cover
Contact Name
Mulyawan Safwandy Nugraha
Contact Email
mulyawan77@gmail.com
Phone
+628121117577
Journal Mail Official
jurnal.lektur@gmail.com
Editorial Address
Gedung kementerian Agama RI lantai 20 Jl. MH. Thamrin No. 6 Kebon Sirih Menteng Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10340
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Lektur Keagamaan
ISSN : 16937139     EISSN : 2620522X     DOI : DOI: 10.31291/jlka
the studies of classic religious manuscripts; the studies of contemporary religious manuscripts; religious history and society; religious archaeology; and religious arts on the scope of Nusantara.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 16 No 2 (2018)" : 11 Documents clear
Makna Baru Naskah di Era Ekonomi Kreatif: Dangding Haji Hasan Mustapa dalam Kaos Jajang A Rohmana
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.864 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.538

Abstract

This study discusses the revitalization of Sundanese manuscripts in the formation of local cultural identity through creative economy of fashion industry in West Java. The main source is Sundanese manuscript of Haji Hasan Mustapa’s dangding (1852-1930) which is transfered into t-shirts design. Hasan Mustapa is a great Sundanese poet whose name is make into one of the street names in Bandung. Hasan Mustapa’s dangding t-shirts was really appreciated by its consumers from the Sundanese community and the observers of Hasan Mustapa’s thought. The design of Hasan Mustapa’s t-shirts has been a part of the new meaning of Sundanese literary script in the creative economy era of Indonesia. Through culture identity theory, the study confirm that anthropologically the manuscript can be transfered into any media. The t-shirts became an alternative media that represents an effort to strengthen the local culture as well as to indigenize religious values in contemporary Indonesia. Through the t-shirts design, Hasan Mustapa’s dangding manuscript can be disseminated into the Islamic public sphere. It significantly represents the so-called safari and cultural migrant as a form of local expression in the global era.Keywords: manuscript, dangding, t-shirts, distribution outlet, identity Kajian ini membahas revitalisasi naskah Sunda dalam pembentukan identitas budaya lokal melalui ekonomi kreatif industri fesyen di Jawa Barat. Sumber utamanya adalah teks naskah Sunda berupa puisi dangding Haji Hasan Mustapa (1852-1930) yang dialihmediakan ke dalam kaos. Hasan Mustapa adalah seorang bujangga Sunda terbesar yang namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Kota Bandung. Kaos dangding sufistik Hasan Mustapa mendapat apresiasi dari konsumen umumnya komunitas kesundaan dan pengkaji Hasan Mustapa. Desain kaos dangding Mustapa telah menjadi bagian dari pemaknaan baru naskah sastra Sunda di era ekonomi kreatif. Melalui perspektif teori identitas budaya, hasil kajian menegaskan bahwa secara antropologis, naskah dapat dimanfaatkan dalam media apapun seiring perkembangan zaman. Kaos menjadi sebuah media alternatif yang merepresentasikan upaya penguatan budaya lokal sekaligus indigenisasi nilai-nilai keagamaan di era Indonesia kontemporer. Melalui kaos pula naskah dangding Mustapa didiseminasikan dari manuskrip ke ruang publik. Ia secara signifikan mewakili apa yang disebut sebagai safari dan migransi budaya sebagai sebuah bentuk ekspresi lokal di era global.Kata kunci: naskah, dangding, kaos, distro, identitas
Hermeneutika Terjemah Al-Qur’an Era Kolonial: Telaah Kitab Terjemah Al-Qur’an Hidāḥyah al-Raḥmān Muhammad Fathur Rozaq
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.184 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.549

