cover
Contact Name
Ekasatya Aldila Afriansyah
Contact Email
ekasatyafriansyah@institutpendidikan.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
powermathedu@institutpendidikan.ac.id
Editorial Address
Jl. Neptunus Timur 1 Blok K 2 No 53c Komp Margahayu Raya Bandung
Location
Kab. garut,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu (PME)
ISSN : 29623952     EISSN : 2962245X     DOI : https://doi.org/10.31980/powermathedu
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu (PME) berisi artikel-artikel mengenai pendidikan matematika berbasis TIK yang ditulis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Naskah berupa diseminasi hasil penelitian yang dihasilkan oleh ahli, ilmuwan, praktisi, dan mahasiswa dalam bidang Pendidikan Matematika dengan lingkup: -Desain Pembelajaran Matematika -Pengembangan Bahan Ajar ataupun Model Pembelajaran -Pengembangan Media/Aplikasi Pembelajaran Matematika -Alat Peraga Pembelajaran Matematika -Analisis Kesulitan Siswa dalam Pembelajaran -Analisis Penerapan Model/Pendekatan/Metode/Strategi Pembelajaran -Media Pembelajaran berbasis IT -Penelitian Tindakan Kelas -Kreativitas dan Inovasi Pembelajaran Matematika Khusus untuk hasil penelitian, metode penelitian yang digunakan dapat menggunakan penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif, penelitian campuran, penelitian pengembangan, penelitian desain, ataupun jenis penelitian lainnya yang berkaitan dengan topik di atas.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2022)" : 10 Documents clear
Kemampuan pemecahan masalah siswa smp dalam menyelesaikan soal cerita pada materi persamaan kuadrat Heni Sri Utami; Nitta Puspitasari
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.912 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i1.1916

Abstract

Problem-solving skills are very important and must be possessed by all students. This is necessary to train students to get used to solving various problems. Problem-solving in the form of story questions needs serious attention because story questions provide a real picture of various life problems using mathematical sentences. The purpose of this study was to determine the problem-solving ability of junior high school students in solving story problems on the Quadratic Equations Material. This type of research is descriptive qualitative research. The technique of taking subject of this study used a purposive sampling technique. The subjects of this study were five grade IX junior high school students in Kutawaringin Village. Data collection techniques used are tests, interviews, and field notes. Data analysis techniques are data reduction, presentation, and conclusions. From the results of the study, it can be concluded that junior high school students have not been able to solve story problems on the Quadratic Equation material because students have not been able to apply all the indicators of problem-solving. This is because students are less careful in arithmetic operations which results in many errors. In addition, because students do not understand the concepts in the questions, so they cannot solve problems completely and most importantly, students are not familiar with non-routine questions.Kemampuan pemecahan masalah sangat penting dan harus dimiliki oleh semua siswa. Hal ini diperlukan untuk melatih siswa agar terbiasa memecahkan berbagai masalah. Pemecahan masalah dalam bentuk soal cerita perlu mendapat perhatian serius, karena soal cerita memberikan gambaran nyata tentang berbagai masalah kehidupan dengan menggunakan kalimat matematika. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah siswa SMP dalam menyelesaikan soal cerita pada materi Persamaan Kuadrat. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengambilan subjek penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Subjek dari penelitian ini adalah lima siswa SMP kelas IX di Desa Kutawaringin. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu tes, wawancara, dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa siswa SMP belum mampu memecahkan soal cerita pada materi Persamaan Kuadrat karena siswa belum mampu menerapkan seluruh indikator dari pemecahan masalah. Hal ini disebabkan karena siswa kurang teliti dalam operasi hitung yang mengakibatkan banyak terjadi kesalahan. Selain itu, karena siswa belum memahami konsep pada soal, sehingga belum bisa memecahkan masalah dengan tuntas dan yang paling utama adalah siswa tidak terbiasa dengan soal-soal non-rutin.
Kemampuan komunikasi matematis siswa pada materi persamaan dan fungsi kuadrat berdasarkan gender di desa sukamenak Alisa Mutiarani; Deddy Sofyan
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.276 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i1.1911

