cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Bestari
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 23 Documents
Search results for , issue "No 42 (2009)" : 23 Documents clear
APLIKASI WEB PENUNJANG PELAKSANAAN PIMNAS Taufiq Reza Ariyanto, Pradita Utama Sukma Rahadian
Jurnal Bestari No 42 (2009)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.04 KB)

Abstract

Informasi merupakan hal penting dalam kehidupan manusia. Dunia pendidikan juga merasakan pentingnya adanya informasi dan komunikasi. Bahkan dalam setiap geraknya, dunia pendidikan selalu disibukkan dengan komuinikasi antara satu pihak dengan pihak lain yang berjauhan. Perguruan Tinggi merupakan elemen pendidikan yang paling banyak menggunakan teknologi informasi yang berkembang pesat akhir periode ini. Salah satu teknologi tersebut biasa kita kenal dengan sebutan internet. Dalam proyek ini, penulis merasakan bahwa suatu event/acara (event besar ataupun kecil) yang terkoordinasi dan sistematis akan menghasilkan efek yang baik bagi pihak undangan maupun pihak penyelenggara. Oleh karena itu terpikir oleh kami sebagai mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi yang akan mengadakan perhelatan besar setingkat nasional yaitu Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional ( PIMNAS ), untuk membantu dalam hal manajemen pengelolaan pendaftaran samapi dengan pemberian informasi bagi para peserta finalis PIMNAS. Dalam Proyek yang telah kami lakukan, yaitu perancangan sebuah perangkat Lunak Aplikasi Web Penunjang Pelaksanaan Pimnas dengan menggunakan teknologi internet, kami buat agar informasi dan seluruh hal yang berkaitan dengan acara Pimnas dapat terakses dan diketahui oleh masyarakat umum dan dunia perguruan tinggi indonesia pada khususnya.Penulis adalah mahasiswa Jurusan Teknik Informatika, Sekolah Tinggi Teknologi Telkom, Bandung
PENGUATAN BUDAYA NASIONAL DALAM SITUASI KRISIS BUDAYA Sulardi, Sulardi
Jurnal Bestari No 42 (2009)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (42.496 KB)

Abstract

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-no-proof:yes;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} --> There is something wrong in our education system. Our education do not give chance to appreciate and learn culture. Education on culture is done more on cognitive aspect; students are taught names both local and national cultures, folk dances, folk songs, and various traditions from many places in Indonesia without comprehending the real meaning of the culture itself. Furthermore, people are actually the culture legal owner. If this understanding is strong enough, claims on our cultures by another country will never happen. The most important is how to establish and teach people so that they have sense of belonging to their own cultures. So, it is time for central and local governments facilitate public?s participation in national culture affirmation.
PENGUATAN KELEMBAGAAN LOKAL DENGAN MODEL COMANAGEMENT DALAM RANGKA MENUJU PENGELOLAAN PERIKANAN BERKELANJUTAN DI KECAMATAN PANIMBANG, KABUPATEN PANDEGLANG , Bambang Budiansyah, Kastana Sapanli, Aprianty , Gustav M. Irsyad , M. Firdaus
Jurnal Bestari No 42 (2009)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (27.136 KB)

