cover
Contact Name
Ida Bagus Oka Wedasantara
Contact Email
okawedasantara@unud.ac.id
Phone
+6285792027991
Journal Mail Official
sunari_penjor@unud.ac.id
Editorial Address
Jalan Pulau Nias No. 13, Sanglah, Denpasar, Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Sunari Penjor : Journal of Anthropology
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25284517     EISSN : 29626749     DOI : https://doi.org/10.24843
Core Subject : Humanities, Social,
Sunari Penjor : Journal of Anthropology merupakan jurnal yang memuat artikel ilmiah mengenai perkembangan ilmu antropologi atau hasil penelitian yang berkaitan dengan dinamika masyarakat dan kebudayaan. Jurnal Sunari Penjor dikelola oleh Program Studi Antropologi Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana yang terbit secara berkala setiap tahun dengan frekuensi 2 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Maret dan September.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 1 (2017)" : 6 Documents clear
Napak Tilas Jati Diri Orang Bali Aga Purwadi Soeriadiredja; Aliffiati .
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.852 KB) | DOI: 10.24843/SP.2017.v1.i01.p05

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah terwujudnya keharmonisan sosial berbasis masyarakat. Fokus penelitian adalah pandangan masyarakat Bali Aga tentang keberadaan diri mereka; keterkaitan budaya antara masyarakat Wong Aga di lereng Gunung Raung dengan masyarakat Bali Aga di Pulau Bali; dan hubungan masyarakat Bali Aga dengan masyarakat di luar mereka. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif, berparadigma fenomenologis, dan interpretatif. Data diperoleh melalui pengamatan, wawancara mendalam, dan analisis data untuk memperoleh pengetahuan tentang gagasan-gagasan, pemikiran, keyakinan dalam masyarakat setempat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Bumiharjo bukanlah keturunan Wong Aga pengikut ajaran Rsi Markhandeya. Mereka adalah pendatang baru di wilayah itu pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Sedangkan keberadaan keturunan Wong Aga di sekitar lereng Gunung Raung kini tidak diketahui lagi. Masyarakat Desa Sukawana sebagai bagian dari orang Bali Aga lebih suka disebut sebagai orang Bali Mula yang menganggap diri mereka sebagai keturunan nenek moyang pertama yang telah tinggal di wilayah itu. Masyarakat Bali Aga terkesan memiliki eksklusivitas dalam sistem keagamaan dan pemerintahan adat ulu apad di tengah keterbukaan mereka terhadap perubahan.
“Mekare-Kare” Wujud Ritualitas Keagamaan Desa Adat Tenganan Pegringsingan Sebagai Obyek Wisata dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat, Karangasem, Bali Ketut Darmana
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.497 KB) | DOI: 10.24843/SP.2017.v1.i01.p01

Abstract

Tradisi ritus mekare-mekare diselenggarakan sekitar bulan Juni atau Juli yang berlandaskan pada awig-awig kalender kegiatan yang diberlakukan di desa setempat. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun sekali yang dirangkaikan dengan upacara ngusaba sebagai upacara korban suci tulus iklas (yadnya) kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Mahaesa) atas rahmat dan waranugrahaNya yang diberikan kepada seluruh ciptaannya di alam semesta ini. Ritual mekare-mekare dalam praktik tindakan agama sebagaimana diunkapkan oleh peneliti religi (Tylor, 1893; Marett, 1891; Lang, 1898; Frazer, 1910; Otto (1917); dan Evans-Pritchard (1984 mempunyai kemiripan dengan praktik religio-magic warisan kepercayaan masyarakat di masa lalu. Mengingat ritual ini masih berlakukan praktik-praktik ritual pemujaan terhadap hal-hal gaib, jiwa/roh nenek maoyang, dan kekuatan-kekuatan adikodrati yang tumbuh di masa lalu. Hingga kini, kekuatan-kekuatan adikodrati ini dianggap masih hidup dan berpengaruh dalam kehidupan ini. Fokus masalah pembahasan tulis, tidak menjelasan dan menjabarkan tentang ritus mekare-mekare tersebut lebih mendalam yang tergolong eksotik (unik) dalam kehidupan komunitas Desa Adat Tenganan Pegrinsingan. Namun, dalam konteks ini justru ritual itu menarik perhatian bagi masyarakat yang ada di luar komunitas tersebut. Oleh karena itu, ada dua pokok rumusan masalah yang dijabarkan dalam tulisan ini sebagai berikut: (1) Bagaimana prosesi ritus mekare-mekare sebagai obyek wasita manarik dikunjungi oleh wisatawan nusantara maupun wisatawan luar negeri (asing), dan (1) Bagaimana dampaknya terhadap komunitas kehidupan masyarakat setempat. Kedua masalah ini dikaji dengan pendekatan partial equivalence structure” (McKean, 1976: 139-145).
Lingkungan Hidup dan Kebudayaan Bali (Sebuah Deskripsi Tentang Perubahan) I Nyoman Suarsana
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.155 KB) | DOI: 10.24843/SP.2017.v1.i01.p06