Abstract

Communication plays an important role in assisting students in constructing concepts and establishing links between abstract ideas and language and mathematical symbols. The purpose of this study was to determine students' mathematical communication skills on the material of equations and quadratic functions in terms of gender differences in Sukamenak village. The population in this study were students of SMP/MTs equivalent in the village of Sukamenak, while the sample was selected based on purposive sampling technique, with as many as 6 students consisting of 3 male students and 3 female students. Based on the description and analysis of the results of the research that has been done, it is known that male students get an overall score of 45, with a percentage of 75%, so that they are included in high mathematical communication skills, while female students get an overall score of 50, with a percentage of 83%, so it is included in the category of high mathematical communication skills. So, it can be concluded that the students' mathematical communication skills in the matter of equations and quadratic functions in Sukamenak village in terms of gender differences obtained similarities, both male students and female students belonging to the high category of mathematical communication skills.Komunikasi memainkan peranan yang penting dalam membantu siswa dalam membina konsep dan membina perkaitan antara ide dan bahasa abstrak dengan simbol matematika.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan komunikasi matematis siswa pada materi persamaan dan fungsi kuadrat ditinjau dari perbedaan gender di desa sukamenak. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP/MTs sederajat yang berada di desa sukamenak, sedangkan sampel dipilih berdasarkan teknik purposive sampling sebanyak 6 orang siswa yang terdiri dari 3 orang siswa laki-laki dan 3 orang siswa perempuan. Berdasarkan deskripsi dan analisis hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa: Siswa laki-laki memperoleh keseluruhan skor sebanyak 45, dengan persentase sebesar 75%, sehingga termasuk dalam kemampuan komunikasi matematis yang tinggi, sedangkan siswa perempuan memperoleh keseluruhan skor sebanyak 50, dengan persentase sebesar 83%, sehingga termasuk dalam kategori kemampuan komunikasi matematis yang tinggi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa pada materi persamaan dan fungsi kuadrat di desa Sukamenak ditinjau d perbedaan gender diperoleh kesamaan, baik siswa laki-laki maupun siswa perempuan tergolong kedalam kemampuan komunikasi matematis kategori tinggi.
Kemampuan koneksi matematis berdasarkan disposisi matematis siswa pada materi sistem persamaan linear dua variabel Ersa Siti Fatimah; Rostina Sundayana
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.455 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i1.1917

Abstract

The reality on the ground shows that students' ability to make mathematical connections is still relatively low. The purpose of this study was to determine the ability of mathematical connections based on the mathematical disposition of students on the material of a two-variable linear equation system in Jayaraga village. The population in this study were students of SMP/MTs equivalent in Jayaraga village, while the sample was selected based on a purposive sampling technique of 3 students. The analysis of the results of this study shows that the mathematical connection ability and mathematical disposition: (1) The students' mathematical connection ability and mathematical disposition are in the medium category. (2) The level of mathematical disposition ability tends to affect the level of students' mathematical connection abilities. Students who have a high level of mathematical disposition ability tend to have better mathematical connection abilities. Students who have a moderate level of mathematical disposition ability tend to have ordinary mathematical connection abilities. And students who have a low level of mathematical disposition skills tend to have low mathematical connection abilities. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam melakukan koneksi matematis masih tergolong rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan koneksi matematis berdasarkan disposisi matematik siswa pada materi sistem persamaan linear dua variabel di desa Jayaraga. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP/MTs sederajat yang berada di desa jayaraga, sedangkan sampel dipilih berdasarkan teknik purposive sampling sebanyak 3 orang siswa. Analisis hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan koneksi matematis dan disposisi matematik: (1) Kemampuan koneksi matematis dan disposisi matematik siswa masing-masing termasuk ke dalam kategori sedang. (2) Tingkat kemampuan disposisi matematik cenderung mempengaruhi tingkat kemampuan koneksi matematis siswa. Siswa yang memiliki kemampuan disposisi matematik tingkat kategori tinggi cenderung memiliki kemampuan koneksi matematis lebih baik. Siswa yang memiliki kemampuan disposisi matematik tingkat kategori sedang cenderung memiliki kemampuan koneksi matematis yang biasa. Dan siswa yang memiliki kemampuan disposisi matematik tingkat kategori rendah cenderung memiliki kemampuan koneksi matematis yang rendah.
Kesulitan siswa kelas viii dalam menyelesaikan soal cerita spldv dengan menggunakan langkah polya di desa cihikeu Siti Sanidah; Tina Sri Sumartini
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.186 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i1.1912

