cover
Contact Name
Erna Meiliana
Contact Email
ernameiliana@trisakti.ac.id
Phone
+6287840093703
Journal Mail Official
jurnal_dimensi@trisakti.ac.id
Editorial Address
Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti Jl.Kyai Tapa No.1 Grogol Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 25275666     EISSN : 25497782     DOI : https://doi.org/10.25105/dim
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain diterbitkan oleh Fakultas seni Rupa dan Desain. Jurnal ini terbit 2 (dua) kali dalam setahun, yaitu Februari dan September. Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain merupakan jurnal bidang seni dan desain yang terbilang aktif sejak pertama kali diterbitkan dari tahun 2003 sampai sekarang. Menjadi salah satu jurnal seni dan desain yang banyak diminati oleh para penulis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2006)" : 9 Documents clear
ASPEK BUDAYA DESAIN GRAFIS Soeprapto Soedjono
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 4 No. 1 (2006)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1328.422 KB) | DOI: 10.25105/dim.v4i1.1308

Abstract

Abstract As a human creation, a grahic design is called cultural product due to its exixtence that has been created for fulfilling human's need by its capacity to share information through the cultural communication process. Its appearance that loaded with sense of techniques, ethics, and aesthetics values, a graphic design not jus functioning only as a visula 'message carrier' but it has been created in a form of cerative-aesthetics to serve its high-end objectives.Whilst its embedded cultural values lies not just in the viusal appearence alone but also in variety of considerations pertaining its formal elements and the meaning of its contents as well.Included within are any creative objectives wirh historical, communicative, aesthetics, economic, social politics and psychological values AbstrakSebagai karya cipta manusia desain grafis dikatakan sebagai produk budaya karena sifat entitasnya yang diciptakan bagi pemenuhan kebutuhan manusia dalam kelompoknya yang slaing berbagi informasi melalui proses komunikasi budaya. Dalam penampilannya yang sarat dengan nuansa teknik, etika dan estetika, desain grafis tidak sekedar berfungsi sebagai 'message carrier' semata tetapi merupakan bentuk medium yang dikemas secara estetis-kretaif guna memenuhi tujuan akhir penampilannya.Sedangkan nilai budaya yang dikandungnya tidak sekedar tercermin dalam tampilan wujud visualnya saja tetapi juga dalam beragam perimbangan penciptaan unsur-unsur bentuk dan mkana pesan yang dikandungnya. termasuk di dalamnya adalah varians tujuan penciptaaan desain grafis yang memiliki nilai historis , komunikatif estetis, ekonomis , sosial, politis dan psikologis.
TAKSU DALAM KEBUDAYAAN BALI Sangayu Ketut Laksemi Nilotama
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 4 No. 1 (2006)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (927.541 KB) | DOI: 10.25105/dim.v4i1.1309

Abstract

AbstractThe Balinese society ( Hindu) adopts the principle or quality achievement to generate quality work called as taksu. As a base for the achievement of quality art, taksu is easier to be seen , felt, and explained in the media of dancing as the manifestation can be visually seen. His research applied the qualitaitaive method to obtain holistic point of view from those involved within.From the analysis taksu is basically a thinking base in the attempts of expressing values and utmost beauty meanings. The achievement on the understanding of taksu values is principle thing for artists ( undagi) giving affect in mainstaining harmony and unity between bhuwana agung and bhuwana alit in accordance with the final destination of Balinese people that is achieving the savety of universe and reaching moksa ( eternity)\ AbstrakMasyarakat Bali ( Hindu) mengenal adanya suatu pedoman mengenai pencapaian kualitas untuk menghasilkan suatu karya bermutu, disebut taksu. Taksu sebagai lenadasan pencapaina kualitas seni lebih mudah dilihat, dirasakan dan dijelaskan melalui bentuk tarian, karena perwujudannya tampak secara visual. Penelitian ini mempergunakan metoda penelitian kualitatif, tujuannya untuk memperoleh pandangan secara holistikl dari mereka yang diteliti.Temuan-temuan yang diperoleh , taksu pada dasarnya merupakan landasan berpikir dalam upaya mengungkapkan nilai0nilai dan makna keindahan yang tertinggiPencapaian pemahaman nilai-nilai taksu merupakan sesuatu yng sangat penting bagi seniman ( undagi) karena akan berdampak dalam upaya menjaga kualitas keharmonisan dan keserasian antara bhuwana agung dan bhuwana alit, sesuai tujuan akhir hidup orang Bali, yaitu mencapai kesejahteraan jagad dan mencapai moksa ( keabadian akhirat) 
NGABEN : KETIKA KEMATIAN HANYA SEMENTARA Wegig Murwonugroho; Agus Nugroho Ujianto; Arief Datoem
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 4 No. 1 (2006)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1718.758 KB) | DOI: 10.25105/dim.v4i1.1310

