cover
Contact Name
Ika Kusumaningtyas
Contact Email
tyas.kusuma@ugm.ac.id
Phone
+628988833412
Journal Mail Official
bkm.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Bersama Jurnal, Lt. 2 Atas Kantin IKM, FK-KMK UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berita Kedokteran Masyarakat
ISSN : 02151936     EISSN : 26148412     DOI : https://doi.org/10.22146/bkm.v37i2.2320
Core Subject : Health,
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 34, No 6 (2018)" : 9 Documents clear
Faktor prediksi keberadaan jentik di Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor tahun 2016 (Studi di wilayah pedesaan endemis demam berdarah dengue ) Fajrin Nur Azizah; Ema Hermawati; Dewi Susanna
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 6 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.456 KB) | DOI: 10.22146/bkm.12303

Abstract

Latar belakang: Penyakit berbasis menular vektor menjadi salah satu masalah di Kecamatan Jonggol. Kecamatan Jonggol merupakan kecamatan bersatatus endemis Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Bogor  dan satu-satunya dari 10 kecamatan dengan kasus DBD terbanyak yaitu 197 orang sepanjang 3 tahun (2013 –2015) terakhir yang wilayahnya berkarakteristik pedesaan. Kasus DBD mengindikasikan adanya keberadaaan jentik Aedes Aegypti yang dipengarui oleh perilaku masyarakat serta kondisi kontainer. Angka bebas jentik Kecamatan Jonggol sebesar 68,45% masih dibawah target nasional sebesar 95%. Penelitian ini bertujuan mengetahui determinan faktor yang mempengaruhi keberadaan jentik.Metode: Penelitian menggunakan desain studi cross sectional dengan populasi adalah  semua rumah tangga  yang memiliki kontainer dan sampel berjumlah 180 orang dengan tehnik multistage random sampling.Hasil: Hasil uji statistic menunjukkan terdapat keberadaan jentik berhubungan dengan tindakan menutup (p= 0041) dan menguras ( p=0,032) kontainer. Adapun variabel yang tidak berhubungan adalah pengetahuan, tindakan menggunakan abate, memelihara ikan pemakan jentik, mengubur barang bekas, letak kontainer, keberadaan penutup kontainer, jumlah kontainer, dan sumber air (p>0,05).. Faktor yang paling berpengaruh terhadap keberadaan jentik adalah tindakan menguras kontainer dengan koef B=0,889 OR = 2,457 (95% CI 1,212 – 4,981).Kesimpulan: Masyarakat disarankan untuk menguras kontainer minimal seminggu sekali dan menutup rapat kontainer setelah digunakan. Pihak puskesmas beserta pemerintah kecamatan Jonggol diharapkan meningkatkan koordinasi dengan mayarakat dan kader daam pengecekan jentik nyamuk sebagai upaya dini dalam pemberanratasan vector dan pencegahan DBD.
KEPUASAN MAHASISWA DALAM MENTORING PENYUSUNAN PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH DI PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK Hieronimous Amandus; Dian Mawarni; Christantie Effendy; Mubasysyir Hasanbasri
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 6 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.877 KB) | DOI: 10.22146/bkm.25633