Abstract

The process of translating the Koran into local languages has a hermeneutic side that depends on the translator's milieu. This cannot be avoided as a logical consequence of the gradation of God's words into human words. Even the translated book of the Qur'an Hidāya al-Raḥmān by Muhammad Hanbali cannot be separated from the context - in this case colonial - so that this work also becomes an integral part that can be used to add fragments to the picture of the period. The author assumes that the study of this book has its own significance because the translation of the Qur'an has a broader range of verses than the Qur'anic commentary which is only studied by educated circles. This article will reveal the process of writing translation texts written in the pre-independence era. Furthermore, the factors causing the content of the text are arranged in a certain way as an answer or resistance to the problems at that time. Schleiermacher's hermeneutic theory will be used as an approach to understanding the overall picture or number and partial description or phenomenon of the text. From this it was found that the writing of this book was carried out carefully because of the supervision of the colonial government against the text to protect the status quo. Besides that, the nuances of the pensantren and Javanese ethics strongly influenced the writing style of the book.Keywords: Translation, Hidāya al-Raḥmān, colonial, hermeneutics. Proses penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa lokal memiliki sisi hermeneutis yang bergantung pada milieu penerjemah. Hal ini tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi logis akan gradasi dari kata-kata Tuhan menjadi kata-kata manusia. Pun kitab terjemah Al-Qur’an Hidāyah al-Raḥmān karya Muhammad Hanbali tidak lepas dari konteks –dalam hal ini kolonial– sehingga karya ini juga menjadi bagian integral yang dapat digunakan untuk menambah fragmen gambaran kurun tersebut. Penulis berasumsi bahwa telaah terhadap kitab ini memiliki signifikansi tersendiri karena terjemah Al-Qur’an memiliki jangakauan lebih luas daripada kitab tafsir Al-Qur’an yang hanya dikaji oleh kalangan terpelajar. Artikel ini akan mengungkap proses kepenulisan teks terjemah yang dikarang di era pra-kemerdekaan tersebut. Lebih jauh akan ditelaah faktor-faktor penyebab konten teks disusun dengan cara tertentu sebagai jawaban atau perlawanan atas permasalahan pada tempo itu. Teori hermeneutika Schleiermacher akan digunakan sebagai pendekatan untuk memahami gambaran keseluruhan atau nomena dan gambaran parsial atau fenomena dari teks. Dari sini ditemukan bahwa penulisan kitab ini dilakukan secara hati-hati karena adanya pengawasan dari pemerintah kolonial terhadap teks yang melawan status quo. Di samping itu nuansa kepesantrenan dan etika Jawa sangat kental memengaruhi gaya kepenulisan kitab.Kata Kunci: Terjemah, Hidāyah al-Raḥmān, kolonial, hermeneutika.
Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi Perang Obor di Tegalsambi-Jepara sebagai Karakteristik Islam Nusantara Efa Ida Amaliyah
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.558 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.552

Abstract

This research wants to describe the ritual processing of Perang Obor at Tegalsambi Jepara, Central Java, both of local wisdom tradition and the characteristic of Islam Nusantara. In this study uses anthropological approach to know how a faith illustrated in ritualism of Perang Obor especially to streghten traditional ties among individuals. The steps of Perang Obor ritual they are, such as pilgrimage to danyang (ancestors) numbering seven, parading The Pedang Gendir Gambang Sari and Padang Sari heirloom, a statue, and bedug which is trusted as a heritage of Sunan Kalijaga to kebayan Tegalsambi. The last step ia puppet performance. Perang Obo Ritual ia a colaboration between religion and ancestral culture's. The local wisdom worth appears as a shape of Islam Nusantara in Indonesia. The values as though a symbolic of honouring to ancestros, tollerantion and emphaty to others (peranh abor's actors), and solidarity to Mbah Gemblong postering. The values depicts an indigenious.Keyword: Islam Nusantara, Local Wisdom, Perang Obor, Tegal­sambiTulisan ini bertujuan untuk mengetahui tentang prosesi tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi Jepara, dan mengetahui tentang nilai-nilai ke­arifan lokal dalam tradisi tersebut Perang Obor di Desa Tegalsambi Jepa­ra sebagai karakteristik Islam Nusantara, dengan pendekatan antro­pologi, maka mendapatkan gambaran tentang kepercayaan dan khususnya ritus memperkuat ikatan-ikatan sosial tradisional di antara individu-individu. Ritual Perang Obor mempunyai beberapa prosesi, seperti ziarah ke Danyang yang berjumlah tujuh, mengarak pusaka, yaitu Pedang Gendir Gambang Sari dan Podang Sari, sebuah arca, serta sebuah bedug yang dipercaya sebagai warisan Sunan Kalijaga kepada kebayan Tegalsambi. Prosesi diakhiri dengan pagelaran wayang kulit. Ritual perang obor mem­beri warna sebagai kolaborasi antara agama dan budaya nenek moyang, nilai-nilai kearifan lokal muncul sebagai bentuk Islam Nusantara yang ada di Indonesia. Nilai-nilai tersebut antara lain, sebagai bentuk penghor­matan terhadap nenek moyang (danyang), toleransi dan empati terhadap sesama (pemain perang obor), kesetiakawanan sesama penerus Mbah Gem­blong. Nilai-nilai tersebut menggambarkan bentuk indigeneous mas­ya­rakat setempat.Kata kunci: Islam Nusantara, Kearifan Lokhal, Perang Obor, Tegal­sambi
Mengenal Budaya Batak Toba Melalui Falsafah “Dalihan Na Tolu” (Perspektif Kohesi dan Kerukunan) Adison Adrian Sihombing
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.163 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.553

