cover
Contact Name
Lia Yunita
Contact Email
yunitalia@up45.ac.id
Phone
+6285292958275
Journal Mail Official
joffshore.up45@gmail.com
Editorial Address
Soekarno Building, 2nd Floor, Jl. Proklamasi No. 1, Babarsari, Yogyakarta (55281)
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities, and Renewable Energy
ISSN : -     EISSN : 25498681     DOI : 10.30588
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy is a blind peer-reviewed National Journal in Indonesia and English languages published two issues per year (in June and December). Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities, and Renewable Energy focus on providing a publishing platform for scientists and academicians to promote, share, publish and discuss to all aspects of the latest outstanding development in the field of Petroleum Engineering. It encompasses the engineering of oil, production facilities and renewable energy, but it is not limited to scopes. Those are allowed to discuss on the following scope: Oil : geology geophysic in petroleum, reservoir, driliing and production in petroleum. Production Facilities : pipe transportation, separator, flowline, manifold. Renewable energy : geologist, geophysic in geothermal, pirolisis. Software Simulation in Petroleum and Geothermal : CMG, PIPESIM, MFrac, Petrasim, Aspen.
Articles 90 Documents
Penentuan OOIP Berdasarkan Pemodelan Geologi dan Reservoir di Daerah Tanisha Cekungan Sumatra Selatan Nila Rahayu; Ratnayu Sitaresmi; Moeh. Ali Jambak
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Offshore : Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1486.567 KB) | DOI: 10.30588/jo.v2i2.401

Abstract

Perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mengetahui karakteristik reservoir sebelum dilakukannya kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. Salah satunya dengan pemodelan geologi dan pemodelan reservoir untuk mendapatkan gambaran bentuk bawah permukaan, karakteristik reservoir, dan OOIP.  Analisis data log dan interpretasi geologi dilakukan untuk mendapatkan informasi lingkungan pengendapan, marker lapisan, dan bentukan struktur reservoir yang digunakan sebagai dasar pembuatan model geologi. Analisis petrofisik akan memberikan informasi mengenai karakteristik batuan reservoir. Untuk mendapatkan model reservoir, hasil analisis petrofisik akan didistribusikan pada model geologi. Kemudian penentuan OOIP dapat dihitung dengan menggunakan metode volumetrik. Reservoir batupasir sudah terbukti menjadi reservoir produktif di berbagai lapangan migas, seperti reservoir batupasir pada Formasi Talang Akar di Lapangan Sungai Lilin. Terdapat enam lapisan yang menjadi obyek penelitian pada Formasi Talang Akar yaitu lapisan D1, D2, E1, E2, F, dan H yang diendapkan pada lingkungan delta plain–delta front terlihat dari pola log yang berkembang yaitu funnel shape, serrated shape, dan bell shape. Perbedaan lingkungan pengendapan akan mempengaruhi geometri dan karakteristik reservoir. Didapatkan nilai cut-off untuk Vcl ≤0.40, porositas ≥0.10 dan saturasi air ≤0.7. Hasil analisis petrofisika kemudian didistribusikan pada model geologi dengan metode Sequential Gaussian Simulation , dimana penyebaran lingkungan pengendapan menjadi arahan dasar penyebaran properti reservoir. Perhitungan OOIP pada enam lapisan di Formasi Talang Akar berdasarkan pemodelan reservoir sebesar 8,387 MSTB, dengan lapisan menarik terdapat pada lapisan E2 2,340 MSTB. Technological developments can be utilized to determine reservoir characteristics prior to exploration and exploitation activities. One of them is by geological modeling and reservoir modeling to get a picture of subsurface shapes, reservoir characteristics, and OOIP. Log data analysis and geological interpretation were carried out to obtain information on depositional environments, layer markers, and reservoir structure formations that were used as the basis for making geological models. Petrophysical analysis will provide information about reservoir rock characteristics. To get the reservoir model, the results of the petrophysical analysis will be distributed to the geological model. Then the determination of OOIP can be calculated using the volumetric method. Sandstone reservoirs have proven to be productive reservoirs in various oil and gas fields, such as sandstone reservoirs in the Talang Akar Formation in Sungai Lilin Field. There are six layers that are the object of research in the Talang Root Formation, namely layers D1, D2, E1, E2, F, and H which are deposited in the plain-delta front delta environment as seen from the developing log pattern, namely funnel shape, serrated shape, and bell shape. The difference in depositional environments will affect the geometry and characteristics of the reservoir. Obtained cut-off values for Vcl ≤0.40, porosity ≥0.10 and water saturation ≤0.7. The results of the petrophysical analysis are then distributed to the geological model using the Sequential Gaussian Simulation method, where the spread of the depositional environment is the basis for spreading reservoir properties. The OOIP calculation for the six layers in the Talang Akar Formation is based on reservoir modeling of 8,387 MSTB, with an interesting layer found at the E2 layer 2,340 MSTB.
Optimalisasi Desain Turbin Wells pada Sistem Osilasi Kolom Air Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut Sebagai Upaya Meningkatkan Potensi Supply Energi Terbarukan pada Masyarakat Pesisir Luthfi Nabila Nur Afifah; Isna Tita Safira
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Offshore : Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.625 KB) | DOI: 10.30588/jo.v4i2.831

