cover
Contact Name
Ida Bagus Oka Wedasantara
Contact Email
okawedasantara@unud.ac.id
Phone
+6285792027991
Journal Mail Official
sunari_penjor@unud.ac.id
Editorial Address
Jalan Pulau Nias No. 13, Sanglah, Denpasar, Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Sunari Penjor : Journal of Anthropology
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25284517     EISSN : 29626749     DOI : https://doi.org/10.24843
Core Subject : Humanities, Social,
Sunari Penjor : Journal of Anthropology merupakan jurnal yang memuat artikel ilmiah mengenai perkembangan ilmu antropologi atau hasil penelitian yang berkaitan dengan dinamika masyarakat dan kebudayaan. Jurnal Sunari Penjor dikelola oleh Program Studi Antropologi Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana yang terbit secara berkala setiap tahun dengan frekuensi 2 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Maret dan September.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 2 (2020)" : 7 Documents clear
Sistem Perkawinan Adat Lamaholot Dalam Perspektif Antropologi Di Desa Watodiri, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur Margaretha Nice O. Poli; Aliffiati Aliffiati; Ni Made Wiasti
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 4 No 2 (2020)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.472 KB) | DOI: 10.24843/SP.2020.v4.i02.p04

Abstract

Marriage in general is closely related to the two foundations of community life, namelyculture and religion. Culture is a very important traditional wedding ceremony, because traditional marriage will still exist in a cultured society. The traditional marriage system of the Lamaholot ethnic group has a hereditary culture, namely the traditional marriage of belis bala. Belis bala is a sacred aspect for the Lamaholot ethnicity, where men cannot undermine a woman's dignity. This study aims to determine: (a) The perspective of the younger generation on the belis bala in the Lamaholot ethnic traditional marriage system and (b) the inculturation of the church towards the traditional Laamaholot ethnic marriage system. Supported by Marcel Mauss' theory of reciprocity in compiling this research and the research model was made with the type of qualitative research, including data collection by observation, interviews, literature study and data analysis to process research results. The results of this study indicate the perspective of the younger generation, namely, there are some of them who feel heavy belis bala and want relief, but some others consider the traditional marriage system of belis bala as a challenge for them to be able to have their idol girl. They still want to maintain this traditional belis bala marriage system. The church sees this as a tradition that must be maintained. The church follows the regulations made by the village government for the preservation of the belis bala marriage system.
Persepsi dan Perilaku Pengobatan Tradisional Sebagai Alternatif Upaya Mereduksi Penyakit Tidak Menular Bambang Dharwiyanto Putro
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 4 No 2 (2020)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.903 KB) | DOI: 10.24843/SP.2020.v4.i02.p05

Abstract

Permasalahan Pokok Yang Akan Diteliti Dalam Studi Persepsi Dan Perilaku Pilihan Perawatan Kesehatan Ini Adalah Bagaimana Karakteristik Para Pengambil Keputusan Pengobatan Tradisional, Dalam Hal Ini Pengobatan Tenaga Dalam (Anggota Aktif) Dalam Memilih Sumber Perawatan Kesehatan, Kepercayaan Dan Pengetahuan Tentang Pengobatan Yang Ada Serta Faktor-Faktor Yang Mendorong Proses Perilaku Pilihan Perawatan Kesehatan Tenaga Dalam. Hasil Penelitian Menunjukkan Bahwa Karakteristik Anggota Yang Paling Banyak Memanfaatkan Praktek Pengobatan Tenaga Dalam Ialah Kelompok Umur Di Atas 50 Thn – 60 Thn. Latar Belakang Pendidikan Anggota Rata-Rata Di PT/Akademi, Sedangkan Pekerjaan Anggota Sebagian Besar Ada Di Sektor Swasta. Mengenai Jenis Keluhan Gangguan/Sakit Yang Dialami Responden Sebelum Masuk Dalam Pengobatan Tenaga Dalam Sebagian Besar Berturut-Turut Adalah Kencing Manis, Hipertensi, Jantung, Sendi/Rematik, Maag, Asma, Liver, Vertigo, Batu Empedu Dan Ambein. Persepsi Anggota Terhadap Sumber Pengobatan Mempengaruhi Dalam Penggunaan Sumber Pengobatan Yang Ada. Di Antara Variabel Yang Mendukung Persepsi Anggota, Dalam Penelitian Ini Menunjukkan Bahwa Faktor Tingkat Keparahan Sakit Paling Besar Pengaruhnya Terhadap Pemilihan Sumber Pengobatan Tenaga Dalam Satria Nusantara, Disusul Faktor Kepercayaan Dan Steriotipe Anggota Aktif Satria Nusantara Terhadap Praktek Pengobatan Tenaga Dalam Satria Nusantara. Sumber Dan Jenis Informasi Tentang Pengobatan Berpengaruh Pula Dalam Proses Pemilihan Dan Pengambilan Keputusan Mereka. Hasil Penelitian Menunjukkan Pula Bahwa Besar Kecilnya Biaya, Baik Biaya Pengobatan Ataupun Biaya Perjalanan, Bagi Anggota Satria Nusantara Tidak Menjadi Prioritas Utama, Selama Pengobatan Tersebut Membawa Hasil Yang Positif Yaitu Sembuh Dari Sakit Dan Mereka Merasa Nyaman Untuk Melakukan Pengobatan. Diharapkan Para Pelaku Pengobatan Medis Modern Dan Juga Para Pelaku Pengobatan Tradisional (Alternatif) Mampu Melihat Dari Segala Kemungkinan Usaha Untuk Dapat Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat Sehingga Kehadiran Para Penyembuh Tradisional Dan Para Dokter Dapat Berjalan Seiring Di Masyarakat Tanpa Memandang Salah Satu Pihak Yang Lebih Unggul Dibandingkan Yang Lain.
Peran Lanjut Usia dalam Masyarakat dan Keluarga pada Pemberdayaan Lanjut Usia di Kelurahan Lesanpuro Kota Malang Atika Safira Ramadhani; I Wayan Suwena; Aliffiati Aliffiati
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 4 No 2 (2020)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.123 KB) | DOI: 10.24843/SP.2020.v4.i02.p01