Abstract

Dalihan Natolu is understood as the identity and rules that govern the social system and as a determining factor in the custom of Batak culture. There are several studies about the meaning and values of this philosophy. This article intended to search and to find the philosophical foundation of Dalihan Natolu. At the same time, this article also wants to show how is “the das sollen” and “das sein” of Dalihan Natolu in the recent time. The method used in this research is qualitative descriptive-interpretative me­thod in the perspective of philosophy of phenomenology and library re­search. The results of this research shows that Dalihan Natolu is the mani­festation of the essence of life of the human being itself and the result of the search for the depth of the life of Batak Toba people. Dalihan Natolu is the manifestation of the nature of the Debata Natolu (Triune God). He be­comes the pillar and guarantor of a harmonious life of the entire order of the Toba Batak culture in order to pursue and reach happiness of life (das sollen). Unfortunately, there have been shifting and deviations of values and also perspective changing about the position of the three func­tional groups in Dalihan Na Tolu itself called Hula-hula, Dongan Sabu­tuha, and Boru (das sein).Keywords: Dalihan Na Tolu, Hula-hula, Dongan Sabutuha, BoruDalihan Natolu dipahami sebagai identitas dan pedoman hidup yang mengatur sistem kekerabatan serta menjadi faktor penentu dalam adat budaya Batak. Tulisan ini memiliki dua tujuan yaitu: mencari dan mene­mu­kan landasan filosofis Dalihan Natolu; dan menampilkan bagai­mana “das sollen” dan “das sein” Dalihan Natolu di zaman “now”. Metode pe­ne­litian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-interpretatif dalam pers­­pektif filsafat fenomenologi dan penelitian kepustakaan. Hasil pene­litian menunjukkan bahwa Dalihan Natolu merupakan perwujudan hakikat hidup manusia itu sendiri dan merupakan hasil pencarian makna hidup suku Batak Toba. Dalihan Natolu merupakan perwujudan dari hakikat De­bata Natolu (Allah yang tiga). Dia menjadi tiang penyangga dan pen­jamin menuju kehidupan yang harmonis. Namun demikian telah terjadi pergeser­an, penyimpangan nilai serta perubahan cara pandang akan posisi kedu­du­kan ketiga golongan fungsional yang ada dalam Dalihan Natolu, yaitu Hula-hula, Dongan Sabutuha, dan Boru.Kata kunci: Dalihan Na Tolu, Hula-hula, Dongan Sabutuha, Boru
Abuya Drs. K.H. Saifuddin Amsir: Intelektual Ulama Betawi yang Cukup Berpengaruh Abad ke-21 nasrullah anas nurdin
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.852 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.554

Abstract

The history of the Batavia ulama, which is actually inseparable from the history of Islam in the archipelago, turns out that the role and contribution of its ulama intellectuals is very little studied, even almost marginalized in the writing of Islamic history in Indonesia land. Therefore, a biographical review of Abuya K.H. Saifuddin Amsir (died Thursday, July 19, 2018) as a charismatic intellectual/ulama in Jakarta who was quite influential in the 21st century became very important so that religious treasure and ulama’s works as well as the historicity of Islam in Batavia can be known by the wider public. This study aims to enrich our insight into the history of Islam certain localities—in this case in the Capital City of DKI Jakarta—so as to be able to increase knowledge and appreciation to the archipelago ulama and their intellectuals who have given large role and contribution in the establishment and dynamics of Indonesian Islam.Keywords: Networking of Ulama, Betawenese, Contribution of Ulama, Scientific PublicationSejarah ulama Betawi yang sejatinya tidak bisa dipisahkan dari sejarah Islam di Nusantara, ternyata peran dan kontribusi intelektual ulamanya sangat minim ditelaah, bahkan nyaris termarginalkan dalam penulisan sejarah Islam di persada Indonesia. Karenanya, penelaahan tentang bio­grafi Abuya K.H. Saifuddin Amsir (wafat Kamis 19 Juli 2018) selaku intelektual kharismatik/ulama Jakarta yang cukup berpengaruh pada abad ke-21 ini menjadi sangat penting agar khazanah keulamaan dan karya-karyanya sekaligus historisitas Islam di Betawi dapat dikenal oleh publik luas. Kajian ini tidak lain untuk memperkaya wawasan kita tentang sejarah Islam lokalitas tertentu—dalam hal ini di Ibukota DKI Jakarta—sehingga mampu menambah pengetahuan dan penghargaan kepada ulama Nusantara dan karya mereka, yang telah memberikan peran serta kontribusi besar dalam penguatan dan dinamika Islam Indonesia.   Kata Kunci: Jaringan Ulama, Etnis Betawi, Kontribusi Ulama, Publikasi Ilmiah
“As-Sittīna Mas’alah” Kitab Fikih Abad Pertengahan Karya Syekh Abu Al-‘Abbas Ahmad Zahid Agus Supriatna
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.795 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.561