Abstract

“Difficult to meet supervisor” and “lack of feedbacks”: student’s perception of problems in writing final year project in undergraduate program Objective: This study explores the role of mentoring felt by the students involved in the making. Specifically, we want to disclose what students consider helpful and what is considered to be less helpful for final project preparation. Methods: Respondents were 82 third year nursing students at Poltekkes Kemenkes Pontianak who were writing thesis. The questionnaire consisted of 16 questions consisting of (a) lecturer-student communication and interaction, (b) mentoring roles and responsibilities, and (c) quality of mentorship. The questionnaire consisted of a question following the items in Beck et al.’s research, measured by a Likert scale consisting of good, moderate, and less. Six students were taken for in-depth interviews, selected based on different counselors. Results: Of the 16 themes about mentoring, “pretty good” at most for all items. Item analysis showed support of several concerns that have been predicted. Although “like the guiding figure” and “feel the support of lecturers including two things that stand out in the opinion of students about thesis supervisor figure. Students reported two main issues in their mentoring process: “advisers are difficult to see” and “lack of meaningful input from advisers”. Conclusion: Student satisfaction in mentoring is influenced by the quality of the mentors. Students feel satisfied if the characteristics, roles and responsibilites of the supervisor in accordance with student expectations. This study ensures that there are limitations in the availability and seriousness of the lecturers in thesis coaching. Further studies on mentorship and support capacity are needed. AbstrakTujuan: Penelitian ini mengeksplorasi peran mentoring yang dirasakan oleh mahasiswa terkait dalam pembuatan. Secara spesifik, kami ingin mengungkapkan hal-hal apa yang dianggap mahasiswa membantu dan hal seperti apa yang dianggap kurang membantu penyusunan tugas akhir. Metode: Responden adalah 82 mahasiswa keperawatan tahun ketiga di Poltekkes Kemenkes Pontianak yang sedang menulis skripsi. Kuesioner terdiri dari 16 pertanyaan yang terdiri dari (a) komunikasi dan interaksi dosen-mahasiswa, (b) peran dan tanggung jawab pembimbingan, dan (c) kualitas pembimbingan. Kuesioner terdiri dari pertanyaan mengikuti item dalam penelitian Beck et al., diukur dengan skala Likert terdiri dari baik, cukup, dan kurang. Enam mahasiswa diambil untuk wawancara mendalam, dipilih berdasarkan pembimbing yang berbeda. Hasil: Dari 16 tema tentang pembimbingan, “cukup baik” paling banyak untuk semua item. Analisis perbandingan antar item membuktikan kekhawatiran yang sering mengemuka. Meskipun “menyukai sosok pembimbing” dan “merasa mendapat dukungan dari dosen termasuk dua hal yang menonjol dalam pendapat mahasiswa tentang sosok pembimbing skripsi. Penelitian ini melaporkan dua hal yang paling mencolok terkait dengan proses pembimbingan: dosen tidak mudah ditemui dan mahasiswa tidak merasa mendapat masukan yang berarti dalam proses belajar. Simpulan: Studi ini mengukuhkan keterbatasan dalam kapasitas dari dosen dalam pembimbingan skripsi. Studi lebih lanjut tentang kapasitas pembimbing dan dukungan untuk mereka sangat mendesak.
Demographic characteristics and the severity of injuries resulting from traffic accidents: a HDDS secondary data analysis 2015 and 2016
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 6 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.26623

Abstract

Purpose: Kejadian cedera akibat kecelakaan sepeda motor lebih tinggi pada responden dengan karakteristik demografi umur < 45 tahun (69,7), berjenis kelamin laki-laki (54,3%), status kawin (51,9%), tingkat pendidikan tinggi (59,3%), bekerja (57,3%), lokasi tinggal di perkotaan (80%) dan dengan status ekonomi menengah ke atas (26,4%).  Umur memiliki hubungan yang signifikan dengan p-value 0,04, sedangkan jenis kelamin (p-value 0,27), status perkawinan (p-value 0,27), tingkat pendidikan (p-value 0,35), jenis pekerjaan (p-value 0,52), lokasi tinggal (p-value 0,64 dan status sosial ekonomi (p-value 0,19 – 1,98) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan status cedera. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara umur dan status cedera dimana kelompok umur ≥ 45 tahun lebih berisiko 1,7 kali dibanding kelompok umur < 45 tahun.Method:Results:Conclusion:
Hubungan karakteristik demografi terhadap status keparahan cedera akibat kecelakaan lalu lintas sepeda motor di kabupaten Sleman Yogyakarta: analisis data sekunder HDSS 2015 dan 2016 Anni Tiurma Mariana; Fatwa Sari Tetra Dewi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 6 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.913 KB) | DOI: 10.22146/bkm.28380

