cover
Contact Name
Lia Yunita
Contact Email
yunitalia@up45.ac.id
Phone
+6285292958275
Journal Mail Official
joffshore.up45@gmail.com
Editorial Address
Soekarno Building, 2nd Floor, Jl. Proklamasi No. 1, Babarsari, Yogyakarta (55281)
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities, and Renewable Energy
ISSN : -     EISSN : 25498681     DOI : 10.30588
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy is a blind peer-reviewed National Journal in Indonesia and English languages published two issues per year (in June and December). Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities, and Renewable Energy focus on providing a publishing platform for scientists and academicians to promote, share, publish and discuss to all aspects of the latest outstanding development in the field of Petroleum Engineering. It encompasses the engineering of oil, production facilities and renewable energy, but it is not limited to scopes. Those are allowed to discuss on the following scope: Oil : geology geophysic in petroleum, reservoir, driliing and production in petroleum. Production Facilities : pipe transportation, separator, flowline, manifold. Renewable energy : geologist, geophysic in geothermal, pirolisis. Software Simulation in Petroleum and Geothermal : CMG, PIPESIM, MFrac, Petrasim, Aspen.
Articles 90 Documents
Pemanfaatan Energi Angin akibat Laju Kendaraan Berbasis Pengembangan Inovasi Teknologi Hybrid Vertical Axis Wind Turbine sebagai Penghasil Listrik untuk Mewujudkan Ketahanan Energi Nasional Marcellinus Gonzaga; Argamanda Manda; Listriyanto Pawirodiharjo; Sukarjo Hb
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Offshore : Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1196.463 KB) | DOI: 10.30588/jo.v4i1.721

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian awal berjudul “Pemanfaatan Energi Angin dari Laju Kendaraan Berbasis Kincir Vertikal sebagai Penghasil Listrik untuk Penerangan Lampu Jalan”. Pada penelitian ini telah dilakukan serangkaian pengembangan dan pembaharuan baik dari segi penentuan daerah potensial maupun segi desain konstruksi hybrid va (vertical axis) wind turbine. Pembaharuan dan pengembangan dilakukan guna meningkatkan kesiapan implementasi hybrid va wind turbine di seluruh daerah efektif di Indonesia. Pada penelitian sebelumnya kelengkungan atau radius kincir belum dapat diketahui. Untuk mencari tahu kelengkungan kincir dengan efektivitas rotasi tertinggi maka dilakukan perancangan miniatur kincir vertikal dengan rasio 1:5 terhadap ukuran kincir sumbu vertikal reguler sesungguhnya. Peningkatan desain dengan memperhatikan aspek keselamatan pengguna jalan yang melintas sangat perlu dilakukan. Penggunaan material atau bahan yang dapat merefleksikan cahaya dari lampu kendaraan pada malam hari yang dilekatkan di konstruksi hybrid va wind turbine merupakan salah satu metode untuk meningkatkan aspek keselamatan. Pengukuran terhadap lebar bagian tengah kedua jalur jalan yang berlawan arah sebagai lokasi pemasangan hybrid va wind turbine juga dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan pengendara. Pemberian toleransi jarak antara bagian sisi terluar kincir dan bagian terluar lajur jalan sangat perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan pada konstruksi hybrid va wind turbine serta demi keselamatan pengendara yang melintas.  Pada jalan-jalan dengan lebar bagian tengah antara kedua jalur jalan yang berukuran di bawah 2meter (<2m) tidak dapat diterapkan hybrid va wind turbine reguler, sehingga penerapan hybrid va wind turbine minimalis merupakan solusi untuk daerah tersebut. Penentuan daerah efektif untuk implementasi pada penelitian ini dilakukan dengan pengukuran terhadap aspek-aspek potensi yang dimiliki oleh jalan di antaranya; rata-rata intensitas kendaraan yang melintas, kecepatan rata-rata kendaraan yang melintas, kecepatan angin rata-rata yang tersedia akibat laju kendaraan yang melintas, lebar bagian tengah antara kedua jalur jalan yang berlawanan arah, kondisi geografis jalan, serta potensi timbulnya kepadatan. Jalan tol Semarang-Solo memiliki total panjang jalan 75,7km dan dalam penelitian ini telah dipilih 3 titik awal yang diprediksi dan diukur aspek-aspek kelayakannya untuk dilakukan implementasi hybrid va wind turbine pada daerah tersebut.Kata kunci: Hybrid va wind turbine, Peningkatan desain, Aspek keselamatan, Aspek-aspek potensi jalan. 
Pengaruh Bahan Bakar Terhadap Arus dan Tegangan yang Dihasilkan oleh Polymer Electrolite Membrane Fuel Cell yang Terintegrasi dengan Gasifier Sampah Organik Ucik Ika Fenti Styana; Nurul Muyasaroh; Muhammad Sigit Cahyono
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities, and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.083 KB) | DOI: 10.30588/jo.v3i2.590

