Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Etika Berkomunikasi Dalam Islam (Kajian Dalam Surat Al-Ahzab Ayat 32 Dan Ayat 70) Ira Trisnawati; Muhammad Syahrul Mubarak
AT-Tahdzib: Jurnal Studi Islam dan Muamalah Vol 8 No 1 (2020): At-Tahdzib
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam At-Tahdzib Ngoro Jombang Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.462 KB)

Abstract

Communication is a human need in every activity. Especially in muamalah, communication was an important role in the success and failure of these muamalah activities. Good communication can foster friendship and affection between humans. Ethics is a science that discusses the pros and cons of a human's behavior, human habits in his association with each other. Communication is the process of delivering a message or delivery of information which the meaning of the message’s sender to the recipient of the message, which is used as a tool to achieve certain goals. The ethics of Islamic communication is the procedure in conducting communication in accordance with moral values ​​in determining the good and bad behavior of a person by means of Islamic delivery, so that it leads to the benefit of humanity. This research uses library research method (literature) which focuses on searching and studying literature and other library materials by using qualitative methods and focusing the discussion on Surah al-Ahzab verse 32 and verse 70. Surah Al-Ahzab was a Madaniyah letter which discussing various legal issues, one of which is about the ethics of communication. Ethics in communication should be use qoulan karima and qoulan sadidan which are the teachings of Islam. Ethics taught in Surah al-Ahzab verse 32 and verse 70 teach us that in interacting we must use good ethics, especially in terms of communication, so as not to cause misinterpretation due to poor communication ethics.
DAKWAH YANG MENGGEMBIRAKAN PERSPEKTIF AL-QUR’AN (KAJIAN TERHADAP QS. AN-NAHL AYAT 125) Muhammad Syahrul Mubarak; Yusyrifah Halid
Al-MUNZIR Vol 13, No 1 (2020): Edisi Mei 2020
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/am.v13i1.1823

Abstract

Tulisan ini melakukan kajian terhadap salah satu ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an yaitu QS. An-Nahl [16]: 125. Dalam penafsirannya, ayat ini dijadikan sebagai landasan dalam memahami dan mengimplementasikan dakwah perspektif Al-Qur’an. Dakwah sebagai sebuah kegiatan yang hadir dalam rutinitas kehidupan umat beragama utamanya dalam hal ini umat Muslim, harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi masyarakat. Penulis mencoba menjabarkan dakwah yang menggembirakan dengan cara melakukan pengkajian terhadap QS. An-Nahl ayat 125. Dalam kajian ini, didapatkan bahwa ada dua hal yang mampu menggembirakan dakwah, pertama ialah pendakwah itu sendiri, dimana dirinya harus memiliki kompetensi yaitu: good will, good ethos, dan good moral character. Sedangkan yang kedua adalah metode yang digunakan. Ada tiga metode dakwah berdasarkan dalil diatas bil Hikmah, Maizah Hasanah, dan Jadilhum bi al-Lati Hiya Ahsan, yang kemudian dijabarkan agar ketiga metode tersebut mampu diterapkan dalam rangka mewujudkan dakwah yang menggembirakan yang tetap berada dalam koridor esensi dakwah berdasarkan tuntunan kitab suci Al-Qur’an.Kata Kunci: An-Nahl [16]:125, bil Hikmah, Maizah Hasanah, Jadilhum bi al-Lati Hiya Ahsan, Dakwah yang Menggembirakan.
REALISASI KOMUNIKASI MANUSIA PADA ALLAH (STUDI ATAS PENAFSIRAN SURAH AL-FATIHAH DALAM TAFSIR AT-TANWIR) SYAHRUL MUBARAK
Al-MUNZIR No 1 (2017): VOL 10 NO.1 MEI 2017
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.841 KB) | DOI: 10.31332/am.v10i1.803