Abstract

Laut Indonesia menyimpan potensi energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti energi fosil dalam memenuhi kebutuhan listrik. Pemanfaatan energi mekanik dari gelombang laut menjadi energi listrik dilakukan menggunakan teknologi Oscillating Water Column dan pengaplikasian turbin Wells. Penelitian dengan studi literatur ini, bertujuan untuk meningkatkan efisiensi turbin Wells dengan menentukan geometri, jumlah sudu, modifikasi panjang chord dan penggunaan pagar stall pada sudu. Pemilihan geometri dan jumlah sudu dilakukan menggunakan foil NACA 0010, 0015, 0020, dan 0025 dengan variasi jumlah sudu 6 dan 8. Tekanan dan kecepatan aliran udara diperoleh menggunakan software flow 3d sedangkan gaya angkat pada sudu turbin dianalisis dengan software Ansys CFX 14. Penambahan pagar pada sudu bertujuan untuk menunda stall dan memperluas rentang operasi. Dimensi pagar ditentukan menggunakan teknik optimasi surrogate-based.  Modifikasi pagar sudu NACA 0015 dan panjang chord menggunakan software CFD ANSYS CFX 16.1 untuk membandingkan efisiensi, torsi, dan koefisien input pada laju aliran berbeda antara turbin referensi dan modifikasi. Berdasarkan hasil modifikasi geometri dan jumlah sudu, foil NACA 0025 dengan 8 sudu menghasilkan nilai paling optimum untuk daya sebesar 3,64 kW dan efisiensi sebesar 64%. Pada penambahan pagar di sudu NACA 0015, peningkatan rentang operasi turbin berpagar dibanding turbin referensi sebesar 16,6%. Pada modifikasi panjang chord, perbandingan desain rekomendasi dan konvensional menunjukkan penurunan rata-rata entropi hasil sebesar 26,02% di seluruh rentang operasi sehingga mendukung keunggulan desain baru. Pemilihan profil, geometri, dan jumlah sudu turbin Wells yang sesuai serta pengaplikasian pagar stall dapat meningkatkan efisiensi turbin dalam menghasilkan daya optimal untuk dikonversi oleh generator menjadi energi listrik.
Pengelolaan dan Proses Instalasi Perawatan Air Limbah dalam Pembersihan Minyak dan Gas dengan Menggunakan Separator dan Scrubber di Lapangan "X" Zainal Imron Hidayat
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Offshore : Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.818 KB) | DOI: 10.30588/jo.v1i2.292