Abstract

Saat ini, kebutuhan bahan bakar fosil semakin meningkat dan ketersediannya semakin menipis. Oleh karena itu, dibutuhkan bahan bakar alternatif seperti Proton Exchange Membrane Fuel Cell (PEMFC). Teknologi ini mampu mengkonversi hidrogen yang dihasilkan dari biomasa melalui proses gasifikasi, menjadi sumber energi listrik. Akan tetapi, kinerja PEMFC sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah kualitas bahan bakar yang digunakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kualitas bahan bakar terhadap kinerja PEMFC yang terintegrasi dengan Fixed Bed Updraft Gasifier.  Bahan baku yang digunakan pada proses gasifikasi adalah biomasa berupa tempurung kelapa yang diproses di dalam gasifier menghasilkan syn gas, untuk kemudian dimasukkan ke dalam PEMFC dengan variabel syn gas yang dimurnikan maupun tanpa pemurnian, serta hidrogen murni sebagai kontrol. Peralatan yang digunakan adalah satu set alat Fixed Bed Updraft Gasifier yang diintegrasikan dengan PEMFC. Tahap awal pengujian adalah proses gasifikasi tempurung kelapa di dalam gasifier menghasilkan syn gas yang akan langsung ditampung di dalam gas holder. Pengujian berikutnya dilakukan dengan cara yang sama, tetapi syn gas tersebut kemudian dimurnikan melalui satu set peralatan cyclone, filter, scrubber, dan condensor. Produk syn gas tersebut kemudian dimasukkan ke dalam PEMFC dengan pompa serta adanya penambahan oksigen menggunakan blower. Sebagai kontrol, dilakukan pengujian menggunakan hidrogen murni sebagai bahan baku PEMFC dengan laju alir 2,5 liter/menit dan  tekanan gas 2 kg/cm2. Analisa dilakukan dengan indikator arus dan tegangan untuk mengethaui daya yang dihasilkan dari Fuel Cell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa syn gas hasil gasifikasi dapat digunakan sebagai bahan bakar PEMFC, namun arus dan tegangan yang dihasilkan sangat kecil. Untuk syn gas hasil pemurnian, arus yang dihasilkan sebesar 0,1 Ampere dan Tegangan 1 Volt dan lampu indikator bisa menyala agak redup. Hasil ini berbeda dengan pengujian menggunakan bahan bakar gas hidrogen murni, dimana mampu menghasilkan arus sebesar 1,4 Ampere dan tegangan 7 volt, serta lampu indikator bisa menyala dengan terang. Sementara untuk syn gas tanpa pemurnian, arus dan tegangan yang dihasilkan sangat kecil sehingga tidak terbaca oleh indikator. Kata kunci : Proton Exchange Membrane Fuel Cell, Fixed-Bed Updraft Gasifier, Syn Gas, Hidrogen, ListrikAbstrackAlternative fuels such as the Proton Exchange Membrane Fuel Cell (PEMFC). This technology is able to convert hydrogen produced from biomass through a gasification process, into a source of electrical energy. However, PEMFC's performance is strongly influenced by several factors, including the quality of the fuel used. The purpose of this study was to determine the effect of fuel quality on PEMFC performance integrated with the Fixed Bed Updraft Gasifier. The raw material used in the gasification process is biomass in the form of a coconut shell which is processed in the gasifier to produce syn gas, to then be incorporated into PEMFC with a variable syn gas that is purified or without purification, and pure hydrogen as a control. The equipment used is a set of Fixed Bed Updraft Gasifier tools that are integrated with PEMFC. The initial stage of testing is the process of gasification of the coconut shell in the gasifier to produce syn gas which will be directly accommodated in the gas holder. Subsequent tests were carried out in the same way, but the syn gas was then purified through a set of cyclone equipment, filters, scrubbers, and condensers. The syn gas product is then put into PEMFC with a pump and the addition of oxygen using a blower. As a control, testing was conducted using pure hydrogen as PEMFC raw material with a flow rate of 2.5 liters / minute and a gas pressure of 2 kg / cm2. Analysis is carried out with current and voltage indicators to determine the power generated from the Fuel Cell. The results showed that the syn gas produced from gasification can be used as PEMFC fuel, but the current and voltage produced are very small. For syn gas purification results, the resulting current is 0.1 Ampere and 1 Volt Voltage and the indicator light can be lit somewhat dimly. This result is different from testing using pure hydrogen gas fuel, which is able to produce a current of 1.4 Amperes and a voltage of 7 volts, and the indicator lights can be lit brightly. While for syn gas without purification, the current and voltage produced are so small that they cannot be read by indicators. Keywords: Proton Exchange Membrane Fuel Cell, Fixed-Bed Updraft Gasifier, Syn Gas, Hydrogen, Electricity
Geothermal Dalam Lapangan Migas Indonesia Pemanfaatan Lapangan Migas Tua Sebagai Sumber Energi Geothermal Alief Rachman Surya Putra
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.037 KB) | DOI: 10.30588/jo.v5i1.1069