Abstract

Tulisan ini membicarakan mengenai realisasi komunikasi yang dibangun manusia sebagai hamba kepada Allah sebagai Sang Pencipta. Dimana ada pola komunikasi yang baik dan dibangun secara dua arah. Sehingga apa yang disampaikan oleh Allah dalam firman-firman-Nya dapat dimaknai serta diterjemahkan dengan baik dalam kehidupan oleh manusia. Pembahasan komunikasi tersebut berdasarkan penafsiran surah al-Fatihah yang terdapat dalam Tafsir At-Tanwir. Kemudian menggunakan element komunikasi yang dikemukakan oleh Hamidi. Dengan begitu, dalam tulisan ini diketahui bahwa dengan terjadinya komunikasi yang baik berdasarkan petunjuk al-Qur’an tersebut merupakan bentuk dari realisasi komunikasi manusia pada Allah.Kata Kunci : Komunikasi Manusia Pada Allah, Surah al-Fatihah, Tafsir At-Tanwir.
PEMAKNAAN KONSEP AHSAN TAQWIM (SUATU KAJIAN TAHLILI PADA Q.S AT-TIN/95:4) Syahputri Wulan Pratiwi; Muh. Syahrul Mubarak
EL-MAQRA' Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.112 KB) | DOI: 10.31332/elmaqra.v1i2.3605

Abstract

AbstrakPenelitian ini berjudul ‚Pemaknaan Konsep Ah}san Taqwi>m‛. Penelitian ini bermaksud untuk melakukan pemaknaan kembali mengenai konsep Ah}san Taqwi>m yang terdapat pada  Q.S  al-Ti>n/95:4.  Dari  segi  penafsiran  dalam  literatur  tafsir  dan  sebagian  besar ulama-ulama Indonesia, menjelaskan makna Ah}san Taqwi>m pada kondisi fisik manusia yang sempurna dan bergerak sesuai fungsinya. Namun, pada realitasnya tidak semua manusia terlahir dan memiliki kondisi fisik sempurna (difabel). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Q.S al-Ti>n/95:4, memaknai konsep Ah}san Taqwi>m dalam al-Qur’an, memaknai konsep Ah}san Taqwi>m terhadap kondisi masa kini. Penelitian ini merupakan penelitian  pustaka,  dengan  data  primer  Surah  al-Ti>n/95:4  didukung  dengan  beberapa data sekunder dari berbagai literatur. Data tersebut dikaji menggunakan metode tafsir tahli>li. Berdasarkan penelitian ini, diketahui bahwa makna konsep Ah}san Taqwi>m tidak tepat jika dipahami sebagai ungkapan sebaik-baik bentuk, terbatas hanya dalam pengertian fisik. Karena anugerah Allah Swt., bukan hanya terletak pada fisik, melainkan wujud syukur dengan memaksimalkan penghambaan kepada Allah Swt. Terkait dengan relevansinya dengan masa kini, sebagian besar manusia yang memiliki keterbatasan fisik, jauh lebih semangat dalam menjalani hidup dan beribadah kepada Allah Swt. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun manusia memiliki kondisi fisik yang tidak sempurna tetap termasuk manusia Ah}san Taqwi>m. Oleh karena itu, pemaknaan konsep Ah}san Taqwi>m yang peneliti temukan, tidak lagi berbicara mengenai fisik saja. Melainkan hati yang senantiasa bersyukur kepada Allah Swt., sebagai pencipta dan memaksimalkan segala pemberian Allah Swt., terhadap dirinya.Kata Kunci: Ah}san Taqwi>m, Q.S al-Ti>n/95:4, Pemaknaan
PERSPEKTIF AL-QUR’AN TENTANG MUKAAN DAN TASDIYAH (SUATU KAJIAN MAUDU’I) Zulkarnain Zulkarnain; Syahrul Mubarak
EL-MAQRA' Vol 2, No 1 (2022): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.34 KB) | DOI: 10.31332/elmaqra.v2i1.3993