Abstract

Minyak bumi adalah salah satu bahan bakar fosil dan bahan kimia yang termasuk dalam bahan berbahaya dan beracun, sehingga memerlukan penanganan khusus dalam penanganan perminyakan di lapangan "X". Gathering Station Center adalah salah satu stasiun pengumpul yang mengumpulkan dan merawat minyak dari sumur, dimana menghasilkan air limbah kemudian diproses di Instalasi Pengolahan Air (IPAL) sebelum dibuang ke lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah memahami instalasi pengolahan air limbah dan meneliti konsentrasi polutan inlet dan outlet di IPAL. Metode yang digunakan adalah analisis survei dan analisis, parameter yang digunakan secara keseluruhan adalah Suhu, pH, BOD, COD, Minyak, Sulfida (sebagai H2S), dan amonia (sebagai NH3-N). Semuanya didasarkan pada PerMenLH No. 4 Tahun 2007 tentang ambang air limbah untuk industri minyak, gas, dan panas bumi. Minyak yang mengalir dilapangan "X" dengan menggunakan flowline kemudian diakhiri dengan choke manifold kemudian dialirkan ke pemisah untuk memisahkan berdasarkan pengendapan gravitasi. Scrubber digunakan untuk memastikan bahwa minyak dan gas telah betul-betul terpisah dari air. Air ini kemudian diinjeksikan kedalam sumur untuk pressure  maintenaince, atau jika memenuhi syarat dialirkan ke sungai. Dari semua parameter, air limbah tersebut aman untuk lingkungan karena masih memenuhi syarat dalam PerMenLH No. 4 Tahun 2007.Petroleum is one of the fossil fuels and chemicals included in hazardous and toxic materials, so it requires special handling in handling oil in the "X" field. Gathering Station Center is one of the collection stations that collect and treat oil from wells, which produce waste water and then it is processed at the Water Treatment Plant (WWTP) before being discharged into the environment. The purpose of this study is to understand the wastewater treatment plant and examine the concentration of inlet and outlet pollutants at WWTP. The method used is survey analysis and analysis, the parameters used as a whole are Temperature, pH, BOD, COD, Oil, Sulfide (as H2S), and ammonia (as NH3-N). Everything is based on PerMenLH No. 4 of 2007 concerning threshold wastewater for the oil, gas and geothermal industry. Oil flowing in the "X" field using a flowline is then terminated with a choke manifold and then flowed to the separator to separate based on gravity deposition. Scrubbers are used to ensure that oil and gas are completely separated from water. This water is then injected into the well for pressure maintenance, or if it meets the requirements, it is flowed into the river. Of all the parameters, the waste water is safe for the environment because it still meets the requirements in PerMenLH No. 4 of 2007.
Potensi Cadangan Panas Bumi dengan Metoda Volumetrik Pada Sumur Saka-1 Lapangan Panas Bumi “X” Kabupaten Lembata NusaTenggara Timur Sari Wulandari Hafsari; Akhmad Rading
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Offshore : Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (942.161 KB) | DOI: 10.30588/jo.v1i1.236

