 1 (2020) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium Vol 35, No 11 (2019) Vol 35, No 10 (2019) Vol 35, No 9 (2019) Vol 35, No 8 (2019) Vol 35, No 7 (2019) Vol 35, No 6 (2019) Vol 35, No 5 (2019) Vol 35, No 4 (2019) Vol 35, No 3 (2019) Vol 35, No 2 (2019) Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) More Issue