cover
Contact Name
Yuniar Hajar Prasekti
Contact Email
agribisfp@gmail.com
Phone
+6281357357676
Journal Mail Official
mufida.yeahhh@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ki Mangunsarkoro Beji Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung
Location
Kab. tulungagung,
Jawa timur
INDONESIA
Agribis
ISSN : 19787901     EISSN : 27978109     DOI : https://doi.org/10.36563/agribis
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agribis diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Tulungagung. Menerima artikel ilmiah kajian tentang ekonomi pertanian dan agribisnis.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 1 (2021): April 2021" : 7 Documents clear
ANALISIS USAHA PEMBENIHAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gabrie pinus) Studi Kasus Di BBI Bolorejo Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung YUNIAR HAJAR PRASEKTI; Irfan Yahya Hadianto
Jurnal AGRIBIS Vol. 7 No. 1 (2021): April 2021
Publisher : Univeritas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.812 KB) | DOI: 10.36563/agribis.v7i1.285

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian terkait dengan usaha pembenihan ikan lele sangkuriang untuk mengetahui pendapatan petani pembenihan ikan lele di Kabupaten Tulungagung. Metode pengambilan sampel dilakukan secara sensus, selain itu untuk analisis data menggunakan kualitatif dan kuantitatif. Pelaksaan penelitian tersebut dilaksanakan tanggal 2 Februari – 28 April 2020. Hasil penelitian menunjukkan Balai Benih Ikan Bolorejo melakukan sistem pembenihan ikan lele sangkuriang menggunakan dua sistem yakni alami dan buatan. Pendapatan yang paling besar terdapat pada sistem buatan sebesar Rp 3.000.000/siklus pemijahan dan pendapatan Rp 2.000.000/siklus pemijahan untuk sistem alami. Sedangkan untuk Benefit Cost Ratio pada sistem buatan sebesar 1,4 dan 1,1 untuk sistem alami. Kata Kunci: analisis usaha, pembenihan, ikan lele sangkuriang ABSTRACT The research objective is related the catfish sangkuriang to determine the income of catfish farmers in Tulungagung Regency. The sampling method was carried out by census, in addition to data analysis using qualitative and quantitative. This research was on 2 February - 28 April 2020. The results showed that the Bolorejo Fish Seed Center carried out a catfish sangkuriang system using a natural system and an artificial system. The highest income is found in artificial systems, amounting to Rp. 3,000,000/spawning cycle and Rp. 2,000,000/spawning cycle for natural systems. Meanwhile, the Benefit Cost Ratio for artificial systems is 1.4 and 1.1 for natural systems. Keywords: analysis business, hatchery, catfish sangkuriang
ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN HOME INDUSTRI TEMPE KRIPIK KELOMPOK USAHA JAJANAN KHAS KABUPATEN TRENGGALEK Wiwiek Andajani; Nina Lisanty; Agustia Dwi Pamujiati; Eko Yuliarsha Sidhi
Jurnal AGRIBIS Vol. 7 No. 1 (2021): April 2021
Publisher : Univeritas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.254 KB) | DOI: 10.36563/agribis.v7i1.288