Abstract

Energi merupakan salah satu sektor yang sangat penting dalam suatu bangsa, tidak terkecuali di Indonesia. Dengan lebih dari 270 juta penduduk dengan mobilitas tinggi dan perkembangan ekonomi yang pesat, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kebutuhan energi terbesar di dunia. Pada tahun 2018, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melaporkan bahwa Indonesia menggunakan sekitar 114 MTOE energi; angka tersebut akan meningkat sekitar empat kali lipat pada tahun 2050 menjadi 481,1 MTOE dengan proyeksi pembangunan berkelanjutan. Hal ini didukung dengan Rencana Umum Energi Nasional yang menargetkan peningkatan bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025 dan menjadi 31% pada 2050. Indonesia harus mengejar gap tersebut dengan mulai membangun sumber EBT salah satunya geothermal. Potensi geothermal di Indonesia sangatlah besar namun biaya dalam pembangunan dan pengembangan lapangannya cukup mahal, banyak biaya yang harus dikeluarkan dan salah satu biaya terbesar digunakan pada proses pembuatan sumur. Pada paper ini, penulis melihat pemanfaatan lapangan minyak bumi yang sudah mature untuk dijadikan sumber geothermal. Peningkatan maturitas lapangan migas sering dikaitkan dengan peningkatan volume air formasi yang besar dan harus diolah dengan baik. Sehingga, terdapat kemungkinan untuk memanfaatkan produksi air tersebut untuk mengubah sumur migas menjadi sumur geothermal dengan beberapa parameter pendukung lainya yang harus dipenuhi. Simulasi dengan kajian literatur terkait dilakukan untuk mengetahui potensi pemanfaatan sumur migas yang telah ada di Indonesia menjadi sumur geothermal. Diharapkan penelitian ini dapat membantu pemanfaatan dan pengoptimalisasian sumber daya secara efektif dan efisien menuju ketahanan energi yang berkelanjutan secara nasional.Kata Kunci: Energi, Geothermal, Sumur migas
Pengembangan Sumur Lapangan “HAFUZA” Lapisan Tiga Formasi Air Benakat Cekungan Sumatera Selatan Berdasarkan Analisa Lithofasies dan Petrofisik Aisyah Indah Irmaya; Enda Apriani
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Offshore : Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.735 KB) | DOI: 10.30588/jo.v2i2.402