Abstract

Sumber daya hayati perikanan dan kelautan di Indonesia sudah mengalami kerusakan yang sangat parah. Ekosistem terumbu karang yang merupakan ekosistem penting sebagai nursery ground, spawning ground dan feeding ground hanya tinggal 6,48% kondisinya dalam keadaan baik. Kerusakan ini disebabkan maraknya penangkapan ikan yang dilakukan nelayan yang menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti bom dan racun potasium.Kondisi inilah yang melatarbelakangi perlunya usaha pengelolaan sumber daya yang berbasis lingkungan dan mencapai kelestarian. Semua stakeholders yang terkait baik pemerintah dan masyarakat harus melakukan kerja sama (Co-Management) dalam melakukan usaha konservasi ini agar kegiatan konservasi terumbu karang dapat berhasil dengan baik.Lembaga Daerah Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat (DPL-BM) adalah suatu lembaga yang dikelola oleh masyarakat sekitar dan didukung oleh pemerintah. Lembaga inilah yang diharapkan mampu mengatasi kerusakan terumbu karang yang terjadi diperairan Indonesia. Akan tetapi, lembaga DPL-BM di Desa Tanjung Jaya ini masih menghadapi banyak kendala dalam melaksanakan tugasnya. Kurangnya keprofesionalisme dalam pengelolaan organisasi, kurangnya insentif pengurus lembaga dan masih lemahnya landasan hukum adalah faktor utama yang menyebabkan kinerja lembaga ini masih belum optimal. Melalui metode PRA (Participatory Rural Appraisal) ditemukan permasalahan dan solusi untuk mengatasi kendala yang dihadapi lembaga tersebut. Permasalahan kurangnya keprofesionalismean pengurus dapat diatasi dengan pelatihan tentang manajemen organisasi dan pembimbingan tentang dasar-dasar kepemimpinan. Insentif bagi pengelola dapat diatasi dengan bantuan dari pemerintah daerah berupa alat tangkap dan perahu serta dana operasional bagi pengelola agar mereka memiliki sumber penghasilan dengan menangkap ikan sekaligus melakukan pengawasan terhadap kawasan konservasi. Landasan hukum yang ada berupa PERDES hanya berlaku bagi penduduk Desa Tanjung Jaya sedangkan nelayan dari desa lain masih melakukan penangkapan di kawasan konservasi, sehingga aturan yang ada tidak bersifat menyeluruh. Oleh karena itu diperlukan suatu PERDA yang dikeluarkan oleh Pemprov. Naskah akademik PERDA ini sedang disusun oleh tim pelaksana PKM yang akan serahkan ke Dinas Kelautan dan Perikanan Banten dalam bentuk Rancangan Peraturan Daerah (RAPERDA).Penulis adalah mahasiswa PS Sosial Ekonomi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor
TNI, SATU CERMIN DUA WAJAH Effendy, Muhadjir
Jurnal Bestari No 42 (2009)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.936 KB)

Abstract

Manusia tercipta sebagai mahluk sosial yang memiliki sistem hidup berkelompok-kelompok. Sistem tersebut kemudian melahirkan sub-sub sistem tertentu dalam memperjelas dan mempertegas status dan peranan hidupnya. Tentu hal tersebut berjalan dinamis sesuai dengan dinamika zaman yang berkembang selama ini.Kaca mata sosiologi memandang bahwa manusia pada hakikatnya memproduksi dirinya sendiri. Termasuk TNI AD yang dalam pandangan umum identik dengan kelompok militerisme dan cenderung menakutkan serta mudah melakukan "kekerasan" adalah produk dari adanya manusia sebagai TNI.
UPAYA PELESTARIAN SITUS GLINGSERAN SEBAGAI SUMBER SEJARAH DENGAN MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT SEKITAR SITUS BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1992 E Wardaniyah, W Tri Julianto, F Syahyudin, Febrie G Setiaputra, AB Putrantyo
Jurnal Bestari No 42 (2009)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.552 KB)

Abstract

Rendahnya partisipasi masyarakat terhadap pelestarian Benda Cagar Budaya (BCB) adalah salah satu indikasi bahwa Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Peletarian BCB belum memasyarakat. Sehingga, mensosialisasikan undang-undang tersebut pada masyarakat di sekitar Situs Glingseran guna meningkatkan partisipasi adalah penting. Tujuan yang hendak dicapai dalam pelaksanaan PKMM ini adalah: (1) untuk menyelamatkan dan melestarikan BCB yang ada di wilayah Desa Glingseran, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso, sebagai salah satu bukti otentik sejarah dengan melibatkan masyarakat setempat secara aktif, (2) untuk memberi penyuluhan tentang arti penting BCB kepada masyarakat dan aparat pemerintah di Desa Glingseran, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso, agar tercipta kepedulian atas benda-benda tersebut, dan (3) untuk memasyarakatkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992. Metode yang digunakan dalam kegiatan PKMM ini adalah ceramah, tanya jawab, dan praktik lapang, yang diikuti oleh 10 orang yang mewakili para pemuda, pemilik tanah dimana BCB berada, tokoh masyarakat, dan perangkat Desa Glingseran. Hasil pelaksanaan kegiatan ini adalah: (1) masyarakat di Desa Glingseran dapat mengetahui, mengenal, dan memahami bahwa pemerintah telah memberlakukan undang-undang tentang pelestarian BCB, (2) Situs Glingseran dan beberapa BCB menjadi lebih bersih, (3) dengan dipasangnya papan penanda BCB, papan peringatan, dan papan penunjuk arah situs, diharapkan pengunjung akan ikut berpartisipasi dalam pelestarian situs. Penulis adalah mahasiswa Jurusan Sejarah, Universitas Jember
BATIK DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PEREKONOMIAN NASIONAL Ulum, Ihyaul
Jurnal Bestari No 42 (2009)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.288 KB)

