cover
Contact Name
Fenansus Ngoranmele
Contact Email
ngoranmelefenan@gmail.com
Phone
+6285244171956
Journal Mail Official
fides_ratio@yahoo.com
Editorial Address
Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon, Jl. Pakatora Pohon Mangga, Kole-kole Pante, RT 001/RW 06 – Poka Rumah Tiga
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon
ISSN : 25487043     EISSN : 27217566     DOI : 10.47025
ilsafat Etika Teologi Kontekstual Hukum Gereja Sosio Religius Antropologi Komunikasi Pastoral Ajaran Sosial Gereja Pastoral
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2022): Desember" : 5 Documents clear
Personalisme Karol Wojtyła Lesomar, Antonius Alex
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 7, No 2 (2022): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v7i2.97

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mempresentasikan kekhususan personalisme Karol Wojtyła. Personalisme yang dikembangkan oleh Wojtyła adalah personalisme substantial. Personalismenya adalah kombinasi dari pendekatan metafisika dan fenomenologi. Melalui kedua pendekatan ini ditemukan bahwa manusia adalah suppostium sekaligus sebagai personal being (pengada personal).  Kekhususan dari manusia sebagai personal being yaitu ia menjadi sumber atau subjek dari eksistensinya dan semua bentuk dinamisme (apa yang terjadi pada manusia dan tindakan sadar) yang pantas bagi manusia. Person tidak hanya sebagai subjek dalam arti objektif, dalam ranah metafisika, tetapi juga subjek dalam arti subjektif atau subjek dari pengalaman, dalam ranah fenomenologi, dimana ia menyadari dan mengalami dirinya sebagai subjek.  Dan secara khusus dalam dan melalui tindakan sadar sebagai dinamisme khas person ditampakkan nilai personalistik, dimana dalam dan melalui tindakan ia memenuhi dirinya dalam arti moral sebagai seorang yang baik atau jahat. Untuk mencapai maksud dari penulisan ini maka metode yang digunakan yaitu analisa teks dan ekplanasi.
KONSEP MULTIKULTURALISME WILL KYMLICKA BAGI KEHIDUPAN BANGSA INDOSESIA Solilit, Fidelis
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 7, No 2 (2022): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v7i2.90

Abstract

AbstrakKonsep Multikulturalisme Will Kymlicka dan ditinjau dari sudut pandang filsafat politik. Persoalan yang diangkat adalah bagaimana Kymlicka mengupayakan agar ada kesetaraan dalam diri setiap orang baik itu mayoritas maupan minoritas, di mana setiap orang harus mendapat perlakuan yang sama tanpa membeda-bedakan kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Kesetaraan yang dimaksudkan adalah sikap penerimaan baik dalam minoritas dan mayoritas. Minoritas dalam konteks Kanada adalah masyarakat asli di dalam daerah tersebut. Sedangkan mayoritas dalam konteks ini adalah para imigran yang datang kemudian tinggal di daerah tersebut, di mana karena mereka memiliki kekuasaan sehingga menindas minoritas bangsa. Dengan demikian, konsep multikulturalisme pertama-tama membantu kita untuk mengerti betapa berharganya perbedaan dan membantu menyadarkan kita untuk terbuka serta toleran bagi perbedaan itu.Kata Kunci: Multikulturalisme, Minoritas, Mayoritas, Toleransi. AbstractWill Kymlicka's concept of Multiculturalism and viewed from the point of view of political philosophy. The issue raised is how Kymlicka strives for equality in everyone, be it a majority or a minority, where everyone must receive the same treatment without discriminating from one group to another. Equality is meant is an attitude of acceptance in both the minority and the majority. Minorities in the Canadian context are the indigenous peoples within the area. While the majority in this context are immigrants who came later to live in the area, where because they have the power to oppress the nation's minorities. Therefore, the concept of multiculturalism first of all helps us to understand the value of differences and helps make us aware of being open and tolerant of those differences.Kata Kunci: Multiculturalism, Minority, Majority, Tolerance.
KRISTUS AKTOR FLEXING YANG MEMPERJUANGKAN NILAI TANGGAPAN ATAS FENOMENA FLEXING Hananto, Dwi
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 7, No 2 (2022): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v7i2.89

Abstract

Flexing adalah fenomena pamer pencapaian di media sosial. Dewasa ini, figur publik yang melakukan flexing di masa pandemi mendapatkan kritik dengan berbagai alasannya. Dalam tulisan ini, flexing tidak melulu dilihat dalam sudut pandang negatif. Flexing dikaji berdasarkan kajian filsafat, biblis, maupun teologis. Pemikiran Guy Debord tentang Society of Spectakce digunakan untuk mengkaji filsafat fenomena flexing.  Dasar biblis yang digunakan yaitu kisah penyembuhan Yesus, untuk melihat tindakan flexing Yesus untuk mewartakan Kerajaan Allah di masa lampau.  Sedangkan Dokumen Etika dalam Berinternet digunakan sebagai pisau bedah teologis fenomena ini.
MOTIF-MOTIF DAN MASALAH-MASALAH PERKAWINAN BEDA AGAMA DI KOTA AMBON PROVINSI MALUKU Titirloloby, Benediktus; Refo, Ignasius S.S.
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 7, No 2 (2022): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v7i2.98