Abstract

Secara geologi Indonesia berada di zona Sabuk Api atau busur vulkanik yang merupakan produk konvergensi berupa subduksi antara lempeng Samudra Hindia-Australia dengan lempeng benua Asia berdasarkan konsep Tektonik lempeng. Potensi Panas bumi Indonesia tercatat sebagai yang terbesar ketiga di dunia dengan potensi cadangan 40%, Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral (ESDM) mengidentifikasi 256 daerah panas bumi dengan total potensi mencapai atau sekira 28.617 MW Penggunaan potensi panas bumi Indonesia hingga Tahun 2016 baru mencapai 4% atau sekira 1341 MW sehingga masih perlu ditingkatkan. Target pemerintah tentang kebijakan Energi Nasional terkait penggunaan energi terbarukan sebesar 25% pada tahun 2015, memicu peningkatan kegiatan pencarian dan eksplorasi panas bumi.Penyelidikan Direktorat Inventarisasi ESDM (2006) di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur mencatat tiga lapangan potensi panas bumi yakni : Atadei, Roma dan Adum. Sumber panas bumi umumnya berasosiasi dengan gunungapi menjelang padam maupun masih aktif. Syarat terbentuknya panas bumi adalah adanya sumber panas (magma), batuan reservoir, batuan penudung dan akuifer. Hasil inventarisasi dan eksplorasi. Tulisan ini difokuskan pada perhitungan cadangan yakni energi panas bumi yang kenyataannya dapat diambil dan potensi listrik yang dapat dibangkitkan pada lapangan panas bumi X Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Tahapan awal dari upaya untuk mengetahui potensi energi panas bumi dimulai dari eksplorasi terencana dan terpadu yang meliputi kegiatan survey geologi, geokimia, geofisika, landaian suhu dan pemboran uji/eksplorasi panas bumi yang diakhiri dengan kegiatan pemboran sumur produksi serta pembangkit power plant untuk listrik jika hasil pemboran uji memberikan gambaran yang positif serta faktor kebutuhan akan energi/listrik.Cadangan energi panas bumi yang kenyataannya dapat diambil di Lapangan panas bumi X adalah 3,94 x 10 11 KJ dan besarnya potensi listrik yang dapat dibangkitkan adalah sebesar 41 Mwe Sehingga Lapangan panas bumi X prospek dan layak untuk dikembangkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), sehingga kebutuhan listrik masyarakat Kabupaten Lembata sebesar 5 Mwe dapat terpenuhi.Geologically, Indonesia is in the zone of ring of  Fire or volcanic arc which is a product of convergence in the form of subduction between the Indian-Australian Ocean plate and the Asian continent plate based on the plate tectonic concept. Indonesia's geothermal potential is recorded as the third largest in the world with a potential reserve of 40%, the Directorate of Mineral Resources Inventory (ESDM) identified 256 geothermal areas with a total potential reaching or approximately 28,617 MW The use of Indonesia's geothermal potential until 2016 only reached 4% or approximately 1341 MW so that it still needs to be improved. The government's target of the National Energy policy related to the use of renewable energy by 25% in 2015, triggers an increase in geothermal exploration and exploration activities. The investigation of the ESDM Inventory Directorate (2006) in Lembata Regency, East Nusa Tenggara recorded three geothermal potential fields namely: Atadei, Roma and Adum. Geothermal sources are generally associated with near-extinguished volcanoes or are still active. Requirements for geothermal formation are the existence of heat sources (magma), reservoir rocks, capstone and aquifers. Inventory and exploration results. This paper is focused on the calculation of reserves, namely the fact that geothermal energy can be extracted and the potential electricity that can be generated in the geothermal of X field, Lembata Regency, East Nusa Tenggara. The initial stages of the effort to determine the potential for geothermal energy starts from planned and integrated exploration which includes geological, geochemical, geophysical surveying, temperature slope and geothermal test/ exploration drilling which ends with the production well drilling and power plant for electricity if the results test drilling provides a positive picture and energy/electricity demand factors. Reserve of geothermal energy which in fact can be taken in the geothermal field X is 3.94 x 1011 KJ and the amount of potential electricity that can be generated is 41 Mwe so that the geothermal of X field prospects and feasible to be developed as a Geothermal Power Plant (PLTP) so that the electricity needs of the Lembata Regency community of 5 MWe can be fulfilled.
Pengembangan Lapangan Panas Bumi “S” Water Dominated Menggunakan Software Tough2 Lia Yunita; Dyah Rini Ratnaningsih; Harry Budiharjo
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities, and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.796 KB) | DOI: 10.30588/jo.v3i2.625