Abstract

Lapangan tua cekungan  Sumatera Selatan  mempunyai tatanan reservoir secara geologi yang cukup rumit dan terjadinya penurunan produksi minyak. Peluang pencarian lapangan eksplorasi dan pengembangan sumur yang semakin sulit merupakan masalah lain yang dihadapi saat ini. Oleh karena itu diperlukan usahan-usaha untuk mempertahankan dan meningkatkan laju produksi dari lapangan minyak yang telah ada dengan cara penambahan sumur–sumur pengembangan. Cadangan Hidrokarbon pada lapisan tiga (L-3) lapangan “HAFUZA” masih besar dan belum tereksploitasi secara maksimal. Untuk mengoptimalkan produksi Hidrokarbon pada lapisan tiga (L-3) diperlukan kajian yang mendalam mengenai geologi, geofisik dan reservoir.  Metodologi yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan melakukan pengolahan data real lapangan “HAFUZA”. Hal pertama yang dilakukan adalah persiapan data. Persiapan data yaitu data geofisik (seismik, struktur interpretasi), data geologi (log, korelasi sumur, petrofisik), data reservoir dan parameter pendukung lainnya. Kemudian dilakukan pengolahan data-data tersebut yang menghasilkan interpretasi lithofasies (model lithofacies) dan analisa petrofisik. Hasil analisa lithofasies dan petrofisik ini diharapkan dapat digunakan sebagai arah pengembangan sumur lapangan “HAFUZA” sehingga eksploitasi cadangan hidrokarbon pada lapisan tiga (L-3) dapat meningkat.The old field in the South Sumatra basin has a geologically complex reservoir structure and a decline in oil production. Opportunities to search for exploration fields and development of increasingly difficult wells are another problem currently faced. Therefore efforts are needed to maintain and increase the rate of production of existing oil fields by adding development wells. Hydrocarbon reserves in layer 3 (L-3) of the "HAFUZA" field are still large and have not been fully exploited. To optimize the production of hydrocarbons in the third layer (L-3), an in-depth study of geology, geophysics and reservoirs is needed. The methodology used in this research is to do real field data processing "HAFUZA". The first thing to do is prepare the data. Data preparation is geophysical data (seismic, interpretation structure), geological data (log, well correlation, petrophysical), reservoir data and other supporting parameters. Then the data is processed to produce lithofacies interpretation (lithofacies model) and petrophysical analysis. The results of lithofacies and petrophysical analysis are expected to be used as the direction of the development of the "HAFUZA" field well so that exploitation of hydrocarbon reserves in the third layer (L-3) can be increased.
Analisa Laju Korosi dengan Media Air Laut pada Hasil Pengelasan Logam Baja Karbon Rendah dengan Proses Perlakuan Panas Aisyah Indah Irmaya; Lia Yunita
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Offshore : Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.16 KB) | DOI: 10.30588/jo.v4i2.859