Abstract

The difficulty is a person's lack of ability to solve a problem, for example, difficulty learning in solving story problems, giving math problems in the form of story problems to students intended to show the interconnectedness of problem-solving in everyday life, seeing the many difficulties experienced by students in solving problems.  About the story, then there needs to be an analysis of the difficulty of students in solving the story problem. The purpose of this study is to find out the difficulties of class VIII students in solving SPLDV story problems in Cihikeu Village and to find out the factors that cause students to have difficulty in solving SPLDV story problems. The method in this study uses qualitative research methods, while the techniques selected are based on purposive sampling techniques for as many as 3 students. Participants in this study were students of class VIII of State Junior High School 4 Bungbulang. The techniques for data in this study are tests, interviews, and questionnaires. The results of this study showed that students had difficulty in determining the methods used and students had difficulty in proving back the results of the answers, while the causative factors were student's less understanding of concepts, students were less careful in reading the problem, and students' efforts in correcting the story question were still lacking.Kesulitan merupakan kurangnya kemampuan seseorang dalam menyelesaikan suatu masalah,  contohnya yaitu kesulitan belajar dalam menyelesaikan soal cerita. Pemberian soal matematika dalam bentuk soal cerita kepada siswa dimaksudkan untuk menunjukkan keterkaitan pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari, melihat masih banyaknya kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal cerita, maka perlu adanya analisis kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui kesulitan siswa kelas VIII dalam menyelesaikan soal cerita SPLDV di Desa Cihikeu dan untuk mengetahui faktor penyebab siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita SPLDV. Metode pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, sedangkan teknik yang dipilih berdasarkan teknik purposive sampling sebanyak 3 siswa. Partisipan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Bungbulang. Adapun teknik pengumulan data dalam penelitian ini adalah tes, wawancara dan angket. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menentukan metode yang digunakan dan siswa mengalami kesulitan dalam membuktikan kembali hasil jawaban, adapun faktor penyebabnya yaitu siswa kurang memahami konsep, siswa kurang teliti dalam membaca soal, serta usaha siswa dalam menyelesaikan soal cerita masih kurang.
Kemampuan berpikir kritis matematis antara siswa yang mendapat model problem-based learning dan discovery learning Bayu Adi Pratama; Dian Mardiani
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.772 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i1.1918

Abstract

The ability to think critically is still not optimal, this is because learning is not optimal. Therefore we need a variety of learning processes both approaches, methods, or innovative learning models to be able to improve the ability to think critically and mathematically. Learning models that support improving mathematical critical thinking skills are PBL models and DL models. The purpose of this study is to determine the mathematical critical thinking skills of students who get the PBL model better than the DL model. The research method used was a quasi-experimental study with a population of all grade XI students of SMA Negeri 11 Garut. Due to purpose sampling, the samples taken are two classes, namely class XI MIPA 5 as the experimental class I which gets the PBL model, and class XI MIPA 8 as the experimental class II which gets the DL model. The research instrument was used in the form of a description test and questionnaire. From the results of this study, it was concluded that the mathematical critical thinking ability that gets the PBL model is better than the DL model.Kemampuan berpikir kritis masih belum maksimal, hal ini dikarenakan pembelajaran yang belum optimal. Oleh karena itu di perlukan sebuah variasi proses pembelajaran baik pendekatan, metode, atau model pembelajaran yang inovatif untuk dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis. Model pembelajaran yang mendukung meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis adalah model PBL dan DL. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang mendapatkan model PBL lebih baik daripada model DL. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan populasi seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 11 Garut. Karena pengambilan sampel purpose sampling maka sampel yang diambil sebanyak dua kelas yaitu kelas XI MIPA 5 sebagai kelas eksperimen I yang mendapatkan model PBL dan kelas XI MIPA 8 sebagai kelas eksperimen II yang mendapatkan model DL. Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes uraian dan angket. Berdasarkan hasil analisis secara statistik diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan berpikir kritis matematis yang mendapatkan model PBL lebih baik dari pada model DL. 
Kendala orang tua dalam mendampingi siswa ditinjau dari hasil belajar matematika secara online Riri Puspita Dewi Permatasari; Ekasatya Aldila Afriansyah
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.496 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i1.1913

