cover
Contact Name
masyhuri rifai
Contact Email
elmaqraiqt@gmail.com
Phone
+6282345133563
Journal Mail Official
elmaqra@iainkendari.ac.id
Editorial Address
Jl. Mekar. BTN Nur 4 Ranomeeto Konawe Selatan
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
El-Maqra' : Tafsir, Hadis dan Teologi
ISSN : 29633982     EISSN : 2829114X     DOI : -
Core Subject : Religion,
Kajian jurnal meliputi berbagai hal yang berhubungan dengan al-Qur’an, tafsir, ilmu-ilmu al-Qur’an, ilmu-ilmu tafsir, living al-Qur’an, pemikiran tokoh tentang al-Qur’an, ilmu al-Qur’an, tafsir, ilmu tafsir dan seterusnya; demikian pula meliputi hal yang berhubungan dengan hadis, ilmu-ilmu hadis, living hadis, pemikiran tokoh tentang hadis dan sebagainya. Bahkan kajian berkaitan dengan theology seperti Perkembangan Teologi dan Keagamaan, sejarah, penelitian keagaamaan islam.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 1 (2024): Mei" : 8 Documents clear
NYANYIAN DALAM PERSPEKTIF HADIST (KAJIAN HADIS TEMATIK) Septiadi, Muhamad Dandi; Luthfi, Hikmatul
EL-MAQRA' Vol 4 No 1 (2024): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i1.6961

Abstract

Perkembangan zaman yang kini telah modern, diikuti juga oleh perkembangan para musisi dengan ditandai banyaknya lagu-lagu yang di ciptakan, Gabungan antara musik pendek dan lagu atau biasa di sebut nyanyian yakni menuai pro dan kontra dalam pandangan hadis, hal ini disebabkan karena banyak hadis yang mengharamkanya dan banyak hadis juga yang membolehkanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode tematik. Objek formal pada penelitian ini adalah Pandangan hadist terkait nyanyian yang dirumuskan berdasarkan tema-tema hadist. Objek material pada penelitian ini adalah nyanyian dalam perspektif hadis. Hasil daripada penelitian ini menunjukkan, bahwa tema-tema hadis terkait nyanyian dapat dirumuskan dalam kerangka teoritis moral islam dan etika nyanyian. Kesimpulan penelitian ini adalah tidak sepenuhnya nyanyian itu dilarang oleh Hadis, akan tetapi terdapat beberapa aspek serta kriteria dalam hal ini yang menjadikanya di bolehkan, yang mana aspek dan kriteria tersebut mencakup situasi dan kondisi seseorang bernyanyi dan juga kepentingan dari nyanyian itu sendiri.
PEMAHAMAN MAHASISWA PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN TAFSIR TERHADAP QS. AL-ISRA/17:32 SEBAGAI MOTIVASI MENJOMLO Rizki, Yupita Tri; Ikhsan, Muh. Ikhsan; Has, Muh. Hasdin
EL-MAQRA' Vol 4 No 1 (2024): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i1.7191

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemahaman mahasiswa program studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir IAIN Kendari terhadap QS. Al-Isra/17:32 secara tidak langsung dipahami sebagai motivasi untuk menjomlo atau tidak pacaran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi dan pendekatan sosiologi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi bersama mahasiswa program studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir angkatan 2019, 2020, 2021, dan 2022. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Hubungan antara individu satu dan lainnya yang bukan mahram dan tidak mempunyai ikatan pernikahan secara syariat Islam serta hanya berlandaskan ketertarikan secara biologis (syahwat) sudah tentu hubungan yang dilarang dalam Islam sebagaimana dalam QS. Al-Isra/17:32 telah jelas dikatakan jangan mendekati zina. Mendekati saja dilarang apalagi melakukan perbuatan zina. (2) pemahaman mahasiswa IAT terhadap QS. Al-Isra/17:32 menyatakan bahwa telah jelas dalam ayat tersebut larangan Allah kepada hambanya untuk menjauhi zina. Pacaran adalah suatu perbuatan yang dapat mendekati zina karena di dalamnya terjadi aktivitas bersama pasangan yang tidak sah tentu hal ini melanggar norma agama. Oleh sebab itu dari pemahaman ini mahasiswa IAT menganggap QS. Al-Isra/17:32 menjadi suatu motivasi untuk tidak pacaran. (3) Manfaat yang dirasakan mahasiswa IAT dari pemahaman QS. Al-Isra/17:32 sebagai motivasi menjomlo adalah merasa terlindungi dari perbuatan zina, merasa hati dan pikiran lebih tenang, lebih fokus beribadah, fokus dalam Pendidikan, dan lebih fokus dalam menggapai cita-cita. 
BIAS PATRIARKHI DALAM PRAKTIK POLIGINI DI KALANGAN DA’I PERSPEKTIF TAFSIR MAQASHIDI Hafadzah, Ahmad Sona
EL-MAQRA' Vol 4 No 1 (2024): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i1.7227