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan tentang perubahan kebudayaan yang disebabkan oleh perubahan lingkungan hidup (lingkungan tempat tinggal). Perubahan tersebut terjadi sebagai hasil dari kemampuan beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggal yang baru. Oleh sebab itu tulisan ini diberi judul ”Lingkungan Hidup dan Kebudayaan Bali (Sebuah Deskripsi Tentang Perubahan)”. Perubahan lingkungan hidup dan perubahan kebudayaan yang dikatakan sebagai hasil dari kemampuan adaptasi terlihat secara nyata dalam kehidupan etnis Bali-Hindu yang semula berasal dari desa kemudian sebagai urbanis dan bertempat tinggal di perumahan. Jadi, perumahan dengan demikian menjadi suatu habitat yang baru bagi para urbanis dari berbagai daerah asal. Atas dasar pengamatan dan terlibat langsung dalam kehidupan pada habitat yang baru tampak jelas bahwa kemampuan beradaptasi merupakan suatu yang amat penting dari para urbanis untuk dapat hidup pada lingkungan yang baru. Kebudayaan yang dipangku (kebudayaan Bali) menyesuaikan dengan lingkungan hidup yang baru baik dalam hubungan parhyangan, pawongan, maupun palemahan. Terkait dengan adaptasi, maka dalam rangka reproduksi budaya (usaha menghadirkan kebudayaan masa lalu ketika di tempat asal dalam kehidupan di lingkungan hidup yang baru) menjadi beragam baik dalam wujud nilai, perilaku, maupun fisik. Kebudayaan dengan demikian bukan semata-mata diwariskan akan tetapi terbentuk sebagai reaksi terhadap lingkungan hidup yang baru, sehingga perubahan menjadi tidak mungkin ditiadakan.
Implementasi “One Student Saves One Family (Ossof)” Sebagai Strategi dalam Menanggulangi Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Ni Luh Arjani
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.946 KB) | DOI: 10.24843/SP.2017.v1.i01.p02

Abstract

Dewasa ini fenomena kekerasan terhadap perempuan dan anak di masyarakat tampaknya semakin marak dan mengkhawatirkan karena kasus ini hampir setiap tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2014 di Bali tercatat 186 kasus kekerasan terhadap anak dan meningkat menjadi 197 kasus di tahun 2015, sementara kasus kekerasan terhadap perempuan yang tercatat sebagai kasus KDRT di Kota Denpasar pada tahun 2015 mencapai 78 kasus, dan meningkat menjadi 82 kasus pada tahun 2016 (P2TP2A Provinsi Bali dan Kota Denpasar, 2014-2016). Ada berbagai macam bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di masyarakat di antaranya: (1) kekerasan fisik (2) kekerasan seksual (3) kekerasan Psikis; (4) kekerasan ekonomi. Pada kelompok muda, kekerasan dapat terjadi dalam relasi berpacaran, praktik perdagangan anak perempuan, sampai dengan bentuk-bentuk tradisi yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan. ( https://act.oxfam.). Hal ini beralasan, karena ternyata kekerasan merupakan manifestasi perilaku emosional manusia, ketimbang perilaku rasionalnya. Oleh sebab itu, menjadi persoalan bagi kita semua adalah, sejauhmana kita semua ikut merasa bertanggungjawab untuk mencari solusi pemecahan masalah ini. Untuk kepentingan ini, kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mendorong perguruan tinggi untuk ikut berperan dalam menciptakan ketahanan keluarga melalui program “one student saves one family (OSSOF)”. Program OSSOF merupakan program yang khusus ditujukan untuk perguruan tinggi yang mengintegrasikan kebutuhan keluarga dan anggota keluarganya (laki-laki, perempuan, orang tua, anak) ke dalam kegiatan yang memberikan pengalaman praktis mahasiswa untuk langsung belajar dan bekerja bersama masyarakat serta dapat berlanjut pada kegiatan tri dharma perguruan tinggi yakni: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Program OSSOF berbentuk partisipasi aktif mahasiswa dalam menangani berbagai persoalan yang dihadapi oleh keluarga yang ada di masyarakat. Peran utama mahasiswa adalah sebagai fasilitator dalam melakukan pendataan keluarga, menyusun rencana kegiatan dan memberikan penyuluhan dan edukasi secara partisipatif yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kepekaan serta perilaku kepedulian terhadap permasalahan yang dialami oleh keluarga terutama yang ada di daerah pedesaan (KPPA,2015,11). Target program ini adalah individu (perempuan), keluarga (orangtua, pasangan suami-istri), dan komunitas (opinion leader, kelompok, warga komunitas). Strategi yang digunakan melalui pendekatan partisipatif (subject-to-subject), berorientasi kebutuhan, membangun empathy, dan berbasis personal atau komunitas. Salah satu strateginya, menjadikan mahasiswa sebagai sahabat yang membantu keluarga serta menggerakan komunitas dalam mengatasi kasus kekerasan, perlindungan terhadap perempuan dan anak. Selain itu, mahasiswa juga menjadi konselor keluarga di daerah-daerah pelosok dalam bentuk Kuliah Kerja Profesi (KKP) atau Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Mandor sebagai “Petit Bourgeois” dalam Industri Konstruksi Purwadi Soeriadiredja
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.527 KB) | DOI: 10.24843/SP.2017.v1.i01.p03