Abstract

AbstractGenerally in every funeral ceremony , people are crying or emotionally weeping. But it is not happened in Bali. Ngaben a cremation ceremony for Hindu Balinese, become a boisterous party - a joy parade. It becomes a mass party that is do wild, yet so spiritual. For Hindu Balinese, a body is a temporary shell for an eternal soul. When man dies, the soul , with its five elements, has to be released from the body and then fly back to its macrocosm. The soul will might go throuh several kind of hell, spen some time in heave, and reincarnated in the different body. There is no weeping, due to the creamtion is the expected moment for the soul and also the member s of the family, release from mortal life to ascend to a state of ultimate oneness with God AbstrakSetiap upacara kematian biasanya diiringi dengan isak tangis dan ratap yang tak berkesudahan, namun tidak demikian di Bali. Ngaben, upacara pembakaran mayat Hindu Bali, menjadi ajang pesta kebahagiaan yang riuh. Menjadi pesta masal yang terkadang  terlihat begitu liar namun sangat sakral. Bagi orang Hindu Bali, tubuh adalah tempat tinggal sementara bagi jiwa yang abadi,Ketika manusia mati, maka sang Jiwa beserta kelima unsurnya harus melepaskan diri dari sang tubuh untuk kembali menyatu dengan alam makrokosmosnya. Jiwa itu akan melewati beberapa neraka, mencicipi surga, lalu akan dibangkitkan lagi dalam tubuh yang lain di dunia. Tak ada ratapan, karena peristiwa pembakaran inilah yang paling ditunggu oleh sang jiwa dan sanak saudara, membebaskan diri dari segala yang fana untuk berpulang menyatu kepada Hyang Widh
BALINESE RESTAURANT IN A COSMOPOLITAN BACKGROUND Cama Juli Rianingrum
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 4 No. 1 (2006)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1079.077 KB) | DOI: 10.25105/dim.v4i1.1311

Abstract

AbstrakBali adalah salah satu daerah wisata paling terkenal dan paling populer , dengan jumlah terbesar wisatawan mancanegara yang datang ke indonesia. Bali memiliki daya tarik yang luar biasa, antara lain karena keindahan alam yang tidak tercemar dan sellau terjaga kelestariannya. Hal tersebut karena filosofi hidup masyarakat nya yang berpatokan pada alam yang mempengaruhi segala segi kehidupan mereka, yaitu menjaga keseimbangan antara alam dan lingkungan hidup manusia. Dengan melihat pada kekayaan budaya Bali, maka bagi Jakarta yang merupakan kota modern dan heterogen akan sangat menarik bila terdapat restaurant dengan nuansa Bali, mulai dari menunya , pelayanannya, hiburannya dan interiornya. AbstractBali is one of the most famous tourist destinations in Indonesia with the largest foreign tourist arrival. Located in the southern part of Indonesia, between Java island and Lombok island. Bali has a remarkable attraction, in part because of its cultural heritage and the balance between nature, so that the beauty of it not spoiled. That all are caused by the philosophy of the society that centered arround nature, which in turn influence all aspects of life to balance between nature and environment by human being. Looking at the rich culture of Bali and Jakarta as a modern and diverse cosmopolitan, it would be interesting to have Balinese themed restaurant, starting form its menu, services, entertainment and interior.
FETISISME KOMODITI MELALUI PROSES KREATIF 347 Wajar Bimantoro
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 4 No. 1 (2006)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1766.333 KB) | DOI: 10.25105/dim.v4i1.1312