Abstract

ABSTRAK Usaha untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat adalah yang selalu diusahakan, baik oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, dengan menggunakan berbagai programnya, yang tentu saja harus tetap memperhatikan potensi yang ada di daerah masing-masing.Agar potensi daerah dapat bermanfaat, maka masyarakat melakukan kegiatan ekonmi, dengan melihat peluang yang ada, sarana dan prasarana ekonomi yang dapat menunjang serta mendorong kegiatan ekonomi tersebut. Salah satunya adalah usaha produk olahan tempe, karena tempe adalah salah satu bahan makanan yang sudah merakyat, dan dikonsumsi hampir setiap hari oleh masyarakat Indonesia, dari masyarakat kalangan atas sampai bawah, yang tidak dibatasai oleh status sosial. Hal ini menarik bagi peneliti untuk mengetahui, berapa pendapatan produsen home industri tempe kripik, dan faktor yang mempengaruhinya. Dari faktor umur, tingkat pendidikan dan pengalaman atau lama usaha, manakah yang paling berpengaruh terhadap pendapatan produsen home industri tempe kripik. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan melakukan survei, sedangkan penentuan daerahnya dilakukan secara sengaja, dengan alasan bahwa Kelurahan Tamanan, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu daerah sentra home industri tempe kripik yang ada di Jawa Timur. Dari hasil analisis dapat diketahui rata-rata pendapatan produsen home industri tempe kripik, dalam satu kali produksi adalah Rp 695.650,- sedangkan faktor umur, tingkat pendidikan dan lama usaha atau pengalaman ternyata tidak berpengaruh terhadap pendapatan, baik secara bersama-sama, maupun secara parsial. Kata Kunci: Faktor Produksi,Home Industri Tempe Kripik, Pendapatan ABSTRACT Efforts to create public welfare are what the regional and central governments always strive to make, by using various programs and utilizing any potential in each region. In order for the regional potential to be useful, the community shall carry out economic activities, by looking at the opportunities, economic facilities and infrastructure that can support and encourage economic activity. One of the examples is the business of processed tempe products, because tempe is one of the most popular foodstuffs, and is consumed almost every day by Indonesians, from the upper class to the lower classes, who are not limited by social status. This is interesting for researchers to find out the income of the home industry producer of tempe chips, and the factors that influence it. From the factors of age, level of education, and experience or length of business, which one has the most influence on the income of the home industry tempe chips producers. In this study using a quantitative descriptive method, by conducting a survey, while the determination of the area was conducted purposively at Tamanan Village, Trenggalek District, Trenggalek Regency as one of the centers for the home industry for tempe chips in East Java. From the results of the analysis, it can be seen that the average income of the home industry tempe chips producers, in one production was IDR 695,650. The factors of age, education level, and length of business or experience did not significantly affect income, either jointly or partially. Keywords: Production Factor, Home Industry, Tempe Chips, Income
RESPONS PETANI PADI TERHADAP PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK PETROGANIK BERSUBSIDI DI DESA SEPATAN KECAMATAN GONDANG KABUPATEN TULUNGAGUNG ERMAWATI DEWI
Jurnal AGRIBIS Vol. 7 No. 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.035 KB) | DOI: 10.36563/agribis.v7i1.289

Abstract

ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana respons petani padi terhadap penggunaan pupuk organikPetroganik bersubsidi di Desa Sepatan Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung.Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan menggunakan tabel frekuensi.Jumlah sampel yang digunakan adalah 30 orang petani yang memperoleh pupuk organik bersubsidi yang diambil secara acak, sedangkan penentuan lokasi penelitian secara purposive sampling.Data diperoleh dari observasi dan wawancara langsung dengan petani yang terpilih sebagai sampel dalam penelitian.Hasil penelitian yang diperoleh adalah respons kognitif atau tingkat pemahaman petani padi terhadap penggunaan pupuk organikPetroganik persentasenya tertingggi berada dalam kategori cukup untuk semua indikator. Persentase untuk indikator pengetahuan dan keunggulan pupuk Petroganik masing-masing sebesar 80%, tujuan pemberian pupuk Petroganik sebesar 70% dan manfaat pupuk Petroganik sebesar 50%.Respons afektif atau sikap petani padi terhadap pupuk Petroganik meningkatkan produksi (63%) dan pupuk Petroganik menghemat pupuk (50%) persentase tertinggi berada pada kategori cukup, sedangkan sikap bahwa pupuk Petroganik meningkatkan kesuburan tanah, persentase tertinggi (60%) pada kategori sesuai harapan.Respons konatif petani padi terhadap penggunaan dosis pupuk Petroganik, persentase tertinggi (40%) berada pada kategori tidak sesuai harapan Kata Kunci: respons, pupuk organik, Petroganik, pupuk bersubsidi
INOVASI PENGOLAHAN PEPAYA MENJADI SWIR PEPAYA GORENG SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN NILAI EKONOMI MUFIDA DIAH LESTARI; Siti Nur Nafi'ah; Aisy Intan Nabilah; Anas Nur Azizah
Jurnal AGRIBIS Vol. 7 No. 1 (2021): April 2021
Publisher : Univeritas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.285 KB) | DOI: 10.36563/agribis.v7i1.290