Abstract

Permasalahan korosi dapat mengakibatkan bertambahnya potensi pencemaran oleh minyak bumi terhadap lingkungan akibat adanya kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. Perawatan peralatan yang tidak tepat, salah satunya gagal memantau kelelahan logam dan korosi, dapat menyebabkan kecelakaan fatal pada industri migas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju korosi pada baja karbon rendah yang disambung dengan pengelasan dan telah diberikan perlakuan panas pasca pengelasan. Untuk mengetahui laju korosi pada hasil las baja karbon rendah dilakukan pengujian menggunakan media air laut. Metode penelitian dimana spesimen baja karbon rendah yang sudah dilas dengan las listrik, kemudian dilakukan pemanas atau heat treatment dengan dipanasi lagi sampai temperatur 300 oC. Spesimen dilakukan penimbangan dengan ketelitian 0,01 gram dan pengukuran dimensi dengan ketelitian 0,001 mm, kemudian dimasukkan dalam air laut yang sudah diletakkan dalam wadah berupa gelas plastik tanpa penutup. Spesimen direndam untuk 100 jam, 200 jam, 300 jam dan 400 jam. Hasil pengujian berat dan penurunan berat spesimen, diperoleh berat rata-rata tertinggi spesimen  yaitu pada rendaman 100 jam, didapat berat rata-rata sebesar 9,641 gr dengan selisih berat 0,016 gr. Sedangkan berat rata-rata terendah spesimen yaitu pada rendaman 400 jam, didapat penurunan berat rata-rata sebesar 9,575 gr dengan selisih berat 0,020 gr. Hasil pengujian dimensi dan luas permukaan terendam, diperoleh hasil dimensi rata-rata tertinggi pada rendaman selama 100 jam sebesar 2.031,312 mm2 dan dimensi rata-rata terendah diperolah pada rendaman 400 jam yaitu sebesar 2.009,594 mm2 . Berdasarkan data penurunan berat spesimen dan penurunan dimensi, diperoleh hasil perhitungan laju korosi/corrosion rate (CR) sebesar 0,088 mpy untuk lama perendaman 100 jam. Untuk perendaman selama 200 jam dengan menggunakan data yang sama, diperoleh laju korosi/corrosion rate (CR) sebesar 0,106 mpy. Sedangkan untuk perendaman selama 300 jam dan 400 jam, diperoleh laju korosi/corrosion rate sebesar 0,114 mpy. Berdasarkan grafik laju korosi terhadap waktu perendaman menunjukkan semakin lama waktu rendaman, semakin tinggi laju korosinya.  
Pemodelan Intensitas Rekahan pada Fractured Basement Reservoir dengan Pendekatan Konsep Geologi Menggunakan Analisis Kualitatif di Cekungan Sumatra Tengah Muchamad Ocky Bayu Nugroho; Carolus Prasetyadi; Teguh Jatmiko
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Offshore : Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1165.858 KB) | DOI: 10.30588/jo.v2i1.347

Abstract

Lokasi Penelitian terletak di Selat Malaka dan termasuk dalam Cekungan Sumatra Tengah. Secara stratigrafi, Batuan Dasar Cekungan Sumatra Tengah berumur Pra Tersier dengan litologi batuan sedimen yang termalihkan atau metasedimen. Berdasarkan data sumur pemboran, batuan dasar di lokasi penelitian secara umum berupa kuarsit dan filit. Rekahan pada batuan dasar dikontrol oleh periode tektonik regional yang mempengaruhi Sumatra. Sesar-sesar yang terbentuk berarah umum Utara Barat Laut – Selatan Tenggara (NNW – SSE), hasil dari fase tektonik selama Paleogen hingga Neogen yang menghasilkan morfologi batuan dasar beragam akibat adanya horst graben dan half graben. Morfologi tinggian adalah yang berpotensi menjadi reservoir karena batuan induk yang terletak lebih rendah akan memungkinkan migrasi hidrokarbon. Identifikasi rekahan batuan dasar dianalisa berdasarkan data pemboran sumur dan seismik. Intensitas rekahan dibangun berdasarkan model dengan pendekatan 4 parameter geologi yaitu intensitas rekahan dengan jarak dari bidang sesar, intensitas rekahan dengan pucak antiklin, intensitas rekahan dengan jarak dari permukaan batuan dan dibantu dengan atribut seismik. Nilai intensitas yang memungkinkan terbentuk rekahan adalah 0,3-1.The research site is located in the Malacca Strait and is included in the Central Sumatra Basin. Stratigraphically, the basement of the Central Sumatra Basin is Pre-Tertiary with thermal sedimentary or metasediment lithology. Based on data from drilling wells, bedrock in the study site generally consists of quartzite and filite. Fractures in bedrock are controlled by regional tectonic periods affecting Sumatra. Faults that form are generally north-north-south-south (NNW-SSE), resulting from tectonic phases during Paleogene to Neogene which produce various bedrock morphologies due to horst graben and half graben. Height morphology is the potential to be a reservoir because the source rock which is located lower will allow hydrocarbon migration. Identification of basement fractures was analyzed based on well and seismic drilling data. The fracture intensity was built based on the model with a 4 geological parameter approach, namely fracture intensity with distance from the fault plane, fracture intensity with anticline peaks, fracture intensity with distance from the rock surface and assisted with seismic attributes. The intensity value that allows the fracture to form is 0.3-1.
Potensi Batuan Induk Hidrokarbon Serpih Gumai di Talang Padang, Kabupaten Tanggamus Propinsi Lampung Listriyanto Listriyanto; Sugeng Widada; Basuki Rahmad; Salatun Said; Hendaryono Hendaryono
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Offshore : Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.38 KB) | DOI: 10.30588/jo.v1i1.237