Abstract

Students' mathematics learning outcomes through online learning are still included in the poor category. In the current condition, parents have many obstacles in assisting students in learning mathematics online. The obstacles experienced by parents in assisting students to study at home include a lack of understanding of the material by parents. The purpose of this study was to analyze the constraints of parents in assisting students in terms of online mathematics learning outcomes. This research was conducted in Paas Village, Pameungpeuk District, Garut Regency. This study used a qualitative descriptive study with 5 students of class VII junior high school, 5 parents of class VII junior high school students, and 1 junior high school mathematics teacher of class VII, the selection of subjects was taken based on the level of parental education and parental occupation. The data collection technique used is triangulation (interviews, open questionnaires, and documentation). Data analysis techniques used are data reduction, data presentation, and data verification. The results of this study indicate that the more obstacles parents have in assisting students to learn mathematics online, the smaller the value of students' online mathematics learning outcomes. Obstacles of parents in accompanying students are most commonly found in the indicator of the educational background of parents with an average of 46% and the obstacles of parents in accompanying students are the least found in the indicator of the number of family members with an average of 30%. Hasil belajar matematika siswa melalui pembelajaran online masih termasuk dalam kategori kurang. Pada kondisi saat ini orang tua memiliki banyak kendala dalam mendampingi siswa dalam pembelajaran matematika secara online. Kendala-kendala yang dialami orang tua dalam mendampingi siswa belajar dirumah salah satunya meliputi kurangnya pemahaman materi oleh orang tua. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kendala orang tua dalam mendampingi siswa ditinjau dari hasil belajar matematika secara online. Penelitian ini dilakukan di Desa Paas Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut. Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian 5 siswa SMP kelas VII, 5 orang tua siswa SMP kelas VII, dan 1 guru matematika SMP kelas VII, pemilihan subjek diambil berdasarkan tingkat pendidikan orang tua dan pekerjaan orang tua. Teknik pengumpulan data digunakan secara triangulasi (wawancara, angket terbuka, dan dokumentasi). Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin banyak kendala orang tua dalam mendampingi siswa belajar matematika secara online, maka semakin kecil nilai hasil belajar matematika siswa secara online. Kendala orang tua dalam mendampingi siswa yang paling banyak ditemui pada indikator latar belakang pendidikan orang tua dengan rata-rata 46% dan kendala orang tua dalam mendampingi siswa yang paling sedikit ditemui pada indikator jumlah anggota keluarga dengan rata-rata 30%.
Kemampuan representasi matematis siswa ditinjau dari self-efficacy pada materi aritmatika sosial Anugrah Agung Nurbayan; Basuki Basuki
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.977 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i1.1919

Abstract

The ability of mathematical representation is the basic ability to construct mathematical concepts and think used in solving a problem. Self-efficacy is self-confidence in completing a task. The aim of the study was to find out the ability of students' mathematical representations reviewed from self-efficacy to social arithmetic material. This type of research is qualitative with a descriptive approach. The research subjects consisted of 3 junior high school students in class VII in Pamoyanan Village, Sukagalih Village, Tarogong Kidul District, and Garut Regency. The data collection techniques in this study are tests, interviews, and questionnaires. The results of this study showed that: (1) Subjects with high self-efficacy categories can solve problems in accordance with concepts and procedures, understand the relationships between social arithmetic, solve everyday problems, and can analyze and compare images; (2) Subjects with the category of self-efficacy are able to solve problems in accordance with concepts and procedures and understand the relationship between social arithmetic; (3) Subjects with low self-efficacy categories have no single indicator that can be completed.Kemampuan representasi matematis merupakan kemampuan dasar untuk membangun konsep dan berpikir matematis yang digunakan dalam menyelesaikan suatu masalah. Self-efficacy merupakan keyakinan diri dalam menyelesaikan tugas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan representasi matematis siswa ditinjau dari self-efficacy pada materi aritmatika sosial. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitiannya terdiri dari 3 siswa SMP kelas VII di Kampung Pamoyanan, Desa Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes, wawancara, dan angket. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Subjek dengan kategori self-efficacy tinggi dapat menyelesaikan soal sesuai dengan konsep dan prosedur, memahami hubungan antar aritmatika sosial, menyelesaikan masalah sehari–hari, serta dapat menganalis dan membandingkan gambar; (2) Subjek dengan kategori self-efficacy sedang dapat menyelesaikan soal sesuai dengan konsep dan prosedur dan memahami hubungan antar aritmatika sosial; (3) Subjek dengan kategori self-efficacy rendah tidak ada satu pun indikator yang dapat diselesaikan.
Kemampuan representasi matematis dan self-esteem siswa pada materi statistika Ai Ristiani; Iyam Maryati
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.475 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i1.1914