Abstract

Injuries from traffic accidents in Sleman: HDSS data 2015 and 2016Purpose: This study was conducted to know the description of respondent characteristic of injury caused by a motorcycle accident, description of injury characteristic and relation between demography factor to injury status of motorcycle rider injured due to motorcycle traffic accident. Method: Type of study with cross-sectional design using secondary data HDSS 2015 and 2016. Samples are all HDSS respondents who got injured due to motorcycle accident. The data will be analyzed by univariable and bivariate test using Chi-square analysis. Results: Injuries from motorcycle accidents were higher in people <45 years old (69.7%), male sex (54.3%), marital status (51.9%), high education level (59.3% ), working (57.3%), urban residence (80%) and upper middle economic status (26.4%). Age is significantly associated with motorcycle injury, while sex, marital status, education level, occupation type, a location of residence and socioeconomic status are not significantly related to injury status. Conclusion: Age is statistically related to injury status. Groups ≥45 years are more at risk of injury. We need to formulate a health program to minimize the risk of severe injury by integrating some of the ongoing elderly health.AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran karakteristik responden yang cedera akibat kecelakaan sepeda motor, gambaran karakteristik cedera dan hubungan antara faktor demografi terhadap status cedera pengendara sepeda motor yang mengalami cedera akibat kecelakaan lalu lintas sepeda motor. Metode: Jenis penelitian dengan rancangan cross-sectional dengan menggunakan data sekunder HDSS 2015 dan 2016. Sampel merupakan semua responden HDSS yang mendapat cedera akibat kecelakaan sepeda motor. Data kemudian akan dilakukan uji univariat dan uji bivariat dengan analisis chi-square. Hasil: Kejadian cedera akibat kecelakaan sepeda motor lebih tinggi pada responden dengan karakteristik demografi umur <45 tahun (69,7%), berjenis kelamin laki-laki (54,3%), status kawin (51,9%), tingkat pendidikan tinggi (59,3%), bekerja (57,3%), lokasi tinggal di perkotaan (80%) dan status ekonomi menengah ke atas (26,4%). Umur berhubungan signifikan dengan cedera sepeda motor, sedangkan jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, lokasi tinggal dan status sosial ekonomi tidak berhubungan signifikan dengan status cedera. Simpulan: Umur berhubungan secara statistik dengan status cedera. Kelompok ≥45 tahun lebih berisiko mengalami cedera. Perlu merumuskan program kesehatan untuk meminimalkan risiko cedera parah dengan mengintegrasikan beberapa kesehatan usia lanjut yang telah berjalan.
Mengatasi krisis air bersih dengan pembentukan kampung iklim dan model desa konservasi: sebuah studi di provinsi Jawa Barat
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 6 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.30862

Abstract

Tujuan: Studi ini bertujuan memberikan berbagai  alternatif dalam memecahkan masalah terkait krisis air bersih di Provinsi Jawa Barat. Metode: Data diperoleh dari studi literatur, wawancara dan laporan ahli. Metode analisis adalah deskriptif. Hasil: Perubahan iklim berdampak pada adanya cuaca ektrem. Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap dampak ganda perubahan iklim. Ini tantangan baru untuk disinergikan dalam pembangunan nasional. Faktor terkait perubahan iklim pada ketahanan pangan, yaitu: curah hujan, temperatur, produksi beras, serta aspek akses terhadap pangan. Perubahan iklim berpengaruh pada kenaikan temperatur, curah hujan, dan permukaan air laut; ketahanan pangan; kekurangan air bersih; dan meningkatnya penyakit tular vektor. Kesimpulan: Sebagai solusi mengatasi krisis air di Jawa Barat dapat melalui dua pendekatan, yaitu: (1) Pendekatan kampung iklim, berupa: pengendalian kekeringan, banjir dan longsor; peningkatan ketahanan pangan; penanganan atau antisipasi kenaikan muka air laut; pengendalian penyakit terkait iklim (pengendalian vektor, sistem kewaspadaan dini, sanitasi dan air bersih). (2) Penciptaan desa konservasi, berupa kegiatan: rehabilitasi hutan & lahan partisipatif; pengembangan ekonomi; menyelamatkan lahan untuk mata air; pembentukan desa wisata untuk pengembangan ekonomi; dan penanaman pohon endemik.
PENGETAHUAN SISWI SMA TENTANG INFEKSI MENULAR SEKSUAL YANG BISA DISEMBUHKAN DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 6 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.645 KB) | DOI: 10.22146/bkm.31424