Abstract

Para pekerja di bidang jasa konstruksi merupakan bagian penting dalam proses industri konstruksi. Keberhasilan dari penyelesaian suatu konstruksi bangunan rumah sebenarnya tidak terlepas dari peran, fungsi dan kualitas para pekerja tersebut. Dalam lingkup kerja di bidang jasa konstruksi ini seorang mandor memegang peran utama yang merupakan faktor penentu dalam memberdayakan tenaga kerja. Peran mandor ini di Indonesia seringkali disebut sebagai sub-kontraktor tenaga kerja, dan dalam lingkup industri konstruksi itu sendiri terdapat taraf diferensiasi yang menyangkut keterampilan dan juga struktur usaha. Pengerjaan suatu bangunan tentunya menyangkut pula suatu proses kerja dari banyak orang yang terlibat dalam proses pembangunannya. Tinjauan dalam lingkup kegiatan kerja yang menyangkut suatu proses kerja pada bidang jasa konstruksi itulah yang akan dikaji dalam tulisan ini, khususnya bagaimana peran mandor yang terlibat dalam berbagai kegiatan yang lebih produktif pada sektor informal. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa peran mandor dalam bidang industri, khususnya industri konstruksi, mempunyai kedudukan penting. Merupakan posisi kunci yang menjadi perantara hubungan majikan dengan para buruh. Menjadi “middleman“, atau titik temu antara dua kepentingan yang berbeda tapi saling membutuhkan. Titik temu tersebut diperankan oleh mandor yang dalam hal ini dapat dikatakan bersifat ambivalen, karena bersifat dua muka yang justru mempertautkan dua sisi muka lainnya yang berbeda. Dapat dikatakan peran mandor mempunyai fungsi sosial yang merupakan sumber serta gagasan keseimbangan yang bersifat kompromistis.
Mencermati Permasalahan Gender dan Pengarusutamaan Gender (PUG) Ni Made Wiasti
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.73 KB) | DOI: 10.24843/SP.2017.v1.i01.p04

Abstract

Walaupun berbagai usaha telah dilakukan, dan telah pula terjadi perubahan terhadap peran serta perempuan di segala bidang kehidupan, namun tidak dapat dipungkiri kesetaraan gender yang diharapkan terjadi belum sepenuhya tercapai. Kesenjangan gender tampak masih terjadi di berbagai bidang pembangunan, misalnya di bidang pendidikan, kesehatan, politik, dan di bidang pemerintahan. Gender diartikan sebagai konstruksi sosial tentang bagaimana menjadi laki-laki dan perempuan sebagaimana dituntut oleh masyarakat. Gender berkaitan dengan pembagian peran, kedudukan dan tugas antara laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan sifat yang dianggap pantas bagi laki-laki dan perempuan menurut norma, adat, kepercayaan dan kebiasaan masyarakat. Ketika konstruksi sosial itu dihayati sebagai sesuatu yang tidak boleh diubah karena dianggap kodrati dan alamiah, menjadilah itu ideologi gender. Berdasakan ideologi gender yang dianut, masyarakat kemudian menciptakan pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki diposisikan pada peran produktif, publik, sedangkan perempuan diposisikan pada peran reproduktif, domestik. Perbedaan-perbedaan antara laki-laki dan perempuan terutama perbedaan gender (gender differences) ternyata menimbulkan ketidakadilan gender yang umumnya lebih banyak menimpa kaum perempaun. Bentuk-bentuk manifestasi ketidakadilan akibat diskriminasi gender itu meliputi: marginalisasi, subordinasi, stereotype, kekerasan, dan beban kerja. Munculnya berbagai bentuk kesenjangan gender antara laki-laki dan perempuan, maka dipandang perlu ditempuh suatu strategi untuk mengurangi atau bahkan menghapus kesenjangan tersebut sehingga tercapai kondisi yang adil dan setara gender (KKG). Intervensi pemerintah dalam mempercepat tercapainya kesetaraan dan keadilan gender (KKG) adalah dengan membentuk suatu kebijakan yang disebut Strategi Pengarusutamaan Gender disingkat menjadi PUG (Gender Mainstreaming). Pengarusutamaan Gender (PUG) adalah suatu strategi untuk mencapai keadilan dan kesetaraan gender (KKG) melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6