Abstract

Mathematics is a part of science that can improve one’s ability to think logically, rationally, critically, carefully, effectively, and efficiently. The ability of mathematical representation is one of the general goals of learning mathematics in schools. Self-esteem is one of the aspects that determines the success of students’ interaction in the social environment, through self-image, learning process, experiences, and interaction in the social environment. The aim of this study was to analyze the students’ ability in mathematical representation and self-esteem in statistic material. This study was conducted in Kp. Babakan Manggung, RT/RW 03/06, Ds. Sukajaya, Kec. Tarogong Kidul with the subjects of this research is seven students in third grade in Junior High School IT Bani Adam Hawa and taken by randomly. The technics of conducting the data in this research are test, interview, questionnaire, and observation. The result of this study indicates that: (1) the student's ability to represent is still low. Of the seven students, only four students thought that the question related to pictures and mathematical models were not much difficult. (2) students’ self-esteem attitude is still classified as moderate because of the lack of students’ ability to instill confidence in themselves in communicating mathematics in their life. The students who have less self-esteem are very concerned with students' achievements (3) the students still have difficulty in learning mathematics because the students often forget the formula and are confused about how to work the questions. Matematika adalah salah satu bidang ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam berpikir secara logis, rasional, kritis, cermat, efektif dan efisien. Kemampuan representasi matematis merupakan salah satu tujuan umum dari pembelajaran matematika di sekolah. Self-esteem merupakan salah satu aspek yang menentukan keberhasilan siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial, melalui citra diri, proses belajar, pengalaman serta interaksi dengan lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kemampuan representasi matematis dan self-esteem siswa pada materi statistika. Penelitian ini dilakukan di Kp. Babakan Manggung, RT/RW 03/06, Ds. Sukajaya, Kec. Tarogong Kidul dengan Subjek penelitian tujuh orang siswa SMP IT Bani Adam Hawa kelas IX yang diambil secara acak. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes, wawancara, angket, dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa : (1) Kemampuan representasi siswa masih tergolong rendah. Dari ketujuh responden hanya empat yang menganggap bahwa soal yang berkaitan dengan gambar, dan model matematika tidak terlalu sulit. (2) Sikap self-esteem siswa masih tergolong sedang karena masih kurangnya kemampuan siswa dalam menanamkan keyakinan terhadap dirinya dalam mengkomunikasikan matematika kedalam kehidupan sehari-hari. Siswa yang memiliki self-esteem kurang sangat mempengaruhi pada prestasi belajar lainnya. (3) Siswa masih mengalami kesulitan dalam belajar matematika karena siswa sering tiba-tiba lupa rumus serta bingung dalam langkah pengerjaan soal.
Kemampuan berpikir kreatif matematis dan self-confidence ditinjau dari kemandirian belajar siswa Atih Atiyah; Reni Nuraeni
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.762 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i1.1920