Abstract

Latar Belakang: Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan salah satu masalah kesehatan utama di masyarakat, terdapat 340 juta kasus baru IMS yang dapat diobati seperti chlamydia, gonorrhea, syphilis, trichomoniasis. Salah satu kelompok masyarakat yang rentan terkena IMS yaitu remaja. Remaja hanya memiliki pengetahuan yang baik tentang HIV/AIDS tetapi tidak mengetahui jenis IMS lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan siswi SMA tentang IMS yang bisa disembuhkan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswi SMA kelas III di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan jumlah sampel 425 responden. Teknik pengambilan sampel secara proportional stratified random sampling, simple random sampling dan consecutive random sampling. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner. Analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian: Mayoritas pengetahuan siswi SMA negeri dan swasta pada kategori cukup (76,6% dan 52,6%). Pada SMA negeri, karakteristik responden yang secara signifikan memengaruhi pengetahuan siswi tentang IMS yang bisa disembuhkan yaitu peminatan atau jurusan (p<0,05). Pada SMA swasta yaitu usia, peminatan atau jurusan dan pendidikan ibu (p<0,05).Kesimpulan: Semakin tinggi usia pengetahuan semakin baik, siswi dari jurusan IPA mempunyai pengetahuan yang lebih baik dari siswi dari peminatan IPS, siswi yang mempunyai ibu dengan pendidikan tinggi mempunyai pengetahuan yang lebih baik. Kata Kunci: Pengetahuan, Infeksi Menular Seksual, Siswi SMA
Evaluasi pelaksanaan upaya kesehatan masyarakat di wilayah kecamatan Jatinegara dan kecamatan Matraman kota administrasi Jakarta Timur tahun 2016 Fika Maulani Fadrianti; Ede Surya Darmawan
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 6 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.401 KB) | DOI: 10.22146/bkm.34736

Abstract

Human resource and organizational capacity of public health programs in two sub-districts of East JakartaIntroduction: The current health policy priorities and focus are increasingly showing that public health programs are the same or even more important than medical treatment in improving the health status of the population. Although the government has asked the community health centers and local administrators to focus on the development and implementation of public health programs, very few studies in Indonesia have focused on the ability of government organizations to actually implement public health programs. This study evaluates the relationship between public health outcomes and the relationship with availability of human resources and program implementation capacity of government organizations. Methods: The data comes from reported minimum service standards (SPM) in public health and clean and healthy living behavior (PHBS), the survey and in-depth interviews of 46 respondents from 17 community health centers and 14 urban villages in two sub-districts - Matraman and Jatinegara - in East Jakarta. Results: The study found that health outcome indicators in the two study areas were lower than national average outcomes despite adequate availability of tbs. In addition, the administrative and management capacity of the implementation process in the field is not as expected. Conclusions: This study showed the paradox of resource availability and the weakness in intersectoral collaboration and in program implementation management. Based on this, we discuss three implications. First, the cross-sectoral authority of the mayor should be the advocacy focus among public health community interest groups. Secondly, the hamlet administrators should improve their implementation management capacity to have more effective programs. Third, community health centers should have human resources equipped with program management and intersectoral advocacy competencies.AbstrakLatar belakang: Prioritas dan fokus kebijakan kesehatan yang berkembang saat ini makin menunjukkan bahwa program public health adalah sama atau bahkan jauh lebih penting daripada tekanan pengobatan dalam meningkatkan status kesehatan penduduk. Meski pemerintah telah meminta puskesmas dan kelurahan fokus pada pengembangan dan pelaksanaan program-program public health, sedikit studi melaporkan kemampuan organisasi pemerintah yang benar-benar mengerjakan fungsi ini. Penelitian ini mengevaluasi hubungan capaian program public health dan apakah capaian itu didukung oleh ketersediaan sumber daya manusia dan kapasitas implementasi program dari organisasi pemerintah. Metode: Data berasal dari “standar pelayanan minimal” kesehatan masyarakat dan “perilaku hidup bersih dan sehat” (PHB), survei dan wawancara mendalam terhadap 46 responden dari 17 puskesmas dan 14 kelurahan di dua kecamatan - Matraman dan Jatinegara - di Jakarta Timur. Hasil: Penelitian ini menemukan bahwa indikator capaian kesehatan di daerah penelitian di kota besar seperti Jakarta adalah lebih rendah dari capaian rata-rata nasional meskipun memiliki ketersediaan sdm yang memadai. Selain itu, kapasitas administrasi dan manajemen proses implementasi di lapangan tidak seperti yang diharapkan. Simpulan: Studi ini menunjukkan paradoks antara ketersediaan sumber daya dan kapasitas yang lemah dalam kolaborasi lintas sektoral dan dalam manajemen implementasi program. Kami mendiskusikan 3 faktor penting yang harus menjadi perhatian dalam pengembangan dan implementasi upaya public health di Jakarta. Pertama, peran lintas sektoral yang jadi kewenangan dari walikota harus mendapat advokasi yang besar dari masyarakat public health. Kedua, administrator kelurahan memiliki kapasitas manajemen implementasi agar program-program dirasakan oleh penduduk setempat. Ketiga, puskesmas memiliki sdm dengan kemampuan manajerial dan bekerja sama dengan sektor lain yang bekerja fokus untuk upaya kesehatan masyarakat.
Risiko kematian pada kasus-kasus leptospirosis: data dari Kabupaten Bantul 2012-2017 Meliana Depo; Hari Kusnanto
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 6 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.93 KB) | DOI: 10.22146/bkm.34878