Abstract

AbstrakLapangan Panas Bumi “S” merupakan lapangan panas bumi water dominated, lapangan ini sudah diproduksikan dengan satu unit PLTP dengan kapasitas terpasang 60 MWe. Dalam pengembanganya, akan dilakukan pembangunan PLTP Unit II. Tujuan dari penelitian ini adalah memodelkan reservoir  dengan bantuan software tough2 dan melakukan simulasi pengembangan lapangan “S” melalui pembangunan PLTP Unit II dengan penambahan lima sumur produksi. Metodologi yang digunakan dengan membuat pemodelan reservoir dengan bantuan software tough2. Pertama yang dilakukan menentukan grid yang akan dibuat, kemudian memasukan material, porositas, permeabilitas, konduktivitas panas dan specific heat. Kemudian melakukan inisialisasi dengan melakukan running selama enam puluh tahun. History matching data produksi tiap-tiap sumur dilakukan dengan  merubah parameter permebilitas batuan reservoir sampai terjadi matching tekanan dan temperatur antara kondisi aktual dengan model. Setelah dilakukan history matching kemudian dilakukan pengembangan PLTP Unit II dengan menambah lima sumur. Dari hasil simulasi dengan pengembangan PLTP Unit II  didapatkan kapasitas terpasang 55 MWe selama tiga puluh tahun[L1] .Kata Kunci : Pengembangan,panas bumi, software though 2     
Analisa Pekerjaan Squeeze Cementing dengan Metode Balance Plug Berdasarkan Data CBL & VDL pada Sumur “GZ” Lapangan “BHARA” Rizky Abdullah; Eko Prastio; Chandra .
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.625 KB) | DOI: 10.30588/jo.v6i1.1076

Abstract

Salah satu tujuan yang sangat penting dalam penyelesaian sumur adalah mendapatkan hasil penyemenan yang baik, akan tetapi pekerjaan penyemenan (primary cementing) yang dilakukan tidak selalu berjalan dengan lancar seperti yang direncanakan. Penyemenan merupakan pekerjaan yang membutuhkan biaya yang cukup besar dan resiko yang tinggi dalam mengerjakannya, dan masalah – masalah pada pekerjaan penyemenan diantaranya yaitu : channeling, microannulus, dan freepipe. Sebagai solusi menangani masalah tersebut yaitu dengan dilakukannya pekerjaan squeeze cementing. Squeeze cementing ialah penyemenan kembali yang dikerjakan untuk salah satu cara perbaikan sumur dengan menginjeksikan bubur semen dengan volume yang kecil pada zona atau area yang terdapat masalah, dalam tugas akhir ini metode yang dipilih adalah metode balance plug. Pemboran sumur X bertujuan sebagai tempat penambahan area resap hidrokarbon dilapisan reservoir Batupasir TAF. Dari hasil Pemboran sumur – sumur lapangan Z yang ada telah dinyatakan dapat memperoleh hidrokarbon dari lapisan batupasir pada lapisan TAF-2, TAF3.1, TAF-3.2, TAF-3.3 dan TAF-4. Sumur usulan diperkirakan menembus bagian puncak reservoir tersebut, dan dibor directional dari cluster JAS-C sampai total kedalaman 3250 mTVDSS/3400.93 mD (Total Depth). Pada proses logging pertama setelah dilakukannya primary cementing didapatkan hasil data log dari logging Cement Bond Log (CBL) dan Variable Density Log (VDL) yang menunjukan bahwa adanya kejanggalan, masalah, atau sesuatu yang tidak baik pada data log. Terlihat adanya kenaikan nilai amplitudo sebesar 70 – 80 mV dan grafik yang tinggi pada kedalaman 2460.63 ft – 2624.67 ft yang menunjukan adanya freepipe pada area tersebut, maka dari itu perlu dilakukannya secondary cementing yaitu squeeze cementing dengan tujuan untuk memperbaiki primary cementing yang bermasalah supaya tidak terjadi hal – hal yang tidak diinginkan.                 
Pengaruh Sumur Injeksi Terhadap Reservoir Panas Bumi Dominasi Air pada Simulasi Lapangan Panas Bumi Dieng Unit II Menggunakan Software Tough-2 Arizona Yoris Wirawan
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Offshore : Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1574.56 KB) | DOI: 10.30588/jo.v3i1.489