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan dan menjawab berbagai persoalan pra perkawinan maupun pasca perkawinan dari pasangan nikah beda agama di Ambon –Provinsi Maluku yang kendati telah memahami konsekuensi dan kesulitan dalam melansungkan pernikahan beda agama, namun tetap berani mengambil keputusan untuk menikah beda agama. Beberapa motif dan kemampuan adaptasi yang ditemukan dari penelitian ini menjadi dasar bagi para pasangan nikah beda agama untuk dapat mengatasi segala persoalan dan hidup sebagai keluarga yang harmonis. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatis dalam bentuk observasi dan wawancara. Tulisan ini dibuat dalam beberapa bagian yakni memperlihatkan hasil penelitian seperti temuan dan pembahasan. Salah satu keunikan atau kebaruan dari penelitian adalah terdapat salah satu motif yang melatarbelakangi pasangan nikah untuk menikah beda agama yakni kemendesakan faktor usia.The purpose of this study is to show and answer the various pre marriage and post marriage problems of different religions married couples in Ambon – Maluku Province who, despite understanding the consequences and difficulties in carrying out different religions marriages, still dare to take the decision to marry different religions. Some of the motives and adaptability found from this research become the basis for different religions married couples to be able to overcome all problems and live as a harmonious family. The method used is qualitative research in the form of observation and interviews. This paper is made in several parts, namely showing the results of research such as findings and discussion. One of the uniqueness or novelty of the research is that there is one motive behind married couples to marry between different religions, is the urgency of the age factor. 
Pengalaman Hidup Mistik Santa Teresa Dari Avila Serta Relevansinya Bagi Penghayatan Hidup Imamat Zaman Ini Lolowang, Ray Legio Angelo
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 7, No 2 (2022): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v7i2.102

Abstract

Abstrak Pengenalan akan Allah Bapa dan Putera-Nya melalui Roh Kudus dipahami dalam teologi Katolik sebagai hidup mistik. Kehidupan mistik dalam scope ajaran Gereja Katolik itu nyata dalam kesucian hidup para kudus. Salah satunya ialah Santa Teresa dari Avila. Pengalaman hidup Sta. Teresa dari Avila telah banyak memberi sumbangan berarti bagi perkembangan hidup spiritual banyak orang terlebih bagi seorang imam Kristus. Seorang imam sebagai promotor kehidupan spiritual sejatinya berkaca dari pengalaman Sta. Teresa dari Avila ini. Secara eksplisit gambaran tentang hidup saleh, suci dan yang berkenan kepada Allah seperti yang Sta. Teresa dari Avila hidupi itu ditunjukkan dalam berbagai ajaran Gereja. Telaah tentang Teologi Mistik dari sudut pandang Gereja Katolik dalam artikel ini didasarkan pada pengalaman pribadi orang kudus Gereja, Santa Teresa dari Avila bersama dengan Allah dalam hidup doa. Semakin Ia mengenal-Nya dalam kehidupan doa yang mendalam, semakin ia mengalami persatuan cinta mesra dengan Allah. Hidup dan Karyanya menjadi acuan hidup bagi imam di zaman sekarang dalam hidup spiritual dan usaha membangung keakraban yang mesra dengan Allah. Hidup doa dan relasi dengan Allah akan membawa pada keakraban dengan sesama sebagai wujud kesatuan tubuh mistik Kristus. AbstractThe knowledge of God the Father and His Son through the Holy Spirit is understood in Catholic theology as mystical life. The mystical life within the scope of the teachings of the Catholic Church is embodied in the sanctity of the life of the saints. One of them is Saint Teresa of Avila. The life experience of S. Teresa of Avila has made many important contributions to the spiritual development of many people, especially for a priest of Christ. The pastor as a mover of spiritual life actually reflects the experience of S. Teresa from Avila. A clear description of a pious, holy and pleasant life as stated by S. Teresa Avila's life is featured in various Church teachings. The study of mystical theology from the point of view of the Catholic Church in this article is based on the personal experience of the saint of the Church, S. Teresa of Avila with God in the life of prayer. The more she knows Him in a life of deep prayer, the more she experiences a passionate union of love with God. His life and work become a reference for priest this era in their spiritual life and efforts to build intimacy with God. A life of prayer and relationship with God will lead to intimacy with others as a manifestation of the unity of the mystical body of Christ.

Page 1 of 1 | Total Record : 5