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi dengan praktek tepuk tangan di Baitullah yang secara nyata disebutkan dalam al-Qur’an, namun dengan penekanan yang negatif. Kemudian rumusan masalah ini yaitu: pertama, Hakikat muka>an dan tas}diyah. kedua, Wujud muka>an dan tas}diyah. ketiga, Dampak bagi pelaku dan penerima muka>an dan tas}diyah. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan atau (library research). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan tafsir, Psikologis, dan Antropologis dengan menggunakan data primer berupa al-Qur’an dan data sekunder berupa kitab-kitab tafsir. Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tafsir Maud}u>’i. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ayat yang serupa dengan Muka>an dan Tas}diyah terdapat dalam al-Qur’an sebanyak 28 ayat, kemudian yang peneliti jadikan bahan penafsiran yaitu QS. al-Anfa>l/8:35, QS. al-Hujurat/49:11, Hud/11:38, Luqman/31 6 dan al-Hajj/22: 25. Dari beberapa ayat di dalam al-Qur’an terdapat kata mengejek, mengganggu, mengolok-olok dan menghalangi. Hakikat muka>an dan tas}diyah dari berbagai penafsiran, bahwasanya ada beberapa kata yang berbeda mengenai muka>an dan tas}diyah, tetapi memiliki hakikat yang sama yaitu mengejek dengan berbagai jenis ejekan perkataan atau perbuatan. Kemudian wujud muka>an dan tas}diyah mengejek dengan perkataan dan perbuatan. Adapun dampak muka>an dan tas}diyah yaitu kepada pelaku, penerima, dan masyarakat yang dapat merugikan dan bersifat negatif.Kata Kunci: Muka>an, Tas}diyah and al-Qur’an.
ANAK SEBAGAI UJIAN DAN MUSUH KAJIAN TAFSIR KONTEKSTUAL Fitriani Fitriani; Muh. Syahrul Mubarak; Akbar Akbar; Danial Danial
EL-MAQRA' Vol 2, No 2 (2022): November
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.001 KB) | DOI: 10.31332/elmaqra.v2i2.5263

Abstract

Penelitian ini membahas tentang anak sebagai ujian dan musuh kajian tafsir kontekstual. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis makna anak sebagai ujian dan musuh, mengeplorasi penafsiran al-Qur’an tentang anak sebagai ujian dan musuh dan mengetahui relevansi al-Qur’an tentang anak dalam merespon fenomena childfree. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka, dengan data primer berupa kitab-kitab tafsir dan al-Qur’an di dukung dengan beberapa data sekunder. Data tersebut menggunakan metode kontekstual. Berdasarkan penelitian ini, diketahui bahwa makna anak sebaga ujian dan musuh yang berarti cobaan buruk atau cobaan yang menyusahkan seperti bencana dan kelaparan termasuk juga perbuatan-perbuatan yang menyimpang dan menentang kebenaran, fitnah yang berarti cobaan baik yaitu cobaan melalui kenikmatan dan kesenangan, fitnah yang berarti cobaan secara umum. Artinya, secara umum dijelaskan bahwa dalam kehidupan ini pasti ada ujian baik maupun buruk. Adapun makna musuh musuh merujuk kepada syaitan, lebih khusus lagi bahwa kata aduww atau musuh memiliki dua bentuk kata yaitu jin dan manusia. Adapun Penafsiran al-Qur’an anak sebagai ujian dan musuh peneliti menemukan beberapa ayat di dalam al-Qur’an tentang ujian dan musuh yaitu berjumlah 13, kemudian peneliti mengambil dua ayat yang penafsiran kontekstualnya secara tegas menjaskan Anak sebagai ujian dan musuh dalam al-Qur’an QS. al-Anfal/28 dan QS. at-Taghabun/14 jika diklasifikasikan menurut penafsiran kontekstual, anak sebagai ujian sudah ada pada zaman Rasulullah Saw, yang pada saat itu suatu kaum ahli Mekkah yang masuk Islam. Akan tetapi istri dan anak-anaknya menolak untuk hijrah ke Madinah untuk beribadah kepada Allah Swt. Terkait dengan konteks masa kini, ketika orangtua bekerja membanting tulang tak kenal lelah demi sang anak mencurahkan segenap upaya demi kebahagiaan anak, tetapi melalaikan kewajiban sebagai hamba untuk beribadah kepada Allah Swt. Terkait Relevansi penafsiran al-Qur’an tentang anak dalam merespon fenomena childfree. Peneliti, tidak menyalahkan orang yang melakukan childfree hanya saja dari segi pemikiran, dimana pemikiran tersebut tidak ingin mempunyai anak. Sementara didalam al-Qur’an secara tegas menyebutkan bahwa anak merupakan penyambung keturunan, harapan untuk menjadi sandaran di kala usia lanjut
Makna Jihad dalam al-Qur’an menurut Penafsiran Ibnu Katsir Akmal Alna; Fatira Wahidah; Muh. Ikhsan; Muh. Syahrul Mubarak; Nurdin
Gunung Djati Conference Series Vol. 9 (2022): The 3rd Conference on Islamic and Socio-Cultural Studies (CISS)
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.217 KB)