Abstract

Identifikasi interval batuan yang mungkin berpotensi sebagai batuan induk merupakan langkah awal eksplorasi yang penting, oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian tentang potensi batuan sedimen yang mengandung bahan organik dengan kadar tertentu, yang oleh panas dan waktu dapat menghasilkan hidrokarbon dalam bentuk minyak atau gas secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi fasies dan potensi batuan induk hidrokarbon Formasi Gumai di Talang Padang, Cekungan Sumatra Selatan. Analisis geokimia guna mengetahui potensi dan kualitas batuan induk dilakukan pada serpih penyusun Formasi Gumai. Hasil analisis potensi dan kualitas Batuan Induk menunjukkan kandungan TOC 3,55 termasuk “sangat baik”. Rock-Eval menunjukkan bahwa serpih berpotensi “sedang” sebagai batuan induk hidrokarbon (S2 = 4,32 kg/ton). Angka Ro (<0,6) menunjukkan tingkat pematangan hidrokarbon belum tercapai. Nilai HI yang relatif tinggi mencerminkan bahwa batuan ini jika mencapai kematangan akan cenderung menghasilkan minyak. Nilai HI antara 456 mgHC/g umumnya berasal dari kerogen tipe II yang secara dominan mengandung unsur organisme laut dan darat.Rock Identification intervals that might be as potential source rocks is an important initial exploration step, therefore it is necessary to conduct research on the potential of sedimentary rocks containing certain levels of organic material, which by heat and time can produce hydrocarbons in the form of oil or gas appropriately. This study aims to identify the facies and potentials of the Gumai Formation hydrocarbon source rock in Talang Padang, South Sumatra Basin. Geochemical analysis to determine the potential and quality of the source rock is carried out on the Gumai Formation shale. The results of the analysis of the potential and quality of the Parent Rock showed that the TOC content of 3.55 was "very good". Rock-Eval shows that shale has the potential to be "medium" as a hydrocarbon source rock (S2 = 4.32 kg/ton). Ro (<0.6) indicates the level of hydrocarbon maturation has not been reached. The relatively high HI value reflects that if these rocks reach maturity they will tend to produce oil. HI values between 456 mgHC/g are generally derived from type II kerogen which predominantly contains marine and terrestrial organisms.
Pengaruh Karakter Fracture Pada Properti Reservoar Dan Perhitungan Sumberdaya Gas Reservoar Fractured Basement Menggunakan Model Dan Simulasi Monte Carlo Muchamad Ocky Bayu Nugroho
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Offshore : Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1095.52 KB) | DOI: 10.30588/jo.v4i1.711