Abstract

The article discusses about codicology and texts critics of As-Sittina Mas’alah (SM) manusscript. The method used is descriptive analytical, and to critique the script used leager method that is a business to critique the text by using a good quality of the text to be a leager. SM texts used Arabic and for scholiast used Cirebon (Sundanese-Javanese)language. SM texts used Arabic font, and for the scholiast used Pegon. SM texts is written by Abu Al- ‘Abbās Ahmad Zāhid in year 900 H/1500 after cen­turies, and written by ulama in Nusantara at years 1500-1900 after cen­turies. SM texts contain the errors, and  including; 10 in omission, 3 in dittography 1 in transposition, 4 in substitution, and 12 deviations in the form of grammar (Arabic). SM texts contains provisions jurisprudence of Mazhab Imam Syafi’ī, the script begun from the description of rules Faith and Islam, then purification procedure, description of the prayer, alms, fasting and pilgrimage. SM texts was used in Nusantara Islamic schools at years 1500-1900 after centuries for the lesson  fiqih, it’s used because had a simple meaning for Nusantara people’s (that times in religion transition) for learning a way of Islam.Keywords: Text Edition, Manuscript, Fikih Book, As-Sittīna Mas­’alah.Artikel ini membahas naskah As-Sittīna Mas’alah (SM) pada aspek teks maupun fisik yaitu naskahnya. Masalah teks dikaji melalui kritik teks dan masalah fisik naskah dikaji melalui kodikologi. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriftif analitik, dan untuk metode kritik naskah digunakan metode landasan yaitu metode yang diterapkan apabila menurut tafsiran ada satu atau segolongan naskah yang unggul kualitasnya diban­ding­kan dengan naskah-naskah lain yang diperiksa dari sudut bahasa, ke­sastraan, sejarah, dan lain sebagainya sehingga dapat dinyatakan sebagai naskah yang mengandung paling banyak bacaan yang paling baik.  Bahasa yang digunakan dalam naskah adalah bahasa Arab untuk teks SM dan ba­hasa Cirebon (Sunda-Jawa) untuk terjemahannya (scholia). Aksara yang di­gunakan adalah Arab dan Pegon, aksara Arab digunakan pada teks SM dan Pegon digunakan pada scholia. Teks SM berasal dari Mesir, ditulis oleh Abu Al-‘Abbās Zāhid sekitar tahun 900 H/ 1400-1500 M, dan disalin oleh ulama Nusantara sekitar tahun 1500-1900 M. Kesalahan penyalinan yang terdapat pada teks SM meliputi:  omisi 10 kesalahan, ditografi 3 ke­sa­­lahan, transposisi 1 kesalahan, subtitusi 4 kesalahan, dan kesalahan dalam bentuk gramatika bahasa Arab 12 kesalahan. Teks SM berisi  fiqih dari Mazhab Imam Syafi’ī, dimulai dengan penjelasan kaidah Iman dan rukun Islam, penjelasan pentingnya menimba ilmu agama, penjelasan tata cara bersuci, salat, zakat, puasa dan ibadah haji. Adapun fungsi sosial nas­kah SM di Nusantara adalah sebagai referensi bahan ajar di beberapa pe­san­tren untuk mata pelajaran fiqih, dipilihnya naskah SM oleh ulama Nu­santara sebagai sumber referensi pengajaran fiqih waktu itu, karena isi uraiannya sederhana dan isinya mencakup keseluruhan rukun Islam, se­hingga dapat memberikan pemahaman yang mudah bagi masyarakat Nu­santara (ketika itu sedang mengalami masa transisi keberagamaan) untuk men­jalankan ibadah sesuai tata cara ibadah dalam Islam.Kata Kunci: Edisi Teks, Naskah Kuno, Kitab Fikih, As-Sittīna Mas’alah.
Perkawinan Manusia dengan Jin: Kajian atas Naskah Ākām al-Marjān fī Ahkām al-Jān Ahmad Yunani
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2214.772 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.562