Abstract

ABSTRAK Proposal ini membahas tentang inovasi baru dalam menambah nilai serta manfaat dari buah pepaya. Buah pepaya sangat familiar oleh masyarakat terutama di Indonesia, merupakan buah yang memiliki ciri fisik yaitu berwarna orange ketika sudah masak dan berwarna hijau ketika masih mentah. Pepaya merupakan buah yang mengandung banyak vitamin A dan C. Pada umumnya pepaya hanya dimanfaatkan untuk dijadikan rujak,sayur dan dimakan secara langsung. Kegunaan pepaya sebagai sumber vitamin A yang mana vitamin A bermanfaat untuk membantu proses reproduksi dan kesehatan pada mata. Selain itu pepaya juga mengandung vitamin C yang bermanfaat untuk memperbaiki jaringan sel kulit dan mengurangi resiko serangan jantung.Tentunya hal ini sangat bermanfaat bagi tubuh manusia termasuk mahasiswa. Oleh karena itu, untuk menambah daya tarik dari buah pepaya, kini diciptakan alternative baru agar masyarakat tertarik untuk mengonsumsinya, yakni dengan membuat inovasi buah pepaya menjadi swir pepaya goreng sebagai peningkatan mutu nilai ekonomi buah pepaya. Kata Kunci: pepaya, inovasi, nilai ekonomi ABSTRACT This proposal discusses new innovations in adding value and benefits to the papaya fruit. Papaya fruit is very familiar to people, especially in Indonesia, is a fruit that has physical characteristics, namely orange when it is ripe and green when it is still raw. Papaya is a fruit that contains lots of vitamins A and C. In general, papaya is only used for salad, vegetables and eaten directly. The use of papaya as a source of vitamin A which vitamin A is useful for helping the reproductive process and eye health. In addition, papaya also contains vitamin C which is useful for repairing skin cell tissue and reducing the risk of heart attack. Of course this is very beneficial for the human body, including students. Therefore, to increase the attractiveness of papaya fruit, a new alternative is being created so that people are interested in consuming it, namely by making papaya fruit innovation into self-fried papaya as an increase in the quality of the economic value of papaya. Keywords: papaya, innovation, economic value
STRATEGI DESA DALAM PENGEMBANGAN LINGKAR WILIS (Studi kasus di Desa Nyawangan Kecamatan Sendang, KabupatenTulungagung) BAMBANG TRI KURNIANTO; Ahmad Dwi Kurnianto
Jurnal AGRIBIS Vol. 7 No. 1 (2021): April 2021
Publisher : Univeritas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.71 KB) | DOI: 10.36563/agribis.v7i1.291

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan: a) mengidentifikasi dan menganalisa Kekuatan,Kelemahan, Peluang dan Ancaman Desa Nyawangan, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung dalam pengembangan lingkar wilis; b) mengidentifikasi dan menganalisa alternatif strategi apa saja yang bisa dipakai Desa Nyawangan Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung dalam pengembangan lingkar wilis.Teknik analisis yang digunakan untuk memetakan alternative strategi dalam pengembangan Lingkaar Wilis melalui analisis SWOT maka dapat diketahui alternative strategi dalam mengembangkan tujuan wisata di Desa Nyawangan, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung yang perlu dikembangkan dimasa yang akan datang. Kata Kunci : SWOT, Strategi, Pengembngan Lingkar Wilis ABSTRACT The research aims to: a) identify and analyze the Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats of Nyawangan Village, Sendang District, Tulungagung Regency in the development of the wilis circle; b) identify and analyze alternative strategies that can be used by Nyawangan Village, Sendang District, Tulungagung Regency in developing the wilis circle. The analysis technique used to map alternative strategies in the development of the Wilis Circle is a SWOT (Strength Weakness Opportunity Threat Analysis) analysis. Through the SWOT analysis, it can be seen that alternative strategies in developing tourist destinations in Nyawangan Village, Sendang District, Tulungagung Regency that need to be developed in the future. Key word: SWOT, Strategy, Wilis Circle Development
ANALISIS KEMANFAATAN USAHA TANI KACANG TANAH SISTEM TUMPANGSARI HERRY NUR FAISAL
Jurnal AGRIBIS Vol. 7 No. 1 (2021): April 2021
Publisher : Univeritas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.324 KB) | DOI: 10.36563/agribis.v7i1.293