Abstract

Dieng merupakan salah satu lapangan panas bumi yang sistem reservoirnya didominasi air. Lapangan dengan reservoir dominasi air memerlukan separator untuk memisahkan fasa uap dan fasa cair, karena fluida didominasi air, fasa cair yang dihasilkan tentu lebih banyak daripada fasa gas sehingga perlu dilakukan injeksi untuk menghindari polusi.Kesetimbangan energi merupakan persamaan dengan prinsip dasar bahwa energi yang masuk kedalam suatu sistem sama besarnya dengan energi yang keluar dari sistem tersebut tanpa ada akumulasi. Prinsip ini digunakan untuk menganalisis bagaimana kondisi reservoir panas bumi Dieng di masa lalu sehingga dapat dijadikan pembelajaran untuk kasus serupa di masa sekarang dan masa yang akan datang. Massa yang keluar sistem antara lain dapat berupa manifestasi permukaan seperti fumarole dan hot springs. Proses ekstraksi fluida juga mengurangi massa yang ada dalam sistem. Sedangkan massa yang masuk kedalam sistem dapat berupa injeksi alami dan injeksi. Metodologi penelitian  ini, menggunakan prinsip kesetimbangan energi yang disimulasikan dengan bantuan simulator Tough-2. Hasil penelitian dapat menentukan keefektifan injeksi terhadap tekanan reservoir. Kesimpulan pada penelitian ini, bahwa injeksi perlu dilakukan sedini mungkin pada reservoir dominasi air untuk menghindari tekanandrop yang besar di awal produksi. Namun perlu diperhatikan juga posisi sumur injeksi yang akan difungsikan sebagai sistem recharge, karena akan berpengaruh pada temperatur reservoir, khususnya temperatur pada sumur produksi yang terdekat dengan sumur injeksi.Dieng is one of the geothermal fields where the reservoir system is dominated by water. A field with a water domination reservoir requires a separator to separate the vapor phase and liquid phase, because the fluid is dominated by water, the liquid phase produced is certainly more than the gas phase so injection needs to be done to avoid pollution. Energy balance is an equation with the basic principle that the energy that enters a system is as large as the energy coming out of the system without any accumulation. This principle is used to analyze how the condition of the Dieng geothermal reservoir in the past so that it can be used as learning for similar cases in the present and in the future. The mass that exits the system can be in the form of surface manifestations such as fumaroles and hot springs. The fluid extraction process also reduces the mass in the system. While the mass that enters the system can be either natural injection or injection. The research methodology uses the principle of energy balance simulated with the help of the Tough-2 simulator. Research results can determine the effectiveness of injection of reservoir tekanan. The conclusion of this study, that injection needs to be done as early as possible in the reservoir of water dominance to avoid a large tekanan at the beginning of production. However, it should be noted also that the position of the injection well will function as a recharge system, because it will affect the reservoir temperature, especially the temperature at the production well closest to the injection well.
DESAIN PROTOTYPE GASIFIER BIOMASS PORTABLE UNTUK MELISTRIKI DAERAH 3T eko supriyanto
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.669 KB) | DOI: 10.30588/jo.v5i2.933