Abstract

In some stories circulating in the community, as well as in some writings, there is information about the existence of marriages of humans with supernatural beings (jinns). For example, the marriage story between Panembahan Senopati and Ratu Kidul, an event that seems impossible to occur because of two different realms, namely the real world with the supernatural. However, this event can occur, whether human beings with supernatural beings, or vice versa, with specific goals and objectives, such as seeking wealth, immunity, magic, and various other pleasures according to the wishes of the culprit. In the text of Ākām al-Marjān fī Ahkām al-Jān, there is one chapter that explains this, namely the existence of a relationship between humans and jinn, and vice versa, in various aspects. One of them is in the form of a marriage bond. It was also explained about the legal consequences it caused, especially about whether or not the action was carried out. This text is written in Arabic. This paper tries to reveal the matter of human marriage with jinn based on the text. The approach used is the philology and textual analysis. The philology is used to produce text editions. Then equipped with the translation in Indonesian. While the textual analysis is carried out on the contents of the text, namely an explanation of the occurrence of marriage between humans and jinn, indicators of the relationship between the two, and the arguments related to the prohibition of marriage.Keywords: Marriage, jinn, Imam Malik, law, Ahkām al-Jān, textDalam beberapa cerita yang beredar di masyarakat, demikian pula dalam beberapa tulisan, terdapat informasi tentang adanya peristiwa perkawinan manusia dengan makhluk gaib (bangsa jin). Misalnya, cerita perkawinan antara Panembahan Senopati dan Ratu Kidul, sebuah peristiwa yang tampaknya mustahil terjadi karena dua alam yang berbeda, yakni alam nyata dengan alam gaib. Akan tetapi, peristiwa ini bisa terjadi, baik manusia dengan makhluk gaib tersebut, maupun sebaliknya, dengan tujuan dan maksud tertentu, seperti mencari kekayaan, kekebalan tubuh, kesaktian, dan berbagai kesenangan lainnya sesuai keinginan pelakunya. Dalam naskah Ākām al-Marjān fī Ahkām al-Jān, terdapat satu bab yang mejelaskan hal tersebut, yaitu adanya hubungan antara manusia dengan jin, dan sebaliknya, dalam berbagai aspek. Salah satunya adalah adalah dalam bentuk ikatan perkawinan. Dijelaskan pula tentang akibat hukum yang ditimbulkannya, khususnya tentang boleh atau tidaknya perbuatan itu dilakukan. Naskah ini ditulis dengan aksara dan bahasa Arab. Tulisan ini mencoba mengungkap perihal perkawinan manusia dengan jin berdasarkan naskah tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filologi dan analisis tekstual. Pendekatan filologi digunakan untuk menghasilkan edisi teks. Kemudian dilengkapi dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Sedangkan analisis tekstual dilakukan atas isi dari naskah tersebut, yaitu penjelasan tentang terjadinya perkawinan antara manusia dengan jin, indikator adanya huhubungan antar keduanya, dan dalil-dalil yang terkait dengan larangan perkawinan tersebut.Kata kunci: Perkawinan, jin, Imam Malik, hukum, Ahkām al-Jān, teks.
Kampung Sindu: Jejak Islam dan Situs Kerukunan di Keramas, Gianyar, Bali I Nyoman Yoga Segara
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.385 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.563