Abstract

ABSTRACT Peanuts are in the second most important position after soybeans in Indonesia, so they have the potential to be developed because peanuts have high economic value and have a large enough domestic market opportunity. Based on the area of ​​cultivation, peanuts rank fourth after rice, corn and soybeans. The results of the study are as follows 1). Farmers spend a production cost of Rp. 3,865,500 in a farm scale of 1 ha per planting season. Production costs include the means of producing fertilizer, purchasing peanut seeds, transportation and costs of tillage until the harvesting process. The net income received by farmers in farming peanuts in the intercropping system is the value obtained from the proceeds from the sale of peanuts minus all costs incurred by farmers in farming so that the farm income is IDR 6,434,500. 2). The B / C ratio of peanut farming in one crop in the intercropping in the village of kacangan, ngunut sub-district, Tulungagung Regency,> 1 is 1.66 so it is feasible to cultivate. Keywords: farming, economic benefits, peanuts, intercropping ABSTRAK . Kacang tanah menduduki posisi kedua terpenting setelah kedelai di Indonesia sehingga berpotensi untuk dikembangkan karena kacang tanah memiliki nilai ekonomi tinggi dan memiliki peluang pasar dalam negeri yang cukup besar.Berdasarkan luas pertanaman, kacang tanah menempati urutan ke empat setelah padi, jagung dan kedelai.Hasil dari penelitian sebagai berikut 1). Petani mengeluarkan biaya produksi sebesar Rp 3.865.500,- dalam ukuran skala usahatani 1 ha tiap satu kali musim tanam. Biaya produksi meliputi sarana produksi pupuk, pembelian benih kacang tanah, transportasi dan biaya pengolahan tanah sampai proses pemanenan. Pendapatan bersih yang diterima petani dalam berusahatani kacang tanah pada system tumpangsari merupakan nilai yang didapatkan dari hasil penerimaan penjualan kacang tanah dikurangi dengan semua biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam usahatani sehingga pendapatan usahatani sebesar Rp 6.434.500,-. 2). Rasio B/C usahatani kacang tanah dalam satu kali tanam pada tumpangsari di Desa kacangan kecamatan ngunut Kabupaten Tulungagung > 1 yaitu 1,66 sehingga layak untuk diusahakan. Kata Kunci : usaha tani, manfaat ekonomi, kacang tanah, tumpang sari
ANALISA USAHATANI KUBIS DENGAN MENERAPKAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU ABDUL ROCHMAN
Jurnal AGRIBIS Vol. 7 No. 1 (2021): April 2021
Publisher : Univeritas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.293 KB) | DOI: 10.36563/agribis.v7i1.294

Abstract

ABSTRAK Usaha untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat adalah yang selalu diusahakan, baik oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, dengan menggunakan berbagai programnya, yang tentu saja harus tetap memperhatikan potensi yang ada di daerah masing-masing.Agar potensi daerah dapat bermanfaat, maka masyarakat melakukan kegiatan ekonmi, dengan melihat peluang yang ada, sarana dan prasarana ekonomi yang dapat menunjang serta mendorong kegiatan ekonomi tersebut. Salah satunya adalah usaha produk olahan tempe, karena tempe adalah salah satu bahan makanan yang sudah merakyat, dan dikonsumsi hampir setiap hari oleh masyarakat Indonesia, dari masyarakat kalangan atas sampai bawah, yang tidak dibatasai oleh status sosial. Hal ini menarik bagi peneliti untuk mengetahui, berapa pendapatan produsen home industri tempe kripik, dan faktor yang mempengaruhinya. Dari faktor umur, tingkat pendidikan dan pengalaman atau lama usaha, manakah yang paling berpengaruh terhadap pendapatan produsen home industri tempe kripik. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan melakukan survei, sedangkan penentuan daerahnya dilakukan secara sengaja, dengan alasan bahwa Kelurahan Tamanan, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu daerah sentra home industri tempe kripik yang ada di Jawa Timur. Dari hasil analisis dapat diketahui rata-rata pendapatan produsen home industri tempe kripik, dalam satu kali produksi adalah Rp 695.650,- sedangkan faktor umur, tingkat pendidikan dan lama usaha atau pengalaman ternyata tidak berpengaruh terhadap pendapatan, baik secara bersama-sama, maupun secara parsial. Kata Kunci: Faktor Produksi,Home Industri Tempe Kripik, Pendapatan ABSTRACT Efforts to create public welfare are what the regional and central governments always strive to make, by using various programs and utilizing any potential in each region. In order for the regional potential to be useful, the community shall carry out economic activities, by looking at the opportunities, economic facilities and infrastructure that can support and encourage economic activity. One of the examples is the business of processed tempe products, because tempe is one of the most popular foodstuffs, and is consumed almost every day by Indonesians, from the upper class to the lower classes, who are not limited by social status. This is interesting for researchers to find out the income of the home industry producer of tempe chips, and the factors that influence it. From the factors of age, level of education, and experience or length of business, which one has the most influence on the income of the home industry tempe chips producers. In this study using a quantitative descriptive method, by conducting a survey, while the determination of the area was conducted purposively at Tamanan Village, Trenggalek District, Trenggalek Regency as one of the centers for the home industry for tempe chips in East Java. From the results of the analysis, it can be seen that the average income of the home industry tempe chips producers, in one production was IDR 695,650. The factors of age, education level, and length of business or experience did not significantly affect income, either jointly or partially. Keywords: Production Factor, Home Industry, Tempe Chips, Income

Page 1 of 1 | Total Record : 7