Abstract

Creative thinking in mathematics is a combination of logical and divergent thinking based on intuition but with mindful attention to flexibility, fluency, and novelty. The study aims to analyze how mathematical creative thinking skills and self-confidence are viewed from the independence of students learning. This research is a type of qualitative research using a descriptive approach. The research subjects in this study were 3 class VIII to Kp Kewong Desa Sukamulya Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Garut with circle material. The research instruments used in this research are in the form of written tests, questionnaires, and interviews. Based on the results of data analysis from research that has been done, it can be concluded that the level of student self-regulated learning affects the level of mathematical creative thinking and student self-confidence. Students with a high level of self-regulated learning have a high level of creative thinking ability and self-confidence, Students with a moderate level of self-regulated learning have a moderate level of creative thinking ability and self-confidence, likewise, students with low levels of self-regulated learning have low levels of creative thinking ability and self-confidence. Berpikir kreatif dalam matematika merupakan kombinasi berpikir logis dan berpikir divergen yang didasarkan intuisi tetapi dalam kesadaran memperhatikan fleksibilitas, kefasihan dan kebaruan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan berpikir kreatif matematis dan self-confidence ditinjau dari kemandirian belajar siswa. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Subjek  dalam penelitian ini adalah tiga orang siswa kelas VIII  di Kp Kewong Desa Sukamulya Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Garut dengan materi Lingkaran. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berupa soal tes tertulis, angket, dan wawancara. Berdasarkan hasil analisis data dari penelitian yang sudah dilakukan, siswa dengan kemampuan berpikir kreatif tinggi mampu menunjukkan indikator flexibility dan originality, siswa dengan kemampuan berpikir kreatif sedang mampu memperoleh indikator yaitu flexibility sedangkan siswa dengan kemampuan berpikir kreatif rendah tidak mampu menunjukkan indikator kemampuan berpikir kreatif matematis. Sehingga diperoleh kesimpulan bahwa tingkat kemandirian belajar siswa mempengaruhi tingkat kemampuan berpikir kreatif matematis dan tingkat kemandirian siswa mempengaruhi tingkat kepercayaan diri siswa.
Kesulitan pemecahan masalah matematis siswa berdasarkan self-esteem pada materi statistika Dini Kurniasari; Teni Sritresna
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.297 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i1.1915

Abstract

This study aims to determine the difficulties experienced by students in solving mathematical problems based on self-esteem in statistical material. The self-esteem of students with categories of high students, medium students, and low students. The research method used is descriptive qualitative. Data collection techniques in this study were the distribution of student self-esteem questionnaires, tests of students' mathematical problem-solving abilities, and interviews. This research was conducted in Kp. Ciloa Rt. 01 Rw. 08 Dec. Banjarsari district. Bayongbong Kab. Garut with the research subject of 3 students taken from class VIII and IX for the 2019/2020 academic year around Kp. Ciloa, the selected students were students in the high, medium, and low mathematical self-esteem categories. The subject matter used in this research is statistical material. The research instrument includes a student self-esteem questionnaire, questions about students' mathematical problem-solving abilities in the form of descriptions, and interviews. Based on the results of the study, it was found that students with high self-esteem categories in working on the problem-solving problems given did not experience difficulties and tended to understand concepts in mathematics, students with self-esteem categories were in the process of working on mathematical concepts and students with high self-esteem categories did not understand mathematical concepts. low self-esteem in the process, these students do not understand the concepts in mathematics so they are unable to work on the questions given by the researcher. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesulitan yang dialami siswa dalam pemecahan masalah matematis berdasarkan self-esteem pada materi statistika. Self-esteem siswa dengan kategori siswa tinggi, siswa sedang dan siswa rendah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah penyebaran angket self-esteem siswa, tes kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dan wawancara. Penelitian ini dilaksanakan di Kp. Ciloa Rt. 01 Rw. 08 Des. Banjarsari Kec. Bayongbong Kab. Garut dengan subjek penelitian 3 orang peserta didik yang diambil dari kelas VIII dan IX tahun ajaran 2019/2020 yang ada disekitar Kp. Ciloa, peserta didik yang terpilih adalah peserta didik dalam kategori self esteem matematis tinggi, sedang dan rendah. Pokok bahasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah materi statistika. Instrumen penelitian ini mencakup angket self-esteem siswa, soal-soal kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang berbentuk uraian dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa siswa dengan kategori self-esteem tinggi dalam pengerjaan soal-soal pemecahan masalah yang diberikan tidak mengalami kesulitan dan cenderung memahami konsep dalam matematika, siswa dengan kategori self-esteem sedang dalam pengerjaannya siswa tersebut kurang memahami konsep matematika dan siswa dengan kategori self-esteem rendah dalam pengerjaannya siswa tersebut tidak memahami konsep dalam matematika sehingga tidak mampu mengerjakan soal yang diberikan oleh peneliti. 

Page 1 of 1 | Total Record : 10