Abstract

Batik is typical cultural heritage of Indonesia. The history of its existence and growth cannot be argued. Batik has existed since Majapahit empire era and then expanding right at the period of Mataran empire, Solo, and Yogyakarta. Not only in Java, batik has also grown and expanded in Sumatra Island. Moreover, the confession of UNESCO on October, 2nd 2009 that batik is genuine and intangible cultural heritage of Indonesia has revoked Malaysia?s claim as batik heir and owner. More than simply cultural heritage, batik has also transformed into industry with high contribution to national economy. Furthermore, the number of labours in this group of industry (TPT) is 1.62 million people indeed. The value of batik export even reached US$ 32.28 million in 2008, and US$ 10.86 million in the first three months of 2009.
PENGEMBANGAN BAHAN ADITIF ALAMI UNTUK MENGURANGI KETERGANTUANGAN PENGGUNAAN SENYAWA SINTETIK PADA PRODUK MANISAN BUAH-BUAHAN DI DESA TLOGOMAS KECAMATAN LOWOKWARU KOTA MALANG Dini Elmiyati Hasanah, Nurchalis, Bayu Aryanti, Herlys Dwi Handayani
Jurnal Bestari No 42 (2009)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (25.088 KB)

Abstract

PKMM ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menentukan kadar zat aditif yang ada dalam manisan basah buah mangga tingkat keamanannya bagi konsumen. Metode yang digunakan bersifat deskriptif, yaitu untuk membuat pencandraan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifatsifat manisan basah buah mangga yang dijual di beberapa lokasi yang biasa dikunjungi konsumen seperti supermarket dan di pinggir-pinggir jalan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kandungan sakarin pada manisan basah buah mangga yang ada di terminal Arjosari (161,674 ppm), terminal Gadang (152,743 ppm) dan terminal Landungsari (170,147 ppm) berada di bawah standart yaitu 200-600 ppm. Sedangkan di Mitra (228,084 ppm), Ramayana (201,52 ppm), Jalan Jakarta (212,97 ppm) dan di Jalan Veteran (232, 664 ppm) masih berada diambang batas, sehingga aman untuk dikonsumsi. Kandungan natrium benzoat pada manisan basah buah mangga yang ada di tujuh lokasi tidak ada yang melebihi standar, yaitu 600-1000 ppm. Kandungan tertinggi terdapat pada manisan yang ada di Mitra (329,4 ppm), sedangkan kandungan terendah terdapat pada manisan yang ada di Jalan Veteran (182,39 ppm). Sedangkan kandungan pewarna tartrazine yang di bawah standar, yaitu 20-100 ppm. Dimana Mitra 38,92 ppm (terendah); Ramayana 44,29 ppm; Jalan Jakarta 65,04 ppm; Jalan Veteran 60,1 ppm; Terminal Arjosari 51,18 ppm; Terminal Gadang 55,7 ppm; Terminal Landungsari 66,34 ppm (tertinggi). Pewarna alami yang dapat digunakan sebagai pewarna pada manisan untuk menggantikan pewarna sintetik adalah ekstrak kunyit, ekstrak bunga mawar dan ekstrak ubi jalar. Sedangkan pemanis alami yang dapat digunakan adalah sirup glukosa dan dekstrose. Penulis adalah mahasiswa Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Muhammadiyah Malang
PEMBUATAN ES KRIM LIDAH BUAYA (ALOE CHINENSIS) DENGAN PENAMBAHAN GELLING AGENTS Elfi Anis Saati, Titik Sundari
Jurnal Bestari No 42 (2009)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.136 KB)