Abstract

Portable biomass gasifier merupakan Pusat Listrik Tenaga (PLT) Biomassa yang didesain dengan tujuan mudah dipindahkan untuk menjangkau daerah 3T (terluar, tertinggal dan terpencil). Komponen utama dari PLT Biomassa ini antara lain: reaktor, siklon, gas cooler, filter dan genset, sedangkan komponen pendukung antara lain: trailer, blower, water pump, thermocouple dan flare. Berdasarkan perhitungan beban maksimum dari gasifier ini sebesar 16.88 kW. Dengan bahan baku biomassa tempurung kelapa, pada beban 5 kW gasifier ini membutuhan biomassa dan udara sebesar 16 kg dan 8.44 m3 dan dapat beroperasi selama 11.12 jam. Konstruksi mobile biomass gasifier dipasang diatas trailer bertujuan untuk mempermudah pindah tempat sehingga mudah menjangkau daerah 3T. Penggunaan gas cooler tipe shell & tube counter flow mencegah terjadinya pencampuran kondensasi tar dengan media pendingin. Hal ini menjadikan gasifier ini mudah dalam penanganan tar sehingga aman terhadap lingkungan. Disamping itu pencampuran uap dari media pendingin dengan gas produk yang dapat dihindari sehingga kualitas gas produk dan efisiensi gasifier cenderung lebih baik. Berdasarkan perhitungan pada beban 5, 6 dan 7 kW, suhu gas produk setelah melewati gas cooler berkisar 54.88 sampai 55.10 °C. Pada suhu tersebut sangat mungkin terjadi kondensasi tar dan uap air hasil pembakaran yang menjadikan zat tersebut terpisah dari gas produk gasifikasi, seperti diketahui bahwa tar dan uap air merupakan zat pengotor dalam produk gasifikasi, sehingga dengan berkurangnya tar dan uap air dalam gas produk gasifikasi akan meningkatkan nilai kalor gas produk dan efisiensi gasifikasi.
Potensi Shale Hydrocarcon Formasi Brown Shale, Cekungan Sumatra Tengah Berdasarkan Data Log Mekanik Sugeng Widada; Salatun Said; Hendaryono Hendaryono; Listriyanto Listriyanto
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Offshore : Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.39 KB) | DOI: 10.30588/jo.v2i1.356

Abstract

Formasi Brown Shale merupakan batuan induk utama hidrokarbon di Cekungan Sumatra Tengah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi formasi tersebut sebagai batuan induk hidrokarbon dan implikasinya dalam eksplorasi shale hydrocarbon berdasarkan data wireline log. Evaluasi yang dilakukan meliputi penentuan ona prospek (shale  play), evaluasi kandungan material organik (TOC) untuk mengetahui tingkat kekayaan batuan induk dan evaluasi tingkat kematangannya. Tiga sumur, Sumur Gamma, Jeta dan Kilo dievaluasi dengan menggunakan Metoda Passey (1990) dan Bowman (2010) . Log Gamma Ray, Resistivitas, Sonic, Netron dan Densitas digunakan dalam studi ini.Dari hasil analisis menunjukkan Formasi Brown Shale yang tertembus oleh ketiga sumur tersebut tersusun oleh perselingan batulempung dan batulanau yang mengindikasikan mempunyai prospek sebagai batuan induk dengan tingkat kekayaan material organik miskin sampai kaya dan telah mencapai tingkat kematangan hidrokarbon. Kandungan TOC pada Sumur Gamma berkisar antara 2-8%(kaya) dan tingkat kematangan minyak dicapai pada kedalaman 6550 ft. Kandungan TOC pada Sumur Jeta berkisar antara 0-7%(miskin-kaya) dan tingkat kematangan minyak dicapai pada kedalaman 8550 ft. Kandungan TOC pada Sumur Kilo berkisar antara 0-9%(miskin-kaya) dan tingkat kematangan minyak dicapai pada kedalaman 8100 ft.Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan Formasi Brown Shale yang tertembus oleh ketiga sumur di daerah telitian mempunyai potensi yang baik sebagai batuan induk hidrokarbon dan shale hidrokarbon.The Brown Shale Formation is the main hydrocarbon sourcerock in the Central Sumatra Basin. This study aims to evaluate the potential of these formations as hydrocarbon bedrock and their implications in shale hydrocarbon exploration based on wireline log data. The evaluation includes determining the prospect of shale play, evaluating the total organic content (TOC) to determine the level of source rock wealth and evaluating its level of maturity. Three wells, Gamma Well, Jeta and Kilo were evaluated using the Passey (1990) and Bowman (2010) method. Gamma Ray, Resistivity, Sonic, Neutron and Density logs were used in this study. From the results of the analysis showed that the Brown Shale Formation penetrated by the three wells was composed by claystone and siltstone intervals which indicated having prospects as a source rock with poor organic to rich material levels. and has reached the level of hydrocarbon maturity. The TOC content in the Gamma Well ranges from 2-8% (rich) and the level of oil maturity is reached at a depth of 6550 ft. The TOC content in the Jeta Well ranges from 0-7% (poor-rich) and the level of oil maturity is reached at a depth of 8550 ft. The TOC content in the Kilo Well ranges from 0-9% (poor-rich) and the level of oil maturity is reached at a depth of 8100 ft. Based on these results shows the Brown Shale Formation penetrated by the three wells in the study area has good potential as a hydrocarbon host rock and hydrocarbon shale.
Karakteristik Minyak dan Gas Hasil Proses Dekomposisi Termal Plastik Jenis Low Density Polyethylene (LDPE) Ratih Puspita Liestiono; Muhammad Sigit Cahyono; Wira Widyawidura; Agus Prasetya; Mochamad Syamsiro
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Offshore : Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.327 KB) | DOI: 10.30588/jo.v1i2.288