Abstract

Lesanpuro sub-district is one of the sub-districts in Malang where has an old population structure with a percentage of 15.56% of the population being elderly. 60% of the total elderly are young elderly with an age range of 60-69 years old, while the rest are elderly with the age over 70 years old. The elderly in Lesanpuro sub-district are elderly who still carry outvarious kinds of daily activities, such as activities related to hobbies and religions, to taking part in the community activities. By still carrying out various activities in old age, reflects the empowerment done by the elderly in order to actualize themselves. Therefore, this research was conducted to know the role of elderly in the society and family and the implications of the role of the elderly for society and the family so that they can help the elderly to achieve the goal of empowerment, which is self-actualization. This research uses a qualitative descriptive approach and is expected to reveal the existing phenomena based on facts and events that occurs in the field.
Lau Pahikung: Simbolisasi Identitas Perempuan di Sumba Timur A.A. Ayu Murniasih; Purwadi Soeriadiredja
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 4 No 2 (2020)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.628 KB) | DOI: 10.24843/SP.2020.v4.i02.p06

Abstract

Kajian ini bertujuan mencapai pemahaman tentang bagaimana masyarakat Umalulu, Sumba Timur memaknai lingkungan yang disimbolkan dalam kain tradisional yang mereka buat. Fokus kajian meliputi fungsi dan makna kain tradisional dalam kehidupan perempuan Umalulu di Sumba Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Pengumpulkan data dengan metode pengamatan, wawancara mendalam, dan studi kepustakaan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis etnogafis. Temuan mengungkapkan bahwa ada beberapa prinsip yang secara tetap menunjukkan suatu keseluruhan yang terstruktur. Prinsip pertama, pengaturan komposisi yang membagi permukaan kain tenun menjadi tiga bidang, yaitu satu bidang pusat dan dua bidang akhir secara simetris (dyadic-triadic). Pada kain lau, secara umum bidang atas dan bidang bawah saling berlainan. Bidang tengah diwakili oleh garis jahitan pertemuan dua bidang. Prinsip kedua, prinsip bayangan dalam cermin (mirror image). Prinsip ketiga, penggunaan angka-angka yang paling disukai masyarakat dalam mengklasifikasikan sesuatu (2, 4, 8, dan 16). Tujuan utama dari pembuatan kain sebagai alat untuk menahan pengaruh dari sekitaran alam. Akan tetapi, ada fungsi lain yang penting artinya bagi kehidupan masyarakat Sumba, yaitu busana adat, tanda hubungan kekeluargaan, pembungkus jenazah dan bekal kubur, harta benda dan lambang status, alat tukar menukar, barang hadiah, bahan dekorasi dan perlengkapan rumah.
Lau Pahikung: Simbolisasi Identitas Perempuan di Sumba Timur A.A. Ayu Murniasih; Purwadi Soeriadiredja
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 4 No 2 (2020)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.628 KB) | DOI: 10.24843/SP.2020.v4.i02.p06