Abstract

The utilization of Aloe vera as healthy food can be consumed in the form of ice cream. Moreover, the objective of this article is to find the interaction of gelling agents' type and level of concentration in the process of making Aloe vera ice cream. The study was conducted using random design of factorial group with two factors. First factor was the type of gelling agents consisted of three levels (CMC, Arabian Gum, Na-alginat). Meanwhile, second factor was gelling agents concentration consisted of three levels (0,1%; 0,3%; 0,5%) (b/v). Thus, the result was nine combinations with three times repetition.
PENGEMBANGAN KEMAMPUAN MENDONGENG BAGI GURU TAMAN KANAK-KANAK DI KECAMATAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG Asri Noorrodliyah, Wahyu Lestari, Ahmad Syaifudin,
Jurnal Bestari No 42 (2009)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (25.6 KB)

Abstract

Mayoritas guru Taman Kanak-Kanak (TK) di Kecamatan Gunungpati Kota Semarang mempunyai kemampuan mendongeng yang tidak variatif dan tidak menarik. Hal ini terlihat dari penguasaan teknik mendongeng yang dimiliki oleh para gurunya terbatas pada mendongeng secara lisan dan membacakan dongeng. Untuk itu, tujuan jangka pendek kegiatan ini adalah memberikan bekal secara teoretis tentang bermacam-macam teknik mendongeng dan cara mendongengkannya sedangkan tujuan jangka panjang adalah memotivasi guru TK agar menggunakan teknik mendongeng untuk mengajarkan budi pekerti pada anak didiknya dan tersirat harapan agar guru TK melalui aktivitasnya dapat ikut melestarikan nilai-nilai tradisional yang terkandung dalam sebuah dongeng. Kegiatan ini dilakukan dengan waktu tiga bulan yang terhitung mulai dari Agustus 2005 sampai dengan Oktober 2005 di TKĀ  se-Kecamatan Gunungpati. Pelaksanaan kegiatan tersebut dilakukan dengan tiga tahap, yaitu : (1) tahap prakegiatan, (2) tahap pelaksanaan kegiatan, dan (3) tahap pascakegiatan. Hasil yang dicapai dalam kegiatan ini adalah kemampuan mendongeng guru TK di Kecamatan Gunungpati Kota Semarang dapat ditingkatkan dengan cara mengadakan pelatihan mendongeng dan melakukan latihan dasar setiap saat meskipun secara mandiri. Pelatihan mendongeng diberikan untuk menambah pengetahuan tentang teori mendongeng dan praktik cara penerapan masingmasing jenis mendongeng. Latihan dasar sangat berguna dalam pembentukan karakter tokoh dalam dongeng yang dibawakannya. Selanjutnya, cara memotivasi guru TK di Kecamatan Gunungpati agar memanfaatkan mendongeng sebagai teknik penyampaian nilai-nilai budi pekerti kepada anak didiknya adalah dengan memberikan pemahamam bahwa dengan mendongeng anak-anak TK dapat banyak belajar nilai-nilai budi pekerti pesan atau amanat yang digambarkan oleh masing-masing tokoh dalam dongeng. Selain itu, para guru TK juga dapat disejajarkan dengan orang yang masih eksis melestarikan budaya tradisional, yakni budaya mendongeng.Penulis adalah mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Sema
REPOSISI BUDAYA DALAM MEWUJUDKAN SUSTAINABILITAS PEMBANGUNAN EKONOMI BANGSA Widayat, Widayat
Jurnal Bestari No 42 (2009)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.28 KB)

Abstract

Culture as a unique characteristic of a nation has capital function in creating sustainability of economic development. In the culture, capital function can be seen from two aspects; as an instrument and constituent. Furthermore, culture contains physical (tangible) and non-physical (intangible) aspects that are useful in building nation's competitive and advantageous competence, as well as a source of national income.

Page 1 of 3 | Total Record : 23