Abstract

Purpose: Leptospirosis is a major public health problem in tropical countries with potentially fatal systemic complications and multi-organ dysfunction. Leptospirosis is endemic in Bantul area. This study aimed to identify the major risk of the factors which contribute to the mortality of leptospirosis patient in Bantul area during 2012-May 2017. Methods: This study using case-control study design with ratio 1:3, 32 cases and 96 controls. The collected data were the manifestation of clinic and laboratory findings from the medical records of leptospirosis patient during 2012-May 2017 in Bantul District Hospital. The inclusion criteria in this study was based on pertinent clinical and epidemiological data and positive serology, patient who domiciled and living in Bantul District Area. The data were analyzed using Fisher test, Chi-square, and multiple logistic regression. The data processed using STATA Software version 13.1. Results: A total of 128 patients were included, with mean age 50.9±12.5 years; 75% (n=96) were male. The mean length from onset symptoms to admission was 4.5±2.27 days. Multivariate logistic regression demonstrated that four dominant factors were significantly independent associated with mortality, icteric, myalgia, dyspnea and thrombocytopenia. Conclusion: The presence of dyspnea, myalgia, icterus, and thrombocytopenia (<100.000/µL) on admission in patients with leptospirosis indicated high risk of death.AbstrakTujuan: Leptospirosis adalah masalah utama kesehatan masyarakat yang dapat mengakibatkan komplikasi dan disfungsi multi organ yang berpotensi fatal. Bantul merupakan wilayah endemik leptospirosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan dan mengidentifikasi besarnya risiko dari faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kematian pada pasien leptospirosis di Kabupaten Bantul pada periode 2012-Mei 2017. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan desain kasus kontrol dengan perbandingan 1:3 yaitu 32 kasus dan 96 kontrol. Data yang dikumpulkan adalah manifestasi klinik dan hasil pemeriksaan laboratorium menggunakan rekam medis pasien leptospirosis pada periode 2012-Mei 2017 di rumah sakit Kabupaten Bantul. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah ada riwayat terpapar lingkungan yang terkontaminasi leptospirosis, hasil positif pemeriksaan serologi, dan pasien berdomisili dan menetap di wilayah Kabupaten Bantul. Analisis data menggunakan uji fisher test, Chi square dan multivariate logistik regresi. Pengolahan data menggunakan software STATA versi 13.1. Hasil: Total sampel adalah 128 pasien leptospirosis, 96 (75%) adalah laki-laki, rata-rata umur pasien leptospirosis adalah 50.9±12.5 tahun. Rata-rata lama demam sebelum masuk rumah sakit yaitu 4.5±2.27 hari. Analisis multivariat dengan logistik regresi menunjukkan terdapat 4 variabel dominan yang berhubungan dengan kematian pada pasien leptospirosis di Kabupaten Bantul yaitu ikterik (p-value=0.006; OR=7.78; 95%CI=1.786-33.925), myalgia (p-value=0.005; OR=5.20; 95%CI=1.659-16.317), sesak (p-value=0.028; OR=3.176; 95%CI=1.130-8.920) dan trombositopenia (p-value=0.019; OR=3.99; 95%CI=1.261-12.639). Simpulan: Keberadaan sesak, myalgia, ikterik, dan trombositopenia (<100.000/µL) merupakan faktor risiko prognosis buruk (meninggal) pada pasien leptospirosis di Kabupaten Bantul.
Neglected tropical diseases: less known subjects amongst health care professionals Wilson Karoke
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 6 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.397 KB) | DOI: 10.22146/bkm.36969