Abstract

This study aims to discuss the meaning of jihad in the Qur'an according to the interpretation of Ibn Kathir. This study uses a qualitative approach by applying the descriptive-analytical method. The formal object of this research is the methodology of Ibn Kathir's interpretation, while the material object is the word jihad in the Qur'an. The results of the discussion of this study indicate that Ibn Kathir does not explore in depth the linguistic rules regarding the word jihad in the Qur'an but tends to use the source of the bi al-ma'tsur interpretation consistently as a reinforcement of the argument in his interpretation, he also does not explore the issue of jihad in the Qur'an. aspects of fiqh and socio-cultural aspects but when interpreting a verse about jihad will go straight to the core of the verse using a textual approach Ibn Kathir tends to interpret the verses of jihad in the Qur'an as a war against the enemy to defend Islam, he also emphasizes the urgency jihad and its virtues and features with concepts that are in line with Islamic law and in accordance with what is outlined by the Qur'an and also explained by the hadiths of the Prophet Muhammad. That is, the meaning of jihad in the Qur'an in Ibn Kathir's view does not only mean war, but the word jihad has a broad meaning. This study recommends that jihad must be interpreted comprehensively or thoroughly to avoid misunderstandings in the meaning of jihad.
Perbandingan Antara M. Quraish Shihab dan Buya Hamka tentang Makna Tabayun dalam Al-Qur’an Surah al-Hujarat Ayat 6 Sohibul Ajemain; Nasri Akib; Sri Hadijah Arnus; Muhammad Syahrul Mubarak; Samsu
Gunung Djati Conference Series Vol. 14 (2022): Mercusuar 2022: Studi Keislaman dan Pemberdayaan Umat
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.095 KB)

Abstract

Analisis Perbandingan Konsepsi Ketuhanan dalam Al-Qur’an dan Bible Esti Oktavya; Nurdin; Muh. Ikhsan; Fatira Wahidah; Muhammad Syahrul Mubarak
Gunung Djati Conference Series Vol. 14 (2022): Mercusuar 2022: Studi Keislaman dan Pemberdayaan Umat
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.814 KB)

Abstract

This study aims to discuss the comparison of the conception of God in the Qur'an and the Bible. This study uses an approach by applying the descriptive-analytical method. The formal object of this research is divinity in the Qur'an and the Bible. While the material object is the comparison of divinity in the Qur'an and the Bible. The results based on this discussion indicate that the comparison of the conception of God in the Qur'an and the Bible has a congruence of meaning with the parameters in the lexeme meaning God in the Qur'an and the semantic Arabic Bible in the Qur'an and the Bible. This study concludes that a comparison of the conception of divinity in the Qur'an and the Bible can be developed based on the instructions of the Qur'an, the Bible and the opinions of various figures.
Perspektif Tafsir Al-Mishbah tentang Membangun Kesadaran untuk Kembali pada Allah Swt Muhammad Syahrul Mubarak
PAPPASANG Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v5i1.542

Abstract

This paper is a literature study that talks about the message of self-awareness to return to Allah Swt. The intended return is divided into two things, the first is returning in an active sense through repentance. Repentance also has three meanings, renewing faith, replacing ugliness with good and eliminating sins. Second, returning in a passive sense, namely when a person's life has been revoked (through death). The responsibility for the life of the world will certainly be passed by every human being and plenary happiness is to gain the pleasure of Divine which is proven when returning to Allah Swt a servant succeeds in obtaining and being placed in Allah's heaven. Keywords: Return to Allah, Repentance, Heaven of Allah Swt.