Abstract

There are several historical sources that reveal the entry and development of Islam in Bali, both from the studies of historians and Babad Dalem. Base on the field and study documents obtained information that although there are a few differences in interpretation, almost all of these historical sources state that the entry of Islam was not through violence, but was brought by King Gelgel, who migrated due to the collapse of Majapahit. When Gelgel as the epicenter of the kingdom in Bali encountered a setback and a split, Muslim migrants who came from Java, Makassar, and Lombok were employed as soldiers to defend the kingdom from attacks. After the war, the soldiers were given shelter in the form of land supply. They create unique villages according to their ancestral tribes, such as Kampung Jawa, Kampung Bugis, or Kampung Sasak. This article aims to explore the history and the development of Islam in the township in question, one of them Kampung Sindu. Kampung Sindu is one of the Islamic communities of the Sasak tribe, Lombok, which inhabits the catu land in the village of Keramas, Gianyar Regency, Bali. The results of the research shows that they mix in sosial, cultural, and religious life and become an integral part of the village, particularly in the field of palemahan and pawongan. They build harmony sites with totality. Tolerance is maintained based on shared values through local wisdom. They have become Balinese Muslims.Keywords: Kampung Sindu, Keramas Village, Islamic Footprint, Harmony SiteAda banyak sumber sejarah yang menceritakan masuk dan berkem­bangnya Islam di Bali, baik dari kajian para sejarawan maupun Babad Dalem. Berdasarkan penelitian lapangan dan studi dokumen diperoleh keterangan bahwa meskipun terdapat sedikit perbedaan tafsir, namun hampir semua sumber sejarah menyatakan masuknya Islam tidak melalui jalan kekerasan, tetapi dibawa oleh raja Gelgel, ikut bermigrasi karena runtuhnya Majapahit, dan jalur niaga di pesisir. Saat Gelgel sebagai episentrum kerajaan di Bali mengalami kemunduran dan perpecahan, pendatang Islam yang datang dari Jawa, Makassar dan Lombok banyak dijadikan prajurit untuk melindungi kerajaan dari serangan sesama kerajaan lain serta menghadapi kolonial Belanda. Setelah peperangan, para prajurit itu diberikan tempat tinggal berupa tanah catu dan sampai saat ini masih menjaga hubungan baik dengan keluarga kerajaan. Mereka membangun perkampungan yang unik dan khas, sesuai suku leluhurnya, seperti Kampung Jawa, Kampung Bugis, atau Kampung Sasak. Artikel ini bertujuan untuk menelusuri sejarah dan perkembangan Islam di perkam­pungan yang dimaksud, salah satunya Kampung Sindu. Kampung Sindu adalah salah satu komunitas Islam dari suku Sasak, Lombok yang men­diami tanah catu kerajaan di desa Keramas, Kabupaten Gianyar, Bali. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan sosial, budaya dan agama, mereka berbaur dan menjadi bagian integral dari desa pakraman, khususnya di bidang palemahan dan pawongan. Situs keru­kunan mereka bangun dengan totalitas. Toleransi dipelihara berdasarkan nilai bersama melalui kearifan-kearifan lokal. Mereka telah menjadi orang Bali beragama Islam.Kata Kunci: Kampung Sindu, Desa Keramas, Jejak Islam, Situs Kerukunan
Khazanah Intelektual Ulama Betawi Abad ke-19 dan ke-20 M nur rahmah
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.21 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.564

