cover
Contact Name
Eko Pramudya Laksana
Contact Email
publisher@um.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
historiography.journal@um.ac.id
Editorial Address
Gedung A6, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jalan Semarang No. 5, Malang Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Historiography
ISSN : -     EISSN : 27984907     DOI : 10.17977
Core Subject : Humanities, Social,
Historiography: Journal of Indonesian History and Education publish original research papers, conceptual articles, review articles and case studies. The whole spectrum of Indonesian history, historical learning and history education, which includes, but is not limited to education systems, institutions, theories, themes, curriculum, educational values, historical heritage, media and sources of historical learning, and other related topics.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "vol 5, no 2 (2025)" : 6 Documents clear
Perkembangan Mode Pakaian Wanita Sebagai Identitas Diri Di Kota Surabaya Tahun 1960-1990 Talitha Jasmine Puteri Trisakti; Dewa Agung Gede Agung
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 5, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v5i22025p153-175

Abstract

The writing of this article reviews the development of women's clothing fashion in the city of Surabaya from the 1960-1990 in showing self-identity. This is motivated by the rapid development of fashion accompanied by the emergence of government policies regarding the use of clothing modes. The development of fashion was supported by mass media such as the publication of women's magazines such as Varia, Dunia Wanita, Liberty, Gadis, Mode, and the organization of fashion shows broadcast on television. The method used is the historical research method which includes four stages, namely heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The use of this method is combined with Sheldon Stryker's identity theory. This paper found the fact that the development of women's clothing fashion affects the creation of an identity and the existence of kebaya in the image of Indonesian women has been inherent and cannot be replaced. Penulisan artikel ini mengulas terkait perkembangan mode pakaian wanita di kota Surabaya tahun 1960-1990 dalam menunjukkan identitas diri. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh perkembangan mode yang pesat disertai munculnya kebijakan pemerintah mengenai penggunaan mode pakaian. Perkembangan mode didukung oleh media massa seperti terbitnya majalah wanita seperti Varia, Dunia Wanita, Liberty, Gadis, Mode, serta penyelenggaraan fashion show yang disiarkan di televisi. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang meliputi empat tahap, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Penggunaan metode tersebut dipadukan dengan teori identitas oleh Sheldon Stryker. penelitian ini menemukan fakta bahwa perkembangan mode pakaian wanita berpengaruh pada terciptanya suatu identitas dan eksistensi kebaya pada citra wanita Indonesia telah melekat tidak dapat digantikan.
ORIENTASI PEMILIHAN PEMUKIMAN ELIT BELANDA DI KAWASAN ARGO KELURAHAN LAWANG TAHUN 1879- 1942 Aisyah Salsabila; Hannah Amirah Utomo; Mohammad Davit Efendi Putra; Wisnu Luhung Pambudi; Ronal Ridhoi
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 5, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v5i22025p175-188

Abstract

Sejak awal abad ke-19, bangsa Belanda mulai berdatangan ke Lawang yang merupakan pintu gerbang Afdeeling Malang untuk mengembangkan sektor perkebunan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis orientasi pemilihan kawasan Argo di dataran tinggi Lawang sebagai pemukiman elit Belanda pada periode tahun 1879–1942. Penelitian ini menggunakan metode sejarah (historis) yang terdiri dari empat tahapan, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemukiman elit Belanda dibangun di kawasan Argo karena didukung oleh kondisi lingkungan sekitar yang memiliki udara sejuk dan pemandangan pegunungan yang indah. Selain itu, kawasan ini sangat strategis untuk mobilisasi penduduk dan hasil perkebunan karena letaknya yang berada tepat di depan Stasiun Lawang. Keberadaan pemukiman elit ini pada perkembangannya turut membentuk stratifikasi sosial di Lawang, di mana kawasan Argo didominasi oleh golongan atas Eropa, sementara kaum Timur Asing dan pribumi menempati wilayah di sekitarnya berdasarkan kedekatan akses terhadap transportasi.
Orientasi Pemilihan Pemukiman Elit Belanda di Kawasan Argo Kelurahan Lawang Tahun 1879-1942 Aisyah Salsabila; Hannah Amirah Utomo; Mohammad Davit Efendi Putra; Wisnu Luhung Pambudi; Ronal Ridhoi
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 5, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v5i22025p1-12