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik minyak dan gas hasil proses dekomposisi termal (pirolisis) sampah plastik jenis low density polyethylene (LDPE) dengan berbagai variabel laju kenaikan suhu selama proses pirolisis terjadi. Pada proses ini digunakan reaktor pirolisis kapasitas 2 kg dengan laju kenaikan suhu sebesar 2, 4, dan 6 °C/menit sebagai variabel penelitian. Minyak dan gas yang terbentuk ditampung dalam wadah penampung dan diukur rendemennya. Karakteristik gas yang dihasilkan kemudian diuji di laboratorium menggunakan peralatan GC-MS dan peralatan uji sifat fisik khusus untuk minyak hasil pirolisis. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa semakin tinggi laju kenaikan suhu, minyak yang diahsilkan semakin banyak dan gas semakin sedikit. Rendemen minyak terbesar sebesar 35,83 % dihasilkan pada proses pirolisis dengan laju kenaikan suhu 6 °C/menit, dimana pada saat itu, nilai rendemen gas adalah paling kecil, sebesar 5,83 %. Sementara hasil identifikasi gas, yang paling dominan adalah gas jenis butena, dimana kadarnya semakin kecil seiring dengan laju kenaikan suhu. Kandungan gas butena terbesar sebesar 98% pada laju kenaikan suhu 2 °C/menit. Sementara berdasarkan uji sifat fisik, karakteristik minyak plastik mendekati sifat-sifat bahan bakar minyak, terutama kerosen., sehingga cukup layak apabila dijadikan sebagai bahan bakar alternatif pengganti BBM.This study aims to determine the characteristics of oil and gas from the thermal decomposition (pyrolysis) process of waste low density polyethylene (LDPE) type plastic with various temperature increase rate variables during the pyrolysis process. In this process a 2 kg capacity pyrolysis reactor is used with a temperature increase of 2, 4, and 6 °C/min as the research variable. The oil and gas that is formed is stored in a container and the yield is measured. The characteristics of the gases produced are then tested in the laboratory using GC-MS equipment and special physical property test equipment for pyrolysis oils. Based on the research results, it was found that the higher the rate of temperature rise, the more oil is produced and the less gas. The largest oil yield of 35.83 % was produced in the pyrolysis process with a rate of temperature rise of 6 °C/min, where at that time, the value of the gas yield was the smallest, amounted to 5.83 %. While the gas identification results, the most dominant is the type of butene gas, where the levels get smaller along with the rate of temperature rise. The biggest butene gas content is 98 % at a rate of temperature rise of 2 °C/min. While based on the physical properties test, the characteristics of plastic oil approach the properties of fuel oil, especially kerosene, so it is quite feasible if used as an alternative fuel to substitute fuel.

Filter by Year

2017 2025