Abstract

AbstractComodity Fethishism which is related to creative process of 347 trademark. What is the relationship between them? Are they support each other , or is it just to make it sounds modern, or are they  do not have any relationship  at all? It moves from impish creativity to become imphisness that result cretaon will unlimited values. The form of efforts are also structurized and order , from the founder, owner, designer-who are also functioned as the creative team, to its proffesional employees. IN this case, the writer tries to simply describe how a 347  trademark, that works on selling fashion and accesories of youngsters in Bandung city might become the commodity that has mysterious power ( unique selling point ) among the youngsters ( not only in Bandung city, but also all the way to Jakarta) AbstrakFetisisme KOmoditi yang dihubungkan dengan proses kreatif pada merek dagang 347. Apa hubungan keduanya, apakah saling mendukung atau hanya sekedar istilah agar terlihat beken, atau memang tidak ada hubungannya sama sekali? Tulisan ini mencoba menjabarkan secara sederhana bagaimana suatu merek dagang 347 , yang bergerak dalam bidang penjualan fashion dan asesories anak muda di kota Bandung dapat menjadi komoditi yang mempunyai kekuatan yang misterius ( unique selling point) di kalangan anak muda
KONSEP DALAM FOTOGRAFI: UPAYA PENCAPAINA MAKNA DALAM SEBUAH KOMUNIKASI VISUAL Ferry Addianto
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 4 No. 1 (2006)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.569 KB) | DOI: 10.25105/dim.v4i1.1313

Abstract

AbstractThe art of photography is still considered as a new kind of art in Indonesia, and therefore is very much open for many discussions among profesional photographers as 'well as photography enthusiasts. One of the topics that is often occured in a discussion is of the importantance of concept to create a photo. Indeed , its is not unlikely to find a photio that is lacking in concept, thus making it monotonous and meaningless. The problem lays in the photographer's lack of understanding about concept and how it relates with a photo work. Therefore , this article tries to explain how important a good, well-planned concept in order for photo work to be meaingful to its audiences AbstrakSeni fotografi yang masih tergolong baru di Indonesia membuka ruang yang luas bagi diskusi baik antar fotografer maupun penikmat foto. Salah satunya yang sering diajukan sebagai topik pembicaraan adalah mengenai bagaimana sebuah konsep foto akan berpengaruh terhadap karya foto yang dihasilkan. Seringkali , memang , sebuah karya foto muncul tanpa ada konsep yang melatarbelakanginya. Akibatnya, karya foto itu terasa monoton dan kurang bermakna. INi tidak luput dari kurangnya poemahaman seorang fotografer mengenai kaitan antara konsep dengan karya foto. KArena itulah tulisan ini berusaha memaparkan pentingnya perencanaan konsep foto yang baik agar tercapai sebuah pemaknaan dari khalayak yang menikmati karya fotografi
PENCITRAAN KRIYA SEBAGAI PRODUK SENI WISATA Krishna Hutama
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 4 No. 1 (2006)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.739 KB) | DOI: 10.25105/dim.v4i1.1314

