cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsms@unisba.ac.id
Phone
+6282321980947
Journal Mail Official
bcsms@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series : Medical Science
ISSN : -     EISSN : 28282205     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsms.v2i2
Core Subject : Humanities, Health,
Bandung Conference Series: Medical Science (BCSMS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Kedokteran dengan ruang lingkup Age, ASI, BPJS Kesehatan, CGT, Dokter layanan primer, Fungsi diastolic, Gender, Hepatitis A dan B, Interval Anak Balita, ISPA, JKN, Nyeri leher, Origin, Paritas, Pasien, Denyut Nadi, Imunisasi, Perawat, Phlebitis, PHBS, pneumonia Abortus Spontan, Pola Menstruasi, rumah sakit Pendidikan, Sektor Informal Pengetahuan, Shift kerja malam, sindrom koroner akut, Status Gizi Mahasiswa kedokteran, status sosio ekonomi, Tekanan Darah, Tingkat Stres, Troponin T , Type of occupation, ventrikel kiri, dan Wanita Premenopause. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 1 Documents
Search results for , issue "1563-1570" : 1 Documents clear
Perbandingan Puasa Intermiten Kering dan Air terhadap Inflamasi Hepar Mencit Dzakira Zalfaa Titis; Annisa Rahmah Furqaani; Sara Puspita
Bandung Conference Series: Medical Science 1563-1570
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22404

Abstract

Abstract. Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) is a metabolic disorder associated with high-fat diet consumption and characterized by hepatic inflammatory processes that contribute to disease progression. Intermittent fasting has been proposed as a non-pharmacological strategy to modulate metabolic and inflammatory responses; however, comparative evidence between dry and water intermittent fasting on hepatic inflammation remains limited. This study aimed to compare the effects of dry intermittent fasting and water intermittent fasting on hepatic inflammation scores in mice fed a high-fat diet. This quantitative experimental study employed a post-test only controlled group design using 28 paraffin-embedded liver tissue blocks from male Swiss Webster mice. Intermittent fasting was conducted for 30 days with a daily fasting duration of 14 hours. Hepatic inflammation was assessed histopathologically using hematoxylin–eosin staining based on the number of inflammatory foci per field of view. Data analysis was performed using the Chi-square test and subsequently Fisher’s Exact Test due to unmet assumptions, followed by Spearman correlation analysis. The results showed no statistically significant difference in hepatic inflammation scores between the dry intermittent fasting and water intermittent fasting groups (Fisher’s Exact Test, p = 1.00). Spearman correlation analysis also demonstrated no significant association between the type of intermittent fasting and hepatic inflammation score (r = 0.001; p > 0.05). Abstrak. Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) merupakan gangguan metabolik yang berkaitan dengan konsumsi pakan tinggi lemak dan ditandai oleh proses inflamasi hepar yang berperan dalam progresivitas penyakit. Puasa intermiten dikenal sebagai pendekatan nonfarmakologis yang berpotensi memodulasi respon metabolik dan inflamasi, namun perbandingan efek puasa intermiten kering dan air terhadap inflamasi hepar masih terbatas. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek puasa intermiten kering dan puasa intermiten air terhadap skor inflamasi hepar pada mencit yang diberi pakan tinggi lemak. Penelitian ini merupakan studi eksperimental kuantitatif dengan desain post-test only controlled group menggunakan 28 blok parafin jaringan hepar mencit jantan galur Swiss Webster. Puasa intermiten dilakukan selama 30 hari dengan durasi puasa 14 jam per hari. Inflamasi hepar dinilai secara histopatologis menggunakan pewarnaan hematoksilin–eosin berdasarkan jumlah fokus inflamasi per lapang pandang. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square dan dilanjutkan dengan Fisher’s Exact Test, serta analisis korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna pada skor inflamasi hepar antara kelompok puasa intermiten kering dan air (Fisher’s Exact Test, p = 1,00). Analisis Spearman juga menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis puasa intermiten dan skor inflamasi hepar (r = 0,001; p > 0,05).

Page 1 of 1 | Total Record : 1