Abstract

The issue of polygyny is still controversial not only among the public, but also among Da'i, Ulama, Mufassir from classical to contemporary. This research will examine the patriarchal bias in the practice of polygyny which is widely narrated by Da'i circles. This study aims to analyze more objectively the verses about polygyny in the Qur'an using the maqasidi interpretation paradigm approach as a method of interpretation (as methodology) to further review the relationship between the interpretation of polygynous verses and the maqasid al-syari' principle. ah and maqashid al-qur'an and reveal maqashid behind polygynous verses that have been understood in society. The results of this study indicate that this verse has only reached the initial stage of interpretation where the ultimate goal or main maqasid of the verse is contained in the value of justice.
RESEPSI FUNGSIONAL AMALAN QS. IBRĀHĪM/14:41 STUDI KASUS DI PONDOK PESANTREN HAFALAN QURAN AHLUL ZIKRI WAL FIKRI DI DESA TAPULAGA KECAMATAN SOROPIA KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGGARA Kasim, Mira Kasim; Has, Muh. Hasdin Has Hasdin Has; Nasri Akib, Nasri Akib; Akbar, Akbar Akbar
EL-MAQRA' Vol 4 No 1 (2024): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i1.7355

Abstract

Penelitian ini membahas tentang Resepsi fungsional amalan QS. Ibrāhīm/14:41 Studi Kasus di Pondok Pesantren Hafalan Quran Ahlul Zikri Wal Fikri. Penelitian ini bertujuan untuk Pertama mendeskripsikan wacana QS. Ibrāhīm/14:41 dalam literatur tafsir, Kedua menelusuri prosesi serta respon pengamalan bagi pimpinan dan para santri dalam pembacaan QS. Ibrāhīm/14:41, Ketiga mengungkap hubungan pengamalan doa melancarkan hafalan al-Qur’an terhadap QS. Ibrāhīm/14:41 dalam tinjauan resepsi al-Qur’an. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data kemudian dianalisis berdasarkan kerangka teori yang digunakan sebagai pisau analisis yaitu teori living Qur’an yang menggunakan resepsi fungsional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama wacana QS. Ibrāhīm/14:41 dalam literatur tafsir tidak memiliki relasi dari amalan doa melancarkan hafalan, Kedua tradisi pembacaan QS. Ibrāhīm/14:41 dilaksanakan setiap hari sebelum melakukan penyetoran hafalan al-Quran dengan memiliki runtutan tata cara, Adapun menurut respon pimpinan yaitu dapat dijadikan sebagai strategi dalam melancarkan/memudahkan menghafal al-Quran. Sedangkan respon santri ada 85% santri memperoleh manfaat sebagai praktik doa mempermudah menghafal Quran, Ketiga tipologi tinjauan resepsi al-Qur’an terjadi karena adanya transmisi dan transformasi dalam pengamalan doa melancarkan hafalan yang menggambarkan adanya proses transfer pengetahuan, adaptasi, penyesuaian diri, perubahan praktik dan interpretasi dalam pengamalan.  Bacaan QS. Ibrāhīm/14:41, Resepsi Fungsional, Pondok pesantren hafalan Quran ahlul zikri wal  fikri
KHOTMUL QUR’AN: PEMAKNAAN SPIRITUALITAS DALAM PERINGATAN 100 TAHUN PONDOK MODERN DARUSSALAM, GONTOR Al-Hafids, Ahmad; Arifiyanto, Fuat; Maghfiroh, Fahma Amalia; Ma’rifah, Indriyani Ma’rifah
EL-MAQRA' Vol 4 No 1 (2024): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i1.8330

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi tentang praktik Khotmul Qur’an dalam konteks Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Al-Qur’an, sebagai panduan utama dalam kehidupan, mendapat perhatian khusus dalam tradisi Khotmul Qur’an di pesantren tersebut. Pada konteks Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Khotmul Qur’an menjadi simbol semangat dan komitmen para santri untuk mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Khotmul Qur’an juga menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan antar santri dan antara santri dengan guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami fenomena Khotmul Qur’an dalam konteks Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi deskriptif. Subjek penelitian melibatkan santri yang aktif dalam kegiatan Khotmul Qur’an dan beberapa guru pembimbing. Hasil penelitian memberikan wawasan mendalam tentang pemaknaan Al-Qur’an dan dampaknya dalam kehidupan masyarakat pesantren. Khotmul Qur’an dalam Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor menjadi sorotan utama, dengan penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi pada pemahaman lebih lanjut tentang fenomena pembacaan Al-Qur’an di masyarakat. Prospek penelitian ini melibatkan pengembangan lebih lanjut terkait praktik keagamaan di lembaga pendidikan Islam dan implikasinya dalam pengembangan pesantren.
ASPEK MAGIS DALAM TRADISI JAPPI-JAPPI PADA MASYARAKAT BUGIS MUSLIM KENDARI Darasyiddin A Safa'a, S.Ag, Muhammad Yusuf; Saputri, Irdawati Saputri; Safrudin, Moh Safrudin
EL-MAQRA' Vol 4 No 1 (2024): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i1.8596