Abstract

AbstractNeed of souvenir to supply demand from local and international tourist could be assumed that keris was one of craft commodity with good prospect. The impact of tourism very influential to change over the shape of craft according to the tourist demands. Keris from center of Java souvenir that available for tourist was transmission media value that realized as an impression for tourist about everything they have got as long as their traveling. In the marketing contexts, imagination or creation of value impressed that tharnsfererd on souvenir was an important aspect to make tourism marketing succesfull. So that Central Java keris could be an associative bridge to recognize the culture which is the tourism placed AbstrakPengaruh pariwisata sangat menentukan terhadap prubahan bentuk bentuk karya seni sesuai dengan keinginan para wisatawan. Dalam konteks pemasaran, pencitraan atau penciptaaan kesan , kesan nilai yang diproyeksikan pada cenderamata  merupakan faktor yang menentukan keberhasilan pemasaran pariwisata.Dengan demikian cenderamata produk kriya dapat menjadi jembatan yang bersifat asosiatif dalam mengenal budaya pariwisata setempat.Kajian penilitian ini menyimpulkan bahwa pergeseran nilai dan fungsi produk kriya cenderung disebabkan oleh adanya kebutuhan-kebutuhan baru sesuai dengan tuntutan perubahan jaman. 
PERANAN TUNGKU TRADISIONAL MASYARAKAT MELAYU KUANTAN DI RIAU Ariani Ariani; Winne Susanti; Dyah Ayu
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 4 No. 1 (2006)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1865.644 KB) | DOI: 10.25105/dim.v4i1.1315

Abstract

AbtractIndonesia encompasses a large number or culture and ethnic groups; one of them is Melayu Kuatan in Riau. The tradisional cooking apparatus used is charcoal stove. How far are the influences of myths, functions, beliefs, and benefits of charcoal stoves toward the Melayu Kuantan society?There are some myths and prohibitions in using charcoal stoves as well as benefits of their wasteall of these things affect the life of Kuantan people until today . Even though there are some more modern cooking apparatuses such as electric stoves but many of them are still using charcoal stove regarding that they are traditional cooking apparatuses to perpetuate AbstrakBangsa Indoensia memiliki berbagai kebudayaan yang beraneka ragam serta berbagai macam suku bangsa, salah satunya masyarakat Melayu Kuantan di daerah Riau. Peralatan memasak tradisional yang dimilikniya  yaitu tungku.Seberapa jauh  pengaruh mitos , peranan kepercayaan, dan manfaat tungku bagi masyarakat Melayu Kelantan?Ada berbagai mitos, pantangan, atau larangan dalam menggunakan tungku serta manfaat limbah tungku, semua ini mempenagruhi kehidupan masyarakat Kelantan hingga sekarang. Walaupun sekarang telah banyak alat masak yang lebih modern yaitu kompor, namun masih ada masyarakat yang masih menggunakan tungku. Karena tungfku merupakan alat masak tradisional yang harus dilestarikan
SISTEM PENCAHAYAAN PADA RUANG KULIAH GEDUNG N FSRD , DI UNIVERSITAS TRISAKTI Rosalinda Wiemar
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 4 No. 1 (2006)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1402.16 KB) | DOI: 10.25105/dim.v4i1.1316

Abstract

AbstractLighting is one part of local planning. The meaning of lighting is not only function but also aethetic. Beside for activity , lighting is also can change atmosphir , which can enhance the qualities of activities in space.Artificial light energy , while most of energy use nowday, comes from fosil energy ( unrenewalable energy) and its becomes more exfensive and rare. On the contractery sun energy is limited and costless, is not yet use in maximal.So with a well when  construction , we can make sun energy as a maximum lighting search for the construction, and safe electric energy which comefrom unrenewable energy AbstrakPeacahayaan merupakan salah satu bagian dari aspek perencanaan ruang . Makna pencahayaan tidak hanya masalah fungsi namun juga estetis. Selain berfungsi sebagai penerangan , untuk dapat berativitas, pencahayaan juga dapat merubah suasana yang dapat meningkatkan kualitas kegiatan di dalam ruang.Cahaya buatan memerlukan energy , sedangkan sebagian besar sumber energi yang digunakan sekarang berasal dari energi fosil ( energi yang tidak terbarykan) yang semakin mahal dan langkaSebaiknya cahaya matahari sebagai sumber energi yang sangat besar dan cuma-cuma, belum dimanfaatkan secara maksimal. Oleh karenanya dnegan perancangan bangunan yang tepat , manusia dapat mengubah potensi energi surya menjadi sumber pencahayaan maksimal bagi bangunan.

Page 1 of 1 | Total Record : 9