Abstract

Abstract Since the beginning of the 19th century the Dutch began arriving in Lawang (the gate of Afdeeling Malang) to develop plantations. This paper aims to describe the orientation of the election of Dutch elite settlements in the highlands of Lawang, especially in the Argo region. This paper uses the historical method which consists of 4 stages, heuristic, criticism, interpretation, and historiography. This paper shows that the elite settlement of the Netherlands was built in the Argo region because the area was supported by the surrounding environment which has cool air and beautiful mountain views. This area is also very strategic for the mobilization of people and plantation products because of its proximity to Lawang Station. KeywordsDutch elite settlement, Argo area, Lawang, Malang Abstrak Sejak awal abad ke-19 orang-orang Belanda mulai berdatangan ke Lawang (pintu gerbang Afdeeling Malang) untuk mengembangkan perkebunan. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan orientasi pemilihan pemukiman elit Belanda di daerah dataran tinggi Lawang, khususnya di kawasan Argo. Tulisan ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari 4 tahapan, heuristi, kritik, interpretasi, dan historiografi. Tulisan ini menunjukkan bahwa pemukiman elit Belanda dibangun di kawasan Argo karena wilayah tersebut didukung oleh lingkungan sekitar yang memiliki udara sejuk dan mountain view yang indah. Kawasan ini juga sangat strategis untuk mobilisasi manusia dan hasil perkebunan karena letaknya yang dekat dengan Stasiun Lawang. Kata kunciPemukiman elit Belanda, kawasan Argo, Lawang, Malang.
Pelestarian Rumah Adat Betawi Pada Masa Orde Baru 1995-1997 Aisyah Syahtul Ridha
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 5, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v5i22025p109-125

Abstract

Abstract Betawi culture is very diverse and has characteristics that can be found to this day, such as its art, food, language, and house architecture, which makes Betawi culture have an identity that can be used as legacy from each generation to be preserved. One of the cultural heritages that can captivate the Betawi soul when seeing in person is the Betawi traditional house in Jakarta. This article aims to preserve the preservation of Betawi traditional houses during the New Order era as a Betawi identity and is important for research as a form of Betawi cultural heritage that can continue to be preserved and preserved. This research uses historical methods, namely heuristics, criticism, interpretation, and historiography. From this research, the results obtained show that Betawi traditional houses play a role maintaining Betawi heritage through distinctive characteristics that are different from traditional houses of other tribes. Through Betawi traditional houses, many Jakarta also make this place a place for Betawi ethnic gatherings in Jakarta to stay in touch and hold various art performances, and as a Betawi rental place during the New Order era. This shows that the Betawi traditional house is not only a place for the Betawi tribe to live but also a gathering place for Betawi families for social and religious events.Abstrak PBudaya Betawi sangatlah beragam dan mempunyai ciri khas yang bisa ditemukan sampai saat ini, seperti keseniannya, makanannya, bahasanya, dan arsitektur rumahnya, yang membuat budaya Betawi mempunyai identitas yang dapat dijadikan warisan dari setiap generasi ke generasi untuk bisa dilestarikan. Salah satu warisan budaya yang dapat memikat jiwa Betawi ketika melihat secara langsung yaitu rumah adat Betawi di Jakarta. Artikel ini bertujuan mengkaji pelestarian rumah adat Betawi pada masa Orde Baru sebagai identitas Betawi dan penting untuk dijadikan penelitian sebagai bentuk dari warisan budaya Betawi agar dapat terus dipertahankan dan dilestarikan. Penelitian ini menggunakan metode Sejarah yaitu heutistik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa rumah adat Betawi berperan dalam mempertahankan warisan Betawi melalui ciri khas yang berbeda dari rumah adat lainnya. Melalui rumah adat Betawi juga, banyak masyarakat Jakarta menjadikan tempat tersebut menjadi tempat perkumpulan etnis Betawi di Jakarta untuk bersilaturahmi serta melakukan berbagai pertunjukkan kesenian dan sebagai tempat kontrakkan Betawi pada masa Orde Baru. Dengan demikian menunjukkan bahwa rumah adat Betawi selain menjadi tempat tinggal suku Betawi namun juga sebagai tempat berkumpulnya para keluarga Betawi untuk acara sosial maupun keagamaan.  
Kemerdekaan sebagai pembebasan kelas: refleksi marx atas perjuangan indonesia Asrar Ernas
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 5, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v5i22025p126-135