Abstract

Tradisi jappi-jappi adalah salah satu bentuk resepsi fungsional Al-Qur’an yang ditemukan dalam komunitas masyarakat Muslim Bugis di kota Kendari yang mengamalkan surah Al-Fātiḥah untuk menemukan barang hilang. Berangkat dari fenomena tersebut artikel ini bertujuan untuk menganalisis lebih komprehensif terkait praktik tradisi jappi-jappi sebagai proses asimilasi dan islamisasi budaya lokal dengan menggunakan perspektif teori living qur’an. Artikel ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan integrasi keilmuan antara studi Al-Qur’an, sosial, dan historis. Temuan dalam artikel ini menunjukan bahwa tradisi jappi-jappi memiliki proses pelaksanaanya dimulai dengan melaksanaakan shalat sunnah hajat sebanyak dua rakaat, berdzikir, dan membacakan  surah Al-Fātiḥah kedalam air, kemudian artikel ini menemukan transmisi tradisi jappi-jappi yang ternyata dipelopori oleh Syekh Ahmad Khatib Sambas ia merupakan seorang ulama sufistik yang memadukan dua ilmu tarekat, artikel ini juga mengungkap mayoritas masyarakat setuju dengan dipraktikannya tradisi jappi-jappi. Maka tradisi jappi-jappi merupakan sebuah fenomena resepsi Al-Qur’an yang terjadi di kalangan Muslim Bugis di Kota Kendari.    
KONSEP MODERASI BERAGAMA DALAM PENAFSIRAN QS. AL-BAQARAH [2]: 143 (STUDI KOMPARATIF TAFSIR IBNU KAṠIR DAN TAFSIR AL-MISBAH) wakhidah, siti nur; Gaffar, Abdul Gaffar; Danial, Danial Danial; Rifai, Masyhuri Rifai
EL-MAQRA' Vol 4 No 1 (2024): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i1.8809

Abstract

This research is about the concept of religious moderation in the interpretation of QS. AlBaqarah [2]: 143 (comparative study of Ibnu Kaṡir's tafsir and Al-Misbah's tafsiraims to describe the method of interpreting QS. Al-Baqarah [2]:143 in the tafsir of Ibn Kaṡir and M.Quraish Shihab in the tafsir of Al-Misbah. Study This aims to describe the method of interpreting QS. Al-Baqarah [2] :143 in the tafsir of Ibn Kaṡir and M. Quraish Shihab in the tafsir of Al-Misbah after that in order to analyze the relationship between QS interpretation. Al-Baqarah [2]: 143 against religious moderation in Ibn Kaṡir's tafsir and Al-Misbah's tafsir. This research is qualitative research with the type of library research (Library research). The analysis technique used is the comparative analysis method (comparison). The research results show that: first, religious moderation in QS. Al-Baqarah [2] : 143 in Ibn Kaṡir's commentary which interprets from The word Ummatan Wasathan is the best choice, from the interpretation of the word الوسط interpreted with the word حيار choice then جواداال best so is choice the best جوادَاالَخيارو while in Tafsir Al-Misbah interprets the word Ummatan Waslahan is the middle or middle way. Second, the method used in Ibn Kaṡir's tafsir in interpreting QS. Al-Baqarah [2] : 143 is tahlili with a method of interpreting pieces of verse and strengthening it with Other verses of the Qur'an and hadith, while in the interpretation of Al-Misbah interpret QS. Al-Baqarah [2] : 143 using the opinion of para scholars and the opinions of the commentators themselves. Third, in terms of style, second This interpretation has differences if Ibn Kaṡir's interpretation tends to lead to tafsir Bi al-Matsur (interpreting the Qur'an with the Qur'an, the Qur'an with hadith) while the interpretation of Al-Misbah tends to be in the Adabi Ijtima'i style (style social culture literature). These two commentators lived in different eras namely the contemporary era and the present era. The writing also has different interpretations Ibn Kaṡir was written much more than 700 years ago while Tafsir Al-Misbah written in today's era, now from here it is clear that there must be differences in era or period that influences the interpretation of each interpreter.
ORISINALITAS AL-QUR’AN MENURUT PANDANGAN ORIENTALIS ( STUDI ANALISIS PEMIKIRAN TOSHIHIKO ISUTZU, ANDHREW RIPPIN DAN ANGELIKA NEUWIRTH) Mubarak, Muhammad Syahrul; Astika, Widia; Rahmawati, Rahmawati
EL-MAQRA' Vol 4 No 1 (2024): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i1.8907

Abstract

This article aims to provide a conceptual overview regarding orientalist thought towards the Koran which is in line with the thinking of Muslims in general. In this process, the authors apply qualitative data analysis based on library research through the steps of textual analysis and historical and dynamic contextual interpretation of orientalist thought which is in line with the thinking of Muslims in general. Through this analytical procedure, the author reveals that if the researchers previously examined non-Muslim orientalists who did not believe in the authenticity of the Al-Qu'an and the history of the revelation of the Qur'an. In contrast to the findings of the authors in this article, it shows that there are some non-Muslim orientalists who acknowledge the authenticity of the Qur’an and the history of the revelation of the Qur’an, although these thoughts are not immune to objections by orientalists or other scholars.

Page 1 of 1 | Total Record : 8