Abstract

Area penelitian terletak pada Cekungan Sumatera Tengah dengan Batuan Dasar berumur Pra Tersier yang tersusun atas litologi batuan metasedimen dan beku (Heidrik & Aulia, 1993). Periode tektonik 3 fase yaitu rifting, wrenching dan inversion sangat mempengaruhi fracture yang berkembang pada batuan dasar. Fase akhir yaitu inversion menjadi penentu karakteristik fracture yang berada pada batuan dasar karena terkait dengan konektivitas dan aperture. Analisis fracture menggunakan kontrol sesar-sesar besar (major) untuk menentukan arah fracture yang berasosiasi dengan sesar tersebut. model intensitas fracture dibangun dengan 3 parameter geologi yaitu jarak dari bidang sesar, jarak dari pucak antiklin, jarak dari permukaan batuan dan dibantu dengan atribut seismik (Nugroho dkk, 2018). Karakter fracture didapatkan dengan model DFN (Discrete Fracture Network), open fracture memiliki arah umum N 007º - 013º E dan N 035º - 046º E. Hasil model menunjukan Aperture/jarak bukaan rekahan rata-rata 0,6 – 1 mm dengan permeabilitas 0 - 700 mD dan porositas fracture 0.1 – 10%. Simulasi Monte Carlo menggunakan  parameter nilai tersebut menjadi batas atas (maksimum) dan batas bawah (minimum) dengan parameter lain dari data sumur. Dari hasil perhitungan dengan simulasi Monte Carlo didapatkan P90 sebesar 32.4 BCF, P50 sebesar 88.29 BCF dan P10 sebesar 240.05 BCF, dimana masing-masing menunjukkan pada perkiraan yang optimistik hingga pesimistik. Kata Kunci : Basement, Fracture, Reservoar, Monte Carlo
Potensi Campuran Kotoran Sapi dan Limbah Cair Rumah Pemotongan Ayam Sebagai Sumber Energi Penghasil Biogas Ucik Ika Fenti Styana; Ganggan Nur Widodo; Muhammad Sigit Cahyono
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.082 KB) | DOI: 10.30588/jo.v6i1.1142

Abstract

AbstrakKetersediaan energi alternative merupakan tantangan yang harus dihadapi sebagai solusi adanya krisis energi Sumber energi alternatif yang mudah untuk dikembangkan di masyarakat salah satunya adalah biogas, sebagai hasil dekomposisi bahan organik  dengan proses fermentasi anaerob. Pada penelitian ini biogas diibuat dari kombinasi antara kotoran sapi dan  limbah cair rumah pemotongan ayam sebagai substrat bahan biogas. Biogas yang dihasilkan dapat diketahui komposisi yang optimal, volume biogas terbanyak, dan uji nyala api yang dihasilkan. Penelitian dilaksanakan di Jetis Prenggan, Sidokarto, Godean, Sleman, Yogyakarta. Metode penelitian adalah analisa deskriptif dengan tahapan persiapan digester, pembuatan substrat, proses fermentasi anaerob, analisa pH, analisa suhu, analisa tekanan biogas, analisa volume biogas, dan uji nyala biogas. Variasi yang digunakan adalah campuran kotoran sapi dan limbah cair rumah pemotongan ayam  yaitu digeter A (5 liter : 2 liter), digeter B (3,5 liter : 3,5 liter), digester C ( 2 liter : 5 liter) dilakukan pengulangan dengan kapasitas digester 25 liter dan lama waktu fermentasi 30 hari. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa digester B merupakan komposisi yang optimal dan menghasilkan volume biogas tercepat pada hari ke-4 dengan volume tertinggi sebesar 11,32 liter dengan hasil uji nyala api yang berwarna biru.AbstrackThe energy crisis is a challenge to develop alternative energy sources to support the availability of existing energy sources. One of the energy sources that is easy to develop in the community is biogas. It is the result of decomposition of organic matter through anaerobic fermentation process which produces bio gas in the form of combustible methane gas. This study used cow dung and a mixture of liquid chicken slaughterhouse waste as a substrate for biogas with the aim of knowing the optimal composition, the largest volume of biogas, and the resulting flame test. The research was located in Jetis Prenggan, Sidokarto, Godean, Sleman, Yogyakarta. This is a descriptive analysis with research stages including preparation of anaerobic fermentation digester, manufacture of substrate, fermentation process in the digester, pH analysis, temperature analysis, biogas pressure analysis, biogas volume analysis, and biogas flame test. This study used 3 variations of a mixture of cow dung and liquid waste of a chicken slaughterhouse, namely digeter A (5 liters: 2 liters), digeter B (3.5 liters: 3.5 liters), digester C (2 liters: 5 liters) and repeated. with a digester capacity of 25 liters and a long fermentation time of 30 days. The results obtained show that digester B is the optimal composition and produces the fastest volume of biogas on day 4 with the highest volume of 11.32 liters with a blue flame test result.
Analisa Geoelectrical Strike Metode AMT untuk Identifikasi Awal Potensi Sistem Panas Bumi di Daerah Gunung Pancar Bogor Jawa Barat Wahyu Hidayat; Hafiz Hamdalah; Hana Aulia K
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Offshore : Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.33 KB) | DOI: 10.30588/jo.v3i1.487