Abstract

Jakarta as a metropolitan city and the center of Indonesian government in its history can not be separated from the role of the Betawi scholars (ulama). As well as fighting physically in resistance against colonialism, Betawi scholars are also very productive in writing to intellectual work. However, many of these works have not been well documented. Even though the works are the most authentic proof of the intellectual role of scholars in educating the lives of the people. This research seeks to answer questions about what are the works of Betawi scholars and how they are typologies. From the author's search results, there are 160 the intellectual works of   Betawi scholars who lived in the 19th and 20th centuries. The trends of these intellectual works were in the jurisprudence (Fikih). The trend of scholars to choose jurisprudence in writing their writings shows a change in insight and orientation among pesantren or religious education institutions. This change in insight and orientation is based on the awareness of people's needs for practical religious teachings. The works are dominated in the form of khulasah. It shows that some Betawi scholars still believe that the works of scholars in the past as the masterpiece, so the Betawi scholars only able to write summary of those works.The Intelectual works of the Betawi scholars is also written more in Arabic. This phenomenon shows the mastery of the Ulama on the Arabic language. Moreover, many of the Betawi scholars studied in the Middle East, so that the influence of Arabic in the daily lives of the ulamas became very high.Keywords: ulama, Batavia, ulama’s work, 19th-20th century, Jakarta Jakarta sebagai kota metropolitan dan pusat pemerintahan Indonesia dalam sejarahnya tidak lepas dari peran para ulama Betawi. Selain ikut berjuang secara fisik dalam perlawanan melawan kolonial, ulama Betawi juga sangat produktif dalam melahirkan karya intelektual. Namun, karya-karya tersebut belum terdokumentasikan dengan baik. Padahal karya-karya itu merupakan bukti yang paling otentik mengenai peran intelektual ulama dalam mencerdaskan kehidupan umat. Tulisan ini berusaha menjawab per­tanyaan tentang apa saja karya-karya ulama Betawi dan bagaimana karak­teristiknya. Dari hasil penelusuran, terhimpun 160 karya yang merupakan buah karya intelektual 26 ulama Betawi yang hidup di abad ke-19 dan ke-20 M. Kecenderungan karya intelektual tersebut berada pada bidang fikih. Ke­cenderungan ini menunjukkan adanya perubahan wawasan dan orientasi di kalangan pesantren, khususnya ulama penulis, dari tawawuf yang lebih mewarnai pemikiran ulama abad ke-17 dan ke-18 M ke fikih. Perubahan wawasan dan orientasi ini didasari oleh adanya kesadaran tentang kebu­tuhan masyarakat terhadap ajaran agama yang bersifat praktis. Dari segi jenisnya, karya-karya tersebut kebanyakan berupa khulasah atau ringkasan. Hal ini menunjukkan bahwa saat ini sebagian ulama masih cenderung terkungkung oleh pemikiran bahwa apa yang terdapat dalam kitab-kitab kuning sudah mengcover seluruh kebutuhan informasi keagamaan sehingga menulisnya kembali dalam konteks kekinian menjadi kurang progresif. Karya ulama Betawi juga lebih banyak ditulis dalam bahasa Arab yang merupakan bukti penguasaan mereka terhadap bahasa Arab. Hal ini disebabkan antara lain karena mereka berguru dan belajar kepada ulama di Timur Tengah sehingga bahasa Arab lebih banyak memengaruhi kehidupan mereka sehari-hari. Meskipun demikian, sebagian mereka tetap memiliki karya dalam bahasa Melayu dan Indonesia sebagai upaya memenuhi kebutuhan masyarakat lokalnya.Kata Kunci: ulama, Betawi, karya ulama, abad 19-20, Jakarta
Kontinuitas dan Transformasi Penistaan Agama: Gerakan Sosial Islam Pra-Kemerdekaan Juma Juma
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.379 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.568

Abstract

This research analyses the blasphemy the authors of Djawi Hisworo, Swara Oemoem and Madjalah Bangoen have done by observing the social history of Islam. Emile Durkheim's concept of mechanic solidarity is used to describe the blasphemy based on the spirit of religion. Where, the reli­gion (Islam) has become a bond between followers, even though it has different traditions and habits. The social psychology approach to des­cribes organizations or elites advises on have succeeded in mobilizing people to protest against religious politicians. Blasphemy, both past and today, makes people united under the issues of religion. The difference is that in the past, the “blasphemy voice” is more congregation, while today, blasphemy is more politically-pragmatic in the interests of electoral poli­tics. The solidarity which was formed from blasphemy of religion later be­comes the congregation (Islam), whereas today, it forms solidarity based on political sectarian.Keyword: Newspapers, Blasphemy, Solidarity, Religion-Political Rela­tionsPenelitian ini mengkaji penistaan agama yang dilakukan oleh penulis Djawi Hisworo, Swara Oemoem dan Madjalah Bangoen dengan pen­dekatan sejarah sosial umat Islam. Teori solidaritas mekanik Emile Dur­khe­im digunakan untuk menganalisis protes atas penistaan berbasis se­mangat agama. Di mana, agama (Islam) telah menjadi unsur pengikat antara pengikutnya, walau pun memiliki tradisi dan kebiasaan yang ber­beda-beda. Pendekatan psikologi sosial untuk melihat organisasi atau elit yang menggerakkan umat menyuarakan protes terhadap penista agama. Penistaan agama, baik masa lalu atau masa kini sama-sama membuat umat bersatu di bawah isu agama. Perbedaannya, di masa lalu, “suara penistaan agama” lebih bersifat keummatan, sementara hari ini, penistaan agama lebih bernuansa politis-pragmatis demi kepentingan politik elektoral. Soli­daritas yang terbentuk dari penistaan agama di masa lalu bersifat keum­matan (Islam), sedangkan hari ini, berupa solidaritas berbasis politik sek­tarian. Kata Kunci: Surat Kabar, Penistaan Agama, Solidaritas, Relasi Agama-Politik

Page 1 of 2 | Total Record : 11