Abstract

Kajian ini bertujuan mencapai pemahaman tentang bagaimana masyarakat Umalulu, Sumba Timur memaknai lingkungan yang disimbolkan dalam kain tradisional yang mereka buat. Fokus kajian meliputi fungsi dan makna kain tradisional dalam kehidupan perempuan Umalulu di Sumba Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Pengumpulkan data dengan metode pengamatan, wawancara mendalam, dan studi kepustakaan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis etnogafis. Temuan mengungkapkan bahwa ada beberapa prinsip yang secara tetap menunjukkan suatu keseluruhan yang terstruktur. Prinsip pertama, pengaturan komposisi yang membagi permukaan kain tenun menjadi tiga bidang, yaitu satu bidang pusat dan dua bidang akhir secara simetris (dyadic-triadic). Pada kain lau, secara umum bidang atas dan bidang bawah saling berlainan. Bidang tengah diwakili oleh garis jahitan pertemuan dua bidang. Prinsip kedua, prinsip bayangan dalam cermin (mirror image). Prinsip ketiga, penggunaan angka-angka yang paling disukai masyarakat dalam mengklasifikasikan sesuatu (2, 4, 8, dan 16). Tujuan utama dari pembuatan kain sebagai alat untuk menahan pengaruh dari sekitaran alam. Akan tetapi, ada fungsi lain yang penting artinya bagi kehidupan masyarakat Sumba, yaitu busana adat, tanda hubungan kekeluargaan, pembungkus jenazah dan bekal kubur, harta benda dan lambang status, alat tukar menukar, barang hadiah, bahan dekorasi dan perlengkapan rumah.
Fungsi Sekaa Janger Kolok sebagai Pemberdayaan Kelompok Disabilitas di Desa Bengkala Chrisantya Angelita
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 4 No 2 (2020)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.122 KB) | DOI: 10.24843/SP.2020.v4.i02.p02

Abstract

Pada umumnya kelompok disabilitas dianggap tidak mempunyai kualitas sumber daya manusia yang setara dengan masyarakat normal. Asumsi tersebut terbentuk karena minimnya wawasan masyarakat terhadap kelompok disabilitas. Dampaknya, kelompok disabilitas tidak dapat berdaya seperti masyarakat normal. Perbandingan yang mencolok dapat dilihat dari kesempatan bekerja. Padahal kelompok disabilitas menginginkan kesempatan yang adil agar dapat hidup mandiri dan tidak menjadi tanggungan orang lain. Namun diskriminasi terhadap kelompok disabilitas tidak terjadi di Desa Bengkala. Desa Bengkala terletak di Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Terdapat 43 warga tuli bisu (kolok) yang menetap di sana. Warga kolok Desa Bengkala memiliki kesenian khas yaitu Sekaa Janger Kolok. Sekaa Janger Kolok didirikan oleh Bapak Nedeng pada tahun 1967. Didirikannya Sekaa Janger Kolok awalnya bertujuan untuk memberdayakan warga kolok di Desa Bengkala. Maka dari itu penelitian ini hendak mengungkapkan bagaimana perkembangan serta fungsi Sekaa Janger Kolok. Setelah adanya sekaa, warga kolok kini sudah berdaya dalam bidang kesenian maupun ekonomi. Di bidang kesenian, Sekaa Janger Kolok berfungsi sebagai hiburan, serta wadah bagi warga kolok untuk menyalurkan bakat. Sementara di bidang ekonomi, Sekaa Janger Kolok membantu warga kolok mendapatkan penghasilan tambahan. Keberadaan Sekaa Janger Kolok harus didukung oleh semua elemen masyarakat karena Sekaa Janger Kolok memiliki fungsi penting bagi pemberdayaan warga kolok di Desa Bengkala.
Eksistensi Drama Tari Gambuh di Desa Adat Pedungan, Kelurahan Pedungan, Kecamatan Denpasar Selatan Rizky Ade Mahendra; Rizky Ade Mahendra; I Wayan Suwena; I Wayan Suwena; I Nyoman Suarsana; I Nyoman Suarsana
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 4 No 2 (2020)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.812 KB) | DOI: 10.24843/SP.2020.v4.i02.p03

Abstract

The dance drama gambuh is a performing art in the form of total theater. In addition to the dominant elements of dance, there are also elements of other arts such as percussion, literary arts, vocal / dialogue arts, fine arts, and make-up that are harmoniously integrated and beautiful. The dance drama gambuh has become a sacred dance in Pedungan Traditional Village, Pedungan Village. Currently the development of the dance drama gambuh is no longer a foreign art among teenagers, this is evidenced by the high interest of teenagers who want to dance this dance when it is performed at temples and at Balinese art parties. Thedance drama gambuh has succeeded in introducing its dance outside the province and even abroad to be precise in Germany. Thus this research formulates the following problems, (1) the existence of the dance drama gambuh in Pedungan Traditional Village, Pedungan Village and (2) the meaning of the dance drama performance gambuh in Pedungan Traditional Village, Pedungan Village. This research uses the structural functional theory from Radcliffe-Brown, the symbolic interpretive theory from Clifford Geertz, and the theory of the meaning of symbols proposed by Victor Turner. These three theories are used because they have a relationship in the dance drama gambuh. The data collection technique starts with the informant determination technique, the observation technique, and the interview technique. This dance drama performance gambuh has meanings contained in the story such as religious meaning, aesthetic meaning, socio-cultural meaning, education meaning, and identity meaning. The results of this study reveal that the dance drama gambuh still exists among children, adolescents, and adults. With the establishment of the Kerta Jaya studio, which was built by I Kadek Sudiarta dance drama gambuh this can be introduced to children as the next generation so that dance drama gambuh this doesn’t disappear. The dance drama gambuh has also become an identity in Pedungan Village.

Page 1 of 1 | Total Record : 7