Abstract

Satu daerah yang diduga terdapat sistem panasbumi adalah daerah Gunung Pancar, Bogor, Jawa Barat. Beberapa mata air panas yang muncul di sekitar daerah penelitian memperkuat dugaan adanya sistem panasbumi di daerah tersebut. Metode geofisika yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi sistem panasbumi adalah Metode Audio Magnetotelurik (AMT). Penelitian ini menggunakan metode AMT untuk mendapatkan gambaran bawah permukaan dengan pemodelan 1D dan pemodelan 2D. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software MT Editor, Interpex, dan Petrel. Geoelectrical strike digunakan untuk mengetahui arah strike bawah permukaan dimana nilai kontras resistivitasnya dapat diindikasikan sebagai gangguan geologi. Data yang digunakan adalah data angle dan radius pada software MT Editor. Sementara software yang digunakan untuk membuat diagram roset adalah software GeoRose. Hasil pemodelan menunjukkan adanya komponen panasbumi berupa claycap (1 Ω.m – 10 Ω.m) dan reservoir (10 Ω.m – 20 Ω.m) pada kedalaman 300 m hingga 2000 m. Lapisan young sedimentary rock diinterpretasikan sebagai zona aliran air panas dengan nilai tahanan jenis sebesar 10 Ω.m – 100 Ω.m. Sistem panasbumi di daerah penelitian diduga dikontrol oleh struktur geologi berupa sesar mendatar, antiklin, dan sinklin yang berkembang di bagian timurlaut daerah penelitian. The areas that possibly had geothermal system is Mount Pancar, Bogor, West Java. There are several hot springs found around the study area. The geophysical method that can be used to identify the geothermal system and geological structure is the Audio-Magnetotelluric Method (AMT). AMT method is used to obtain subsurface overview with 1D modeling and 2D modeling. Data processing is done by using MT Editor, Interpex, and Petrel software. Geoelectrical strike is used to determine the direction of the subsurface strike by resistivity value. The most dominant angle and radius data from software MT Editor is used to make rosette diagram to show the geoelectrical strike. The results of 1D modeling showed the geothermal component such as claycap (1 Ω.m - 10 Ω.m) and reservoir (10 Ω.m - 20 Ω.m) at a depth of 300 m to 2000 m. The young sedimentary rock layer is interpreted as a discharge zone with a resistance value of 10 Ω.m - 100 Ω.m. The geothermal systems in the study area might be controlled by geological structures in the northeast of the study area.

Filter by Year

2017 2025