Abstract

Wilson Karoke expressed concern about the low priority the governments in developing countries paid to common tropical diseases. They have limited funding for research and for programs to address the problem. Even more sadly, health workers get less exposure to information on research and discussion  on diseases considered as which can further make the problem neglected.

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 41 No 11 (2025) Vol 41 No 10 (2025) Vol 41 No 09 (2025) Vol 41 No 08 (2025) Vol 41 No 07 (2025) Vol 41 No 06 (2025) Vol 41 No 05 (2025) Vol 41 No 04 (2025) Vol 41 No 03 (2025) Vol 41 No 02 (2025) Vol 41 No 01 (2025) Vol 40 No 12 (2024) Vol 40 No 11 (2024) Vol 40 No 10 (2024) Vol 40 No 09 (2024) Vol 40 No 08 (2024) Vol 40 No 07 (2024) Vol 40 No 06 (2024) Vol 40 No 05 (2024) Vol 40 No 04 (2024) Vol 40 No 03 (2024) Vol 40 No 02 (2024) Vol 40 No 01 (2024) The 12th UGM Public Health Symposium Vol 39 No 12 (2023) Vol 39 No 11 (2023) Vol 39 No 10 (2023) Vol 39 No 09 (2023) Vol 39 No 08 (2023) Vol 39 No 07 (2023) Vol 39 No 06 (2023) Vol 39 No 05 (2023) Vol 39 No 04 (2023) Vol 39 No 03 (2023) Vol 39 No 02 (2023) Vol 39 No 01 (2023) Vol 38 No 12 (2022) Vol 38 No 11 (2022) Vol 38 No 10 (2022) Vol 38 No 09 (2022) Vol 38 No 08 (2022) Vol 38 No 07 (2022) Vol 38 No 06 (2022) Vol 38 No 05 (2022) Vol 38 No 04 (2022) Vol 38 No 03 (2022) Vol 38 No 02 (2022) Vol 38 No 01 (2022) Vol 37 No 12 (2021) Vol 37 No 11 (2021) Vol 37 No 10 (2021) Vol 37 No 09 (2021) Vol 37 No 08 (2021) Vol 37 No 07 (2021) Vol 37 No 06 (2021) Vol 37 No 05 (2021) Vol 37 No 04 (2021) Vol 37 No 03 (2021) Vol 37 No 02 (2021) Vol 37, No 1 (2021) PHS8 Accepted Abstracts PHS7 Accepted Abstracts Vol 36, No 12 (2020) Vol 36, No 11 (2020) Vol 36, No 10 (2020) Vol 36, No 9 (2020) Vol 36, No 8 (2020) Vol 36, No 7 (2020) Vol 36, No 6 (2020) Vol 36, No 5 (2020) Vol 36, No 4 (2020) Vol 36, No 3 (2020) Vol 36, No 2 (2020) Vol 36, No 1 (2020) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium Vol 35, No 11 (2019) Vol 35, No 10 (2019) Vol 35, No 9 (2019) Vol 35, No 8 (2019) Vol 35, No 7 (2019) Vol 35, No 6 (2019) Vol 35, No 5 (2019) Vol 35, No 4 (2019) Vol 35, No 3 (2019) Vol 35, No 2 (2019) Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) More Issue