Abstract

Abstract This study examines Indonesia's struggle for independence through the lens of Karl Marx, emphasizing class conflict between the colonial powers and the indigenous population. It situates the nationalist movement within a broader socio-economic context, revealing that independence was not solely a political project, but part of a prolonged class struggle from the early 20th century until the post-independence era. Using historical methods grounded in the framework proposed by Kuntowijoyo (2003), this research analyzes archival and secondary literature to uncover how colonial exploitation structured Indonesian society along class lines. The findings highlight how figures such as Soekarno, Hatta, and Tan Malaka integrated class consciousness into national resistance, and how post-1945 Indonesia continued to grapple with inherited social and economic inequalities. This study offers a new perspective to view independence as a process of class liberation, reflecting on how the fight for political freedom intertwined with the quest for economic justice.. Abstrak Studi ini meneliti perjuangan Indonesia untuk kemerdekaan melalui lensa Karl Marx dengan penekanan pada konflik kelas antara kekuatan kolonial dan penduduk pribumi. Penelitian ini menempatkan gerakan nasionalis dalam konteks sosial-ekonomi yang lebih luas, menunjukkan bahwa kemerdekaan bukan semata perjuangan politik, melainkan juga perjuangan kelas yang berlangsung sejak awal abad ke-20 hingga pascakemerdekaan. Dengan menggunakan metode sejarah sebagaimana dikembangkan oleh Kuntowijoyo (2003), penelitian ini menganalisis literatur primer dan sekunder untuk mengungkap bagaimana eksploitasi kolonial membentuk struktur sosial Indonesia berdasarkan kelas. Temuan penelitian menunjukkan bagaimana tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, dan Tan Malaka mengintegrasikan kesadaran kelas dalam perlawanan nasional, serta bagaimana Indonesia pasca-1945 terus berjuang melawan ketimpangan sosial-ekonomi yang diwariskan kolonialisme. Studi ini menawarkan sudut pandang baru yang melihat kemerdekaan sebagai proses pembebasan kelas yang kompleks, di mana perjuangan politik dan keadilan ekonomi saling terkait.  
Perkembangan Representasi Perempuan Indonesia dalam Politik Parlemen, 1971-2009 Desi Susanti; Fauzan Syahru Ramadhan
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 5, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v5i22025p136-152

Abstract

Abstract This article focuses on examining the representation of Indonesian women in parliamentary politics 1971-2009. There are many problems faced by women in the field of politics in Indonesia, it turns out that women are still not properly represented. In addition, there is a phenomenon of inequality between men and women who are not fairly included as elements in the role of civil society in a democratic system. Therefore, this article aims to find out how women can develop and participate in the world of parliamentary politics in 1971-2009. This article uses a historical method that includes heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results of this study indicate that the development of Indonesian women's representation in parliament is influenced by domestic political dynamics and several factors become obstacles to the implementation of gender quotas. Women's organizations and civil society play a central role in encouraging greater involvement and representation for women in the public, political, and parliamentary spheres. All of this is done as part of an advocacy effort to create gender-responsive political policies. Abstrak Artikel ini fokus mengkaji tentang representasi perempuan Indonesia dalam politik parlemen 1971-2009. Terdapat banyak permasalahan yang dihadapi oleh perempuan dalam bidang politik di Indonesia, ternyata kaum perempuan masih belum terwakilkan dengan sepatutnya. Selain itu, muncul fenomena ketimpangan antara laki-laki dan perempuan yang tidak diikutsertakan secara adil sebagai elemen dalam peranan masyarakat sipil dalam sebuah sistem demokrasi. Oleh sebab itu, artikel ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perempuan dapat berkembang dan ikut serta dalam dunia politik parlemen pada 1971-2009. Artikel ini menggunakan metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa perkembangan representasi perempuan Indonesia dalam parlemen dipengaruhi oleh dinamika politik dalam negeri dan beberapa faktor menjadi kendala implementasi kuota gender. Organisasi perempuan dan masyarakat sipil memainkan peran sentral untuk mendorong keterlibatan dan keterwakilan yang lebih besar bagi perempuan dalam ranah publik, politik, dan parlemen. Semua itu dilakukan sebagai bagian dari upaya advokasi pembuatan kebijakan politik yang responsif gender.  

Page 1 of 1 | Total Record : 6